• Tidak ada hasil yang ditemukan

Uji Asumsi Klasik

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

2. Uji Asumsi Klasik

41

24,7686, kemudian pada tahun 2013 mengalami penurun sebesar 24,1486, kemudian pada tahun 2014 mengalami penurunan sebesar 24,1228, kemudian pada tahun 2015 mengalami penurunan sebesar 19,3944, dan pada tahun 2016 mengalami penurunan sebesar 17,1331. Peningkatan Perputaran piutang dikarenakan belum terealisir pelunasan piutang dibeberapa cabang pelabuhan.

Gambar IV.1 Grafik Histogram

Histogram adalah grafik batang yang berfungsi untuk menguji (secara grafis) apakah sebuah data berdistribusi normal ataukah tidak. Jika data berdistribusi normal, maka data akan membentuk semacam lonceng. Apabila grafik data terlihat jauh dari bentuk lonceng, maka dapat dikatakan data tidak dapat berdistribusi normal. Karena kurva memiliki kecenderungan yang berimbang, baik pada sisi kiri maupun kanan dan kurva membentuk menyerupai lonceng yang hampir sempurna.

1) Uji Normal P- Plot of Regression Standardized Residual

Uji dapat digunakan untuk melihat model regresi normal atau tidaknya dengan syarat yaitu apabila data mengikuti garis diagonal dan menyebar disekitar garis diagonal tersebut.

a) Jika data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogramnya menunjukkan pola distribusi normal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas.

b) Jika data menyebar jauh dari diagonal dan mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogramnya tidak menunjukkan pola distribusi normal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.

Berdasarkan gambar IV.2 Normal p-plot terlihat pada gambar di atas bahwa pola grafik normal terlihat dari titik-titik yang menyebar disekitar garis diagonal dan penyebarnya mengikuti arah garis diagonal, maka dapat disimpulkam bahwa model regresi telah memenuhi asumsi normalitasnya.

43

Dengan SPSS versi 16.00 maka dapat diperoleh hasil Normal P-P Plot of Regression Standardized residual sebagai berikut :

Gambar IV.2

Hasil Uji Normalitas P-Plot Sumber: SPSS 16.00 2) Uji Kolmogrov Smirnov

Uji ini bertujuan agar dalam penelitian ini dapat mengetahui berdistribusi normal atau tidaknya antara variabel independen dengan variable dependen atau keduanya. Dengan kriteria :

a) Bila nilai signifikan <0,05, berarti data berdistribusi tidak normal b) Bila nilai signifikan >0,05, berarti data berdistribusi normal

Berdasarkan Tabel IV.4 Di atas dapat diketahui bahwa K-S variabel Arus Kas Operasi, Perputaran Piutang dan Current Ratio (CR) telah berdistribusikan secara normal karena dari masing-masing variabel memiliki profitabilitas

Dengan SPSS versi 16.00 maka dapat diperoleh hasil uji kolmogrof smirnov sebagai berikut :

Tabel IV.4

Hasil Uji Kolmogrov Smirnov

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized

Residual

N 10

Normal Parametersa

Mean ,0000000

Std. Deviation 98,11506070

Most Extreme Differences

Absolute ,177

Positive ,177

Negative -,121

Kolmogorov-Smirnov Z ,558

Asymp. Sig. (2-tailed) ,914

Sumber: Hasil data Olahan SPSS Versi 16.00

Nilai masing-masing variabel yang telah memenuhi standar yang telah ditetapkan dapat dilihat pada baris Asymp. Sig (2-tailed) dari baris tersebut nilai Asymp. Sig (2-tailed) sebesar 0,914. Hal ini menunjukan variabel berdistribusi secara normal.

b. Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas digunakan untuk mengetahui apakah dalam model regresi ditemukan adanya korelasi yang tinggi diantaranya variabel bebas, dengan ketentuan :

1) Bila Tolerence < 0,1 atau sama dengan VIF >5 maka terdapat masalah multikolinearitas yang serius.

