BAB 5 HASIL PENELITIAN
5.3 Analisa Hasil Penelitian
5.3.4 Uji Independent Samples T-test
Independent Samples T-test digunakan untuk mengetahui apakah ada perbedaan rata-rata jumlah sel fibroblast pada tikus putih jantan (Rattus norvegicus) galur wistar antara yang diberi minyak buah merah dan tanpa diberi minyak buah merah.
Pengujian menggunakan tingkat signifikansi 1 % atau 0,01.
Hipotesis :
Ho : Tidak ada perbedaan rata-rata jumlah sel fibroblast pada tikus putih jantan (Rattus norvegicus) galur wistar antara yang diberi minyak buah merah dan tanpa diberi minyak buah merah.
H1 : Ada perbedaan rata-rata jumlah sel fibroblast pada tikus putih jantan (Rattus norvegicus) galur wistar antara yang diberi minyak buah merah dan tanpa diberi minyak buah merah.
Menentukan nilai t hitung dan signifikansi
Dari output perhitungan SPSS diketahui nilai t hitung 1,521 dan nilai signifikansi 0,139.
Menentukan nilai t tabel
T tabel dapat dilihat pada lampiran tabel statistik pada signifikansi 0,01/2 = 0,005 ( uji 2 sisi) dengan derajat kebebasan (df) n – 2 = 32 -2 = 30.
Hasil yang diperoleh untuk t tabel sebesar 2,75.
Kriteria pengujian
a. Berdasarkan nilai t hitung dan t tabel
Jika nilai –t tabel ≤ t hitung ≤ t tabel, maka H0 diterima Jika nilai t hitung < -t tabel atau t hitung > t tabel, maka H0 ditolak
b. Berdasarkan nilai signifikansi
Jika nilai signifikansi > 0,01, maka H0 diterima
Jika nilai signifikansi < 0,01, maka H0 ditolak
Kesimpulan
a. Berdasarkan nilai t hitung dan t tabel
Karena nilai –2,75 ≤ 1,521 ≤ 2,75, maka Ho diterima.
Jadi dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan rata- rata jumlah sel fibroblast pada tikus putih jantan (Rattus norvegicus) galur wistar antara yang diberi minyak buah merah dan tanpa diberi minyak buah merah.
b. Berdasarkan nilai signifikansi
Karena nilai signifikansi 0,139 > 0,01 maka Ho diterima.
Jadi dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan rata- rata jumlah sel fibroblast pada tikus putih jantan (Rattus norvegicus) galur wistar antara yang diberi minyak buah merah dan tanpa diberi minyak buah merah.
.3.5 Kesimpulan Hasil Penelitian Hipotesis:
H0 = Minyak buah merah (Pandanus conoideus Lam.) tidak mempengaruhi pembentukan sel fibroblast pada penyembuhan luka bakar tikus putih jantan (Rattus novergicus) galur wistar yang diberi luka bakar derajat IIA.
H1 = Minyak buah merah (Pandanus conoideus Lam.) mempengaruhi pembentukan sel fibroblast pada penyembuhan luka bakar tikus putih jantan (Rattus novergicus) galur wistar yang diberi luka bakar derajat IIA.
Dari output Independent Samples Statistics dapat pula diketahui bahwa rata-rata jumlah sel fibroblast setelah diberi minyak buah merah 24. Sedangkan rata-rata jumlah sel
fibroblast tanpa diberi minyak buah merah 21. Terlihat bahwa rata-rata jumlah sel fibroblast setelah diberi minyak buah merah lebih tinggi dibandingkan rata-rata jumlah sel fibroblast tanpa diberi minyak buah merah. Akan tetapi berdasarkan pengujian statistik pada tingkat signifikansi 1 % didapatkan kesimpulan bahwa tidak ada perbedaan jumlah sel fibroblast pada tikus putih jantan (Rattus norvegicus) galur wistar antara yang diberi minyak buah merah dan tanpa diberi minyak buah merah. Yang berarti bahwa perbedaan rata-rata jumlah sel fibroblast tidak signifikan, sehingga H0 diterima. Jadi dapat disimpulkan bahwa Minyak buah merah (Pandanus conoideus Lam.) tidak mempengaruhi pembentukan sel fibroblast pada penyembuhan luka bakar tikus putih jantan (Rattus novergicus) galur wistar yang diberi luka bakar derajat IIA.
