PENDETEKSIAN KESALAHAN
5. Topologi Pohon (tree)
Gambar 5.10 Contoh Topologi TREE
Topologi pohon atau di sebut juga topologi hirarki dan bisa juga disebut topologi bertingkat merupakan topologi yang bisa di gunakan pada jaringan di dalam ruangan kantor yang bertingkat. Pada gambar bisa kita lihat hubungan antar satu komputer dengan komputer lain merupakan percabangan dengan hirarki yang jelas.sentral pusat atau yang berada pada bagian paling atas merupakan sentral yang aktiv sedangkan sentral yang ada di bawahnya adalah sentral yang pasif.
Mesh topology
Tipe topologi MESH, memiliki multiple koneksi antara setiap titik dalam jaringan. Kelebihan dari topologi Mesh adalah jika satu titik terputus, maka jaringan masih dapat menggunakan rute alternative lain untuk menyampaikan paket pesan.
Gambar 5.10 Contoh Topologi Mesh
Jaringan mesh yang tidak terlalu praktis dalam pengaturan LAN. Misalnya, untuk jaringan dengan delapan komputer menggunakan topologi mesh, setiap komputer harus memiliki tujuh kartu antarmuka jaringan, dan 28 kabel yang diperlukan untuk menghubungkan setiap komputer dengan tujuh komputer lain dalam jaringan.
Namun, jaringan mesh umum digunakan untuk jaringan MAN atau WAN. Jaringan ini menggunakan perangkat yang disebut router untuk pengiriman paket dari jaringan ke jaringan. Karena alasanan keandalan dan kinerja, router biasanya mengatur perutean dengan cara yang memberikan beberapa jalur antara dua node pada jaringan dalam susunan yang seperti saling bertatutan (mesh-like).
Cara membuat Jaringan LAN
Pengertian Jaringan LAN adalah jaringan dari sejumlah komputer yang dapat saling berhubungna namun dibatasi oleh lokasi jarak terterntu. Kalau masalah fungsi sudah pasti, jarigan LAN berfungsi agar komputer dapat terhubung antara satu komputer dengan komputer yang lain sehingga bisa bertukar data dan berbagi pakai perangkat keras yang lain.
2015
11 Sistem Jaringan Pusat Bahan Ajar dan eLearning
Tim Dosen http://www.mercubuana.ac.id
Untuk membuat sebuah jaringan LAN ada material yang kita butuhkan. Berikut Peralatan atau material yang dibutuhkan untuk membuat sebuah jaringan komputer LAN:
1. Dua atau lebih PC
2. Network Card sesuai dg jumlah PC 3. Kabel coaxial atau UTP
4. Hub bila diperlukan 5. Terminator
6. T-Connector
Gambar 5.11 Contoh Arsitektur Jaringan
Langkah-langkah Membuat Jaringan Komputer LAN:
1. Sebelumnya anda harus mengetahui dahulu tipe jaringan yang ingin anda gunakan.untuk mengetahui tipe-tipe jaringan komputer silakan anda buka artike saya terdahulu Mengenal Topologi Jaringan Lan.
2. Pasanglah kabel dan network card. Pemasangan kabel disesuaikan dengan topologi/tipe jaringan yang anda pilih sedangkan pemilihan network card disesuaikan dengan slot yang ada pada motherboard anda. Bila board anda punya slot PCI maka itu lebih baik karena LAN card berbasis PCI bus lebih cepat dalam transfer data.
3. Bila anda menggunakan tipe bus maka pada masing-masing komputer harus anda pasang T-Connector yang memiliki dua input. Dan pada komputer yang hanya mendapat 1
input pada input kedua harus dipasang terminator kecuali bila anda membuat jaringan berbentuk circle(lingkaran) dimana semua komputer mendapat 2 input. Misalnya komp1,komp2,komp3 berjajar maka t-conncector pada komp1 dipasang terminator dan kabel ke komp2. Pada komp2 dipasang kabel dr komp1 dan kabel ke komp3. Sedangkan komp3 dipasang kabel dr komp2 dan terminator.
