• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

3. Upacara Adat

Setiap tradisi yang dilakukan oleh masyarakat biasanya tidak terlepas dari sebuah upacara bagi kepercayaan masyarakat yang melakukannya. Upacara adat adalah salah satu tradisi masyarakat tradisional yang masih di anggap memiliki nilai-nilai yang masih cukup relevan bagi kebutuhan masyarakat pendukungnnya.

Selain sebagai usaha untuk dapat berhubungan dengan arwah para leluhur, juga

merupakan perwujudan kemampuan manusia unruk menyesuaikan diri secara aktif terhadap alam atau lingkungannya dalam arti luas. Menurut Saputra, (2010: 4) mengemkakan bahwa :

“Bagi Masyarakat tradisional, seluruh aktivasinya sangat berhubungan erta dengan unsur-unsur kepercayaan. Hal ini sangat berhubungan erat dengan sistem pengetahuan masyarakat itu yang juga masih sederhana, sehingga banyak hal-hal yang tidak dapat dipecahkan oleh akal. Pengetahuan yang yang masih sederhana itu membentuk sebuah keyakinan terhadap hal-hal yang gaib (teori batas akal). Untuk melakukan hubungan atau interaksi dengan kekuatan gaib itu, masyarakat mengadakan upacara-upacara ritual, yang kemudian membentuk sebuah pola kehidupan mereka.

Upacara adat merupakan pusat dari sistem keagamaan dan kepercayaan, sebagai salah satu dari bagian adat istiadat, maka upacara yang bersifat agama merupakan hal yang paling sulit berubah hal ini disebabkan upacara religius itu menyangkut kepercayaan yang diyakini oleh masyarakat. Dengan melakukan upacara diharapkan manusia dapat berhubungan dengan leluhurnya. Adanya keyakinan itulah, maka upacara tradisional yang didalamnya mengandung unsur keagamaan masih diadakan oleh sebagian masyarakat. Upacara adat adalah sistem aktifasi atau rangkaian serta tindakan yang di tata oleh adat atau hukum yang berlaku dalam masyarakat yang berhubungan dengan berbagai macam peristiwa yang biasanya terjadi dalam masyarakat yang bersangkutan. Menurut Digoyo (2015: 80) mengemukakan bahwa :

“Tiap-tiap upacara dapat terbagi dalam empat komponen, yaitu : 1. tempat Upacara

2. saat atau waktu upacara 3. benda-benda dalam upacara

4. Orang-orang yang melakukan dan memimpin upacara”.

Unsur-unsur aktifitas yang dilakukan dalam upacara yaitu :

“1) bersanji. 2) berkorban, 3) berdoa, 4) makan bersama, 5) menari bersama, 6) berprosesi arak-arakan, 7) memainkan seni drama, 8) berpuasa, 9) intoxikasi (perbuatan menghilangkan kesadaran diri pada pelaku upacara), 10) bertapa, dan 11) bersemedi”.

Menurut Saransi (2003), fungsi upacara adalah untuk mengukuhkan norma-norma dan nilai-nilai budaya. Apabila anggota masyarakat menyelenggarakan upacara, maka itu berarti dia turut mengukuhkan tata tertib sekaligus memperingatkan kepada semua anggota masyarakat tengtang aturan aturan tang berlaku. Adapun tiga fungsi upacara adat menurut Rosiati (1995) yaitu, fungsi spiritual, fungsi sosial dan fungsi pariwisata. Fungsi spiritual yang dimaksud adalah pelaksanaan pelaksanaa upacara adat berkaitan dengan pemujaan kepada leluhur, roh atau kepada Tuhan untuk meminta keselamatan. Upacara adat memiliki fungsi spiritual karena upacara adat mampu membangkitkan emosi keagamaan, menciptakan rasa aman, tentram dan selamat. Fungsi sosial bermaksud semua yang menyaksikan upacara adat dapat memperolh atau menyerap pesan pesan yang dimaksud dalam upacara tersebut. Dalam hal ini, upacara adat bisa dipakai sebagai kontrol sosial, interaksi, integrasi dan komunikasi antar warga masyarakat, yang akhirnya dapat mempererat hubungan antara masyarakat. Fungsi pariwisata bisa terlihat dari banyaknya masyarakat yang datang untuk menyaksikan upacara.