BAB VI PEMBAHASAN
Penelitian ini menggunakan hewan coba tikus putih jantan galur Wistar dengan usia 10-12 minggu dan berat 150-250 gram dan semua tikus dalam kondisi sehat. Tikus diadaptasikan di Laboratorium Biokimia Fakultas Kedokteran Universitas Hang Tuah Surabaya selama 7 hari dengan diberi pakan standar dan dibagi dalam dua kelompok yaitu kelompok hewan coba tanpa pengolesan minyak buah merah pada luka bakar derajat IIA dan kelompok hewan coba dengan pengolesan minyak buah merah pada luka bakar derajat IIA yang akan di hitung jumlah sel fibroblast pada hari ke-7.
Setelah adaptasi, dilakukan pembuatan luka bakar derajat IIA pada punggung tikus sepanjang ± 2 cm. Pada kelompok hewan coba dengan pengolesan minyak buah merah pada luka bakar derajat IIA, diberikan minyak buah merah secara topikal dua kali sehari selama 7 hari.
Berdasarkan analisis data, pada kelompok hewan coba tanpa minyak buah merah pada luka bakar derajat IIA pada hari ke- 7 menunjukkan nilai rerata sel fibroblast 21 dan kelompok hewan coba dengan dengan pemberian minyak buah merah pada luka bakar derajat IIA pada hari ke-7 menunjukkan nilai rerata 24.
Berdasarkan hasil Uji t dua sampel bebas menunjukkan hasil signifikansi = 0,139 (>0,01), maka Ho diterima. Jadi dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan rata-rata jumlah sel fibroblast pada tikus putih jantan (Rattus norvegicus) galur wistar antara yang diberi minyak buah merah dan tanpa diberi minyak buah merah.
Pada proses penyembuhan luka terdapat fase inflamasi.
Reaksi awal penyembuhan luka, respon vaskular dan selular merupakan manifestasi respon inflamasi. Respon inflamasi akut
biasanya berlangsung selama 24-48 jam dan selesai dalam 2 minggu (Culloch et al, 1995).
Inflamasi merupakan suatu respon protektif yang ditujukan untuk menghilangkan penyebab awal cedera sel serta membuang sel dan jaringan nekrotik yang diakibatkan oleh kerusakan asal.
Inflamasi juga terkait dengan proses perbaikan, yang mengganti jaringan rusak dengan regenerasi sel parenkim serta pengisian setiap defek yang tersisa dengan jaringan parut fibrosa. Sel dan protein plasma dalam sirkulasi, sel dinding pembuluh darah, dan sel serta matriks ekstraselular jaringan ikat sekitarnya terlibat dalam respon radang. Sel dalam sirkulasi adalah leukosit polimorphonuclear (PMN) yang berasal dari sumsum tulang (neutrofil), eosinofil, dan basofil; limfosit dan monosit; serta trombosit. Sel jaringan ikat meliputi sentinel untuk menginvasi, misalnya sel mast, makrofag, dan limfosit serta fibroblas yang menyintesis matriks ekstraselular dan dapat berproliferasi untuk menigisi luka (Kumar, 2007).
Fibroblast merupakan sel yang menghasilkan serat-serat kolagen, retikulum, elastin, glikosaminoglikan, dan glikoprotein dari substansi interseluler amorf. Pada orang dewasa, fibroblas dalam jaringan mengalami perubahan. Mitosis hanya tampak jika organisme memerlukan fibroblas tambahan, yaitu jika jaringan ikat cedera. Fibroblas lebih aktif mensintesis komponen matriks sebagai respon terhadap luka dengan berproliferasi dan peningkatan fibrinogenesis. Oleh sebab itu, fibroblas menjadi agen utama dalam proses penyembuhan luka. (Ali Taqwim, 2011)
Ketika ada kerusakan pada jaringan ikat sangat penting untuk memberikan nutrisi yang tepat untuk sintesis sabut kolagen dan proteoglikan. Sabut kolagen dan proteoglikan disintesis tergantung pada suplai dari nutrient building blocks meliputi asam amino dan gula amino. Vitamin dan mineral juga dibutuhkan dalam reaksi enzimatik untuk membangun kembali jaringan ikat. Beberapa
nutrisi yang terlibat pada perbaikan jaringan ikat dan penyembuhan luka yaitu karbohidrat, protein, asam amino, L-arginine, lemak, vitamin A, vitamin C, vitamin E, dan mineral (zinc, copper, magnesium dan zat besi) (Toni and Wali et al., 2013).
