Universalitas Islam berpaham Ahlussunnah Wal-Jama‟ah meyakini bahwa kewajiban umat Islam yang jumlahnya lima ini sebagai Rukun Islam (Syahadat, Sholat, Puasa, Zakat dan Haji), dan meyakini juga bahwa keenam rukun lain yang disebut dengan Rukun Iman, yaitu Iman kepada Allah, para malaikat Allah, kitab-kitab Allah, para utusan Allah, kepada hari akhir, dan kepada qadha dan qadar. Ajaran Islam disebut dengan syari‘at Islam, yaitu kumpulan hukum yang bersumber dari al-Qur‘an, hadits Nabi SAW, ucapan generasi salaf shalih, ijtihad ulama yang memiliki kapasitas, otoritas dan kapabilitas untuk itu. Syari‘at ini menjelaskan hubungan manusia dengan Allah SWT, dengan sesama manusia, dengan masyarakat atau bangsa, dengan alam dan lingkungannya. Syariat membatasi hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Syari‘at Islam bersifat universal (syumuli) untuk setiap lini kehidupan, dalam lintas waktu dan tempat. Kandungan ajarannya terbagi menjadi tiga hal pokok:
Pertama, aspek-aspek teologi (ahkam „aqaidiyah), mencakup setiap hukum yang terkait dengan Dzat, Sifat, dan keimanan kepada Allah (disebut dengan istilah ilahiyat); yang terkait dengan para utusan dan keimanan kepada mereka dan kitab-kitab yang diturunkan pada mereka (disebut dengan istilah nubuwat); dan yang terkait dengan hal-hal ghaib (disebut dengan istilah sam‟iyat).
Aspek-aspek teologi ini dalam disiplin keislaman disebut dengan Ilmu Tauhid atau Ilmu Kalam.39
Kedua, aspek-aspek praktek ibadah (ahkam „amaliyah), yaitu hukum-hukum yang terkait dengan amal perilaku atau perbuatan manusia. Aspek-aspek hukum ini disebut dengan Ilmu Fikih. Fikih terbagi menjadi beberapa bagian dan para ulama berbeda pendapat mengenai hal itu. Namun pada intinya, fikih terbagi menjadi empat bagian pokok: (1) Fikih Ibadah, mengatur hubungan manusia
39 Abd. Salam Arif, Pembaruan Pemikiran Hukum Islam antara Fakta dan Realitas Kajian Pemikiran Hukum Islam Mahmud Saltut (Yogyakarta: LESFI, 2003), h. 24.
dengan Tuhannya, seperti shalat, zakat, puasa, haji, dan sebagainya, (2) Fikih Mu‘amalat, mengatur hubungan manusia dengan sesamanya, seperti akad jual beli, sewa menyewa, hutang piutang, hibah, pinjam meminjam, penitipan, dan sebagainya, (3) Siyasah Syar‟iyah, mengatur hubungan negara dengan rakyat, atau satu negara dengan negara lainnya, seperti hukum tentang Baitul Mal, anggaran belanja negara (masharif), hukum-hukum pengadilan, baik pidana, perdata, dan sebagainya, (4) Keempat, Ahkam al-Usrah atau Ahwal Syakhshiyah, mengatur hukum privat di dalam keluarga, misalnya pernikahan, perceraian, hak-hak anak, warits, washiat, dan sebagainya.40
Ketiga, aspek-aspek budi pekerti (ahkam tahdzibiyah), yang menyerukan manusia untuk menghiasi perilakunya dengan sifat-sifat yang baik (akhlaq karimah) dan menghilangkan sifat-sifat yang buruk. Sifat-sifat baik itu di antaranya jujur, amanah, bertanggung jawab, berani karena benar, menepati janji, sabar, menjaga kelestarian alam, dan sebagainya. Sedangkan sifat-sifat yang buruk itu antara lain adalah berbohong, berkhianat, tidak menepati janji, menipu, merusak lingkungan, dan sebagainya. Aspek-aspek budi pekerti ini disebut dengan Ilmu Akhlak, atau Ilmu Tashawwuf.
Secara umum, ajaran-ajaran Islam itu terbagi menjadi dua, yaitu ajaran Islam yang statis (syaqqun tsabit, atau qath‟iy) dan ajaran Islam yang dinamis (syaqqun mutaghayyir, atau ijtihadiy). Ajaran statis (tsabit) adalah ajaran yang tidak boleh diubah dan tidak boleh dikondisikan dengan waktu atau tempat, meliputi pokok-pokok aspek teologi (ahkam „aqaidiyah), pokok-pokok aspek ibadah (ahkam „amaliyah), dan pokok-pokok aspek budi pekerti (ahkam tahdzibiyah). Rukun Iman, Rukun Islam, serta mengingkari apa dan siapapun yang disembah selain Allah SWT adalah ajaran yang tidak dapat diubah dan dikondisikan.41 Dakwah para Nabi, sejak Nabi Adam
„alaihissalam hingga Nabi Muhammad shallallahu „alaihi wa
40Muhammad al-Hasan al-Hajawî, al-Fikr al-Sâmî fî Târîkh al-Fiqh al-Islâmî, 2 (Beirut: Dâr al-Kutub al-‗Ilmîyah, 1995), h. 288-309.
