• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tehnik Pengolahan Data

BAB II LANDASAN TEORI

3.4. Tehnik Pengolahan Data

J umlah pendapatan operasional lainnya

Pendapatan bunga bersih + Pendapatan operasionallainnya

Rumus fee income ratio :

Fee income

Pendapatan bunga bersih + Pendapatan operasionallainnya

Terdapat beberapa versi dalam perhitunganfee based income ratio danfee income ratio ini contohnya seperti perhitungan yang dilakukan oleh Biro Riset Info bank.

Diasumsikan bahwa pendapatan non operasional bank tidak

diperhitungkan dikarenakan nilai dari pendapatan non operasional dapat

menyebabkan mislead. Mislead adalah suatu nilai yang dapat menyebabkan

kesalahan penafsiran.

BABIV

HASIL PENELITIAN

Tahapan yang dilak.ukan dalam analisis data pene litian d imulai dengan melakukan anal isis secara kualitatif data yang telah terkumpul untuk di persiapkan pada tahapan analisis kuantitatif.

Proses pengumpulan data pertama dilakukan dengan cara mendatangi beberapa ~ perpustakaan, dan media cetak untuk mempero leh data Laporan Keuangan Tahunan (annual report) yang di dalamnya meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan modal, laporan arus kas dan lain-lain untu k periode tahun 2002 sampai dengan tahun 2006. Khususnya untuk. data fee based income dapat diperoleh dari laporan laba rugi pada pos pendapatan operasional lainnya dan untuk perhitunganfee income ratio data diperoleh dari laporan laba rugi pada pos fee income.

Data yang dihimpun dalam penulisan ini adalah data time series laporan keuangan tahunan selama 5 tahun, yaitu mulai tahun 2002 sampa i de ngan tahun 2006 gunanya untuk mengetahui besamya jumlah f ee based income yang diperoleh oleh masing-masing bank dan berapa besar dari jwnlah tersebut yang khususnya dihasilkan dari transaksi fee income serta dilal'Ukan perhitungan berapa persen kontribusi fee income terhadap total income banl c

Seperti telah diuraikan pada bab metodologi penelitian bahwa tehnik yan g

ini mengglUUlkan 2 (dua) perhitungan rasio yaitu fee based income ratio dan fee income ratio. Fee based income ratio merupakan perbandingan antara jumlah pendapatan operasional lainnya den gan penjumlahan antara pendapatan bunga bersih dan pendapatan operasional lainnya. Sedangkan perhitungan fee income ratio diperoleh dari perbandingan antara fee income dengan penjumlahan pendapatan bunga bersih dan pendapatan operasio nal lainnya.

Jumlah pendapatan operasional lainnya dipero leh dari penjumlahan antara fee income, forex income, marketable securities gain, dan other income. Artinya bahwa fee based income terdiri dari 4 (em pat) komponen. Dari keempat komponenfee based income, penulis berasumsi bahwa yang merupakanfee besed income sesungguhnya adalah pendapatan yang berasal dari pos fee income. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa dari 20 sampel bank yang diambil, tidak semua bank melakukan transaksi foreign exchange atau melakukan transaksi penjualan marketable securities. Sedangkan untuk other income, pos-p os yang dilaporkan pada laporan keuangan dari 20 bank tersebut belum tentu memiliki kriteria yang sama. Jika pos yang dibandingkan berbeda atau unsur di da lamnya berbeda, maka basil analisis perbandingannya akan bias. Selain itu, pendapatan yang berasal dari foreign exchange, mark etable securities, dan other income merupakan pendapatan yang insidentil atau dapat diartikan sebagai pendapatan yang hanya sesaat saja.

Foreign exchange income, marketable securities dan other income adalah

pendapatan yang bisa saja diperoleh bank dari hasil o p erasional anak

perusahaannya, bukan hasH dari kegiatan operas ional bank itu sendiri. Uraian

sektor corporate banking, pada saat ini mulai memasuki segmen retail banking.