Buah merah mengandung: antioksidan (karotenoid, tokoferol), asam lemak jenuh seperti, asam laurat, palmitat, stearat, dan asam lemak tak jenuh seperti asam palmitoleat, oleat, linoleat, omega-3 dan lain-lain, serat dan kalsium (Inti Aritni P. dan Martanto M., 2009).
Buah merah mengandung banyak nutrisi seperti yang sangat baik untuk meningkatkan kekebalan tubuh serta mengobati berbagai penyakit degenerative dan luka (Jeremia Limbongan dan Afrizal Malik, 2009), sehingga pemberian ekstrak buah merah diharapkan mempercepat penyembuhan luka bakar IIa pada tikus jantan (Rattus Norvegicus) galur wistar.
Namun hal ini tidak tampak pada hasil penelitian, yang menunjukkan bahwa pemberian minyak buah merah belum memberikan pengaruh yang bermakna terhadap peningkatan jumlah sel fibroblast pada punggung tikus jantan (Rattus Norvegicus) galur wistar yang diberi luka bakar derajat IIA.
Masalah yang dihadapi pada penelitian ini antara lain :
1) Tidak adanya penelitian pendahuluan untuk mengetahui dosis yang dapat menimbulkan efek pada tikus wistar, tetapi menggunakan dosis yang terbukti menimbulkan efek pada manusia sehingga diduga dosis yang diperlukan pada tikus belum cukup adekuat untuk mempercepat proses penyembuhan luka pada tikus wistar.
2) Adanya faktor eksternal seperti lama adaptasi yang kurang terhadap lingkungan dan pakan yang diberikan, sehingga menyebabkan berkurangnya nafsu makan dari tikus dan juga cara pemberian ekstrak buah merah yang diduga kurang tepat
pada tikus, sehingga peningkatan jumlah sel fibroblast setelah perlakuan dapat berbeda dari yang seharusnya.
Jadi, dari penelitian ini dapat dilihat bahwa pemberian minyak buah merah secara topikal pada punggung tikus jantan (Rattus Norvegicus) galur wistar yang diberi luka bakar derajat IIA belum dapat mempengaruhi peningkatan jumlah sel fibroblast.
BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN
7.1. Kesimpulan
Bedasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemberian minyak buah merah (Pandanus Conoidus Lam) secara topikal dua kali sehari selama 7 hari berturut–turut tidak dapat meningkatkan jumah sel fibroblast pada punggung tikus putih (Rattus norvegicus) galur wistar yang diberi luka bakar derajat IIA.
7.2. Saran
Saran peneliti untuk penelitian selanjutnya adalah 1) perlu dilakukan penelitian pendahuluan untuk mengetahui dosis dan cara pemberian minyak buah merah dan waktu yang lebih lama yang dapat mempercepat penyembuhan luka. 2) perlu dilakukan penelitian mengenai efek samping pemberian minyak buah merah (Pandanus Conoidus Lam). 3) perlu dilakukan penelitian menggenai metode cara pembuatan luka bakar.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2012. Antibiotic resistance. CDC. Atlanta.14 Maret 2012 http://www.cdc.gov/narms/faq_pages/3. htm.
Budi, I made., Fendy R Paimin. 2004. Buah merah. Depok: Penebar swadaya
Corwin, E. J. 2008. Buku Saku Patofisiologi. EGC, Jakarta.
Dorland, W. A. Newman. 2002. Kamus Kedokteran Dorland. Jakarta:
ECG.
Effendy, Cristantie. 1999. Perawatan Pasien Luka Bakar. EGC, Jakarta.
