• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tinjauan Perlindungan Konsumen Dalam Ekonomi Islam

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

F. Tinjauan Perlindungan Konsumen Dalam Ekonomi Islam

Bentuk perlindungan secara tidak langsung yang diberikah oleh bank kepada nasabahnya adalah menerapkan prinsip kehati-hatian. Prinsip kehati- hatian tersebut mengharuskan pihak bank untuk selalu hati-hati dalam menjalankan kegiatan usahanya, dalam arti harus selalu konsisten dalam melaksanakan peraturan perundang-udangan bidang perbankan berdasarkan profesionalisme dan itikad baik.

2) Perlindungan Hukum Secara Langsung

Perlindungan hukum secara langsung yang diberikan kepada nasabah yaitu ada dua cara: hak prefen dan adanya lembaga asuransi deposito. Hak prefen adalah suatu hak yang diberikan kepada seorang kreditor untuk di dahulukan dari kreditor-kreditor yang lain. Maksudnya jika terjadi kebangkrutan pada bank, dalam hal ini bank wajib meneritahukan kepada nasabah penyimpan dana untuk memberikan resiko-resiko kemungkinan terjadinya kerugian bank.25

Undang-Undang No.10 tahun 1998 pasal 29 ayat (4) menyatakan untuk kepentingan nasabah, bank wajib menyediakan informasi mengenai kemungkinan terjadinya resiko kerugian sehubung dengan transaksi nasabah yang dilakukan melalui bank.

proses produksi selanjutnya. Dalam hukum ekonomi islam tidak membedakan antara pemakai akhir dengan pemakai medium.26

Perlindungan konsumen sebagai yang termuat dalam UUPK merupakan perlindungan yang berlaku secara umum meliputi segenap rakyat indonesia tanpa melihat agama yang dianutnya, adapun muatan UUPK diantaranya terkait hak dan kewajiban baik pelaku usaha, dianggap telah berkesesuaian sesuai dengan prinsip- prinsip islam. Namun demikian, mengingat bahwa mayoritas masyarkat indonesia adalah umat islam, maka diperlukan bentuk-bentuk perlindungan hukum lainnya yang khusus melindungi konsumen muslim.

Pengertian perlindungan konsumen dalam Ekonomi Islam adalah merupakan cara bagaimana ekonomi islam memenuhi kebutuhan konsumen (komunitas muslim) dalam mengonsumsi suatu jenis barang. Dalam konteks ini, bisa juga berarti bagaimana ekonomi islam mengatur produsen dalam kegiatan produksinya menyediakan kualitas barang yang dikonsumsi. Hal ini dilakukan melalui tindakan penerapan sifat pasar yang islami dan terkontrol.

Dengan demikian pengertian Perlindungan konsumen dalam ekonomi Islam dapat diartikan sebagai Sebuah gerakan yang terorganisir untuk melindungi kepentingan ekonomi semua kalangan konsumen (muslim dan non-muslim) yang dipraktekkan ke berbagai lembaga pemerintah dan non-pemerintah yang bertujuan untuk menjamin hak-hak konsumen sehubungan dengan barang dan jasa yang benar dan bermanfaat mencakup informasi yang diinginkan dan sesuai dengan legitimasi, tidak hanya perlindungan konsumen dalam pemasaran

26 Muhammad dan alimin, etika dan perlindungan konsumen ekonomi islam ( BPFE yogyakarta , 2005 )

barang dan jasa namun juga meluas ke tahap perlindungan konsumen dalam kegiatan produksi.

1. Landasan Hukum Perlindungan Konsumen Dalam Hukum Islam

Sumber hukum dalam Islam yang telah disepakati oleh para fuqaha ada 4, yaitu berdasarkan Al-Qur‟an, Sunnah, Ijma‟, dan Qiyas. Sumber-sumber hukum ini dijadikan sebagai acuan dalam pengambilan hukum perlindungan konsumen dalam Islam. AlQur‟an merupakan sumber hukum pertama (sumber primer) dalam ajaran Islam. Sunnah adalah sumber hukum kedua (sumber sekunder) setelah Al-quran, dan dapat dijadikan sumber hukum pertama (sumber primer) apabila tidak ditemukan penjelasan atas suatu masalah di dalam Al-Qur‟an.

Adapun ijma‟ adalah kesepakatan semua mujtahid dari kalangan umat Islam pada suatu masa, setelah wafatnya Rasulullah SAW atas suatu hukum syara‟ mengenai suatu kejadian maupun kasus27. Ijma‟ hanya ditetapkan setelah wafatnya Rasulullah SAW dan hanya dapat dijadikan sebagai sumber hukum apabila tidak ditemukan penjelasan atau norma-norma hukum di dalam Al-Qur‟an maupun sunnah mengenai nai suatu masalah atau kasus. Sedangkan qiyas adalah menghubungkan suatu kejadian yang tidak ada nash-nya kepada kejadian yang ada nash-nya, dalam hukum yang telah ditetapkan oleh nash.28 Qiyas ini merupakan metode dalam pengambilan hukum yang didasarkan pada illat-illat hukum yang terkandung di dalamnya.

