• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

2.1 Tinjauan Pustaka

Bab ini berisikan teori-teori yang digunakan dan menjadi landasan serta referensi dalam penulisan penelitian ini. Bab ini terdiri dari uraian serta definisi teori keagenan, kebijakan hutang, intensitas persediaan, intensitas aset tetap dan komite audit. Bab ini juga menguraikan pengembangan hipotesis dan perkembangan penelitian-penelitian sebelumnya mengenai pengaruh penerapan kebijakan hutang, intensitas persediaan dan intensitas aset tetap pada penghindaran pajak dengan komite audit sebagai variabel moderasi.

2.1.1 Teori Keagenan (Agency Theory)

Suatu hubungan atau kontrak antara prinsipal dan agen merupakan teori agensi menurut Anthony dan Govindrajan dalam Siagian (2011). Teori agensi diasumsikan kepentingan dari setiap individu yang menimbulkan konfik kepentingan antara principal dan agen. Seringkali terjadi pemisahan antara pengelola perusahaan (pihak manajemen, disebut juga sebagai agent) dengan pemilik perusahaan (atau pemegang saham, disebut juga sebagai principal).

Untuk perusahaan yang berbentuk Perseroan Terbatas (PT), tanggung jawab pemilik hanya terbatas pada modal yang disetorkan. Artinya, apabila perusahaan mengalami kebangkrutan, maka modal sendiri (ekuitas) yang telah disetorkan oleh para pemilik perusahaan mungkin sekali akan hilang, tetapi kekayaan pribadi pemilik tidak akan diikutsertakan untuk menutup kerugian

tersebut. Dengan demikian memungkinkan munculnya masalah-masalah keagenan (agency problem) (Nurfadilah dkk, 2016).

Manajemen merupakan pihak yang dikontrak oleh pemegang saham untuk bekerja demi kepentingan pemegang saham. Dalam situasi ini, kedua belah pihak antara prinsipal dan agen mempunyai tujuan untuk memaksimalkan nilai perusahaan dengan keyakinan agen selalu bertindak sesuai dengan kepentingan prinsipal. Menurut Godfrey et al. (2010) menyatakan bahwa masalah keagenan pada dasarnya menimbulkan biaya agensi. Biaya agensi yang timbul adalah sebagai biaya pemantauan terhadap agen. Biaya yang dikeluarkan oleh principal berupa biaya untuk mengukur, mengamati dan mengontrol perilaku agen.

Dalam penelitian ini, dapat dihubungkan kepentingan laba perusahaan antara pemungut pajak (fiskus) dengan pembayar pajak (manajemen perusahaan).

Fiskus berharap adanya pemasukan sebesar-besarnya dari pemungutan pajak, sementara dari pihak manajemen berpandangan bahwa perusahaan harus menghasilkan laba yang cukup signifikan dengan beban pajak yang rendah. Dua sudut pandang yang berbeda, antara fiskus sebagai pemungut pajak dan pihak manajemen perusahaan sebagai pembayar pajak ini yang menyebabkan konflik.

Putri dan Putra (2017) Agency conflict terbagi menjadi dua bentuk, yaitu:

1. Agency conflict antara pemegang saham dan manajer.

Konflik yang terjadi antara pemegang saham dan manajer adalah pembuatan keputusan yang berkaitan dengan aktivitas pencarian dana dan pembuatan keputusan yang berkaitan dengan bagaimana dana yang diperoleh tersebut diinvestasikan.

2. Agency conflict antara pemegang saham dan kreditor.

Terjadilah conflict of interest. Untuk meyakinkan bahwa manajer bekerja sungguh-sungguh untuk kepentingan pemegang saham, pemegang saham harus mengeluarkan biaya yang disebut agency cost yang meliputi antara lain:

pengeluaran untuk memonitor kegiatan-kegiatan manajer, pengeluaran untuk membuat suatu struktur organisasi yang meminimalkan tindakan-tindakan manajer yang tidak diinginkan, serta opportunity cost yang timbul akibat kondisi dimana manajer tidak dapat segera mengambil keputusan tanpa persetujuan pemegang saham (Nurfadilah dkk, 2016).

2.1.2 Pajak

Berdasarkan UU No. 28 tahun 2007 pasal 1 ayat (1) pengertian pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar- besarnya kemakmuran rakyat.

Dalam pasal 2 ayat (1) dan (2) UU No. 28 tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan disebutkan bahwa setiap wajib pajak yang telah memenuhi persyaratan subjektif dan objektif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan wajib mendaftarkan diri pada kantor Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan wajib pajak dan kepadanya diberikan Nomor Pokok Wajib Pajak.

