• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tinjauan Teori dan Konsep

Dalam dokumen Full Text - Admin Digital Library (Halaman 35-63)

BAB II KAJIAN PUSTAKA

B. Tinjauan Teori dan Konsep

Bagian ini akan membahas mengenai sejumlah teori tentang gerakan literasi yang digunakan sebagai referensi pendukung penelitian. Adapun teori tersebut meliputi pengertian literasi,

Defenisi Gerakan Literasi Sekolah (GLS), defenisi motivasi membaca upaya meningkatkan motivasi membaca siswa, tahapan gerakan literasi serta metode Gerakan Literasi Sekolah (GLS) terhadap motivasi membaca.

1.Budaya Literasi a.Pengertian Literasi.

Pada masa perkembangan awal, literasi diartikan sebagai kemampuan untuk mengungkapkan bahasa dan gambar dalam bentuk beragam keterampilan di antaranya : keterampilan membaca, keterampilan menulis, mendengarkan, dan keterampilan berbicara, hal yang membuat kita untuk menggali pemahaman dan berinteraksi dengan orang lain. Literasi adalah suatu proses yang menitiberatkan kepada pengembangan ilmu pengetahuan dan pemahaman literatur yang berfungsi untuk meningkatkan potensi masyarakat dalam berbagai keterampilan bahasa. Kegiatan literasi bukan hanya terfokus pada perkembangan bahasa tetapi perubahan teknologi akan mengarahkan perkembangan literasi.

Menurut Helda (2017:15), bahwa literasi merupakan suatu kontinju yang dinamis, yakni mulai dari kemampuan membaca, kemudian membaca dan menulis, berpikir kritis dan berbahasa lisan yang bergerak mengikuti zaman dan dimanfaatkan untuk belajar sepanjang hayat baik di rumah, ditempat kerja, maupun

dalam masyarakat. Hal ini senada dengan Yunus, Tita & Hana (2017:1), yang mengungkapkan secara singkat bahwa literasi adalah pemahaman tentang penggunaan bahasa dan gambar dalam bentuk yang kaya dan beragam keterampilan berbahasa serta mampu menyajikan dan mengembangkan suatu gagasan.

Literasi menurut Ken (dalam Zaini, 2018 : 25) adalah kemampuan menggunakan praktik kondisi sosial, dan historis, serta keberagaman budaya dalam menciptakan dan menerapkan makna melalui suatu bacaan. Menurut Ken, literasi membutuhkan sebuah kepekaan yang tak terungkap tentang hubungan antara konvensi tekstual dan konteks penggunaanya. Literasi merupakan serangkaian keterampilan berbahasa yang menitikberatkan pada kemampuan afektif, kognitif, psikomotorik, pengetahuan bahasa tulis dan lisan, serta kemampuan pengetahuan keberagaman budaya.

Hal ini dipertegas oleh Zaini (2018:27) yang menjelaskan bahwa literasi adalah (1) Kemampuan baca-tulis atau kemelekwacanaan, (2) Kemampuan mengintegrasikan antara menyimak, berbicara, membaca, menulis dan berpikir, (3) Kemampuan siap untuk digunakan dalam menguasai gagasan baru atau cara mempelajarinya, (4) Piranti kemampuan sebagai penunjang keberhasilannya dalam lingkungan akademik atau sosial, (5) Kemampuan performansi membaca dan menulis yang

selalu diperlukan, (6) Kompetensi seorang akademisi dalam memahami wacana secara profesional. Literasi adalah gambaran suatu kemampuan yang bersifat partisipatif dengan melibatkan warga sekolah (siswa, tenaga pendidik, kepala sekolah, pengawas tenaga kependidikan, Komite Sekolah, orang tua/wali murid peserta didik), akademis, penerbit, media massa, masyarakat, tokoh masyarakat yang dapat memberikan peranan terhadap kemajuan suatu pendidikan). (Eka, Mursalim & Akhmad, 2017:343).

Berdasarkan beberapa paparan pendapat di atas, peneliti memaknai bahwa kegiatan literasi adalah suatu kegiatan yang diterapkan di sekolah dasar yang kini sudah mulai membudaya.

