BAB IV: HASIL DAN PEMBAHASAN
B. Statistik Inferensial
2. Uji Hipotesis dan Interpretasi
bahwasannya dari uji homogenitas memiliki skor Based on Mean pada skor Levene Statistic sebesar 0.825 dengan nilai Sig. 0.367, maka nilai Sig. 0.367 > α
= 0.05. Sehingga dapat disimpulkan bahwasannya data hasil uji homogenitas indikator capaian pembelajaran IPA baik di kelas eksperimen dan kelas kontrol memiliki nilai Sig. > α = 0.05, maka data berdistribusi dari data yang sama atau homogen.
sementara dari parameter populasi tertentu berdasarkan data dari suatu sampel.100
Dalam uji hipotesis ini menggunakan software Minitab 19 for Windows dan juga menggunakan software SPSS Statistic 25 for Windows. Kemudian dalam uji hipotesis akan dilakukan uji t two tailed, uji t one tailed, uji Linieritas dan uji Ancova.
1) Uji T-Two Tailed
Uji T-Two Tailed merupakan bentuk uji statistik inferensial yang digunakan untuk melihat adanya perbedaan rerata, antar kelompok yang digunakan dalam penelitian.
Uji ini menggunakan bantuan software Minitab 19 for Windows. Ketentuan uji t-two tailed ini adalah jika nilai sig. < α = 0.05 maka H0 ditolak dan H1 diterima. Sebaliknya jika nilai sig. > α = 0.05 maka H0 diterima dan H1
ditolak. Berikut hasil uji t-two tailed kelas eksperimen dan kelas kontrol
100 Gangga Anuraga, Artanti Indrasetianingsih, and Muhammad Athoillah, “Pelatihan Pengujian Hipotesis Statistika Dasar Dengan Software R,” Jurnal BUDIMAS 03, no. 02 (2021): 327–34.
Gambar 4.6. Hasil Uji T-Two Tailed Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol
Berdasarkan gambar 4.6. dapat diketahui bahwasannya dari hasil uji t-two tailed dengan menggunakan software Minitab 19 dari kelas eksperimen dengan jumlah 30 peserta didik diperoleh skor Mean sebesar 82.5 dengan Standart Deviasi sebesar 10.9.
Sedangkan dari kelas kontrol dengan 31 peserta didik diperoleh skor Mean sebesar 74.2 dengan Standart Deviasi sebesar 14.9.
Kemudian nilai difference sebesar 8.31 dengan skor uji t value sebesar 2.49 pada degree of freedom (df) 54 dengan nilai p-value sebesar 0.016. Hal ini berarti bahwa p-value 0.016 < α = 0.05 sehingga dapat disimpulkan bahwasannya terdapat perbedaan yang signifikan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Sehingga dapat diartikan bahwasannya peserta didik dengan penerapan model pembelajaran TPS kombinasi metode SRL memiliki perbedaan hasil belajar dengan peserta didik yang tidak dilakukan penerapan model pembelajaran non-TPS kombinasi metode SRL dalam mengatasi kecemasan belajar IPA.
2) Uji T-One Tailed
Uji T-One tailed merupakan salah satu uji hipotesis yang digunakan untuk menguji hipotesis satu arah. Dalam analisisnya uji t one tailed ini untuk mengetahui apakah varian data yang ada terdapat perbedaan antar kelompoknya. Uji t-one tailed menggunakan bantuan software Minitab 19 for Windows,
dengan ketentuan hipotesis, jika nilai Sig. <
0.05 maka H0 ditolak dan jika nilai Sig. > 0.05 maka H0 diterima. Berikut hasil uji t-one tailed
Gambar 4.7. Hasil Uji T-One Tailed Kelas
Eksperimen dan Kelas Kontrol
Berdasarkan gambar 4.7. dapat diketahui bahwasannya dari hasil uji t-one tailed dengan menggunakan software Minitab 19 dari kelas eksperimen dengan jumlah 30
peserta didik diperoleh skor Mean sebesar 82.5 dengan Standart Deviasi sebesar 10.9.
Sedangkan dari kelas kontrol dengan 31 peserta didik diperoleh skor Mean sebesar 74.2 dengan Standart Deviasi sebesar 14.9.
