• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tingkatan dan Fokus Teori

Dalam dokumen Prosedur penelitian (Halaman 42-55)

Proposisi

2.3. Tingkatan dan Fokus Teori

Teori mempunyai tingkatan kepentingan dalam sebuah penelitian. Sugiyono, 2010 mengemukakan tentang teori berdasarkan tingkatannya yaitu:

1. Teori tingkat Mikro Level

Dalam tingkat ini memberi penjelasan hanya terbatas pada peristiwa yang berskala kecil, baik dari sisi waktu, ruang, maupun jumlah orang. Seperti dalam sosiologi dikenal dengan teori “ Face Work” Erving Goffman yang mengkaji kegiatan ritual dua orang yang saling berhadapan atau bertatap muka.

2. Teori Meso Level Tetapkan nama variabel yang diteliti,

dan jumlah variabelnya.

Mencari sumber- sumber bacaan (buku,

kamus, ensiklopedia, jurnal ilmia,laporan penelitian,sekripsi,tesis

,disertasi)

Lihatlah daftar isi setiap buku, dan pilih

topik yang relevan dengan setiap variabel

yang akan diteliti.

Cari definisi setiap variabel yang akan diteliti pada setiap

sumber bacaan Baca seluruh isi topik

buku yang sesuai dengan variabel yang

akan diteliti Deskripsikan teori-teori

yang telah dibaca dari berbagai sumber

43 Teori ini menghubungkan tingkat mikro dan makro, misalnya teori organisasi, gerakan sosial, atau komunitas teori Collin tentang kontrol organisasi.

3. Teori Makro Level

Teori ini menjelaskan objek yang lebih luas seperti lembaga sosial, sistem budaya,dan masyarakat secara keseluruhan. Misalnya, teori makro Lenski tentang stratafikasi sosial.

Gambar 2.5 Tingkatan Teori

Selanjutnya fokus teori menurut (Moleong,2002) yaitu teori substantif dan teori formal.

(Gleser dan Strauss dalam Moleong, 2002) mengemukakan Teori substantif adalah teori yang dikembangkan untuk keperluan substantif atau empiris dalam ingkuiri dalam suatu ilmu pengetahuan, misanya antropologi, sosiologi, dan psikologi. Sedangkan teori formal adalah teori untuk keperluan formal atau yang disusun secara konseptual dalam bidang ingkuiri suatu ilmu pengetahuan, misalnya sosiologi, contohnya prilaku agresif, organisasi formal, sosialisasi.

Mikro Level

Teori Meso Level

Teori

Makro

Level

44 2.4. Kegunaan Teori dalam Penelitian

Semua penelitian bersifat ilmiah, oleh karena itu semua peneliti harus berbekal teori. Dalam sebuah penelitian teori yang digunakan harus sudah jelas karena fungsi teori dalam sebuah penelitian menurut (Sugiyono,2010) adalah sebagai berikut:

1. Teori digunakan untuk memperjelas dan mempertajam ruang lingkup, atau konstruk variabel yang akan diteliti.

2. Untuk merumuskan hipotesis dan menyusun instrumen penelitian

3. Memprediksi dan membantu menemukan fakta tentang sesuatu hal yang hendak diteliti.

Secara ringkas, menurut Borg dan Gall (1989), dan Latief (2010) dalam Website Prof. Dr.

Mudjia Raharjo,M.Si menjelaskan setidaknya ada enam (6) alasan mengapa kajian pustaka / Teori harus dilakukan, sebagaimana uraian berikut:

1. Sangat bermanfaat untuk menajamkan rumusan masalah penelitian yang diajukan, sehingga besar kemungkinan rumusan masalah yang sudah dibuat berubah setelah peneliti membaca pustaka karena telah memiliki wawasan tentang tema yang diteliti lebih luas daripada sebelumnya. Dengan demikian, rumusan masalah, terutama dalam penelitian kualitatif, bersifat tentatif. Tidak sedikit penelitian gagal karena masalah yang diteliti terlalu luas. Rumusan masalah yang spesifik dan dalam lingkup yang kecil jauh lebih baik daripada yang luas dan umum. Umumnya, rumusan masalah yang tidak jelas berakibat pada data yang diperoleh juga tidak jelas, sehingga antara masalah yang hendak dijawab dan data yang ada tidak sambung. Ujungnya kesimpulannya tidak berangkat dari data, tetapi pendapat pribadi peneliti. Tentu ini tidak bisa dibenarkan. Hal demikian bisa dihindari melalui kajian pustaka dengan serius.