Kegiatan literasi jika dilakukan dengan sebaik baiknya, bukan hanya dapat meningkatkan kemampuan membaca dan menulis para siswa, tetapi juga dapat meningkatkan berbagai aspek keterampilan berbahasa lainnya, seperti menyimak dan mendengarkan, serta dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

b.Komponen – Komponen Literasi

Sebagai bentuk pengembangan kegiatan literasi berbagai komponen yang dikembangkan di lingkungan sekolah seperti komponen literasi visual, digital dan uditori. Kegiatan literasi bukan sekedar pengembangan kegiatan membaca dan menulis, tetapi kegiatan literasi dapat dikembangkan dengan berbagai komponen.

Menurut Clay & Furgoson (dalam Agus, Supriyono, & Muharjito, 2018), bahwa komponen literasi terdapat enam bagian diantaranya :

1) Literasi Dini (Early Literacy)

Literasi dini adalah literasi yang mengembangkan kemampuan untuk menyimak, serta memahami bahasa lisan, dan berkomunikasi melalui gambar dan lisan yang dibentuk oleh pengalamannya berinteraksi dengan lingkungan sosialnya.

Pengalaman siswa dalam berkomunikasi dengan bahasa ibu menjadi fondasi perkembangan literasi dasar akan lebih baik.

2) Literasi Dasar (Basic Literacy)

Literasi Dasar adalah literasi yang mengembangkan kemampuan siswa terhadap aktivitas keterampilan berbahasa yang terkait dengan kemampuan analisis untuk memperhitungkan, mengapresiasikan sebuah informasi, mengomunikasikan, serta menggambarkan informasi berdasarkan pemahaman dan pengambilan suatu kesimpulan secara pribadi.

3) Literasi Perpustakaan (Library Literacy)

Literasi Perpustakaan adalah literasi yang mengembangkan kemampuan siswa terhadap pemahaman cara membedakan bacaan fiksi dan nonfiksi, memanfaatkan koleksi referensi dan periodikal, memahami Dewey Decimal

sebagai klasifikasi, serta memahami penggunaan dan pengindeksan, hingga memiliki pengetahuan dalam memahami informasi.

4) Literasi Media

Literasi Media adalah literasi yang mengembangkan kemampuan siswa untuk memahami berbagai bentuk media yang berbeda, seperti media cetak, media radio, media televisi, media internet dan memahami tujuan dan dapat menggunakan media tersebut.

5) Literasi Teknologi

Literasi teknologi adalah literasi yang mengembangkan pemahaman terhadap kelengkapan yang mengikuti teknologi seperti hardware, peranti lunak , serta etika dan etiket terhadap pemanfaatan teknologi. sehingga, dapat mengembangkan kemampuan terhadap penggunaan teknologi yang baik dalam mengelola informasi dan komunikasi yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

6) Literasi Visual

Literasi Visual adalah literasi yang mengembangkan kemampuan dan kebutuhan belajar siswa terhadap manfaat materi visual dan audio visual secara kritis dan bermartabat.

materi visual yang tidak terbendung, baik dalam bentuk cetak, auditori, maupun digital, perlu dikelola dengan baik dan efektif agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat

c.Arah Pembelajaran Literasi.

Seiring dengan perkembangan teknologi dan kemajuan zaman pembelajaran, literasi pun kini sudah menjadi kebutuhan para siswa di sekolah. Jika pada sebelumya pembelajaran literasi difokuskan pada penguasaan fonem dan morfen, namun pembelajaran literasi kini diarahkan pada proses membaca, proses menulis, dan konsep analisis wacana tertulis. Dalam Literacy Strategi, Wray (dalam Yunus, Tita & Hana, 2017:23) mengungkapkan bahwa pembelajaran literasi ditujukan agar siswa mampu mencapai kompetensi-kompetensi sebagai berikut :

1) Meningkatkan rasa percaya diri, dan mampu mengembangkan pemahaman terhadap empat aspek keterampilan berbahasa khususnya pada kegiatan membaca dan menulis.

2) Memilih pada berbagai jenis buku, bahan bacaan, mengevaluasi, dan memberikan penilaian terhadap bacaan yang dibaca.

3) Memberikan pemahaman berbagai jenis fiksi dan puisi.

4) Memberikan pemahaman dan mengabrasi struktur dasar narasi.

