• Tidak ada hasil yang ditemukan

implementasi nilai-nilai pancasila dalam tradisi upacara adat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "implementasi nilai-nilai pancasila dalam tradisi upacara adat"

Copied!
114
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila merupakan nilai-nilai yang diambil dari nilai-nilai luhur yang ada dalam diri bangsa Indonesia (Ranjabar, 2013: 71). Pancasila pada hakikatnya bersifat humanistik, artinya nilai-nilai Pancasila didasarkan pada nilai-nilai yang bersumber dari harkat dan martabat manusia sebagai makhluk budaya (Mahpudin, 2016: 50). Tanpa penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, maka Pancasila kehilangan makna hakikinya dan hanya sekedar dogma tanpa makna (Spiritual.

Budaya dan tradisi yang sebenarnya memiliki makna dan nilai yang sejalan dengan Pancasila kini terguncang akibat masuknya budaya asing dari luar, begitu pula budaya yang menjadi nilai bagi masyarakatnya perlahan mulai tergerus oleh modernisasi. dan menampilkan nilai-nilai baru. Dimana tradisi ini sudah melekat di masyarakat, karena dilakukan secara turun temurun sejak nenek moyang, sudah menjadi suatu kepercayaan yang benar, mempunyai arti penting dan mempunyai nilai tersendiri bagi masyarakat yaitu tradisi upacara adat. pembuatan perahu pinisi untuk masyarakat kecamatan Bontobahari Kabupaten Bulukumba. Menyadari bahwa Pancasila dengan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya mempunyai peranan penting dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dalam mengatur kehidupan bernegara Indonesia, dan Pancasila merupakan cerminan kebudayaan masyarakat Indonesia, maka tradisi. upacara pembuatan perahu pinisi dalam setiap proses pembuatan perahu. Artinya karena Pancasila mengandung 5 nilai (Nilai Ketuhanan, Nilai Kemanusiaan, Nilai Persatuan, Nilai Kemanusiaan dan Nilai Keadilan).

Berdasarkan uraian diatas maka peneliti tertarik untuk meneliti dan mengambil judul “Implementasi Nilai-Nilai Pancasila Dalam Tradisi Upacara Adat Pembuatan Perahu Pinisi Bagi Masyarakat Kecamatan Bontobahari Kabupaten Bulukumba”.

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

KAJIAN PUSTAKA

Landasan Teori

  • Nilai-Nilai Pancasila
  • Tradisi
  • Upacara Adat
  • Pinisi
  • Kajian Pustaka (Penelitian Terdahulu)

Dalam pembuatan perahu pinisi terdapat tiga tahap proses produksi yaitu pengolahan (pengumpulan kayu), pembuatan perahu di bantilang dan penurunan/peluncuran perahu (dan pemasangan tiang layar). Saenong dalam bukunya yang berjudul Pinisi (2013) menjelaskan proses pembuatan perahu pinisi sebagai berikut: . 1) Pengolahan (Pengumpulan kayu). Saenong mengatakan, jenis kayu yang digunakan untuk komponen lunas, sotting/linggi, dan papan kempa (hardboard) harus memenuhi baku mutu dalam pembuatan perahu pinisi yaitu kayu Suryan karena jenis kayu tersebut merupakan yang terbaik, karena selain tahan dan tidak mudah patah, juga mudah patah.

Dalam pembuatan perahu pinisi di Bantilang dilakukan penyambungan lunas yang diiringi dengan upacara annattara (penyambungan lunas). Setelah perahu diluncurkan, dipasang tiang utama yang menjadi ciri khas perahu pinisi yaitu menggunakan dua tiang. Saenong dalam bukunya yang berjudul Pinisi (2013) menyebutkan ada 3 upacara dalam tradisi upacara pembuatan perahu pinisi yaitu sebagai berikut.

“Setelah annakbang kalabiseang, selanjutnya ditebang pohonnya yang selanjutnya akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan pembuatan perahu pinisi.” Upacara annattara merupakan upacara yang dilakukan pada saat pembuatan perahu pinisi yang masih dipercaya dan dilakukan oleh para penjaganya hingga saat ini. Setelah semua rangkaian selesai dilakukan upacara ammossi di atas perahu pinisi, selanjutnya perahu pinisi akan diluncurkan ke laut dan selanjutnya dilakukan pengerjaan pada tiang kapal.

