• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tinjauan Keterampilan Berbahasa Arab

Dalam dokumen skripsi - Universitas Muhammadiyah Makassar (Halaman 37-46)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

B. Tinjauan Keterampilan Berbahasa Arab

Keterampilan berbahasa terdiri dari empat aspek, yaitu menyimak atau mendegarkan, berbicara, membaca dan menulis. Siswa harus menguasai keempat aspek tersebut agar terampil berbahasa.

Dengan demikian pembelajaran keterampilan berbahasa di sekolah tidak hanya menekankan pada teori saja, tetapi siswa dituntut untuk menggunakan bahasa sebagaimana fungsinya, yaitu sebagai alat untuk berkomunikasi.

Henry Tarigan (2006:86) mengemukakan bahwa:

“Salah satu aspek berbahasa yang harus dikuasai oleh siswa adalah berbicara, sebab keterampilan berbicara menunjang keterampilan yang lainya.

Pentingnya penguasaan keterampilan berbicara untuk siswa juga dinyatakan oleh Farris dalam supriyadi dkk (2005:179) bahwa, pembelajaran keterampilan berbicara penting dikuasai siswa agar mampu mengembangkan kemampuan berfikir, membaca, menulis dan menyimak”.dalam bentuk ujaran alamiyah yang berbahasa Arab.

Keterampilan berbicara adalah kemampuan seseorang untuk mengucapkan artikulasi bunyi-bunyi bahasa Arab (ashwath ‘arabiyyah) atau kata-kata dengan aturan-aturan kebahasaan (qawa’id nahwiyyah wa sharfiyah)tertentu untuk menyampaikan ide-ide dan perasaan.

Aziz fahrozi dan mahyudin(2011:13) Mengemukakan bahwa:

Prinsip-prinsip umum yang mendasari kegiatan berbicara adalah:

a. Membutuhkan paling sedikit dua orang , seorang pembicara dan seorang pendengar

b. Menpergunakan suatu sandi lingusitik yang dipahami bersama.

c. Adanya penerimaan atau pengakuan atas suatu wilayah.

d. Merupakan suatu pertukaran antara partisipan.

e. Menghubungkan setiap pembicara dengan yang lainyadan kepada lingkunganya dengan segera.

f. Berhubungan atau berkaitan dengan masa kini.

g. Melibatkan organ atau perlengkapan yang berhubungan dengan suara/bunyi bahasa dan pendengaran (vocal and auditory apparatus).

h. Tidak pandang bulu menghadapi dan memperlakukan apa yang nyata dan apa yang diterima sebagai dalil pelambangan bunyi

Dalam aktivitas berbicara tidak terlepas dari prinsip-prinsip berbahasa yang telah disebutkan di atas tetapi di samping itu aktivitas berbicara juga karena adanya dorongan untuk berinteraksi dengan orang lain dalam rangka memenuhi kebutuhan atau mengungkapkan apa yang ada dalam dirinya kepada orang lain. Dalam aktivitas berbicara agar aktivitas tersebut berjalan optimal dan tujuan dari berbicara tercapai maka seorang pembicara harus mempunyai kompotensi untuk memenuhi kebutuhan komunikasi tersebut.

Iskanddar wassid dan dadan sunendar (2008:17) mengemukakan bahwa:

Dalam berkomunikasi seseorang harus memilki empat kompotensi yaitu:

“kompotensi gramatikal atau kompotensi linguistik, kompotensi sosiolinguistik, kompotensi wacana dan kompotensi strategi”

Jadi, dalam keterampilan berbicara membutuhkan berbagai kompotensi dan harus di tunjang oleh berbagai prinsip-prinsip dasar berbahasa agart tujuan berbicara tercapai.

1. Pengertian keterampilan berbicara

Nurgiyantoro (2005:276) mengemukakan bahwa:

“Berbicara adalah aktivitas berbahasa kedua yang dilakukan manusia dalam kehidupan berbahasa, yaitu setelah aktivitas mendegarkan. Berdasarkan bunyi-bunyi yang di dengar itu, kemudian manusia belajar untuk mengucapkan dan akhirnya terampil berbicara”.