Masyarakat yang datang bisa dari masyarakat lokal (yang melaksanakan upacara tersebut) dan masyarakat luar (yang hanya menyaksikan upacara adat tersebut).

4. Perahu Pinisi

Menurut Rivai dalam buknya yang berjudul “Di Balik Layar Perahu Pinisi” ( 2019 : 14-16), mengemukakan bahwa :

“Perahu pinisi adalah hasil dari proses berfikir atau kreativitas masyarakat sejak dahulu kala sebagai jawaban dari tantangan alam. Tidak ada sistem spesialis dalam kelompok kerja, kecuali bagi anak yang baru dalam tahap belajar hingga mahir.

Membuat perahu pada dasarnya tanpa menggunakan gambar konstruksi sebagai pedoman, melainkan di kerjakan secara spontanitas dan serenak (bersama-sama dalam waku yang sama). Ada yang khusus mengerjakan pada belahan kanan dan ada pula yang khusus mengerjakan pada belahan kiri sehingga menghasilkan suatu benuk yang sistemais. Salah satu jenis perahu yang dibuat adalah perahu pinisi, jenis perahu ini memiliki ingka kepopularitasan yang tinggi. Keangguhan perahu ini telah teruji melalui berbagai pelayaran (ekpedisi) yang berhasil diselesaukan dengan baik. Adapun pelayaran tersebut diantaranya:

1) Pelayaran pinisi nusantara dari Jakarta menuju Vancouver (Kanada) pada pelayaran ini diadakan suatu pameran pembuaan perahu pinsi yang cukup memperoleh perhatian dan aspresiasi yang tinggi dari masyarakat Vancouver.

2) Selanjutnya pada tahun 1987, dilakukan kembali ekspedisi perahu padewakkang, Hati Maregge dari Makassar menuju Darwin (Australia Utara), yang juga mengalami kesuksesan.

3) Lalu ekspedisi Ammanggappa ke Madagaskar tahun 1991, yang brtujuan selain untuk membuktikan bahwa perahu pinisi layak samudra sekaligus juga membuktikan adanya mobilitas masyarakat Bugis-Makassar ke Madagskar berabad silam.

4) Kemudian pelayaran pinisi Dammar Sagara ke Jepang tahun 1992 yang betujuan membuktikan ketangguhan perahu pinisi serta sekaligus sebagai wujud budaya.

Berbagai pelayaran ini merupakan bukti sejarah bahwa masyarakat pembuat perahu mempunyai jiwa kebaharian yang sangat tinggi serta memiliki kemampuan membuat perahu yang tidak bisa di pandang sebelah mata dan telah memperoleh pengakuan dari dunia Internasional”

Saenong dalam bukunya yang berjudul “Pinisi” (2013: 22-178) menjelaskan perahu pinisis adalah sebagai berikut :

“Perahu pinisi adalah panduan teknologi dan budaya serta merupakan lambang keperkasaan Suku Bugis Makassar di lautan. Ciri khas (utama) perahu pinisi (asli/klasik) ialah perahu yang mempunyai dua buah tiang dan tujuh layar, memakai anjong pada huluan serta buritannya model rembasang. Ada beberapa pendapat tentang nama pinisi. Salah satunya menyatakan, bahwa dari kata venecia yang berubah sebutan menurut dialek Konjo menjadi penisi dan selanjutnya mengalami proses fomenik menjadi pinisi. Menurut Pelly “Pinisi adalah model layar yang tujuh helai yang berbeda dengan model layar perahu bugis lainnya”.Ttujuh layar yang merupakan ciri utama dari perahu pinisi, dimana tiga layar di depan yang berbentuk segi tiga terpasang antara anjong dengan tiang depan. Ketiga layar tersebut yang paling depan disebut cocoro pantara, di tengah disebut cocoro tangnga, dan dan