Hal ini disebabkan agar bank yang awalnya mengandalkan bunga sebagai pendapatan utam.anya ini dapat melakukan diversifikasi . risiko sehingga spread risk juga dapat ditekan hingga serendah mungkin.

4.1 Analisa Rasio pada Masing-Masing Bank a. Bank Maod.iri

Tabel4.1

Perbitungao Rasio pada Bank Maodiri

2002 2003 2004

Fee Based Income Ratio 34.61% 32.17% 29.80%

Fee Income Ratio 7.66% 7.83% 9.51%

Graf"Ik 4.1

Perkembangan Fee Income Ratio pada Bank Mandiri

4.00%

2.00%

0 .00%

2002

Bank Mandiri

2003 2004

Tahun

2005 2006

2005 24.10%

13.68%

2006 20.90%

13.42%

Berdasarkan perhitungan pada tabel 4.1 maka diperoleh gwnbaran tentang fee income ratio Bank Mandiri seperti trunpak pada grat1k 4.1. Fee income ratio pada Bank Mandiri selama periode penelitian dari tahun 2002 sampai dengan tahun 2006 mengalami peningkatan secara terus menerus. Walaupun terdapat sedikit penurunan pada tahun 2006, tetapi diasun1sikan bahwa penurunan tersebut tidak signifikan. Hal ini menandakan bahwa Bank Mandiri yang sebelumnya merupakan corporate banking, kini mulai mengarah kepada retail banking. Bank Mandiri menyadari bahwa apabila hanya mengandalkan pendapatan dari bunga yang diperoleh dari nasabah-nasabah korporatnya maka Bank Mandiri akan kehilangan pangsa pasar retail banking yang begitu luas dan menyebar. Selain itu, dengan arab retail banking Bank Mandiri dapat mendiversiflkasikan risikonya.

Langkah nyata yang diambil oleh Bank Mandiri dalam meraih keuntungan dari fee based income adalah dengan menawarkan fitur-fitur dari produk fee based. Contoh fitur yang dtawarkan antara lain adalah automatic teller machine (A TM) termasuk penyebaran ATM baru dan melakukan kerjaswna dengan A TN1 bersama, kartu kredit dengan potongan-potongan diskon di berbagai pusat perbelanjaan dan restoran, safe deposit box dengan harga teljangkau untuk setiap periode dan ukuran, dan lain-lain.

Peran fee based income pada saat arah Bank Mandiri sebagai corporate banking dan setelah Bank Mandiri mengarah ke retail banking tampak begitu berbeda. Hal ini dapat dilihat apabila kita membandingkanfee based income ratio

46

memiliki fee based income ratio sebesar 34.61% sedangkan yang dihasilkan dari kegiatan transaksi fee income hanya sebesar 7 .66%. Pada akhir tahun penelitian, fee based income ratio Bank Mandiri sebesar 20.90% dan dapat memperolehfee

income sebesar 13.42%.

Hingga saat ini Bank Mandiri terns meningkatk.an pemasaran fitur-fitur produk fee based agar dapat memperoleh fee based income yang terus meningkat

dan melihat arah perkembangan Bank Mandiri semakin lama tidak menutup

kemungkinan Bank Mandiri ak.an mengandalkan fee based income sebagai

pendapatan utamanya. Hal ini dapat dilihat dari perkembangan fitur Bank Mandiri

yang ingin menguasai pasar secara wholesale banking dengan cara melayani

transaksi melalui one stop banking.

