• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karya Tulis Ilmiah Pemilihan Slice Thickness Pada CT Scan Sinus Paranasal

N/A
N/A
Thunder Kilat

Academic year: 2025

Membagikan "Karya Tulis Ilmiah Pemilihan Slice Thickness Pada CT Scan Sinus Paranasal"

Copied!
109
0
0

Teks penuh

(1)

KARYA TULIS ILMIAH

Disusun untuk Melengkapi Salah Satu Syarat Mencapai Gelar Ahli Madya Kesehatan

Disusun oleh : DONY RACHMADHAN

2110505007

PROGRAM STUDI RADIOLOGI PROGRAM DIPLOMA TIGA FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ‘AISYIYAH YOGYAKARTA 2024

(2)

ii

(3)

iii

(4)

(Dony Rachmadhan)

iv

(5)

Agama : Islam

Nama Ayah : Sukimin

Nama Ibu : Payem

Alamat : Timunsari RT 03 / RW 02, Hargosari, Tanjungsari, Gunungkidul

Nomor Handphone : 0895806396107

Alamat e-mail : [email protected] Riwayat Pendidikan

No Nama Sekolah Kota Tahun

1 SD N Bulak Banteng II Surabaya 2006-2009

2 SD N Menthel 2 Gunungkidul 2009-2012

3 SMP N 3 Wonosari Gunungkidul 2012-2015

4 MAN 1 Gunungkidul Gunungkidul 2015-2018

5 Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta Sleman 2021-Sekarang

v

(6)

Alhamdulillah ucapan Puji Syukur peneliti panjatkan atas kehadirat Allah SWT, karena atas berkat dan rahmat-Nya peneliti dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini dengan judul “Studi Kasus Pemilihan Slice Thickness Pada Protokol Pemeriksaan CT Scan Sinus Paranasal Dengan Klinis Sinusitis di Instalasi Radiologi Rs Tk III Dr. Soetarto” dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Ahli Madya Kesehatan pada Program Studi Diploma Tiga Radiologi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta. Sholawat dan salam tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah Muhammad SAW. Selama penelitian dan penulisan Karya Tulis Ilmiah ini banyak sekali hambatan yang peneliti alami, namun berkat bantuan, dorongan serta bimbingan dari berbagai pihak, akhirnya karya tulis ilmiah ini dapat terselesaikan dengan baik. Ucapan terimakasih yang tak terhingga peneliti ucapkan untuk :

1. Ibu Dr. Warsiti, S.Kp. M.Kep., Sp.Mat., Rektor Universitas ‘Aisyiyah Yogyakata.

2. Bapak Moh. Ali Imron, S.Sos., M.Fis., Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta

3. Ibu Widya Mufida S.Tr. Rad., M.Tr.ID, Ketua Program Studi Program Diploma Tiga Radiologi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta dan selaku dosen penguji yang memberikan masukan dan arahan terhadap Karya Tulis Ilmiah penulis.

4. Ibu Sofie Nornalita Dewi, S.Tr.Kes., M.Tr.ID.Dosen pembimbing yang telah membimbing dan membantu penulis dalam menyusun Karya Tulis Ilmiah ini.

5. Ibu Asih Puji Utami, S.KM., M.Kes, selaku dosen pembimbing akademik yang telah memberikan arahan, masukan dan sebagai pendengar selama peneliti kuliah.

6. Bapak/Ibu dosen pengajar dan staf Program Studi Program Diploma tiga Radiologi Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta.

7. Kepada dokter dan seluruh radiografer Rumah Sakit TK III dr. Soetarto yang telah bersedia mendukung penelitian saya.

8. Kedua orang tua saya, bapak Sukimin dan ibu Payem tercinta yang telah memberikan seluruh hal yang paling terbaik yang tak terhingga, serta semua keluarga dan sanak saudara yang telah mendukung dalam hal apapun.

9. Kepada sahabat seperjuangan saya dan teman-teman kelas A1 yang telah menjadi alasan terbaik saya untuk terus lebih baik dalam kuliah saya.

10. Kepada Rumah Sakit TK III dr. Soetarto yang telah mengizinkan saya untuk melakukan pengambilan data dan mendukung Karya Tulis Ilmiah saya.

11. Semua pihak yang telah membantu menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini baik secara langsung maupun tidak langsung.

vi

(7)

Wassalamualaikum warahmatullahi wabrakatuh.

Yogyakarta, 17 Mei 2024

Peneliti

vii

(8)

HALAMAN PENGESAHAN... ii

HALAMAN PFRNYATAAN KEASLIAN PENELITIAN...iii

MOTTO...iv

BIODATA PENELITI... v

KATA PENGANTAR...vi

DAFTAR ISI...viii

DAFTAR TABEL... x

DAFTAR GAMBAR...xi

DAFTAR LAMPIRAN...xii

ABSTRAK...xiii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang...1

B. Rumusan Masalah... 5

C. Tujuan Penelitian... 5

D. Manfaat Penelitian...5

E. Ruang Lingkup...6

F. Keaslian Penelitian...7

BAB II TINJUAN PUSTAKA A. Landasan Teori...12

B. Kerangka Teori...27

C. Pertanyaan Penelitian...28

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian...29

B. Tempat dan Waktu... 29

C. Subjek dan Objek Penelitian...29

D. Jenis data... 29

E. Alat dan Metode Pengumpulan Data...30

F. Alur Penelitian... 32

viii

(9)

B. Pembahasan...45 BAB V PENUTUP

A. Simpulan...51 B. Saran...51 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN-LAMPIRAN

ix

(10)

x

(11)

Gambar 2. 3 Modalitas CT Scan (BAPETEN, 2019)...18 Gambar 2. 4 Konsol CT Scan (Universitas Diagnostic Medical Imaging, 2020)..19 Gambar 2. 5 Potongan coronal sinus paranasal (Murphy, 2023)...25 Gambar 2. 6 Potongan sagittall sinus paranasal (Murphy, 2023)...25 Gambar 2. 7 Potongan axial sinus paranasal (Murphy, 2023)...26 Gambar 2. 8 Kerangka teori (Lampignano, 2018; Mulki, et al. 2023; Sya’dah, et al.

2023; Nariswari, 2018; Ramdhani, 2023; Bushong Stewart C, 2017)27 Gambar 3. 1 Alur Penelitian...32 Gambar 4. 1 Pesawat CT Scan (Instalasi Radiologi RS TK III dr.Soetarto, 2024)37 Gambar 4. 2 Operator Console (Instalasi Radiologi RS TK III dr.Soetarto, 2024)37 Gambar 4. 3 Alat Fiksasi (Instalasi Radiologi RS TK III dr.Soetarto, 2024)...37 Gambar 4. 4 Selimut (Instalasi Radiologi RS TK III dr.Soetarto, 2024)...38 Gambar 4. 5 Printer (Instalasi Radiologi RS TK III dr.Soetarto, 2024)...38 Gambar 4. 6 Hasil Radiograf CT Scan sinus paranasal (a) potongan axial, (b) potongan coronal (Instalasi Radiologi RS TK III dr.Soetarto,2024)42

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Jadwal Ujian Akhir Program

Lampiran 2 Surat Permohonan Pengambilan Data KTI xi

(12)

Paranasal

Lampiran 8 Hasil Pemeriksaan CT Scan sinus paranasal

Lampiran 9 Pedoman Wawancara dengan Dokter Spesialis Radiologi Lampiran 10 Pedoman Wawancara dengan Radiografer

Lampiran 11 Surat Persetujuan Dokter Spesialis Radiologi Menjadi Informan 1 Lampiran 12 Surat Persetujuan Radiografer Menjadi Informan 2

Lampiran 13 Surat Persetujuan Radiografer Menjadi Informan 3 Lampiran 14 Surat Persetujuan Radiografer Menjadi Informan 4 Lampiran 15 Transkrip Wawancara Informan 1

Lampiran 16 Transkrip Wawancara Informan 2 Lampiran 17 Transkrip Wawancara Informan 3 Lampiran 18 Transkrip Wawancara Informan 4 Lampiran 19 Tabel Kategorisasi

Lampiran 20 Koding Terbuka Lampiran 21 Lembar Bimbingan

Lampiran 22 Lembar Bimbingan Setelah Sidang

STUDI KASUS PEMILIHAN SLICE THICKNESS PADA PROTOKOL PEMERIKSAAN CT SCAN SINUS PARANASAL DENGAN KLINIS SINUSITIS DI INSTALASI RADIOLOGI RS TK III dr.SOETARTO

xii

(13)

Pemeriksaan CT Scan sinus paranasal pada klinis sinusitis menurut Anggraeni (2023) menyebutkan bahwa, parameter slice thickness yang digunakan adalah 5 mm. Sedangkan menurut Wijokongko, (2016) slice thickness yang digunakan pada potongan axial yaitu 2-3 mm dan untuk potongan sagital dan coronal menggunakan slice thickness 1,5-2 mm. Pemeriksaan CT Scan sinus paranasal dengan klinis sinusitis di Instalasi Radiologi RS TK III dr. Soetarto menggunkan slice thickness 0,4 mm pada potongan axial dan coronal. Tujuan penelitian untuk mengetahui prosedur pemeriksaan CT Scan sinus paranasal dan alasan penggunaan Slice Thickness 0,4 mm pada pemeriksaan CT Scan sinus paranasal di Instalasi Radiologi RS TK III dr. Soetarto.

