• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II GAMBARAN UMUM OBJEK LOKASI PKLM

D. Kasus

2. Terhadap Pegawai Yang Menerima Iuran Pensiun

Ali seorang pegawai pada perusahaan PT.Candy land, menikah tanpa anak. Tn.Ali memperoleh gaji sebulan Rp 3.000.000,-. PT.Candy Land mengikuti program Jamsostek, Premi Jaminan Kecelakaan Kerja dan Premi Jaminan Kematian dibayar oleh pemberi kerja dengan jumlah masing-masing 0,50% dan 0,30% dari gaji pokok. Tn.Ali membayar Iuran Jaminan Hari Tua setiap bulan sebesar 2% dari gaji sebulan, sedangkan perusahaan memberi Iuran Jaminan Hari Tua sebesar 3,70% dari gaji sebulan. Disamping itu PT.Candy land juga mengikuti program Pensiun untuk pegawainya.

PT.Candy land membayar Iuran Pensiun untuk Tn.Ali ke dana pensiunan, yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan, sebulan sebesar Rp 100.000,- sedangkan Tn.Ali membayar Iuran Pensiun Pensiun sebesar Rp 50.000,-. Pada bulan juli 2013, Tn.Ali hanya menerima pembayaran berupa gaji. Penghitungan PPh Pasal 21 bulan juli 2013 adalah sebagai berikut :

Gaji Rp 3.000.000,-

Premi Jaminan Kecelakaan Kerja Rp 15.000,-

Premi Jaminan Kematian Rp 9.000,-

Penghasilan bruto Rp 3.024.000,- Pengurangan

1. Biaya Jabatan

5% x Rp 3.024.000,- Rp 151.200,- 2. Iuran Pensiun Rp 50.000,- 3. Iuran Jaminan Hari Tua Rp 60.000,-

Total pengurang Rp 261.200,-

Penghasilan neto sebulan Rp 2.762.800,- Penghasilan neto setahun

12 x Rp 2.762.800,- Rp 33.153.600,-

PTKP:

- Untuk WP sendiri Rp 24.300.000,- - Tambahan karena menikah Rp 2.025.000,-

Total PTKP Rp 26.325.000,-

Penghasilan Kena Pajak setahun Rp 6.828.600,-

Pembulatan Rp 6.828.000,-

PPh Pasal 21 terutang

5% x Rp 6.828.000,- = Rp 341.400,- PPh Pasal 21 terutang sebulan

Rp 341.400.,- : 12 = Rp 28.450,-

3. Terahadap Subjek Pajak Bukan Pegawai a. Peserta Kegiatan

Lucky Sitinjak adalah salah satu pemenang lomba karaoke dalam sebuah ajang pencarian bakat yang dilakukan di Tangerang. Atas pencapaiannya tersebut, beliau mendapatkan fee sebesar Rp 50.000.000,-, dimana status Lucky adalah kawin dengan tanggungan satu orang anak (K/1). Hitunglah berapa besar Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 yang harus dibayarkan!

Penghasilan Pasal 21 Tn.Lucky Sitinjak adalah sebagai berikut:

Penghasilan Bruto Tn.Lucky Sitinjak Rp 50.000.000,-

Maka atas penghasilan bruto tersebut, maka Tn.Lucky Sitinjak dikenakan PPh Pasal 21 sebesar 5% x Rp 50.000.000,- = Rp 2.500.000,-

b. Penghasilan yang diterima oleh bukan pegawai yang menerima penghasilan yang tidak bersifat berkesinambungan

Nashrun berdianto melakukan jasa perbaikan komputer kepada PT.Cahaya Kurnia dengan fee sebesar Rp 5.000.000,- berapakah besarnya Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 yang dikenakan atas Tn. Nashrun Berdianto!