Kemudian nilai difference sebesar 8.31 dengan skor uji t value sebesar 2.49 pada degree of freedom (df) 54 dengan nilai p-value sebesar 0.008. Hal ini berarti bahwa p-value 0.008 < α = 0.05 sehingga dapat disimpulkan bahwasannya terdapat perbedaan yang signifikan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Sehingga dapat diartikan bahwasannya peserta didik dengan penerapan model pembelajaran TPS kombinasi metode SRL memiliki hasil belajar yang lebih baik daripada peserta didik dengan penerapan model pembelajaran non-TPS kombinasi metode SRL dalam mengatasi kecemasan belajar IPA.
3) Uji T-Two Tailed Angket
Uji T-Two Tailed merupakan bentuk uji statistik inferensial yang digunakan untuk melihat adanya perbedaan rerata, antar kelompok yang digunakan dalam penelitian.
Uji ini menggunakan bantuan software Minitab 19 for Windows. Ketentuan uji t-two tailed ini adalah jika nilai sig. < α = 0.05 maka H0 ditolak dan H1 diterima. Sebaliknya jika nilai sig. > α = 0.05 maka H0 diterima dan H1
ditolak. Berikut hasil uji t-two tailed kelas eksperimen dan kelas kontrol
Gambar 4.8. Hasil Uji T-Two Tailed Angket Kecemasan Belajar IPA
Berdasarkan gambar 4.8. dapat diketahui bahwasannya dari hasil uji t-two tailed dengan menggunakan software Minitab 19 dari kelas eksperimen dengan jumlah 30 peserta didik diperoleh skor Mean sebesar 17.7 dengan Standart Deviasi sebesar 7.26.
Sedangkan dari kelas kontrol dengan jumlah 31 peserta didik diperoleh skor Mean sebesar
16.3 dengan Standart Deviasi sebesar 7.26.
Kemudian nilai difference sebesar 1.34 dengan skor uji t value sebesar -31.55 pada degree of freedom (df) 58 dengan nilai p-value sebesar 0.000. Hal ini berarti bahwa p-value 0.000 < α = 0.05 sehingga dapat disimpulkan bahwasannya terdapat perbedaan yang signifikan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Sehingga dapat diartikan bahwasannya kecemasan belajar IPA peserta didik dengan penerapan model pembelajaran TPS kombinasi metode SRL memiliki perbedaan dengan kecemasan belajar IPA peserta didik yang dilakukan penerapan model pembelajaran non-TPS kombinasi metode SRL.
4) Uji T-One Tailed Angket Kecemasan Belajar IPA
Uji T-One tailed merupakan salah satu uji hipotesis yang digunakan untuk menguji hipotesis satu arah. Dalam analisisnya uji t one tailed ini untuk mengetahui apakah varian data yang ada terdapat perbedaan antar
kelompoknya. Uji t-one tailed menggunakan bantuan software Minitab 19 for Windows, dengan ketentuan hipotesis, jika nilai Sig. <
0.05 maka H0 ditolak dan jika nilai Sig. > 0.05 maka H0 diterima. Berikut hasil uji t-one tailed
Gambar 4.9. Hasil Uji T-One Tailed Angket
Kecemasan Belajar IPA
Berdasarkan gambar 4.9. dapat diketahui bahwasannya dari hasil uji t-one tailed dengan menggunakan software Minitab
19 dari kelas eksperimen diperoleh skor Mean sebesar 17.7 dengan Standart Deviasi sebesar 7.26. Sedangkan dari kelas kontrol diperoleh skor Mean sebesar 16.3 dengan Standart Deviasi sebesar 7.26. Kemudian nilai difference sebesar 1.34 dengan skor uji t value sebesar -31.55 pada degree of freedom (df) 58 dengan nilai p-value sebesar 0.000. Hal ini berarti bahwa p-value 0.000 < α = 0.05 sehingga dapat disimpulkan bahwasannya terdapat perbedaan yang signifikan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Sehingga dapat diartikan bahwasannya kecemasan belajar IPA peserta didik dengan penerapan model pembelajaran TPS kombinasi metode SRL lebih baik daripada kecemasan belajar IPA peserta didik peserta didik yang dilakukan penerapan model pembelajaran non-TPS kombinasi metode SRL.
