BAB I PENDAHULUAN
B. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
2) Uji Normalitas Posttest kelas Experimen
Menguji normalitas pretest dan posttest kelas eksperimen menggunakan Uji Kolmogorov Smirnov dengan menggunakan program SPSS 20,0 for windows dengan 0,05.
Berdasarkan hasil output uji normalitas varians dengan menggunakan uji Shapiro Wilk nilai p-value dari kelas eksperimen adalah 0,40 Menurut kriteria pengambilan keputusan , jika nilai p-value ≥ 0,05 maka Ho diterima. Hal ini menunjukkan bahwa data posttest kelas kontrol berasal dari populasi yang berdistribusi normal.
3.Uji Kesamaan Dua Rerata (Uji-t)
a. Uji Kesamaan Dua Rerata Hasil Pretest Kelas Eksperimen
Skor Pretest dan posttest kelas eksperimen berdistribusi normal, selanjutnya dilakukan uji kesamaan dua rerata dengan uji-t melalui program SPSS 20.0 for Windows dengan 0,05.
Hipotesis tersebut dirumuskan dalam bentuk hipotesis statistik sebagai berikut :
0
0 : b
H lawan H1:b0 Keterangan :
μpre : Skor rata-rata hasil belajar siswa sebelum menerapkan strategi joyful learning.
μpost : Skor rata-rata hasil belajar siswa setelah menerapkan strategi joyful learning.
Setelah dilakukan pengolahan data, nilai p-value dengan uji-t adalah 0,00.
Karena nilai p-value lebih besar dari maka H0 diterima atau skor pretest dan skor posttest tidak berbeda secara signifikan.
b.Uji Kesamaan Dua Rerata Hasil Posttest
Skor Pretest dan posttest kelas eksperimen berdistribusi normal, selanjutnya dilakukan uji kesamaan dua rerata dengan uji-t melalui program SPSS 20.0 for Windows dengan 0,05.
Hipotesis tersebut dirumuskan dalam bentuk hipotesis statistik sebagai berikut :
Setelah dilakukan pengolahan data, nilai p-value dengan uji-t adalah 0,00.
Karena p-value = 0,00< α = 0,05 maka H0:12 ditolak dan H1:1 2 diterima, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara skor pretest dan skor posttes dalam pembelajaran IPA melalui penerapan strategi joyful learning pada siswa kelas IV SD Negeri Mangasa..
Dari hasil analisis deskriptif dan inferensial yang diperoleh, ternyata cukup mendukung teori yang telah dikemukakan pada kajian teori. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa “strategi joyful learning dapat meningkatkan hasil belajar ipa siswa kelas IV SD Negeri Mangasa.
1.Kekurangan Penelitian
Beberapa keterbatasan dalam penelitian ini di uraikan sebagai berikut:
a. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini hanya melalui bimbingan dengan pembimbing dan tidak dilanjutkan uji coba sebelum diterapkan pada pembelajaran, sehingga instrumen yang digunakan hanya valid dan teoritis.
b. Sampel penelitian hanya menggunakan satu kelas eksperimen saja tanpa kelas pembanding (control), sehingga faktor lain diluar pembelajaran ipa dengan menggunakan strategi joyful learning tidak dapat dikontrol pengaruhnya.
c. Pengamatan terhadap aktivitas guru dan aktivitas siswa hanya dilakukan oleh seorang observer dan hanya sebatas pada ukuran pengamatan kuantitatif serta tidak mengamati sejauh mana kualitas aktivitas, interaksi dan faktor yang mempengaruhi aktivitas siswa dalam pembelajaran.