yang ketiga dari depan disebut tarengke. Pada dua tiang utama terdapat dua layar besar berbentuk trapesium, layar tengah yang melekat pada tiang depan disebut sombala bakka (Konjo- layar besar) dan yang di belakang disebut sombala riboko (Konjo-layar belakang) sedangkan dua buah layar yang berbentuk segitiga berada di puncak kedua tiang disebut “tampasere”. Pada mula terciptanya model layar tersebut sekitar tahun 1900, perahu pinisi hanya berukuran sekitar 30 ton yang dipergunakan pelaut Bugis–Makassar sebagai sarana transportasi antar pulau untuk mengangkut barang dagangannya sendiri Tahun 1950-an bobot perahu pinisis mulai ditingkatkan sampai dengan 100 ton lebih. Hal ini disebabkan karena fungsinya mulai beralih menjadi pemberi jasa angkutan. Dahulu salah satu pusat pembuatan perahu ialah di Ara. Kini pusat pembuatan perahu tradisiaonal yang paling ramai ialah di Tanah Beru ibu kota Kecamatan Bontobahari Kabupaten Bulukumba.

Tokoh utama dalam satu unit pembuatan perahu ialah punggawa (pungkaha-Konjo) atau panrita lopi (tukang ahli). Punggawa/panrita adalah penanggung jawab utama atas keseluruhan pekerjaan perahu mulai dari pengolahan kayu di hutan hingga perahu selesai di proses di bantilang”.

Sejak dahulu masyarakat kecamatan Bontobahari membuat perahu pinisi, di Desa Ara orang yang paling terkenal sebagai ahli pertukangan dalam pembuatan perahu di kecamatan Bontobahari. Ratusan orang tukang kayu perahu (sahi) yang didominasi oleh tukang-tukang setempat yang memang terkenal sejak dahulu sebagai pembuat perahu yang mengerjakan perahu pesanan para pembeli (sambalu). Pemesanan tersebut datang dari berbagai daerah sejak berhasilnya beberapa misi pelayaran internasional perahu pinisi megarungi samudera, ini pula yang menyebabkan banyaknya wisatawan dari luar negeri yang datang berkunjung di Kecamatan Bontobahari yang penasaran dengan perahu pinisi sehingga melihat bahkan memesan juga.

Sampai akhir 1970-an para pengusaha perahu pinisi di tanah Beru masih mendatangkan panrita/punggawa dari Ara untuk mengerjakan perahu pesanan para sambalu. Para pemilik mendatagkan tukang perahu (sawi) dari Ara karena pada waktu itu hanya merekalah yang ahli membuat perahu pinisi. Selama puluhan tahun tukang-tukang Ara dan Lemo-lemo bekerja secara bersama-sama pada satu

pekerjaan sebagai tukang pembuat perahu. Mereka membuat perahu pinisi pesanan para juragan dari Tanah Beru dan Desa Bira. Orang Bira yang terkenal sebagai pelaut yang menggunakan perahu pinisi dalam pelayarannya. Keahlian membuat perhau pinisi oleh masyarakat di Kecamatan Bontobahari sudah sangat diakui dari dulu hingga sekarang. Inilah yang menjadi sebuah kearifan lokal yang telah diwarisi secara tuurun-temutun oleh generasi dari leluhur pembuatnya.

A) Proses Pembuatan Perahu Pinisi

Dalam pembuatan perahu pinisi terdapat tiga tahapan proses pembuatannya, yaitu mengolah (meramu kayu), pembuatan perahu di bantilang, dan penurunan/peluncuran perahu (serta pemasangan tiang layar). Saenong dalam bukunya yang berjudul Pinisi (2013) Mengemukakan proses pembuatan perahu pinisi sebagai berikut yaitu :

1) Mengolah (Meramu Kayu)

“Setelah hutan diteliti dan dianggap cukup tersedia kayu yang dibutuhkan, selanjutnya dicari waktu yang tepat untuk melakukan penebangan pertama Apabila telah ditentukan waktu yang tepat diadakanlah persiapan seperlunya mulai dari peralatan pertukangan dan semua bahan yang menunjang lancarnya pekerjaan di hutan. Sehari atau dua hari sebelum penebangan dimulai para tukang berangkat menuju lokasi untuk mempersiapkan penebangan pertama. Pada hari yang ditentukan pohon pertama yang akan ditebang biasanya untuk bahan kalabiseng/lunas (Saenong, 2013: 67). Jenis kayu yang digunakan dalam pembuatan perahu harus memenuhi persyaratan baik ukuran maupun kualitasnya, terutama pada bagian lambung perahu yang selalu terendam oleh air. Saenong (2013: 63-64) mengemukakan, jenis kayu yang digunankan komponen lunas, sotting/linggi, dan papan terasa (papan keras) harus memenuhi standar kualitas dalam pembuatan perahu pinisi ialah kayu suryan karena kayu jenis ini merupakan yang paling baik, sebab disamping tahan dan tidak mudah pecah juga mudah diolah.