Pujiati Suyata (1985:14) mengemukakan bahwa:

“Keterampilan berbicara seperti halnya kemampuan mendengar, merupakan keterampilan dasar dalam berbahasa. Dengan kemampuan berbicara dimaksudkan kemampuan menggunakan sistem lambang ucapan, tekanan, intonasi, struktur, tata bahasa dan perbendaharaan kata dengan penyampaian yang normal dalam situasi-situasi komunikasi”.

Keterampilan berbicara secara bahasa sepadang dengan istilah speaking skill dalam bahasa inggris. Berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengespresikan, menyatakan serta menyampaikan fikiran, gagasan dan perasaan.

Jadi, keterampilan berbicara adalah kemampuan mengungkapkan pendapat atau pikiran dan perasaan kepada sesesorang atau kolompok secara lisan, baik secara berhadapan ataupun secara jarak jauh.

Keterampilan berhubungan erat dengan proses-proses berfikir yang mendasari bahasa. Bahasa seseorang mencerminkan fikiranya, semakin terampil seseorang berbahasa, semakin cerah dan jelas jalan

pemikiranya. Keterampilan hanya dapat diperoleh dan dikuasai dengan jalan praktek dan latihan, melatih keterampilan berbahasa berarti melatih keterampilan berfikir.

2. Tahapan Keterampilan Berbicara

Haryadi (2007:95) mengemukakan bahwa:

tahapan keterampilan berbicara terdiri dari tiga tingkatan, yaitu:

a. Tingkatan pemula

Pada tingkat dasar ini siswa hanya terbatas pada pola-pola menghafal percakapan Arab saja. Topik percakapanyapun terbatas hanya seputar perkenalan, profesi dan sebagainya.Tehnik penyajianya diawali dengan pengucapan materi percakapan oleh guru yang ditirukan, diperegakan dan dihafalkan oleh siswa. Guru tidak boleh memperlihatkan bentuk tulisan dari percakapan yang sedang diperagakan kepada siswa. Guru juga dapat memberikan bentuk bahasa yang sesuai dengan kemampuan siswa.

b. Tingkatan menengah

Setelah melewati tingkat dasar sebagai pemula, dilanjutkan pada tingkat menegah.percakapan yang dilakukan pada tingkat menengah topik yang disusun lebih luas. Misalnya memperbingcangkan pokok-pokok pikiran dalam teks baik yang berupa lisan maupun tulisan. Guru hanya menuliskan dan mengingatkan hal-hal yang dianggap penting misalnya nama-nama orang yang terlibat didalam percakapan dari dialog yang diperdengarkan dan kosa kata serta bentuk bahasa yang diduga sulit bagi siswa.

c. Tingkat lanjutan

Tahap ini adalah tahap yang paling atas dan wujud percakapan yang sebenarnya. Guru berfungsi sebagai pengarah dari percakapan tersebut.

Aziz fachrozi dan mahyudin (2011:139) Mengemukakan bahwa:

Latihan berbicara dapat dikolompokkan menjadi tiga tingkatan

dengan tehnik yang berbeda-beda yaitu:

a. Tehnik penerapan untuk tingkat pemula:

Contoh tehnik penerapan keterampilan berbicara untuk pemula dapat berupa: ulang ucap (isma’ waraddid/listening and repeat), lihat dan ucapkan (undzur wa uskur/see and say), model dialog (hiwar/dialogue),tanya jawab (su’al wal jawab/question and answer),praktek pola kalimat (tadrib anmath/patternpractice), berbagi informasi (akhbir jarak/share yours),melengkapi kalimat (ikmal al jumlah/completation),menjawab pertanyaan (al ijabah ‘ala al as’ilah/answering the questions) dan bertanya (taqdim al as’ilah/giving the questions)

b. Tehnik pengajaran untuk tingkat menengah:

Contoh tehnik penerapan keterampilan berbicara untuk tingkat menegah dapat berupa: apa yang kamu lakukan ? (madza ta’mal

