BAB II TINJAUAN PUSTAKA
B. Tinjauan Teori
Upaya dalam kamus besar bahasa Indonesia KBBI yaitu ikhtiar untuk mencapai suatu maksud, memecahkan persoalan, mencari jalan keluar, dan sebagainya. Sehingga kata upaya sangat dibutuhkan untuk mencapai tujuan atau maksut dalam suatu lembaga yang bergerak dalam ruang lingkup ekonomi, politik, keagaamaan, dan masih banyak lagi.
2. Media sosial
a. Pengertian media sosial
Kehadiran media dengan segala kelebihannya telah menjadi bagian hidup manusia. Perkembangan zaman menghasilkan beragam media, salah satunya media sosial. Media sosial merupakan media di internet yang memungkinkan pengguna untuk mewakilkan dirinya maupun berinteraksi, bekerja sama, berbagi, berkomunikasi dengan pengguna lain, dan membentuk ikatan sosial secara virtual.
Media sosial merupakan media digital tempat realitas sosial terjadi dan ruang- waktu para penggunanya berinteraksi. Nilai-nilai yang ada di masyarakat maupun komunitas juga muncul bisa dalam bentuk yang sama atau berbeda di internet.
Pada dasarnya, beberapa ahli yang meneliti internet melihat bahwa media sosial di internet adalah gambaran apa yang terjadi di dunia nyata, seperti plagiarisme . Selain pernyataan diatas, berikut ini adalah definisi dari media sosial yang berasal dari berbagai literatur penelitian:
10 Andi hidayat dkk, analisis pertumbuhan zakat pada apalikasi zakat online dompet duafa,ekonomi islam(2020), h. 8.
1) “Menurut Mandibergh , media sosial adalah media yang mewadahi kerja sama di antara pengguna yang menghasilkan konten (user generated content).”
2) “Menurut Shirky , media sosial dan perangkat lunak sosial merupakan alat untuk meningkatkan kemampuan pengguna untuk berbagai (to share), bekerja sama (to co-operate) di antara pengguna dan melakukan tindakan secara kolektif yang semuanya berada diluar kerangka institusional maupun organisai.”
3) “Boyd , menjelaskan media sosial sebagai kumpulan perangkat lunak yang memungkinkan individu maupun komunitas untuk berkumpul, berbagi, berkomunikasi dan dalam kasus tertentu saling berkolaborasi atau bermain.
Media sosial memiliki kekuatan pada user generated content (UGC) dimana konten dihasilkan oleh pengguna, bukan oleh editor sebagaimana di institusi media massa.”
4) “Menurut Van Dijk , media sosial adalah platform media yang memfokuskan pada eksistensi pengguna yang memfasilitasi mereka dalam beraktivitas maupun berkolaborasi. Karena itu, media sosial dapat dilihat sebagai medium (fasilitator) online yang menguatkan hubungan antarpengguna sekaligus sebagai sebuah ikatan sosial.”
5) “Meike dan Young , mengartikan media sosial sebagai konvergensi antara komunikasi personal dalam arti saling berbagi di antara individu (to be shared one to one) dan media publik untuk berbagi kepada siapa saja tanpa ada kekhususan individu.”
6) “Sedangkan menurut peneliti, media sosial merupakan sebuah media online dimana setiap penggunanya bisa bebas untuk saling berbagi atau berpartisipasi baik itu informasi maupun hiburan yang mampu mendukung adanya interaksi
sosial.”
b.
Karakteristik Media SosialMedia sosial memliki beberapa karakter yang tidak dimiliki oleh beberapa jenis media lainnya. Ada batasan maupun ciri khusus yang hanya dimiliki oleh media social. Berikut beberapa karakteristik media sosial yaitu:
1) Jaringan
Media sosial terbangun dari struktur sosial yang terbentuk dalam jaringan atau internet. Karakter media sosial adalah membentuk jaringan diantara
penggunanya sehinga kehadiran media sosial memberikan media bagi pengguna untuk terhubung secara mekanisme teknologi.