Diketahui Penghasilan Bruto : Rp 5.000.000,- Maka Penghasilan Kena Pajak adalah

50% x Rp 5.000.000,- : Rp 2.500.000,-

Besarnya PPh Pasal 21 yang dikenakan atas Tn.Nashrun Berdianto adalah Sebesar 5% x Rp 2.500.000 Rp 125.000,-

BAB IV

ANALISA DAN EVALUASI

A. Pengawasan Terhadap Pelunasan PPh Pasal 21 melalui Surat Pemberitahuan

Bentuk pengawasan terhadap kepatuhan dalam hal pelunasan PPh Pasal 21 merupakan suatu proses pengamatan yang dilakukan oleh KPP terhadap pelaporan pelaksanaan kewajiban perpajakan yang dilakukan oleh Wajib Pajak melalui SPT, sehingga dari laporan SPT tersebut dapat diketahui apakah Wajib Pajak telah melaksanakan kewajiban perpajakannya dengan benar, yaitu tentang perhitungan pajak terutang, pajak kurang bayar, lebih bayar atau nihil. Seperti telah kita ketahui bahwa sistem pemungutan pajak yang diterapkan di Indonesia khususnya PPh Pasal 21 adalah menganut prinsip self assestment system, dimana Wajib Pajak diberi kepercayaan dalam hal perpajakannya, yaitu Wajib Pajak bisa menghitung, memperhitungkan, membayar, dan melaporkan Pajak terutang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

Kegiatan pengawasan terhadap Pelunasan SPT PPh Pasal 21 yang dilakukan oleh fiskus adalah melalui tahap sebagai berikut :

1. Seksi Pengawasan dan Konsultasi (WASKON) di KPP Pratama Medan Polonia melalui petugas yang bertugas menerima SPT PPh Pasal 21 akan menerima dan

41

mengecek SPT yang telah diterima dari Wajib Pajak. Adapun pengecekan yang dilakukan adalah sebagai berikut:

a. Apakah Wajib Pajak tersebut benar-benar berada di bawah wewenang pengawasan KPP yang bersangkutan yaitu KPP Pratama Medan Polonia. Hal ini dilakukan dengan cara meneliti digit yang tertera dalam Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).

b. Kelengkapan SPT PPh Pasal 21

Terhadap kelengkapan SPT PPh Pasal 21 dilakukan oleh fiskus untuk memberikan informasi tentang kewajiban perpajakn Wajib Pajak. Adapun yang diperiksa kelengkapan SPT nya yaitu meliputi :

• Nama Wajib Pajak, Nomor Pokok Wajib Pajak dan alamat Wajib Pajak;

• Masa pajak yang bersangkutan;

• Tanda tangan Wajib Pajak atau kuasa Wajib Pajak;

• Jumlah objek pajak, jumlah pajak yang terutang dan / atau jumlah pajak dibayar;

• Pengisian setiap kolom yang tertera dalam SPT PPh Pasal 21 sudah benar;

• Data lainnya yang terkait dengan kegiatan usaha wajib pajak, dan data-data lainnya.

Selain data tersebut, sangat penting diperiksa tanggal pembayaran dan juga pelaporan SPT PPh Pasal 21 tersebut. Apabila melalui seksi Pengawasan dfan Konsultasi (WASKON) ditemukan SPT yang pelaporannya melewati batas pelaporan dan pembayarannya, maka SPT tersebut akan ditindak lanjuti untuk diperhitungkan kembali pengenaan sanksinya.

Dalam Pasal 38 Undang-undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan menyatakan bahwa, apabila Wajib Pajak tidak menyampaikan SPT, atau menyampaikan SPT tetapi isinya tidak benar karena kealpaan Wajib Pajak sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara, dan perbhuatan tersebut merupakan perbuatan setelah perbuatan yang pertama kali sebagaimana dimaksud dalam pasal 13A Undang-Undang KUP, didenda paling sedikit 1 (satu) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar dan paling banyak 2 (dua) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar, atau dipidana kurungan paling singkat 3 (tiga) bulan atau paling lama 1 (satu) tahun.