Eroschenko, V.P. 2003. Atlas Histologi di Fiore dengan Korelasi Fungsional.EGC. Jakarta. hlm 135- 145.
Idries, AM. 1997. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi I. Jakarta:
Binarupa Aksara.
Ismail, Dina D.s.l., Sanarto, & Taqiyah, B. Pengaruh Perawatan Luka Bakar Derajat II dengan Madu Nectar Flora terhadap Lama Penyembuhan Luka.
Gaylene AB, Patricia B, Valerie C. 2000. Delmar’s Fundamental and Advanced: Nursing Skill. Thomson Learning, Canada, p. 3-6.
Geerlings, Marion. 2009. Skin Layer Mechanics. Universiteitsdrukkerij TU Eindhoven, Eindhoven, The Netherlands. ISBN: 978-90-74445-92-4.
Guo, S., & DiPietro L. A. 2010. Factors Affecting Wound Healing. Critical Review in Oral Biology & Medicine, 3, 219-229.
Guyton, A. C. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran.EGC. Jakarta. hlm 299.
Hadad, M., T. Sugandi, D. Wamaer, M. Ondikleu, dan P. Ramba. 2005.
Laporan Eksplorasi Tanaman Buah Merah di Papua. Kerja Sama Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Papua.
H. Machmud dan Bernard T. Wahyu, 2005.Khasiat dan manfaat buah merah: si emas merah dari Papua. AgroMedia. Jakarta. hlm 13-15.
Inti A. P., Martanto M. 2009. Buah Merah: potensi dan manfaatnya sebagai antioksidan, The Journal Of Indonasian Medical Plant.
Jeremia Limbonga, Afrizal Malik 2009. Peluang pengembangan buah merah (Pandanus conoideus Lamk.) di Provinsi Papua, Penelitian, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Papua, viewed 24 Oktober 2014.
Jong DW, Syamsuhidayat R., 1997. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi revisi Jakarta: ECG.
Jong DW. 2005. Bab 3: Luka, Luka Bakar: Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2.
Jakarta : ECG. hlm 66-88.
Junqueira, Luiz. Carneiro, Jose. 2012. Basic Histology: Text & Atlas. 12th edition. New York: The McGraw-Hill Companies, Inc.
Limbongan, J. dan H.T. Uhi. 2005. Penggalian data pendukung domestikasi dan komer- sialisasi jenis, spesies dan varietas tanaman buah di Provinsi Papua. hlm. 55−82. Prosiding Lokakarya I Domestikasi dan Komersialisasi Tanaman Hortikultura, Jakarta 15 September 2005.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Jakarta.
Meishinta F.,Deddy S., Gusti R. 2014. Pengaruh getah papaya terhadap pembentukan jaringan granulasi pada penyembuhan luka bakar tikus percobaan. Jurnal Kesehatan Andalas.
Moenadjat Y. 2003. Luka bakar. Edisi 2. Jakarta: Balai Penerbit FKUI;
2003.
M. Sjaifuddin Noer, 2012. Management acute Phase in burn. Departemen Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetik. FK Universitas Airlangga.
Muray, R.K., D.K. Granner, P.A. Mayes, and V.W. Rodwell. 2003.
Biokimia Harper. Jakarta:ECG. Diterjemahkan oleh A. Hartono.
Nainggolan, D. 2001. Aspek Ekologis Kultivar Buah Merah Panjang (Pandanus conoideus Lamk.) di Daerah Dataran Rendah Manok- wari.
Skripsi Fakultas Kehutanan, Universitas Negeri Papua, Manokwari.
Notoatmodjo, Soekidjo. 2012. Metodologi Penelitian Kesehatan, PT Rineka Cipta, Jakarta.
Perdanakusuma, David S. 2007. Anatomi Fisiologi Kulit dan Penyembuhan Luka. Plastic Surgery Department Universitas Airlangga- RSUD Dr. Soetomo, Surabaya.
Potter PA dan Perry AG. 2006. Buku Ajar Fundamental Keperawatan Konsep, Proses dan Praktik. Edisi 4. Jakarta: ECG.