d. Pada lembar aktivitas siswa, pengumpulan data dilakukan oleh satu observer, dan aktivitas siswa sepenuhnya tidak dapat diamati secara teliti, jelas data yang diperoleh bersifat biasa, karena tidak semua siswa teramati. Hal ini terjadi karena keterbatasan peneliti yang tidak menyiapkan saran pendukung seperti alat perekam untuk merekam seluruh aktivitas siswa pada saat proses pembelajaran berlangsung. Untuk meminimalkan kelemahan-kelemahan tersebut maka pemilihan siswa diupayakan mewakili seluruh siswa dalam kelas, dengan mempertimbangkan kemampuan IPA
e. Penelitian ini dilakukan hanya pada satu kelas saja dengan alokasi waktu 6 × 35 menit selama empat kali pertemuan. Waktu empat kali pertemuan bukanlah waktu yang cukup bagi guru untuk beradaptasi dengan model atau strategi
pembelajaran yang baru, sehingga kekonsistenan aspek-aspek yang teramati selama pembelajaran belum dapat dijamin.
.
Berdasarkan hasil dari penelitian yang telah dilakukan, maka dapat dikemukakan beberapa saran yaitu penerapan model pembelajaran Joyful Learning dengan metode pemberian tugas dalam pembelajaran kimia seperti diuraikan dalam penelitian ini, dapat dijadikan salah satu alternatif untuk meningkatkan prestasi belajar kimia bagi siswa, serta guru hendaknya menggunakan model dan metode yang menarik dalam pembelajaran di kelas sehingga dapat mengurangi rasa malas dan bosan dalam pembelajaran. Perlu diadakan penelitian lebih lanjut mengenai penggunaan model pembelajaran Joyful Learning dengan metode pemberian tugas pada pembelajaran kimia materi pokok lain.
Ni Wyn. Sri Wedayanti ( 2013 ) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa 1 mean pada kelompok eksperimen = 69,74 > mean kelompok kontrol 2 thitung= 2,298 > ttabel α = 0,005 = 2,000 sehingga Ho ditolak dan Ha diterima. Ini berarti terdapat perbedaan yang signifikan prestasi belajar IPA antara siswa yang mengikuti model pembelajaran kuantum berbasis joyful learning dengan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional pada siswa kelas IV Sekolah Dasar Gugus Untung Surapati, Denpasar Timur Tahun Ajaran 2012/2013. Dengan demikian dapat disimpulkan model pembelajaran kuantum berbasis joyful learning berpengaruh terhadap prestasi belajar IPA.
Penelitian yang dilakukan oleh Kreano ( 2013 ) , Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah implementasi model pembelajaran CIRC berbasis Joyfull Learning efektif terhadap kemampuan penalaran matematis siswa pada
materi Teorema Pythagoras. Pengumpulan data dilakukan dengan metode dokumen-tasi, tes, dan observasi. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa pada kelas eksperimen telah mencapai ketuntasan klasikal. Hasil uji perbedaan dua rata-rata menun-jukkan bahwa rata-rata hasil tes kemampuan penalaran matematis siswa kelas eksperimen lebih dari rata-rata hasil tes kemampuan penalaran matematis siswa kelas kontrol.
Berdasar-kan hasil tersebut dapat diketahui bahwa rata-rata kemampuan penalaran matematis siswa kelas eksperimen lebih baik daripada rata-rata kemampuan penalaran matematis siswa kelas kontrol. Hasil observasi menunjukkan bahwa persentase keaktifan siswa dalam pelaksanaan pembelajaran CIRC berbasis Joyfull Learning lebih tinggi daripada persentase keaktifan siswa pada pembelajaran ekspositori, dan aktivitas guru dalam mengelola pembelajaran CIRC berbasis Joyfull Learning mencapai kriteria sangat baik.
Amy J. Phelps & Cherin Lee. (2003). The power of practice : what students learn from how we teach. Journal of Chemical Education, 80 (7), 829 – 832. Pada saat ini di berbagai negara sedang trend dan semangat mengembangkan joyful learning dan meaningful learning, yaitu dengan menciptakan kondisi pembelajaran sedemikian rupa sehingga anak didik menjadi betah di kelas karena pembelajaran yang dijalani menyenangkan dan bermakna. Penyampaian materi secara menyenangkan telah diserukan oleh Depdiknas melalui UU No. 20/2003 Pasal 40 dan PP No. 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 19 ayat 1.