2) Informasi
Informasi menjadi hal yang penting dari media sosial karena dalam media sosial terdapat aktifitas memproduksi konten hingga interaksi yang berdasarkan informasi.
3) Arsip
Bagi pengguna media sosial arsip merupakan sebuah karakter yang menjelaskan bahwa informasi telah tersimpan dan bisa diakses kapanpun dan melalui perangkat apapun.
4) Interaksi
Karakter dasar dari media sosial adalah terbentuknya jaringan antar pengguna. Fungsinya tidak sekedar memperluas hubungan pertemanan maupun memperbanyak pengikut di internet. Bentuk sederhana yang terjadi di media sosial dapat berupa memberi komentar dan lain sebagaiannya.
5) Simulasi Sosial
Media sosial memiliki karakter sebagai media berlangsungnya masyarakat
di dunia virtual (maya). Ibarat sebuah Negara, media sosial juga memiliki aturan dan etika bagi para penggunanya. Interaksi yang terjadi di media sosial mampu menggambarkan realitas yang terjadi akan tetapi interaksi yang terjadi adalah simulasi yang terkadang berbeda sama sekali.
6) Konten oleh Pengguna
Karakteristik ini menunjukan bahwa konten dalam media sosial sepenuhnya milik dan juga berdasarkan pengguna maupun pemilik akun. Konten oleh pengguna ini menandakan bahwa di media sosial khalayak tidak hanya memproduksi konten mereka sendiri melainkan juga mengonsumsi konten yang diproduksi oleh pengguna lain.
7) Penyebaran
Penyebaran adalah karakter lain dari media sosial, tidak hanya menghasilkan dan mengonsumsi konten tetapi juga aktif menyebarkan sekaligus mengembangkan konten oleh penggunanya.
c. Fungsi Media Sosial
Media sosial adalah salah satu contoh dari sebuah media berbasis online dengan memiliki banyak pengguna yang tersebar hingga ke seluruh penjuru dunia.
Media sosial umumnya dimanfaatkan untuk saling berbagi dan berpartisipasi. Tak jarang, media sosial juga digunakan sebagai sarana untuk melakukan interaksi sosial. Hal ini dikarenakan kemudahan dalam mengakses sosial media yang dapat dilakukan kapan pun dan dimana pun. Selain pernyataan diatas, berikut adalah beberapa fungsi media sosial lainnya :
1) Mencari berita, informasi dan pengetahuan
Media sosial berisi jutaan berita, informasi dan juga pengetahuan hingga kabar terkini yang malah penyebaran hal-hal tersebut lebih cepat sampai kepada
khalayak melalui media sosial dari pada media lainnya seperti televisi.
2) Mendapatkan hiburan
Kondisi seseorang atau perasaan seseorang tidak selamanya dalam keadaan yang baik, yang ceria, yang tanpa tanpa ada masalah, setiap orang tentu merasakan sedih, stress, hingga kejenuhan terhadap suatu hal. Salah satu hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi segala perasaan yang bersifat negarif tersebut adalah dengan mecari hiburan dengan bermain media sosial.
3) Komunikasi online
Mudahnya mengakses media sosial dimanfaat oleh para penggunanya untuk bisa melakukan komunikasi secara online, seperti chating, membagikan status, memberitahukan kabar hingga menyebarkan undangan. Bahkan bagi pengguna yang sudah terbiasa, komunikasi secara online dinilai lebih efektif dan efisien.
4) Menggerakan masyarakat
Adanya permasalah-permasalah kompleks seperti dalam hal politik, pemerintahan hingga suku, agama, ras dan budaya (SARA), mampu mengundang banyak tanggapan dari khalayak. Salah satu upaya untuk menanggapi berbagai masalah tersebut adalah dengan memberikan kritikan, saran, celaan hingga pembelaan melalui media sosial.
