II. TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Tinjauan Teori
2.3.1 Pendekatan Humanistik DeVito
Pendekatan yang paling tepat digunakan dalam penelitian ini yaitu Pendekatan DeVito. Menurut DeVito, komunikasi antarpribadi dapat sangat efektif dan dapat pula sangat tidak efektif Karakteristik efektivitas ini dilihat dari tiga sudut pandang yaitu pendekatan humanistik, pendekatan pragmatis, dan pendekatan sosial.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan humanistik.
Hal ini dikarenakan pendekatan ini yang paling cocok dibandingkan pendekatan lain Pendekatan humanistik menekankan pada keterbukaan.
empati, sikap mendukung, sikap positif, dan kesetaraan. Pendekatan humanistik yang dilakukan oleh orang tua anak berkebutuhan khusus tunagrahita dalam menanamkan kedisiplinan akan membuat hubungan diantara kedua belah pihak semakin terjalin dengan baik, sehingga pesan yang hendak disampaikan menjadi efektif Berdasarkan kualitas- kualitas umum yang ada pada pendekatan ini, kemudian dapat kita turunkan beberapa perilaku spesifik yang menandai komunikasi antarpribadi yang efektif.
Dalam bukunya “Komunikasi Antarmanusia”, Joseph DeVito menyebutkan bahwa efektivitas komunikasi interpersonal memiliki karakteristik-karakteristik yang ditinjau dari perspektif humanistik.
Dalam perspektif ini ada lima kualitas umum yang dipertimbangkan:
keterbukaan (openness), empati (empathy), sikap mendukung (supportiveness), sikap positif (positiveness), dan kesetaraan (equality).
1. Keterbukaan (Openness)
Sikap terbuka sangat besar pengaruhnya dalam menumbuhkan komunikasi interpersonal yang efektif. Kualitas keterbukaan mengacu pada sedikitnya tiga aspek dari komunikasi interpersonal.
Pertama, komunikator antarpribadi yang efektif harus terbuka
15
kepada orang yang diajaknya berinteraksi. Ini tidaklah berarti bahwa orang harus dengan segera membukakan semua riwayat hidupnya. Harus ada kesediaan membuka diri – mengungkapkan informasi yang biasanya di sembunyikan, asalkan pengungkapan diri ini patut. Aspek keterbukaan yang kedua mengacu pada kesediaan komunikator untuk bereaksi secara jujur terhadap stimulus yang datang. Aspek ketiga menyangkut “kepemilikan”
perasaan dan pikiran (Bochner and Kelly). Terbuka dalam pengertian ini adalah mengakui bahwa perasaan dan pkiiran yang anda lontarkan adalah memang “milik” anda dan anda bertanggung jawab atasnya. Orang tua seyogyanya dapat memfasilitasi kondisi munculnya keterbukaan. Kondisi keterbukaan dapat diwujudkan bila orang tua maupun anak dapat berinteraksi secara jujur terhadap stimulus yang datang. Terjadi komunikasi secara tatap muka antara orang tua dan anak. Komunikasi tatap muka penting karena orang tua dapat mengetahui tanggapan dari anak secara langsung.
Komunikasi tatap muka penting untuk mengubah sikap, pendapat dan perilaku seseorang. Orang tua perlu bersikap tanggap terhadap apa yang disampaikan anak agar komunikasi dapat berhasil. Perlu diciptakan suasana dialogis. Keterbukaan mengisyaratkan orang tua bersedia menerima kritik–kritik dan saran yang disampaikan anak.
Dengan sikap bersdia menerima kritik dan saran, berarti orang tua dapat mengakui perasaan dan pikiran yang dilontarkan oleh anak.
2. Empati (empathy)
Henry Backrack mendefinisikan empati sebagai “kemampuan seseorang untuk ‘mengetahui’ apa yang sedang dialami orang lain pada suatu saat tertentu, dari sudut pandang orang lain itu, melalui kacamata orang lain itu”. Orang yang empatik mampu memahami motivasi dan pengalaman orang lain, perasaan dan sikap mereka, serta harapan dan keinginan mereka untuk masa mendatang.
Pengertian yang empatik ini akan membuat seseorang lebih mampu
menyesuaikan komunikasinya. C.B. Truax memasukkan si empati.
