BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Kebijakan Publik
2.3.2 Tingkat Kebijakan Publik
Menurut Easton (1969) mengemukakan tentang Kebijakan publik diartikan sebagai pengalokasian nilai-nilai kekuasaan untuk seluruh masyarakat yang keberadaannya mengikat.
Berdasarkan stratifikasinya, kebijakan publik dapat dilihat dari tiga tingkatan, yaitu kebijakan umum (strategi), kebijakan manajerial, dan kebijakan teknis operasional. Selain itu, dari sudut manajemen, proses kerja dari kebijakan publik dapat dipandang sebagai serangkaian kegiatan yang meliputi :
1. pembuatan kebijakan,
2. pelaksanaan dan pengendalian, serta 3. evaluasi kebijakan.
Mengenai tingkat-tingkat kebijakan publik ini, Lembaga Administrasi Negara (1997), mengemukakan sebagai berikut:
1. Kebijakan Nasional
Kebijakan Nasional adalah kebijakan negara yang bersifat fundamental dan strategis dalam pencapaian tujuan nasional/negara sebagaimana tertera dalam Pembukaan UUD 1945. Yang berwenang menetapkan kebijakan nasional adalah MPR, Presiden, dan DPR. Kebijakan nasional yang dituangkan dalam peraturan perundang-undangan dapat berbentuk: UUD, Ketetapan MPR, Undang-undang (UU), Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (PERPU).
2. Kebijakan Umum
Kebijakan umum adalah kebijakan Presiden sebagai pelaksanaan UUD, TAPMPR, UU,-untuk mencapai tujuan nasional. Yang berwenang menetapkan kebijakan umum adalah Presiden. Kebijakan umum yang tertulis dapat berbentuk: Peraturan Pemerintah (PP),Keputusan Presiden (KEPPRES), Instruksi Presiden (INPRES).
3. Kebijakan Pelaksanaan
Kebijaksanaan pelaksanaan adalah merupakan penjabaran dari kebijakan umum sebagai strategi pelaksanaan tugas di bidang tertentu. Yang berwenang menetapkan kebijakan pelaksanaan adalah menteri/pejabat setingkat menteri dan pimpinan LPND. Kebijakan pelaksanaan yang tertulis dapat berbentuk Peraturan, Keputusan, Instruksi pejabat tersebut di atas.
Dari gambaran di atas tentang kebijakan, menampakkan kejelasan bahwa kebijakan publik itu terdapat dalam bentuk Undang-undang atau Peraturan Daerah merupakan suatu kebijakan publik yang memiliki sifat strategis tetapi belum implementatif, oleh karena itu masih di perlukan derivasi kebijakan selanjutnya atau kebijakan publik penjelas atau sering juga di sebut sebagai peraturan pelaksanaan.
Dari gambaran di atas tentang pembahasan mengenai kebijakan tingkatan kebijakan ,memberikan arti kejelasan bahwa kebijakan publik itu mempunyai adanya dasar Hukum dalam bentuk Undang – Undang yang di buat oleh Pemerintahan atau Peraturan Daerah yang juga merupakan acuan dan pedoman dalam suatu kebijakan publik yang memiliki sifat penting dalam pelayanan publik , namun ada suatu permasalahan yang menjadikan
pedoman tersebut bersifat implementatif , maka dari itu masih diperlukan derivasi kebijakan publik selanjutnya yang bersifat jelas serta sangat mudah diterapkan. Terkait dengan hal tersebut adapun Tahap Identifikasi yang di lakukan yang bertujuan untuk dapat memecahkan permasalahan pada pelayanan publik :
1. Identifikasi Masalah dan Kebutuhan
Tahap pertama dalam perumusan kebijakan sosial adalah mengumpul-kan data mengenai permasalahan sosial yang dialami masyarakat dan mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan masyarakat yang belum terpenuhi (unmet needs).
2. Analisis Masalah dan Kebutuhan
Tahap berikutnya adalah mengolah, memilah dan memilih data mengenai masalah dan kebutuhan masyarakat yang selanjutnya dianalisis dan ditransformasikan ke dalam laporan yang terorganisasi.
Informasi yang perlu diketahui antara lain: apa penyebab masalah dan apa kebutuhan masyarakat? Dampak apa yang mungkin timbul apabila masalah tidak dipecahkan dan kebutuhan tidak dipenuhi? Siapa dan kelompok mana yang terkena masalah?