Setiap wajib pajak sebagai pengusaha yang dikenai pajak berdasarkan Undang- Undang Pajak Pertambahan Nilai tahun 1984 dan perubahannya, wajib

melaporkan usahanya pada kantor Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan pengusaha, dan tempat kegiatan usaha dilakukan untuk dikukuhkan menjadi Pengusaha Kena Pajak Dasar perhitungan besar pajak yang harus dibayar oleh perusahaan adalah Penghasilan Kena Pajak yang dapat dilihat dalam laporan laba rugi yang telah disusun sesuai dengan peraturan dan ketentuan perpajakan.

2.1.3 Perencanaan Pajak (Tax Planning)

Sesungguhnya ada rasa tidak senang perusahaan untuk membayar pajak karena tidak mendapatkan imbalan langsung yang dapat memberikan keuntungan bagi pembayar pajak. Sehingga perusahaan akan meminimalkan, menghilangkan atau menunda kewajiban pajaknya yang terlibat dalam strategi perencanaan pajak yang agresif. Perencanaan pajak yang diperbolehkan dalam peraturan perpajakan dapat dilakukan dengan mengurangi beban pajak terutang.

Perencanaan pajak (tax planning) adalah bagian dari fungsi manajemen pajak yang meliputi proses pengumpulan dan penelitian terhadap peraturan perpajakan sehingga dapat diseleksi untuk menentukan jenis tindakan dan penghematan pajak yang akan dilakukan Rahman (2012); Purwanggono (2015).

2.1.4 Penghindaran Pajak (Tax Avoidance)

Penghindaran pajak umumnya dapat dibedakan dari penggelapan pajak (tax evasion), di mana penggelapan pajak terkait dengan penggunaan cara-cara yang melanggar hukum untuk mengurangi atau menghilangkan beban pajak sedangkan penghindaran pajak dilakukan secara “legal” dengan memanfaatkan celah (loopholes) yang terdapat dalam peraturan perpajakan yang ada untuk

menghindari pembayaran pajak, atau melakukan transaksi yang tidak memiliki tujuan selain untuk menghindari pajak ( www.pajak.go.id ).

Penghindaran pajak digunakan untuk menggambarkan pengaturan hukum atas urusan wajib pajak, sehingga dapat mengurangi kewajiban pajaknya.

Penghindaran pajak adalah melakukan tindakan meminimalkan kewajiban pajak dalam koridor hukum, sedangkan penggelapan pajak adalah melakukan tindakan ilegal untuk menghindari dari membayar pajak (Aumeerun et al., 2016). Dapat disimpulkan bahwa aktivitas penghindaran pajak merupakan aktivitas yang dilakukan untuk mengurangi kewajiban pajak yang harus dibayarnya dengan memanfaatkan celah-celah yang terdapat dalam hukum perpajakan, sehingga tetap dalam koridor hukum.

Model estimasi pengukuran penghindaran pajak dalam penelitian ini menggunakan model Cash Effective Tax Rate (CETR). Untuk menghitung CETR adalah dengan membagi pembayaran pajak dibagi dengan laba sebelum pajak pada laporan arus kas perusahaan. Model dikembangkan oleh Dyreng et al.

(2010), sebagai berikut :

2.1.5 Kebijakan Hutang

Menurut (I Gede Yoga Yudiana dan I Ketut Yadnyana, 2016) leverage adalah rasio yang menggambarkan hubungan antara utang terhadap modal, rasio ini dapat melihat seberapa jauh perusahaan dibiayai oleh utang atau pihak luar kemampuan perusahaan yang digambarkan pendanaan utang daripada saham.

Leverage perusahaan digunakan untuk pembayaran dividen agar dapat menjaga performa dan sinyal perusahaan bagi investor. Leverage digunakan perusahaan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban financial suatu perusahaan. Faktor hutang mempengaruhi kebijakan perusahaan dalam pembayaran dividen pada share holder (Indrima Faujimi, 2014). Faktor tersebut mencerminkan perusahaan dalam memenuhi seluruh kewajibannya yang ditunjukkan oleh beberapa bagian modal sendiri yang digunakan untuk membayar hutang. Formula yang digunakan dalam menghitung debt ratio (Kieso, 2013), yaitu:

2.1.6 Intensitas Persediaan

Inventory Intensity Ratio menunjukkan keefektifan dan keefisienan perusahaan untuk mengatur investasinya dalam persediaan yang direfleksikan dalam berapa kali persediaan itu diputar selama satu periode tertentu (Putri dan Lautania, 2016). Menurut Harahap (2009) rasio ini menggambarkan hubungan antara volume barang yang terjual dengan volume dari persediaan yang ada ditangan dan digunakan sebagai salah satu ukuran efisiensi perusahaan.

