BAB II LANDASAN TEORI
G. Tolak ukur Perkembangan Usaha
Untuk dapat menjalankan kegiatan usaha atau bisnis sesuai dengan perencanaan yang dibuat sangat diperlukan berbagai macam faktor diantaranya terdiri dari modal, tenaga kerja, dan aebagainya. Agar tujuan yang telah ditetapakan dapat tercapai maka perusahaan harus dapat mengelola faktor-faktor produksi tersebut secara efektif dan efisien. Kinerja usaha industri kecil dapat diartikan sebagai tingkat keberhasilan dalam pencapaian maksud/tujuan yang 88 Disarikan dari Panjaitan, dkk, “Praktik Pelepas Uang/Rentenir di Nagari lubuk Basuk Kabupaten Agam sumbar”, Jurnal Buana – Vol-2 No-1 (2018), 406-408
89 I Gusti Ngurah Kardi Yasa, “Faktor-faktor yang mempengaruhi Keputusan Nasabah dalam Mengambil Kredit pada PT. Fianncia Multi Finence (Kredit Plus) Pos Singaraja”, Jurnal Jurusan Pendidikan Ekonomi (JJPE) Volume: 5 Nomor: 1 Tahun: 2015
diharapkan. Sebagai ukuran keberhasilan usaha suatu perusahaan dapat dilihat dari berbagai aspek, seperti: kinerja keuangan, image perusahaan, maupun lainnya.90 Hal tersebut didukung Purwanti yang menyatakan perkembangan usaha dapat dilihat dari jumlah penjualan yang semakin meningkat dikarenakan dari kemampuan pengusaha itu sendiri.91
Perubahan investasai dalam perekonomian masyarakat dapat mempengaruhi pendapatan. Sebab secara teoritis setiap penambahan investasi akan menimbulkan kenaikan pendapatan secara. Perkembangan usaha merupakan suatu kejadian terjadinya peningkatan omzet penjualan dan modal usaha.92 Tolak ukur tingkat keberhasilan dan perkembangan perusahaan kecil dapat dilihat dari peningkatan omset penjualan, pertumbuhan tenaga kerja, dan pertumbuhan jumlah pelanggan.
Kajian dalam penelitian ini fokus pada tolak ukur Perkembangan usaha yang mengacu nasabah peminjam kepada Koperasi Simpan Pinjam yang dikelola oleh rentenir yang mengacu pada tiga komponen variable utama yaitu; omzet penjualan, modal usaha dan keuntungan yang diperoleh setelah mendapatkan tambahan modal melalui pinjaman.
1. Omzet Penjualan
Omzet menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah jumlah uang hasil penjualan barang (dagangan) tertentu selama suatu masa jual,93 sementara penjualan adalah penjualan barang dagangan sebagai usaha pokok perusahaan yang biasanya dilakukan secara teratur.94 Penjualan juga merupakan persetujuan kedua belah pihak antara penjual dan pembeli, dimana penjual menawarkan suatu produk dengan harapan pembeli dapat menyerahkan sejumlah uang sebagai alat ukur produk tersebut sebesar harga jual yang telah disepakati.95 Penjualan adalah pendapatan lazim dalam perusahaan dan merupakan jumlah kotor yang dibebankan kepada pelanggan atas barang dan jasa.96 Menurut Winardi penjualan adalah hasil yang dicapai sebagai imbalan jasa-jasa yang diselenggarakan yang dilakukannya perniagaan transaksi dunia usaha.97 Sementara Omzet penjualan adalah akumulasi dari kegiatan penjualan suatu
90 Chamdan Purnama dan Suyanto, “Motivasi dan Kemampuan Usaha Dalam meningkatkan Keberhasilan Usaha Industri Kecil (Studi Pada Industri Kecil Sepatu di Jawa Timur)”, Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan, VOL.12, NO. 2, (2010), 179
91 Endang Purwanti, “Pengaruh Karakteristik Wirausaha, Modal Usaha, Strategi Pemasaran Terhadap Perkembangan UMKM di Desa Dayaan dan Kalilondo Salatiga”, STIE AMA Salatiga Vol. 5 No. 9,. (2012), 21