5. Sarana berbagi
Media sosial sering dijadikan sebagai sarana untuk berbagi informasi yang bermanfaat bagi banyak orang, dari satu orang ke banyak orang lainnya. Dengan membagikan informasi tersebut, maka diharapkan banyak pihak yang mengetahui tentang informasi tersebut, baik dalam skala nasional.
3. Kesadaran masyarakat
a. Pengertian kesadaran masyarakat
Dalam kamus besar indonesia(KBBI) berasal dari kata sadar berarti insaf, merasa, tahu, dan mengerti, sementara kesadaran ialah keinsafan, kedaaan mengerti akan hal yang dirasakan atau dialami seseorang.11 Kesadaran adalah tingkat psikologi seseorang dalam mengenali, memahami serta menyikapi peristiwa-peristiwa yang terjadi, baik peristiwa yang dilingkungannya maupun peristiwa yang terjadi didalam dirinya. Kesadaran adalah kesiagaan seseorang terdahap peristiwa-peristiwa dilingkungannya seperto pemandangan dan suara-suara dilingkungan sekitarnya, serta peristiwa-peristiwa kognitif yang meliputi memori, pikiran, perasaan dan sensasi fisik. Setiap manusia memiliki tingkat kesadaran berbeda-beda, tingkat kesadaran bisa timbul secara naluria maupun karena pengaruh dari luar diri.
Sadar juga merupakan sikap atau perilaku mengetahui yang patuh pada peraturan dan ketentuan perundangan yang ada juga merupakan sikap mengetahui, mengerti dan patuh pada adat istiadat dan kebebasan yang hidup dalam masyarakat.
Maka kesadaran ialah mengerti dan mengetahui tidak hanya sekedar berdasarkan peraturan dan ketentuan, tetapi juga mengerti dan mengetahui atas dasar adat, kebiasaan, dan norma dalam masyarakat.12
Masyarakat merupakan kelompok-kelompok dengan realitas-realitas baru yang berkembang menurut hukum-hukumnya sendiri. Masyarakat dapat membentuk kepribadian yang khas bagi manusia, sehingga tanpa adanya kelompok manusia tidak akan mampu untuk dapat berbuat banyak dalam kehidupannya.13
11 Departemen Pendidikan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta : Balai Pustaka, 2005).
h. 12.
12Yuzi Zikriyah, ‘Pengaruh Tingkat Kesadaran Masyarakat Kelurahan Lenteng Agung Terhadap Implementasi Zakat Profesi’, (Skripsi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2017), h. 25.
13Abdul Syani, Sosiologi (Jakarta : PT. Bumi Aksara, 2012), h. 30.
Dengan demikian, dari berbagai penelitian di atas, dapat disimpulkan bahwa kesadaran masyarakat adalah suatu perasaan tahu dan mengerti atas apa yang telah dilakukan atau dimiliki oleh seseorang untuk menjadikan kehidupan masyarakat yang berjalan sesuai dengan norma norma yang ada untuk mencapai suatu perubahan yang lebih baik.
b. Indikator kesadaran
“Menurut soekanto menyatakan bahwa terdapat empat indikator kesadaran yang masing masing merupakan suatu tahapan bagi tahapan berikutnya dan menunjukkan pada tingkat kesadaran tertentu, mulai dari yang rendah hingga yang tertinggi, antara lai: pengetahuan,pemahaman, sikap dan pola perilaku(tindakan)”.14
Untuk melihat kesadaran masyarakat diperlukan indikator yang tepat mengukur tinggkat kesadaran masyarakat, yaitu:
1) Pengetahuan, untuk mengukur tingkat kesadaran masyarakat mengenai zakat juga diperlukan pengetahuan yang tinggi untuk memahami zakat .
2) Pemahaman, untuk mengukur sejauh mana pemahaman masyarakat dalam memahami zakat mal, baik pengertian zakat mal, hukum zakat mal, macam macam zakat mal, haul, dan nishab.
3) Sikap, selain pengetahuan sikap juga digunakan sebagai indikator kesadaran seseorang. Hal ini karena sikap merupakan kesiapan atau kesediaan atau bertindak.