2. Kajian pustaka tidak saja untuk mempelajari apa yang telah dilakukan orang lain, tetapi juga melihat apa yang terlewatkan dan belum dikaji oleh peneliti sebelumnya.

3. Untuk melihat bahwa pendekatan penelitian yang kita lakukan steril dari pendekatan- pendekatan lain. Sebab, pada umumnya kajian pustaka justru menyebabkan peneliti meniru pendekatan-pendekatan yang sudah lama dipakai orang lain, sehingga tidak menghasilkan temuan yang berarti. Mencoba pendekatan baru walau mungkin salah

45 lebih baik daripada mengulang hal yang sama berkali-kali walau benar. Pengulangan justru menunjukkan peneliti tidak cukup melakukan pembacaan literatur secara memadai.

Kesalahan metodologis akan disusul dan dikoreksi oleh peneliti selanjutnya, sehingga menyebabkan ilmu pengetahuan berkembang. Karena itu, dalam ilmu pengetahuan kesalahan bukan sesuatu yang aib. Proses demikian oleh Polanyi disebut sebagai falsifikasi.

4. Memperoleh pengetahuan (insights) mengenai metode, ukuran, subjek, dan pendekatan yang dipakai orang lain dan bisa dipakai untuk memperbaiki rancangan penelitian yang kita lakukan. Rancangan penelitian, lebih-lebih untuk penelitian kualitatif, bukan sesuatu yang sekali jadi, melainkan terus diperbaiki agar diperoleh metode yang tepat untuk memperoleh data dan menganalisisnya. Kenyataan di lapangan ditemukan racangan penelitian kualitatif seragam dari satu proyek penelitian ke yang lain. Padahal, walaupun berangkat dari paradigma yang sama rancangan penelitian kualitatif bisa berbeda dari penelitian ke penelitian lainnya, karena penelitian kualitatif berangkat dari kasus atau fenomena tertentu.

5. Melalui kajian pustaka, bisa diperoleh pengetahuan berupa rekomendasi atau saran-saran bagi peneliti selanjutnya. Informasi ini tentu sangat penting karena rekomendasi atau saran merupakan rangkuman pendapat peneliti setelah melakukan penelitian. Usai penelitian, kita juga diharapkan bisa memberikan rekomendasi atau saran bagi peneliti selanjutnya, sebagaimana kita telah mengambil manfaat dari peneliti sebelumnya. Karena itu, rekomendasi atau saran yang baik bukan sembarang saran, melainkan usulan yang secara spesifik bisa diteliti.

6. Untuk mengetahui siapa saja yang pernah meneliti bidang yang sama dengan yang akan kita lakukan. Orang yang sudah lebih dahulu meneliti bisa dijadikan teman diskusi mengenai tema yang kita lakukan, termasuk membahas hal-hal yang menjadi kekurangan atau kelemahan penelitian, sehingga kita bisa memperbaiki, karena dia telah memperoleh pengalaman lebih dahulu

Teori yang masuk sebagai landasan sebuah penelitian harus mempunyai relevansi dengan variabel-variabel penelitian yang ada dalam penelitian tersebut. Teori yang tidak ada kaitannya

46 dengan dengan pokok masalah penelitian tidak boleh masuk sebagai landasan teori. Contoh, sebuah penelitian dilakukan untuk mengetahui keinginan stakeholder terhadap produk atau pelayanan perusahaan, maka teori yang masuk sebagai landasan penelitian ini antara lain adalah teori mengenai stakeholder need and contribution, identifikasi dan definisi stakeholder dan performance prism untuk mengetahui strategi pencapaian pemenuhan kebutuhan stakeholder.

Alan Bryman dalam bukunya business research methods menjelaskan kedudukan teori dalam penelitian seperti dalam gambar 2.6. Teori deduktif terbentuk melalui proses asumsi atau hipotesa yang kemudian dibuktikan dengan cara mengumpulkan data. Setelah data dikumpulkan dan dianalisis baru membuat kesimpulan apakah menerima atau menolak hipotesa. Jika ternyata menolak hipotesa, maka teori atau asumsi yang buat diawal harus direvisi. Sedangkan teori yang dikembangkan secara induktif berasal dari observasi yang menghasilkan data-data empiris yang kemudian disimpulkan menjadi sebuah teori.