41Lihat Q.S an-Nahl: 36, QS al-Anbiya: 25, dan al-Syura: 13.
sallam, pada wilayah tsabit ini tidak berbeda dan tidak berubah.42 Demikian pula, pokok-pokok aturan ibadah berupa shalat, puasa, zakat, dan haji, tidak dapat diubah dan dikondisikan, kecuali dalam hal-hal parsial (juz-iyyat).43
Tentang akhlak, hal-hal pokoknya juga tidak berubah, seperti standar perilaku baik dan buruk, yang dikembalikan kepada konsep apakah suatu perbuatan tersebut bertentangan dengan kaidah-kaidah syariat (qawa‟id syari‟ah) atau tidak bertentangan. Sementara tentang mu‟amalah dan siyasah syar‟iyah dalam berbagai aspeknya, terdapat bagian statis (tsabit) meskipun sedikit, dan terdapat bagian dinamis (mutaghayyir) yang bersitaf fleksibel serta dapat disesuaikan dengan waktu dan tempat. Standar umum dalam praktik mu‟amalah dan siyasah syar‟iyah itu adalah pokok dan kaidah syariat, serta maqashid syari‟ah, yaitu tujuan-tujuan syari‘at untuk: Menghilangkan dan menghentikan sesuatu yang membahayakan (dharar); Memelihara lima hal (kulliyat khams), yaitu memelihara agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta; Senantiasa memperhatikan alasan-alasan hukum („illah) fikih dalam penetapan hukum; dan memperhatikan maslahat secara umum, baik kemaslahatan untuk mendapatkan sesuatu yang positif atau untuk menghindari sesuatu yang negatif.44
Sedangkan ajaran Islam yang dinamis (syaqqun mutaghayyir) adalah ajaran yang bersifat fleksibel (murunah) dan berkembang (tathawwur) seiring perkembangan kehidupan. Ajaran dinamis ini meliputi hal-hal cabang-parsial (furu‟iyat juz‟iyat), rincian-rincian dalam pelaksanaan mu‟amalah dan siyasah syar‟iyah, yang berada pada wilayah adillah zhanniyah, wilayah ijtihad, dan silent syari‟ah (hal-hal yang secara rinci tidak dijelaskan oleh syari‘at). Bagian ajaran dinamis atau syaqqun mutaghayyir ini merupakan ruang luas
42Lihat QS al-Baqarah: 136, QS al-Baqarah: 285, dan QS Ali Imran: 84.
43Samih ‗Abd. al-Wahhab al-Jundi, Ahammiyah al-Maqashid al-Syari‟ah al-IslamiyahWa Atsaruha Fi Fahmi al-Nashshi Wa Istinbath al-
Alhukmi, (Damsiq: Muassasah al-Risalah, 20-8), h. 38-39.
44Muhammad Mushtafa al-Zuhaili, Maqashid al-Syari‟ah, (Ttp. Tp. Tt.), 4.Ya‘qub ‗Abd. Al-Wahhab al-Bahitsin, Raf‟u al-Haraj fi al-
Syari‟ah al-Islamiyah, (Riyadl: Maktabah al-Rusyd, 2001), h. 25-28.
untuk berijtihad yang berarti pengerahan segenap kemampuan akal seorang mujtahid untuk menerapkan hukum Allah SWT di situ,
diartikan sebagai gejala liberalisasi syari‘at, karena Islam bukan
dia memiliki Islam, dan
apapun di luar seperti prinsip
bukan
Sunnah, Ijma‘
al-Qur‘an, yang dibatasi oleh
karakteristisk tersendiri
para ulama, serta kaidah-kaidah dalam ber-istinbath dan ber-istidlal. 45Termasuk dalam ajaran dinamis ini adalah fatwa yang bersifat berubah sesuai waktu, tempat, dan suatu kondisi, berdasarkan standar syariat dalam berfatwa . Ibnu Hajar menukil pendapat Imam
Malik:
“Fatwa yang disampaikan pada manusia harus diperbarui sesuai kadar perbuatan dosa model baru yang mereka lakukan.46
E. Sikap Islam Nusantara terhadap Tradisi, Budaya dan