• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teori Belajar Kontruktivisme

BAB II TEORI BELAJAR

C. Teori Belajar Kontruktivisme

1 Pengertian belajar kontruktivisme

Asal kata konstruktivisme adalah “to construct” yang artinya membangun atau

menyusun. suatu teori belajar yang menenkankan bahwa para siswa sebagai pebelajar tidak menerima begitu saja pengetahuan yang mereka dapatkan, tetapi mereka secara aktif membengun pengetahuan secara individual.

Menurut Von Glasersfeld (dalam Anggriamurti, 2009) bahwa konstruktivisme adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita adalah konstruksi (bentukan) kita sendiri. Pengetahuan itu dibentuk oleh struktur konsepsi seseorang sewaktu berinteraksi dengan lingkungannya.

Teori Konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Beda dengan aliran behavioristik yang memahami hakikat belajar sebagai kegiatan yang bersifat mekanistik antara stimulus respon, kontruktivisme lebih memahami belajar sebagai kegiatan manusia membangun atau menciptakan

pengetahuan dengan memberi makna pada pengetahuannya sesuai dengan pengalamanya

Dalam konteks filsafat pendidikan, konstruktivisme adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup yang berbudaya modern. Konstruktivisme merupakan landasan berpikir (filosofi) pembelajaran kontekstual, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak secara tiba – tiba. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta – fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkonstruksi pengetahuan dan memberi makna melalui pengalaman nyata (Thobroni &

Mustofa, 2013: 107 – 108).

Konstruktivisme adalah sebuah filosofi pembelajaran yang dilandasi premis bahwa dengan merefleksikan pengalaman, kita membangun, mengkonstruksi pengetahuan pemahaman kita tentang dunia tempat kita hidup. Kontruktivisme melandasi pemikirannya

bahwa pengetahuan bukanlah sesuatu yang given dari alam, tetapi pengetahuan merupakan hasil konstruksi (bentukan) aktif manusia itu sendiri.

Setiap kita akan menciptakan hukum dan model mental kita sendiri, yang kita pergunakan untuk menafsirkan dan menerjemahkan pengalaman. Belajar, dengan demikian semata – mata sebagai suatu proses pengaturan model mental seseorang untuk mengakomodasi pengalaman – pengalaman baru (Suyono &

Hariyanto, 2014: 105).

Sedangkan, belajar dalam pandangan konstruktivisme betul – betul menjadi usaha individu dalam mengkonstruksi makna tentang sesuatu yang dipelajari. Konstruktivisme merupakan jalur alami perkembangan kognitif.

Pendekatan ini mengasumsikan bahwa siswa datang ke ruang kelas dengan membawa ide – ide, keyakinan, dan pandangan yang perlu diubah atau dimodifikasi oleh seorang guru yang memfasilitasi perubahan ini, dengan merancang

tugas dan pertanyaan yang menantang seperti membuat dilema untuk diselesaikan oleh peserta didik (Yaumi & Hum, 2013: 42).

Dari keterangan diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa teori konstruktivisme memberikan keaktifan terhadap manusia untuk belajar menemukan sendiri kompetensi, pengetahuan atau teknologi, dan hal lain yang diperlukan guna mengembangkan dirinya (Thobroni & Mustofa, 2013: 107 – 108).

Driver and Bell dalam Hamzah (2008) mengemukakan karakteristik pembelajaran konstruktivisme sebagai berikut (Suyono &

Hariyanto, 2014: 106):

 Siswa tidak dipandang sebagai sesuatu yang pasif melainkan memiliki tujuan,

 Belajar harus mempertimbangkan seoptimal mungkin proses keterlibatan siswa,

 Pengetahuan bukan sesuatu yang datang dari luar, melainkan dikonstruksi secara personal,

 Pembelajaran bukanlah suatu bentuk transmisi pengetahuan, melainkan

bagaimana melibatkan pengaturan situasi lingkungan belajar,

 Kurikulum bukanlah sekadar hal yang dipelajari, melainkan juga menggunakan seperangkat pembelajaran, materi dan sumber.

Ada sejumlah prinsip – prinsip pemandu dalam konstruktivisme (Suyono & Hariyanto, 2014: 107).

 Belajar merupakan pencarian makna. Oleh sebab itu pembelajaran harus dimulai dengan isu – isu yang mengakomodasi siswa untuk secara aktif mengkonstruk makna.

 Pemaknaan memerlukan pemahaman bahwa keseluruhan (wholes) itu sama pentingnya seperti bagian – bagiannya. Sedangkan bagian – bagian harus dipahami dalam konteks keseluruhan.

Karenanya, proses pembelajaran berfokus terutama pada konsep – konsep primer dan bukan kepada fakta – fakta yang terpisah.

Supaya dapat mengajar dengan baik, guru harus

memahami model – model mental yang dipergunakan siswa terkait bagaimana cara pandang mereka tentang dunia serta asumsi – asumsi yang disusun yang menunjang model mental tersebut.