4. Bila anda memilih tipe star maka masing-masing kabel dari komputer dimasukkan ke dalam port yang tersedia di hub. Dan bila anda ingin menghubungkan hub ini ke hub lainnya anda gunakan kabel UTP yang dimasukkan ke port khusus yang ada pada masing-masing hub
Langkah selanjutnya adalah sebagai berikut :
1.Pilih Sistem Operasi yang sesuai, Mis : Windows atau Linux
2.Persiapkan Komputer Server yang memadai, sesuai dengan jumlah klien.
3.Pilih Jenis Jaringan, Mis: Jaringan Kabel atau Wireless.
Alat – Alat yang dibutuhkan dalam membuat jaringan LAN : 1. PC Server
2. OS (Operating System)
3. Lan Card (untuk jaringan kabel) atau Card WLAN (U/ Wireless) 4. Kabel UTP Cat 5 (u/ jaringan Kabel)
5. Access Point (U/ Jaringan Wireless) 6. Switch atau Hub (u/ Jaringan Kabel) 7. RJ 45 (u/ jaringan kabel)
8. Pemotong kabel / Crimping Tool (u/ jaringan Kabel) 9. Tester kabel (u/ Jaringan Kabel)
Langkah terakhir adalah setting control panel network conection
2015
13 Sistem Jaringan Pusat Bahan Ajar dan eLearning
Tim Dosen http://www.mercubuana.ac.id
1. Setting network connection di controlpanel>networkConection 2. Klik kanan local Area Conection pilih properties
3. Pilih TAB General pilih internet protocol (TCP/IP) pilih prporties 4. Pilih use the following Ip adress
5. Masukan IPadress : 192.168.0.1 subnet mask : 255.255.255.0 6. pilih OK
7. Klik kanan mycomputer pilih properties
8. pilih TAB ‘Computer Name’ pilih tombol ‘change’
9. di member of pilih ‘workgorup’isi apasaja misal ‘SEMICO’
10. Isi ‘Computer Name’ apasaja misal ‘User 1′
11. Pilih ‘OK’ atomatis windows merestart
12. Lakukan hal demikian di komputer lain dengan syarat ‘Computer Name’ harus berbeda dan Ip address harus berbeda yang lainya harus sama, misal dikomputer lain ‘computer name’ di isi ‘user 2′ dan ip addressnya : 198.168.0.2 untuk ip adress yang harus berbeda cuma digit terakhir yang lainya harus sama. Digit terakhir pada nomor IP address yaitu nomor untuk mengidentifikasi alama sebuah komputer
Daftar Pustaka
1. Stallings, W. [2011] Data and Computer Communications (8th edition), Prentice Hall, Upper Saddle River NJ, chapter 1
2. Dony Ariyus & Rum Andri K.R [2008], Komunikasi Data, Penerbit Andi, Bab 1
3. Forouzan, Behrouz A, 2007, Data Communications and Networking, 4nd Edition, McGraw-Hill Forouzan Networking Series.
4. http://www.camiresearch.com/Data_Com_Basics/data_com_tutorial.html di akses tgl 01- 03-2014
5. Fitzgerald, Jerry and Dennis, Alan and Durcikova, Alexandra, 2012, Business Data Communication and Networking, Eleveth Edition, Wiley Publishing, Inc.
6. Lowe, Doug, 2005, Networking All-in-One Desk Reference For Dummies®, 2nd Edition, by Wiley Publishing, Inc., Indianapolis, Indiana.