Joyful learning merupakan salah satu bentuk strategi pembelajaran yang sesuai dengan anjuran pada kedua peraturan tersebut yang dapat diterapkan seorang pendidik dalam menciptakan pembelajaran yang menyenangkan sekaligus memacu kreativitas mahasiswa dalam pembelajaran. Berdasarkan pengamatan menunjukkan masih banyaknya proses pembela-jaran di Perguruan Tinggi yang dikemas kurang menarik bagi mahasiswanya, sehingga joyful learning dapat menjadi salah satu alternatif dalam penciptaan pembelajaran yang menarik. Banyak bentuk joyful learning yang dapat dikembang-kan, beberapa diantaranya mengajarkan materi yang dikemas dalam bentuk puisi dan lagu untuk menghafal konsep yang telah dipelajari, mengemas materi dalam bentuk teka-teki, permainan, drama, dan video pembelajaran.
Sebagai dosen calon pencetak guru sudah saatnya kita peduli dengan peningkatan kualitas perkuliahan agar dapat memberi contoh tauladan yang baik bagi mahasiswa, salah satunya dengan menerapkan berbagai strategi perkuliahan yang kreatif dan inovatif yang mampu mengimbangi perkembangan IPTEK dan situasi belajar saat ini. Joyful learning merupakan strategi atau model pembelajaran yang sesuai dengan era saat ini dimana anak didik sangat rawan stres, karena saratnya materi ajar yang harus dikuasai. Semua materi pelajaran dapat dibuat menjadi menyenangkan, tergantung niat dan kemauan pendidik untuk menciptakannya.
Irdianto ( 2012 ) , dalam Penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan langkah-langkah pembelajaran melalui joyful learning menggunakan kemasan minuman yang dapat memahamkan siswa materi bangun ruang sisi datar di kelas
VIII-A SMP Negeri 2 Sikur Kabupaten Lombok Timur. Ada banyak pilihan metode pembelajaran dalam menciptakan pembelajaran yang aktif dan menyenangkan, diantaranya adalah pembelajaran menggunakan media atau alat peraga seperti kemasan minuman. Penelitian tentang joyful learning dan materi bangun ruang sisi datar ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan penelitian merupakan penelitian tindakan kelas (PTK). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada siklus I diperoleh hasil hanya 84,85% siswa yang mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM), karena itu dilanjutkan ke siklus II yang menunjukkan bahwa 90,91% siswa telah mencapai KKM. Dengan demikian siswa telah memahami bangun ruang sisi datar.
Tukarno ( 2012 ) dalam penelitiannya, Kria Kulit adalah salah satu program studi yang ada di SMK yang mempunyai kompetensi produktif yang sangat dibutuhkan oleh siswa. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran terutama pada program kria kulit siswa kelas X pada mata pelajaran nirmana datar yang meliputi bagaimana menggambar dengan teknik gradasi yang baik. Belum maksimalnya kemampuan dalam membuat teknik gradasi sangat mempengaruhi hasil prestasi belajar para siswa di program studi tersebut. Hasil analisis siklus 1 menunjukkan nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 74,7 dan ketuntasan belajar mencapai 35% atau ada 7 siswa dari 20 siswa yang sudah tuntas belajar.
Hasil ini menunjukkan bahwa pada siklus I ini ketuntasan belajar secara klasikal belum memenuhi standar nilai KKM yaitu 75. Hasil analisis siklus 2 mnunjukkan nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 81,52 dan ketuntasan
belajar mencapai 100 % atau secara keseluruhan 20 siswa sudah tuntas belajar. Dari hasil kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan selama dua siklus, dan berdasarkan seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut:
Pembelajaran menggambar teknik gradasi dengan pendekatan metode Joyful Learning dalam memiliki dampak postif dalam meningkatkan kemampuan menggambar teknik gradasi siswa yang ditandai dengan peningkatan ketuntasan belajar siswa yang dibuktikan pada sikulus dua, yaitui seluruh siswa pada program studi Kria Kulit dalam kompetensi menggambar teknik gradasi dapat mencapai nilai standar lulus. Berdasarkan hasil analisis data pada siklus I belum ada perubahan nilai yang signifikan. Peningkatan pemahaman siswa pada tiap siklus diikuti dengan perubahan tingkah laku siswa ke arah yang positif.