Tujuan pembelajaran adalah bagaimana setiap individu mengkonstruksi makna, tidak sekadar mengingat jawaban apa yang benar dan menolak makna milik orang lain.

Karena pendidikan pada fitrahnya memang antardisiplin, satu – satunya cara yang meyakinkan untuk mengukur hasil pembelajaran adalah melakukan penilaian terhadap bagian – bagian dari proses pembelajaran, menjamin bahwa setiap siswa akan memperoleh informasi tentang kualitas pembelajarannya.

2 Teori belajar konstruktivisme dalam pandangan para tokoh

Adapun tokoh-tokoh yang menganut teori konstruktivisme adalah sebagai berikut : a Jean Piaget

Piaget yang dikenal sebagai konstruktivis pertama menegaskan bahwa penekanan teori konstruktivisme ada pada proses untuk menemukan teori atau pengetahuan yang dibangun dari realitas lapangan (prakitek). Peran guru dalam proses pembelajaran adalah sebagai fasilitator atau mediator.

Unsur - unsur teori konstruktivisme :

Skemata adalah struktur kognitif yang dengannya seseorang beradaptasi dan terus mengalami perkembangan mental dalam beradaptasi dengan lingkungan dan berinteraksi dengan lingkungan.

Asimilasi adalah proses kognitif dimana seseorang mengintegrasikan presepsi atau pengalaman lamanya dengan pengetahuan atau pengalaman yang ia dapatkan sehingga membentuk pengetahuan yang baru.

 Akomodasi adalah proses pembentukan skema dari pengetahuan yang ia baru dapatkan.

 Ekuilibrasi adalah keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi.

 Diskuilibrasi adalah ketidakseimbangan antara asimilasi dan akmodasi.

b Vygotsky

Dalam teorinya vygotsky menyatakan bahwa siswa dalam mengkosnstruksi suatu konsep, perlu memperhatikan lingkungan sosial.

Anak dalam teori konstruktivisme, Piaget mengemukakan bahwa pengetahuan tidak diperoleh secara pasif oleh seseorang, melainkan melalui tindakan. Bahkan, perkembangan kognitif anak bergantung pada seberapa jauh mereka aktif berinteraksi dengan lingkungannya.

Sedangkan, perkembangan kognitif itu sendiri merupakan proses berkesinambungan tentang keadaan ketidak-seimbangan dan keadaan keseimbangan (Poedjiadi, 1999: 61).

Ada dua konsep penting dalam teori Vygotsky (Slavin, 1997), yaitu Zone of Proximal Development (ZPD) dan scaffolding

Zone of Proximal Development (ZPD) merupakan jarak antara tingkat perkembangan sesungguhnya yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah secara mandiri dan tingkat perkembangan potensial yang

didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau melalui kerjasama dengan teman sejawat yang lebih mampu.

Scaffolding merupakan pemberian sejumlah bantuan kepada siswa selama tahap-tahap awal pembelajaran, kemudian mengurangi bantuan dan memberikan kesempatan untuk mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar setelah mereka dapat melakukannya (Slavin, 1997).

Dalam pembelajaran, Cobb, Yackel (1992) menyebutnya dengan konstruktivisme sosio (socio-constructivism), siswa berinteraksi dengan guru, dengan siswa lainnya dan berdasarkan pada pengalaman informal siswa mengembangkan strategi untuk merespon masalah yang diberikan.

c Von Glasersfeld

Meneurut Von Glasersfeld (Doolittle Camp, 1999: 5) tiga keyakinan (tenet) sebagai epistemologi konstruktivisme.

Knowledge is not passively accumulated, but rather, is the result of active cognizing by the individual; Pengetahuan tidak dihimpun secara pasif, tetapi dihasilkan melalui kognisi aktif individu.

Cognition is an adaptive process that functions to make an individual’s behavior more viable given a particular environment; Kognisi merupakan proses adaptif yang berfungsi membuat perilaku individu lebih sesuai pada suatu lingkungan tententu yang diberikan.

Cognition organizes and makes sense of one’s experience, and is not a process to render an accurate representation of reality;

Mengorganisasi kognisi dapat membuat pengertian dari pengalaman seseorang, dan bukan suatu proses untuk menghasilkan representasi akurat dari kenyataan.

Doolittle dan Camp (1999: 5) mengacu pada pendapat Dewey, Garisson, Larochelle, Bednarz dan Garisson, Gergen, dan Maturana dan Varella, menambah sebuah keyakinan (tenet) pada epistemologi konstruktivisme yang dikemukakan oleh von Glasersfeld sebagai berikut: Knowing has roots both in biological/

neurological construction, and in social, cultural, and language-based interactions; Pengetahuan berakar dalam konstruksi biologis/neurologis dan dalam interaksi sosial, budaya, dan bahasa.

Dokumen terkait