2) Bila Tolerence > 0,1 atau sama dengan VIF <5 maka tidak terdapat masalah multikolinearitas.

45

Dengan SPSS versi 16.00 maka dapat diperoleh hasil uji multikolinearitas sebagai berikut :

Tabel IV.5

Hasil Uji Multikolinearitas

Model

Collinearity Statistics

Tolerance VIF

1 (Constant)

Perputaran Piutang

,584 1,713

ln_aruskas

,584 1,713

a. Dependent Variable: CR

Sumber : SPSS 16.00

Berdasarkan tabel IV.5 Di atas dapat diketahui bahwa nilai Variance Inflation Factor (VIF) untuk variabel Perputaran Piutang sebesar 1,713 dan variabel arus kas operasi sebesar 1,713. Dari masing-masing variabel independen tidak memiliki nilai yang lebih besar dari nilai 5. Demikian juga nilai Tolerence pada variabel perputaran piutang sebesar 0.584 dan variabel arus kas operasi sebesar 0,584. Dari masing-masing variabel nilai tolerance lebih besar dari 0,1 sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi gejala multikolinearitas antara variabel independen yang di indikasikan dari nilai tolerence setiap variabel independen lebih besar dari 0,1 dari nilai VIF lebih kecil dari 5.

c. Uji Heterokedastistas

Uji heterokedastisitas dilakukan untuk mengetahui apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan ke

pengamatan yang lain. Untuk mengetahui apakah terjadi atau tidak terjadi heterokedastisitas dalam model regresi penelitian ini, analisis yang dilakukan adalah dengan metode informal. Metode informal dalam pengujian heterokedastisitas yakni metode grafik dan metode Scatterplot. Dasar analisis yaitu sebagai berikut :

1) Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik membentuk suatu pola yang teratur maka telah terjadi heterokedastisitas.

2) Jika tidak ada pola yang jelas serta titik-titik menyebar tidak teratur, maka tidak terjadi heterokedastisitas.

Dengan SPPS versi 16.00 maka dapat diperoleh hasil uji heterokedastisitas sebagai berikut :

Gambar IV.3

Hasil Uji Heterokedastisitas Sumber : SPSS 16.00

Bentuk gambar di atas dapat dilihat bahwa penyebaran residual adalah tidak teratur dan tidak membentuk pola. Hal tersebut dapat dilihat pada titik-titik

47

atau plot yang menyebar. Kesimpulan yang bisa diambil adalah bahwa tidak terjadi heterokedastistas.

d. Uji Autokorelasi

Autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi linier ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode ke t dengan kesalahan pada periode ke t-1 (sebelumnya). Jika terjadi korelasi, maka dinamakan ada problem autokorelasi. Model regresi yang baik adalah bebas dari autokorelasi. Salah satu cara mengidentifikasikannya adalah dengan melihat nilai Durbin Watson (D-W) :

1) Jika nilai D-W dibawah -2 berarti ada autokorealasi positif

2) Jika nilai D-W diantara -2 sampai +2 berarti tidak ada autokorelasi 3) Jika nilai D-W di atas +2 berarti ada autokorelasi negative

Hasil uji autokorelasi dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel IV.6

Uji Autokorelasi

Model R R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

Durbin- Watson

1 .568a ,323 ,129 111,25202 1,902

a. Predictors: (Constant), ln_aruskas, Perputaran Piutang b. Dependent Variable: CR

Sumber: SPSS 16.00

Dari Tabel di atas bahwa nilai Durbin Watson (DW hitung) adalah sebesar 1,902. Dengan demikian tiadak ada autokorelasi didalam model regresi karena DW berada diantara -2 sampai +2

3. Analisis Regresi Linear Berganda

Model regresi linear berganda yang digunakan adalah Current Ratio(CR) sebagai variabel dependen dan Arus Kas Operasi dan Perputaran Piutang sebagai variabel independen. Dimana analisis berganda berguna untuk mengetahui pengaruh dari masing-masing variabel dependen terhadap variabel independen. Berikut hasil pengelolaan data dengan menggunakan SPSS versi 16.00

Tabel IV.7

Hasil Uji Regresi Linier Berganda

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

T Sig.