Penelitian ini berupa penelitian kualitatif metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Pengambilan data penelitian dilakukan di Instalasi Radiologi RS TK III dr. Soetarto pada bulan Maret hingga April 2024.

Pengambilan data diperoleh dengan melakukan observasi, dokumentasi, dan wawancara. Subjek pada penelitian ini adalah satu dokter spesialis radioliogi dan tiga orang radiografer sedangkan objek pada penelitian ini adalah pemeriksaan CT Scan Sinus Paranasal di Instalasi Radiologi RS TK III dr. Soetarto. Analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data kemudian ditarik kesimpulan.

Pemeriksaan CT Scan sinus paranasal dengan klinis sinusitis dilakukan hanya dengan persiapan umum, posisi pasien head first, menggunkan potongan axial dan coronal serta menggunakan scan area dari atas sinus frontalis sampai bawah sinus maxillaris. Alasan pemilihan slice thickness 0,4 mm karena mampu menampilkan detail anatomi sinus paranasal, rongga sinonasal, sel angger nasi, sel ethmoidal infraorbital, sel sphenoethmoidal, deviasi septum hidung, dan concha bullosa secara lebih baik, sehingga dapat membantu menegakkan diagnosa. Sebaiknya pada pemeriksaan CT Scan sinus paranasal dengan klinis sinusitis di Instalasi Radiologi RS TK III dr. Soetarto menggunakan slice thickness 0,625 mm untuk mengurangi noise yang terlalu tinggi serta digunakannya alat fiksasi kepala untuk mengurangi pergerakan di bagian kepala.

Kata Kunci : CT Scan sinus paranasal, sinusitis, slice thicknes Kepustakaan : 2 buku, 14 jurnal, 1 Perka BAPETEN

Jumlah Halaman : xii pengantar, 51 isi, 40 lampiran

1Mahasiswa Program Studi D3 Radiologi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas

‘Aisyiyah Yogyakarta

2,3Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta

xiii

(14)
(15)

Sinus paranasal merupakan rongga berisi udara yang terletak pada tulang cranium dan tulang wajah. Berdasarkan letaknya, sinus dibagi menjadi empat yaitu sinus maksilaris yang terletak di tulang wajah, sedangkan sinus frontalis, sinus ethmoidalis, dan sinus sphenoidalis terletak di tulang cranium (Lampignano & Kendrick, 2018). Seperti pada mukosa hidung, di dalam sinus terdapat mukosa bersilia yang apabila fungsi silia tersebut terganggu dapat menyebabkan timbulnya penyakit, salah satunya yaitu peradangan lapisan mukosa sinus atau biasa disebut sinusitis (Daffa, 2021).

Menurut penelitian Zhang dalam Sunnati, (2019) prevalensi sinusitis kronik di Asia terutama China pada tahun 2016 adalah 2,1% dari 36.577 individu dan di Eropa pada tahun 2011 adalah 10,9% dari 57.128 individu berusia 15-75 tahun. Penelitian dari beberapa negara Asia menunjukkan angka prevalensi sinusitis kronik berkisar antara 2,7 hingga 8% (Riskesdas, 2018).

1

(16)

Sinusitis merupakan penyakit infeksi pada rongga sinus yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus pneumonia dan Haemophilus influenza. Gejala sinusitis dapat menyebabkan terjadinya keadaan hidung obstruktif yang berakibat pada kesulitan bernapas melalui hidung, gejala tersebut dapat menyebabkan mengganggu kualitas hidup pengidapnya dikarenakan munculnya gangguan tidur dan dapat berdampak pada masalah sosial dan emosional (Sunnati, 2023). Terganggunya kualitas hidup pasien mengharuskan pasien menjalani pemeriksaan untuk mengetahui informasi keadaan pasien seperti yang tercantum dalam Hadits Riwayat Muslim No.

2204 yang artinya:

“Setiap penyakit memiliki obat. Bila sebuah obat sesuai dengan penyakitnya maka dia akan sembuh dengan seizin Allah Subhanahuwa Ta’ala” (HR. Muslim).

Hadits diatas mengisyaratkan diizinkannya seorang Muslim mengobati penyakit yang dideritanya sebab setiap penyakit ada obatnya.

Obat apabila digunakan dengan tepat, maka dengan izin Allah SWT penyakit tersebut akan hilang dan orang yang sakit akan mendapat kesembuhan, dokter seringkali membutuhkan pemeriksaan penunjang untuk membantu mendiagnosa penyakit pasien agar dapat memberikan penanganan yang sesuai. Pemeriksaan radiologi merupakan salah satu pemeriksaan penunjang yang dianggap dapat memberikan informasi diagnosa awal karena dapat memperlihatkan gambaran anatomi atau variasi anatomi, kelainan patologis, dan struktur tulang di sekitarnya (Anggraeni, 2023).

(17)

Pemeriksaan radiologi yang merupakan prosedur utama dalam menegakkan diagnosis pada kelainan sinus paranasal yaitu pemeriksaan CT Scan (Anggraeni, 2023). Hasil citra CT Scan sinus paranasal dapat mengkarakterisasi penyakit sinus paranasal beserta perluasannya, dapat menggambarkan keterlibatan tulang, memvisualisasikan jalur drainase, dan mampu menunjukkan gambaran anatomi dan jenis keparahan sinus (Ramadhani, 2023).

Kemampuan untuk menampilkan gambaran anatomi yang sesuai dan akurasi diagnostik merupakan hal yang harus tercermin dalam suatu kualitas gambar radiologi. Kualitas citra dapat ditingkatkan melalui pengaturan parameter, salah satunya yaitu slice thickness. Semakin tebal slice thickness maka ukuran voxel akan semakin besar dan meningkatkan resolusi kontras namun menurunkan noise. Semakin tipis slice thickness maka ukuran voxel semakin kecil sehingga menurunkan resolusi kontras namun meningkatkan resolusi spasial dan noise (Putri, 2023).

Menurut Anggraeni (2023) pada jurnal yang berjudul “Analisis Penggunaan Slice Thickness pada Pemeriksan CT Scan Sinus Paranasal dengan Klinis Sinusitis” menyebutkan bahwa, parameter slice thickness yang digunakan pada pemeriksaan CT Scan sinus paranasal adalah 5 mm.

Sedangkan menurut Wijongko (2016) slice thickness yang digunakan pada potongan axial yaitu 2-3 mm dan untuk potongan sagital dan coronal menggunakan slice thickness 1,5-2 mm.

(18)

Gede et al., (2023) pada jurnal The Effect of Slice Thickness Variation on The Anatomical Information of CT-Scan Paranasal Sinus Coronal Section in Clinical Rhinosinusitis penggunaan slice thickness 0,6 mm pada potongan coronal dianggap paling optimal dalam memperlihatkan informasi anatomi sinus paranasal dibandingkan dengan penggunaan slice thickness 2 mm.

Berdasarkan hasil observasi peneliti di Instalasi Radiologi RS TK III dr. Soetarto, Standar Operasional Prosedur (SOP) pemeriksaan CT Scan sinus paranasal pada saat dilakukan rekonstruksi menggunakan slice thickness 0,4 mm. Perbedaan penggunaan slice thickness tersebut, membuat peneliti tertarik membahas tentang penggunaan slice thickness pada pemeriksaan sinus paranasal dengan klinis sinusitis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prosedur pemeriksaan CT Scan sinus paranasal dan alasan penggunaan slice thickness 0,4 mm pada pemeriksaan CT-Scan sinus paranasal di Instalasi Radiologi RS TK III dr. Soetarto dan mengangkatnya menjadi sebuah karya tulis ilmiah berjudul “Studi Kasus Pemilihan Slice Thickness pada Protokol Pemeriksaan CT Scan Sinus Paranasal Dengan Klinis Sinusitis di Instalasi Radiologi RS TK III dr. Soetarto”.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana prosedur pemeriksaan CT Scan sinus paranasal dengan

(19)

klinis sinusitis di instalasi radiologi RS TK III dr. Soetarto?

2. Mengapa digunakan slice thickness 0,4 mm pada pemeriksaan CT Scan sinus paranasal dengan kasus sinusitis di instalasi radiologi RS TK III dr. Soetarto?

C. Tujuan Penelitian

1. Mengetahui prosedur pemeriksaan CT Scan sinus paranasal dengan klinis sinusitis di instalasi radiologi RS TK III dr. Soetarto.

2. Mengetahui alasan penggunaan slice thickness 0,4 mm pada pemeriksaan CT Scan sinus paranasal dengan klinis sinusitis di Instalasi Radiologi RS TK III dr. Soetarto.

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai masukan kepada praktisi mengenai prosedur pemeriksaan CT Scan sinus paranasal dengan klinis sinusitis.

2. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai masukan kepada pembaca mengenai prosedur pemeriksaan CT Scan sinus paranasal dengan klinis sinusitis.

E. Ruang Lingkup

1. Ruang Lingkup Materi

(20)

Ruang lingkup materi yang digunakan dalam Karya Tulis Ilmiah ini yaitu prosedur pemeriksaan CT Scan sinus paranasal yang digunakan pada klinis sinusitis.

2. Ruang Lingkup Waktu

Waktu penelitian data dalam penelitian ini pada bulan Maret sampai April 2024.