48

b. Bank Central Asia

Tabel4.2

Perhitungan Rasio pada Bank Central Asia

-

2002 2003 2004 2005 2006

Fee Based Income

Ratio 17.82% 21 .19% 20.95% 22 .19% 19.00%

Fee Income Ratio 12.69% 14.61 % 14.73% 15.11% 13.95%

Grafik 4.2

Perkembangan Fee Income Ratio pada Bank Central Asia

Bank Central Asia

15.50%

15.00%

0 14.50%

I

14.00%

J

13.00% 13.50% 12.50%

~

12.00% 11.50%

11.00%

2002 2003 2004 2005 2006

Tahun

Sesuai dengan perhitungan yang dilakukan pada tabel 4.2 dan dipero leh

gambaran pada graflk 4.2 maka penulis dapat menganalisafee income ratio pada

Bank Cetral Asia (BCA). Fenomena peningkatan foe income ratio yang tetjadi

pada BCA tidak jauh berbeda dengan Bank Mandiri. Pada awal tahun penelitian

sampai dengan tahun 2005, fee income ratio BCA terus mengalami pen.ingkatan

dan hanya mengalami penurunan pada tahun 2006. Namun ada satu hal menarik

yang perlu dianalisa. Berbeda dengan Bank Mandiri yang mengalihk.an fokusnya

dari corporate banking menjadi retail banking, sejak awal BCA merupakan retail banking. Hal ini dapat dianalisa dengan mengamati perbandingan antara.fee based income ratio dan fee income ratio. Fee based income ratio yang diperoleh BCA pada tahun 2002 adalah 17.82% dengan kontribusi fee income ratio sebesar 12.69%. Angka ini tidak bergerakjauh sampai pada tahun 2006, dimanafee based income ratio sebesar 19% danjee income ratio sebesar 13.95%.

Sejak awal BCA dikenal sebagai bank pelopor yang memiliki fitur-fitur produk berbasis fee based. Hingga akhir 2005, perolehan fee based income di BCA meningkat sebesar 21,11%, sehingga menjadi Rp 1,49 triliun. Sebagian besar perolehan itu merupakan hasil pengembangan infrastruktur perbankan transaksional. Mengutip Laporan Tahunan BCA 2005, Presiden Direktur BCA, Djohan Emir Setijoso, mengemukakan bahwa berbagai upaya telah dilakukan untuk membawa BCA ke posisi terdepan dalam perbankan transaksional.

Transaksi A TM merupakan transaksi elek1ronik terbesar, yang meningkat sebesar 35,46% atau senilai Rp 466,63 milyar. Sementara nilai transaksi dari jaringan elektronik lain, meningkat cukup siginifikan, yaitu sebesar 135,16o/o, setara dengan Rp 198,70 milyar pada akhir 2005. Masih banyak lagi keunggulan BCA dalam hal menghimpunfee based income.

Pada tahun 2003, BCA menargetkan pendapatan dari fee based income

sebesar paling tidak Rp 1 triliun. Hal ini merupakan jumlah yang tidak terlalu

besar bagi BCA. Melihat gaya hidup masyarakat penabung yang menggunakan

automatic teller machine (ATM) sebagai alat bantu transaksi, target Rp 1 triliun

merupakan suatu target yang tidak terlalu suHt bagi manajemen BCA. Dapat diperkirak.an jika satu orang harus membayar telepo~ listrik, kartu kredit~ dana pensiun. dan asuransi dengan rata-rata Rp 3000 per transaksinya, sulit untuk mengatakan bahwa banyak nasabah bank lain yang dimanfaatkan BCA. Hal tersebut dianggap normal karena nasabah ingin mudah dan tida.k perlu sulit-sulit datang ke loket-loket pembayaran atau harus mengisi formulir. Tak heran kalau langkah BCA itu banyak diik:uti bank-bank lain, seperti BNI, Bank Mandiri, Bank Danamon, BII, Bank Niag~ dan Bank Buk.opin. Dalam salah satu literatur terungkap bahwa semakin banyak kartu kredit Citibank atau HSBC terjual, maka fee based income BCA akan mak.in besar. Sebab, sebagian besar pembayaran

tagihan kartu kred.it kedua bank tersebut d.ilakukan melalui ATM BCA.