“Empati yang akurat”, menurut Truax, “melibatkan baik kepekaan terhadap perasaan yang ada maupun fasilitas verbal untuk mengkomunikasikan pengertian ini”. Empati komunikasi interpersonal yang efektif perlu didukung oleh sikap empati dari pihak–pihak yang berkomunikasi. Dalam komunikasi antara orang tua dan anak perlu ditumbuhkan sikap empati. Kondisi empati dapat terwujud bila orang tua bersedia memberikan perhatian kepada anak dan dapat mengetahui apa yang sedang dialami anak berkaitan dengan pekerjaannya. Orang tua dapat mengenal anak, baik keinginan, kemampuan dan pengalamannya sehingga orang tua dapat mengetahui apa yang dirasakan oleh anak tersebut. Selain itu, orang tua dapat menghindari evaluasi, kritik atau menilai anak menurut pandangan dan pendapatnya sendiri serta dapat menyelesaikan konflik–konflik secara damai.
3. Perilaku Suportif (supportiveness)
Hubungan antarpribadi yang efektif adalah hubungan di mana terdapat sikap mendukung (supportiveness). Komunikasi yang terbuka dan empatik tidak dapat berlangsung dalam suasana yang tidak mendukung. Sikap suportif merupakan sikap yang mengurangi sikap defensif. Sikap ini muncul bila individu tidak dapat menerima, tidak jujur dan tidak empatik. Sikap defensif mengakibatkan komunikasi interpersonal menjadi tidak efektif, karena orang yang defensif akan lebih banyak melindungi diri dari ancaman yang ditanggapinya dalam situasi komunikasi daripada memahami komunikasi. Komunikasi defensif dapat terjadi karena faktor–faktor personal (ketakutan, kecemasan, harga diri yang rendah) atau faktor–faktor situasional yang berupa perilaku komunikasi orang lain. Dalam komunikasi interpersonal antara orang tua dan anak, sikap mendukung berperan dalam menumbuhkan motivasi anak. Sikap mendukung dapat terwujud,
17
bila orang tua bersedia menghargai ide–ide atau pendapat anak dan memberikan perhatian yang sungguh–sungguh ketika berkomunikasi dengan anak. Sikap mendukung dapat diperlihatkan bersikap deskriptif bukan evaluatif.
4. Perilaku positif (positiveness)
Sikap positif mengacu pada sedikitnya dua aspek komunikasi interpersonal. Pertama, komunikasi interpersonal terbina jika orang memiliki sikap positif terhadap diri mereka sendiri. Orang yang merasa positif terhadap diri sendiri mengisyaratkan perasaan tersebut kepada orang lain dan merefleksikannya. Kedua, perasaan positif untuk situasi komunikasi sangat penting untuk interaksi yang efektif. Sikap positif dapat dijelaskan lebih jauh dengan istilah stroking (dorongan). Dorongan merupakan istilah yang berasal dari kosakata umum yang dipandang penting dalam analisis transaksional dan interaksi antara manusia. Dorongan positif dapat berbentuk pujian atau penghargaan. Dorongan positif akan mendukung citra pribadi dan membuat merasa lebih baik. Sikap positif dalam menunjang komunikasi interpersonal yang efektif antara orang tua dan anak dapat terwujud bila orang tua dapat berpandangan positif terhadap dirinya sendiri. Orang tua dapat menunjukkan perasaan senang ketika berkomunikasi dengan anak dan dapat memberikan penghargaan atas pekerjaan yang dilakukan oleh anak.
5. Kesetaraan (Equality)
Komunikasi interpersonal akan lebih efektif bila suasananya setara.
Artinya, harus ada pengakuan secara diam-diam bahwa kedua pihak sama-sama bernilai dan berharga, dan bahwa masing-masing pihak mempunyai sesuatu yang penting untuk disumbangkan.
Dalam suatu hubungan interpersonal yang ditandai oleh kesetaraan, ketidak-sependapatan dan konflik lebih dilihat sebagai upaya untuk
memahami perbedaan yang pasti ada ketimbang sebagai kesempatan untuk menjatuhkan pihak lain. Kesetaraan tidak mengharuskan kita menerima dan menyetujui begitu saja semua perilaku verbal dan nonverbal pihak lain. Kesetaraan berarti kita menerima pihak lain, atau, menurut istilah Carl Rogers, kesetaraan meminta kita untuk memberikan ‘penghargaan positif tak bersyarat’
kepada orang lain.