Dalam pasal 39 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 Tentang Perubahan Ketiga atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan menyatakan apabila dengan sengaja Wajib Pajak tidak menyampaikan SPT dan/ atau keterangan yang isinya tidak benar, atau tidak l engkap sehingga dapat menimbulkan kerugian pendapatan negara , dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 6 (enam)

tahun dan denda paling sedikit 2 (dua) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar dan paling banyak 4(empat) kali dari jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar

B. Tujuan Dilakukannya Pengawasan terhadap Pelunasan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21

Adapun yang menjadi tujuan dilakukannya pengawasan terhadap tingkat kepatuhan Wajib Pajak dalam hal pelunasan terhadap Pajak Penghasilan (PPh) pasal 21 adalah

• Untuk mengetahui jumlah Wajib Pajak yang terdaftar di Kantor

Pelayanan Pajak Pratama Medan Polonia yang telah melakukan kewajiban perpajakannya terutama dalam hal pelunasan PPh Pasal 21.

• Untuk memperoleh data lebih rinci tentang kepatuhan Wajib Pajak dalam menyampaikan SPT masa PPh Pasal 21

• Untuk mengetahui tingkat kepatuhan Wajib Pajak dalam hal pelunasan PPh Pasal 21

• Untuk mengetahui jumlah wajib pajak terdaftar wajib menyampaikan SPT PPh Pasal 21.

C. Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak PPh Pasal 21

Untuk mengukur tingkat kepatuhan Wajib Pajak dalam pelunasan PPh Pasal 21, penulis menganalisa dalam sebuah data tentang tingkat kepatuhan Wajib Pajak untuk SPT massa PPh Pasal 21. Penilaian kepatuhan Wajib Pajak dalam pelunasan PPh Pasal 21 dibedakan atas beberapa kategori, antara lain :

1. Masyarakat yang terdaftar sebagai Wajib Pajak dan seharusnya menyampaikan SPT Masa PPh Pasal 21 di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Medan Polonia.

2. Jumlah Wajib Pajak yang sudah menyampaikan SPT Masa PPh Pasal 21 dalam kurun waktu 1 (satu) tahun terahir atau 12 kali massa pajak.

Sebagaimana telah kita ketahui bahwa batas penyampaian setiap SPT Masa PPh Pasal 21 adalah paling lama 20 hari setelah berakhirnya massa pajak, dan penyampaian SPT dilakukan di Kantor Pelayanan Pajak yang Bersangkutan.

Dalam hal penyetoran PPh pasal 21 dilakukan di Kantor Pos ataupun di Bank yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan paling lama 10 (sebuluh) hari setelah Masa Pajak berakhir.

Pemotong PPh Pasal 21 harus memberikan bukti pemotongan PPh Pasal 21 atas penghasilan yang diterima atau diperoleh pegawai tetap atau penerima pensiun berkala paling lama 1 (satu) bulan setelah tahun kalender berakhir . Untuk mengetahui tingkat kepatuhan Wajib Pajak dalam kaitannya dengan penyampaian SPT Masa PPh Pasal 21 dapat dilihat dari data berikut:

Tabel 1.3

Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak Untuk SPT Masa PPh Pasal 21 Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Polonia

Tahun Pajak

Masa Pajak

Jumlah Wajib Pajak Terdaftar Wajib Menyampaikan SPT Masa

PPh Pasal 21 (kondisi sampai dengan Masa

Pajak)

SPT Masa PPh Pasal 21 yang disampaikan Per

Masa

2013 Januari 27.836 3.343

Februari 27.894 3.295

Maret 27.940 3.389

April 28.013 3.457

Mei 28.050 3.384

Juni 28.093 3.352

Juli 28.158 3.392

Agustus 28.194 3.156

September 28.238 3.275

Oktober 28.299 3.303

Sumber : Seksi Pengolahan Data dan Informasi (PDI) KPP Pratama Medan Polonia

Informasi dalam tabel di atas disajikan berdasarkan data yang diperoleh dari Seksi Pengolahan Data dan Informasi (PDI) Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Medan Polonia.

