BAB IX SOEHARTO
B. Teori kepemimpinan Soeharto 1. Tipe militer
Meskipun jenis kepemimpinan militer dan militer ini memiliki dua suku kata yang berbeda, keduanya memiliki arti yang sama. Jadi, tipe kepemimpinan militeristik atau militeristik adalah pemimpin yang mendorong bawahannya untuk lebih sering menggunakan sistem komando, juga pemimpin yang menggunakan tipe kepemimpinan ini suka bergantung pada jabatan dan menyukai formalitas yang berlebihan. Biasanya, pemimpin yang menggunakan tipe kepemimpinan ini sulit menerima kritik dari bawahan, meskipun itu kritik yang membangun.
Sebenarnya tipe kepemimpinan militer ini sangat mirip dengan tipe kepemimpinan otoriter atau otokratis, namun harus jelas bahwa tipe kepemimpinan militer ini sangat berbeda dengan kepemimpinan organisasi militer (tokoh militer)181. Ciri-ciri pemimpin yang menggunakan tipe kepemimpinan militer atau militer ini adalah sebagai berikut:
a. Pemimpin yang menggunakan tipe kepemimpinan militer ini biasanya menggunakan sistem komando atau komando atas bawahannya. Artinya
181“INA-Rxiv Papers | PERISTIWA MUNDURNYA SOEHARTO DARI JABATAN PRESIDEN INDONESIA,”
t.t.
180“Biografi Presiden - Situs Web Kepustakaan Presiden-Presiden Republik Indonesia.”
pemimpin yang menggunakan tipe kepemimpinan ini keras, kaku dan tidak bijaksana, sehingga pemimpin yang menggunakan tipe kepemimpinan ini selalu menuntut kepatuhan mutlak dari bawahannya.
b. Pemimpin yang menggunakan tipe kepemimpinan militer ini menyukai formalitas seperti ritual dan menampilkan keangkuhan yang berlebihan. Jadi maksud dari kalimat di atas adalah bahwa seorang pemimpin yang menggunakan kepemimpinan militer jenis ini selalu memperingati hari-hari besar negara dengan mengadakan upacara sebagai tanda bahwa dia telah memperingati hari-hari besar negara182.
c. Pemimpin yang menggunakan tipe kepemimpinan militer ini selalu menuntut disiplin yang tegas dan kaku dari bawahannya. Jadi, maksud dari pernyataan di atas adalah bahwa seorang pemimpin yang menggunakan tipe kepemimpinan ini selalu menerapkan aturan yang mutlak dan harus dipatuhi oleh rakyatnya, sehingga tidak mengherankan jika pemimpin tidak menerima saran, rekomendasi, rekomendasi dan kritik darinya. . Dengan kata lain, komunikasi hanya dapat dilakukan satu arah. Salah satu pemimpin yang menggunakan tipe kepemimpinan militer ini adalah Suharto yang menjabat sebagai Presiden ke-2 Republik Indonesia karena Suharto sudah memiliki ciri-ciri tipe kepemimpinanmiliter yaitu pemimpin yang menggunakan tipe kepemimpinan militeristik ini selalu menuntut ketegasan. dan Disiplin yang kaku dari bawahannya. Jadi, maksud daripernyataan di atas adalah bahwa seorang pemimpin yang menggunakan tipe kepemimpinan ini selalu menerapkan aturan yang mutlak dan harus dipatuhi oleh rakyatnya, sehingga tidak mengherankan jika pemimpin tidak menerima saran, rekomendasi, rekomendasi dan kritik darinya. . Dengan kata lain, komunikasi hanya Suharto yang menggunakan gaya kepemimpinan militeristik karena dipengaruhi oleh latar belakangnya sebelummenjadi Presiden ke-2 Republik Indonesia. Suharto adalah seorang jenderal yang terbiasa menggunakan sistem komando dalam menjalankan tugasnya.Tidak heran jika perintah atau peraturan dibuat dan diberlakukan. dengan Suharto selalu kaku, kompulsif
182“INA-Rxiv Papers | PERISTIWA MUNDURNYA SOEHARTO DARI JABATAN PRESIDEN INDONESIA.”
