BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
3. Tindakan Afektif
43
44
Manusia pada hakekatnya sudah memiliki gairah seksual yang tak terduga.
Kapanpun bisa muncul tanpa disadari karena penyebabnya memang banyak sekali. Bahkan mungkin tak terhitung jumlah dan bagaimana gairah seks iu muncul, yang sangat umum diketahui adalah hasrat seksual meningkat dengan sendirinya saat merasa tergoda atau melihat seseorang lawan jenis telanjang.
Mereka yang dalam pengaruh alkohol selalu membenarkan apapun tindakan yang mereka lakukan, mengabaikan norma yang berlaku. Tindakan yang dilakukan tanpa refleksi intelektual atau perencanaan sadar dapat merugikan diri sendiri ataupun lingkungan sekitar. Adolph sebagai tokoh utama dalam novel The Punk memiliki kehidupan yang tidak pernah jauh dari alkohol, meskipun sudah terbiasa dengan alkohol, Adolph masih sering mabuk. Pengaruh alkohol membuat Adolph lupa diri dan bergairah melihat Thelma yang menggodanya malam itu. Saat dalam keadaan mabuk imajinasi Adolph akan bebas, luas dan tidak kenal kompromi.
Seperti yang terdapat dalam kutipan berikut:
Kemudian Adolph menaiki tangga. Dia memegang sebotol vodka di tangannya dan mulai merasakan efek cairannya. Ketika dia menyeret langkahnya, dia melihat seraut wajah kabur. Dia mengenalnya tapi tak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Gambaran sekilas itu lantas di simpannya di dalam otaknya yang kebingungan. Gadis itu ternyata anak Ted yang dia lihat di shaftesbury Avenue. Dia memakai baju yang sangat seksi. (Hal 43) Obrolan itu sejenak terhenti, “sebelumnya aku tak pernah dibikin gila oleh seorang punk, maukah kau menjadi yang pertama?” katanya dengan santai.
Ini mengejutkan Adolph, tapi dia langsung saja setuju. Lalu mereka menaiki tangga menuju ke sebuah kamar kosong. Adolph membuka pintu dan Thelma mengambil botol Vodka dari tangannya. Ia meneguknya dan mengembalikan botol itu kepada Adolph. Hanya ada seperempat isi botol yang tersisa. Dia menghabiskannya dan mereka berdua seperti terpelanting ke ranjang yang mengambang di atas air. (Hal 46)
“aku seperti mengambang,” kata Thelma.
45
Adolph lalu meraba-raba Thelma. Ia berusaha membuka baju seksinya.
Ada gairah yang membuatnya benar-benar lupa di mana dia berada.
Thelma berdiri dengan tidak sabar, membuka baju seksinya lalu melemparkannya ke atas tempat tidur. Ia berbalik ke arah Adolph dan dengan merajuk berkata, “gaulilah aku sayang.” (Hal 47)
Demi orang yang paling kita cintai, kita bisa rela melakukan dan mengorbankan apapun. Walaupun harus nyawa yang jadi taruhannya, asal kita bisa punya kesempatan untuk hidup bersama orang yang kita cintai kita akan melakukannya. Seperti Adolph dan Thelma selama mereka sering bersama, permusuhan antara anak Ted dan Anak Punk semakin mencekam. Adolph dan Thelma memang belum terlalu lama saling kenal tapi keduanya saling jatuh cinta dan bertindak saling menjaga satu sama lainnya, bahkan sekalipun nyawa jadi taruhannya. Berikut kutipannya:
Anak Ted lalu menampar wajah Thelma. Ia terjengkang. Adolph membalasnya dengan bertubi-tubi memukul mulut anak Ted itu. Tapi sebelum dia menghajar lagi, anak-anak Ted mengerubutinya. (Hal 91) Thelma menundukkan kepalanya di dada Adolph untuk melihat apakah dia masih hidup. Ternyata masih hidup. Thelma memberi bantuan pernapasan sambil terus berlutut di samping Adolph dan menunggunya bangun lagi.
(Hal 92)
Ia menyaksikan Thelma mencium kepala dan wajah Adolph. Kemudian tiba-tiba saja ia ambruk. Ada kilatan baja dingin ketika tikaman pisau menancap di punggung Thelma. Thelma terhenyak dan jatuh di atas Adolph. Gadis itu lantas menikamkan pisaunya ke leher Adolph. Kaki Thelma meronta-ronta.
“Aku bunuh kedua orang ini demi kau Ned”, kata gadis itu. (Hal 93) Seorang anak yang pergaulannya begitu bebas membawa dampak buruk bagi dirinya sendiri, seperti tokoh utama dalam novel The Punk yaitu Adolph yang tidak mencerminkan sifat intelektual sebagaimana sifat ayahnya, dia tidak bisa lagi membedakan bagaimana cara bersikap di luar rumah ketika berada di
46
lingkungan Punk dengan di dalam rumah ketika di lingkungan keluarganya sendiri, dia selalu menerima ajaran-ajaran dalam lingkungan anak Punk tapi tidak pernah menerima ajaran ibunya sendiri. Tindakan adolph tidak pernah berlaku sopan terhadap ibunya, dia selalu melukai perasaan ibunya. Setiap nasehat yang keluar dari mulut ibunya tidak pernah Adolph dengarkan. Tindakan seperti ini mencerminkan betapa kurangnya kasih sayang Adolph dan rasa terimakasi terhadap ibunya yang telah melahirkan dan membesarkannya hingga dia menjadi seperti sekarang ini. Meskipun sering kali Adolph membentak ibunya, namu ibu tetaplah ibu yang tidak akan pernah bisa menyakiti anaknya sendiri, hanya bisa bersabar meskipun Adolph melihat air mata ibunya, Adolph tidak pernah peduli.
Seperti yang terdapat dalam kutipan berikut:
“kenapa kau tidak makan siang bersama ayah dan ibu untuk terakhir kali, nak?”
“Tidak”
Ibunya menatap dia dengan marah. “Tak bisakah kau bersikap sopan hanya untuk mengatakan selamat tinggal pada ayahmu?”
“Jangan katakan kepadaku soal sopan-santun. Kapan ibu bersikap baik kepadaku? Ibu selalu saja dan meninggalkanku sendirian. Sekarang aku berubah pikiran. Aku akan pergi dan meninggalkan ibu. (Hal 33)
“Aku tidak akan membiarkan ada sampah di rumah ini!” sentak ibunya.
Wajahnya merengut, tampak tua dan akan menagis. “kau satu-satunya putra kami, nak. Kenapa kau tidak melakukan sesuatu yang bisa membuat kami bangga. Ayahmu ingin kau menjadi seorang polisi, sama seperti dia.”
Ibunya berhenti bicara sambil terisak, “tapi kau boleh mengikuti jalanmu sendiri dan menjadi seseorang yang beda.” (Hal 19)
Adolph sudah merasa cukup dengan keadaan ini. Ia membanting koran ke meja. Meja yang ringkih itu bergetar dan sebuah garpu jatuh bergemerincig ke lantai.
“kenapa ibu tidak bisa diam. Lebih baik aku mendengar cerita-cerita pilu ibu dengan bertanya kepada mereka!”
Adolph mendorong kursinya jauh-jauh dari meja, dia bangun dan mengamuk. Tehnya tertinggal di atas meja. (Hal 20)
47