50

c. Bank Negara Indonesia

Tabel4. 3

Perbitungan Rasio pada Bank Negara Indonesia

2002 2003 2004 2005 2006

Fee Based Income

Ratio 28.63% 29.64% 29.35% 25.00% 27.95%

Fee Income Ratio 8.83% 9.60% 12.94% 12.37% 13.36%

Grafik 4.3

Perkembangan Fee Income Ratio pada Bank Negara Indonesia

Bank Negara Indonesia

16.00%

0 14.00%

!

12.00%

J

10.00%

8.00%

6.00%

l

42.00% .00%

0.00%

2002 2003 2004 2005

2006

Tahun

Sesuai dengan perhitungan yang telah dilakukan maka dipero l eh fee income ratio Bank Negara Indonesia (BNl) . Fee income ratio BNl setiap tahun mengalami peningkatan. Penurunan yang terjadi pada tahun 2005, bukan hanya dialami oleh BNI tapi juga terjadi pada beberapa bank lain di Indonesia. Hal ini disebabkan karena terjadinya inflasi akibat kenaikan BBM pada tahun 2005.

Langkah yang dilakukan oleh BNI dalam memperoleh fee based income

adalah dengan memfokuskan diri pada pasar cash management. BN I bekerja san1a

dengan AndrewTani & Co. dengan nama BNI-ATC Cash. "Money Never Sleeps", demikian slogan yang dij ual ke publik dari basil kerjasama an tara BN I dan AndrewTani & Co tersebut. Langkah yang ditempuh oleh BNI merupakan indikasi bahwa BNI mulai memasuki pasar retail banking. Sebab, selama ini BNI lebih tertarik untuk: membiayai kredit ke perusahaan besar dengan membuka cabang di perusahaan yang dibiayai. Dengan menggunakan customer based nasabah korporat, BNI dengan mudah memenuhi seluruh kepentingan nasabah yang berkaitan dengan keuangan perusahaan yang dibiayai. Langkah membangun cash management yang d.ilakukan BNI cukup inovatif. Selama ini, jasa cash management memang hanya dilakukan bank-bank asing yang praktis tidak

memiliki cabang di Indonesia. Bahkan, cabang-cabang bank lokal dijadikan koresponden cash management dari bank asing.

52

d. Bank Rakyat Indone~ia

Tabel4.4

Perhitungan Rasio pada Bank Rakyat Indonesia

2002 2003 2004 2005 2006

Fee Based Income

Ratio 14.66% 10.47% 11 .39% 5.51 % 9.88%

Fee Income Ratio 4.08% 3.21% 3.95% 4.32% 5.48%

Grafik4.4

Perkembangan Fee Income Ratio pada Bank Rakyat Indonesia

Bank Rakyat Indonesia

6.00%

0 5.00%

I

4.00%

I

32.00% .00%

~

1.00%

0.00%

2002 2003 2004 2005 2006

Tahun

Setelah dilakukan perhitungan seperti yang terlihat pada ta. be l 4.4 dan

gambarannya pada graflk 4.4 telah diperoleh hasil analisis bagi fee incoe ratio

bagi BRI. Fee income ratio yang dimiliki oleh BRI terbilang sangat kecil

dibandingkan rata-rata fee income ratio yang diperoleh bank-bank lain. Begitu

pula dengan fee based income ratio yang dimiliki oleh BRI, nilainya pw1 j auh di

bawah rata-rata keseluruhan jumlah bank yang menjadi sampel pada penelitian

ini. Ada ban yak hal yang menyebabkan rendahnya kontribusi fee based income

bagi BRl. Kemungkinan salah satu alasannya dikarenakan mayoritas nasabah BRl yang kurang bankable.