5) Uji T-Two Tailed Indikator Capaian Pembelajaran IPA
Uji T-Two Tailed merupakan bentuk uji statistik inferensial yang digunakan untuk melihat adanya perbedaan rerata, antar kelompok yang digunakan dalam penelitian.
Uji ini menggunakan bantuan software Minitab 19 for Windows. Ketentuan uji t-two tailed ini adalah jika nilai sig. < α = 0.05 maka H0 ditolak dan H1 diterima. Sebaliknya jika nilai sig. > α = 0.05 maka H0 diterima dan H1
ditolak. Berikut hasil uji t-two tailed kelas eksperimen dan kelas kontrol
Gambar 4.10. Hasil Uji T-Two Tailed Indikator Capaian Pembelajaran IPA
Berdasarkan gambar 4.10. dapat diketahui bahwasannya dari hasil uji t-two tailed dengan menggunakan software Minitab 19 dari kelas eksperimen dengan jumlah 30 peserta didik diperoleh skor Mean sebesar 85.17 dengan Standart Deviasi sebesar 7.15.
Sedangkan dari kelas kontrol dengan jumlah 31 peserta didik diperoleh skor Mean sebesar
79.65 dengan Standart Deviasi sebesar 8.12.
Kemudian nilai difference sebesar 5.52 dengan skor uji t value sebesar 2.82 pada degree of freedom (df) 58 dengan nilai p-value sebesar 0.007. Hal ini berarti bahwa p-value 0.007 < α = 0.05 sehingga dapat disimpulkan bahwasannya terdapat perbedaan yang signifikan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Sehingga dapat diartikan bahwasannya indikator capaian pembelajaran IPA peserta didik dengan penerapan model pembelajaran TPS kombinasi metode SRL memiliki perbedaan dengan peserta didik yang dilakukan penerapan model pembelajaran non-TPS kombinasi metode SRL.
6) Uji T-One Tailed Indikator Capaian Pembelajaran IPA
Uji T-One tailed merupakan salah satu uji hipotesis yang digunakan untuk menguji hipotesis satu arah. Dalam analisisnya uji t one tailed ini untuk mengetahui apakah varian data yang ada terdapat perbedaan antar
kelompoknya. Uji t-one tailed menggunakan bantuan software Minitab 19 for Windows, dengan ketentuan hipotesis, jika nilai Sig. <
0.05 maka H0 ditolak dan jika nilai Sig. > 0.05 maka H0 diterima. Berikut hasil uji t-one tailed
Gambar 4.11. Hasil Uji T-One Tailed Angket Kecemasan Belajar IPA
Berdasarkan gambar 4.11. dapat diketahui bahwasannya dari hasil uji t-one
tailed dengan menggunakan software Minitab 19 dari kelas eksperimen dengan jumlah 30 peserta didik diperoleh skor Mean sebesar 85.17 dengan Standart Deviasi sebesar 7.15.
Sedangkan dari kelas kontrol dengan jumlah 31 peserta didik diperoleh skor Mean sebesar 79.65 dengan Standart Deviasi sebesar 8.12.
Kemudian nilai difference sebesar 5.52 dengan skor uji t value sebesar 2.82 pada degree of freedom (df) 58 dengan nilai p-value sebesar 0.003. Hal ini berarti bahwa p-value 0.003 < α = 0.05 sehingga dapat disimpulkan bahwasannya terdapat perbedaan yang signifikan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Sehingga dapat diartikan bahwasannya indikator capaian pembelajaran IPA peserta didik dengan penerapan model pembelajaran TPS kombinasi metode SRL lebih baik daripada peserta didik peserta didik dengan penerapan model pembelajaran non- TPS kombinasi metode SRL.