4) Tindakan, selain pengetahuan dan sikap, yang tak kalah penting juga adalah tindakan, disinilah pengaplikasian pengetahuan dan sikap.
14Menurut Soekanto yang dikutif oleh Ambar Siwardani, Studi Tentang Kesadaran, (Jakarta : FKM UI, 2008), h. 8.
“Priyono juga mengemukakan bahwa indikator kesadaran adalah pengetahuan dan pemahaman. Lain halnya dalam bidang psikologi menyebabkan bahwa kesadaran tiga hal yaitu: persepsi, pikiran, dan perasaan. Sedangkan dalam teori konsistensi(penyadaran), selain mencamtumkan indikator pengetahuan, sikap juga menyebutkan indikator regulasi atau peraturan”.15
4. Zakat mal
Zakat menurut bahasa (lughat), secara lisan Al Arab, zakat (Al Zakat) ditinjau dari sudut bahasa adalah suci, tumbuh, berkah dan terpuji. Sedangkan zakat menurut istilah (syara’), zakat adalah nama suatu ibadah wajib yang dilaksanakan dengan memberikan sejumlah kadar tertentu dari harta milik sendiri kepada orang yang berhak menerimanya menurut yang ditentukan syariat Islam.16
Berdasarkan Undang-undang Nomor 38 Tahun 1999 dalam pasal 1 butir 2, zakat adalah harta yang wajib disisihkan oleh seorang muslim atau badan yang dimiliki oleh seorang muslim sesuai dengan ketentuan agama untuk diberikan kepada yang berhak menerimanya.17
Kata zakat semula bermakna al-thaharah (bersih), al-nama’ (tumbuh, berkembang), al-barakah (anugrah yang lestari), al-madh (terpuji), dan al-shalah (kesalehan). semua makna tersebut telah dipergunakan, baik didalam al-Qur’an maupun Hadis.
Imam Asy Syarkhasyi al-Hanafi dalam kitabnya Al-Mabsuth mengatakan bahwa dari segi bahasa zakat adalah tumbuh dan bertambah. disebut zakat, karena
15Menurut Priyono yang dikutif oleh Ambar Siwardani, Studi tentang Kesadaran, (Jakarta, FKM UI, 2008), h. 8.
16Elsi Kartika Sari, Pengantar Hukum Zakat dan Wakaf , h. 10.
17 Elsi Kartika Sari, Pengantar Hukum Zakat dan Wakaf , h. 45.
sesungguhnya ia menjadi sebab bertambahnya harta dimana Allah ta’ala menggantinya didunia dan pahala di akhirat.
“Ulama Hanafiyyah (mazhab Hanafi) mendefinisikan zakat dengan menjadikan hak milik bagian harta tertentu dan harta tertentu untuk orang tertentu yang telah ditentukan oleh syari’ karena Allah”. “Ulama Syafi’iyyah (mazhab Syafi’i) mendefinisikan zakat dengan nama bagi sesuatu yang dikeluarkan dan harta atau badan atas jalan tertentu”. “Dan ulama Hanabilah (mazhab Hanbali) mendefenisikan zakat dengan hak yang wajib dalam harta tertentu bagi kelompok tertentu pada waktu tertentu”.18
a. Dasar Hukum Zakat
Zakat merupakan Konsep ajaran Islam yang berlandaskan Al-Qu’ran dan sunnah Rasul bahwa harta kekayaan yang dipunyai seseorang adalah amanat dari Allah dan berfungsi sosial. Dengan demikian, zakat adalah suatu kewajiban yang di perintahkan oleh Allat swt.. Ini dapat dilihat dari dalil-dalil, baik yang terdapat dalam Al-Qur’an maupun yang terdapat dalam kitab-kitab hadis antara lain sebagai berikut.