e. Bank Daoamon Indonesia

Tabel4.5

Perhitungao Rasio pada Bank Danamon Indonesia

2002 2003 2004 2005

Fee Based Income

Ratio 29.51% 36.93% 20.83% 18.30%

Fee Income Ratio 15.92% 12.33% 7.69% 4.03%

Grafik 4.5

Perkembangan Fee Income Ratio pada Bank Danamon Indonesia

18.00%

16.00%

0

14.00%

~ 12.00%

j 10.00% 8 6 .00% .00%

l 4.00% 2.00%

0 .00%

Bank Danamon Indonesia

2002 2003 2004 Tahun

2005 2006

Berdasarkan perhitungan pada tabel 4.5 dan gambaran pada grafik 4.5, terlihat bahwa fee income ratio Bank Danamon terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Penurunan yang dialami oleh Bank Danamon ini diakibatkan oleh adanya beberapa kasus yang terjadi. Pada periode penelitian terjadi beberapa

54

2006 15.45%

3.66%

kasus pada Bank Danamon, salah satunya ada lah kasus Dana Simpan Pinjam (DSP). Selain itu yang mempengaruhi pe nurunan f ee based income Bank Danamon adalah pada periode penelitian diketahui bahwa adanya pengaruh asing pada Bank Danamon dikarenakan isu bahwa Bank Danamon akan di merger oleh pihak asing.

f. Bank Internasional Indonesia

Tabel4.6

Perhitungan Rasio pada Bank Internasiooal Indonesia

2002 2003 2004 2005 2006

Fee Based Income

Ratio 108.72% 40.80% 39.31 % 28.77% 28.37%

Fee Income Ratio 20.62% 8.46% 7.87% 7.91% 5.83%

Grafik4.6

Perkembangan Fee Income Ratio pada Bank Internasional Indonesia

Bank lnternasionallndonesia

25.00%

0 20.00%

I i

10.00% 15.00%

l

5.00%

0.00%

2002 2003 2004 2005 2006

Tahun

56

Berdasarkan perhitungan pada tabel 4.6 maka diperoleh gambaran pada grafik 4.6. Fee income ratio yang terlihat pada grafik 4.6 menunjukkan bahwa terjadi penu.runan da.ri tahun ke tahWl. Berdasarkan basil wawanca.ra dengan salah satu pihak terkait, pada tahun penelitian Bank Mandiri bemiat untuk mengakuisisi BII tetapi karena beberapa kasus yang dialami BII maka Bank Mandiri merasa perlu mengevaluasi kembali rencana untuk akuisisi BII tersebut. Kasus-kasus yang terjadi pada BII secara tidak langsung berpengaruh terhadap fee based incomenya.

g. Bank Permata

Tabe14.7

Perhitungan Rasio pada Bank Permata

2002 2003 2004 2005 2006 I

Fee Based Income

I

Ratio 39.78% 20.72% 15.61 % 17.49% 21.33%

Fee Income Ratio 3.79% 2.77% 2.51% 3.80% 3.08% I

Grafik 4.7

Perkembangan Fee Income Ratio pada Bank Permata

Bank Permata

4.00%

0 3.50%

I

3.00%

j

221.SOO.k .50% .00%

l

01.00% .50%

0.00%

Tahun

Berdasarkan perhitungan fee income ratio pada tabel 4. 7 dan grafik 4. 7 menunjukkan bahwa fee income ratio Bank Permata mengalami pergerakan yang fluk-tuatif. Pada awal tahun penelitian yaitu tahun 2002 Bank Pennata memiliki fee income ratio sebesar 3.79% lalu terus menerus menwun selama tahun 2003

dan tahun 2004 yaitu turon dari 2, 77% menjadi 2.51 %. Terjadi fenomena yang menarik pada tahun 2005,fee income ratio Bank Permata mengalatni peningkatan di tengah tingkat inflasi yang tinggi sedangkan beberapa bank lain mengalami penurunanfee income ratio pada tahun 2005 ini.