Rahim, F. M. Aria, dan N.P. Aji. 2011. Formulasi krim ekstrak etanol daun ubi jalar (Ipomoeae Batatas L.) untuk pengobatan luka bakar. J. Scienita.
1(1):21-26.
Ramanda, Lucky. 2013. Pengaruh Ekstrak Etanol Daun Sirih (Piper betle Linn) terhadap Jumlah Pembuluh Darah Baru Luka Bakar Derajat IIA pada Tikus novergicus Galur Wistar. Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, Malang.
Smith, J.B., dan Mangkoewidjojo, S. 1988. Pemeliharaan, Pembiakan, dan Penggunaan Hewan Laboratorium di Daerah Tropis, Cetakan 1, UI Press, Jakarta.
Sri Mariati. 2007. Pengaruh Pemberian Minyak Buah Merah Terhadap Perubahan Derajat Adenokarsinoma Mammae Mencit C3H, viewed 8 September 2014, http://eprints.undip.ac.id/22414/1/Sri_Mariati.pdf
Surono, I.S., T. Nishigaki, A. Endaryanto, and P. Waspodo. 2006.
Indonesian biodiversities from microbes to herbal plants as potential functional food. J. Fac. Agric. Shinshu Univ. 44(1−2): 23−27.
Syamsuhidayat R dan W.D. Jong. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi- 2,EGC, Jakarta.
Tranggono, R. dan Latifah, F. 2007. Buku Pegangan Ilmu Pengetahuan Kosmetik. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Triyono B. 2005. Perbedaan Tampilan Kolagen di Sekitar Luka Insisi Pada Tikus Wistar Yang Diberi InfiltrasiPenghilang Nyeri Levobupivakain dan Yang Tidak Diberi Levobupivakain. Tesis. Tidak diterbitkan. Program Magister Biomedik dan PPDS Universitas Diponegoro, Semarang.
Trubus. 2005. Buaj Merah Bukti Empiris & Ilmiah. Penebar Swadaya:
Bogor. hal 3-61.
Tonni, Wali et al. 2013, Dietary Considerations Of Wound Healing In Ayurveda, Journal nutr food Sci.
Yahya, M dan B. T. W Wiryanata.2005. Khasiat dan
Yuhono, Y.T. dan A. Malik. 2006. Keragaan komoditas buah merah (Pandanus cono- ideus Lamk.): Teknologi pendukung dan solusi arah kebijakannya sebagai sumber pendapatan daerah Papua. hlm. 273−281.
Prosiding Seminar Nasional BPTP Papua 24−25 Juli 2006. Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Bogor.
Wikipedia. 2006. Pandanus conoideus. (online)
http://en.wikipedia.org/wiki/Pandanus_conoideus , viewed 25 september 2014.
JADWAL PELAKSANAAN
No Waktu Pelaksanaan Okt Nov Des Jan Feb
1 Persiapan
a Penelusuran referensi dan kepustakaan
b Penyusunan proposal dan mengurus perizinan
2 Pelaksanaan eksperimen 3 Pengambilan data
4 Analisis data dan pembahasan 5 Penyusunan laporan
Lampiran 1. Persetujuan Komisi Etik
Lampiran 2. Hasil Uji Taksonomi
Lampiran 3. Hasil Pemeriksaan Laboratorium
Lampiran 4. Keterangan Hewan Coba
Lampiran 5. Foto Eksperimen
SKRIPSI
PENGARUH PEMBERIAN MINYAK BUAH MERAH (Pandanus conoidus Lam.) TERHADAP JUMLAH SEL FIBROBLAST PADA PUNGGUNG TIKUS JANTAN (Rattus norvegicus) GALUR WISTAR
DENGAN LUKA BAKAR DERAJAT IIA Penelitian Eksperimental Laboratoris
Disusun oleh Yohanes Argo Wicaksono
NIM : 2011.04.0.0115
Mensahkan : Ketua Sidang,
dr. Eva Pravitasari N, Sp.PA NIK/NIP. 01452
Penguji I, Penguji II,
dr. Troef Sumarno, MS, Sp.PA dr. Edward Simon, Sp.PA NIK/NIP. 01557 NIK.NIP. 02306
PERNYATAAN ORISINALITAS
Skripsi ini adalah karya saya sendiri, bebas plagiat, semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk telah saya nyatakan dengan benar.