92 Weston J. Fred dan Copeland Thomas E, Manajemen Keuangan. Volume 2. Edisi ke- 8.
(Jakarta: PT Glora Aksara Pratama. 1997), 239 93 https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/Omzet
94 ,Chairul Marom, Sistem Akutansi Perusahaan Dagang, (Jakarta: Erlangga. 2002), 28 95 Rusma Rizal, dkk “Analisis Bauaran pemasaran Terhadap Omzet Penjualan pada PT. Gaudi Dwi Laras Cabang Palembang, Jurnal Adminika Volume 3. No. 2, (2017), 83
96 Henry Simamora, Akuntansi Basis Pengambilan Keputusan Bisnis (Jakarta: Salemba Empat, 2002), 24
97 Winardi, Pengantar Manajemen Penjualan, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1999), 176
produk barang-barang dan jasa yang dihitung secara keseluruhan selama kurun waktu tertentu secara terus menerus atau dalam satu proses akuntansi.98
Dari Definisi tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa omzet penjualan adalah keseluruhan jumlah penjualan barang atau jasa dalam kurun waktu tertentu, yang dihitung berdasarkan jumlah uang yang diperoleh dan berdasarkan volume. Seorang pengelola usaha dituntut untuk selalu meningkatkan omzet penjualan dari hari kehari, dari minggu ke minggu, dari bulan ke bulan dan dari tahun ke tahun.99
Faktor-faktor yang mempengaruhi penjualan antara lain adalah sebagai berikut:
a. Kondisi dan kemampuan penjual. Penjual harus dapat menyakinkan kepada pembelinya agar dapat berhasil mencapai sasaran penjualan yang diharapkan. Untuk itu penjual harus memahami beberapa hal yaitu jenis dan karakteristik barang yang ditawarkan, harga produk dan syarat penjualan.
b. Kondisi pasar. Pasar sebagai kelompok pembeli atau pihak yang menjadi sasaran dalam penjualan, dapat pula mempengaruhi kegiatan penjualan.
Adapun faktor-faktor kondisi pasar yang perlu diperhatikan adalah jenis pasar, kelompok pembeli, daya belinya, frekuensi pembeliannya, dan keinginan serta kebutuhannya.
c. Modal. Modal merupakan penunjang bagi terlaksananya kegiatan penjualan.
d. Kondisi organisasi perusahaan. Pada perusahaan besar biasanya masalah penjualan ini ditangani oleh bagian tersendiri (bagian penjualan) yang dipegang oleh orang-orang tertentu atau ahli di bidang penjualan, sedangkan dalam perusahaan kecil biasanya masalah penjualan masih ditangani oleh orang yang juga melaksanakan fungsi-fungsi lain.
e. Faktor-faktor lain. Faktor-faktor lain yang mempengaruhi penjualan antara lain adalah periklanan, kampanye, discount, dan pemberian hadiah.100
Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi besar kecilnya omzet dibagi menjadi dua faktor yaitu:
a. Faktor internal (faktor yang dikendalikan oleh pihak-pihak perusahaan) diantaranya: kemampuan perusahaan untuk mengelola produk yang akan dipasarkan, kebijaksanaan harga dan promosi yang digariskan perusahaan serta kebijaksanaan untuk memilih perantara yang digunakan.
b. Faktor eksternal (faktor yang tidak dapat dikendalikan oleh pihak perusahaan) diantaranya: perkembangan ekonomi dan perdagangan baik nasional maupun internasional, kebijakan pemerintah di bidang ekonomi, perdagangan dan moneter dan suasana persaingan pasar.101
98 Basu Swastha, dan Irawan. Manajemen Pemasaran Modern. (Yogyakarta: Liberty, 2005), 34, 99 Rusma Rizal, dkk, “Analisi Baurn Pemasaran terhadap Omzet Penzualan pada Pt Gaudi Dwi Laras Cabang Palembang”, Jurnal Adminika Volume 3. No. 2, Juli– Desember (2017)85
100 Swastha, dan Irawan. Manajemen Pemasaran.122 101 Swastha, dan Irawan. Manajemen Pemasaran.121
Adapun pengukuran omzet penjualan nasabah adalah:
a. Menurun jika omzet penjualan Nasabah kurang dari jumlah rata-rata sebelum dan sesudah adanya pinjaman dari Koperasi (nilai X < rata- rata).