Pada tahun 2006 fee income ratio Bank Permata kembali mengalami

penurunan. Namun bila dilihat dari sisi fee based income ratio Bank Pennata

mengalami peningkatan di tahun yang sama. Fee based income ratio yang

dimiliki oleh Bank Pennata pada tahun 2006 adalah sebesar 21.33% yaitu

meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya sebesar 17.49%. Hal ini

menandakan bahwa Bank Permata memperoleh peningkatan fee ba sed income bukan dari kegiatanfee income tetapi kemungkinan dariforex income, marketable securities gain ataupun other income.

b. Lippo Bank

Tabel4.8

Perhitungan Rasio pada Lippo Bank

2002 2003 2004

Fee Based Income

Ratio 28.89% 40.42% 33.43%

Fee Income Ratio 19.29% 28.35% 23.83%

Grafik 4.8

Perkembangan Fee Income Ratio pada Lippo Bank

40.00%

0 35.00%

I

30.00%

j

25.00% 20.00% 15.00%

~

10.00% 5.00%

0.00%

2002

Lippo Bank

2003 2004

Tahun

2005 2006

2005 29.78%

20.68%

Pada tahun 2002, Lippo Bank memiliki fee income ratio sebesar 19.29%

dan mengalami peningkatan sebesar 28.35% di tahun 2003 . Lalu ke mudian mengalami penurunan berturut-turut pada tahun 2004 dan tahun 2005 sebesar

58

2006 66.1 8%

33.82%

23.83% hingga 20.60o/o. Penurunan fee income ratio pada tahun 2005 tampak wajar dikarenakan hal ini dialan1i oleh beberapa bank lain yang teljadi akibat adanya intlasi karena kenaikan harga BBM. Tetapi pada tahun 2006 fee income ratio Lippo Bank kembali meningkat yaitu sampai dengan sebesar 33.82°/o.

Pertumbuhanfee based income ratio yang dimiliki Lippo Bank tergolong cukup tinggi. Terlihat pada tabel 4.8, pada tahun 2002 fee based income ratio Lippo Bank hanya sebesar 28.89% tetapi pada akhir periode penelitian yaitu pada tahun 2006 fee based income ratio mencapai jumlah sebesar 66.18%.

1. Bank Tabungan Negara

Tabel4.9

Perhitungan Rasio pada Bank Tabungan Negara

Fee Based Income Ratio

Fee Income Ratio

2002 33.59%

0.46%

2003 2004

17.10% 10.65%

0.39% 0.10%

2005

11 .73%

0.10%

2006 17. 18%

0.11%

60

Grafik 4.9

Perkembangan Fee Income Ratio pada Bank Tabungan Negara - - -

--~--

-- - - - -

Bank Tabungan Negara

0.50%

0 0.40%

I i

0.30% 0.20%

~

0.10%

0.00%

2002 2003 2004 2005 2006

Tahun

Berdasarkan perhitungan fee income ratio d.iperoleh hasil bahwa Bank BTN memiliki jumlahfee income ratio terendah diantara perhitunganfee income ratio pada bank lain. Fee income ratio BTN berkisar dibawah 0.5o/o setiap

tahunnya. Selain itu, dengan jumlah yang tergolong sangat kecil, BTN masih terns mengalami penurunanfee income ratio dari tahun ke tahun. Walaupun ada sedikit kenaikan yang tidak signif.tkan di akhir periode penelitian. Namun untuk fe e based income ratio BTN tidak terlalu mengkhawatirkan seperti fee income rationya.

Pada tahun 2002. BTN memiliki jumlah fee based income ratio yang

cukup tinggi yaitu sebesar 33.59% tetapi pada tahun berikutnyafee based income

ratio BTN mengalami penurunan drastis lebih dari 2 kali lipat sampai dengan

sebesar 17.10%. Pada tahun 2004 fee based income ratio BTN n1engalan1i

penurunan kern bali yaitu sebesar 1 0.65o/o. Struktur fee based income BTN

didominasi oleh other income. Sedangkan kontribusi fee income pada fee based income dirasa masih sangat kurang.