?/what will you do ?),apa komentarmu ? (madza taqulu ?/what do you say ?), pertanyaan berantai (al as’ilah al musalsalah) ,Reka cerita gambar (ta’bir mushawwar),bayangkan (takhayyal/imagine), membuat ikhtisar (talkhish al nash/taking summary), percakapan (muhadtsa/conversation),bermain peran, dan melanjutkan cerita.

c. Tehnik pengajaran untuk tingkat lanjutan:

Contoh tehnik penerapan keterampilan berbicara untuk tingakt lanjutan dapat berupa: mengarang lisan (ta’bir syafawi/oral composition, berpidato (khatabah), bercerita (sard al qishash/telling story), menceritakan peristiwa atau pengalaman berkesan (khibrah mutsirah/interesting experience), wawancara (muqabalah syakhsiyah), dan diskusi (munaqasyah).

Jadi, tahapan keterampilan berbicara terdiri dari tiga tingkatan yaitu tingkatan pemula, tingkatan menengah, dan tingkatan lanjutan.

Oleh karean itu guru dapat memilih topik pembicaraan yang tepat dan sesuai dengan tingkatan kemampuan siswa.

3. Faktor-Faktor Penunjang Kegiatan Berbicara Isnaini Yulianita (2000:9) mengemukakan bahwa:

“kemampuan berbicara sebagai kemampuan produktif lisan yang

menuntut banyak hal yang harus dikuasai oleh siswa, perlu diperhatikan beberapa faktor yang dapat menunjang keefektifan berbicara.

Dari faktor kebahasaan yaitu:

a. Ketepatan ucapan, seorang pembicara harus membiasakan diri mengucapkan bunyi-bunyi bahasa secara tepat, pengucapan bunyi bahasa yang kurang tepat dapat mengalihkan perhatian pendengar.

b. Penempatan tekanan nada, kesusaian tekanan nada, sendi dan durasi yang sesuai akan menyebabkan bahan pembicaraan lebih menarik.

c. Pilihan kata, dalam pemilihan kata hendaknya tepat, jelas dan bervariasi sehingga mudah di mengerti oleh pendengar yang menjadi sasaran.

d. Ketepatan penggunaan kalimat,seorang pembicara harus menggunakan kalimat yang sopan dan sesuai dengan kondisi orang yang mendengarkan.

e. Ketepatan sasaran pembicara, seorang pembicara harus mampu menyusun kalimat efektif, kalimat yang mengenai sasaran sehingga mampu menimbulkan pengaruh meninggalkan kesan atau meninggalkan akibat,

Dari faktor non kebahasaan yaitu:

a. Sikap yang wajar, tenang dan tidak kaku b. Pandangan harus diarahkan kelawan bicara c. Kesediaan menghargai orang lain

d. Gerak-gerik dan mimik yang tepat e. Kenyaringan suara

f. Kelancaran.

Jadi, untuk menunjang keefektifan berbicara diperlukan pemilihan kata, ucapan, artikulasi dan intonasi yang tepat. Selain itu penguasaan materi, kelancaran dan kejelasan dalam ucapan juga menjadi faktor utama sebagai penentu keefektifan dalam berbicara.

4. Permainan Bahasa Untuk Keterampilan Berbicara

Soeparno dalam Umi Machmuda dan Abdul Aziz Wahab Rosyidi (2008:175) mengemukakan bahwa:

“permainan bahasa adalah suatu aktivitas untuk memperoleh suatu keterampilan berbahasa dengan cara yang menggembirakan”.

Permainan bahasa mempunyai tujuan ganda, yaitu untuk memperoleh kegembiraan dan untuk melatih keterampilan berbicara.

Permainan bahasa termasuk sarana pengajaran baru dalam pengajaran bahasa Arab. Permainan berbahasa bukanlah aktivitas tambahan untuk bergembira semata, tapi permainan ini dapat di golongkan kedalam pembelajaran dan pengajaran yang bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengaplikasikan kemahiran berbahasa yang telah dipelajarinya.