3. Ruang Lingkup Tempat

Tempat pengambilan data dalam penelitian ini dilakukan di Instalasi Radiologi RS TK III dr. Soetarto.

(21)

F. Keaslian Penelitian

No Nama Peneliti (Tahun)

Judul Metode Hasil Perbedaan dan Persamaan

1. (Darmita, 2023)

Analisis Pengaruh Variasi Rekonstruksi Slice Thickness Dan Rekonstruksi

Increment Terhadap Informasi Citra Anatomi Pemeriksaan MSCT Scan Sinus Paranasal Potongan Coronal Pada Kasus Rhinosinusitis Kronis Di RSUP Prof. Dr.

I.G.N.G Ngoerah

Tujuan: untuk mengetahui pengaruh variasi rekonstruksi slice thickness dan rekonstruksi increment terhadapinformasi citra anatomi MSCT Scan sinusparanasal potongan coronal pada kasus rhinosinusitis kronis.

Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif

dengan pendekatan

eksperimental.

Dari hasil uji friedman pada ke 6 variasi yang menghasilkan informasi citra anatomi yang

paling optimal pada

pemeriksaan MSCT Scan sinus paranasal potongan coronal pada kasus rhinosinusitis kronisyaitu variasi 2 rekonstruksi slice thickness 1 mm dan rekonstruksi increment 0,5 mm memiliki nilai mean rank paling tinggi yaitu 5.35.

Persamaannya yaitu sama- sama membahas tentang penggunaan slice thickness pada pemeriksaan CT Scan sinus paranasal.

Perbedaannya yaitu pada jurnal milik Darmita membahas mengenai pengaruh slice thickness pada klinis rhinosinusitis sedangkan penulis

membahas tentang

penggunaan slice thickness dengan klinis sinusitis.

2. (Anggraeni, 2020)

Analisis Penggunaan Slice Thickness Pada Pemeriksaan CT Scan Sinus Paranasal

Tujuan: Untuk menganalisa serta mendeskripsikan hasil citra anatomi sinus frontalis, sinus maksilaris, sinus ethmoidalis dan sinus sphenoidalis pada

Prosedur pemeriksaan yang digunakan pada pemeriksaan CT Scan Sinus Paranasal pada pasien dengan klinis sinusitis yaitu: 1) Penggunaan slice

Persamaannya yaitu sama- sama membahas tentang penggunaan slice thickness pada pemeriksaan CT Scan sinus dengan klinis Tabel 1. 1 Keaslian Penelitian Mengenai Prosedur Pemeriksaan CT Scan Sinus Paranasal

(22)

Dengan Klinis Sinusitis

pemeriksaan CT Scan sinus paranasal dengan klinis sinusitis dalam mengupayakan hasil diagnostic yang optimal.

Metode Penelitian:

menggunakan metode deskriptif kualitatif yang bersifat studi pustaka dengan menggunakan sumber seperti buku dan jurnal terkait, selanjutnya akan dilakukan analisis dan pelaporan hasil dengan mendeskripsikan secara ilmiah.

thickness 1 mm. 2) Penggunaan slice thickness 3 mm. 3) Penggunaan slice thickness 4mm.

Alasan penggunaan prosedur pemeriksaan yang berbeda- beda pada pemeriksaan CT Scan sinus paranasal dengan klinis sinusitis yaitu untuk menganalisa penggunaan slice thickness potongan coronal dalam menghasilkan citra anatomi sinus frontalis, sinus maksilaris, sinus ethmoidalis dan sinus spenoidalis pada pasien dengan klinis sinusitis

sinusitis.

Perbedaanya yaitu pada penelitian Nova Anggraeni terdapat berbagai penggunaan slice thickness sedangkan penulis hanya menggunakan 1 slice thickness.

4. (Widyasari, 2021)

Teknik Pemeriksaan CT Scan Sinus Paranasal (SPN) Pada Pasien Sinusitis (Literatur Review)

Tujuan: Untuk mengetahui prosedur teknik pemeriksaan CT Scan SPN pada pasien sinusitis.

Metode: Penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif dengan pendekatan literatur riview.

Prosedur teknik pemeriksaan CT Scan SPN pada pasien sinusitis dilakukan dengan scanogram dimulai dari mandibula sampai sinus frontalis, detector coverage 10 mm, pitch 0.938, rotation time 1 s, FOV 25 mm, kV 120, mAs 148, window sinuses, window

Persamaannya yaitu sama- sama membahas tentang pemeriksaan CT Scan sinus paranasal pada pasien dengan klinis sinusitis.

Perbedaanya yaitu Dina Widyasari. Membahas Teknik pemeriksaan CT Scan sinus paranasal pada

(23)

width 2000 dan window level 100. Scanning awal dilakukan dengan aksial irisan tipis 0.625

mm yang kemudian

direkonstruksi menjadi irisan aksial 5 mm serta koronal dan sagital 3 mm.

pasien sinusitis. Sedangkan penulis membahas tentang penggunaan

slice thickness pada pemeriksaan CT Scan sinus paranasal dengan klinis sinusitis

5. (Gede et al., 2023)

The Effect of Slice Thickness Variation on The Anatomical Information of CT- Scan Paranasal Sinus Coronal Section in Clinical

Rhinosinusitis

Tujuan: Melihat pengaruh penggunaan variasi slice thickness 0,6 mm, 1 mm, 1,5 mm dan 2 mm terhadap informasi anatomi CT scan bagian coronal sinus paranasal pada klinis rhinosinusitis

Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif analitik dengan pendekatan eksperimen.

Terdapat pengaruh penggunaan variasi ketebalan irisan 0,6 mm, 1 mm, 1,5 mm dan 2 mm terhadap informasi anatomi CT scan bagian koronal sinus paranasal pada rhinosinusitis klinis, yang ketebalan irisan yang lebih tipis menghasilkan kualitas yang lebih baik dan akan meningkatkan resolusi spasial serta meningkatkan

kualitas kemampuan

membedakan benda-benda kecil dengan kepadatan berbeda pada latar belakang yang sama.

Ketebalan irisan

Variasi 0,6 mm mampu memvisualisasikan informasi anatomi paling optimal secara

Persamaannya yaitu sama- sama membahas tentang penggunaan slice thickness pada modalitas CT Scan.

Perbedaanya yaitu Gede et al. Membahas tentang penggunaan variasi slice thickness dengan klinis rhinosinusitis. Sedangkan penulis membahas tentang penggunaan slice thickness pada pemeriksaan CT Scan sinus paranasal dengan klinis sinusitis

(24)

klinis rhinosinusitis karena nilai mean rank tertinggi dan mampu memberikan detail yang lebih baik dibandingkan tebal ketebalan irisan (2 mm) yang diharapkan dapat menambah informasi organ kecil bagi ahli radiologi ketika

melakukan pemeriksaan.

6. (Tezar, 2023) Efektifitas Variasi

Window Width

terhadap Informasi Anatomi CT Scan Sinus Paranasal Citra Jaringan Lunak pada Kasus Sinusitis

Tujuan: penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan informasi anatomi CT scan sinus paranasal pada kasus sinusitis dengan variasi pengaturan window width pada citra jaringan lunak dan untuk mengetahui nilai variasi pengaturan window width pada citra jaringan lunak yang

paling optimal dalam

menampilkan informasi anatomi CT scan sinus paranasal pada kasus sinusitis

Metode: penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan eksperimental.

Ada perbedaan informasi setiap

obyek anatomi pada

penggunaan variasi window width CT scan sinus paranasal citra jaringan lunak pada kasus sinusitis, diperoleh semua nilai signifikansi (pvalue) < 0,05 atau semua nilai chi-square hitung > chi-square tabel dan ada perbedaan informasi total keseluruhan anatomi pada penggunaan variasi window width CT scan sinus paranasal citra jaringan lunak pada kasus sinusitis, diperoleh nilai signifikansi (p-value) = 0,000 <

0,05 atau nilai chisquare hitung

= 38,653 > 9,488 (df ; 5% (4 ;

Persamaannya yaitu sama- sama membahas tentang pemeriksaan CT Scan sinus paranasal pada pasien dengan klinis sinusitis.

Perbedaanya yaitu Tezar.

Membahas membahas tentang penggunaan Window With. Sedangkan penulis membahas tentang penggunaan slice thickness pada pemeriksaan CT Scan sinus paranasal dengan klinis sinusitis

(25)

0,05)). WW 120 paling optimal untuk menampilkan anatomi osteomeatal unit, agger nasi cell, ethmoid roof, onodi cells, middle turbinate, uncinate process, dan bulla ethmoidalis.

WW 90 paling optimal untuk menampilkan anatomi sinus spenoidalis, optic nerve dan haller cells. WW 120 paling optimal untuk menampilkan total keseluruhan informasi anatomi CT scan sinus paranasal citra jaringan lunak kasus sinusitis.

(26)

1. Anatomi Sinus Paranasal Manusia

Sinus paranasal adalah rongga yang dikelilingi oleh selaput lendir dan berisi udara, yang terletak disekitar rongga hidung. Rongga udara yang mengisi sinus paranasal disebut sebagai accessory nasal sinus (Lampignano dan Kendrick, 2018).