Bank BTN lebih memf o kuskan d iri pada pendapatan bunga. Hal ini dapat dilihat bahwa BTN memiliki fitur- fitur k.redit yang sangat beragam seperti KPR BTN. Bank BTN menjadi primadona dalam bidang KPR.

j. Bank Niaga

Tabel4. 10

Perhitungan Rasio pada Bank Niaga

2002 2003 2004 2005 2006

Fee Based Income

Ratio 45.57% 34.44% 28.66% 19.22% 23.83%

Fee Income Ratio 4 .94% 5.28% 3. 13% 4.02% 2.81%

Grafik4.10

Perkembangan Fee Income Ratio pada Bank Niaga

Bank Niaga

6.00%

0

5.00%

I 4.00%

I 2.00% 3.00%

I

1.000/o

0.00%

2002 2003 2004 2005 2006

Tahun

Bank Niaga memiliki struktur fee income ratio yang lebih rendah daripada rata-rata keseluruhan bank. Fee income ratio Bank Niaga berada pada kisaran tidak lt=bih dari 6% per tahun. Fee income ratio Bank Niaga juga memiliki pergerakan grafik yang cuk.up signifikan. Pada tahun 2002, Bank Niaga memiliki fee income ratio sebesar 4.94% lalu pada tahun berikutnya mengalami peningkatan sampai sebesar 5.28o/o tetapi pada tahun 2004 kembali mengalami penurunan yaitu sebesar 3.13%. Pada tahun 2005, fee income ratio Bank Niaga kembali naik dan terjadi penurunan hampir dua kali lipat pada tahun berikutnya yaitu dari 4.02% pada tahun 2005 menjadi 2.89% pada tahun 2006.

Produk fee based yang ditawarkan oleh Bank Niaga yaitu cash management, namun nampaknya Bank Niaga belum terlalu fokus terbadap fee based income. Hal ini tercermin pada fee based income ratio Bank Niaga.

Awalnyafee based income ratio Bank Niaga mencapai jumlah 45.57% lalu terus menwun drastis sampai dengan posisi terendah yaitu sebesar 19.22%.

62

k. Citibank

Tabel4.11

Perhitungan Rasio pada Citibank

2002 2003 2004 2005 2006

Fee Based Income

Ratio 33.46% 32.87% 22.74% 24.34% 24.94%

Fee Income Ratio 16.83% 19.49% 17.14% 22.42% 20.29%

Grafik 4.11

Perkembangan Fee Income Ratio pada Citibank

Citibank

25.00%

0 20.00%

I

15.00%

~

10.00%

~

5.00%

0.00%

2002 2003 2004 2005 2006

Tahun

Citibank merupakan salah satu bank astng yang beroperasional di Indonesia. Dalam industri perbankan Indonesia, citra yang terbentuk dari citibank adalah bank yang memiliki jumlah nasabah kartu kredit dalam j umlah besar.

Citibank memiliki fee income ratio yang cukup tinggi. Jwnlah fee income ratio

Citibank selalu berada pada level diatas 16% yaitu pada kisaran terendah sebesar

16.83% sampai denganjumlah terbesar yaitu 22.42%.

64

Porsijee inc:ome daJam jumlah fee based income pada Citibank terbilang sangat tinggi . Hal ini dapat dilihat pada tahun 2005 dan tahun 2006 dimana dengan jun1lah f ee based income yang sebesar 24.34% di dalamnya terdapat jumlahf ee income ratio yang cukup tinggi pula yaitu sebesar 22.42%). Begitu pula

yang terjadi pada tahun se lanjutnya bahwa dengan fee based income ratio sebesar 24.94%, kontirbusij ee income rationya cukup tinggi yai tu sebesar 20.29%.

