BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
C. Teori Penyimpangan Sosial
Perilaku menyimpang adalah perilaku dari para warga masyarakat yang dianggap tak sesuai dengan tata aturan atau norma yang berlaku. Ada beberapa ilmu
yang mempelajari perilaku menyimpang, seperti : sosiologi, psikologi, antropologi, ilmu hukum, dan kriminologi.
Definisi perilaku menyimpang menurut Clinard & Meier ( 1989:4-7) yaitu : a. Perilaku menyimpang secara statistikal adalah segala perilaku yang bertolak dari
suatu tindakan yang bukan rata-rata atau perilaku yang jarang dan tidak sering dilakukan.
b. Perilaku menyimpang secara absolut atau mutlak adalah perilaku yang dilakukan yang sudah jelas dan nyata, sudah ada sejak dulu serta berlaku tanpa terkecuali untuk semua warga masyarakat.
c. Perilaku menyimpang secara reaktif adalah reaksi masyarakat terhadap tindakan yang dilakukan seseorang dengan memberikan cap atau tanda (labeling) terhadap yang melakukan penyimpangan.
d. Perilaku menyimpang secara normatif adalah suatu pelanggaran dari suatu norma sosial.
Gejala penyimpangan secara sosial kenakalan remaja dapat dikelompokkan dalam satu defektif secara social dan mempunyai sebab musabab yang majemuk. Jadi sifatnya multi kausal. Menurut Kartini Kartono (1998: 25:34), mengemukakan tentang teori mengenai sebab terjadinya kenakalan remaja sebagai berikut:
a. Teori Biologis
Tingkah laku sosiopatik atau delinkuen padea anak-anak dan remaja dapat muncul karena gfaktor-faktor fisiologis dan struktur jasmaniah seseorang, juga dapat cacat jasmaniah yang di bawa sejak lahir. Kejadian ini berlangsung:
1. Melalui gen atau plasma pembawa sifat dalam keturunan, atau melalui kombinasi gen; dapat juga disebabkan oleh tidak adanya gen tertentu, yang semuanya bisa memunculkan penyimpangan tingkah laku, dan anak-anak menjadi delinkuen secara potensial.
2. Melalui pewarisan tipe-tipe kecenderungan yang luar biasa (abnormal), sehingga membuahkan tingkah laku delinkuen.
3. Melalui pewarisan kelemahan konstitusional jasmaniah tertentu yang menimbulkan tingkah laku delinkuen atau sosipatik. Misalnya cacat jasmaniah bawaan brachydactylisme (berjari-jari pendek) dan diabetes insipidius (sejenis penyakit gula) itu erat berkolerasi dengan sifat-sifat
kriminal serta penyakit mental.
b. Teori Psikogenis
Menekankan sebab-sebab tingkah laku delinkuen anak-anak dari aspek psikologis atau isi kejiwaannya. Seperti factor intelegensi, ciri kepribadian, motivasi, sikap-sikap yang salah, fantasi, rasionalisasi, internalisasi diri yang keliru, konflik batin, emosi yang controversial serta kecenderungan psikopatologis. Argumen sentral teori ini ialah sebagai berikut:
1. Delinkuen merupakan “bentuk penyesuaian” atau kpmpensasi dari masalah psikologis dan konflik batin dalam menanggapi stimulasi eksternal/ sosial dan pola-pola hidup keluarga yang patologis. Kurang lebih 90% dari jumlah anak-anak delinkuen berasal dari keluarga berantakan (broken home).
Kondisi keluarga yang tidak bahagia dan tidak beruntung, jelas membuahkan
masalaha psikologis personal dan adjustment (penyesuaian diri) yang terganggu pada diri anak-anak sehingga mereka mencari kompensasi di luar lingkungan keluarga guna memcahkan kesulitan batinnya dalam bentuk perilaku delinkuen. Ringkasnya, delinkuen merupakan reaksi terhadap masalah psikis anak remaja itu sendiri.
2. Sebagian besar dari kita tidak melakukan kejahatan, sekalipun mempunyai kecenderungan egoistis dan a-sosial, disebabkan adanya kontrol diri yang kuat dan kepatuhan secara normal terhadap kontrol sosial yang efektif.
Bahkan di tengah daerah “slums” pun, mayoriyas anak tidak menjadi jahat.
Yang penting harus kita ketahui ialah pengaruh apa serta motif yang bagaimana yang melatarbelakangi kemunculan sifat-sifat delinkuen itu.
Contohnya, kebanyakan anak-anak kriminal adalah mereka yang suka tinggal kelas di sekolah dan putus sekolah.
3. Anak-anak delinkuen itu melakukan banyak kejahatan didorong oleh konflik batin sendiri. Jadi mereka “mempraktekan” konflik batinnya untuk mengurangi beban tekanan jiwa sendiri lewat tingkah laku agresif, impulsif dan primitif. Karena itu kejahatan mereka pada umumnya erat berkaitan dengan temperamen, konstitusi kejiwaan yang galau semraut, konflik batin dan frustasi yang akhirnya ditampilkan secara spontan keluar.