b. Stabil jika omzet penjualan Nasabah sama dengan jumlah rata-rata sebelum dan sesudah adanya Pinjaman Koperasi (nilai X = rata-rata).
c. Berkembang apabila omzet penjualan nasabah lebih dari jumlah rata-rata sebelum dan sesudah adanya pembiayaan dari kioperasi (nilai X > rata- rata)
Rumus untuk menghitung omzet adalah sebagai berikut :
2. Modal usaha
Modal merupakan uang yang ditanamkan oleh pemiliknya sebagai pokok untuk memulai usaha meupun untuk memperluas besar usahanya yang dapat menghasilkan sesuatu guna menambah kekayaan.102 Modal merupakan uang yang dipakai sebagai pokok (induk) untuk berdagang, melepas uang, dan sebagainya; harta benda (uang, barang, dan sebagainya) yang dapat dipergunakan untuk menghasilkan sesuatu yang menambah kekayaan dan sebagainya.103 Modal dapat sebagai faktor produksi yang mempunyai pengaruh kuat dalam mendapatkan produktivitas atau output, secara makro modal merupakan pendorong besar untuk meningkatkan investasi baik secara langsung pada proses produksi maupun dalam prasarana produksi, sehingga mampu mendorong kenaikan produktivitas dan output.104 Modal sangat berpengaruh terhadap berjalanannya operasi suatu perusahaan sehingga modal harus senantiasa tersedia dan terus menerus diperlukaan bagi kelancaran usaha, 102 Frianto Pandia,. Manajemen Dana Dan Kesehatan Bank. (Jakarta: Rineka Cipta, 2012), 28 103 https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/Omzet
104 Husein Umar, Riset Pemasaran dan Perilaku Konsumen (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2000), 17
Rumus : TR = P X Q
Keterangan : TR : Omzet P : Harga Jual Q : Kuantitas Jual
dengan modal yang cukup akan dapat dihasilkan produksi yang optimal dan apabila dilakukan penambahan modal maka produksi akan meningkat lebih besar lagi.105
Sedangkan modal kerja didefinisikan sebagai aset lancar dikurangi kewajiban lancar. Jadi, modal kerja merupakan investasi perusahaan dalam bentuk tunai, sekuritas yang dapat dipasarkan, piutang, dan persediaan dikurangi kewajiban lancar yang digunakan untuk membiayai aset lancar.
Modal diharuskan terus dikembangkan agar sirkulasi uang tidak berhenti.
Sebab jika uang atau modal terhenti maka harta tidak akan mendatangkan manfaat bagi orang lain, namun seandainya uang diinvestasikan dan digunakan untuk melakukan bisnis maka uang tersebut akan mendatangkan manfaat bagi orang lain, termasuk diantaranya jika ada bisnis yang berjalan maka akan bisa menyerap tenaga kerja106 Ada tiga konsep tentang pengertian modal kerja, yaitu:
a. Konsep kuantitatif modal kerja adalah keseluruhan jumlah aktiva lancar.
b. Konsep kualitatif modal kerja adalah sebagian aktiva lancar yang benar-benar dapat digunakan untuk membiayai operasi perusahaan tanpa mengganggu likuiditasnya.