Seperti firman Allah swt.:
1) Al- Qur’an Q.S. Al-Baqarah/2: 43
َنيِعِك َّٰرلٱ َعَم ْاﻮُعَك ۡرٱ َو َة ٰﻮَك َّزلٱ ْاﻮُتاَء َو َة ٰﻮَلَّصلٱ ْاﻮُميِقَأ َو (
٤٣ )
Terjemahnya:
Dan laksanakanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang- orang yang rukuk.19
Q.S. At-Taubah/9: 103
18Gus Arifin, Keutamaan Zakat, Infak sedekah (Jakarta, PT Elex Media Komputindo, 2016), h. 4.
19Departemen Agama RI, Al-Qur`an dan Terjemahannya (Bandung: CV Penerbit Diponegoro, 2019). h. 7.
َُّللّٱ َو ۗۡمُهَّل ٞنَﻜَس َكَت ٰﻮَلَص َّنِﺇ ۖۡمِهۡيَلَع ِِّﻞَص َو اَهِب مِهيِِّك َزُت َو ۡمُﻫ ُرِِّهَﻄُت ٗﺔَقَدَص ۡمِهِل َٰﻮ ۡمَأ ۡنِم ۡذُﺧ ٌميِلَع ٌعيِمَس
( ١٠٣ )
Terjemahnya:
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui”.20
Berdasarkan dalil-dalil di atas, terutama yang menempatkan kata zakat, yang mengiringi kata shalat, maka dapat ditentukan bahwa status zakat sebagai ibadah wajib yang sama pentingnya seperti shalat, berarti bahwa zakat salah satu sendi satu tiang utama dari bangunan Islam. Demikian zakat sebagai rukun Islam, meninggalkan zakat bagi yang mampu, batallah status orang sebagai penganut ajaran Islam yang baik.
2) Hadis
Telah diketahui bahwa zakat merupakan salah satu dari dari rukun Islam sebagaimana yang ditegaskan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah hadis:
ُ َّاللَّ َﻲ ِض َر َرَمُع ِنْبا ْنَع ٍﺲْمَﺧ ىَلَع ُم َلاْسِ ْلْا َﻲِﻨُب َمَّلَس َو ِهْيَلَع ُ َّاللَّ ىَّلَص ِ َّاللَّ ُلﻮُس َر َلاَق َلاَق اَمُهْﻨَع
َحْلا َو ِةاَك َّزلا ِءاَﺘيِﺇ َو ِة َلاَّصلا ِماَقِﺇ َو ِ َّاللَّ ُلﻮُس َر اًدَّمَحُم َّنَأ َو ُ َّاللَّ َّﻻِﺇ َهَلِﺇ َلاْنَأ ِةَداَهَش ِم ْﻮَص َو ِِّج
ناَﻀَم َر
ََ
21
Artinya:
“Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda: “Islam dibangun di atas lima (tonggak): Syahadat Laa ilaaha illa Allah dan (syahadat) Muhammad Rasulullah, menegakkan shalat, membayar zakat, hajji, dan puasa Ramadhan”. [HR Bukhari, no. 8].
20Departemen Agama RI, Al-Qur`an dan Terjemahannya, h. 203.
21Abu Abdillah Muhammad bin Ismail Al-Bukhori, Al-Imam, Shahih Bukhori (Beirut: Al- Makhtab Al-Islami), h. 208.
Zakat merupakan rukun Islam yang ke 3 sebagaimana yang diungkapkan dalam berbagai hadist Nabi, sehingga keberadaannya dianggap sebagai ma'lum minaddin bidhdharuurah atau diketahui secara otomatis adanya dan merupakam bagian mutlak dari keislaman seseorang. Dalam ajaran Islam terdapat lima hal yang harus dikerjakan oleh umat Islam, yang disebut rukun Islam, terdiri dari syahadat, sholat, zakat, puasa dan haji. Syahadat merupakan pernyataan seseorang beriman kepada Allah swt.. dan Rasul-Nya yaitu Muhammad saw. Sedangkan rukun Islam yang kedua dan seterusnya sebagai perwujudan kedua kalimat syahadat tersebut.
