BAB III METODE PENELITIAN
3.5 Uji Hipotesis
3.5.3 Uji R
Menurut Ghozali (2012:97), koefisien determinasi ( ) merupakan alat untuk megukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi adalah nol atau satu. Nilai yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen amat terbatas. Dan sebaliknya jika nilai yang mendekati 1 berarti variabel-
variabel independen memberikan hampir semua infirmasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variabel-variabel dependen.
3.6 Definisi operasional
Dalam penelitian ini terdapat tiga operasionalisasi variabel yaitu variabel yaitu Pajak Kendaraan Bermotor roda dua dan variabel yaitu Pajak Kendaraan Bermotor roda empat. Kedua variabel tersebut bertindak sebagai variabel bebas atau independent variabel. Sedangkan variabel Y yaitu Pendapatan Asli Daerah di kota Makassar sebagai variabel terkait atau variabel dependent.
1. Variabel Bebas atau Independent Variabel
Varibel bebas atau independent variabel dari penelitian ini adalah Pajak Kendaraan Bermotor roda dua dan Pajak Kendaraan Bermotor roda empat. Pajak Kendaraan Bermotor roda dua dan roda empat merupakan pajak atas kendaraan bermotor roda dua dan atau roda empat milik pribadi atau umum yang digunakan di jalan darat.
2. Variabel Terikat atau Dependent Variabel
Variabel terikat atau variabel de pendent dari penelitian ini adalah Pendapatan Asli Daerah Provinsi Sulawesi Selatan. Menurut Fauzi dan Iskandar (1984:44). Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah segenap pemasukan atau penerimaan yang masuk ke dalam kas daerah, diperoleh dari sumber-sumber dalam wilayahnya sendiri, dipungut berdasarkan Peraturan Daerah sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Instansi
4.1.1 Sejarah Singkat Instansi
Pada awalnya sebelum tahun 1972 Badan Pendapatan Daerah merupakan salah satu bagian pada Biro Keuangan Setwilda Provinsi Sulawesi Selatan dengan nama Bagian Penghasilan Daerah. Dalam perkembangan selanjutnya dengan luasnya Daerah kerja urusan-urusan yang menyangkut pendapatan daerah baik meliputi Pendapatan Asli Daerah sendiri (Pajak, Retribusi dan Pendapatan-pendapatan Daerah lainnya yang sah maupun Pendapatan Negara yang diserahkan ke daerah Provinsi) sehingga dianggap perlu memisahkan diri dari Sekretariat Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. Bagian Pendapatan Daerah pada Biro Keuangan menjadi urusan tersendiri dan merupakan Dinas Otonomi yang ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Gubernur/Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor : 130/IV/1973 tanggal 17 April 1973 tentang pembentukan Badan Pendapatan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan.
Dengan semakin meningkatnya Upaya pembangunan Daerah yang merupakan salah satu Tugas Pokok Pemerintah Daerah sebagai perwujudan dari kegiatannya menuju kearah Otonomi yang dinamis nyata dan bertanggung jawab perlu dilakukan pernyerasiannya Usaha Pemupukan Dana guna membiayai Pembangunan Daerah, sehingga dengan demikian dalam rangka peningkatan daya guna hasil Badan Pendapatan Daerah Provinsi Dati 1 Sulawesi Selatan sebagai aparat pemupuk
Pendapatan daerah Provinsi Dati 1 Sulawesi Selatan perlu ditingkat kembangkan pengelolaannya baik pelayanan kepada masyarakat maupun peningkatan Pendapatan Daerah sehingga untuk kelancaran pelaksanaan kegiatan dimaksud ditetapkanlah Susunan Organisasi dan Tata Kerja Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan yang diatur berdasarkan perturan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 6 Tahun 1979 tentang Susunan Oraganisasi dan Tata Kerja Badan Pendapatan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan. Untuk mendukung Pelaksanaan Tugas-tugas Operasional Pengelolaan Sumber-sumber Pendapatan Pemerintah Provinsi Sulawesi yang ditangani langsung oleh Dinas Pendapatan Daerah, Maka dibentuklah Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Badan Pendapatan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan bersamaan pembentukan Kantor Perwakilan Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Dinas dan dilakukan secara bertahap sesuai kebutuhan organisasi dan kemampuan dana yang tersedia dengan tahapan pembentukannya dan dibentuk 15 Kantor Samsat Pembantu Dinas masing- masing sebagai berikut :
1. UPTD Wilayah Makassar 2. UPTD Wilayah Pare-Pare 3. UPTD Wilayah Palopo 4. UPTD Wilayah Bone 5. UPTD Wilayah Wajo 6. UPTD Wilayah Bantaeng 7. UPTD Wilayah Gowa 8. UPTD Wilayah Pinrang
9. UPTD Wilayah Maros 10. UPTD Wilayah Pangkep 11. UPTD Wilayah Sidrap 12. UPTD Wilayah Tator
13. UPTD Wilayah Luwu Timur 14. UPTD Wilayah Jeneponto 15. UPTD Wilayah Sinjai 16. UPTD Wilayah Selayar 17. UPTD Wilayah Enrekang 18. UPTD Wilayah Toraja Utara 19. UPTD Wilayah Luwu Utara 20. UPTD Wilayah Soppeng 21. UPTD Wilayah Bulukumba 22. UPTD Wilayah Barru 23. UPTD Wilayah Belopa 24. UPTD Wilayah Takalar
Dalam Rangka Peleksanaan Pungutan PKB/BBN-KB dan SWDKLLJ yang terkait dengan STNK dilakukan secara terpadu melalui Kantor Bersama Sistem Administrasi Manunggal Dibawah Satu Asap (SAMSAT) yang diatur berdasarkan Surat Keputusan bersama Menteri HANKAM/PANGAB, Menteri Keuangan dan Menteri Dalam Negeri tanggal 28 Desember 1976 Nomor Pol. Kep /13/XII/1976 tentang Peningkatan kerjasama antara Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, Kepala
daerah, Kepolisian dan Aparat Departemen Keuangan dalam rangka Peningkatan Pelayanan kepada masyarakat serta Peningkatan Pendapatan Daerah khusus mengenai Pajak-pajak Kendaraan Bermotor. Untuk Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan Pelaksanaan Samsat dalam Penertiban STNK yang terkait dengan pembayaran PKB dan BBNKB serta SWDKLLJ dimulai pada tanggal 16 Oktober 1978 yang semula dilaksanakan terpusat di Ujung Pandang yang kemudian dilakukan Pembentukan Kantor Bersama Samsat di Daerah-daerah Tingkat II yang kini telah berjumlah 9 (Sembilan) buah untuk melayani masyarakat pemilik Kendaraan Bermotor yang tersebar di 24 (dua puluh empat) Daerah Tingkat II Kabupaten/Kotamadya se-Sulawesi Selatan.
Dalam perkembangan lebih lanjut setelah berlakunya Undang-undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Restribusi Daerah yang terkait dengan penghentian beberapa Jenis Pungutan Pajak Daerah dan Restribusi Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan terhitung mulai tanggal 23 Mei 1998, Praktis Perangkat Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan tidak dapat lagi melakukan kegiatannya sehingga dilakukan reorganisasi dan refungsionalisasi Oragnisasi Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) sesuia kebutuhan Dinas Pendapatan Daerah dan memfokuskan pada upaya optimalisasi pengelolaan penerimaan PKB dan BBN-KB yang telah ada memulai kantor bersama Samsat.