3. Penginformasian Rencana Kebijakan
Berdasarkan laporan hasil analisis disusunlah rencana kebijakan.
Rencana ini kemudian disampaikan kepada berbagai sub-sistem masyarakat yang terkait dengan isu-isu kebijakan sosial untuk
memperoleh masukan dan tanggapan. Rencana ini dapat pula diajukan kepada lembaga-lembaga perwakilan rakyat untuk dibahas dan disetujui.
4. Perumusan Tujuan Kebijakan
Setelah mendapat berbagai saran dari masyarakat dilakukanlah berbagai diskusi dan pembahasan untuk memperoleh alternatif-alternatif kebijakan. Beberapa alternatif kemudian dianalisis kembali dan dipertajam menjadi tujuan-tujuan kebijakan.
5. Pemilihan Model Kebijakan
Pemilihan model kebijakan dilakukan terutama untuk menentukan pendekatan, metoda dan strategi yang paling efektif dan efisien mencapai tujuan-tujuan kebijakan. Pemilihan model ini juga dimaksudkan untuk memperoleh basis ilmiah dan prinsip-prinsip kebijakan sosial yang logis, sistematis dan dapat dipertanggungjawabkan.
6. Penentuan Indikator Sosial
Agar pencapaian tujuan dan pemilihan model kebijakan dapat terukur secara objektif, maka perlu dirumuskan indikator-indikator sosial yang berfungsi sebagai acuan, ukuran atau standar bagi rencana tindak dan hasil-hasil yang akan dicapai.
7. Membangun Dukungan dan Legitimasi Publik
Tugas pada tahap ini adalah menginformasikan kembali rencana kebijakan yang telah disempurnakan. Selanjutnya melibatkan berbagai pihak yang relevan dengan kebijakan, melakukan lobi, negosiasi dan
koalisi dengan berbagai kelompok-kelompok masyarakat agar tercapai konsensus dan kesepakatan mengenai kebijakan sosial yang akan diterapkan.
Menurut Charles O. Jones menegaskan bahwa kebijakan publik terdiri dari beberapa hal yaitu :
1. Tujuan yang di harapkan,
2. Plans atau proposal, yaitu pengertian yang menyeluruh untuk mencapai tujuan yang di inginkan
3. Program yaitu upaya yang berwenang untuk mencapai tujuan
4. Decisions atau keputusan, tindakan untuk menentukan tujuan tertentu, membuat rencana, melaksanakan dan mengevaluasi program yang berjalan.
5. Efec, yaitu akibat-akibat dari program ( baik disengaja atau tidak, primer atau sekunder ).
Kaji (2008:10), mengemukakan bahwa terdapat beberapa unsur yang terkandung dalam kebijakan publik sebagai berikut :
1. Kebijakan selalu memiliki tujuan atau berorientasi pada tujuan tertentu yang di harapkan.
2. Kebijakan berisi suatu tindakan atau pola tindakan pejabat pemerintah 3. Kebijakan merupakan apa yang benar-benar dilakukan oleh pemerintah,
dan bukan apa yang di maksudkan akan dilakukan.
4. Kebijakan publik yang memiliki sifat positif, (merupakan suatu tindakan pemerintah tentang sesuatu untuk memecahkan suatu masalah publik
tertentu) dan bersifat negatif (keputusan yang di lakukan pejabat pemerintah untuk tidak melakukan sesuatu)
5. Kebijakan publik (positif) selalu berdasar pada peraturan perundangan tertentu yang memiliki sifat paksaan atau otoritatif.
Dari beberapa pendapat yang di utarakan oleh para pakar tentang kebijakan tersebut dapat di tarik kesimpulan, setidaknya terdapat butir-butir yang merupakan ciri penting dari pengertian kebijakan. Butir-butir tersebut ialah :
1. Kebijakan merupakan suatu tindakan pemerintah yang memiliki tujuan untuk menciptakan kesejahteraan masyarakatnya
2. Kebijakan ini dibuat melalui tahapan yang sistematis sehingga semua variabel pokok dari semua permasalahan yang akan di pecahkan tercakup
3. Kebijakan dapat dilaksanakan oleh organisasi pelaksana.
4. Kebijakan perlu di lakukan dievaluasi sehingga mengetahui tingkat keberhasilan atau tidaknya dalam menyelesaikan permasalahan.
5. Kebijakan merupakan produk hukum yang wajib di jalankan dan berlaku mengikat terhadap warga yang ada di wilayah tersebut