2. Pembentukan Perlindungan Konsumen Dalam Ekonomi Islam

27 Mukhtar Yahya dan Fatchurrahman, Dasar-dasar Pembinaan Hukum Fiqh Islam, Bandung, Alma‟arif, 1986, Hlm. 58-59

28 Ibid, Hlm. 66

Pembentukan Perlindungan konsumen dalam Ekonomi Islam Perlindungan konsumen dalam ekonomi islam sudah sering disebut semenjak periode antara tahun 1 H sampai dengan tahun 40 H yang merupakan periode berdirinya Negara islam dan juga pembentukan basis legislative dimana di dalamnya diwujudkan prinsip – prinsip islam dalam semua urusan kehidupan dan tingkat budaya masyarakat dari waktu ke waktu. Pembentukan perlindungan konsumen ini didasarkan pada penjelasan dalam Al-Qur‟an dan al-hadist sebagai berikut:

a) Al-Quran

Pelaksanaan perekonomian dalam Islam sepenuhnya berdasarkan ajaranyang terkandung dalamAl-Quran,sunnah Rasul Saw, dan ajaran yang dilaksanakan para sahabat. Dengan adanya perlindungan hukum maka diharapkan kehidupan masyarakat akan lebih baik, aman, dan terhindar dari tindakan yangmerugikan. Terlepas dari hal yang tersebut di atas, yang tidak kalah pentingnya adalah untuk menjamin adanya kepastian hukum untuk memberikan perlindungan kepada konsumen.Tentu saja hal ini tidak lepas dari adanya kesadaran produsen(pelaku usaha) sehingga kedua belah pihak tidak saling dirugikan.

Allah SWT berfirman dalam Qs. Surah Al-Maidah Ayat 67:

َت ْىَن ٌِْئ َو ۖ َكِّب َس ٍِْي َكٍَْنِئ َل ِزَُْأ اَي ْغِّهَب ُلىُس َّشنا اَهٌَُّأ اٌَ

َتْغَّهَب اًََف ْمَعْف

ٌٍَ ِشِفاَكْنا َو ْىَمْنا يِذْهٌَ َلَ َ َّاللَّ ٌَِّئ ۗ ِساَُّنا ٍَِي َكًُ ِصْعٌَ ُ َّاللَّ َو ۚ ُهَتَناَس ِس

Terjemahnya :

Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dariTuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apayang diperintahkan itu,berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memeliharakamu dari (gangguan) manusia.Sesungguhnya Allah tidak memberipetunjuk kepada orang-orang yang kafir.(Qs. Al-Maidah: 67)

Ayat ini mengingatkan Rasul agar menyampaikan ajaran agama kepada Ahl-al-Kitab tanpa menghiraukan ancaman mereka, yang mana Allah berjanjimemelihara Rasul dari gangguan dan tipu daya orang-orang Yahudi danNasrani. Dengan kata lain Ayat ini berbicara tentang perlindungan yang diberikan Allah kepada mereka yang menyampaikan ajaran agama Allah, untuk merealisasikan kemashlahatan manusia dengan menjamin kebutuhan.

b) Hadist

Hadist Islam juga memiliki prinsip dalam hal melindungi kepentingan manusia,sebagaimana sabda Rasulullah yang menyatakan:

Dari Abu Sa‟idSa‟d bin Sinan al-Khudri ia berkata:

sesungguhnyaRasulullah SAW bersabda: “Tidak boleh melalukan perbuatan yangmemudharatkan dan tidak boleh membalas kemudharatan dengancara yang salah”.(HR. ibnu Majjah dan al-Daruqutni).

Maksud hadits di atas adalah sesama pihak yang berserikat hendaknya saling menjaga hak dan kewajiban masing-masing, sehingga tidak tejadinyakecurangan-kecurangan yang dapat mengakibatkan kerugian sebelah pihak yang melakukan perserikatan tersebut..29

29 Fathturrahman Djamil, Penerapan Hukum Perjanjian dalam Transasksi di Lembaga Keuangan Syariah, (Jakarta : Sinar Grafika, 2012)

Selain itu dalam lapangan ekonomi syariah (mu‟amalah) para ulama juga menggariskan rukun dan syarat akad. Rukun akan terdiri dari dari 4 pilar yaitu;

1. Kesepakatan Untuk Mengikatkan Diri (Shigat Al-’Aqdu), 2. Pihak-Pihak Yang Berakad (Al-Muta’aqqidin/Al-’Aqidi), 3. Objek Akad (Al-Ma’qud ’Alaih/Mahalu ’Al-Aqd), 4. Tujuan Akad (Maudhu’ Al’aqdu).

Sedangkan syarat akad meliputi pertama, syarat terjadinya akad (syurut al- in’iqad) berupa hal yang umum (‟am) dan khusus (khas) yang tidak bertentangan dengan aturan agama (syara‟). Kedua, syarat sah akad (syuruth al-shihhah) supaya terhindar dari dampak akad seperti ketidakjelasan spesifikasi jenis, harga dan tanggung jawab (al-jahalah), keterpaksaan (al-ikrah), pembatasan waktu (al- tauqit), ketidakjelasan atau fiktif (al-gharar), mudarat (al-dharar), permainan harga (syarthu al-fasid). Ketiga, syarat pelaksanaan akad (syuruth al-nafadz) meliputi aspek kepemilikan (al-milk) dan kekuasaan/kewenangan (al-wilayah). Keempat, kepastian hukum (syuruth al-luzum)30

30 Suyud Margono, et. al. , Kompilasi Hukum Ekonomi Syari’ah, (CV Novindo Pustaka Mandiri, 2009

29

Dokumen terkait