7) Uji Linieritas Pretest-Posttest
Uji linieritas merupakan salah satu uji statistik yang digunakan untuk mengetahui apakah data yang telah dihimpun merupakan data yang linier. Setelah suatu data dikatakan memenuhi suatu uji prasyarat untuk dilanjutkan uji linieritas, maka data tersebut harus sudah memenuhi kriteria uji normalitas dan uji homogenitas. Dalam uji linieritas memiliki tujuan untuk mengetahui yakni variabel yang digunakan (dependen dan independen) memiliki hubungan yang linier atau tidak.101
Menurut pandangan yang dikemukakan oleh Lauvira, bahwa dalam uji linieritas digunakan untuk mengetahui tingkat spesifik dari suatu model termasuk dalam kebenaran atau bukan. Tambahnya, suatu data yang bagus merupakan data yang antar variabel di dalamnya saling memiliki
101 Thein, Mitang, and Bere, “Pengaruh Lingkungan Kerja Dan Komitmen Terhadap Disiplin Kerja Pegawai Pada Kantor Dinas Pariwisata Kabupaten Malaka.”
keterkaitan.102 Selain itu, uji linieritas ini merupakan salah satu prasyarat dimana untuk dilakukan uji analisis korelasi atau uji regresi linier dengan ketentuan keputusan adalah sebagai berikut103
a. Jika nilai probabilitas atau signifikansi > α
= 5% maka antar variabel memiliki hubungan yang linier
b. Sedangkan jika nilai probabilitas atau signifikansi < α = 5% maka antar variabel memiliki hubungan yang tidak linier.
Berikut hasil uji linieritas dengan bantuan software SPSS Statistics 25 for Windows kelas eksperimen dan kelas kontrol
102 Windra Putra, Winarno, and Rianita Puspa Sari, “Analisis Pengaruh Periklanan Mobile Terhadap Loyalitas Konsumen Kartu Prabayar XL Karawang,” Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan 8, no. 6 (2022), https://doi.org/10.5281/zenodo.6446981.
103 Cruisietta Kaylana Setiawan and Sri Yanthy Yosepha,
“Pengaruh Green Marketing Dan Brand Image Terhadap Keputusan Pembelian Produk The Body Shop Indonesia,” Jurnal Ilmiah M-Progress 10, no. 1 (2020): 1–9.
Tabel 4.16. Hasil Uji Linieritas Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol
ANOVA Table Sum of
Squares df Mean
Square F Sig.
Posttest
* Pretest
Between Groups
(Combined) 2143.007 8 267.876 1.539 .167 Linearity 877.975 1 877.975 5.044 .029 Deviation
from Linearity
1265.032 7 180.719 1.038 .416 Within Groups 9051.255 52 174.063
Total 11194.262 60
Berdasarkan hasil uji linieritas pada tabel 4.16. dapat diketahui bahwasannya nilai signifikansi dari Deviation from Linearity yakni sebesar 0.416. Hal ini menunjukkan bahwa nilai signifikansi (Sig.) 0.416 > α = 0.05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dari hasil uji linieritas menunjukkan adanya hubungan yang linier antar variabel independen (model) dengan variabel dependen (metode) untuk mengatasi kecemasan belajar IPA.
Selanjutnya adalah dilihat dari segi kecemasan belajar IPA peserta didik di kelas
eksperimen dan kelas kontrol. Berikut hasil uji linieritas hasil angket kecemasan belajar IPA Tabel 4.17. Hasil Uji Linieritas Angket Kecemasan Belajar IPA Peserta Didik Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol
ANOVA Table Sum of
Squares df Mean
Square F Sig.
Posttes t * Pretest
Betwee n Groups
(Combined )
2797.29
3 22 127.150 14.2 24
.00 0 Linearity 2614.81
0 1 2614.810 292.
510 .00
0 Deviation
from Linearity
182.483 21 8.690 .972 .51 4 Within Groups 339.690 38 8.939
Total 3136.98
4 60
Berdasarkan hasil uji linieritas pada tabel 4.17. dapat diketahui bahwasannya nilai signifikansi dari Deviation from Linearity yakni sebesar 0.514. Hal ini menunjukkan bahwa nilai signifikansi (Sig.) 0.514 > α = 0.05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dari hasil uji linieritas menunjukkan adanya hubungan yang linier antar variabel independen (model) dengan variabel dependen (metode) untuk mengatasi kecemasan belajar IPA.
