Disamping memanfaatkan berbagai teori yang relevan dengan Batasan ini, peneliti juga melakukan kajian terhadapa penelitian-penelitian terdahulu yang ada relevansinya dengan penelitian ini.
Yang pertama, penelitian yang dilakukan oleh Riskawati tahun 2019 dengan judul “Analisis Kemampuan Memecahkan Masalah Matematika Berdasarkan Langkah-Langkah Polya Ditinjau Dari Adversity Quotient Siswa Smp Negeri 3 Minasatene”. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa berdasarkan langkah langkah Polya pemecahan masalah ditinjau dari AQ. Tipe Climber
60 Ibid., 5
61 Imanuel Sairo Awang, “Kesulitan Belajar IPA Peserta Didik Sekolah Dasar”, Vox Edukasi, 6.2 (2015
mampu menuliskan apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan dan menjelaskan dengan mengadopsi Bahasa soal, mempu merencanakan pemecahan dengan membuat pemisalan dan laiinya. Tipe camber mampu memahami masalah, merencanakan pemecahan dan melaksanakan rencana walaupun tidak terstruktur. Tipe Quitter dalam penelitian tidak ditemukan.62
Persamaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu adalah sama-sama meneliti Batasan penelitian yaitu Adversity Quotient. Perbedaannya, penelitian terdahulu menfokuskan untuk menganalisis kemampuan memecahkan masalah pada matematika, sedangkan penelitian ini lebih menfokuskan pada analisis kesulitan belajar anak SD pada mata pelajaran IPA.
Yang kedua, penelitian yang dilakukan oleh Fatwa Patimah Nursa’da dan Novrita Mulya Rosa tahun 2016 dengan judul “Analisis Kemampuan Berpikir Kreatif Kimia Ditinjau Dari Adversity Quotient Sikap Ilmiah Dan Minat Belajar. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh antara Adversity Quotient, sikap ilmiah dan minat belajar secara bersama-sama terhadap kemampuan berpikir kreatif kimia, terdapat pengaruh Adversity Quotient terhadap kemampuan berpikir kreatif kimian, tidak terdapat pengaruh sikap ilmiah perhadap kemampuan berpikir kreatif kimia dan tidak terdapat pengaruh minat terhadap kemampuan berpikir kreatif kimia.63
Persamaan penelitian dengan penelitian terdahulu adalah sama-sama meneliti menggunaka Adversity Quotient untuk menganalisis kemampuan peserta didik. Sedangkan perbedaannya adalah penelitian terdahulu menganalisis kemampuan berpikir kreatif sedangkan penelitian ini meneliti tentang analisis kesulitan belajar IPA.
Yang ketiga, penelitian yang dilakukan oleh Renawati Mentari hahun 2017 dengan judul
“Study Deskriptif Faktor-Faktor Kesulitan Belajar IPA Matri Gaya Dan Pesawat Sederhana Kelas 5 MI Misftahul Ulum Bumijawa Kabupaten Tegal Tahun Ajaran 2016/2017”. Hasil
62 Riskawati, Skripsi , ‘Analisis Kemampuan Memecahkan Masalah Matematika Berdasarkan Langkah-
Langkah Polya Ditinjau Dari Adversity Quotient Siswa Smp Negeri 3 Minasatene’, April, 2019, 33–35.
63 Fatwa Patimah Nursa’adah and Novrita Mulya Rosa, ‘Analisis Kemampuan Berpikir Kreatif Kimia Ditinjau Dari Adversity Quotient, Sikap Ilmiah Dan Minat Belajar’, Formatif: Jurnal Ilmiah Pendidikan MIPA, 6.3 (2016), 197–
206 <https://doi.org/10.30998/formatif.v6i3.992>.
