• Tidak ada hasil yang ditemukan

Unsur yang Membangun Novel

BAB I PENDAHULUAN

D. Manfaat Penelitian

6. Unsur yang Membangun Novel

Dalam sastra dikenal dua unrus yaitu unsur intrinsic dan unsur ekstrinsik. Secara structural unsur intrinsik terdiri dari tema, plot, latar, karakter/penokohan, titik pengisah, dan gaya bahasa. Unsur ekstrinsik adalah usaha menafsirkan seni sastra dalam ceritanya dalam lingkungan sosial.

Unsur ekstrinsik juga berusaha mencari hubungan dengan ilmu-ilmu lain seperti budaya, agama, dan lain-lain.

a. Unsur intrinsik

Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra dari dalam. Unsur intrinsik yang dimaksud adalah tema, alur (plot), latar (setting), tokoh dan penokohan, sudut pandang (poin of view), dan amanat (Nurgiyantoro, 2002:23)

1) Tema

Istilah tema menurut Scharbach (dalam Aminuddin, 2004:91) berasal dari bahasa latin yang berarti ‗tempat meletakkan suatu perangkat‘. Disebut demikian karena tema adalah ide yang mendasari suatu cerita sehingga berperanan juga sebagai pangkal tolak pengarang dalam memaparkan karya –karya fiksi yang dipaparkan. Lebih lanjut Scharbach (dalam Aminuddin, 2004:9) menjelaskan bahwa tema tidak dapat disinonimkan dengan moral atau pesan, tema lebih mengarah pada maksud dan tujuan suatu cerita. Hal ini disebabkan karena tema adalah

kaintan hubungan antara makna dengan tujuan pemasaran prosa fiksi oleh pengarangnya, maka untuk memahami tema, pembaca terlebih dahulu harus memahami unsur-unsur signifikan yang membangun suatu cerita, menyimpulkan makna yang dikandungnya, serta mampu menghubungkannya dengan tujuan penciptaan pengarangnya.

Menurut Stanton (2007:36), tema (theme) merupakan aspek cerita yang yang sejajar dengan makna dalam pengalaman manusia; sesuatu yang menjadikan suatu pengalaman begitu diingat. Namun ada banyak makna yang dikandung dan ditawarkan oleh cerita (novel). Lebih lanjut Stanton (2007:7) mengartikan tema sebagai ―makna sebuah cerita yang secara khusus menerangkan sebagian besar unsurnya dengan cara yang sederhana‖. Tema menurutnya kurang lebih dapat bersinonim dengan ide utama dan tujuan utama.

Tema adalah ide sebuah cerita. Pengarang dalam menulis ceritanya bukan hanya sekedar mau bercerita, tetapi yang lebih penting adalah menyampaikan amanah pengarang kepada penikmat sastra atau pembaca. Tema merupakan gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra dan terkandung di dalam teks sebagai struktur semantis yang menyangkut persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan. Tema menjadi dasar seluruh pengembangan seluruh cerita, maka iapun bersifat menjiwai seluruh bagian cerita itu (Nurgiyantoro, 2002:68).

Untuk menentukan tema sebuah karya fiksi, ia haruslah disimpulkan dari keseluruhan cerita, tidak hanya berdasarkan bagian-

bagian tertentu cerita. Tema walau sulit ditentukan secara pasti, tema bukanlah makna yang disembunyikan, walau belum tentu juga dilukiskan secara eksplisit. Tema sebagai makna pokok sebuah karya fiksi secara tidak sengaja disembunyikan karena justru hal inilah yang ditawarkan kepada pembaca. Namun, tema merupakan makna keseluruhan yang didukung cerita. Kehadiran tema adalah terimplisitdan merasuki keseluruhan cerita, dan inilah yang menyebabkan kecilnya kemungkinan pelukisan tema secara langsung. Penafsiran tema diprasyarati oleh pemahaman cerita keseluruhan.

Namun, adakalanya dapat juga ditemukan adanya kalimat- kalimat, alinea-alinea, percakapan tertentu yang dapat ditafsirkan sebagai sesuatu yang mengandung tema. Makna cerita dalam sebuah karya fiksi khususnya novel, mungkin saja memiliki lebih dari satu tema. Hal inilah yang menyebabkan sehingga tema dibagi menjadi tema mayor dan tema minor. Tema mayor adalah makna pokok cerita yang menjadi dasar umum karya sastra itu sedangkan, tema minor adalah makna tambahan dalam cerita yang bersifat mendukung dan mencerminkan makna utama keseluruhan cerita.

Makna tambahan bukanlah merupakan sesuatu yang berdiri sendiri, terpisah dari makna pokok cerita yang bersangkutan karena sebuah novel mengandung satu kesatuan cerita. Makna pokok cerita bersifat merangkum berbagai makna khusus, makna-makna tambahan yang bersifat mendukung dan mencerminkan makna utama keseluruhan.

Bahkan sebenarnya, adanya koherensi yang erat antar berbagai makna tambahan inilah yang akan memperjelas makan pokok cerita. Jadi, makna-makna tambah itu atau tema-tema minor itu bersifat mempertegas eksistensi makna-makna utama atau makna mayor.

2) Alur (Plot)

Menurut Kenny (Nurgiyantoro, 2002:113) plot sebagai peristiwa- peristiwa yang ditampilkan dalam cerita yang tidak sederhana karena pengarang menyusun peristiwa-peristiwa itu berdasarkan kaitan sebab akibat. Stanton (2007:26) mengemukakan bahwa plot cerita adalah cerita yang berisi urutan kejadian atau peristiwa, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara kausal (hubungan sebab akibat), peristiwa yang satu disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa lain. Lebih lanjut Stanton (2007:28) mengemukakan bahwa plot merupakan tulang punggung cerita.

