• Tidak ada hasil yang ditemukan

TEORI KEPEMIMPINAN

BAB X BJ. HABIBIE

B. TEORI KEPEMIMPINAN

Kepemimpinan adalah suatu teori yang menjelaskan bagaimana cara seseorang memimpin sebuah kelompok maupun organnisasinya demi membawa kelompok atau organisasi tersebut menuju tujuan yang sudah dicita-citakannya. Teori kepemimpinan adalah penggeneralisasian satu seri perilaku pemimpin dan konsep-konsep kepemimpinannya, dengan menonjolkan latar belakang historis, sebab musabab timbulnya kepemimpian, persyaratan menjadi pemimpin, tugas pokok dan fungsinya, serta etika profesi kepemimpinan211. Menurut teori yang dikemukakan oleh Terry Frankin tahun 1982 menjeleaskan bahwa mendefinisikan kepemimpinan sebagai hubungan dimana pemimpin mempengaruhi orang lain untuk mau bekerjasama melaksanakan tugas-tugas yang saling berkaitan untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

BJ. Habibie adalah seorang presiden ke-3 RI yang menjabat pada tahun (21 Mei 1998 – 20 Oktober 1999), beliau pemimpin yang cerdas dan berani mengambil resiko. Bahkan presiden Soeharto pernah berkata

“jikalau Dr. Habibie dapat memimpin orang jerman mengembangkan teknologi untuk membuat pesawat terbang, maka saya yakin Dr. Habibie mampu memimpin bangsa Indonesia membuat apa saja dan dapat menyediakan lapangan pekerjaan yang sangat kita butuhkan212.

Gaya kepemimpinan BJ. Habibie selama menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia dapat dilihat dari kebiasaan beliau sehari-hari, ataupun dapat dilihat dari kebiasaan sehari-hari atau latar belakang yang membentuk kepribadiannya. Gaya kepemimpinan Habibie lebih cenderung pada perilaku pemimpin yang memberi pertimbangan sendiri dan rangsangan intelektual (Hasibuan : 2001). Hal tersebut dinamai Gaya Kepemimpinan Transformasional yang memiliki sifat revolusioner dan aktif.

Gaya kepemimpinan transformasional merupakan hasil perkembangan pemikiran beberapa teoritis kepemimpinan yang memiliki

212Arimbi Bimoseno. 2014. Pesawat Habibie Sayap-sayap Mimpi Indonesia. Jakarta: kata media hlm 55.

211Kartono, Kartini. 1994. Pemimpin dan Kepemimpinan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada hlm 31.

ciri selalu memulai dengan perubahan baik dari diri sendiri maupun dari luar. Pemimpin transformasional selalu menetapkan hal yang menantang dan memiliki harapan yang lebih tinggi di banding dengan gaya kepemimpinan lainnya. Pemimpin yang memiliki gaya kepemimpinan transformasional sering memainkan peranan langsung dalam menciptakan perubahan, membangun advokasi arah baru, serta membangun visi dan misi213. Kepemimpinan dengan gaya transformasional adalah kepemimpinan yang dapat memotivasi untuk dapat terus berprestasi malampaui harapan yang sudah direncanakan.

Konsep Kepemimpinan Transformasional dikemukakan oleh James MacGregor Burns (1979) pada bukunya yang mendapat penghargaan Pulitzer Praise dan National Book Award yang berjudul Leadership.

Dalam buku tersebut, Burns menggunakan istilah kepemimpinan transformasi. Bass memformulasikan pengertian konsep kepemimpinan transformasional berbeda dengan Burns. Latar belakang pendidikan mereka inilah yang membuat pandangan masing-masing berbeda. Burns seorang ilmuwan politik dan Bass merupakan psikologi industri, maka pola pikir mereka untuk terkait hal ini berbeda.

Menurut Bass dalam buku karya Wirawan (2013 : 141) istilah kepemimpinan Transformasional merupakan upaya pemimpin yang mentranformasi para pengikut dari satu tingkat kebutuhan rendah hierarki kebutuhan ke tingkat kebutuhan lainnya yang lebih tinggu menurut Teori Motivasi Abraham Maslow. Pemimpin dapat mentransformasi haapan untuk suksesnya pengikut, serta nilai-nilai, dan mengembangkan budaya organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan pemimpin melalui kepemimpinan unu pengikut dapat mencapai kinerja yang sangat melebihi harapan pemimpin (performance beyond expectations).