5) Memberikan pemahaman dan menggunakan berbagai teks non fiksi

6) Menggunakan berbagai macam petunjuk baca (fonik, grafis, sintaksis, dan konteks) untuk mengoreksi dan mengevaluasi kegiatan membaca secara mandiri.

7) Membuat rancangan, menyusun draf, mergedit tulisan dan merevisi suatu tulisan, secara mandiri.

8) Memiliki hubungan kata dan makna, serta secara aktif mengembangkan kosakata menjadi sebuah struktur kalimat.

9) Memberikan pemahaman suatu sistem bunyi dan ejaan, serta menggunakannya dan membaca secara baik dan tepat.

10) Mengembangkan sebuah karya serta dapat menulis suatu tulisan yang bermakna.

2.Konsep Gerakan Literasi Sekolah (GLS) a.Defenisi Gerakan Literasi Sekolah (GLS)

Konten Gerakan Literasi yang tertuang dalam panduan Direktorat Jenderal Pendidikan dan Kebudayaan 2015, bahwa konten Gerakan Literasi Sekolah adalah kemampuan mamahami, mengungkapkan serta menggunakan sesuatu secara tepat, melalui berbagai aktivitas keterampilan berbahasa, antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis dan berbicara. Gerakan Literasi Sekolah adalah suatu usaha yang dilaksanakan dengan tujuan untuk menjadikan sekolah sebagai suatu kesatuan yang mengembangkan kegiatan pembelajaran dalam hal peningkatan mutu pendidikan dan peningkatan prestasi belajar siswa.

Pemahaman tentang GLS diungkapkan beberapa pakar pendidikan, misalnya menurut Suyono dan Titik (dalam Prastika, 2019 : 6), bahwa gerakan literasi adalah kemampuan dengan melakukan kegiatan membaca, berfikir dan menulis yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan memahami informasi secara kreatif, kritis dan reflektif. Gerakan Literasi Sekolah merupakan salah satu program Kemendikbud RI. Program ini dicetuskan oleh mantan Mendikbud RI Anies Baswedan. Program ini lahir untuk memperkuat Permendikbud RI Nomor 23 Tahun 2015 Tentang Penumbuhan Budi Pekerti yang salah satunya adalah upaya penumbuhan budaya literasi pada siswa dengan kegiatan membaca buku non pelajaran selama 15 menit sebelum pembelajaran dimulai.

Sejalan dengan perkembangan dan kemajuan zaman, pengembangan kemampuan literasi siswa di sekolah dasar mengalami pergeseran paradigma. Menurut Yunus, Tita, & Hana (2017:2) bahwa ada empat kompetensi multiliterasi yang harus dikuasai siswa agar ia mampu berperan aktif dalam abad -21 ini.

Keempat kompetensi yang harus dimiliki seorang siswa diantarannya adalah kemampaun membaca, pemahan yang tinggi, kemampuan menulis yang baik dan makna, kemampuan berbicara secara akuntabel serta kemampuan menguasai berbagai media digital yang berpengaruh.

Selanjutnya menurut Wierdarti & Laksono (dalam Prastika, 2019:5) menyatakan bahwa gerakan literasi adalah suatu upaya memberikan pemahaman dan menggunakan sesuatu secara tepat dengan berbagai aktivitas keterampilan berbahasa.

Secara konsep, literasi dapat diartikan sebagai kemampuan membaca dan menulis, yang mencakup keterampilan berbahasa lainnya serta dapat berpikir dengan menggunakan sumber pengetahuan. Pendapat ini dipertegas oleh Agus, Supriyono & Muhardjito (2018 : 81) bahwa Gerakan Literasi Sekolah adalah gerakan sekolah yang memberikan kenyamanan serta ramah pada anak dimana semua warganya menunjukkan rasa sosial, empati, kepedulian, semangat ingin tahu dan cinta pada ilmu pengetahuan dan lingkungan.