c. Konsep fungsional konsep ini menitik beratkan pada fungsi dana dalam menghasilkan pendapatan.107
Sementara Modal usaha adalah dana yang digunakan untuk menjalankan usaha agar tetap berjalan. Modal usaha juga dapat diartikan dari berbagai segi yaitu modal pertama kali membuka usaha, modal untuk melakukan perluasan usaha, dan modal untuk menjalankan usaha sehari-hari.108 Modal Usaha juga diartikan sebagai uang tunai dan aktiva yang mudah diuangkan untuk mendanai kegiatan operasional perusahaan.109
Modal usaha mutlak diperlukan untuk melakukan kegiatan usaha. Oleh karena itu diperlukan sejumlah dana sebagai dasar ukuran finasial atas usaha yang dijalankan. Sumber modal usaha dapat diperoleh dari modal sendiri, bantuan pemerintah, lembaga keuangan baik bank dan lembaga keuangan non- bank. Modal adalah faktor usaha yang harus tersedia sebelum melakukan kegiatan. Besar kecilnya modal akan mempengaruhi perkembangan usaha dalam pencapaian pendapatan.110 Sebab membuka bisnis memang bukanlah hal yang mudah, dibutuhkan permodalan yang kuat, sumberdaya yang mumpuni dan manajemen yang handal agar bisnis tersebut berjalan sesaui 105 Bambang Riyanto. “Dasar-Dasar Pembelanjaaan Perusahaan edisi empat.” (Yogyakarta:
FE UGM, 1993), 61
106 Aswad, Kontribusi Pemikiran Ekonomi Islam Ibnu Khaldun dengan Pemikiran Ekonomi Modern (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2012), 112.
107 Bambang Riyanto, Dasar-dasar Pembelanjaan-Pembelanjaan Perusahaan. (Yogyakarta:
FE Bisnis UGM, 2012), 57
108 Sari Juliasti, Cerdas Mendapatkan dan Mengelola Modal Usaha, (Jakarta: PT Persero, 2009) . 4
109 Lawrence J Gitman, “Principles of Manajerial Finance”, International Edition, 10th edition, (Boston: Pearson Education, 2003).
110 Riyanto. “Dasar-dasar Pembelanjaaan, 67
rencana. Salah satu kunci utama dalam mendirikan bisnis yaitu memiliki modal usaha Indikator modal usaha yang mencakup; (1) struktur permodalan baik modal sendiri dan msupun modal pinjaman; (2) pemanfaatan modal tambahan (3) Hambatan dalam mengakses modal eksternal (4) Keadaan usaha setelah menambahkan.111
Adapun sumber modal-Sumber Modal terdiri dari
a. Modal Sendiri, modal sendiri merupakan dana yang disiapkan pengusaha dalam memulai dan mengembangkan usaha serta bersal dari tabungan yang disisihkan dari penghasilan dimasa lalu, baik disimpan dirumah ataupun bank dalam bentuk tabungan dan deposito.
b. Koperasi Simpan Pinjam, merupakan koperasi dengan bidang usahanya pelayanan tabungan dan pinjaman bagi anggotanya.
c. Lembaga keuangan, lembaga keuangan merupakan badan usaha yang berfungsi menghimpun dana dari masyarakatdalam bentuk simpanan dan menyalurkannnya kepada masyarakat dalam bentuk kredit atau pinjaman.112
Adapun pengukuran modal usaha yang diperoleh nasabah:
a. Menurun apabila modal usaha nasabah kurang dari jumlah rata-rata sebelum dan sesudah adanya kredit dari Koperasi (nilai X < rata-rata).
b. Stabil apabila modal nasabah sama dengan jumlah rata-rata sebelum dan sesudah adanya pembiayaan dari Koperasi (nilai X = rata-rata).
c. Berkembang apabila modal usaha nasabah lebih dari jumlah rata-rata sebelum dan sesudah adanya pinjaman dari Koperasi (nilai X > rata- rata).
Rumus untuk menghitung modal usaha adalah :
Modal Akhir = Modal Awal + Laba Bersih – Prive Keterangan : Prive adalah pengambilan dana oleh pemilik perusahaan
3. Keuntungan / Laba
Mendapatkan laba atau keuntungan adalah tujuan utama dalam melakukan atau membangun suatu usaha atau bisnis. Laba ini muncul dari proses pemutaran modal dan pengoperasiannya dalam kegiatan dagang atau usaha. laba merupakan konsep yang menghubungkan antara pendapatan atau penghasilan yang diperoleh oleh perusahaan di satu pihak, dan biaya yang harus ditanggung atau dikeluarkan oleh pihak lain.113 Karenanya keuntungan (laba) adalah perbedaan antara penghasilan dan biaya yang dikeluarkan.114 Sementara Harahap menyebutkan bahwa laba adalah naiknya nilai equity dari 111 Kartika Putri, dkk, “Pengaruh Karakteristik Kewirausahaan, Modal Usaha, Dan Peran Business Development Service Terhadap Pengembangan Usaha”, Jurnal Ilmu Administrasi Bisnis, vol.