7. Stalling, William, 2001, Data And Computer Communications, MacMillan Publishing Company, New York.
8. Sosinsky, Barrie, 2009, Networking Bible, Wiley Publishing, Inc., Indianapolis, Indiana.
9. CCNA exploration 4.0 Network Fundamental
MODUL PERKULIAHAN
SISTEM
JARINGAN
Packet Switching dan
Asynchronous Transfer Mode (ATM)
Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh Ilmu Komputer Teknik Informatika
06
87038 Tim DosenAbstract Kompetensi
Prinsip paket switching
ATM yang disebut sebagai cell relay menyediakan paket switching
Mahasiswa Mampu memahami konsep switching dan jaringan dengan mode Asynchronous Transfer Mode
Prinsip Packet Switching
Prinsip-prinsip Packet Switching
Pada awalnya, jaringan telekomunikasi circuit switching long-haul dirancang untuk mengendalikan lalu lintas suara. Karakteristik dasar dari jaringan circuit switching adalah sumber daya yang berada di dalam jaringan yang dimaksudkan untuk panggilan tertentu.
Untuk beberapa koneksi data pemakai/host sebagian besar waktunya berada pada saluran di dalam idle. Sehingga, dengan koneksi data, pendekatan circuit switching menjadi tidak efisien. Dalam jaringan circuit switching koneksi yang terjadi memungkinkan dilakukannya transmisi pada rate data yang konstan. Jadi masing-masing dari dua perangkat yang dihubungkan harus saling mentransmisikan dan menerima pada rate data yang sama.
Untuk mengetahui yang lebih jelas mengenai packet switching, maka kita harus melihat gambaran secara singkat tetang packet switching. Data ditrasmisikan dalam paket pendek. Batas pada paket panjangnya 1000 octet (byte). Bila sumber mempunyai pesan yang lebih panjang untuk dikirim, pesan-pesan tersebut terpecah menjadi deretan paket.
Masing-masing paket berisikan sebagian (atau semua untuk sebuah pesan pendek) data pemakai ditambah dengan beberapa informasi control. Informasi kontrol pada jumlah minimum, mecakup informasi yang dibutuhkan jaringan agar mampu mengarahkan paket di sepanjang jaringan dan mengirimkannya ketujuan yang dimaksud. Pada masing-masing simpul dalam rute paket diterima, disimpan sementara, dan diarahkan menuju simpul berikutnya.
Pada pendekatan packet switching, terdapat beberapa kelebihan dibanding circuit-swiching, yaitu:
Jalur efisiensi lebih besar, karena jalur simpul ke simpul tunggal dapat dibagi secara dinamik oleh packet sebanyak-banyaknya sepanjang waktu.
Jaringan packet switching mampu menampilkan konversi rate data.
Saat lalu lintas jaringan circuit switching mulai penuh, beberapa panggilan yang dilakukan dibloking. Maksudnya, jaringan menolak menerima permintaan koneksi tambahan sampai muatan pada jaringan berkurang. Pada jaringan packer switching, packet-packet masih bisa diterima, namun terjadi peningkatan penundaan pengiriman.
Diberlakukannya skala prioritas. Jadi, bila semua simpul memiliki sejumlah paket yang mengantri untuk ditrasmisikan, saat itu dapat ditrasmisikan packet yang memiliki prioritas
2015
3 Sistem Jaringan Pusat Bahan Ajar dan eLearning
Tim Dosen http://www.mercubuana.ac.id
yang lebih tinggi terlebih dahulu. Sehingga packet-packet hanya mengalami sedikit penundaan dibanding packet yang prioritasnya lebih rendah.
Gambar 6.1 Penggunaan Packet
Teknik Switching
Bila sebuah station memiliki sebuah pesan untuk dikirim melalui jaringan packet switching yang panjangnya lebih besar dibanding ukuran packet maksimum, ia akan memecah pesan tersebut menjadi bentuk packet dan mengirimkan packet-packet ini sekaligus pada jaringan. Jaringan menangani rantaian packet ini, dan berupaya menyalurkan mereka sepanjang jaringan serta mengirimakannya ke tujuan yang dimaksud dengan dua pendekatan jaringan, yaitu: datagram dan sirkuit virtual.