Terhadap data tersebut, penulis dapat menganalisa beberapa hal terkait dengan pengawasan pelunasan PPh Pasal 21 yaitu sebagai berikut :

a. Jumlah Wajib Pajak yang terdaftar wajib menyampaikan SPT PPh Pasal 21 di KPP Pratama Medan Polonia setiap Masa Pajak mengalami peningkatan dalam kurun waktu 1 (satu) tahun, mulai Masa Pajak Januari 2013 sampai dengan Masa Pajak Desember 2013.

b. Pada kolom SPT Masa PPh Pasal 21 yang disampaikan per masa oleh Wajib Pajak terdaftar tidak meningkat seiring dengan peningkatan Wajib Pajak terdaftar wajib menyampaikan SPT PPh Pasal 21. Hal ini membuktikan bahwa Tingkat kepatuhan Wajib Pajak dalam menyampikan SPT PPh Pasal 21 di KPP Pratama Medan Polonia tidak mengalami peningkatan seiring dengan kenaikan Wajib Pajak terdaftar wajib menyampaikan SPT PPh Pasal 21.

Nopember 28.364 3.328

Desember 28.422 3.176

Seiring dengan peningkatan Wajib Pajakterdaftar wajib menyampaikan SPT Masa PPh Pasal 21 tidak selamanya diikuti dengan Wajib Pajak yang menyampaikan SPT Masa PPh pasal 21 diakibatkan oleh beberapa alasan sebagai contoh adalah kurangnya kesadaran wajib pajak dalammelaksanakan kewajiban perpajakannya dan juga diakibatkan sebuah reaksi perlawanan yang dilakukan Wajib Pajak untuk menghindari pajak yang akan merugikan negara. Disamping itu, salah satu faktor yang mengakibatkan rendahnya jumlahWajib Pajak yang menyampaikan SPT adalah kurangnya pemahaman Wajib Pajak untuk menghitung dan/atau memotong jumlah pajakterutang.

Tabel 1.4

SPT Masa PPh Pasal 21 Yang Disampaikan Pada Tahun 2013 Di KPP Pratama Medan Polonia

No Masa Pajak

Status SPT

Jumlah Nihil Kurang Bayar Lebih Bayar

1 Januari 2.460 870 13 3343

2 Februari 2.491 799 5 3295

3 Maret 2.547 837 5 3389

4 April 2.634 816 7 3457

5 Mei 2.619 765 - 3384

6 Juni 2.596 749 7 3352

7 Juli 2.613 775 4 3392

8 Agustus 2.430 725 1 3156

9 September 2.493 781 1 3275

10 Oktober 2.542 737 24 3303

11 Nopember 2.535 790 3 3328

12 Desember 2.429 745 2 3176

Sumber : Seksi Pengolahan Data dan Informasi (PDI) KPP Pratama Medan Polonia

Berdasarkan tabel tersebut ada beberapa hal yang dapat dianalisa terkait dengan SPT Masa PPh Pasal 21 yang disampaikan di KPP Pratama Medan Polonia Pada Tahun 2013 antara lain:

a. SPT yang disampaikan pada Masa Pajak Januari 2013 sampai dengan Masa Pajak Desember 2013 didominasi oleh SPT yang nihil, sehingga hal ini mengindikasikan bahwa tingkat pengetahuan Wajib Pajak dalam pengisian SPT mengalami peningkatan sehingga tidak ditemukan kesalahan-kesalahan dalam pengisian SPT yang dapat mengakibatkan Pajak Kurang Bayar dan/atau Lebih Bayar.

b. Jumlah SPT PPh Pasal 21 yang Kurang Bayar yang diterima KPP Pratama Medan Polonia mulai Masa Pajak Januari 2013 sampai dengan Masa Pajak Desember 2013 rata-rata berkisar 782 SPT. Hal ini menunjukkan tidak adanya

perubahan yang signifikan terhadap penurunan jumlah SPT yang Kurang Bayar.

c. Jumlah SPT PPh Pasal 21 yang Lebih Bayar yang diterima KPP Pratama Medan Polonia selama Masa Pajak Januari 2013 sampai dengan Masa Pajak Desember 2013 adalah sejumlah 72 SPT, sehingga hal ini menunjukkan Wajib Pajak yang harus merestitusi dan/atau mengkompensasaikan jumlah pajak yang Lebih Bayar ke masa pajak berikutnya.