B Std. Error Beta

1 (Constant) 1424,701 787,941 1,808 ,114

Perputaran

Piutang -,973 9,738 -,041 -,100 ,923

ln_aruskas -41,169 30,962 -,541 -1,330 ,225 a. DependentVariable: Current Ratio

Sumber: Hasil data olahan SPSS versi 16.00

Dari tabel IV.4 di atas diketahui nilai-nilai sebagai berikut:

1) Konstanta = 1424,701 2) Arus Kas Operasi = -41,169 3) Perputaran Piutang = -0,973

Hasil tersebut dimasukkan kedalam persamaan regresi linier berganda sehingga diketahui persamaan berikut:

Keterangan

49

1) Konstanta sebesar 1424,701 menunjukan bahwa apabila nilai variabel independen dianggap konstan maka Current Ratio (CR) adalah sebesar 1424,701 pada PT. Pelabuhan Indonesia I (Persero) Medan

2) Sebesar -41,169 dengan arah hubungan negativ menunjukan bahwa apabila Arus Kas Operasi mengalami kenaikan maka akan diikuti oleh penurunan Current Ratio (CR) sebesar -41,169 dengan asumsi varibel independen lainnya dianggap konstan.

3) sebesar -0,973 dengan arah hubungan negative menunjukkan bahwa apabila Perputaran Piutang mengalami kenaikkan maka akan diikuti oleh penurunan Current Ratio (CR) sebesar -0,973 dengan asumsi variabel independen lainnya dianggap konstan.

4. Pengujian Hipotesis a. Uji Parsial (uji t)

Uji t dalam penelitian ini digunakan untuk mengetahui kemampuan dari masing-masing variabel independen dalam memepengaruhi variabel dependen.

Alasan lain uji t dilakukan yaitu untuk menguji apakah variabel bebas (X1) secara individual terdapat hubungan yang signifikan atau tidak terhadap variabel terikat (Y). Rumus yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

Dimana :

t = nilai t hitung r = koefisien korelasi

n = banyaknya pasangan rank

Bentuk pengujian :

a) H0 : rs = 0, artinya tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel bebas (X) dan variabel terikat (Y).

b) Ha : rs ≠ 0, artinya terdapat pengaruh signifikan antara variabel bebas (X) dan variabel terikat (Y).

Kriteria pengambilan keputusan yaitu sebagai berikut :

a) H0 diterima apabila – ttabel ≤ thitung ≤ ttabel pada α = 5%. Df = n – 2 b) Haditerima apabila thitung> ttabel atau –thitung< -ttabel

Berdasarkan hasil pengelolaan data dengan SPSS versi 16.00 maka diperoleh hasil uji statistik t sebagai berikut:

Tabel IV.8

Hasil Uji Statistik t (Parsial) coefesients

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

T Sig.

B Std. Error Beta

1 (Constant) 1424,701 787,941 1,808 ,114

Perputaran

Piutang -,973 9,738 -,041 -,100 ,923

ln_aruskas -41,169 30,962 -,541 -1,330 ,225

a. Dependent Variabel: CR

1) Pengaruh Arus kas operasi Terhadap Current Ratio

Uji t digunakan untuk mengetahui apakah Arus kas operasi berpengaruh secara individual (parsial) mempunyai hubungan yang signifikan atau tidak terhadap Current Ratio. Untuk Kriteria uji t dilakukan pada tingkat α = 0.05 dengan nilai t untuk n = 10-2 = 8 adalah 2,306