Dalam pendekatan datagram, masing-masing packet diperlakukan secara terpisah, tanpa dikaitkan dengan packet yang sudah lewat sebelumnya. Untuk lebih jelasnya, lihat gambar dan penjelasan berikut. Misalkan station A memiliki sebuah pesan 3 paket untuk dikirim ke station E. Yang ditrasmisikan adalah paket 1-2-3, menuju simpul 4. Setiap packet berisikan alamat tujuan, yang merupakan station E. Untuk masing-masing packet, simpul 4 harus membuat keputusan untuk membuat jalurnya. Packet 1 harus tiba di E. Simpul 4 dapat saja mengarahkan packet-packet ini baik melalui simpul 5 atau 7. Dalam hal ini, simpul 4 menunjukan antrian packet untuk simpul 5 lebih pendek untuk simpul 7, sehingga yang dipilih adalah antrian untuk simpul 5. Hal yang sama terjadi untuk packet 2. Namun pada packet 3, simpul 4 menemukan bahwa antriannya untuk simpul 7 sekarang menjadi lebih pendek dan begitu juga antrian packet 3 untuk simpul tersebut. Begitu juga yang terjadi dengan packet, masing-masing packet dengan alamat tujuan yang sama, tidak semua mengikuti rute yang sama. Sihingga akibatnya, packet 3 akan sampai sebelum packet 2 dan bahkan packet 1 menuju simpul 6. Jadi, sangatlah mungkin packet-packet tersebut akan
Data aplikasi
Jaringan packet- switching
Informasi kontrol (header packet)
Packet
dikirim ke station E dalam urutan yang berberda dengan urutan saat mereka dikirim.
Terserah pada station E untuk menetapkan memberi perintah pada mereka kembali. Selain itu, kemungkinan pula packet dapat rusak di dalam jaringan. Sebagai contoh, bila sebuah simpul packet-switching kemudian bertabrakan, seluruh packet-packet yang melakukan antrian dapat hilang. Bila ini terjadi pada salah satu packet dalam contoh yang digambarkan, simpul 6 tidak akan mengetahui bahwa salah satu packet dalam urutan packet-packetnya telah hilang. Jadi, station E-lah yang menentukan untuk mendeteksi hilangnya packet tersebut dan kemudian menetapkan cara untuk mangatasinya. Dalam teknik ini, setiap packet diperlakukan secara terpisah, disebut sebagai datagram.
Dalam pendekatan virtual circuit, rute yang telah direncanakan sebelumnya ditetapkan sebelum packet-packet dikirim. Sebagai contoh, anggap saja station A memiliki satu pesan atau lebih untuk dikirim ke station E. Yang pertama kali dikirim adalah suatu packet kontrol khusus, yang disebut packet Permintaan panggilan. Packet tersebut dikirim ke simpul 4, dan meminta koneksi logik munuju station E. Simpul 4 memutuskan untuk menyalurkan permintaan tersebut dan seluruh packet yang berurutan menuju simpul 5, yang kemudian menyalurkannya ke simpul 6. Barulah simpul 6 mengirimkannya ke station E. Bila station E sudah siap menerima koneksi, ia mengirim sebuah packet Penerima panggilan ke simpul 6. Packet ini dilintaskan kembali melalui simpul 5 dan 4 menuju station A. Station A dan E sekarang sudah dapat memulai pertukaran data sepanjang rute yang sudah ditetapkan itu. Karena rutenya sudah dipastikan untuk durasi koneksi logik, ini tampak mirip dengan sirkuit dalam jaringan circuit-switching dan disebut juga dengan sirkuit virtual.
Masing-masing packet terdiri dari penanda sirkuit virtual, sebagai pengganti alamat tujuan, begitu juga dengan data. Masing-masing simpul yang sudah ditetapkan itu membutuhkan keputusan routing. Jadi, setiap packet data dari station E yang dimaksudkan untuk station A melintasi simpul 6,5, dan 4. Pada akhirnya, salah satu station menghentikan koneksi dengan menggunakan packet Cleat Request. Kapanpun, setiap station dapat memiliki lebih dari satu sirkuit virtual untuk beberapa station lainnya atau memiliki beberapa sirkuit virtual untuk lebih dari satu station.