penelitian ini menunjukkan bahwa kesulitan yang dialami dalam pembelajaran IPA Kelas 5 MI Misftahul Ulum Bumijawa Kabupaten Tegal sulit memahami penjelasan, makna pertanyaan dan kesulitan memahami konsep. Sedangkan faktor penyebab peserta didik mengalami kesulitan belajar antara lain dalam diri peserta didik seperti kondisi mental emosional, kecerdasan peserta didik yang rendah, sikap belajar yang kurang, minat belajar peserta didik yang rendah dan motivasi belajar peserta didik yang rendah. Lebih lagi berasal dari luar peserta didik seperti kurangnya perhatian orang tua, kegiatan belajar peserta didik, suasana rumah dan lingkungan yang tidak mendukung budaya belajar, kurangnya penyajian materi yang diberikan guru, penggunaan metode pembelajaran yang monoton, penggunaan media yang kurang menarik dan fasilitas kegiatan pembelajaran yang kurang optimal.64
Persamaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu yaitu peneliti mengambil masalah kesulitan belajar pada mata pelajaran IPA. Perbedaannya adalah penelitian ini menfokuskan pada strategi guru dalam mengatasi kesulitan belajar IPA sedangkan penelitian terdahulu menfokuskan factor-faktor yang menyebabkan kesulitan belajar IPA.
Yang keempat, penelitian yang dilakukan oleh lestari milacandra, Muhammad Afifullog Dan Muhammad Sulistiono Tahun 2019 Dengan Judul “Strategi Guru Dalam Mengatasi Kesulitan Belajar Siswa Kelas 2 MI Al Maarif 02 Singosari”. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa beberapa kesulitan belajar yang dialami peserta didik kelas 2 MI Al Maarif 02 Singosari adalah membaca, kesulitan berhitung, pemahaman peserta didik yang lemah, sikap dan minat belajar pesrta didik yang kurang. Kemudian strategi yang digunakan guru dalam mengatasi kesulitan belajar adalah melalui pendekatan individual, penambahan waktu belajar, pendekatan dengan orang tua dan penerapan strategi kooperatif. Strategi tersebut dinilai sangat membantu dalam mengatasi kesulitan belajar bagi peserta didik. Ada dua faktor yang menghambat pelaksanaan
64 RENAWATI MENTARI, ‘Studi Deskriptif Faktor-Faktor Kesulitan Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Ipa Materi Gaya Dan Pesawat Sederhana Kelas 5 Mi Miftahul Ulum Bumijawa Kabupaten Tegal Tahun Ajaran 2016/2017’, Skripsi, 2017, 14.
strategi ini yaitu lingkungan sekolah (sarana dan prasarana) kemudian kurangnya lingkungan keluarga.65
Persamaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu yaitu sama-sama meneliti tentang permasalahan kesulitan belajar peserta didik. Namun perbedaannya terletak pada penelitian ini lebih menfokuskan dalam mengatasi kesulitan belajar IPA sedangkan penelitian terdahulu fiokus pada permasalahan kesulitan belajar membaca, kesulitan menghitung dan lemahnya pemahaman peserta didik
Yang kelima, penelitian yang dilakukan oleh Maya Anggraini Tahun 2017 Dengan Judul
“Kesulitan Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPA Di Kelas VB SD Negeri 80/1 Muara Bulian”.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa proses pelaksanaan pembelajaran pada mata pelajaran IPA Kelas VB SD Negeri 80/1 Muara Bulian menonjolkan sikap yang tidak memperhatikan pembeljaran, tidak antusias untuk mengerjakan tugas kelompoknya, banyak mengobrol sendiri saat proses pembelajaran berlangsung dan kurang percaya diri saat belajar kelompok sehingga dengan begitu peserta didik mengalami hambatan dalam faktor eksternal yaitu lingkungan teman kelasnya serta hambatan dari tingkah laku peserta didik itu sendiri.66
Persamaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu adalah penelitian ini mengambil masalah tentang kesulitan belajar IPA dan perbedaannya adalah pada penelitian ini lebih menfokuskan pada strategi guru dalam mengatasi kesulitan belajar IPA sedangkan penelitian terdahulu hanya mencari permasalahan yang dialami peserta didik.