Berdasarkan beberapa pendapat para ahli di atas, maka penulis menyimpulkan bahwa GLS adalah suatu kegiatan yang mendorong seseorang untuk meningkatkan potensi melalui kegiatan yang dapat meningkatkan daya kreatif, inovatif, dan efektif melalui kegiatan pengembangan sikap sosial, spiritual, pengetahuan dan keterampilan pada siswa.

b.Tujuan Pembelajaran Literasi

Gerakan Literasi Sekolah mempunyai dua tujuan, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan Umum GLS yaitu meningkatkan nilai-nilai budi pekerti siswa dengan pembudayaan

komunitas literasi sekolah agar siswa menjadi pembelajar sepanjang hayat. Sedangkan tujuan khusus GLS, yaitu: (1) Mengembangkan budaya literasi di sekolah dasar, (2) Upaya meningkatkan kapasitas warga dan lingkungan sekolah dasar yang berbudaya literasi, (3) Mewujudkan lingkungan sekolah sebagai taman belajar yang memberikan kenyamanan terhadap siswa agar warga sekolah mampu mengembangkan ilmu pengetahuan, (4) Menjadikan pembelajaran dengan menghadirkan beragam buku bacaan (baik buku fiksi maupun non fiksi) dan mewadahi berbagai strategi terhadap kegiatan membaca (Dirjen Dikdasmen, 2016).

Menurut Agus, Supriyono, & Muharjito (2018 : 81) tujuan adanya GLS adalah:

1) Mengembangkan budaya literasi membaca siswa di sekolah dasar.

2) Mewujudkan peningkatan kapasitas warga dan lingkungan sekolah agar berbudaya literasi.

3) Mewujudkan lingkungan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan dan ramah, agar warga sekolah mampu mengelola pengetahuan dan mencintai lingkungan.

4) Menjadikan pembelajaran dengan menghadirkan beragam sarana bacaan dan berbagai strategi membaca.

c. Prinsip-Prinsip Literasi.

Penerapan budaya literasi di sekolah perlu mendapat perhatian, baik dari pihak pemerintah, pengawas sekolah, kepala sekolah, komite sekolah, orang tua siswa, guru pegawai perpustakaan dan siswa, sehingga untuk mewujudkan penerapan kegiatan literasi yang dapat meningkatkan minat membaca dan menulis pada siswa maka, perlu penerapan prinsip-prinsip literasi.

Terkait penerapan, menurut Shiva (2019 : 5 ), Literasi memiliki prinsip sebagai berikut: 1) Kesesuaian prediksi terhadap tahap perkembangan literasi. 2) Adanya keseimbangan terhadap program literasi. Sekolah yang menerapkan program literasi harus seimbang karena setiap siswa memiliki kebutuhan yang berbeda- beda. 3) Program literasi merupakan tanggung jawab semua tenaga kependidikan.

Gerakan Literasi Sekolah yang digagas oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, menurut pendapat Beers (dalam Yunus, Tita & Hana, 2017:280), memberikan pemahaman bahwa dalam upaya meningkatkan kegiatan literasi di sekolah dasar terdapat beberapa prinsip yang menekankan pada kegiatan sebagai berikut :

1) Perkembangan literasi berjalan sesuai dengan tahap perkembangan yang dapat diprediksi, tahap perkembangan anak dalam belajar membaca dan menulis saling beririsan

antara tahap perkembangan. Memahami tahap perkembangan literasi siswa dapat membantu sekolah untuk memilih pembiasaan dan pembelajaran literasi sekolah yang tepat sesuai dengan tahap perkembangan siswa.

2) Program literasi yang baik dan bersifat berimbang, Sekolah merupakan tempat pelaksanaan program literasi, rana kegiatan membaca dan menulis perlu divariasikan, serta disesuaikan oleh sebab itu sesuaikan dengan tingkat dan jenjang pendidikan .

3) Program literasi terintegrasi dengan kurikulum, kegiatan literasi di sekolah adalah tanggung jawab semua kalangan pendidikan baik dari kepala sekolah, guru, komite maupun dari kalangan masyarakat. Dengan demikian pengembangan profesionalisme guru dalam kegiatan literasi menjadi tanggung jawab bersama.

4) Kegiatan literasi dapat dilakukan dengan kapan pun, kegiatan literasi tidak terfokus pada kegiatan membaca dan menulis saja, tetapi berbagai potensi yang dapat dilibatkan dalam pengembangan Gerakan Literasi Sekolah.