Sinus paranasal dapat dikelompokkan menjadi 4 kategori berdasarkan letaknya di dalam tulang tengkorak. Keempat kategori ini mencakup sinus frontalis, sinus maxillaris, sinus ethmoidalis dan sinus sphenoidalis. Sinus maxillaris terletak di dalam tulang wajah, semetara sinus frontalis, ethmoidalis dan sphenoidalis dimasukkan ke dalam golongan tulang cranium (Lampignano dan Kendrick,2018).

a. Sinus Frontalis

Sinus frontalis terletak di antara bagian dalam dan luar tulang dahi. Pada bagian posterior, sinus frontalis membentuk glabella dan umumnya belum berkembang sebelum anak mencapai usia 6 tahun. Sinus frontalis umumnya terbagi oleh sebuah septum yang bisa miring dari satu sisi ke sisi yang lain, sehingga membentuk satu organ tunggal. Rongga sinus paranasal ini dapat memiliki berbagai ukuran dan bentuk yang beragam (Lampignano dan Kendrick,2018).

12

(27)

b. Sinus Maksilaris

Sinus maksilaris adalah sinus terbesar dalam tubuh. Sinus maksilaris memiliki dinding tulang yang sangat tipis dibagian bawahnya, berdekatan dengan dasar tulang hidung. Pada bagian bawah sinus maksilaris terdapat celah yang berhubungan dengan gigi molar atas 1 dan 2. Semua rongga sinus paranasal berhubungan satu sama lain dan juga berhubungan dengan rongga hidung, yang dibagi menjadi dua ruang yang identik, yang disebut fossa (Lampignano dan Kendrick,2018).

c. Sinus Ethmoidalis

Sinus Ethmoidalis adalah bagian dari kompleks massa yang terletak di sisi lateral atau labirin tulang ethmoid. Rongga udara dalam sinus ethmoidalis dapat dibagi menjadi 3 kelompok: anterior , middle, dan posterior. Sel etmoid anterior disebut juga sel agger nasi yang berhubungan dengan saluran frontonasal di bagian posterior dan berhubungan dengan tulang lakrimal di anterior. Sel e tmoid middle membentuk suatu tonjolan di meatus yang mengalir ke duktus frontonasal. Sel ethmoid posterior mengalir ke meatus superior atau resesus sphenoetmoidal (Lampignano dan Kendrick, 2018).

d. Sinus Sphenoidalis

Sinus sphenoidalis terletak di dalam body tulang sphenoid yang berada di bawah sella turcica. Tulang sphenoid memiliki

(28)

bentuk yang menyerupai kubus dan terbagi menjadi 2 rongga oleh sebuah sekat tipis (Lampignano and Kendrick,2018).

Gambar 2. 1 Aspek anterior sinus paranasal (Lampignano dan Kendrick,2018).

Gambar 2. 2 Aspek lateral sinus paranasal (Lampignano dan Kendrick,2018)

2. Patologi Sinusitis a. Pengertian Sinusitis

Sinusitis adalah suatu infeksi yang umum di masyarakat dan seringkali menjadi keluhan utama pasien yang berkonsultasi dengan dokter spesialis Telinga, Hidung, Tenggorokan (THT).

Keterangan Gambar:

1. Sinus frontalis 2. Sinus ethmoidalis 3. Sinus sphenoidalis 4. Sinus maksilaris 5. Temporal bone 1

2 3 4 5

4 5 3 2 1

Keterangan gambar:

1. Sinus frontalis 2. Sinus ethmoidalis 3. Sinus sphenoidalis 4. Sinus maksilaris 5. Temporal bone

(29)

Infeksi sinus paranasal paling umum terjadi di sinus maxillaris dan sinus ethmoid. Biasanya, penyakit ini lebih sering muncul pada usia antara 25 sampai 65 tahun dibandingkan dengan masa kanak- kanak, remaja, atau usia lanjut. Sinusitis dapat dibedakan menjadi tiga jenis utama: sinusitis akut, sinusitis subakut, sinusitis kronik (Mulki, et al. 2023)

1) Sinusitis akut

Sinusitis akut merupakan peradangan pada hidung akibat infeksi sinus paranasal. Sinusitis akut paling umum disebabkan oleh perkumpulan virus infeksi saluran pernapasan atas dengan flu biasa. Selain disebabkan oleh flu biasa, sinusitis akut dapat disebabkan oleh infeksi virus, bakteri atau jamur, alergi, dan iritasi lingkungan. Bakteri yang paling umum menyebabkan sinusitis akut adalah Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenza dan Moraxella catarrhalis (Mulki, et al. 2023).

2) Sinusitis subakut

Sinusitis subakut merupakan sinusitis yang berlangsung selama 4-12 minggu. Penyebab sinus subakut yaitu infeksi bakteri atau terpapar alergi (Mulki, et al. 2023).

3) Sinusitis kronik

Sinusitis kronik dapat terjadi pada anak-anak maupun dewasa. Sinusitis kronik pada orang dewasa terjadi apabila terdapat dua atau lebih gejala, dan salah satunya merupakan

(30)

sumbatan/ obstruksi/ kongesti nasal dengan keluhan tambahan nyeri wajah dan penurunan kualitas hidup selama lebih dari 12 minggu. Sinusitis kronik pada anak-anak dikatakan apabila terdapat dia atau lebih gejala seperti pada orang dewasa dengan keluhan tambahan disertai dengan batuk. Sinusitis kronik dapat disebabkan oleh berbagai faktor yaitu faktor indeksi, inflamasi atau struktural, contohnya seperti alergi (tungau dan debu), pajanan (iritan secara airbone, asap rokok atau toksin lainnya), kelainan struktural (polip hidung dan deviasi septum nasal), disfungsi silia, imunodefisiensi, dan infeksi fungi.

Sinusitis kronik dibagi menjadi dua, yaitu primer dan sekunder. Sinusitis kronik primer merupakan sinusitis dengan penyebab utama adalah radang sinus paranasal, rongga hidung, atau mukosa saluran napas.

Sinusitis kronis sekunder merupakan sinusitis dengan penyebab utama adalah karena adalnya kelainan patologis lain yang bukan berasal dari inflamasi rongga nasal atau sinus paranasal (Sya’dah, et al. 2023).

2. Modalitas CT Scan a. Komponen CT Scan

Computed Tomography (CT Scan) merupakan suatu modalitas salah satu modalitas imaging diagnostic yang memanfaatkan sinar-X dan komputer untuk menghasilkan citra

(31)

berupa variasi irisan tubuh manusia. CT Scan memiliki beberapa komponen yang masing-masing memiliki fungsi, yaitu (Nariswari, 2018):

1) Gantry

Gantry merupakan bagian dari komponen scanner yang berputar 360º yang digunakan untuk memperoleh data.

Kecepatan gantry mendekati 5 putaran perdetik dengan waktu rotasi 0,20 sekon. Menurut Nariswari, (2018) Gantry terdiri dari beberapa komponen utama CT Scan yaitu:

a) Tabung sinar-X

Tabung sinar-X berfungsi sebagai pembangkit sinar-X yang bekerja pada tegangan tinggi dan tahan terhadap goncangan. Tabung sinar-X pada CT Scan memiliki daya yang lebih besar dibandingkan dengan yang digunakan pada radiografi atau fluoroskopi, yaitu sekitar 5-7 mega Joule (MJ).

b) Detektor dan DAS (Data Acquisition System)

Detektor merupakan komponen yang berfungsi untuk mendeteksi sinar-X yang telah menembus objek dengan mengubah intensitas berkas sinar-X menjadi sinyal-sinyal elektronik. Sinyal-sinyal elektronik akan diubah ke dalam bentuk digital.

c) Kolimator

(32)

CT Scan pada umumnya memiliki dua buah kolimator, kolimator pertama pada tabung sinar-X berfungsi sebagai pembatas luas lapangan penyinaran.

Kolimator kedua pada detector berfungsi sebagai pengarah radiasi menuju detector, pengontrol radiasi hambur dan menentukan ketebalan lapisan (slice thickness).

2) Meja pemeriksaan

Meja pasien merupakan tempat pasien diposisikan untuk dilakukan pemeriksaan yang terletak di pertengahan gantry secara horizontal. Meja pemeriksaan CT Scan dapat bergerak maju, mundur, naik, dan turun (Nariswari, 2018).

Gambar 2. 3 Modalitas CT Scan (BAPETEN, 2019) 3) Konsol pengendali

Konsol merupakan unit pengendali (control unit) untuk melakukan seluruh prosedur pemeriksaan dan mengevaluasi hasil pemeriksaan. Konsol terdiri dari papan ketik, mouse,

2

Keterangan gambar:

1. Gantry

2. Meja pemeriksaan 1

(33)

monitor, dan intercom yang mempresentasikan antarmuka yang dirancang untuk banyak fungsi.

Gambar 2. 4 Konsol CT Scan (Universitas Diagnostic Medical Imaging, 2020)

b. Parameter CT Scan

Dosis dan kualitas citra CT Scan bergantung pada pilihan faktor teknik pada saat melakukan pemeriksaan CT Scan. Adapun parameter yang berada dibawah kendali operator CT Scan adalah sebagai berikut (Nariswari, 2018):

1) Tegangan tabung

Tegangan tabung merupakan salahh satu parameter yang menentukan distribusi energi dari berkas sinar-X. Semakin besar tegangan tabung sinar-X yang digunakan, maka akan meningkatkan jumlah radiasi yang akan berpengaruh pada dosis yang diterima pasien semakin besar.