Berbeda dengan elemen-elemen lain, plot dapat membuktikan dirinya sendiri meskipun jarang diulas secara panjang lebar dalam sebuah analisis. Sebuah cerita tidak akan pernah seutuhnya dipahami tanpa adanya pemahaman terhadap peristiwa-peristiwa yang mempertautkan alur, hubungan kausalitas, dan pengaruhnya.

Penentuan plot dilakukan dengan memahami isi cerita dan rentetan-rentetan pristiwa yang terdapat delam cara menifestasikan lewat perbuatan, tingkah laku, dan sikap tokoh-tokoh (cerita). Bahkan pada umumnya cerita yang ditampilkan dalam cerita tidak lain dari tingkah

laku para tokoh, baik yang bersifat fisik maupun batin. Plot merupakan cermin, atau bahkan berupa perjalanan tingkah laku para tokoh dalam bertindak, berpikir, berasah, dan bersikap dalam menghadapi berbagai masalah kehidupan.

3) Latar (Setting)

Fiksi sebagai dunia, disamping membutuhkan tokoh, cerita dan plot juga diperlukan latar. Latar atau setting yang disebut jug sebagai landas tumpu menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan (Nurgiyantoro, 2002:216). Latar adalah lingkungan yang melingkupi sebuah peristiwa dalam cerita semesta yang berinteraksi dengan peristiwa-peristiwa yang sedang berlangsung. Latar dapat berwujud sebuah tempat, waktu dan suasana (Stanton, 2007:35).

Latar tempat menyaran pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan kepada sebuah karya fiksi. Unsur tempat yang dipergunakan mungkin berupa tempat-tempat dengan nama tertentu dan inisial tertentu.

Latar waktu berhubungan dengan masalah, ―kapan‖ terjadinya peristiwa- peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Masalah ―kapan‖

tersebut biasanya dihubungkan dengan waktu faktual, waktu yang ada kaitannya atau dapat dikaitkan dengan waktu sejarah. Pengetahuan dan perpepsi pembaca terhadap waktu sejarah itu kemudian dipergunakan untuk mencoba masuk ke dalam suasana cerita. Latar suasana mengacu kepada kondisi atau keadaan yang melatari sebuah cerita. Latar sosial

menyarankan pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi.

Tata kehidupan sosial masyarakat mencakup berbagai masalah kehidupan dalam lingkup yang cukup kompleks. Ia dapat berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir, bersikap dan lain-lain.

Latar memberikan pijakan cerita secara kongkret dan jelas. Hal ini penting untuk memberikan kesan realistis kepada pembaca, menciptakan suasana tertentu yang seolah-olah sungguh ada dan terjadi. Dengan demikian, pembaca merasa dipermudah untuk mengoperasikan daya imajinasinya, di samping memungkinkan untuk berperan serta secara kritis sehubungan dengan pengetahuannya tentang latar. Di samping itu, pembaca dapat merasakan dan menilai kebenaran, ketepatan, dan aktualisasi latar yang diceritakan (Nurgiyantoro, 2002:217).

4) Tokoh dan penokohan

Istilah tokoh merujuk pada orangnya, pelaku cerita, sedangkan perwatakan atau penokohan merujuk pada sifat dan sikap para tokoh.

Jones (Nurgiyantoro, 2002:164) mengatakan bahwa penokohan adalah pelukisan gambarang yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita. Menurut Abrams (dalam Nurgiyantoro, 2002:165) tokoh cerita adalah orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif atau drama yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu, seperti yang ekspresikan dalam

ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan. Dengan demikian, dapat diketahui bahwa antara seorang tokoh dengan kualitas pribadinya berkaitan erat dalam penerimaan pembaca.

Pada umumnya jenis perwatakan pada sebuah novel ada dua macam, yaitu:

(a) Perwatakan datar, yaitu masing-masing tokoh dilukiskan hanya dengan satu sudut, selamanya baik-baik saja, atau sebaliknya.

(b) Perwatakan bulat yang melukiskan seorang tokoh secara kompleks dari berbagai dimensi.

Berdasarkan fungsi tokoh dalam cerita dapatlah dibedakan atas tokoh utama dan tokoh bawahan. Tokoh yang memegang peranan pemimpin disebut tokoh utama. Pratagonis dan antagonis selalu menjadi tokoh yang sentral di dalam cerita, ia menjadi pusat sorotan di dalam cerita. Sedangkan tokoh bawahan adalah tokoh yang tidak sentral kedudukannya di dalam cerita dan kehadirannya sangat diperlukan untuk menunjang dan mendukung tokoh utama.

5) Sudut pandang (Point of vieuw)

Sudut pandang merupakan teknik yang dipergunakan pengarang untuk menemukan dan menyampaikan makna karya artistiknya, untuk dapat sampai ke pembaca. Oleh karena itu, pembaca membutuhkan persepsi yang jelas tentang sudut pandang cerita. Pemahaman pembaca terhadap sebuah novel akan diperbaharui oleh kejelasan sudut pandangnya dan akan menentukan seberapa jauh persepsi dan

penghayatan, bahkan juga penilaiannya terhadap novel yang bersangkutan (Nurgiyantoro, 2002:252).

6) Amanah

Sebuah karya sastra tentulah menyiratkan amanat bagi pembacanya. Amanah adalah ajaran moral atau pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang.

b. Unsur ekstrisik

Pendekatan ekstrinsik adalah mendekatan yang menganilisis karya sastra dari aspek luar atau unsur yang membangun novel dari luar yang didalamnya mencakup:

1) Pendidikan 2) Agama 3) Budaya 4) Moral.

Dokumen terkait