Thitung = -1,330

51

Ttabel = 2,306

Hipotesis statistik yang berlaku adalah sebagai berikut:

a) H0 : tidak ada hubungan antara Arus kas operasi terhadap Current Ratio b) Ha : ada hubungan antara Arus kas operasi terhadap Current ratio Kriteria pengambilan keputusan berdasarkan thitung dan ttabel :

a) H0 diterima jika : -2,306 ≤ Thitung ≤ 2,306

b) Ha diterima jika : Thitung> 2,306 atau -Thitung< -2,306 Kriteria penarikan kesimpulan berdasarkan probabilitas :

a) Ha diterima jika : 0.225≤ 0.05, pada taraf signifikan = 5% (sig. ≤ α0.05) b) Ha ditolak jika : 0.225≥ 0.05

Berdasarkan hasil pengujian secara parsial pengaruh Arus Kas Operasi terhadap Current ratio diperoleh -1,330. Dan mempunyai angka signifikan sebesar 0,225>0,05. Berdasarkan hasil tersebut menunjukan bahwa secara parsial tidak ada pengaruh Arus kas operasi terhadap Current Ratio pada PT.

Pelabuhan Indonesia 1 (Persero) medan.

2) Pengaruh Perputaran Piutang terhadap Current Ratio

Uji t digunakan untuk mengetahui apakah Perputaran piutang berpengaruh secara individual (parsial) mempunyai hubungan yang signifikan atau tidak terhadap Current Ratio. Untuk kriteria uji t dilakukan pada tingkat α = 0,05 dengan nilai t untuk n= 10-2=8 adalah 2,306

Thitung = - 0,100

Ttabel = 2,306

Hipotesis statistik yang berlaku adalah sebagai berikut:

a) H0 : tidak ada hubungan antara Perputaran piutang terhadap Current ratio

b) Ha : ada hubungan antara Perputaran piutang terhadap Current ratio Kriteria pengambilan keputusan :

a) H0 diterima jika -2,306 ≤ thitung≤2,306, pada α =5%

b) Ha diterima jika : thitung ≥ 2,306 atau –thitung ≤ -2,306 Kriteria penarikan kesimpulan berdasarkan probabilitas :

Ha diterima jika :0.923 ≤ 0.05, pada taraf signifikan = 5% (sig. ≤ α0.05) Ha ditolak jika : 0.923≥ 0.05

Berdasarkan hasil pengujian secara parsial pengaruh perputaran piutang terhadap current ratio diperoleh -0,100 ≤ 2,306. Dan mempunyai angka signifikan sebesar 0,923>0.05. Berdasarkan hasil tersebut didapat kesimpulan bahwa Ha ditolak Ho Diterima. Berdasarkan hasil tersebut menunjukan bahwa secara parsial tidak ada pengaruh pada Perputaran piutang terhadap Current ratio pada PT. Pelabuhan Indonesia 1 (Persero) Medan.

b. Uji Simultan (uji F)

Uji F atau juga disebut uji signifikan serentak dimaksudkan untuk melihat kemampuan menyeluruh dari variabel bebas yaitu Arus Kas Operasidan Perputaran Piutanguntuk dapat atau menjelaskan tingkah laku atau keragaman variabel terikat yaitu Current Ratio. Uji F juga dimaskud untuk mengetahui apakah semua variabel memiliki koefisien regresi sama dengan nol. Berdasarkan hasil pengolahan data dengan program SPSS versi 16.00, maka diperoleh hasil sebagai berikut :

53

Tabel IV.9

Hasil Uji Simultan (Uji-F)

ANOVAb

Model Sum of Squares Df

Mean

Square F Sig.

1 Regression 41320,652 2 20660,326 1,669 .255a

Residual 86639,086 7 12377,012

Total 127959,738 9

a. Dependent Variable CR

b. Predictors: (Constant), ln_aruskas, perputaran piutang Sumber: Data SPSS Versi 16.00

Dari hasil pengolahan dengan menggunakan SPSS versi 16.00 untuk kriteria uji F dilakukan pada tingkat = 5% dengan nilai f untuk Ftabel = n- k-1 = 10 – 2 – 1 =7 adalah sebesar 4,74.