I. Pan Indonesia Bank

Tabel4.12

Perhitungan Rasio pada Pan Indonesia Ba nk

2002 2003 2004 2005 2006

Fee Based Income

Ratio 39.50% 37.99% 38.85% 29.17% 33.09%

Fee Income Ratio 2.63% 3.49% 3.76% 6.04% 6.39%

Grafik 4.12

Perkembangan Fee Income Ratio pada Pan Indonesia Ba n k

Pan Indonesia Bank

7.00%

0 6.00%

I

5.00%

J

43.00% .00%

~

2.00% 1.00%

0.00%

2002 2003 2004 2005 2006

Tahun

Berdasarkan perhitungan pada tabel 4.12 dan gambaran grafik pada grafik 4.12 diperoleh hasil analisis fee income ratio pada Panin Bank. Fee income ratio Panin Bank sdama periode penelitian terus menerus mengalami peningkatan, tanpa adanya sedikitpun penurunan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2002, jumlah fee income ratio Panin Bank adalah sebcsar 2.63% lalu terus meningkat sampai pada tahun 2006 fee income ratio Panin Bank mencapai jumlah 6.39%. Walaupun terus mengalami peningkatan, besarnya fee income ratio Panin Bank masih berada di bawah rata-rata keseluruhan jumlah bank.

Fee based income ratio yang dimiliki oleh Panin Bank tergolong cukup

tinggi. Apabila dilihat dalam laporan keuangan tahunan pada tabun 2002 dan

tahun 2005, Panin Bank tidak memperoleh pendapatan dari transaksi kenaikan

nilai surat berharga. Namun demikian, Panin Bank tetap mampu memperoleh fee

based income yang tinggi.

66

m. Bank Bukopin

Tabel4. l3

Perbitungan Rasio pada Bank Bukopin

~~~::::iii:=:=~--+-~ 2~00 ~ 2 :.__~2 003 2004 2005 2006

1

FeeBasedlncome ---~~~~---+~~~---+~~~~

Ratio 10.90% 11 .68% 9.54% 9.23% 12.16%

Fee Income Ratio 4.22% 3.89% 3.52% 4.37% 4.54%

Gratik 4.13

Perkembangan Fee Income Ratio pada Bank Bukopin Bank Bukopin

5.00%

0 4.00%

~ j

3.00% 2.00%

l

1.00%

0.00%

2002 2003 2004 2005 2006

Tahun

Besamya jumlah fee income ratio Bank Bukopin yang d.ihasilkan dari

perhitungan pada tabel 4. 13 tidak jauh be rbcda dengan basil perhitungan pada

Panin Banlc J umlah fee income ratio Bank Bukopin masih berada di bawah rata-

rata fee income ratio keseluruhan bank. Jumlah ini setiap tahunnya m engalami

pergerakan yang fluktuatif. Pada tahun 2002, tahun 2003 dan tahun 2004 fee

income ratio Bank Bukopin terus mengalami penurunan dari 4.22% la lu me n jadi

3.89% dan kemudian menurun lagi menjadi 3.5 2o/ o . Setelah melewati tahun 2 004

yaitu pada tahun 2005 dan tahun 2006, fee income ratio Bank Bukopin mengalami peningkatan yaitu dari 4.37% pada tahun 2005 menjadi 4.54% di tahun 2006.

Fee based income ratio yang dimiliki oleh Bank Bukopin juga masih

tergolong rendah. Fee based income ratio pada Bank Bukopin hanya mencapai

nilai tertinggi sebesar 12.16%. Rendahnya nilai fee based income ratio pada Bank

Bukopin dikarenakan Bank Bukopin tidak melakukan kegiatan transaksi valuta

asing. Hal ini menunjukan bahwa Bank Bukopin masih menfokuskan diri pada

pendapatan bunga. Belum nampak adanya arah Bank Bukopin menuju ke retail

banking dalam mengumpulkanfee based income.

Dokumen terkait