5) Kegiatan berbasis literasi yang kuat diharapkan dapat memberikan berbagai kegiatan lisan berupa diskusi tentang buku pelajaran sehingga dapat mengembangkan budaya literat di sekolah.

6) Kegiatan literasi perlu mengembangkan kesadaran terhadap keberagaman, warga sekolah merupakan salah satu pengembang literasi di lingkungan sekolah.

d. Tahap Gerakan Literasi di Sekolah Dasar.

Menurut Nindya (2017:23) Literasi sekolah adalah upaya untuk meningkatkan minat membaca siswa dengan cara meningkatkan pelayanan perpustakaan sekolah. Dalam pelaksanaan kegiatan GLS ini dapat dilihat dari kedisiplinan siswa, Gerakan literasi di sekolah dasar dilaksanakan. Berdasarkan buku panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Dasar.

Menurut Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pelaksanaan program Gerakan Literasi Sekolah meliputi: pertama, pada tahap pembiasaan, mempunyai tujuan untuk meningkatkan motivasi peserta didik terhadap bahan bacaan . Kedua, pada tahap pengembangan, Tujuan pada tahap ini adalah untuk mempertahankan minat siswa terhadap bahan bacaan, serta meningkatkan motivasi dan pemahaman membaca peserta didik.

Kegiatan yang dilakukan meliputi empat keterampilan berbahasa (membaca, menulis, mendengarkan dan berbicara). Ketiga tahap pembelajaran, pada tahap ini bertujuan untuk mempertahankan motivasi siswa terhadap bahan bacaan, serta dapat meningkatkan kecakapan literasi siswa, melalui bahan bacaan dan buku teks

pelajaran. Kegiatan literasi pada tahap pembelajara mempunyai tujuan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa secara reseptif serta pengembangannya terhadap empat aspek keterampilan berbahasa. Kementerian pendidikan dan kebudayaan. (Yunus,Tita,& Hana, 2017:282) menjelaskan bahwa fokus kegiatan dalam tahap literasi sekolah sebagai berikut:

Tahap Pertama, yaitu belum ada tagihan program kegiatan literasi pada tahap ini, meliputi:

1) Membaca lima belas menit setiap hari sebelum jam pelajaran.

Dengan kegiatan membacakan buku dengan nyaring (jenis buku fiksi atau non fiksi yang diterapkan pada seluruh warga sekolah .

2) Menciptakan lingkungan fisik sekolah yang berbudaya literasi antara lain

a) Menyediakan sarana perpustakaan sekolah,pojok baca, taman baca dan area taman baca.

b) Menyediakan sarana dan prasarana seperti penyediaan taman baca, perpustakaan mini, kantin sekolah, kebun sekolah.

c) Menyediakan koleksi buku teks fiksi dan non fiksi serta menyediakan akses digital maupun multi modal yang mudah diakses oleh warga sekolah.

Tahap kedua, yaitu Pengembangan (Ada tagihan sederhana untuk penilaian non akademik) pada tahap ini kegiatan literasi meliputi:

1) Membaca lima belas menit setiap hari sebelum jam pelajaran dan diakhir pembelajaran, melalui kegiatan membacakan buku dengan nyaring, membaca dalam hati, membaca terbimbing, membaca bersama, dan atau membaca terpadu diikuti kegiatan lain dengan tagihan non akademik, contoh: membuat peta cerita (stry map), menggunakan graphic organizers, dan bincang buku.

2) Pengembangan lingkungan fisik, sosial, dan afektif sekolah yang kaya literasi serta menciptaka ekosistem sekolah yang menghargai keterbukaan dan kegemaran terhadap pengetahuan dengan berbagai kegiatan antara lain: (a) Memberikan penghargaan kepada capaian perilaku positif, kepedulian sosial, dan semangat belajar siswa. Penghargaan ini dapat dilakukan pada setiap upacara bendera pada hari senin dan/atau peringatan lain, (b) kegiatan akademik yang mendukung terciptanya budaya literasi diantaranya mengujungi perpustakaan daerah, melakukan darma wisata, mengadakan pemeran hasta karya berupa karya tulis.