Selain itu dipergunakan juga kayu jati, kayu kasambi, kayu ulin, dan kayu bayam.

Sedangkan untuk komponen lainnya seperti lepe dan kalang dapat dipergunakan kayu coke (sejenis kayu bakau) dan kayu cempaga, untuk bahan papan lamma, kamar dan sebagainya. Lunas perahu merupakan komponen dasar dan utama sebuah perahu. Setelah persiapan dirasa cukup maka, barulah dilakukan penebangan pohon untuk mendapatkan kayu yang diperlukan dalam pembuatan

perahu pinisi nantinya. Pelly (1975) dalam Saenong (2013: 123) dalam menentukan ukuran panjang Kalabiseng setidaknya ada dua hal yang harus di perhitungkang, Pertama, tonase perahu, untuk perahu pinisi yang berukutan 30-40 ton maka panjang kalabiseang yakni 11 tapak kaki, untuk pinisi yang berukuran 100 ton panjang lunasnya 17 tapak kaki. Kedua ialah nasib perahu. Setelah penebangan pohon selesai, punggawa melakukan pengukuran dengan memakai tapak kaki dan menandai bagian yang akan di potong. Bagian yang telah di tandai tersebut lalu di potong oleh sawi dengan menggunakan kapak atau gergaji kemudian dibagian tersebut dibentuk sesuai dengan fungsinya. Kayu yang sudah dibuat balok langsung di bassi' (diberi tanda) ketebalannya oleh punggawa untuk selanjutnya dibelah dengan gergaji. Stelah kayu kayu dibalok dan di bassi’, maka punggawa menggunakan dua atau tiga orang sawi menggergaji (membelah balok-balok menjadi lembaran papan). Pembelahan balok menjadi lembaran papan sering juga dilakukan di bantilang”.

2) Pembuatan Perahu di Bantilang

Setelah meramu (mengolah) kayu dan sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan kayu dalam pembuatan prahu pinisi, langkah selanjutnya yaitu pembuatan perahu di bantilang. Kayu yang sudah di olah sesuai dengan kegunaannya kemudian akan di angkut untuk dibawa ke tempat pembuatan perahu (bantilang) dilakukan dengan menggunakan mobil, tongkang, perahu atau kapal.

Biasanya tempat pembuatan perahu pada umumnya dilakukan di pinggir pantai agar memudahkan nantinya ketika akan diturunkan ke laut. Saenong (2013) menjelaskan proses pembuatan perahu pinisi di bantilang sebagai berkut :

“Dalam pembuatan perahu pinisi di bantilang dilakukan penyambungan lunas yang disertai denga upacara annattara (penyambungan lunas). Setelah upacara annattara barulah dimulai pengerjaan perahu pinisi di bantilang. Salah satu keunikan dalam pembuatannya ialah dinding perahu yang terlebih dahulu dibuat setelah penyambungan lunas, barulah kemudian dipasang rangkanya. Karena dinding perahu yang lebih dulu dibuat maka, bentuk dan gaya perahu ditentukan oleh dinding atau kulit perahu. Kepingan-kepingan papan dinding perahu dipasang setelah penyambungan lunas. Saenong (2013: 71) mengemukakan, dinding badan perahu dapat dibedakan atas papan keras/papan dasar (papan terasa) ialah susunan papan lambung perahu bagian bawah yang selalu terendam air. Oleh karena itu posisinya itu, maka papan tersa harus terdiri dari jenis kayu tertentu yang memenuhi syarat dan kualitas tertentu. Papan lamma atau papan lemah/lentur ialah susunan

papan dinding perahu bagian atas untuk mengikat papan terasa sehingga harus lentur agar mudah dilengkungkan mengikuti bentuk perahu”.