Ukuran packet
Terdapat keterkaitan yang signifikan antara ukuran packet dan waktu transmisi, sebagaimana yang ditunjukan gambar 6.2. Dalam contoh tersebut, diasumsikan terdapat sebuah sirkuit virtual dari station X yang melintasi simpul a dan b munuju station Y. Pesan yang dikirim terdiri dari 40 octet dan masing-masing packet berisikan informasi kontrol 3 octet, yang ditempatkan pada permulaan masing-masing packet dan disebut juga sebagai header. Bila seluruh pesan dikirim sebagai packet tunggal yang terdiri dari 43 octet (3 octet
2015
5 Sistem Jaringan Pusat Bahan Ajar dan eLearning
Tim Dosen http://www.mercubuana.ac.id
header plus 40 octet data), packet tersebut kemudian mula-mula ditransmisikan dari station X ke simpul a (Gambar 6.2). Bila seluruh packet sudah diterima, kemudian ditrasmisikan lagi ke simpul b. Bila seluruh packet berada di simpul b, barulah kemudian ditransfer ke station Y. Dengan mengabaikan waktu switching, total waktu yang diperlukan untuk transmisi adalah 129 octet-waktu (43 octet x 3 transmisi packet).
Jika sekarang pesan dipecah menjadi 2 packet dan masing-masing berisikan 20 octet pesan dan 3 octet untuk setiap header, atau informasi kontrol. Dalam hal ini simpul a bisa mulai mentransmisikan packet pertama secepat mungkin begitu ia tiba di station X, tanpa menunggu packet kedua. Karena adanya tumpang tindih dalam transmisi, total waktu transmisi turun menjadi 92 octet-waktu. Untuk pesan yang dipecah menjadi 5 packet, waktu turun menjadi 77 octet-waktu. Semakin banyak packet dan semakin kecil packet ukuran packet, maka akan menimbulkan penundaan seperti gambar 6.2. Penundaan seperti ini menyebabkan waktu tidak efisien.
Gambar 6.2 Perbandingan antara Circuit-Switching dan Packet Switching
Data
Data
Data
Data 1
Data 2
Data 1
Data 2
Data 1
Data 2
1
2
3
4
5 1
2
3
4
5 1
2
3
4
5
1
2 3 4 5
1 2 3 4 5
1 2 3 4 5 6
7 8 9 10
6 7 8 9 10
6 7 8 9 10
Kinerja
Perbandingan sederhana antara circuit-switching dengan dua bentuk packet-switching dijelaskan pada gambar 6.3. Gambar tersebut menunjukan transmisi sebuah pesan yang melintasi 4 simpul, dari station sumber a terhubungn ke simpul 1 menuju station tujuan yang terhubung ke simpul 4. Ada tiga jenis penundaan yang terjadi:
Penundaan perambatan: Waktu yang dipergunakan sebuah sinyal untuk merambat dari satu simpul ke simpul berikutnya. Kecepatan sinyal-sinyal elektromagnetik merambat sepanjang media kabel, sebagai contoh, biasanya 2 x 108 m/s.
Waktu transmisi: Waktu yang dipergunakan transmitter untuk mengirim sebuah block data. Misalnya, diperlukan waktu 1 detik untuk mentransmisikan sebuah block data 10.000-bit pada jalur 10-kbps.
Penundaan simpul: Waktu yang dipergunakan sebuah simpul untuk melakukan fungsi pengolahan yang diperlukan saat melakukan switching data.