4. Anak-anak delinkuen ini pada umumnya mempunyai intelegensi verbal lebih rendah, dan ketinggalan dalam pencapaian hasil-hasil skolastik (prestasi sekolah rendah). Dengan kecerdasan yang tumpul dan wawasan sosial yang
kurang tajam, mereka mudah sekali terseret oleh ajakan buruk untuk menjadi delinkuen jahat. Mereka banyak membolos dari sekolah. Kurang lebih 30%
dari anak-anak delinkuen ini pernah mendapat hukuman polisi atau pengadilan lebih dari satu kali.
c. Teori Sosiogenis
Penyebab delinkuen pada anak-anak remaja ini adalah murni sosiologis atau social-psikologis. Biasanya disebabkan oleh penguruh struktur social yang deviatif, tekanan kelompok, peranan social, status social atau internalisasi simbolis yang keliru. Kekuatan kultural dan disorganisasi sosial di kota-kota yang berkembang pesat, dan membuahkan banyak tingkah laku delinkuen pada anak-anak remaja serta pola kriminal pada orang dewasa. Frekuensi delinkunesi anak remaja lebih tinggi dari frekunsi kejahatan orang dewasa di kota-kota besar.
Jadi, ciri-ciri karaktristik sosio-kultural yang stereotypis itu selalu saja berkaitan dengan kualitas kejahatan tingkat tinggi yang pada umumnya dilakukan secara bersama-sama. Krena cepatnya pertambahan penduduk, daerah-daerah perkotaan menjadi cepat pula berubah. Sebagian besar daerahnya dipakai untuk mendirikan bangunan-bangunan industri dan perdagangan, perumahan penduduk, kantor pemerintah dan militer. Semua upaya pembangunan itu mempunyai dampak sampingan berupa disrupsi sosial (kebelahan dan kekacauan sosial). Disrupsi ini dicerminkan oleh semakin meningkatnya keluarga yang pecah berantakan, kasus bunuh diri, alkoholisme, korupsi, kriminalitas, pelacuran, delikuensi, dan lain- lain. Jadi sebab-sebab kejahatan anak remaja itu tidak hanya terletak pada
lingkungan familiar dan tetangga saja, akan tetapi, terutama sekali disebabkan oleh konteks kulturalnya. Maka karier kejahatan anak-anak itu jelas sekali dipupuk oleh lingkungan sekitar yang buruk dan jahat, ditambah dengan kondisi sekolah yang kurang menarik anak bahkan adakalanya justru merugikan perkembangan bagi anak. Karena itu, konsep kunci untuk dapat memahami sebab-musabab terjadinya kenakalan itu ialah pergaulan dengan anak-anak muda lainnya yang sudah delinkuen.
d. Teori Subkultural
Kultur atau kebudayaan dalam hal ini adalah menyangkut satu kumpulan nilai dan norma yang menuntut bentuk tingkah laku responsive sendiri yang khas pada anggota-anggota kelompok atau gang. Istilah sub mengidentifikasi bahwa bentuk budaya bisa muncul di tengah-tengah suatu system yang ingklusif sifatnya.
Adapun sebabnya ialah:
1. Bertambahnya dengan cepat jumlah kejahatan, dan meningkatnya kualitas kekerasa serta kekejaman yang dilakukan oleh anak-anak remaja yang memiliki subkultural delinkuen.
2. Meningkatnya jumlah kriminalitas mengakibabtkan sangat besarnya kerugian dan kerusakan secara universal, terutama terdapat di negara-negara industri yang sudah maju, disebabkan oleh meluasnya kejahatan anak-anak remaja.
Melihat fenomena kenakalan remaja cukup marak terjadi di kota-kota besar yang cukup memberi virus kepada remaja di desa cukup mencengankan karena
fenomena itu juga sudah terjadi di desa. Membuat kekhawatiran kita semua karena pelaku kenakalan remaja itu kebanyakan masih berstatus pelajar aktif. Fakta-fakta ini cukup membingunkan karena seharusnya pelajar sebagai generasi terpelajar tidak melakukan kegiatan melawan hukum berupa penganiayaan yang membahayakan dirinya dan orang lain, sementara kenakalan remaja juga melibatkan para remaja yang bestatus pelajar.
Kembali Kartini Kartono (1998: 109-110), memberi penguatan terhadap fenomena ini dengan mengungkapkan faktor penyebab terjadinya kenakalan remaja dikalangan remaja berupa penganiayaan akibat dari perkelahian masal pelajar bahkan antar sekolah adalah:
Kegemaran berkelahi antar anak sekolah disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Dimana faktor internal berlangsung lewat internalisasi diri yang keliru oleh anak-anak remaja terhadap ketidak mampuan mereka melakukan adaptasi terhadap lingkungan sekitar.
Sedangkan faktor eksternal atau faktor sosial adalah semua peransang dan pengaruh luar yang menimbulkan tingkah laku tertentu pada anak-anak remaja berupa tindak kekerasan, kejahatan, perkelahian dan seterusnya.