Selanjutnya, pengerjaan perahu di bantilang dilakukan dengan menyusun komponen perahu setelah adanya lunas perahu yang merupakan komponen dasar perahu. Menurut Saenong (2013: 72-87) ada 5 komponen yang akan disusun pada saat pembuatan perahu di bantilang yaitu, sebagai berikut :

a) “Pemsangan papan terasa (papan keras). Sesudah pemasangan lunas dan diperkuat dengan pemasangan papan pangepek serta sotting depan dan belakang, kepingan-kepingan papan tersa dipasang dengan tehnik tertentu sesuai urutan-urutan yang telah di tetapkan sebelummnya.

b) Pemasagan rangka. Rangka berfungsi sebagai pengukuh atau memperkuat dinding perahu. Rangka perahu terdiri dari kelu dan soloro. Kelu adalan balok dengan ukuran tertentu mirip dengan huruf ‘V’ yang dipasang melintang kiri kanan lambung perahu pada tempat tertentu yaitu tembugu. Antara dua kelu (pada ruang) dipasang soloro. Balok-balok kelu dan soloro sengaja dipilih dari kayu bengkok alami disesuaikan dengan lengkungan lambung perahu.

c) Pemasangan papan lamma (papan lemah). Dinding paling atas perahu disebut papan lamma-konjo (papan lentur). Papan lamma ialah sejenis papan dengan ukuran tertentu yang panjangnya kadang-kadang lebih dari 10 m. yang berfungsi untuk mengikat papan tersa, tetapi juga memberi bentuk/gaya pada pinggir perahu. Pemasangan papan lamma merupakan tahap akhir dari pekerjaan dinding/kulit perahu.

d) Pemasangan lepe’, kalang, bangkeng salara. dan katabang. Lepe ialah lembaran kayu dengan ukuran khusus yang dipasang di atas balok rangka dan berfungis untuk merangkai/saling menguatkan pasangan rangka perahu.

Setelah selesai pemasangan lepe kalang, maka balok kalang sudag bisa dipasang. Kalang ialah balok dengan ukuran khusus yang di bentuk agak cembung pada bagian atasnya dan dipasang melintang kiri kanan perahu.

Kalang mempunyai fungsi untuk memperkuat dinding perahu tetapi juga sebagai landasan katabang/dek perahu. Pemasangan kalang dimulai pada bagian tengah perahu kemudian dilanjutkan kedepan dan kebagian belakang.

Setelah pemasangan kalang telah selesai, maka dipasang pula bangkeng salara.

Bangkeng salara yaitu, beberapa pasang balok dengan ukuran dan kualitas tertentu, yang akan berfungsi sebagai tumpuan/pondasi tiang agung.

Dilanjutkan dengan pemasangan katabang (lantai dek perahu). Setelah pemasangan papan katabang masih ada beberapa pekerjaan yang perlu dirampungkan, seperti pembuatan kamar, pemasangan komponen bagian kelakang dan pemasangan komponen bagian depan

e) Pemasangan anjong merupakan sebatang balok dengan dengan ukuran dan bentuk khusus (bulat) yang dipasang mencuat di bagian depan perahu pinisi.

Fungsi anjong ialah sebagai tempat mengikatkan tiga lembar layar depan perahu”.

3) Peluncuran Perahu (serta pemasangan tiang layar)

Saenong (2013: 87-93) menjelaskan proses peluncuran perahu dilakukan denga cara sebagai berikut :

“Selanjutnya setelah pembuatan perahu di Bantilang selesai selanjutnya dilakukan upacara ammossi’ (pemberian pusat). Sebelum penurunan perahu dilakukan maka, harus dilakukan terlebih dahulu upacara ammossi’ yang hingga sampai saat ini masi dilakukan oleh para punggawa. Pada malam hari sebelum peluncuran, diadakan upacara ammosi’ dan appasili (tolak bala). Setelah dilakukan upacara ammossi’ dan appasili barulah perahu dapat di turunkan ke laut. Penurunan perahu biasanya dilakukan pada siang hari, dengan memilih hari teretentu menurut kebiasaan orang suku Makassar (Konjo). Penuruan perahu dimulai dengan memasang kengkeng jangang (balok-balok besar dan panjang yang di pasang sedemikian rupa dengan tehnik tertentu) di kiri kakan perahu, ini berfungsi agar perahu tidak rebah atau miring pada saat didorong. Dibawah lunas dipasang balok dan kayu bulat yang disebut galasara yang akan berfungsi sebagai “titian” perahu pada saat didorong.