Saputra Ardianto, ( 2013 ) dalam Penelitian yang bertujuan untuk meningkatkan rasa ingin tahu dan prestasi belajar siswa kelas X-5 SMA N 1 Ngemplak Boyolali tahun ajaran 2013/2014 pada materi pokok hidrokarbon dengan menggunakan pendekatan joyful learning dan metode guided discovery. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus. Setiap siklus terdapat empat tahapan yang terdiri dari perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Subjek penelitian adalah siswa kelas X-5 SMA N 1 Ngemplak tahun ajaran 2013/2014. Objek pada penelitian ini adalah rasa ingin tahu dan prestasi belajar. Sumber data berasal dari guru dan siswa. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dokumentasi, tes, dan angket. Data dianalisis
menggunakan metode deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pendekatan joyful learning dan metode guided discovery dapat meningkatkan rasa ingin tahu dan prestasi belajar siswa kelas X-5 SMA N 1 Ngemplak tahun ajaran 2013/2014. Persentase ketuntasan rasa ingin tahu siswa pada siklus I sebesar 72,03% yang meningkat menjadi 78,51% Â pada siklus II. Ketercapaian aspek kognitif pada siklus I meningkat dari 46,43% menjadi 78,57%, sedangkan persentase ketercapaian aspek afektif pada siklus IÂ sebesar 67,86%
dan meningkat menjadi 82,15% pada siklus II.
Dwi Hermawan Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha Jurusan PGSD (Vol: 2 No: 1 Tahun 2014) Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan yang signifikan hasil belajar IPS siswa yang mengikuti pembelajaran pendekatan joyful learning berbasis multimedia dengan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional pada kelas V SD Gugus 8 I Gusti Ngurah Rai Denpasar Selatan tahun ajaran 2013/2014. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu (quasy experiment) yang menggunakan non equivalent control group design.
Data dianalisis dengan uji t. Rata-rata hasil belajar IPS yang diperoleh siswa yang dibelajarkan dengan pendekatan joyful learning berbasis multimedia lebih dari siswa yang dibelajarkan secara konvensional yaitu = 80,18 > = 74,38. Analisis menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar IPS siswa yang mengikuti pembelajaran melalui pendekatan joyful learning berbasis multimedia dengan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional dengan thitung = 3,648 >
ttabel α=0,05;78 = 2,00. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa pendekatan
joyful learning berbasis multimedia berpengaruh terhadap hasil belajar IPS siswa kelas V SD Gugus 8 I Gusti Ngurah Rai Denpasar Selatan tahun ajaran 2013/2014.
60
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari hasil penelitian ini adalah penerapan strategi joyful learning dapat meningkatkan hasil belajar ipa siswa kelas IV SD Negeri Mangasa Kota Makassar. Hal ini berdasarkan:
1. Ketuntasan hasil belajar siswa sebelum penerapan strategi joyful learning yaitu dari 27 orang siswa sebagai subjek penelitian terdapat 1 (3,7%) yang tuntas dan 26 (96,29%) setelah penerapan strategi joyful learning.
2. Peningkatan Hasil belajar siswa yang signifikan setelah pembelajaran strategi joyful learning diterapkan.
3. Hasil analisis data hasil belajar siswa setelah diterapkan pembelajaran ipa melalui strategi joyful learning menunjukkan bahwa skor rata-rata siswa setelah dilaksanakan strategi joyful learning (Posttest) mengalami peningkatan yang signifikan
4. Dari hasil pengamatan rata-rata persentase aktivitas siswa hanya 65,61% maka aktivitas siswa belum mencapai kriteria aktif.
5. Respon siswa terhadap strategi joyful learning dalam pembelajaran ipa pada umumnya memberikan tanggapan positif.