dan absolut. Apalagi pada masa kepemimpinan Suharto sebenarnya ada keselarasan antara dirinya dengan ABRI, dibuktikan dengan kebijakan dwi peran ABRI pada masa Orde Baru. Dwifungsi ABRI ini berarti ABRI memiliki dua fungsi yaitu fungsinya sebagai Garda Pertahanan, Keamanan Nasional Indonesia dan ABRI juga diperbolehkan untuk terlibat dalam segala kegiatan politik, sehingga tidak heran pada masa Orde Baru di bawahkepemimpinannya. Suharto banyak ABRI memegang posisi politik183. 2. Tipe otokratis
Tipe kepemimpinan otokratis ini juga sering disebut sebagai tipe kepemimpinan otoriter, walaupun keduanya memiliki dua suku kata yang berbeda, namun otokratis atau otoriter memiliki arti yang sama, yaitu didasarkan pada kekuasaan atau kewenangan yang sebagian besar bersifat mutlak dalam kepemimpinan. dengan kata lain, tipe kepemimpinan. Tipe ini dipandang sebagai tipe yang didasarkan pada kekuasaan posisi dan kekuasaan, apalagi pemimpin yang menggunakan tipe otokratis ini menganut sistem otoritas terpusat, maka setiap kebijakan dan aturan ditentukan, tanpa bawahan, pemimpin tipe ini, untuk berunding paling banyak. menginginkan kekuasaan mutlak, lajang dan menguasai keadaan. Tipe kepemimpinan otokratis yang digunakan seorang pemimpin dalam menjalankan kepemimpinannya memiliki karakteristik yang menjadi ciri kepemimpinannya184. Sifat-sifat tersebut adalah sebagaiberikut:
a. sebuah. Pemimpin yang menggunakan tipe kepemimpinan otokratis ini selalu memberi perintah, yang selalu dipaksakan dan harus selalu dipatuhi oleh bawahan atau rakyatnya185.
b. Seorang pemimpin yang menggunakan gaya kepemimpinan jenis ini selalu menetapkan kebijakan yang berlaku untuk semua pihak tanpa harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan anggota organisasi atau pejabat pemerintah lainnya186.
186“INA-Rxiv Papers | PERISTIWA MUNDURNYA SOEHARTO DARI JABATAN PRESIDEN INDONESIA.”
185“INA-Rxiv Papers | PERISTIWA MUNDURNYA SOEHARTO DARI JABATAN PRESIDEN INDONESIA.”
184“INA-Rxiv Papers | PERISTIWA MUNDURNYA SOEHARTO DARI JABATAN PRESIDEN INDONESIA.”
183“INA-Rxiv Papers | PERISTIWA MUNDURNYA SOEHARTO DARI JABATAN PRESIDEN INDONESIA.”
c. Seorang pemimpin yang menggunakan jenis kepemimpinan otokratis ini tidak pernah memberikan informasi rinci tentang rencana masa depan, tetapi hanya memberi pengarahan kepada setiap anggota organisasinya tentang langkah-langkah yang harus mereka ambil segera. Pada dasarnya manajer yang menggunakan tipe kepemimpinan otokratis ini memiliki sikap dan prinsip yang sangat konservatif, ketat dan kaku yang selalu didasarkan pada struktur dan tugas.
Biasanya pemimpin yang menggunakan kepemimpinan otokratis seperti ini dalam kepemimpinannya akan bersikap baik kepada anggota organisasinya selama anggota organisasi tersebut mau mematuhi pemimpinnya secara mutlak. Diantara pemimpin yang menggunakan tipe kepemimpinan otokratis atau otoriter ini adalah Suharto, karakter ini sudah memiliki ciri atau ciri dari tipe kepemimpinan otokratis karena menggunakan gaya kepemimpinan otokratis serta menetapkan pedoman/pedoman yang bersifat umum bagi semua pihak. Tanpa konsultasi terlebih dahulu dengan anggota organisasi atau dengan pejabat pemerintah lainnya. Kemudian kedua tokoh ini adalah eksekutif yang menggunakan tipe kepemimpinan otokratis ini dan tidak pernah memberikan informasi rinci tentang rencana masa depan, tetapi hanya memberi tahu setiap anggota organisasi mereka tentang langkah-langkah yang harus mereka ambil segera187.
3. Menurut teori Aristoteles,
Negara dibentuk oleh penggabungan keluarga menjadi kelompok yang lebih besar, kelompok ini bergabung dengan kelompok lain untuk memenuhi rasa keadilan. Jika ada keadilan, maka akan tercipta kebahagiaan dan negara yang menjunjung tinggi nilai keadilan. Banyak warga yang berpartisipasi dalam diskusi tersebut. Dengan keadilan, masyarakat dapat berkumpul dengan damai, tanpa kekerasan dalam hidup. Semua bisa berjalan dengan aman, damai dan nyaman.
Namun, dalam kebersamaan pasti ada yang mencari kesempurnaan dan kepuasan pribadi. Tidak peduli dengan orang lain. Namun dalam kepemimpinannya, Suharto tidak adil kepada rakyat, seperti tidak adanya kebebasan berpendapat, yang menghalangi pers, banyak surat kabar dan majalah yang dilarang. Tidak ada komunitas yang terlibat dalam konsultasi. Dalam kepemimpinannya, Suharto
187“INA-Rxiv Papers | PERISTIWA MUNDURNYA SOEHARTO DARI JABATAN PRESIDEN INDONESIA.”
lebih mementingkan dirinya sendiri daripada masyarakat. Ada penembak jitu yang digunakan oleh rakyat ketika mereka melawan dan tidak menuruti keinginan Suharto. Sehingga masyarakat tidak bebas dan tidak aman selama kepemimpinan Suharto188.