Kriteria pengambilan keputusam berdasarkan Ftabel dan Fhitung : a) Ho diterima jika nilai: -4,74 < Fhitung < 4,74, pada = 5%

b) Ha ditolak jika : Fhitung>4,74 atau –Fhitung< -4,74

Kriteria pengambilan keputusan berdasarkan probabilitasnya :

a) Ho diterima jika : 0.255≤0,05, pada taraf signifikansi = 5% (sig. ≤0,05) b) Ha ditolak jika : 0.255≥0,05

Berdasarkan hasil pengujian secara simultan dengan menggunakan pengujian Fhitung dan Ftabel pengaruh Arus kas operasi dan Perputaran piutang terhadap Current ratio diperoleh 1,669 dengan signifikan 0,255. Nilai Fhitung

(1,669) > Ftabel (4,74), dan nilai signifikan (0,255) > dari nilai probabilitas (0,05).

Dari hasil perhitungan SPSS di atas menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh signifikan secara simultan antara Arus kas operasi dan Perputaran piutangterhadap Current ratio pada perusahaan PT. Pelabuhan Indonesia 1 (persero) medan.

5. Koefisien Determinasi (R-Square)

Koefisien determinasi ini berfungsi untuk mengetahui persentase besarnya pengaruh variabel independen dan variabel dependen yaitu dengan mengkuadratkan koefisien yang ditemukan. Dalam penggunannya, koefisien determinasi ini dinyatakan dalam persentase (%). Untuk mengetahui sejauh mana kontribusi atau persentase Arus kas operasi dan Perputaran piutang terhadap Current ratio maka dapat diketahui melalui uji determinasi.

Tabel IV.10 Hasil Uji Determinasi

Model R R Square Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

1 .568a .323 .129 111.25202

a. Predictors: (Constant), ln_aruskas, Perputaran Piutang b. Dependent Variable: Current Ratio

Sumber: Data SPSS versi 16.00

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa nilai R sebesar 0,568 atau 56,8%

yang berarti bahwa hubungan antara Current Ratio dengan variable bebasnya, yaitu Arus kas operasi dan Perputaran Piutang adalah erat. Pada nilai R-Square dalam penelitian ini sebesar 0,323 yang berarti 32,3% variasi dari Current ratio dijelaskan oleh variable bebas yaitu Arus Kas Operasi dan Perputaran Piutang.

Sedangkan sisanya 67,7% dijelaskan oleh variable lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Nilai R-Square (R2) atau koefisien determinasi dalam penelitian ini yaitu sebesar 0,323 yang berarti 32,3% Current Ratio PT. Pelabuhan Indonesia 1 (Persero) Medan dapat dijelaskan oleh Arus Kas Operasi dan Perputaran Piutang Sedangkan 67,7% dapat dijelaskan oleh faktor-faktor lainnya yang tidak diteliti dalam penelitian ini.

55

B. Pembahasan

Berdasarkan hasil analisis dalam penelitian yang dilakukan dengan menggunakan kesesuaian teori, pendapat maupun penelitian terdahulu yang telah dikemukakan sebelumnya, berikut ini merupakan pembahasan tentang beberapa temuan masalah dalam penelitian.

1. Pengaruh Arus Kas Operasi terhadap Current Ratio

Berdasarkan hasil penelitian di atas antara Arus Kas Operasi terhadap Likuiditas (Current Ratio) Pada PT. Pelindo 1 (Persero) Medanmenyatakan bahwa thitung sebesar -1,330 sedangkan ttabel sebesar 2,306 dan mempunyai angka signifikan sebesar 0,225≥0,05 berarti Ho diterima dan Ha ditolak yang menunjukan bahwa secara parsial tidak ada pengaruh signifikan Arus Kas Operasi terhadap Current Ratio pada PT. Pelindo 1 (Persero) Medan periode 2007 sampai dengan 2016.