Kelima hal tersebut merupakan kewajiban bagi umat Islam, demikian juga zakat.
3) Qiyas
Secara etimologi, berarti mengira-ngirakan atau menyamakan. Menqiyaskan, berarti mengira-ngirakan atau menyamakan sesuatu terhadap sesuatu yang lain.
Sedangkan secara terminologis, menurut ulama ushul fiqhi, qiyas adalah menyamakan sesuatu yang tidak ada Nas hukumnya dengan sesuatu yang ada Nas hukumnya karena ada persamaan ‘illat hukum. Dalam redaksi yang lain, qiyas adalah menyamakan suatu hukum dari peristiwa yang tidak memiliki Nas hukum dengan peristiwa yang sudah memiliki Nas hukum, sebab adanya persamaan ‘illat hukumnya.
Qiyas berarti mempertemukan sesuatu yang tidak ada Nas hukumnya dengan hal lain yang ada Nas hukumnya karena ada persamaan ‘illat hukum. Dengan demikian, qiyas merupakan harapan hukum analogis tehadap hukum sesuatu yang serupa karena prinsip persamaan ‘illat akan melahirkaan hukum yang sama pula.
Qiyas merupakan salah satu istibat yang dapat dipertanggung jawaban karena melalui penalaran yang disandarkan pada Nas. Ada beberapa ayat Al-Qur’an yang dijadikan landasan bagi berlakunya qiyas di dalam menggali hukum diantaranya:
QS. An-Nisa’/ 4: 59
ۡمُﺘ ۡع َزَٰﻨَت نِإَف ۖۡمُﻜﻨِم ِر ۡمَ ۡلأٱ ﻲِل ْوُأ َو َلﻮُس َّرلٱ ْاﻮُعيِطَأ َو َ َّللّٱ ْاﻮُعيِطَأ ْا َٰٓﻮُﻨَماَء َنيِذَّلٱ اَهُّيَأََٰٰٓي ُﻩوُّد ُرَف ء ۡﻲَش ﻲِف
َو ِ َّللّٱِب َنﻮُﻨِم ۡؤُت ۡمُﺘﻨُك نِﺇ ِلﻮُس َّرلٱ َو ِ َّللّٱ ىَلِﺇ ًلايِوۡأَت ُنَس ۡحَأ َو ٞرۡيَﺧ َكِلَٰذ ِِۚر ِﺧَٰٓ ۡلأٱ ِم ۡﻮَيۡلٱ
( ٥٩ )
Terjemahnya :
“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”.22
Ayat di atas menjadi dasar hukum qiyas, sebab maksud dari ungkapan
“kembali kepada Allah dan Rasul” (dalam masalah khilafiah), tiada lain adalah perintah supaya menyelidiki tanda-tanda kecenderungan apa sesungguhnya yang dikehendaki Allah dan Rasulnya. Hal ini dapat diperoleh melalui pencarian ‘illat hukum yang merupakan tahapan dalam melakukan qiyas.
Abdul Wahab Khallaf menyebutkan alasan pengambilan dalil ayat diatas sebagai dalil qiyas, yakni bahwa Allah swt. telah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk mengembalikan permasalahan yang diperselisihkan dan dipertentangkan diantara mereka kepada Allah dan Rasulullah jika mereka tidak menemukan hukumnya dalam Al-Qur’an maupun sunnah. Sedangkan mengembalikan dan merujukkan permasalahan kepada Allah dan Rasul adalah mencakup semua cara dalam mengembalikan masalah itu. Artinya, bahwa menyamakan peristiwa yang tidak memiliki Nas dengan peristiwa yang sudah ada Nasnya dikarenakan adanya kesamaan ‘illat, maka hal tersebut termasuk kategori
“mengembalikan permasalahan kepada Allah dan Rasulnya” sebagaimana dalam
22 Departemen Agama RI, Al-Qur`an dan Terjemahannya, h. 87.
kandungan ayat di atas. Selain An- Nisa’ (4); 59, para ulama juga menjadikan surah Al- Asyr (59) : 2 sebagai salah satu landasan kehujjahan qiyas.23
Beberapa penjelasan qiyas di atas sebenarnya ada beberapa macam qiyas salah satu macam qiyas yaitu, Qiyas musaw.i; yaitu qiyas yang kekuatan pada furu’
sama dengan kekuatan hukum pada ashal dikarenakan kekuatan ‘illat-nya sama.