PSAK 14 NO.13 menyatakan adanya beberapa pemborosan yang timbul akibat tingginya tingkat persediaan dalam perusahaan dan akan menimbulkan tambahan beban bagi perusahaan. Biaya yang timbul meliputi biaya bahan, biaya tenaga kerja, biaya produksi, biaya penyimpanan, biaya administrasi dan umum, dan biaya penjualan. Biaya-biaya tersebut akan diakui sebagai biaya di luar

persediaan itu sendiri. Biaya-biaya tersebut nantinya akan mengurangi tingkat laba bersih perusahaan dan mengurangi beban pajak. Delgado et al., (2014) Inventory intensity ratio menggunakan formula sebagai berikut :

2.1.7 Intensitas Aset Tetap

Capital intensity dikaitkan dengan jumlah modal yang dimiliki perusahaan yang berupa aset tetap, sehingga capital intensity ratio diukur dengan berapa proporsi aset tetap dari total aset yang dimiliki perusahaan. Zarai (2013) menyebutkan bahwa rasio ini menggambarkan intensitas modal dari aktivitas yang dijalankan perusahaan.

Delgado et al. (2014) menyebutkan bahwa komposisi aset dapat memiliki efek yang jelas pada Effective Tax Rate, khususnya aset tetap yang memungkinkan perusahaan untuk memotong beban pajak yang berasal dari biaya penyusutan dari aset tetap setiap tahunnya. Bahwa perusahaan yang memiliki proporsi yang besar dalam aset tetap, cenderung memiliki tarif efektif pajak yang lebih rendah, karena perusahaan mendapatkan keuntungan dari depresiasi yang melekat pada aset tetap yang dapat mengurangi beban pajak perusahaan. Pengaruh perusahaan dalam membayar pajak juga dipengaruhi oleh Capital Intensity Ratio.

Rasio intensitas aset tetap diukur menggunakan rumus sebagai berikut:

2.1.8 Komite Audit

Tata kelola perusahaan (corporate governance) merupakan faktor kunci dalam meningkatkan nilai perusahaan, yang mana pada dasarnya menunjukkan bagaimana perusahaan dikelola, dipandu, dan dikendalikan; dan berkaitan dengan pengawasan, akuntabilitas, bimbingan, dan kontrol manajemen (Uwuigbe, 2014).

Komite audit juga berfungsi memberikan pandangan mengenai masalah yang berhubungan dengan kebijakan keuangan, akuntansi, dan pengendalian internal perusahaan (Diantari dan Ulupui, 2016). Terdapat lima asas GCG, yaitu transparansi, akuntanbilitas, responsibilitas, independensi serta kewajaran dan kesetaraan. Corporate governance sangat penting karena merupakan faktor dalam pengendalian perusahaan, sehingga aktivitas di dalam perusahaan dapat berjalan secara efektif sesuai dengan kebijakan dan peraturan yang berlaku.

Komite audit memegang peranan yang cukup penting dalam mewujudkan Good Corporate Governance (GCG) karena merupakan “mata” dan “telinga”

Dewan Komisaris dalam rangka mengawasi jalannya perusahaan (Effendi, 2016).

Komite Audit berperan membantu Dewan Komisaris untuk memastikan bahwa:

laporan keuangan disajikan secara wajar sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum, pelaksanaan audit internal dan eksternal sesuai dengan standar audit yang berlaku, struktur pengendalian internal perusahaan dilaksanakan dengan baik, dan tindak lanjut hasil audit dilaksanakan oleh manajemen.

Harus adanya penyesuaiannya antara jumlah anggota komite audit dengan kompleksitas perusahaan. Penyesuaiannya tersebut harus tetap memperhatikan efektifitas dalam pengambilan keputusan. Keberadaan komite audit yang

fungsinya untuk meningkatkan intregritas yang kredibilitas pelaporan keuangan agar dapat berjalan dengan baik. Jika semakin sedikit komite audit yang dimiliki oleh perusahaan maka pengendalian kebijakan keuangan yang dilakukan oleh komite audit sangat minim sehingga akan meningkatkan tindakan manajemen dalam melakukan pajak agresif.

Dokumen terkait