4. Menurut teori Plato,
Kebutuhan manusia atau individu berbeda dan mereka harus bersatu dan bekerja sama untuk memenuhi kebutuhan bersama itu. Kesatuan individu inilah yang kemudian disebut oleh masyarakat sebagai bangsa. Dalam kerjasama diperlukan struktur yang sama sebagai karakteristik individu. Pembangunan yang tidak merata menciptakan kesenjangan pembangunan antara pusat dan daerah, sehingga sebagian besar kekayaan daerah dialihkan ke pusat, terutama di Aceh dan Papua. Karena perbedaan pendapat yang timpang antara si kaya dan si miskin menyebabkan ketimpangan sosial dalam masyarakat. Orang kaya merasa lebih nyaman di segala bidang189.
Setelah itu, orang ingin menunjukkannya kepada Presiden, tetapi sayangnya mereka tidak berani, tetapi para mahasiswa yang mengetahui hal ini memprotes keadilan dari 5 Maret 1998 hingga 21 Mei 1998. Semua mahasiswa dari berbagai universitas turun ke jalan untuk menuntut keadilan bagi Presiden. Mahasiswa menginginkan pergantian presiden karena banyak terjadi kekerasan dan perilaku tidak profesional di tempatnya selama kepemimpinannya. Saat mahasiswa berdemonstrasi di sekitar gedung MPR/DPR, polisi menjaga gedung dengan ketat.
Kemudian, hari demi hari, jumlah mahasiswa yang berdemonstrasi untuk menggulingkan Soeharto sebagai presiden semakin meningkat190.
Kebijakan politik soeharto Sepintas historis
Menurut Soemardjan (1976:153), setelah berakhirnya Perang Dunia II, program pembangunan sosial politik terutama yang berkaitan dengan pembangunan ekonomi mendapat prioritas tertinggi di hampir semua negara.
190“INA-Rxiv Papers | PERISTIWA MUNDURNYA SOEHARTO DARI JABATAN PRESIDEN INDONESIA.”
189“INA-Rxiv Papers | PERISTIWA MUNDURNYA SOEHARTO DARI JABATAN PRESIDEN INDONESIA.”
188“INA-Rxiv Papers | PERISTIWA MUNDURNYA SOEHARTO DARI JABATAN PRESIDEN INDONESIA.”
Telah lama diketahui bahwa pembangunan di negara maju terdiri dari proses percepatan kelangsungan hidup dan pola kerja masa lalu. Sementara itu, bagi negara berkembang termasuk Indonesia (pada masa Orde Baru), pembangunan merupakan proses penghilangan beberapa faktor sosial budaya secara bertahap, diikuti dengan upaya yang rumit untuk beradaptasi dengan situasi, teknologi, dan praktik baru yang baru. -Bentuk organisasi dan mekanisme kerja baru191.
Berbicara tentang konteks pembangunan, tidak dapat dihindari untuk membahas konsep Lucian W. Pye (1976:33-34) dalam konteks tesisnya bahwa
"pembangunan politik dipandang sebagai prasyarat politik untuk pembangunan ekonomi". Menurutnya, perhatian harus diberikan pada masalah pembangunan ekonomi dan kebutuhan untuk mengubah ekonomi statis menjadi ekonomi terbuka yang dapat merosot dengan sendirinya. Kenyataannya, begitu pula para ekonom, yang menunjukkan bagaimana kerangka sosial dan politik dapat memainkan peran penting dalammenghambatatau memfasilitasi kemajuan pendapatan per kapita.
Oleh karena itu, pemerintahan Orde Baru berkaitan dengan perwujudan pembangunan nasional berdasarkan suatu konsep yang telah mapan pada masanya dan selalu disosialisasikan dan diindoktrinasi, yaitu konsep trilogi pembangunan yang memuat tiga pokok pokok yaitu. : (1) pemerataan pembangunan; (2) pertumbuhan ekonomi; dan (3) stabilitas nasional192.
Di bidang ekonomi, upaya perbaikan dimulai dengan program stabilisasi dan pemulihan ekonomi. Program ini disampaikan sesuai dengan skala prioritas yang meliputi:
1. pengendalian inflasi;
2. Kebutuhan nutrisi yang cukup;
3. pemulihan infrastruktur ekonomi;
4. Peningkatan ekspor; dan
192Mayrudin.
191Yeby Ma’asan Mayrudin, “MENELISIK PROGRAMPEMBANGUNAN NASIONAL DI ERA
PEMERINTAHAN SOEHARTO,”JOURNAL OF GOVERNMENT (Kajian Manajemen Pemerintahan dan Otonomi Daerah)4, no. 1 (Desember 2018): 71–90.
5. Persyaratan pakaian yang memadai.
Kehidupan Politik Masa Orde Baru
A. Penataan Stabilitas Politik Pembubaran PKI dan Organisasi