Contohnya menqiyaskan membakar harta anak yatim dengan memakannya, karena
‘illatnya sama-sama menghabiskan.
a) Contoh pengqiyasan zakat fitrah yaitu dari hadis sebagai berikut:
:َلاَق اَمُهْﻨَع ُ َّ َاللَّ َﻲ ِض َر َرَمُع ِنْبِا ِنَع ِ َّ َ اللَّ ُلﻮُس َر َض َرَف –
– ملسو هيلع الله ىلص , ِرْﻄِﻔْلَا َةاَك َﺯ –
ْنُ ْلأا َو , ِرَكَّذلا َو , ِِّرُحْلا َو ِدْبَعْلَا ىَلَع : ٍريِعَش ْنِم اًعاَص ْوَأ , ٍرْمَت ْنِم اًعاَص ََِّصلا َو ,ىَث
ِريِبَﻜْلا َو , ِري َن ِم
ِة َلاَّصلَا ىَلِﺇ ِساَّﻨلَا ِجو ُرُﺧ َﻞْبَق ﻯَّدَؤُت ْنَأ اَهِب َرَمَأ َو ,َنيِمِلْسُمْلَا
24
Artinya:
“Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitri dengan satu sho’ kurma atau satu sho’ gandum bagi hamba dan yang merdeka, bagi laki-laki dan perempuan, bagi anak-anak dan orang dewasa dari kaum muslimin. Beliau memerintahkan agar zakat tersebut ditunaikan sebelum manusia berangkat menuju shalat ‘ied.” . (HR. Bukhari no. 748).
Dari hadis di atas, dapat disimpulkan ketepatan waktu dalam membayar zakat fitrah itu sangat penting. Jika zakat dikeluarkan sebelum dilaksanakannya Salat id, maka hal itu dihitung sebagai zakat fitrah. Namun, jika dikeluarkan setelah salat Id, maka hal itu merupakan sedekah biasa, tidak dihitung sebagai zakat fitrah. Di Indonesia, makanan pokok masyarakat Indonesia adalah beras. Tak heran, zakat fitrah yang dikeluarkan dapat berupa beras. Lain halnya dengan Arab, dimana
23Ahmad Masfuful Fuad, “Qiyas Sebagai Salah Satu Metode Istinbat Al-Hukm,” (Mazahib 15, no. 1, 2006), h. 44-45.
24Abu Abdillah Muhammad bin Ismail Al-Bukhori, Al- Imam, Shahih Bukhori, h. 276.
masyarakat Arab menggunakan gandum sebagai makanan pokok. Sehingga, zakat yang dikeluarkan dapat berupa gandum.
Pengqiyasan zakat gandum ke zakat beras, yaitu gandum itu merupakan makanan pokok orang-orang dibagian arab, maka dari itu di Indonesia gandum tidak dapat tumbuh karena disebabkan dari segi tanahnya dan tidak cocok untuk ditanami gandum, maka diqiyaskanlah ke beras dengan alasan bahwa beras di Indonesia merupakan makanan pokok yang sama dengan gandum maka dari itu pengeluaran zakatnya sama dengan zakatnya gandum.
Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta, dalam rapatnya pada tanggal 5 Syawwal 1420 H, bertepatan dengan tanggal 12 Januari 2000 M, yang membahas tentang pelaksanaan zakat fitrah. Zakat fitrah yang wajib dibayarkan oleh setiap orang adalah bahan makanan pokok sebanyak 2,5 kg. Masyarakat yang makanan pokoknya beras, maka wajib membayar zakat fitrah beras. Demikian juga jika makanan pokok mereka jagung, gandum, kurma atau yang lain, maka mereka wajib membayar zakat fitrah dengan bahan makanan pokok tersebut sebanyak 2,5 kg.
Menurut madzhab Syafi’i, zakat fitrah harus dibayarkan dalam bentuk bahan makanan pokok. Beras (bahan makanan pokok) yang dipergunakan untuk membayar zakat fitrah harus sama atau lebih baik kualitasnya dengan beras yang dimakan sehari-hari oleh orang yang membayar zakat fitrah. Jika setiap harinya mengkonsumsi nasi dan beras Pinrang, maka ketika akan membayar zakat fitrah harus dengan beras Pinrang atau yang lebih baik kualitasnya dari pada beras Pinrang.
Mereka tidak boleh membayar zakat fitrah dengan beras yang kualitasnya lebih buruk.
b) Contoh pengqiyasan zakat mal yaitu dari hadis sebagai berikut:
Zakat Mal dapat dilihat dari zakat binatang ternak, dasar wajib mengeluarkan zakat binatang ternak adalah:
Diberitahukan oleh Bukhari dan Muslim dari Abi Dzar, bahwasannya Nabi saw.
bersabda sebagai berikut:
اًعاَص , ِرْﻄِﻔْلَا َةاَك َﺯ ملسو هيلع الله ىلص ِ َّ َاللَّ ُلﻮُس َر َض َرَف :َلاَق اَمُهْﻨَع ُ َّ َاللَّ َﻲ ِض َر َرَمُع ِنْبِا ِن ََ
ِعَش ْن ِم اًعاَص ْوَأ , ٍرْمَت ْنِم ن ِم ِريِبَﻜْلا َو , ِريََِّصلا َو ,ىَثْنُ ْلأا َو , ِرَكَّذلا َو , ِِّرُحْلا َو ِدْبَعْلَا ىَلَع : ٍري
ِة َلاَّصلَا ىَلِﺇ ِساَّﻨلَا ِجو ُرُﺧ َﻞْبَق ﻯَّدَؤُت ْنَأ اَهِب َرَمَأ َو ,َنيِمِلْسُمْلَا هْيَلَع ٌﻖَﻔَّﺘُم –
25
Artinya:
“Seseorang laki-laki yang mempunyai unta, sapi, atau kambing, yang tidak mengeluarkan zakatnya, maka binatang-binatang itu nanti pada hari kiamat akan datang dengan keadaan yang lebih besar dari pada didunia, lalu hewan- hewan itu menginjak-nginjak pemilik dengan kaki-kakinya. Setiap selesai mengerjakan yang demikian, binatang-binatang itu kembali mengulangi pekerjaan itu sebagaimana semula; dan demikianlah terus menerus hingga sampe selesai Allah meghukum para manusia”. (HR. Bukhari)
Dari hadis di atas dapat dilihat bahwa zakat mal dapat di qiyaskan dari binatang ternak. binatang ternak yang dikeluarkan pada masa Rasulullah saw. domba sapi dan unta, namun kita melihat perkembangan zakat domba tidak ada di Indonesia, untuk mengambil suatu hukum kita mengqiyaskan, menyamakan bahwa zakat yang di maksud di zaman Rasulullah adalah domba yaitu kambing pada saat sekarang ini.
b. Syarat-syarat bagi orang yang mengeluarkan zakat.
1) Mukmin dan Muslim
Zakat merupakan salah satu rukun Islam. Oleh karena itu, hanya diwajibkan kepada orang mukmin dan muslim, tidak ada wajib zakat atas harta orang non Islam, sesuai dengan firman Allah Swt., (QS. Al- Furqan [25]:23).
25Syaikh Abdul Azis Abdullah bin Baz, Fathul Baari Penjelasan Kitab Shahih Al-Bukhari, h.
168.