3, no. 4 (2014)
112 Juliasti, Cerdas Mendapatkan, 4
113 Martono dan Harjito. Manajemen Keuangan. Edisi Keenam (Yogyakarta: Ekanisia, 2005), 2
transaksi yang sifatnya insidentil dan bukan kegiatan utama (entity) dari transaksi atau kejadian lainnya yang mempengaruhi entity selama satu periode tertentu kecuali yang berasal dari hasil atau investasidari pemilik.115
Laba atau keuntungan memiliki beberapa karakteristik antara lain sebagai berikut:
a. Laba didasarkan pada transaksi yang benar-benar terjadi,
b. Laba didasarkan pada postulat periodisasi, artinya merupakan prestasi perusahaan pada periode tertentu,
c. Laba didasarkan pada prinsip pendapatan yang memerlukan pemahaman khusus tentang definisi, pengukuran dan pengakuan pendapatan, L d. Laba memerlukan pengukuran tentang biaya dalam bentuk biaya historis
yang dikeluarkan perusahaan untuk mendapatkan pendapatan tertentu, dan
e. Laba didasarkan pada prinsip penandingan (matching) antara pendapatan dan biaya yang relevan dan berkaitan dengan pendapatan tersebut.116 Peningkatan laba yang diperoleh merupakan gambaran meningkatnya kinerja dari usaha yang yang dilakukan oleh pedagang. Untuk menilai kinerja suatu usaha atau bisnis dapat dilihat dari informasi pada laporan laba rugi usaha yang disajikan berdasarkan informasi laba kotor, laba operasi dan laba bersih perusahaan. Laba kotor merupakan selisih dari pendapatan dikurangi dengan harga pokok penjualan.117 Sementara laba operasi (operating income) merupakan suatu pengukuran laba perusahaan yang berasal dari aktivitas operasi yang masih berlangsung.118 Sedangkan laba bersih adalah Soemarso) menjelaskan bahwa laba bersih (net income) merupakan selisih lebih semua pendapatan dan keuntungan terhadap semua biaya-biaya kerugian. 119
Modal usaha berpengaruh dan berperan pada standarisasi laba (keuntungan) yang diinginkan oleh pedagang, dimana dengan semakin pajangnya masa perputaran dan bertambahannya tingkat resiko, maka semakin tinggi pula standar laba yang yang diinginkan oleh pedagang atau seorang pengusaha. Begitu juga dengan semakin berkurangnya tingkat bahaya, pedagang dan pengusaha pun akan menurunkan standarisasi labanya. Setiap standarisasi laba yang sedikit akan membantu penurunan harga, hal ini juga akan menambah peranan modal dan memperbesar laba.
Adapun pengukuran keuntungan yang diperoleh nasabah dari jumlah pendapatan yang diperoleh adalah apabila:
114 Astuti.. “Hubungan Intellectual Capital dan Business Performance dengan Diamond Specification: Sebuah Perspektif Akuntansi”, Simposium Nasional Akuntansi VIII . Solo : BPFE, (2005), 12
115 Sofyan Syafri Harahap, Analisis Kritis atas laporan Keuangan. Edisi Pertam Cetakan ke sepuluh. (Jakarta : PT Bumi Aksara 2011), 112
116Anis Chariri dan Imam Gozali, Teori Akuntansi. (Semarang: Badan Penerbit. Universitas Diponegoro, 2003), 214
117 Soemarso S.R. Akuntansi Suatu Pengantar. Edisi Lima. Jakarta: Salemba Empat. 2004), 226 118 Subramanyam K.R dan John J.Wild. Analisis Laporan Keuangan. Buku 2, Edisi 10.