8) Uji Analisis Covarian (Ancova)
Uji Ancova merupakan salah satu uji terhadap hasil data penelitian yang sudah memenuhi standar normalitas, homogenitas, dan linieritas. Sehingga dalam uji Ancova ini digunakan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan104 antara kecemasan belajar peserta didik yang diterpakan model pembelajaran TPS kombinasi metode SRL dengan peserta didik yang diterapkan model pembelajaran non-TPS kombinasi metode SRL. Uji Ancova dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan bantuan software SPSS Statistic 25 for Windows untuk mengetahui hasil yang diperoleh dari kelas eksperimen dan kelas kontrol
104 Oktavia Wahyu Ariyani and Tego Prasetyo, “Efektivitas Model Pembelajaran Problem Based Learning Dan Problem Solving Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Sekolah Dasar,” Jurnal Basicedu 5, no. 3 (2021): 1149–60.
Tabel 4.18. Hasil Uji Ancova Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol
Tests of Between-Subjects Effects Dependent Variable: Posttest Source
Type III Sum of Squares
df Mean
Square F Sig. Partial Eta Squared Corrected
Model 4062.417a 16 253.901 1.566 .120 .363 Intercept 248327.130 1 248327.130 1532.057 .000 .972 Model 1020.448 1 1020.448 6.296 .016 .125 Pretest 1778.153 8 222.269 1.371 .236 .200 Model *
Pretest 1117.651 7 159.664 .985 .454 .135 Error 7131.845 44 162.087
Total 384975.000 61 Corrected
Total 11194.262 60
a. R Squared = .363 (Adjusted R Squared = .131)
Berdasarkan hasil uji Ancova yang tertera pada tabel 4.18. dapat diketahui bahwasannya dari hasil uji terhadap model yang digunakan dalam pembelajaran diperoleh nilai Sig. sebesar 0.454 dengan Partial Eta Squared sebesar 0.135. Hal ini menunjukkan bahwasannya nilai signifkansi 0.415 > α = 0.05 sehingga dapat disimpulkan yakni terdapat perbedaan antara kelas
eksperimen dan kelas kontrol terhadap model dan metode pembelajaran yang digunakan guna mengatasi kecemasan belajar IPA.
Untuk mengetahui tingkat efektivitas penerapan pembelajaran dengan model TPS kombinasi metode SRL dapat dilihat bahwasannya pada kolom hasil model menunjukkan nilai signifikansi (Sig.) sebesar 0.16 dengan Partial Eta Squared sebesar 0.125. Hal ini menunjukkan bahwasannya nilai signifikansi (Sig.) 0.16 < α = 0.05, sehingga dapat disimpulkan penerapan model pembelajaran TPS kombinasi metode SRL efektif untuk mengatasi kecemasan belajar IPA peserta didik.
Lebih lanjut, untuk mengetahui keefektifan penerapan model pembelajaran TPS kombinasi metode SRL untuk mengatasi kecemasan belajar IPA peserta didik dapat juga dilihat dalam tabel uji Ancova hasil angket kecemasan belajar peserta didik sebagai berikut
Tabel 4.19. Hasil Uji Ancova Angket Kecemasan Belajar IPA
Tests of Between-Subjects Effects Dependent Variable: Posttest Source
Type III Sum of Squares
df Mean
Square F Sig. Partial Eta Squared Corrected
Model 27.543a 1 27.543 .523 .473 .009
Intercept 17613.117 1 17613.117 334.200 .000 .850
Model 27.543 1 27.543 .523 .473 .009
Error 3109.441 59 52.702 Total 20732.000 61
Corrected
Total 3136.984 60
a. R Squared = .009 (Adjusted R Squared = -.008)
Berdasarkan hasil uji Ancova yang tertera pada tabel 4.19. dapat diketahui bahwasannya dari hasil uji terhadap model yang digunakan dalam pembelajaran diperoleh nilai Sig. sebesar 0.473 dengan Partial Eta Squared sebesar 0.009. Hal ini menunjukkan bahwasannya nilai signifkansi 0.473 > α = 0.05 sehingga dapat disimpulkan bahwasannya model pembelajaran TPS kombinasi metode SRL efektif untuk mengatasi kecemasan belajar IPA peserta
didik materi ekologi dan keanekaragaman hayati.