Gambar 6.3 perbandingan switching Data
pemakai
1 2 3 4
Jalur Jalur Jalur
simpul
Penundaan perambata
n Penundaan pengolahan Sinyal
permintaan panggilan
1 2 3 4
Pkt 1 Pkt 2 Pkt 3
Pkt 1 Pkt 2 Pkt 3
Pkt 1 Pkt 2 Pkt 3
1 2 3 4
Pkt 1 Pkt 2 Pkt 3
Pkt 1 Pkt 2 Pkt 3
Pkt 1 Pkt 2 Pkt 3
Packet permintaan
panggilan
Sinyal penerima panggilan
Sinyal balasan
Packet penerima panggilan
Packet balasan
(a) Circitu switching (b) Packet-switching Sirkuit Virtual (c) Packet-switching Datagram
2015
7 Sistem Jaringan Pusat Bahan Ajar dan eLearning
Tim Dosen http://www.mercubuana.ac.id
Untuk circuit-switching, terdapat sejumlah penundaan tertentu sebelum pesan dapat dikirim. Pertama, sinyal permintaan panggilan dikirim sepanjang jaringan, untuk menyusun koneksi dengan station tujuan. Bila station tujuan tidak dalam keadaan sibuk, sinyal penerima panggilan kembali. Saat kembali, proses ini tidak diperlukan karena koneksi sudah dibangun. Setelah pembangunan koneksi, pesan dikirim dalam bentuk block tunggal, tanpa penundaan yang nyata pada simpul-simpul switching.
Packet-switching sirkuit virtual muncul dalam bentuk yang sama pada circuit- switching. Sebuah sirkuit virtual bisa diminta dengan menggunakan packet permintaan panggilan, yang mengakibatkan penundaan pada setiap simpul. Sirkuit virtual diterima dengan packet penerima panggilan. Tetapi berbeda dengan circuit-switching, penerima panggilan juga mengalami penundaan simpul, meskipun rute sirkuit virtual saat ini sudah ditetapkan. Karena, packet ini mengantri pada setiap simpul dan harus menunggu gilirannya untuk transmisi.
Packet-switching datagram tidak memerlukan setup panggilan. Sehingga, untuk pesan-pesan yang singkat, akan lebih cepat dibanding packet-switching sirkuit virtual dan mungkin juga dibanding circuit-switching. Ini karena masing-masing datagram individual disalurkan sendiri-sendiri, pengolahan untuk setiap datagram pada setiap simpul bisa lebih panjangn dibanding untuk packet-packet sirkuit virtual. Sehingga untuk pesan yang lebih panjang, teknik sirkuit virtual akan lebih baik.
Karakteristik-Karakteristik Lainnya
Untuk memuat circuit-switching, tidak diperlukan lagi overhead. Sedangkan untuk packet-switcing data analog harus diubah ke dalam bentuk digital sebelum ditransmisikan.
Sebagai tambahan, masing-masing packet membackup bit-bit overhead, misalnya alamat tujuan.
Operasi Eksternal dan Internal
Salah satu karakteristik terpenting dari jaringan packet-switching adalah apakah menggunakan datagram atau sirkuit virtual. Terdapat dua dimensi dari karakteristik ini, seperti yang diilustrasikan dalam gambar 10.4 dan 10.5. Pada interface antara suatu station dan sebuah simpul, jaringan bisa menyediakan baik layanan yang berorientasi koneksi maupun layanan tanpa koneksi. Dengan layanan berorientasi koneksi, suatu station mengeluarkan sebuah permintaan panggilan untuk menyusun koneksi logik dengan station yang lain. Semua packet yang ditampilkan untuk jaringan diidentifikasikan sebagai milik
koneksi logik tertentu serta diberi nomor yang berurutan. Jaringan berusaha untuk mengirim packet-packet sesuai nomor urutannya. Koneksi logik biasanya ditujukan sebagai suatu sirkuit virtual, sedangkan layanan yang berorientasi koneksi disebut sebagai external virtual circuit service. Layanan ini sangat berbeda dengan konsep internal virtual circuit operation.
Salah satu contoh layanan sirkuit virtual eksternal adalah X.25.