Gambar 2.6 Kedudukan Teori Dalam Penelitian

47 2.5. Ilmu Pengetahuan

Pengetahuan adalah informasi yang terstruktur mudah diakses dan idealnya nilainya abadi (fakta) yang diperoleh melalui pengalaman atau pendidikan. Contoh, Lokasi pabrik yang ideal memenuhi beberapa factor, antara lain Sumber Bahan Baku , Ketersediaan Tenaga Kerja , Lokasi Pemasaran Produk , Lokasi Pemasaran Produk, Dan ketersediaan Tenaga Listrik.

Pernyataan mengenai lokasi pabrik merupakan ilmu pengetahuan karena memiliki syarat sebagai ilmu pengtahuan seperti yang disebutkan dalam definisi ilmu pengetahuan yaitu bersifat nyata.

Ilmu pengetahuan berasal dari dua kata yaitu pengetahuan (knowledge) dan ilmu (science). Pengetahuan adalah sesuatu yang dimengerti oleh manusia yang sekedar menjawab pertanyaan apa (what). Contoh:

1. Apakah matahari terbit dari timur? Semua manusia mengetahui bahwa matahari terbit dari timur.

2. Apa nama ibu kota Negara Indonesia? Semua orang tahu bahwa ibu kota Negara Indonesia adalah Jakarta.

Sedangkan Ilmu (science) tidak hanya sekedar menjawab pertanyaan apa (what), akan tetapi lebih jauh, yaitu why dan how. Contoh, mengapa lokasi pabrik harus dekat dengan sumber bahan baku? Pertanyaan ini menimbulkan orang untuk mengkaji dengan metode pendekatan tertentu tentang arti pentingnya kedekatan lokasi pabrik dengan lokasi sumber bahan baku. Jadi pengetahuan dapat berkembang menjadi ilmu, apabila memenuhi kriteria seperti mempunyai objek kajian, bersifat universan, dan mempunyai metode pendekatan.

48 Gambar 2.5 Kriteria Ilmu Pengetahuan

Landasan ilmu pengetahuan terdiri dari tiga unsur, yaitu ontology, epistimologi, dan aksiologi. Ontology adalah objek yang ditelaah ilmu tertentu. Misal ilmu mengenai kepuasan konsumen (customer satisfy), yang menjadi objek kajian dalam ilmu ini adalah konsumen.

Epistimologi adalah cara (metode) yang digunakan untuk mengkaji atau menelaah sehingga diperoleh ilmu tersebut. Dan aksiologi adalah berhubungan dengan penggunaan ilmu tersebut dalam rangka memenuhi kebutuhan manusia.

Kriteria Ilmu Pengetahuan Mempunyai Obyek Kajian

Mempunyai Metode Pendekatan Bersifat

Universal

49 Gambar 2.6 Proses Ilmu Pengetahuan

Epistemologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu episteme, yang berarti pengetahuan (knowledge) dan logos yang berarti ilmu. Jadi menurut arti katanya, epistemologi ialah ilmu yang membahas masalah-masalah pengetahuan. Di dalam Webster New International Dictionary, epistemologi diberi definisi sebagai berikut:

The study or a theory of the nature and grounds of knowledge especially with reference to its limits and validity

Epistemologi adalah penelitian atau teori alam dan dasar-dasar pengetahuan, khususnya yang berhubungan dengan batas-batas pengetahuan dan validitas atau sah berlakunya pengetahuan itu. Ahli-ahli filsafat Jerman menyebutnya Wessenchaftslehre. Sekalipun

50 lingkungan ilmu yang membicarakan masalah-masalah pengetahuan itu meliputi teori pengetahuan, teori kebenaran dan logika, tetapi pada umumnya epistemologi itu hanya membicarakan tentang teori pengetahuan dan kebenaran saja.

Epistemologi atau Filsafat pengetahuan merupakan salah satu cabang filsafat yang mempersoalkan masalah hakikat pengetahuan. Apabila kita berbicara mengenai filsafat pengetahuan, yang dimaksud dalam hal ini adalah ilmu pengetahuan kefilsafatan yang secara khusus hendak memperoleh pengetahuan tentang hakikat pengetahuan.