Persiapan lain yang dilakukan ialah memasang beberepa batang bambu di belakang perahu, sedangkan di kiri kanannya dipasang tali besar sebagai alat untuk menarik Kgiatan akhir dari proses penurunan perahu pinisi harus melibatkan banyak orang dengan biaya yang cukup besar. Untuk mendorong perahu ukuran 100 ton, setidaknya dibutuhkan tenaga manusia lebih dari 100 orang, yang membantu mendorong perahu pada upacara peluncuran adalah masyarakat sekitar lokasi pembuatan perahu. Orang-orang yang datang berbondong-bondong itu tidak hanya didorong oleh kekuatan sosial yang ada, tetapi juga karena tertarik dengan kenduri.

Kegotong-royongan penduduk pada peluncuran perahu sangat Nampak. Pada saat perahu akan menyentuh air, para kelasi semakin sibuk menyiapkan galasara. Pada saat itu pula punggawa atau seorang dukun membacakan mantera untuk

“memperkenalkan” sang perahu dengan laut (nipasiama’ je’ne)”.

Setelah peluncuran perahu dilakukan maka, pemasangan tiang layar utama yang merupakan ciri khas perahu pinisi ialah memakai dua tiang layar. Kedua tiang ini biasanya dipasang sesudah peluncuran perahu dilakukan.

B) Tradisi Upacara Pembuatan Perahu Pinisi

Saenong mengemukakan dalam bukunya yang berjudul Pinisi (2013) ada 3 upacara yang ada dalam tradisi upacara pembuatan perahu pinisi yaitu sebagai berikut :

“Berdasarkan kepercayaan panrita lopi, perahu adalah sebuah wujud yang memiliki eksistensi layaknya manusia. Perahu adalah sosok kehidupan yang menjadi simbol terkecil (mikrokosmos) dari alam semesta (makroskosmos). Untuk menjalin keharmonisan dan kesersian antara penguasa makrokosmos dan mikrokosmos, makan dalam pembuatan perahu diadakan beberepa upacara ritual dengan tata cara tertentu yang diwarisi dari leluhur mereka. Ada tiga upacara ritual yang dilakukan punggawa/panrita lopi dalam pembuatan perahu, yaitu: upacara menebang kayu pertama (kalabiseang), upacara annattara, dan upacara ammossi’ (Saenong, 2013:

179)”.

1. Upacara Annakbang Kalabiseang (Menebang Lunas)

Saenong (2013: 118-120) menjelaskan upacara annakbang kalabiseang dalam pembuatan perahu pinisis di lakukan dengan cara sebagai berikut :

“Upacara pertama ialah penebangan lunas yang pada dasarnya memohon izin dan restu pada kekuatan gaib agar merelakan kayunya untuk ditebang. Tampak pada upacara ini perilaku punggawa yang lain dari biasanya yang memberikan kesan magis (Saenong, 2013: 179) Pada dasarnya kalabiseang merupakan komponen utama pada perahu. Oleh sebab itu kayu yang digunakan adalah kayu yang tertentu yang memenuhui persyaratan baik ukuran ataupun kualitasnya. Apabila punggawa telah meninjau hutan dan menemukan kayu yang akan dijadikan kalabiseang maka, punggawa akan terlebih dahulu menentukan hari baik berdasarkan perhitungan menurut tradisi punggawa. Biasanya dalam upacara annakbang kalabiseang hari yang dipilih dihitung berdasarkan pannanggallan islam, misalnya hari Rabu pertama bulan berjalan (pammula Araba). Pemilihan hari seperti itu dilakukan jika ada hajatan atau memulai pekerjaan penting/mulia seperti upacara perkawinan, mendirikan rumah dan sebagainya. Setelah di tetapkan hari baik untuk menebang pohon maka, punggawa dan sahi akan upacara annakbang kalabiseang. Proses upacara annakbang kalabiseang yaitu, punggawa menyandarkan kapak pada batang pohon yang akan ditebang kemudian mengelilingi pohon tersebut sambil mengamati peralatan. Jika semua peralatan yang disandarkan tetap pada posisinya berarti penebangan dapat segera dilaksanakan. Sebelum itu, punggawa harus menyiapkan sesajian yang disebut kanre sangka bersama seekor anak ayam yang baru menetas untuk dipersembhakan kepada penghuni hutan. Sesudah mengelilingi pohon, kemudian punggawa mengambil kapak, selanjutnya mengambil posisi menghadap matahari. Kemudian mengatur napas dan berkonsentrasi sejenak dan membacakan mantra, selanjutnya punggawa membacakan basmalah, kemudian tanpa menggerakkan lidahnya mengucapkan a…i…u…dan menahan napas.