Pada buku yang ditulis oleh beliau sendiri menjelaskan bagaimana beliau ingin merubah warisan ke otoriteran dan feodalnya pemerintahan yang sudah lama berkembang selama 53 tahun, beliau ingin mengubah

213Isnaini Muallidin. Kepemimpinan transformasional dalam kajian teoritik dan empiris. Paper leadership jurusan ilmu administrasi publik. Hlm 10

tersebut dalam waktu yang cepat agar bangsa Indonesia yang demokratis dan transparant dapat beliau pimpin214

BJ. Habibie juga beranggapan bahwa presiden merangkap wakil presiden dan koordinator harian besar keluarga golkar yang memiliki suara mayoritas pada jajaran MPR dan DPR yang jelas sangat tidak sehat dan tidak menguntungkan objektivitas pimpinan nasional dan kualitas reformasi215, dengan begitu beliau memutuskan untuk segera melakukan reformasi golkar menjadi suatu partai politik dan membubarkan keluarga besar golkar. Maka dari itu presiden dapat bertindak lebih objektif, bermoral baik, dan tidak mementingkan kepentingan pribadi, keluarga serta golongan, kecuali kepentingan masyarakat Indonesia.

Salah satu contoh bentuk penerapan gaya kepemimpinan transformasional pada era BJ Habibie yakni ketika Indonesia dihadapkan dengan kasu krisis ekonomi. Krisis yang mendera Indonesia sejak pertengahan tahun 1997 berdampak buruk pada perekonomian. GNP per kapita menurun sampai hampir dua per tiga dibandingkan dengan sebelumnya atau ganya US$ 400 pada tahun 1998. Inflasi akumulatif pada tahun 1998 mencapai 77,63 %. Angka pengangguran tercatat bertambah 17,1% atau sekitar 15,4 juta dari angkatan kerja. Jumlah dari penduduk miskin mencapai 40% dari jumlah penduduk Indonesia. BJ. Habibie menentukan bahwa prioritas utama yang harus dilakukan adalah mengatasi krisis ekonomi dengan mencegah memburuknya kondisi perekonomian nasional dan dilanjutkan dengan pemulihan ekonomi.

Presiden BJ. Habibie menyatakan keyakinanya bahawa kemerosotan ekonomi dapat dihentikan dalam tahun 1999 dan permulaan tahun 2000 akan dimulai satu fase pertumbuhan ekonomi baru. “Berbagai upaya akan dilakukan untuk membuat perubahan ekonomi ke arah yang lebih baik,” ucap BJ. Habibie216. Masalah ekonomi yang dihadapi oleh beliau luar biasa sulit. Namun BJ. Habibie menyelesaikan permasalahan ini dengan dua sisi : yakni sisi ekonomi dan sisi politik sekaligus untuk

216Asiaweek,4 September 1998.

215Bacharuddin Jusuf Habibie. 2006. Deti-detik yang Menentukan. Jakarta : THC Mandiri hlm 73

214Bacharuddin Jusuf Habibie. 2006. Deti-detik yang Menentukan. Jakarta : THC Mandiri hlm 73

dapat menghasilkan perbaikan kondisi yang berkesinambungan dan menciptakan pemerintahan yang kuat.

Langkah yang diambil oleh beliau untuk mengatasi krisis ekonomi dengan mengambil dua sasaran pokok. Pertama, menjaga ketersediaan bahan makanan dan bahan kebutuhan pokok masyarakat dengan harga terjangkau. Kedua, mempertahankan kelangsungan perputaran roda perekonomian nasional217. Agar dapat mencapai tujuan tersebut presiden BJ. Habibie membuat tiga program : program jangka pendek, program jangka menengah, dan program jangka panjang.

Program jangka pendek dengan mengurangi beban masyarakat, diutamakan masyarakat miskin dan berpenghasilan rendah yang terkena dampak krisis ekonomi. Meliputi program jaring pengaman sosial (JPS), penyediaan kebutuhan rakyat serta pengendalian harga. Pelaksanaan program ini bersamaan dengan diterapkan kebijakan moneter ketat untuk meredam gejolak spekulatif dan mendorong kenaikan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Program jangka menengah, upaya penyehatan sistem perbankan untuk membangkitkan kepercayaan dan kegiatan dunia usaha, khususnya investor luar negeri, dan pengendalian laju inflasi serta berbagai upaya reformasi struktural untuk memperkuat landasan perekonomian nasional dengan meningkatkan efisiensi dan daya saing.

Program jangka panjang, sedang dalam pelaksanaan landasan bagi perekonomian yang maju, modern, mandiri, dan berkualitas, terbuka seluas-luasnya bagi semua pihak berkesempatan untuk berperan dan menikmati hasil pembangunan. Kini sedang dibangun institusi ekonomi agar dapat berfungsi dengan baik dalam sistem ekonomi yang beorientasi ke pasar dalam negeri dan global218.