Variasi tegangan tabung menyebabkan perubahan pada dosis CT Scan, noise dan kontras citra. Tegangan tabung yang

(34)

tinggi akan mengurangi kontras citra dan mengurangi noise serta artefak (Nariswari, 2018).

2) Arus-waktu rotasi

Arus-waktu rotasi merupakan parameter yang merupakan ukuran jumlah radiasi yang digunakan untuk menghasilkan citra radiografi. Pengurangan arus-waktu rotasi menjadi setengah awal akan menurunkan dosis dan noise sebesar 50% (Nariswari, 2018).

3) Ketebalan irisan (slice thickness)

Ketebalan irisan (slice thickness) merupakan tebal irisan atau potongan objek yang akan diperiksa. Slice thickness yang tebal akan menghasilkan gambaran dengan detail yang rendah dan cenderung menimbulkan artefak. Slice thickness yang tipis akan menghasilkan gambaran dengan detail yang tinggi, namun cenderung akan menjadi noise.

Slice thickness dapat mempengaruhi dosis radiasi yang diterima pasien. semakin tipis irisan maka dosis radiasi akan semakin tinggi dan sebaliknya. Ketebalan irisan ditentukan oleh beam with (BW), pitch, dan faktor lain seperti bentuk dan lebar dari filter rekonstruksi (Nariswari, 2018).

4) Slice Collimation

Slice Collimation adalah tebal berkas sinar-x dan sama dengan jumlah detector chanel yang dipilih dikalikan dengan

(35)

lebar detektor chanel. Slice Collimation pada berkas sinar-x sangat signifikan dalam menentukan dosis radiasi pasien pada MSCT, kolimasi yang lebih kecil akan menghasilkan resolusi dan axis yang lebih besar pada data volumetric / tiga dimensi dan juga memberikan kebebasan pengaturan ketebalan irisan yang di inginkan pada gambar rekontruksinya, namun akan membuat waktu pemeriksaan semakin lama, beban tabung dan dosis radiasi meningkat (Nariswari, 2018).

5) Pitch

Pitch adalah jangka waktu yang berhubungan dengan suatu kecepatan dan jarak. Pada CT Scan helical, Pitch di definisikan sebagai jarak (mm) pergerakan meja CT Scan selama satu putaran tabung sinar-X. Pitch dihitung untuk menghitung pitch rasio, yang mana merupakan suatu rasio pada pitch untuk slice thickness/beam collimation (Bushong Stewart Carlyle., 2017).

6) Increment

Increment dapat didefinisikan sebagai jarak atau gap antar slice. Jika nilai increment lebih kecil dari slice thickness, a kan terjadi overlapping. Nilai increment berkisar pada rentang 0,1-10 mm (Bushong Stewart Carlyle., 2017).

7) Rekontruksi Algorithma

(36)

Rekontruksi algorithma adalah prosedur matematis yang digunakan dalam merekontruksi gambar. Penampakan dan karakteristik dari gambar CT Scan tergantung pada kuatnya algorithma yang dipilih. Semakin tinggi resolusi algorithma yang dipilih maka semakin tinggi resolusi gambar yang akan dihasilkan. Dengan adanya metode ini maka gambaran seperti tulang, soft tissue, dan jaringan-jaringan lain dapat dibedakan dengan jelas pada layar monitor (Bushong Stewart Carlyle., 2017).

8) Field Of View (FOV)

FOV adalah diameter maksimal dari gambaran yang akan direkontruksi. Besarnya bervariasi dan biasanya berada pada rentang 12-50 cm. FOV yang kecil akan meningkatkan resolusi karena FOV yang kecil mampu mereduksi ukuran pixel, sehingga dalam rekontruksi matriks area mungkin dibutuhkan untuk keperluan klinis menjadi sulit untuk di deteksi (Bushong Stewart Carlyle., 2017).

9) Window Width

Window width adalah rentang nilai computed tomography yang dikonversikan menjadi gray levels untuk ditampilkan dalam TV monitor. Setelah komputer menyelesaikan pengolahan gambar melalui rekontruksi matriks dan algorithma maka hasilnya akan dikonversi menjadi skala

(37)

numerik yang dikenal dengan CT Number. Nilai ini mempunyai satuan HU (Hounsfield Unit). Dasar pemberian nilai ini adalah tulang mempunyai niali +1000 HU - +3000 HU.

Sedangkan untuk kondisi udara nilai ini adalah -1000 HU (Bushong Stewart Carlyle., 2017).

10)Window Level

Window level adalah nilai tengah dari window yang digunakan untuk menampilkan gambar. Nilai dapat dipilih dan tergantung pada karakteristik perlemahan dari struktur obyek yang diperiksa. Window level menentukan densitas gambar yang akan dihasilkan (Bushong Stewart Carlyle., 2017).

4. Prosedur dan Teknik Pemeriksaan CT Scan Sinus Paranasal

Prosedur dan Teknik pemeriksaan CT Scan sinus paranasal adalah sebagai berikut:

a. Persiapan Pasien Pemeriksaan CT Scan Sinus Paranasal

Pada umumnya tidak ada persiapan khusus untuk pasien pemeriksaan CT Scan Sinus Paranasal. Pasien hanya diminta untuk melepas benda-benda yang dapat menimbulkan artefak pada gambaran seperti anting, kacamata, kalung dan benda logam lainnya. Pasien diberikan penjelasan terkait pemeriksaan secara singkat dan diberitahu untuk tetap tenang dan tidak bergerak selama pemeriksaan (Tarigan, 2019).

(38)

b. Persiapan alat dan bahan

Alat dan bahan yang digunakan pada pemeriksaan CT Scan Sinus Paranasal adalah Pesawat CT-Scan dan fiksasi kepala (Tarigan, 2019).

c. Teknik Pemeriksaan CT Scan Sinus Paranasal 1) Posisi Pasien

Pasien diposisikan dalam posisi supine position di atas meja pemeriksaan (Anggraeni, 2023).

2) Posisi Objek

Garis Tengah kepala disejajarkan dengan garis Tengah head holder dan, garis tinggi kepala setinggi MAE (Anggraeni, 2023)

3) Parameter Pemeriksaan CT Scan SPN menurut Ramdhani (2022) adalah:

a) Tegangan tabung (kV) : 120 b) Arus tabung (mAs) : 130

c) Slice Thickness : 5 mm untuk bagian coronal dan axial, 3 mm diambil pada osteomeatal dengan

bagian coronal.

d) Rotation Time : 1,5 s

e) Window With : 4000 HU, Soft tissue 90 HU f) Window Level : 500 HU, Soft tissue 50 HU

(39)

4. Hasil gambaran CT Scan Sinus Paranasal

Menurut Widyasari (2021), anatomi yang tampak pada gambaran CT Scan sinus paranasal meliputi sinus frontalis kanan, sinus frontalis kiri, sinus maksilaris kanan, sinus maksilaris kiri, sinus ethmoidalis kanan, sinus ethmoidalis kiri, sinus spenoidalis kanan, sinus spenoidalis kiri, sel angger nassal, lakrimal bone, zygoma, superior orbita fissure, inferior nasal conchae, prosessus unsinatus, sel haller, concha bullosa, dan deviasi septum nasi.

Gambar 2. 5 Potongan coronal sinus paranasal (Murphy, 2023)

Gambar 2. 6 Potongan sagittall sinus paranasal (Murphy, 2023)

7 6 5 3 4

2 1

Keterangan Gambar:

1. Ethmoidal air cells 2. Middle concha nasal 3. Inferior turbinates 4. Inferior concha nasal 5. Sinus maksilaris 6. Middle turbinates 7. Deviasi septum nasal

1

2

3

4

5 Keterangan gambar:

1. Sinus Frontalis 2. Sel Agger

3. Anterior ethmoidal cells 4. Posterior ethmoidal cells 5. Sinus spenoidalis

(40)

Gambar 2. 7 Potongan axial sinus paranasal (Murphy, 2023)

1

2

3

Keterangan gambar:

1. Nasal bone 2. Sinus Spenoidalis 3. Anterior dan

posterior ethmoidal cells

(41)

B. Kerangka Teori

Gambar 2. 8 Kerangka teori (Lampignano, 2018; Mulki, et al. 2023; Sya’dah, et al. 2023; Nariswari, 2018;

Ramdhani, 2023; Bushong Stewart Carlyle., 2017)

Post Scanning:

1. Rekontruksi Matriks 2. Rekontruksi

Algorithma 3. Window With 4. Window Level Pre Scanning:

1. FOV 2. Scan Range 3. Faktor Eksposi 4. Gantry Tilt 5. Pitch

6. Slice Thickness

Parameter CT Scan Persiapan Alat

dan Bahan Persiapan Pasien

Patologi Sinusitis Sinus paranasal

(42)

C. Pertanyaan Penelitian

1. Bagaimana Standar Prosedur Operasional pemeriksaan CT Scan sinus paranasal dengan klinis sinusitis di Instalasi Radiologi RS TK III dr.

Soetarto?

2. Mengapa digunakan slice thickness 0,4 mm pada pemeriksaan CT Scan sinus paranasal dengan klinis sinusitis di Instalasi Radiologi RS TK III dr. Soetarto?

3. Bagaimana gambaran patologi sinusitis pada pemeriksaan CT Scan sinus paranasal di Instalasi Radiologi RS TK III dr. Soetarto?