Punggawa mulai meletakkan kapaknya, tatakan pertama kapak menghadap ke atas.

Setelah cukup tiga kali punggawa menetakkan kapaknya barulah satu atau dua orang sahi membantu untuk meneruskan penebangan sampai pohon tersebut roboh.

Pada saat kayu mulai roboh, diusahakan arahnya jatuh searah dengan lokasi pembuatan perahu (bantilang) dan juga di usahakan agar tidak tersangkut pada pohon lain. Hal tersebut dilakukan dengan harapan agar pelaksanaan pembuatan perahu tidak mengalami halangan agar dapat berjalan dengan lancar. Setelah annakbang kalabiseang barulah menebang pohon selanjutnya yang akan digunakan dalam memenuhi kebutuhan dalam pembuatan perahu pinisi nantinya”.

2. Upacara Annattara (Penyambungan Lunas)

Saenong (2013: 122-127) mejelaskan proses upacara annattara’ dilakukan sebagai berikut :

“Penyambungan lunas (annattara) meruakan simbol pertemuan ibu dan bapak, hal ini berdasar dari kepercayaan bahwa perahu adalah sosok kehidupan sebagai

“manusia” yang memiliki eksistensi, sehingga harus dilakukan upacara ritual dalam pelaksanaannya. Oleh karena annattara merupakan upacara sakral maka pelaksanaannya dipilih hari-hari baik menurut tardisi masyarakatnya. Pelaksanaan upacara juga biasanya dilakukan pada saat matahari sedang rembang naik dan air laut pasang naik. Upacara annattara merupakan upacara yang dilakukan pada saat akan memulai pembuatan perahu pinisi yang masih dipercaya dan di lakukan oleh para punggawa hingga saat ini. Annattara mengandung pengertian memotong (annatta’ = memotong-Konjo), yaitu memotong/meratakan ujung kalabiseang (lunas) untuk di sambung dengan kedua penyambung muka dan belakang. Pada hari yang telah ditentukan, punggawa meletakkan kalabiseang di tengah bantilang dengan dialas dua batang balok. Bagian pangkalnya membujur ke laut dan diletakkan sedikit lebih tinggi dari ujungnya dengan maksud agar perahu tidak bernasib menurun (tattuasa). Sebelum upacara annattara dimulai terlebih dahulu pemilik (sambalu) menyiapkan kelengkpan antara lain dua meter kain putih, sepasang ayam yang sudah dewasa, wajik, pisang ambon/pisang manis, gula, kelapa, beberapa macam kue tradisional dan pedupaan sedangkan panrita akan mengambil posisi jongkok di ujung kanan kalabiseang menghadap kearah timur berhadapan dengan pemilik perahu. Para sawi menyiapkkan peralatan yang akan dipergunakan seperti pahat, palu, gergaji, bor dan sebagainya. Setelah persiapan selesai, selanjutnya barulah akan dilakukan upacara annattara. Para sahi akan berdiri di belakang punggawa, sedangkan di belakang pemilik perahu berdiri beberapa calon sahi dan nahkoda perahu. Seluruh kelengkapan upacara diletakkan di sekitar ujung depan kalabiseang termasuk pedupaan. Ketika waktu yang di nantikan telah tiba, upacara dimulai dengan pembakaran kemenyan oleh punggawa.

Pada saat itu pemilik perahu memasangkan kain putih di kepala punggawa. Setelah asap kemenyan mengepul maka, punggawa mengasapi pahat lalu meletakkannya tegak lurus pada garis batas ujung kalabiseang dan selanjutnya dengan khusuk membaca matra. Setelah membaca mantar kemudian dilanjutkan denga Basmalah

Dokumen terkait