D. Hambatan yang dihadapi KPP Pratama Medan Polonia Terhadap Pelunasan PPh Pasal 21.

Terkait dengan pengawasan yang dilakukan oleh KPP Pratama Medan Polonia, ada beberapa hambatan atau kesulitan yang harus dicari jalan alternatifnya. Adapun hambatan atau kesulitan tersebut diantaranya masih rendahnya pengetahuan tentang perpajakan bagi sebagian Wajib Pajak terutama mengenai PPh Pasal 21 dan tentang mekanisme pelunasannya.

Pada umumnya pengetahuan Wajib Pajak tentang perpajakan, terutama PPh Pasal 21 sangat terbatas khususnya mengenai tarif Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21, tanggal jatuh tempo pembayaran dan/atau penyampaian, sanksi yang dikenakan atas keterlambatan dalam penyampaian SPT PPh Pasal 21, maupun ketentuan-ketentuan perpajakan lainnya yang mengatur tentang kegiatan penyelenggaraan perpajakan serta sanksi yang terkandung didalamnya. Rendahnya

tingkat kepatuhan Wajib Pajak dalam hal pelunasan PPh Pasal 21 disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya :

1. Kurangnya kesadaran Wajib Pajak dalam melaksanakan kewajiban perpajakannya:

2. Penyuluhan kepada Wajib Pajak yang kurang memadai.

3. Kurangnya pengetahuan Wajib Pajak tentang pajak itu sendiri.

4. Adanya penghindaran pajak yang dilakukan oleh wajib pajak sebagai bentuk perlawanan yang dilakukan akibat kurangnya rasa Nasionalisme bernegara.

E. Upaya Yang Dilakukan Fiskus Dalam Meningkatkan Kepatuhan Wajib Pajak Untuk Memenuhi Kewajiban Perpajaknnya.

Adapun upaya yang dilakukan oleh pihak Fiskus dalam meningkatkan kewajiban perpajakannya yaitu:

1. Memberikan informasi tentang pajak

Kurangnya pengetahuan Wajib Pajak mengenai kewajiban perpajakannya salah satunya diakibatkan kurangnya pengetahuan Wajib Pajak tentang pajak itu sendiri, salah satunya adalah karena kurangnya informasi-informasi tentang pajak. Pentingnya pemberian informasi tentang pajak tersebut dapat disalurkan melalui beberapa media diantaranya :

a. Media Televisi

Peranan televisi sangat besar dalam hal penyampaian informasi- informasi khususnya informasi tentang perpajakannya, karena

secara umum televisi sudah menjadi sumber kebutuhan akan informasi bagi setiap orang.

b. Radio

Sebagai media elektronik yang dapat menyebarkan informasi, radio merupakan salah satu media yang dapat menyalurkan informasi-informasi tentang perpajakan.

c. Surat Kabar

Informasi tentang perpajakan yang diberikan melalui surat kabar adalah informasi yang mencakup Surat Keputusan ataupun Surat Edaran Pemerintah yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pajak.

d. Media Internet

Internet merupakan alternatif yang sangat membantu dalam hal penyebaran informasi-informasi tentang perpajakan salah satunya adalah melalui website resmi perpajakan di Indonesia, diantaranya

2. Memberikan jasa pelayanan kepada Wajib Pajak.

Pelayanan yang baik kepada masyarakat akan meningkatkan kesadaran Wajib Pajak dalam memenuhi kewajiban perpajakannya. Adapun pelayanan jasa yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pajak tersebut diantaranya :

a. Memberikan penyuluhan tentang pajak.

b. Menyediakan loket penerimaan SPT.

c. Menyediakan AR (Account Representative) untuk membimbing Wajib Pajak dalam hal pengisian SPT.

d. Pelayanan NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) dan NPPKP (Nomor Pokok Pengusaha Kena Pajak).

Pentingnya penyuluhan perpajakan sangat berperan besar dalam meningkatkan loyalitas Wajib Pajak dalam menyelenggarakan kewajiban perpajakannya, misalnya saja dengan melakukan seminar-seminar mengenai perpajakan di Indonesia dengan cara yang lebih mudah dipahamioleh masyarakat. Bentuk lain dari penyuluhan yang dilakukan oleh pihak Direktorat Jenderal Pajak adalah berupa selebaran-selebaran pajak ataupun berupa spanduk yang dibuat di tempat-tempat umum.