3) Mengembangkan kegiatan literasi melalui berbagai kegiatan, diataranya menyediakan taman bacaan, majalah dinding serta

pojok baca kelas dengan berbagai kegaiatan antara lain: (a) Membacakan buku fiksi dan non fiksi, membaca bersama, membaca terpadu, menontong film pendek, dan memajang hasil karya, (b) siswa merespon teks, fiksi dan non fiksi, melalui beberapa kegiatan sederhana seperti menggambar, membuat peta konsep, berdiskusi, dan berbincang tentang buku.

Tahap Ketiga, yaitu Pembelajaran (Ada tagihan akademik), pada tahap ini kegiatan literasi meliputi :

1) Membaca Lima belas menit setiap hari sebelum jam pelajaran dan setelah pelajaran diakhiri melalui kegiatan membacakan buku dengan nyaring, membaca bersama, membaca terbimbing dan membaca terpadu diikuti kegiatan lain dengan tagihan non akademik dan akademik.

2) Budaya literasi dalam pembelajaran, disesuaikan dengan kegiatan akademik yang mengarah pada kurikulum 2013.

3) Pelaksanaan berbagai metode pengajaran untuk memahami materi dalam semua mata pelajaran.

4) Penggunaan lingkungan sosial secara afektif dan akademik disertai beragam bacaan yang kaya literasi seperti penggunaan buku teks pelajaran untuk memperkaya pengetahuan.

e. Membangun Budaya Literasi Sekolah (GLS)

Sekolah adalah merupakan sentral dari pelaksanaan budaya literasi, pemahaman budaya literasi kepada warga

sekolah adalah merupakan tanggung jawab kita bersama, beberapa strategi budaya literasi yang baik di sekolah, strategi tersebut antara lain :

1) Menciptakan lingkungan yang nyaman.

Lingkungan fisik adalah salah satu faktor pendukung yang dapat menumbuhkan budaya literasi pada anak, dengan kondisi lingkungan yang menyenangkan akan memberikan motivasi pada anak, lingkungan tersebut dapat di bangun dengan memberikan kenyamanan pada anak. Hal ini dapat kita lakukan dengan kegiatan sebagai berikut menyediakan taman baca, menyediakan perpustakaan, pojok literasi serta pemajangan majalah dinding, taman baca yang menyenangkan akan menarik perhatian siswa untuk gemar melakukan kegiatan membaca. Selain itu pemajangan majalah dinding akan memberikan ruang gerak kepada siswa untuk selalu berkarya seperti: menulis puisi, menulis karya ilmiah, menulis pantun serta karya sastra lainnya.

2) Menyediakan buku bacaan yang menarik

Jenis bacaan yang disediakan adalah salah satu faktor yang dapat meningkatkan budaya literasi dengan penyediaan buku bacaan yang menarik akan mempengaruhi upaya meningkatkan budaya literasi dalam hal kegiatan membaca dan menulis. Seperti penyediaan buku fiksi dan non fiksi, buku

seperti ini akan memberikan pengaruh kepada siswa untuk melakukan kegiatan membaca, penyediaan buku yang beragam akan membantu siswa dalam meningkatkan pengetahuannya, salah satu yang dapat menarik minat baca siswa adalah penyediaan buku berseri, buku cerita komik dan buku dongeng dll, buku-buku inilah yang paling banyak digemari siswa ketika jam wajib baca di sekolah.

3) Memberikan Motivasi Kepada Siswa

Memberikan dorongan kepada siswa tidaklah dilaksanakan dengan mudah, berbagai cara yang harus kita lakukan sebagai seorang guru akar dapat menarik minat baca siswa salah satu diantaranya adalah memberikan reward atau hadiah kepada siswa, hadiah yang diberikan dapat berwujud benda benda, salah satu contoh kegiatan yang dapat diberikan penghargaan adalah ketika seorang anak mampu menulis puisi dan memajang hasil karyannya di majalah dinding, seorang anak mampu membaca puisi di depan temannnya akan mendapat penghargaan. Kegiatan - kegiatan seperti inilah yang dapat memberikan motivasi kepada siswa yang nantinya akan memberi pengaruh kepada siswa dalam menanamkan budaya literasi.