Apabila kemudian hari terbukti terdapat plagiat dalam skripsi saya, maka saya bersedia menerima sanksi sesuai ketentuan perundang-undangan.
Surabaya, 10 Februari 2015
Yohanes Argo Wicaksono 2011.04.0.0115
UCAPAN TERIMA KASIH
Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, karena hanya dengan rahmat dan karunia-Nya saya dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul : ” PENGARUH PEMBERIAN MINYAK BUAH MERAH (Pandanus Conoidus Lam) TERHADAP JUMLAH SEL FIBROBLAST PADA PUNGGUNG TIKUS JANTAN (Rattus norvegicus) GALUR WISTAR DENGAN LUKA BAKAR DERAJAT IIA“.
Dalam penyusunan penelitian skripsi ini, saya telah mendapatkan banyak bantuan, bimbingan, dan dukungan serta kerja sama yang positif dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan yang baik ini dengan hati yang tulus saya menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang tidak terhingga kepada yang terhormat :
1. Ir. Sudirman S.IP.,S.E.,M.AP. selaku Rektor Universitas Hang Tuah Surabaya.
2. dr. Sakti Hoetama, Sp.U selaku Dekan Program Pendidikan Dokter Universitas Hang Tuah Surabaya.
3. dr. Sri Rukmini, Sp.THT-KL selaku Wakil Dekan I Progran Pendidikan Dokter Universitas Hang Tuah Surabaya.
4. dr Budiarto, Sp.PK selaku Wakil Dekan II Program Pendidikan Dokter Universitas Hang Tuah Surabaya.
5. dr. Prajogo selaku Wakil Dekan III Program Pendidikan Dokter Universitas Hang Tuah Surabaya.
6. dr. Eva Pravitasari Neferiti, Sp.PA, selaku dosen pembimbing skripsi yang telah meluangkan waktu di tengah kesibukannya.
7. dr. Edward I. Simon, Sp.PA dan dr. R Ng Troef Soemarno Kromodjojoadiningrat,MS, Sp.PA, yang sudah bersedia membimbing dan menguji skripsi saya ini sehingga penelitian dan pengerjaan skripsi dapat selesai tepat pada waktunya.
8. dr. Duti S. Aziz, Sp.PA dan dr. Judiah Sukmana, Sp.PA, sebagai dosen bagian Patologi Anatomi.
9. dr. Wienta Diarsvitri MSc, PhD, atas bimbingan dan saran mengenai metodologi penelitian.
10.Seluruh dosen dan staf laboratorium Biokimia Fakultas Kedokteran Unversitas Hang Tuah Surabaya.
11.Kedua orang tua dan kakak saya atas segala dukungan semangat,dan doa mulai dari pemulaan penelitian hingga penyusunan skripsi.
12.Teman seperjuangan penelitian kak Brenda, dan Mega Selvia serta teman-teman tim Patologi Anatomi yang saling memberikan semangat dalam pengerjaan skripsi.
13.My girlfriend “LIGITA” dan sahabat “BIN” yang selalu menemani saya disaat suka maupun duka pada saat pembuatan skripsi ini.
14.Dan juga sahabat-sahabat super saya “Mbud, Bagas, Muje, Syafaat, Icha, Nisa, Cyntia, Jojo, Arby dan Enrico” yang setia menemani dan membantu saya dalam pengerjaan skripsi ini.
15.Semua pihak yang tidak dapat disebutkan penulis satu persatu atas dorongan dan bantuan sehingga dapat diselesaikannya skripsi ini.
Pada kesempatan ini pula saya menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu saya sangat mengharapkan saran dan masukan dari semua pihak demi kesempurnaannya.
Demikian skripsi ini dibuat dengan harapan mudah-mudahan bermanfaat untuk mengembangkan Ilmu Kedokteran di masa mendatang.