Tidak adanya pengaruh antara Arus Kas Operasi terhadap Current Ratio karena perusahaan tidak banyak menggunakan arus kas operasi untuk keperluan pembayaran kewajiban jangka pendeknya. Arus kas operasi lebih banyak digunakan untuk pembayaran kas kepada pemasok, karyawan, dan pembayaran bunga serta beban operasional lainnya.

Menurut Riyanto (2010:94) menyatakan bahwa “makin besar jumlah kas yang ada di dalam perusahaan berarti makin tinggi tingkat likuiditasnya”.Hal ini tidak sesuai dengan teori, fenomena di atas menunjukkan bahwa pada saat jumlah aliran kas meningkat tidak di imbangi dengan peningkatan likuiditas.

Penelitian ini didukung dengan hasil penelitian yang dilakukan Hayati dan Riani (2011) yang berjudul “pengaruh arus kas terhadap likuiditas pada perusahaan Telekomuniskasi yang terdaftar di BEI”. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa arus kas operasi tidak berpengaruh signifikan dengan likuiditas (current ratio).

Hal ini disebabkan karena arus kas dari aktivitas pendanaan yang lebih berpengaruh signifikan terhadap likuiditas, karena jika arus kas dari aktivitas pendanaan tinggi akan mempengaruhi jumlah aktiva lancar berupa kas sehingga memungkinkan perusahaan memiliki tingkat likuiditas yang tinggi pula. Arus kas pendanaan sangat berkaitan dengan transaksi-transaksi yang berhubungan dengan kewajiban baik jangka pendek maupun jangka panjang dan dengan ekuitas pemilik.

2. Pengaruh Perputaran Piutang Terhadap Current Ratio

Berdasarkan hasil penelitian di atas antara Perputaran Piutang terhadap Current Ratio pada PT. Pelabuhan Indonesia I (Persero) Medan diperoleh thitungsebesar -0,100 sedangkan ttabel sebesar 2,306 dan mempunyai angka signifikan sebesar 0,923 ≥ 0,05 berarti H0 diterima dan Ha ditolak. Berdasarkan hasil tersebut didapat kesimpulan bahwa H0 diterima dan Ha ditolak yang menunjukkan bahwa secara parsial tidak ada pengaruh signifikan Perputaran Piutang terhadap Current Ratio pada PT. Pelabuhan Indonesia I (Persero) Medan periode 2007 sampai 2016.

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan Mauliya (2016) yang menyimpulkan bahwa secara parsial perputaran piutang tidak berpengaruh terhadap Likuiditas (Current Ratio). Penelitian ini juga sesuai

57

dengan teori menurut Syamsuddin (2009:49), “tingkat perputaran piutang dimaksudkan untuk mengukur Likuiditas (Current Ratio) atau aktivitas dari piutang perusahaan”.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan penulis secara teori, pendapat, maupun penelitian terdahulu yang telah dikemukakan di atas mengenai Perputaran Piutang terhadap Likuiditas (Current Ratio) perusahaan.Maka penulis menyimpulkan bahwa ada kesesuaian antara hasil penelitian dengan teori, pendapat dan penelitian terdahulu yakni tidak ada pengaruh signifikan Perputaran Piutang terhadap Likuiditas (Current Ratio). Hal ini disebabkan kenaikan dan penurunan Likuiditas (Current Ratio) tidak hanya tercermin pada perputaran piutang. Secara konseptual tentunya perputaran piutang berpengaruh terhadap Likuiditas (Current Ratio) dengan arah positif, karena semakin tinggi perputaran piutang maka semakin baik pula tingkat Likuiditas (Current Ratio) yang dihasilkan perusahaan. Pihak-pihak yang menerima Piutang Usaha pada PT. Pelindo 1 Medan (Persero) adalah:

1. TNI AL

2. Instansi Pemerintah 3. BUMN

4. BUMS 5. Perorangan

3. Pengaruh Arus Kas Operasi dan Perputaran Piutang Terhadap Current Ratio

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh mengenai pengaruh Arus Kas Operasi dan Perputaran Piutangterhadap Current Ratio pada PT. Pelabuhan

Indonesia I (Persero) Medan. Dari uji ANOVA (Analysis Of Varians) pada tabel di atas didapat Fhitung sebesar 1,669 sedangkan Ftabel diketahui sebesar 4,47.