Beberapa pakar lainnya juga mendefinisikan espitemologi, seperti J.A Niels Mulder menuturkan, epistemologi adalah cabang filsafat yang mempelajari tentang watak, batas-batas dan berlakunya dari ilmu pengetahuan. Jacques Veuger mengemukakan, epistemologi adalah pengetahuan tentang pengetahuan dan pengetahuan yang kita miliki tentang pengetahuan kita sendiri bukannya pengetahuan orang lain tentang pengetahuan kita, atau pengetahuan yang kita miliki tentang pengetahuan orang lain. Pendek kata Epistemologi adalah pengetahuan kita yang mengetahui pengetahuan kita. Abbas Hammami Mintarejo memberikan pendapat bahwa epistemology adalah bagian filsafat atau cabang filsafat yang membicarakan tentang terjadinya pengetahuan dan mengadakan penilaian atau pembenaran dari pengetahuan yang telah terjadi itu.

(Surajiyo, 2008).

Dari beberapa definisi yang tampak di atas bahwa semuanya hampir memiliki pemahaman yang sama. Epistemologi adalah bagian dari filsafat yang membicarakan tentang terjadinya pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan, batas-batas, sifat, metode, dan keshahihan pengetahuan. Jadi objek material dari epistemology adalah pengetahuan dan objek formalnya adalah hakikat pengetahuan itu. Epistemologi atau Teori Pengetahuan yang berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh setiap manusia. Pengetahuan tersebut diperoleh manusia melalui akal dan panca indera dengan berbagai metode, diantaranya; metode induktif, metode deduktif, metode positivisme, metode kontemplatis dan metode dialektis.

Aksiologi merupakan cabang filsafat ilmu yang mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya. Aksiologi adalah istilah yang berasal dari kata Yunani yaitu; axios yang berarti sesuai atau wajar.Sedangkan logos yang berarti ilmu.Aksiologi dipahami sebagai teori

51 nilai. Jujun S.Suriasumantri mengartika aksiologi sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh. Menurut John Sinclair, dalam lingkup kajian filsafat nilai merujuk pada pemikiran atau suatu sistem seperti politik, sosial dan agama. sedangkan nilai itu sendiri adalah sesuatu yang berharga, yang diidamkan oleh setiap insan.

Aksiologi adalah ilmu yang membicarakan tentang tujuan ilmu pengetahuan itu sendiri.

Jadi Aksiologi merupakan ilmu yang mempelajari hakikat dan manfaat yang sebenarnya dari pengetahuan, dan sebenarnya ilmu pengetahuan itu tidak ada yang sia-sia kalau kita bisa memanfaatkannya dan tentunya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dan di jalan yang baik pula, karena akhir-akhir ini banyak sekali yang mempunyai ilmu pengetahuan yang lebih itu dimanfaatkan di jalan yang tidak benar.

Pembahasan aksiologi menyangkut masalah nilai kegunaan ilmu. Ilmu tidak bebas nilai, artinya pada tahap-tahap tertentu kadang ilmu harus disesuaikan dengan nilai-nilai budaya dan moral suatu masyarakat, sehingga nilai kegunaan ilmu tersebut dapat dirasakan oleh masyarakat dalam usahanya meningkatkan kesejahteraan bersama, bukan sebaliknya menimbulkan bencana.

Dalam aksiologi, ada dua penilain yang umum digunakan, yaitu etika dan estetika. Etika adalah cabang filsafat yang membahas secara kritis dan sistematis masalah-masalah moral. Kajian etika lebih fokus pada prilaku, norma dan adat istiadat manusia.

52 Gambar 2.7 Penilaian Umum Aksiologi

Etika merupakan salah-satu cabang filsafat tertua. Setidaknya ia telah menjadi pembahasan menarik sejak masa Sokrates dan para kaum shopis. Di situ dipersoalkan mengenai masalah kebaikan, keutamaan, keadilan dan sebagianya.Etika sendiri dalam buku Etika Dasar yang ditulis oleh Franz Magnis Suseno diartikan sebagai pemikiran kritis, sistematis dan mendasar tentang ajaran-ajaran dan pandangan-pandangan moral.Isi dari pandangan-pandangan moral ini sebagaimana telah dijelaskan di atas adalah norma-norma, adat, wejangan dan adat istiadat manusia. Berbeda dengan norma itu sendiri, etika tidak menghasilkan suatu kebaikan atau perintah dan larangan, melainkan sebuah pemikiran yang kritis dan mendasar. Tujuan dari etika adalah agar manusia mengetahi dan mampu mempertanggungjawabkan apa yang ia lakukan.