Keinginan untuk melakukan perubahan dan pembaruan dalam reformasi ekonomi mencakup usaha mulai dari mengatasi krisis ekonomi, memberdayakan ekonomi rakyat, memperkuat kelembagaan perekonomian, mendorong persaingan sehat, sampai pemberantasan KKN dalam kegiatan ekonomi dan bisnis. Berbagai upaya untuk mengatasi

218A.W. Praktiknya,et al., danRepublika,26 Mei 1999.

217A.W. Praktiknya, et al.,Pandangan dan Langkah Reformasi BJ. Habibie,hal. 15

dampak sosial dan krisis ekonomi. Upaya ini dilengkapi dengan perubahan struktural yang mencakup restrukturisasi perbankan dan utang luar negeri swasta. Pada aspek kelembagaan, berbagai undang-undang yang mendorong kegiatan ekonomi yang efisien dan sehat telah disahkan, antara lain UU Perbankan, UU Kepailitan, UU Bank Indonesia, UU Lalu Lintas Devisa dan Sistem Nilai Tukar219.

BJ. Habibie pada masa pemerintahannya terpacu untuk melakukan restrukturisasi utang swasta domestik dan utang luar negeri serta mempercepat rekapitalisasi perbankan220. Restrukturisasi perbankan dilakukan melalui langkah likuidasi bank-bank yang tidak sehat dan rekapitalisasi dalam upaya memperbaiki sistem perbankan221. Biaya rekapitalisasi perbankan diperkirakan mencapai RP. 300 triliun. Dari proses ini diharapkan akan lahir suatu sistem perbankan nasional yang sehat, andal, dan tangguh yangdapat menunjang peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi di masa mendatang. Pada rekapitalisasi tersebut diharapkan sektor perbankan bisa menggerakkan sektor riil sebagai salah satu kunci pemulihan ekonomi. Langkah penyehatan sektor perbankan antara lain ditujukan untuk menghindarkan negara dari kebangkrutan ekonomi222.

Perlahan ekonomi Indonesia memang sudah mulai bangkit.

Indikasinya cukup jelas terus menguatnya nilai rupiah dalam kurun waktu yang cukup lama, menurunnya indeks harga konsumen, dan laju inflasi yang memungkinkan pemerintah memangkas suku bunga bank223. Direktur IMF Stanley Fischer menilai positif program restrukturisasi sistem perbankan yang dilakukan pemerintahan BJ. Habibie sebagai bagian penting bagi pemulihan ekonomi224.

Disamping menciptakan berbagai kemudahan, pemerintah juga memberi peluang usaha kepada pengusaha besar, menengah, dan kecil

224International Herald Tribune, 31 Maret 1999

223Republika, 22 Mei 1999

222Republika, 3 Mei 1999

221Republika, 8 Februari 1999

220Republika, 25 Mei 1999

219A.W. Praktinya, et al. 1999

serta koperasi berupa iklim yang menarik bagi penanaman modal dan pertumbuhan perekonomian nasional. Monopoli dan persaingan yang tidak sehat diatara pelaku ekonomi dicegah dengan UU Larangan Monopoli dan persaingan tidak sehat. Investor dalam negeri maupun investor asing bergairah menanamkan modalnya secara sendiri-sendiri atau berpatungan.

Dalam masa reformasi, upaya ini mendapatkan prioritas utama225.

Penguatan kurs rupiah yang terjadi secara berangsur merupakan konsekuensi logis dari perkembangan situasi politik yang semakin membaik dan terkendali. Selain itu faktor fundamental ekonomi yang lain seperti kecenderungan turunnya tingkat suku bunga, pertumbuhan ekonomi yang semakin tinggi dan laju inflasi yang semakin rendah226.

Turunnya inflasi telah memberikan dampak positif terhadap tingkat suku bunga dan stabilitas situasi moneter227. Bunga deposito yang semula mencapai 69% turun menjadi 29% bunga hrian yang semula mencapai 40% turun menjadi 19%. Turunnya suku bunga tersebut diakibatkan oleh turunnya inflasi dan menguatnya angka rupiah228.

Berdasarkan fakta tersebut pada triwulan pertama dan kedua tahun 1999 perekonomian Indonesia menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Perkembangan ini sekurang-kurangnya diperlihatkan oleh beberapa indikator sebagai berikut : menguatnya indeks pasar modal, menurunnya suku bunga bank, menguatnya rupiah, bahkan relatif stabil, menurunnya inflasi, bahkan sampai sampai negatif229. Pemulihan ekonomi ini secara nyata juga diperkuat oleh terjadinya pertumbuhan positif yang berkisar dua persen serta membaiknya kinerja ekspor-impor230.