4. Apa saja informasi anatomi yamh harus tampak pada hasil pemeriksaan CT Scan sinus paranasal di Instalasi Radiologi RS TK III dr. Soetarto?

5. Apakah terdapat SOP di RS TK III dr. Soetarto yang mengatur tentng penggunaan parameter scanning pada pemeriksaan CT Scan sinus paranasal?

(43)

pendekatan studi kasus untuk mempelajari bagaimana prosedur pemeriksaan CT Scan scan sinus paranasal pada pasien dengan indikasi sinusitis di Instalasi radiologi RS TK III dr. Soetarto.

B. Tempat dan Waktu

Penelitian dilakukan pada bulan Maret - April 2024 di Instalasi radiologi RS TK III dr. Soetarto

C. Subjek dan Objek Penelitian 1. Subjek Penelitian

Subjek penelitian adalah satu orang dokter spesialis radiologi, dan tiga orang radiografer.

2. Objek Penelitian

Objek penelitian adalah pemeriksaan CT Scan sinus paranasal di Instalasi radiologi RS TK III dr. Soetarto.

D. Jenis data 1. Data Primer

Data primer pada penelitian ini berupa hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil observasi digunakan untuk melakukan pemeriksaan CT scan sinus paranasal pada pasien dengan klinis sinusitis, wawancara dilakukan terhadap satu orang dokter spesialis radiologi, dan tiga orang radiografer, dan dokumentasi yang

29

(44)

dilampirkan berupa surat pengantar pasien, hasil radiografi dan hasil bacaan dokter spesialis radiologi.

2. Data Sekunder

Data sekunder dalam penelitian ini berupa textbook, jurnal, dan literatur lain yang berkaitan dengan karya tulis ilmiah penulis.

E. Alat dan Metode Pengumpulan Data 1. Alat pengumpulan data

Alat pengumpulan data dalam penelitian ini berupa pedoman observasi, pedoman wawancara, alat tulis, alat perekam suara dan kamera

2. Metode Pengumpulan Data a. Observasi

Penulis memperoleh data dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini dari pengamatan secara langsung dalam pelaksanaan prosedur pemeriksaan CT Scan Sinus Paranasal dengan indikasi sinusitis.

b. Wawancara

Metode wawancara bertujuan untuk mengetahui prosedur pemeriksaan CT Scan sinus paranasal dengan indikasi sinusitis menggunakan slice thickness 0,4mm. Tahapan dalam wawancara adalah mempersiapkan pedoman wawancara berupa pertanyaan yang akan diajukan kepada subjek penelitian yaitu satu orang dokter spesialis radiologi, dan tiga orang radiografer. Kemudian

(45)

penulis melakukan wawancara, selama wawancara berlangsung penulis merekam hasil wawancara yang kemudian akan ditulis dalam bentuk transkrip wawancara.

c. Dokumentasi

Metode dokumentasi yang dilakukan penulis adalah mengambil foto surat pengantar pasien, hasil radiografi dan hasil bacaan dokter spesialis radiologi.

d. Studi kepustakaan

Peneliti mencari literatur dan mengumpulkan referensi yang berkaitan dengan pemeriksaan CT Scan sinus paranasal dengan indikasi sinusitis.

(46)

F. Alur Penelitian

Gambar 3. 1 Alur Penelitian Observasi Penelitian

Kesimpulan dan Saran Analisis Data Pengolahan Data

Kepustakaan Observasi

Pengumpulan data Membuat Surat Ijin Penelitian

Merumuskan Tujuan Merumuskan Masalah

Wawancara Dokumentasi

(47)

G. Analisis Data

1. Tahap Reduksi Data

Informasi yang diperoleh dikumpulkan, dianalisa dan diubah menjadi transkrip. Setelah itu, data akan disusun secara lebih ringkas sesuai dengan keperluan serta tujuan penelitian. Selanjutnya, proses koding terbuka akan dilakukan secara terbuka untuk memfasilitasi pembuatan kuotasi.

2. Tahap Penyajian Data

Setelah melakukan koding terbuka, Langkah berikutnya adalah peneliti akan menyampaikan data menggunakan teknik kuotasi yang berbentuk pernyataan dari narasumber.

3. Pembahasan dan kesimpulan

Data yang telah dikumpulkan dan diolah akan dievaluasi dengan mempertimbangkan teori yang ada, kemudian akan ditarik kesimpulan H. Etika Penelitian

Menurut (Syapitri et al, 2021) terdapat beberapa etika penelitian yang berlaku bagi setiap peneliti, yaitu :

1. Anonymity (Tanpa Nama)

Dalam penelitian ini, identitas para narasumber akan disamarkan dengan menggunakan inisal untuk menjaga kerahasiaan.

2. Confidentialy (kerahasiaan)

Data hasil penelitian digunakan untuk kepentingan penelitian dan ilmu pengetahuan sehingga data dirahasiakan keberadaannya

(48)

3. Justice (keadilan)

Penting untuk memastikan bahwa penelitian mencapai kesimbangan antara manfaat dan resikonya. Resiko yang mungkin timbul harus sesuai dengan pemahaman Kesehatan yang mencakup aspek fisik, mental, dan sosial

4. Ensuring beneficence (memberikan manfaat)

Dalam penelitian ini, harpannya adalah menghasilkan manfaat sebesar-besarnya dan mengurangi kerugian atau resiko bagi subjek penelitian. Oleh karena itu, desain penelitian harus memprioritaskan keselamatan dan kesejahteraan subjek penelitian

5. Non-Maleficence

Prinsip etika peneletian non-maleficence yaitu peneliti harus memastikan tidak adanya kecelakaan atau hal-hal yang tidak diharapkan selama penelitian berlangsung.

6. Informed Consent

Salah satu hal yang harus diperoleh peneliti dari subyek adalah Informed Consent. Informed consent yang dimaksud disini adalah informasi yang diberikan oleh peneliti terkait dengan peneliti yang akan dilaksanakannya baik itu kepada informan yang akan dimintai keterangan terkait dengan penelitian.

(49)

Berdasarkan hasil observasi tentang prosedur pemeriksaan CT-Scan Sinus Paranasal dengan klinis sinusitis di Instalasi Radiologi Rumah Sakit TK III dr. Soetarto, pasien datang dengan membawa surat permintaan pemeriksaan CT-Scan Sinus Paranasal. Maka peneliti membahas permasalahan tersebut sebagai berikut:

1. Paparan Kasus a. Identitas Pasien

Pada karya tulis ilmiah ini peneliti mengambil data dari pasien dengan identitas sebagai berikut:

1) Nama : Y.R , sdr

2) Umur : 59 tahun

3) Jenis kelamin : Laki-laki

4) Alamat : Triharjo, Sleman

5) No. RM : 0****6

6) Tanggal Pemeriksaan : 25-04-2024

7) Pemeriksaan : CT- Scan Sinus Paranasal 8) Keterangan klinis : Sinusitis

b. Riwayat Pasien

Pada tanggal 25 April 2024 pasien datang ke poli THT Rumah Sakit TK III dr. Soetarto dengan mengeluhkan sakit di bagian hidung,

35

(50)

kemudian dokter poli THT merujuk pasien untuk melakukan pemeriksaan radiologi dengan memberikan surat permintaan pemeriksaan radiologi CT-Scan Sinus Paranasal.

2. Prosedur Pemeriksaan CT-Scan Sinus Paranasal dengan Klinis Sinusitis di Instalasi Radiologi RS TK III dr. Soetarto.

a. Persiapan pasien

Pemeriksaan CT Scan Sinus Paranasal dengan klinis sinusitis yang dilakukan di RS TK III dr.Soetarto tidak memerlukan persiapan khusus, pasien hanya diminta untuk melepas benda-benda logam di sekitar kepala yang dapat menganggu hasil atau citra radiograf seperti masker, kacamata, anting, dan kalung, hal ini sesuai dengan pernyataan informan:

“Persiapannya tidak ada yang khusus, kecuali sebelum pemeriksaan pasien bagi yang perempuan melepaskan logam-logam di area kepala seperti anting dan kalung, gigi palsu dan juga jepit-jepit rambut.” (I2/Radiografer 1)

b. Persiapan alat dan bahan

Berdasarkan observasi persiapan alat dan bahan yang digunakan pada pemeriksaan CT-Scan Sinus Paranasal adalah sebagai berikut:

1) Pesawat CT Scan

a) Nama / Merk : Cannon Aqualion 160 Slice

b) Type : APO200

c) Model : TSX-303B

(51)

Gambar 4. 1 Pesawat CT Scan (Instalasi Radiologi RS TK III dr. Soetarto, 2024)

2) Operator Console

Gambar 4. 2 Operator Console (Instalasi Radiologi RS TK III dr. Soetarto, 2024)

3) Alat Fiksasi Body Strap

Gambar 4. 3Alat Fiksasi (Instalasi Radiologi RS TK III dr. Soetarto, 2024)

(52)

4) Selimut

Gambar 4. 4 Selimut (Instalasi Radiologi RS TK III dr.

Soetarto, 2024) 5) Printer Film

Gambar 4. 5 Printer (Instalasi Radiologi RS TK III dr.