Menurut bahasa, Ontologi berasal dari bahasa Yunani yaitu dari kata On atau Ontos artinya ada, dan Logos yang berarti ilmu. Jadi, ontologi adalah ilmu tentang yang ada. Sedangkan menurut istilah Ontologi adalah ilmu yang membahas tentang hakikat yang ada, yang merupakan ultimate reality baik yang berbentuk jasmani atau konkret maupun rohani atau abstrak. Ada beberapa pengertian ontology menurut para tokoh-tokoh filsafat diantaranya:

a) Menurut Suriasumantri (1985),

Penilain Umum Aksiologi

Etika Estetika

53 Ontologi membahas tentang apa yang ingin kita ketahui, seberapa jauh kita ingin tahu, atau, dengan kata lain suatu pengkajian mengenai teori tentang “ada”. Telaah ontologis akan menjawab pertanyaan-pertanyaan :

➢ Apakah obyek ilmu yang akan ditelaah,

➢ Bagaimana wujud yang hakiki dari obyek tersebut, dan

➢ Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir, merasa, dan mengindera) yang membuahkan pengetahuan.

b) Menurut Soetriono & Hanafie (2007)

Ontologi yaitu merupakan azas dalam menerapkan batas atau ruang lingkup wujud yang menjadi obyek penelaahan (obyek ontologis atau obyek formal dari pengetahuan) serta penafsiran tentang hakikat realita (metafisika) dari obyek ontologi atau obyek formal tersebut dan dapat merupakan landasan ilmu yang menanyakan apa yang dikaji oleh pengetahuan dan biasanya berkaitan dengan alam kenyataan dan keberadaan.

c) Menurut Pandangan The Liang Gie

Ontologi adalah bagian dari filsafat dasar yang mengungkap makna dari sebuah eksistensi yang pembahasannya meliputi persoalan-persoalan:

Apakah artinya ada, hal ada?

Apakah golongan-golongan dari hal yang ada?

Apakah sifat dasar kenyataan dan hal ada?

Apakah cara-cara yang berbeda dalam mana entitas dari kategori-kategori logis yang berlainan (misalnya objek-objek fisis, pengertian universal, abstraksi dan bilangan) dapat dikatakan ada ?

d) Menurut Ensiklopedi Britannica Yang juga diangkat dari Konsepsi Aristoteles

Ontologi yaitu teori atau studi tentang wujud seperti karakteristik dasar dari seluruh realitas. Ontologi sinonim dengan metafisika yaitu, studi filosofis untuk menentukan sifat nyata yang asli (real nature) dari suatu benda untuk menentukan arti , struktur dan prinsip benda tersebut. (Filosofi ini didefinisikan oleh Aristoteles abad ke-4 SM)

54 Pengertian paling umum pada ontologi adalah bagian dari bidang filsafat yang mencoba mencari hakikat dari sesuatu. Pengertian ini menjadi melebar dan dikaji secara tersendiri menurut lingkup cabang-cabang keilmuan tersendiri. Pengertian ontologi ini menjadi sangat beragam dan berubah sesuai dengan berjalannya waktu. Sebuah ontologi memberikan pengertian untuk penjelasan secara eksplisit dari konsep terhadap representasi pengetahuan pada sebuah knowledge base. Sebuah ontologi juga dapat diartikan sebuah struktur hirarki dari istilah untuk menjelaskan sebuah domain yang dapat digunakan sebagai landasan untuk sebuah knowledge base”. Dengan demikian, ontologi merupakan suatu teori tentang makna dari suatu objek, property dari suatu objek, serta relasi objek tersebut yang mungkin terjadi pada suatu domain pengetahuan. Ringkasnya, pada tinjauan filsafat, ontologi adalah studi tentang sesuatu yang ada.

55 BAB 3

KERANGKA BERFIKIR PENELITIAN

Dalam dokumen Prosedur penelitian (Halaman 42-55)

Dokumen terkait