Berdasarkan hasil tersebut dapat diketahui bahwa tingkat signifikan sebesar 0,255 ≥ 0,05 sehingga H0 diterima dan Ha ditolak. Jadi dapat disimpulkan bahwa variabel Arus Kas Operasi dan Perputaran Piutangsecara bersama-sama adalah berpengaruh tidak signifikan terhadap Current Ratio pada PT. Pelabuhan Indonesia I (Persero) Medan.

Hal ini menunjukkan bahwa secara simultan (bersama-sama) tida ada pengaruh signifikan antara Arus Kas Operasi dan PerputaranPiutang terhadap Current Ratio pada PT. Pelabuhan Indoneasia I (Persero) Medan.

59 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dikemukakan sebelumnya maka dapat diambil kesimpulan dari penelitian mengenai Pengaruh Arus Kas Operasi dan Perputaran Piutang terhadap Current Ratio pada PT.

Pelabuhan Indonesia I (Persero) Medan adalah sebagai berikut.

1. Secara parsial, Arus Kas Operasi tidak berpengaruh signifikan terhadap Current Ratio pada PT. Pelabuhan Indonesia I (Persero) Medan. Artinya apabila saat persentase nilai Arus Kas Operasi meningkat atau menurun. Hal ini tidak akan mempengaruhi Current Ratio pada PT. Pelabuhan Indonesia I (Persero) Medan.

2. Secara parsial, Perputaran Piutang tidak berpengaruh signifikan terhadap Current Ratio pada PT. Pelabuhan Indonesia I (Persero) Medan. Artinya apabila saat persentase nilai Perputaran Piutang meningkat atau menurun, hal ini tidak akan mempengaruhi Current Ratio pada PT. Pelabuhan Indonesia I (Persero) Medan.

3. Secara simultan, Arus Kas Operasi dan Perputaran Piutang tidak berpengaruh terhadap Current Ratio pada PT. Pelabuhan Indonesia I (Persero) Medan.

B. Saran

Berdasarkan hasil kesimpulan yang telah diuraikan di atas maka saran- saran yang dapat diberikan adalah :

1. Secara umum pengelolaan untuk Likuiditas atau pengelolaan aktiva perusahaan secara menyeluruh dikatakan tidak baik, maka PT. Pelabuhan Indonesia I (Persero) Medan masih perlu membenahi pengelolaan aktiva lancar dan mengefisienkan arus kas operasi. Salah satunya investasi perusahaan dalam aktiva lancar sebaiknya jangan berlebihan dibandingkan dengan tingkat kebutuhannya, karena ini dapat mengakibatkan banyak dana yang tidak dipergunakan secara efisien dan efektif. Begitu juga dengan Arus kas operasi Sebaiknya perusahaan lebih bisa memperhatikan arus kas operasi secara keseluruhan yang memang banyak berasal dari kegiatan penjualan kredit atau pembayaran piutang dari pelanggan. Oleh karena itu, perusahaan harus bisa menjaga agar proses kegiatan piutang berjalan dengan lancar, tepat waktu sesuai dengan jadwal penagihannya. Dengan demikian, pendapatan dari para pelanggan meningkat dan dapat meningkatkan arus kas operasi.