Dengan layanan tanpa koneksi, jaringan hanya setuju untuk menangani packet- packet secara terpisah dan tidak dapat mengirim mereka dengan baik. Jenis ini kadang- kadang disebut external datagram service, dan merupakan konsep yang benar-benar berbeda dengan konsep internal daragram operation. Secara intenal, sebanarnya jaringan bisa menyusun suatu rute tertentu di antara titik ujung (sirkuit virtual) atau tidak sama sekali (datagram).
Keputusan desain internal maupun eksternal ini tidak harus serupa:
Sirkuit virtual eksternal, sirkuit virtual internal: Bila pemakai meminta suatu sirkuit virtual, dibangun sebuah rute tertentu. Seluruh packet mengikuti rute yang sama.
Sirkuit virtual eksternal, datagram internal: Jaringan menangani setiap packet secara terpisah. Sehingga, packet-packet yang berbada untuk sirkuit virtual eksternal yang sama bila mengambil rute yang berbeda pula.
Datagram eksternal, datagram internal: Masing-masing packet diperlakukan secara terpisah baik dari sudut pandang pemakai maupun jaringan.
Datagram eksternal, sirkuit virtual internal: Pemakai eksternal tidak melihat koneksi apapun, mengirimkan satu packet begitu saja saat itu. Sedangkan jaringan menyusun koneksi logik diantara station-station yang dimaksudkan untuk pengiriman packet.
Asynchronous Transfer Mode
Asynchronous transfer Mode (ATM) disebut juga dengan Cell Relay, memiliki kelebihan pada keandalan dan kecepatan fasilitas digital modernnya dalam menyediakan packet switching yang lebih cepat dibanding X.25. ATM dikembangkan sebagai bagian dari cara kerja broadband ISDN maupun di lingkungan non ISDN yang tidak memerlukan kecepatan tinggi.
2015
9 Sistem Jaringan Pusat Bahan Ajar dan eLearning
Tim Dosen http://www.mercubuana.ac.id
ATM merupakan interface transfer packet yang efisien. ATM menggunakan packet-packet tertentu yang disebut cell. Penggunaan ukuran dan format tertentu ini menghasilkan skema yang efisien untuk pentransmisian pada beberapa jaringan berkecepatan tinggi.
ARSITEKTUR PROTOCOL
Persamaan ATM dan Packet Switching
Asynchronous transfer mode memiliki arcitektur yang sama dengan packet switching yang menggunakan X.25 dan frame relay. Data pada ATM dan packet switching dikirim dalam bentuk discrete chunks, yaitu pengiriman data dalam bentuk potongan-potongan dengan ciri tersendiri. ATM dan packet switching memungkinkan koneksi logikal dimultiplexingkan melalui satu interface fisik. Pada ATM, informasi yang mengalir pada koneksi logik disusun menjadi packet-packet berukuran tetap yang disebut cell.
Minimal error dan flow control
ATM merupakan protokol yang efisien dengan kemampuan kontrol kesalahan dan kontrol aliran minimum. Hal ini dapat mengurangi overhead, sehingga memungkinkan ATM dioperasikan pada data rate yang tinggi serta penggunaan cell-cell tertentu membuat proses pengolahan pada setiap simpul ATM dapat disederhanakan.
Data rates (layer physical) 25.6Mbps sampai 622.08Mbps
Standar-standar arsitektur berbasis protokol yang diterbitkan untuk ATM (oleh ITU-T) ditunjukkan oleh gambar di bawah. Gambar tersebut mengilustrasikan arsitektur dasar interface antara pemakai dan jaringan. Lapisan fisik melibatkan spesifikasi pada media transmisi dan skema pengkodean sinyal. Data rate yang ditetapkan pada lapisan fisik adalah 25.6Mbps sampai 622.08Mbps .
Reference Model Planes
Dua arsitektur lapisan protokol tersebut berkaitan dengan fungsi-fungsi ATM. Ada sebuah lapisan yang dipergunakan untuk berbagai bentuk layanan transfer packet. Ada ATM Adaptation Layer (AAL) yang merupakan layanan terpisah dan berfungsi untuk menentukan pentransmisian data dalam ukuran tertentu serta menentukan penggunaan