Yohanes Argo Wicaksono
DAFTAR ISI
Halaman Sampul Dalam... i Lembar Pengesahan... ii Lembar Orisinalitas... iii Ucapan Terima Kasih...
iv
Daftar Isi...
vi
Daftar Tabel... x Daftar Gambar... xi Daftar Lampiran... xii
Surabaya, 10 Febuari 2015 Penulis
ABSTRAK
PENGARUH PEMBERIAN MINYAK BUAH MERAH (Pandanus Conoidus Lam) TERHADAP JUMLAH SEL FIBROBLAST PADA
PUNGGUNG TIKUS JANTAN (Rattus norvegicus) GALUR WISTAR DENGAN LUKA BAKAR DERAJAT IIA
Yohanes Argo Wicaksono
Latar belakang. Masyarakat indonesia sering mengobati luka bakar dengan obat yang sudah teruji secara klinis dan obat tersebut bisa didapatkan dengan mudah di daerah perkotaan. Namun tidak bagi masyarakat di daerah terpencil di mana ketersediaan obat masih sangat terbatas. Sehingga perlu dilakukan penelitian tentang obat bakar alternatif di daerah terpencil. Buah merah merupakan buah endemik di papua dan buah itu mengandung antioksidan, betakaroten, vitamin dan asam lemak.
Zat yang terkandung di dalam buah merah itu sangat baik untuk meningkatkan imunitas serta mengobati berbagai penyakit degenerativ dan luka
Tujuan. Untuk membuktikan adanya peningkatkan jumlah sel fibroblast sesudah pemberian buah merah (Pandanus conoideus Lam.) secara topikal pada punggung tikus jantan (Rattus norvegicus) galur wistar dengan luka bakar derajat IIA
Metodologi. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental post test only control group design dengan menggunakan 32 ekor tikus yang diberi luka bakar derajat IIA. Tikus akan dibagi menjadi dua kelompok yaitu, kelompok kontrol (tanpa terapi minyak buah merah secara topikal) dan kelompok perlakuan (dengan terapi minyak buah merah secara topikal).
Perlakuan dilakukan selama 6 hari. Pada hari ke-7, dilakukan pengambilan sampel kulit serta terminasi hewan coba.
Hasil penelitian. Penelitian dilakukan dengan pengujian statistika menggunakan metode independent samples T-test. Dengan metode pengujian ini menunjukkan bahwa pemberian minyak buah merah secara topikal dua kali sehari selama 6 hari tidak berpengaruh terhadap peningkatan jumlah sel fibroblast sesudah pemberian buah merah (Pandanus conoideus Lam.) secara topikal pada punggung tikus jantan (Rattus norvegicus) galur wistar dengan luka bakar derajat IIA. Nilai signifikansi 0,139. Maka p>0,01 sehingga H0 diterima.
Kesimpulan. Pemberian minyak buah merah tidak berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatan sel fibroblast putih yang diberi luka bakar grade IIA.
Kata kunci. Minyak Buah merah, Luka Bakar, Betakaroten.
ABSTRACT
EFFECT OF APPLYING RED FRUIT OIL (Pandanus Conoidus Lam) TO THE TOTAL NUMBER OF MN INFLAMMATORY CELLS
ON MALE RATS (Rattus Norvegicus), WISTAR WITH IIA DEGREE BURNS.
Yohanes Argo Wicaksono
Background. It is common for indonesian to heal burn wound using clinicaly tested drugs which are avaible in urban area. However, these aren’t common in rural areas, because of the lack of the drug’s availability.
And so, further research on the availability of alternative burn wound drugs is needed. Red Fruit is one peculiar fruit in papua. These fruits contain high amount of antioksidants, betacaroten, vitamin, and fatty acid. The substances contained by Red fruit are believed to be good substances to improve imunity and heal degenerative diseases as well as wounds
Purpose. To prove that there is a increase in the number of fibroblast cells, after the administration of red fruit (Pandanus conoideus Lam.) Topically on the backs of male rats (Rattus norvegicus) Wistar strain with IIA degree burns.
Methodology. This study used a eksperimental post test only control group design using 32 rats that were given a IIA degree burns. Rats were divided into two groups: control group (no treatment of red fruit oil, topically) and treated group (with red fruit oil therapy, topically). The