Soetarto, 2024)

Persiapan alat dan bahan tersebut sesuai dengan pernyataan informan sebagai berikut:

“Bahannya itu yang alat CT Scan, selimut, alat fiksasi agar pasien tidak bergerak …” (I3/Radiografer 2)

“Alat dan bahan yang digunakan CT-Scan 160 slice kemudian komputer untuk pemeriksaan” (I2/Radiografer 1) Selain diungkapkan oleh I2 dan I3 pernyataan serupa juga diungkapkan oleh I4

“Alat dan bahan menggunakan CT-Scan yang kita punya 160 slice kemudian alat fiksasi kepala, pada pasiennya kooperatif sudah cukup diberikan fiksasi kepala saja tidak perlu body strap.” (I4/Radiografer 3)

(53)

c. Parameter Scanning CT-Scan Sinus Paranasal

Berdasarkan hasil observasi yang penulis lakukan di Instalasi Radiologi RS TK III dr. Soetarto yaitu pada pemeriksaan CT-Scan Sinus Paranasal dengan Klinis Sinusitis :

1) Scannogram : Cranium lateral

2) Scan Area : Dari rahang atas sampai sinus frontalis

3) FOV : 176.3 mm

4) Slice Thickness : 5mm 5) Tegangan Tabung : 120 kV

6) mA : 200

7) Rotation Time : 0,75 s

8) Window With : 80

9) Window Level : 40 10)Gantry Tilt : 0

11)Scanning : Helical

Hal ini sesuai dengan pernyataan informan sebagai berikut:

“Parameter sudah tertera disetiap alat CT-Scan, jadi parameter utama sudah di atur, contohnya penggunaan kVp pada orang gemuk dan kurus ada tombolnya untuk mengaturnya…

Potongannya yang jelas potongan axial dan coronal terus untuk lock intervalnya 0,4 kemudian lock numbernya atau slice thicknessnya none thicknessnya 11 mili.” (I3/Radiografer 2) Pernyataan informan 3 juga sesuai dengan pernyataan informan 4 yang menyatakan bahwa

“Parameter scanningnya dari scanogramnya menggunakan cranium lateral kemudian diatur slice thicknessnya setebal 5 mm. Range diatur untuk axial 5 mili dibawah sinus maxilaris

(54)

sampai sinus frontalis kemudian potongan coronalnya 5 mili posterior sinus sphenoideus sampai sinus frontalis. Standar algoritmanya untuk algoritma axial tulang kalau algoritma standar kV 130 mAsnya 60” (I4/Radiografer 3)

d. Prosedur pemeriksaan CT-Scan Sinus Paranasal

Berdasarkan hasil observasi yang penulis lakukan di Instalasi Radiologi RS TK III dr. Soetarto yaitu pada pemeriksaan CT-Scan Sinus Paranasal dengan Klinis Sinusitis :

1) Persiapan pasien dan persiapan alat dan bahan, kemudian pasien diminta memasuki ruangan dan dilakukan anamnesa terhadap pasien. Pasien diposisikan tidur terlentang atau supine diatas meja pemeriksaan dengan posisi head first atau kepala dekat dengan gantry dan posisi kedua tangan berada disamping tubuh atau diatas perut.

2) Posisi Objek diatur MSP tubuh sejajar dengan lampu indikator longitudinal kemudian batas atas diatur diatas sinus frontalis dan batas bawah dibawah sinus maksilaris, kemudian kepala pasien difiksasi untuk menghindari terjadinya pergerakan.

3) Dilakukan input data pasien dan mulai pengambilan scannogram dengan menggunakan protokol ‘sinuses’ hingga muncul scannogram cranium lateral.

4) Menentukan area scanning dari hasil scannogram dengan batas irisan diatas sinus frontalis hingga dibawah sinus frontalis, kemudian lakukan scanning. Setelah scanning selesai dan hasil gambaran telah sesuai,

(55)

5) Pasien diminta untuk keluar ruangan.

6) Dilakukan rekonstruksi pada potongan axial dan coronal dengan kondisi tulang (bone window) dengan ketebalan 0,4 mm.

Masing-masing potongan, baik axial maupun coronal direkonstruksi dengan jumlah 11 potongan menggunakan topogram sagittal.

7) Atur batas atas pada potongan axial adalah 2,5 cm superior sinus frontalis dan batas bawah pada 1 cm inferior sinus maksilaris, sedangkan untuk potongan coronal diatur agar sinus frontalis tidak terpotong hingga sinus sphenoid tampak.

8) Dilakukan filming dengan jumlah gambar 24 potongan dengan pembagian sebagai berikut, 2 topogram sagittal, 11 potongan axial, dan 11 potongan coronal dalam kondisi tulang.

Hal ini sesuai dengan pernyataan informan:

“Prosedur pemeriksaan CT Scan SPN pertama pada posisi pasien itu head first tidurnya supine dan posisi tangan ada di samping kanan dan kiri tubuh, dan kaki lurus sesuai dengan meja pemeriksaan. Kemudian untuk posisi objeknya MSP ini sejajar dengan lampu indikator longitudinal kemudian batas tengahnya ada di glabella dan batas atasnya di vertex sedangkan batas bawahnya ada di basis cranii…Poin selanjutnya untuk rekonstruksi, pemilihan potongan mulai dari range batas atas dan bawah untuk SPN sendiri rangenya berada di sinus frontalis sekitar 2,5 senti superior sinus frontalis kemudian batas bawahnya ada di submenta atau 1 senti inferior sinus maksilaris.

Ketebalan yang digunakan yaitu 0,4 thicknessnya yaitu pada saat dilakukan rekonstruksi. Kemudian jumlah potongan yang digunakan untuk masing-masing potongan untuk axial menggunakan 11 potongan dan untuk coronal juga menggunakan 11 potongan. Window yang digunakan adalah window sinus dan cerebrii, tapi yang di print hanya window sinus.” (I4/Radiografer)

(56)

3. Hasil Radiograf CT Scan Sinus Paranasal dengan Klinis Sinusitis

Bagian radiologi merupakan modalitas penunjang medis dengan menegakkan diagnosa melalui hasil pencitraan. Pada studi kasus pemilihan slice thickness pada protocol pemeriksaan CT Scan sinus paranasal dengan klinis sinusitis di Instalasi Radiologi RS TK III dr.

Soetarto, keseluruhan radiograf mampu menampakkan densitas serta kontras yang baik. Selain itu pada pemeriksaan sinus paranasal dengan kasus sinusitis beberapa anatomi yang diharuskan tampak seperti sinus frontalis, sinus ethmoidalis, sinus sphenoidalis, sinus maxillaris.

Gambar 4. 6 Hasil Radiograf CT Scan sinus paranasal (a) potongan axial, (b) potongan coronal (Instalasi Radiologi RS TK III dr. Soetarto,

2024)

Adapun hasil bacaan dokter radiologi, dari radiograf pasien tersebut antara lain sebagai berikut:

a. Sinusitis (maxillaris, sinus frontalis dan ethmoidalis) b. Hipertrofi choncha nasi inferior bilateral

(a) (b)

(57)

c. Non paten osteomeatal complex sinistra dengan obstruksi di ethmoid infundibulum sinistra

d. Concha bullosa medial sinistra tipe lamellar Hal ini sesuai dengan  pernyataan informan:

“Informasi yang ditampilkan itu semua sinus harus bisa terlihat, sinus maksilaris, sinus ethmoidalis, sinus sphenoid, sinus frontalis termasuk ada orbita dan mastoid juga harus bisa terlihat .” (I2/Radiografer)

“Anatomi yang harus ditampilkan itu semua daerah sinus yaitu sinus maksilaris, sinus ethmoidalis, sinus frontalis, sinus sphenoidalis kemudian tampak tulang zygomatikum.”

(I3/Radiografer)

Selain melalui pernyataan I2 dan I3 hal ini juga dijelaskan melalui pernyataan I4 sebagai berikut:

“Anatomi yang harus tampak yaitu sinus frontalis, ethmoidalis, maksilaris, dan sphenoidalis.” (I4/Radiografer 3)

4. Alasan Digunakannya slice thickness 0,4 mm pada pemeriksaan CT-Scan sinus paranasal dengan klinis sinusitis

Pada penanganan pasien dengan klinis sinusitis di RS TK III dr.

Soetarto pemeriksaan sinus paranasal dimana penggunaan slice thickness 0,4 mm merupakan pemeriksaan yang berbeda dengan teori, ditemukan dalam beberapa sumber untuk pemeriksaan sinus paranasal dengan klinis sinusitis, untuk itu perlu kita ketahui bersama alasan digunakannya slice thickness 0,4 mm pada pemeriksaan CT Scan sinus paranasal di RS TK III dr. Soetarto.

(58)

Setelah dilakukan wawancara lebih lanjut, berdasarkan keterangan informan alasan digunakannya slice thickness 0,4 mm pada pemeriksaan CT Scan sinus paranasal dengan klinis sinusitis di RS TK III dr. Soetarto adalah sebagai berikut:

a. Menampilkan detail anatomi sinus paranasal secara lebih baik.

b. Memastikan ketepatan dalam menegakkan diagnosa.

c. Dapat memperjelas adanya massa atau cairan pada sinus d. Rekomendasi dari teknisi dan disetujui oleh dokter spesialis

radiologi.

Hal ini sesuai dengan pernyataan informan:

“ Apabila menggunakan slice thickness 0,4 mm itu terkadang apabila ada sinusitis itu dia hanya tampak penebalan mukosanya, tidak terlihat lesinya, jadi penebalan mukosa yang tampak hanya sedikit. Jadi kalau menggunakan slice thickness yang terlalu tebal nanti ketutup atau gakeliatan jadi paling disarankan pakenya slice thicknessnya yang paling tipis.”