Umi Machmuda dan Abdul Wahab Rosyidi (2008:175) mengemukakan contoh permainan bahasa sebagai berikut:

a. Dimana saya ? (ﺎﻧَا َنْﯾَا)

Guru memperagakan gerakan dari suatu perbuatan tertentu kemudian menyuruh siswa untuk menebak dimana dilakukan perbuatan tersebut, seperti gerakan orang sedang makan, menulis, dan lain-lain.

b. Kotak( ٌق ْوُدْﻧُﺻ)

Guru memasukkan sebuah benda yang sebelumnya diperlihatkan satu persatu kepada siswa kedalam sebuah kotak, setelah itu guru bertanya kepada siswa benda apa yang dipegangya, jika siswa dapat menebak dengan benar maka benda tadi dikeluarkan, demikian sampai habis.

c. Gambar ( ٌة َر ْوُﺻ)

Guru memperlihatkan beberapa gambar orang yang terkenal (tokoh) kepada siswa kemudian menyuruh satu persatu siswa untuk mengomentari satu gambar, demikian sampai akhir.

d. Apa yang saya kerjakan ( ٌلَﻣْﻋَا اَذﺎَﻣ)

Guru memperagakan perbuatan tertentu atau menyuruh salah satu siswa siswa untuk melakukan perbuatan tersebut kemudian menyuruh siswa lain untuk menebak apa yang sedang dilakukanya.

e. Pantonim(مﻼَﻛﻟا َن ْوُد ٌة َرْﻛِﻓ)

Seperti halnya permainan nomor 4 hanya saja soalnya lebih panjang atau perbuatan yang di peragakan lebih kompleks, sehingga siswa menceritakanya kedalam beberapa kalimat.

Abdul hamid (2010:27) mengemuka bahwa:

“Untuk mengukur kemampuan berbicara bahasa Arab siswa dapat menggunakan beberapa tehnik permainan yaitu: mendeskrepsikan gambar, menceritakan pengalam, wawancara(muqabalah) dan berbicara bebas(diskusi)”

Mengintegrasikan permainan bahasa diharapkan agar siswa tidak merasa terbebani dengan muatan materi yang begitu padat, karena permainan menggunakan makna edukatif yang sangat bermanfaat bagi terbentuknya sifat peka terhadap keinginan dan perasaan orang lain serta dapat menumbuhkan rasa kebersamaan yang menjadi landasan bagi pembentukan perasaan sosial.

5. Hubungan Keterampilan Berbicara Dengan Keterampilan Lainya.

Henry Guntur tarigan (1983:4) mengemukakan bahwa:

“Berbicara sebagai keterampilan berbahasa berhubungan dengan keterampilan berbahasa yang lain yaitu kemampuan berbicara berkembang didahului oleh keterampilan menyimak. Keterampilan berbicara memanfaatkan kosa kata yang pada umumnya diperoleh melalui kegiatan menyimak dan membaca.Demikian pula yang sering terjadi keterampilan berbicara dibantu dengan keterampilan menulis”.

Hariyadi (1997:58) secara garis besar hubungan Keterampilan berbicara dengan keterampilan bahasa yang lain adalah sebagai berikut:

a. Berbicara dan menyimak merupakan keterampilan berbahasa yang bersifat langsung.

b. Berbicara dipelajari melalui keterampilan menyimak.

c. Peningkatan keterampilan menyimak akan meningkatkan keterampilan berbicara.

d. Bunyi dan suara merupakan suatu faktor penting dalam keterampilan berbicara dan menyimak.

e. Keterampilan berbicara diperoleh sebelum pembelajaran keterampilan menulis.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa keterampilan berbicara dapat mempegaruhi keterampilan yang lainya peningkatan kemampuan siswa dalam berbahasa Arab secara tidak langsung juga berpengaruh terhadap kemampuan menyimak, membaca dan menulisnya.

Dalam dokumen skripsi - Universitas Muhammadiyah Makassar (Halaman 37-46)

Dokumen terkait