2. Sebaiknya perusahaan juga mengelola piutang dengan baik, karena naiknya pendapatan diikuti naiknya piutang dalam jumlah yang lebih besar apabila tidak dilakukan perputaran atau dengan kata lain perputaran piutang yang rendah maka akan ada peningkatan piutang dan perusahaan akan mengalami keadaan bangkrut (illiquid). Untuk itu perusahaan disarankan dapat meningkatkan perputaran piutang agar semakin cepat pula menjadi kas dan apabila piutang telah menjadi kas berarti kas dapat digunakan kembali

61

dalam operasional perusahaan sekaligus membayar kewajiban lancar sehingga akan dikategorikan perusahaan lancar (liquid).

3. Sebaiknya perusahaan memperhatikan kenerja manajemen perusahaan dalam hal Arus Kas Operasi dan Perputaran Piutang demi mencapai tujuan Perusahaan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara merekrut kenaga kerja keuangan yang ahli dan terampil serta memiliki dedikasi dan loyalitas yang tinggi terhadap perusahaan. Jika para investor ingin menanamkan modalnya kepada pihak yang ingin melakukan investasi sebaiknya para investor lebih memperhatikan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi tingkat Likuiditas Perusahaan, terutama pada aktiva lancar yaitu Arus kas operasi dan perputaran piutang yang diketahui secara simultan berpenngaruh signifikan terhadap Likuiditas (Current Ratio) perusahaan.

4. Namun bagi peneliti lainnya diisarankan untuk meneruskan atau tidak lanjutkan kajian dari sektor lain agar hasil penelitian nantinya mampu menggambarkan secara menyeluruh keadaan perusahaan yang go public di Indonesia serta menggunakan data time series yang up to date / terbaru, sehingga hasilnya juga akan semakin akurat.

Atmaja, Lukas Setia (2008). Teori Dan Praktik Manajemen Keuangan.

Yogyakarta

Gitosudarmo, Indriyo dan Basri (2002). Manajemen keuangan. Yogyakarta:

BPFE-Yogyakarata.

Hani, Syafrida (2015). Teknik Analisa Laporan Keuangan. Medan: Umsupres Harahap, Sofyan Syafri (2011). Analisis Kritis Atas Laporan Keuangan. Jakarta:

PT. Rajagrafindo Persada.

Hermanto, Bambang dan Mulyo (2012). Analisa Laporan Keuangan, Jakarta:

Penerbit Lentera Ilmu Cendikia

Hery (2015). Analisa Laporan Keuangan, Jakarta PT. Grasindo

Ikhsan, Arfan dan Teddy Prianthara (2009). Akuntansi Untuk Manajer. Jakarta:

Graha ilmu

Indriani, Dewi (2017). Pengaruh Perputaran Piutang Dan Arus Kas Terhadap Likuiditas Pt. Astra Internasional.Tbk : Jurnal EMBA Vol.5 No.1 Maret 2017, Hal. 136 – 144

John J. Wild, K.R Subramanyam. Dkk. (2005). Financial Statement Analysis:

Analisis Laporan Keuangan. Jakarta: Salemba Empat

Juliandi, Azuar, Irfan (2015). Metodologi Penelitian Bisnis. Medan: Umsupress.

Kasmir (2012). Analisis Laporan Keuangan. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.

Maisuri (2016). Pengaruh Perputaran Kas dan Perputaran Piutang terhadap Rasio Lancar Pada PT.Asuransi Wahana Tata Medan. Skripsi, Universitas Muhammadiyah sumatera Utara

Munawir (2014). Analisa Laporan Keuangan Edisi Keempat, Yogyakarta : Penerbit Liberty.

Niswonger, Rollin, C., S. Warren, James M. Reeve, Philip E. Fess, (2000).

Prinsip-Prinsip Akuntansi, Edisi 19, Cetakan 1, Jilid 2, Penerjemah Alfonsus Sirait dan Helda Gunawan, Erlangga, Jakarta

Pedoman Penulisan Skirpsi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Pujiati, Astria Dwi (2014). Pengaruh Perputaran Piutang Dan Perputaran Kas Terhadap Tingkat Likuiditas Pada Koperasi Mitra Perdana Surabaya:

Jurnal

Dokumen terkait