(I1/Dokter Spesialis Radiologi)

“Paling utama berpengaruh pada citra radiografnya, apabila menggunakan slice thickness yang terlalu tebal 0,4 mili maka noisenya akan berkurang tetapi ketegasan dari soft tissue sinusnya itu kurang. Kalau pake 0,4 noisenya agak tinggi cuma nanti untuk ketegasan dari soft tissue sinusnya lebih jelas. Jadi kalau misalnya ada massa atau cairan gitu kan lebih jelas kalau 0,4 mili”  (I4/Radiografer3)

Selain alasan berdasarkan tujuannya, alasan lain digunakannya slice thickness 0,4 mm pada pemeriksaan CT Scan sinus paranasal dengan klinis sinusitis di instalasi radiologi RS TK III dr. Soetarto tersebut juga didasarkan pada pemeriksaan rutin pada Standar Operasional Prosedur (SOP), yang sudah berdasarkan pada hasil penelitian, hal ini sesuai dengan pernyataan informan:

(59)

“Pemilihan penggunaan slice thickness 0,4 itu diarahkan oleh teknisi atau aplikan yang menaungi alat tersebut atau biasanya vendor, karena biasanya settingan setiap CT Scan berbeda pada alat satu dan lainnya apabila kita menggunakan slice thickness yang sama itu gambaran yang dihasilkan bisa berbeda, dipengaruhi juga oleh settingan window, kV, dan mAs. Slice thickness yang digunakan 0,4 mili karena dapat menampakkan kriteria yang maksimal itu di slice thickness 0,4. Itu juga kita menjadikan 0,4 itu sebagai SOP pemeriksaan CT Scan SPN.”

(I4/Radiografer3).

Selain kelebihan dari penggunaan slice thickness 0,4 mm juga terdapat kekurangan, antara lain yaitu noise yang dihasilkan cenderung lebih tinggi, hal tersebut sesuai dengan hasil wawancara dengan informan 4:

“Apabila digunakan slice thickness 0,4 memang noise-nya akan lebih tinggi, tetapi ketegasan dari soft tissue sinusnya lebih jelas, sehingga apabila ada massa atau cairan dapat terlihat lebih jelas apabila menggunakan 0,4 mili.” (I4/Radiografer).

B. Pembahasan

1. Prosedur Pemeriksaan CT Scan Sinus Paranasal di Instalasi Radiologi RS TK III dr. Soetarto

a. Persiapan Pasien

Berdasarkan hasil observasi di instalasi radiologi RS TK III dr. Soetarto tidak ada persiapan khusus yang harus dilakukan untuk teknik pemeriksaan CT Scan sinus paranasal, hanya saja harus melepas benda logam untuk menghindari adanya artefak dalam hasil radiograf.

Pada umumnya tidak ada persiapan khusus untuk pasien pemeriksaan CT Scan Sinus Paranasal. Pasien hanya diminta untuk

(60)

melepas benda-benda yang dapat menimbulkan artefak pada gambaran seperti anting, kacamata, kalung, dan benda-benda logam lainnya (Tarigan, 2019). Logam mengandung zat tertentu yang dapat mempengaruhi hasil CT Scan sehingga dapat menyebabkan artefak pada sebuah gambaran.

Artefak logam terjadi karena benda logam dapat menyerap sinar-X sehingga menghasilkan gambaran berkas ketika direkonstruksi pada CT Scan sehingga dapat menutupi organ yang akan dievaluasi. Selain itu, artefak dari benda logam dapat mengganggu harga nilai piksel (CT Number) pada jaringan disekitar logam yang nantinya digunakan untuk menentukan nilai jaringan tersebut normal atau tidak, sehingga gambaran artefak harus dikurangi agar tidak mengganggu penilaian dari CT Number (Dayyana, 2022).

Menurut peneliti persiapan pasien pemeriksaan CT Scan Sinus Paranasal di Instalasi Radiologi TK II dr. Soetarto telah sesuai dengan teori, pasien diminta untuk melepas benda-benda disekitar area kepala dan leher untuk menghindari timbulnya artefak pada gambaran yang dapat menutupi organ yang akan dievaluasi.

b. Persiapan Alat dan Bahan

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, persiapan alat dan bahan pada pemeriksaan CT Scan sinus paranasal dengan klinis sinusitis di instalasi radiologi RS TK III dr. Soetarto yakni pesawat

(61)

CT Scan 160 slice, selimut, dan alat fiksasi body strap, dan komputer.

Menurut Tarigan (2019) alat dan bahan yang digunakan pada pemeriksaan CT Scan Sinus Paranasal adalah Pesawat CT Scan dan fiksasi kepala. Menurut Putri (2023) pemeriksaan CT Scan Sinus Paranasal memerlukan Pesawat CT Scan dan komputer.

Peneliti menyimpulkan, bahwa terdapat perbedaan persiapan alat dan bahan yaitu pasien tidak diberikan alat fiksasi kepala, sebaiknya pada pemeriksaan sinus paranasal digunakan alat fiksasi kepala berupa head starp. Berdasarkan teori penggunaan alat fiksasi kepala bertujuan untuk kenyamanan pasien saat dilakukan pemeriksaan.

c. Teknik Pemeriksaan

Teknik pemeriksaan CT Scan sinus paranasal dengan klinis sinusitis di Instalasi Radiologi RS TK III dr. Soetarto dimulai dari posisi pasien tidur terlentang (supine) diatas meja pemeriksaan dengan posisi head first atau kepala dengan gantry dan kedua tangan pasien berada disamping tubuh. Posisi Objek diatur MSP tubuh sejajar dengan lampu indikator longitudinal kemudian batas atas diatur diatas sinus frontalis dan batas bawah dibawah sinus maksilaris, kemudian kepala pasien difiksasi untuk menghindari terjadinya pergerakan.

(62)

Parameter scanning yang digunakan adalah FOV 176,3 mm, scan range dari rahang atas sampai sinus frontalis, faktor eksposi 120 kV, 200 mA, gantry tilt 0, slice thickness pre scanning 5 mm, slice thickness rekonstruksi 0,4 mm, dan window bone.

Menurut Anggraeni (2023) posisi pasien pada pemeriksaan CT Scan supine diatas meja pemeriksaan lalu posisi objek garis tengah kepala disejajarkan dengan garis tengah head holder dan garis tinggi kepala setinggi MAE. Menurut Ramdhani (2022) parameter rutin pemeriksaan CT Scan Sinus Paranasal adalah menggunakan tegangan tabung 120 kV, kuat arus tabung 130 mAs, slice thickness 5 mm untuk bagian coronal dan axial, 3 mm pada ostoemeatal dengan bagian coronal. Menurut Anggraeni (2023) parameter scanning pemeriksaan CT Scan Sinus Paranasal tanpa kontras menggunakan tegangan tabung 120 kV, kuat arus tabung 550 mA, dan slice thickness 5 mm.

Peneliti menyimpulkan parameter yang digunakan pada RS TK III dr. Soetarto terdapat perbedaan dengan teori yang ada yaitu pada penggunaan kuat arus tabung dan slice thickness. Kuat arus tabung yang digunakan pada RS TK III dr. Soetarto merupakan parameter yang diatur secara otomatis menyesuaikan dengan ketebalan pasien. Slice thickness yang digunakan yaitu 0,4 mm untuk semua potongan baik potongan coronal, sagittal maupun axial. Slice thickness 0,4 merupakan pengaturan thickness paling

Gambar

Gambar 2. 1 Aspek anterior sinus paranasal (Lampignano dan Kendrick,2018).
Gambar 2. 2 Aspek lateral sinus paranasal (Lampignano dan Kendrick,2018)
Gambar 2. 3 Modalitas CT Scan (BAPETEN, 2019) 3) Konsol pengendali
Gambar 2. 4 Konsol CT Scan (Universitas Diagnostic Medical Imaging, 2020)
+7

Referensi

Dokumen terkait

irisan maka nilai noise semakin berkurang, maka dihasilkan citra CT Scan

Semakin tinggi index image noise maka dapat dikatakan bahwa kualitas gambar CT Scan akan semakin menurun, nilai noise yang terlalu besar akan menimbulkan artefak yang

mAs, scan time, kVp, tebal irisan, ukuran objek dan algoritma Sebagai contoh adalah air memiliki CT Number 0, semakin tinggi standar deviasi nilai CT Number pada Secara umum

Bila sinar-X mengenai suatu objek, akan terjadi interaksi antara foton. dengan atom-atom dengan

Bushberg Jerold, The Essential Physics of Medical Imaging, Second Edition, New York Lippingcotti William &amp; Wilkins, New York.. Edisi Buku Ajar

Citra pertama yang diperoleh dari CT-scan Thorax adalah berupa Scanogram yang berguna untuk emperoleh berapa Slice yang akan. Gambar 2.10.Scanogaram Thorax dan

Penelitian tentang nilai noise dengan variasi rekonstruksi kernel perlu dilakukan agar pengaruh rekonstruksi kernel dengan variasi slice thickness terhadap nilai noise

Key Words: Anatomy; Sinus; Anatomic variation; Sinus; CT scan; Concha; Nasal Journal of Dentistry, Tehran University of Medical Sciences, Tehran, Iran 2005; Vol: 2, No.4