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan uraian-uraian pada baba-bab sebelumnya maka Penulis dapat menyimpulkan beberapa hal sebagai berikut:

1. Tingkat kepatuhan Wajib Pajak dalam penyampaian SPT PPh Pasal 21 di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Polonia masih sangat rendah perbandingannya dengan jumlah Wajib Pajak terdaftar wajib menyampaikan SPT PPh Pasal 21.

2. Meskipun dengan peningkatan jumlah Wajib Pajak terdaftar wajib menyampaikan SPT PPh Pasal 21 di KPP Pratama Medan Polonia tidak dibarengi dengan jumlah wajib pajak yang menyampaikan SPT PPh Pasal 21 yang diakubatkan oleh beberapa faktor diantaranya karena Wajib Pajak tersebut tidak memiliki pengetahuan tentang pajak, maupun karena faktor kesengajaan untuk menghindari pajak.

3. Penerapan sanksi perpajakan merupakan sebuah alat untuk fiskus untuk melakukan pengawasan terhadap tingkat kepatuhan Wajib Pajak dalam melaksanakan kewajiban perpajkannya.

4. Dilihat dari status SPT yang disampaikan setiap masanya, sangat banyak ditemui Pajak Kurang Bayar dengan rata-rata setiap masany sejumlah 782 SPT.

54

Hal ini diakibatkan adanya ditemui kesalahan dalam pengisian SPT yang mengakibatkan adanya Pajak Kurang Bayar.

5. Metode yang digunakan oleh fiskus untuk mengawasi tingkat kepatuhan Wajib Pajak dalam menyampaikan SPT PPh Pasal 21 adalah dengan metode langsung, yaitu dengan melakukan penyuluhan kepada Wajib Pajak supaya mendapat pemahaman lebih tentang pajak itu sendiri, sedangkan metode tidak langsung adalah dengan menerapkan sanksi terhadap Wajib Pajak yang tidak menyampaikan SPT secara sengaja sehingga menimbulkan kerugian pada pendapatan negara.

6. Hambatan atau kesulitan yang dihadapi oleh KPP Pratama Medan Polonia dalam melaksanakan pengawasan terhadap pelunasan PPh Pasal 21 adalah diakibatkan oleh kesadaran Wajib Pajak yang masih kurang, karena beberapa hal tertentu.

B. Saran

Berkaitan dengan pokok-pokok bahasan dari laporan ini, Penulis menyampaikan saran-saran sebagai berikut:

1. berkaitan dengan sistem perpajakan yang berlaku di Indonesia (Self Assestment System), sangat dibutugkan kesadaran Wajib Pajak dalam melaksanakan kewajiban perpajakannya, sehingga tercipta hubungan timbal balik antara fiskus untuk mengawasi dan membina Wajib Pajak dalam melaksanakan kewajiban perpajakannya.

2. Untuk lebih mengefektifkan Pengawasan pelunasan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21, maka sebaiknya pemerintah lebih memperbanyak pegawai-pegawai yang bertugas melaksanakan fungsi pengawasan tersebut.

3. kegiatan penyuluhan terhadap Wajib Pajak khusunya mengenai PPh Pasal 21 harus lebih ditingkatkan, sehingga masyarakat lebih paham mengenai kewajiban perpajakannya.

4. Sebaiknya sanksi perpajakan yang berlaku di Indonesia harus lebih mengikat Wajib Pajak sehingga Wajib Pajak tidak terbebani dengan sanksi-sanksi yang berlaku yang membuat wajib pajak seolah-olah ketakutan dengan sanksi yang berlaku tersebut.

5. Pihak Fiskus harus dapat memberikan kepercayaan kepada Wajib Pajak, sehingga Kebanyakan Wajib Pajak tidak berpandangan negatif tentang pajak, sehingga Wajib Pajak malas membayar pajak.

Dokumen terkait