• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tentang dampak sosial pengangguran terdidik

Dalam dokumen SURAT PERNYATAAN (Halaman 62-65)

Sales

2. Tentang dampak sosial pengangguran terdidik

47 akibat warisan penjajahan belanda selama 350 tahun. Pandangan tersebut harus berangsur-angsur dihilangkan. Pada zaman kemerdekaan ini sangat diperlukan pembangunan di segala bidang terutama pada sector pertanian, industry, perdaganga , dan jasa.pembangunan tersebut memerlukan pandangan khusus dari para wisatawan yang tangguh dan andal. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara yang di ucapkan IP (28 Tahun ) menyatakan bahwa :

Banyak yang menawarkan kerja di swasta tapi saya juga mau kerja jadi PNS makanya saya masih menganggur karena saya menunggu pendaftaran PNS, kalau di Barru lebih di hormati masyarakat jika jadi PNS. lagian PNS juga memiliki jaminan masa tua jadi sy memiliki kemauan yang besar jadi PNS dari pada kerjaan yang lain. (I/wawancara/irfan/6/3/L)

Penjelasan informan Ipa menyatakan bahwa persoalan pekerjaan tidak menjadi persoalan, akan tetapi ini persoalan disiplim ilmu yang tidak sesuai, oleh karena itu, saya lebih memilih menganggur untuk sementara sambil menunggu pendaftaran PNS. Selain itu, ipa juga cenderung lebih ego terhadap kehormatan PNS, menurutnya PNS lebih terhormat di bandingkan dengan pekerjaan yang lainnya. Akibat dari egoisme tersebut dan kehormatan seorang PNS membuat lebih memilih untuk menganggur.

Menjamurnya pengangguruan selain faktor tingginya alumin dari berbagai lulusan serta rendahnya penerimaan tenaga PNS membuat menjamurnya pengangguran di kecamatan tanete riajang kab. Barru.(Data Observasi).

48 Sesuai dengan rumusan masalah yang kedua pada penelitian ini yakni dampak social pengangguran terdidik di desa kading. Tanggapan-tanggapan yang muncul terhadap pengangguran terdidik ini terlebih karena pandangan masyarakat yang menganggap bahwa sarjana identik dengan orang yang sudah siap untuk bekerja.

Seperti yang diungkapkan oleh salah satu informan bahwa;

“masa sarjana tidak mempunyai pekerjaan, sedangkan yang lain sekolahnya hanya sampai SD sudah mengirimkan orang tuanya penghasilan”.

Sejalan dengan informan yang berinisial RM (3 maret 2016 ) yang mengatakan bahwa:

“ saya juga heran melihat para sarjana di kampung ini, yang kerjanya tidak beda dengan orang-orang yang tidak pernah kuliah.

Saya pikir orang yang sudah kuliah itu, pas selesai dia sudah punya pekerjaan yang layak dan sesuai dengan gelarnya.

Begitu pula dengan hasil wawancara IC ( 5 maret 2016 ) yang berpandangan bahwa:

“maega to uita sarjana kukampong’e mabela lao massikolah matanre nappa pas selesaini lisu mutommi ma’galung, jadi aga gunana sikolah’e ( Sayang sekali kalau sudah sarjana tapi kerjaannya hanya sama dengan orang tuanya jadi petani, yah,, setidaknya adalah sedikit perkembangan daripada orang tuanya.

Karena rata-rata orang kasi kuliah anaknya agar mempunyai pekerjaan (kantoran) yang tidak membutuhkan banyak tenaga fisik”.

Sependapat dengan wawancara Ay ( 3 maret 2016 )yang mengatakan bahwa:

“ ada tetanggaku, tiga tahun yang lalu pas selesami kuliah langsung’i menikah, dilihat dari pekerjaan suaminya ya gajinya juga tidak seberapa padahal bagusnya kerjai juga itu istrinya

49 untuk membantu keuangan keluarga. Apalagi istrinya bergelar sarjana, tapi dia hanya mengrus rumah tangga”.

Hasil wawancara dari beberapa informan di atas menunjukkan bahwa gelar sarjana menjadi suatu beban bagi orang sudah memilikinya. Ada berbagai harapan lingkungan atau orang-orang yang ada di sekitarnya akan gelar dengan hubungannya dengan pekerjaan yang mereka miliki. Umumnya anggapan masyarakat terhadap mereka yang sudah menyelesaikan studi adalah orang-orang yang sudah siap bekerja dan seharusnya sudah dapat pekerjaan yang sesuai dengan gelarnya.

Sudah menjadi hal yang lumrah jika muncul berbagai macam tanggapan yang terkesan negative di kalangan masyarakat. Hal itu karena pandangan masyarakat terhadap orang-orang yang kuliah apalagi di perguruan tinggi di Makassar menjadi suatu yang amat besar baginya, jadi ketika harapan tidak sesuai dengan kenyataan otomatis muncul kekecewaan.

Masyarakat yang berpandangan nagatif terhadap pengangguran memang wajar.

Namun berbeda dengan orang tua yang mempunyai anak sudah selesai kuliah, walau tidak sepenuhnya negative akan tetapi ada juga yang menunjukkan sikap toleransi. Hal ini ditemukan pada hasil wawancara Dy ( 3 maret 2016 ) mengatakan:

“ engka to anakku sarjana tapi de’topa gaga jamanna, biasa narekko utanai magai na deppa na’jama, iya bawang papebalinna makkeda natajeng’i pendaftaran CPNS ya sesuai sibawa jurusanna.( saya juga mempunyai anak yang bergelar sarjana tetapi belum mendapatkan pekerjaan, setiap kali saya bertanya kapan dia akan mendapatkan pekerjaan jawabannya selalu sama,

50 tunggu pendaftaran CPNS yang sesuai dengan jurusan yang telah saya ambil ).

Pendapat yang sejalan dengan hasil wawancara RM ( 3 maret 2016 ) yang mengatakan;

“ kalau saya terserah anakku, mau kerja di mana dan kapan dia mau kerja, lagipula saya tidak bisa paksa dia untuk segera cari kerja. Yah,, untuk sementara biarkan dia bantu-bantu ayahnya.

Mungkin dia belum punya kerjaan yang cocok untuk dirinya.

Percuma juga dipaksa namun pada akhirnya berhenti juga. Saya yakin suatu saat dia juga ingin berkeluarga dan pasti berusaha untuk penuhi kebutuhan keluarganya.

Hal yang sama diungkapkan oleh informan IC ( 5 maret 2016 ) yang mengatakan:

“semua saya serahka sama dia, kan dia yang mau jalani. Saya tahu bahwa memang menjadi seorang guru itu sulit, apalagi banyak saingan dan butuh modal juga untuk mendaftar kesana kemari. Apalagi dia masih rajin ke sawah bantu ayahnya, saya pikir itu juga suatu pekerjaan, bukan hanya di kantor-kantor.

Walaupun sebenarnya saya ingin dia menjadi pegawai”.

Berdasarkan hasil wawncara di atas dapat diketahui bahwa yang paling di butuhkan dalam mengatasi pengangguran terdidik adalah dibukanya lowongan kerja sebanyak- banyaknya dengan latar belakang pendidikan sebagai guru agar penerimaan PNS untuk guru di terima sebanyak- banyaknya karena peminat dan pesaingnya terlalu banyak agar pendidikan yang diterima dari perguruan tinggi dapat di manfaatkan dengan baik serta jauh dari predikat pengangguran terdidik.

Dalam dokumen SURAT PERNYATAAN (Halaman 62-65)

Dokumen terkait