3.Kegiatan Literasi untuk Meningkatkan Motivasi Membaca a. Defenisi Motivasi Membaca

Dalam konsep yang dipaparkan oleh Gamrell (dalam Nuur 2019:48), menyatakan bahwa Motivasi membaca merupakan dorongan seseorang untuk membaca, khususnya membaca bacaan yang termasuk pada bidang ilmu pengetahuan. Hal ini dipertegas oleh Nuur yang menyatakan bahwa motivasi membaca merupakan suatu dorongan yang muncul pada individu untuk membaca dan memilih bacaan apa yang akan mereka baca berdasarkan keinginan dan kesadaran mereka sendiri. (Nuur,AL, 2019:48).

Selanjutnya, seorang pakar ahli mendefinisikan motivasi membaca sebagai keinginan siswa untuk membaca dan bagaimana mereka berpikir bahwa mereka adalah seorang pembaca Chen (dalam Nuur 2019 : 48). Pendapat ini, dipertegas oleh Guthrie & Wigfield (dalam Nuur 2019:48) yang memandang bahwa motivasi membaca sebagai tujuan dan keyakinan yang dimiliki seseorang untuk membaca. Motivasi membaca juga didefinisikan sebagai konsep diri seseorang dan nilai yang ada pada seseorang untuk membaca. Tercanlioglu (dalam Nuur 2019:48).

Berdasarkan paparan pendapat, dari para ahli bahasa maka peneliti berkesimpulan bahwa motivasi membaca adalah

suatu kesadaran yang dimiliki seseorang dengan melakukan suatu aktivitas yang apabila dilakukan secara berkesinambungan dapat termotivasi untuk memahami dan mengatahui arti dalam suatu tulisan.

b. Tujuan Motivasi Membaca .

Membaca umumnya dipahami sebagai kegiatan untuk menambah pengetahuan, juga sebagai sebuah metode transformasi ilmu pengetahuan. Menurut Zomratus (2015:31) tujuan umum motivasi membaca dapat diuraikan sebagai berikut:

1) Mewujudkan suatu sistem penumbuhan dan pengembangan nilai ilmu yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

2) Mengembangkan masyarakat baca (reading society) lewat pelayanan perpustakaan dengan penekanan pada penciptaan lingkungan baca untuk semua jenis bacaan pada semua lapisan masyarakat.

Selain itu, tujuan motivasi membaca lainnya yaitu : 1) Untuk menciptakan masyarakat membaca (reading society) 2) Masyarakat belajar yang di tandai dengan tercipta Sumber

Daya Manusia (SDM) yang berkualitas sebagai piranti pembangunan nasional menuju masyarakat madani.

c. Manfaat Membaca.

Membaca adalah bagian dari kegiatan literasi yang memiliki manfaat praktis sebagai proses transfer ilmu juga

informasi. Sedangkan manfaat membaca menurut Shiva (2019 : 4) dapat dijadikan sebagai bentuk budaya di sekolah diantaranya : 1) Dengan membaca, kita bisa mendapatkan informasi dan pengetahuan. Misalnya dari media cetak seperti, membaca Koran atau majalah. Selain itu apabila kita membaca Cerpen, novel kita juga dapat mengambil manfaat budaya literasi sebagai sebuah hiburan.2) Membaca juga mampu memenuhi tuntutan pengetahuan dalam meningkatkan minat terhadap suatu bidang, dan mampu meningkatkan konsentrasi.

d. Upaya Meningkatkan Motivasi Membaca Siswa.

Meningkatkan motivasi membaca pada siswa adalah tanggung jawab dari berbagai kalangan masyarakat, dalam hal ini semua pihak harus mempunyai peran terhadap upaya meningkatkan motivasi membaca termasuk pemerintah, guru, kepala sekolah, komite, orang tua dan masyarakat. Menurut Suharmono (2015:89-91), untuk meningkatkan motivasi membaca pada siswa ada beberapa faktor yang harus diperhatikan, diantaranya : 1) Lingkungan rumah dan keluarga adalah orang yang paling dekat dengan anak, sebagian besar waktu mereka ada dilingkungan rumah, menciptakan suasana yang nyaman akan mempengaruhi tingkat perkembangan anak, banyak hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan motivasi membaca di lingkungan rumah seperti : membaca dongeng, membaca buku

Dalam dokumen Full Text - Admin Digital Library (Halaman 35-63)

Dokumen terkait