(Jakarta: Salemba Empat. 2010) 9
119 Soemarso S.R. Akuntansi Suatu Pengantar, 235
a. Menurun Jika keuntungan nasabah kurang dari jumlah rata-rata sebelum dan sesudah adanya pinjaman kredit dari koperasi (nilai X < rata-rata).
b. Stabil jika keuntungan nasabah sama dengan jumlah rata-rata sebelum dan sesudah adanya pinjaman kredit dari koperasi (nilai X = rata-rata).
c. Berkembang apabila keuntungan nasabah lebih dari jumlah rata-rata sebelum dan sesudah adanya pinjaman dari koperasi (nilai X > rata-rata).
Rumus untuk menghitung laba:
Laba Bersih= Laba Kotor – Beban Usaha
4. Tenaga Kerja/pegawai
Sesuai ketentuan Pasal 1 angka 2 dan 3 UU No. 13 Tahun 2003 Pekerja adalah setiap orang yg bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain. Sementara tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan/ jasa, baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun masyarakat dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain atau setiap orang yang bekerja sendiri dengan tidak menerima upah atau imbalan. Secara umum penduduk suatu negara dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu tenaga kerja dan bukan tenaga kerja. Tenaga kerja adalah seluruh jumlah penduduk yang dianggap dapat bekerja dan sanggup bekerja jika tidak ada permintaan kerja.
Menurut Undang-Undang Tenaga Kerja, mereka yang dikelompokkan sebagai tenaga kerja yaitu mereka yang berusia antara 15 tahun sampai dengan 64 tahun. Bukan tenaga kerja adalah mereka yang dianggap tidak mampu dan tidak mau bekerja, meskipun ada permintaan bekerja. Menurut Undang- Undang Tenaga Kerja No. 13 Tahun 2003, mereka adalah penduduk di luar usia, yaitu mereka yang berusia di bawah 15 tahun dan berusia di atas 64 tahun. Contoh kelompok ini adalah para pensiunan, para lansia (lanjut usia) dan anak-an.
Dengan demikian dapat dipahami bahwa pekerja maupun tenaga kerja adalah orang yang bekerja kepada seseorang atau lembaga dengan perjanjian tertentu untuk mendapatkan upah atau imbalan tertentu dari yang memberikan pekerjaan. Jika dilihat dari pengertian tersebut seorang pekerja juga dapat dipersamakan dengan;
a. pegawai yaitu sekelompok orang yang bekerja sama membantu seorang direktur, ketua, dan sebagainya mengelola sesuatu atau;
b. Karyawan yaitu orang yang bekerja pada suatu lembaga (kantor, perusahaan, dan sebagainya) dengan mendapat gaji (upah) serta;
c. Buruh yaitu orang yang bekerja untuk orang lain dengan mendapat upah,120
120 https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/karyawan
Ketiga istilah tersebut merupakan elemen penting yang disebut sumber daya manusia (SDM). Mereka merupakan aset dan berfungsi sebagai modal non material dalam organisasi bisnis yang dapat diwujudkan menjadi potensi nyata secara fisik dan non fisik dalam mewujudkan eksistensi organisasi.
Berkembangnya suatu usaha atau bisnis salahsatunya dapat dilihat dari seberapa orang pekerja yang bekerja dalam usaha tersebut untuk melakukan pelayanan dan juga melakukan produksi barang dan jasa. Dalam penelitian ini tenaga kerja yang dimaksud adalah seseorang yang menjadi pekerja atau karyawan yang ikut menbatu usaha dari yang melakukan peminjaman kepada rentenir untuk mendatkan modal tambahan.
. H. Hipotesis
Sebagai jawaban sementara terhadap masalah yang menjadi objek dalam penelitian ini, maka berdasarkan latar belakang masalah, perumusan masalah dan kerangka konseptual yang telah dikemukakan, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
H0 : Nasabah cluster pedagang kelontong, sembako dan makanan tidak mengalami peningkatan modal usaha, omzet, laba usaha dan tenaga kerja setelah memperoleh kredit pinjaman koperasi simpan pinjam (KSP) yang dikelola oleh rentenir di Jabodetabek.
H1 : Nasabah cluster pedagang kelontong, sembako dan makanan mengalami peningkatan modal usaha, omzet, laba usaha dan tenaga kerja setelah memperoleh kredit pinjaman koperasi simpan pinjam (KSP) yang dikelola oleh rentenir di Jabodetabek