Kerangka Pikir

Agoes Dariyo, Nilai-nilai Pancasila dalam tradisi Sedekah Bumi pada Komunitas Tambang Minyak Rakyat di Desa Wonocolo, Kedewan, Bojonegoro, Jawa Timur. Tujuan penelitiannya adalah untuk menjelaskan nilai-nilai Pancasila yang terkandung dalam tradisi Sedekah Bumi dan implementasi nilai-nilai Pancasila untuk pengembangan karakter anak dan remaja di Desa Wonocolo, Kecamatan Keewan, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Tujuan penelitiannya adalah nilai-nilai Pancasila yang terkandung dalam tari Kecak dengan nilai-nilai Pancasila dalam pengamalan prinsip-prinsip Pancasila sebagai pemahaman nasional.

Tradisi pembuatan perahu pinisi bagi masyarakat Bontobahari merupakan sebuah kepercayaan yang diyakini kebenarannya. Dalam pembuatan perahu pinisi terdapat tiga tahap proses produksi, dimulai dari pengolahan (mengumpulkan kayu), kemudian pembuatan perahu di bantilang, dan kemudian peluncuran prahu, namun dalam ketiga tahap pembuatan tersebut ada upacara yang dilakukan. sebelum perahu diturunkan dari bantilang ke laut yaitu upacara annakbang kalabisaeng (pemotongan lunas), kemudian upacara annattara (mengikat lunas) dan upacara ammossi' (pemberian bagian tengah). Setiap upacara yang dilakukan mempunyai makna tersendiri bagi masyarakat pembuat perahu pinisi di kabupaten Bontobahari.

Dalam tradisi pembuatan perahu pinisi, tanpa disadari nilai-nilai yang dikandungnya sejalan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.

METODE PENELITIAN

  • Jenis Penelitian
  • Lokasi dan Waktu Penelitian
  • Data dan Sumber Data
  • Informan Penelitian
  • Instrumen Penelitian
  • Teknik Pengumpulan Data
  • Teknik Analisis Data
  • Hasil Penelitian
  • Pembahasan

Sebagaimana dalam tradisi upacara pembuatan perahu pinisi, upacara dan pembuatannya sebenarnya mengandung nilai-nilai yang selaras dengan nilai-nilai Pancasila. Dari hasil penelitian dengan melakukan observasi dan wawancara kepada informan, saya menemukan bahwa tradisi upacara dan pembuatan perahu pinisi merupakan perwujudan nilai-nilai Pancasila. Berdasarkan hasil wawancara (24 April 2021) yang saya lakukan dengan Bapak LS selaku pemegang perahu pinisi yang mengungkapkan pentingnya tradisi upacara yang dilakukan dalam pembuatan perahu pinisi sebagai berikut.

Sila kedua Pancasila “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” dalam tradisi upacara pembuatan perahu pinisi. Hal serupa juga dilakukan oleh Pak. ujar S dalam wawancara (25 Aril 2021) selaku pengusaha dan pengelola (kepala pengrajin) perahu pinisi mengenai keamanan. Simak seluruh hasil wawancara yang dilakukan dengan punggawa (kepala pengrajin/pemimpin kerja) dan sawi (pengrajin/pekerja) perahu pinisi sebagai narasumber.

Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa dalam tradisi upacara dan pembuatan perahu pini, diadakannya perdebatan didalamnya merupakan sebuah keniscayaan. Norma dalam tradisi upacara dan pembuatan perahu pinisi adalah selalu menjaga keteladanan hubungan baik. Pola hubungan yang terjalin dalam tradisi upacara dan pembuatan perahu pinisi antara seluruh pihak yang berperan di dalamnya menunjukkan sikap yang positif.

Perilaku gotong royong yang terjalin dalam tradisi upacara dan pembuatan perahu pinisi ini sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila pada sila ketiga. Tumbuhnya kepercayaan terhadap tradisi upacara dan pembuatan perahu pinisi menjadi suatu kondisi makna dan nilai bagi masyarakat Bontobahari. Nilai-nilai tradisi upacara dan pembuatan perahu pinisi tidak bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila.

Yakni nilai-nilai Pancasila yang terkandung dalam tradisi upacara adat pembuatan perahu pinisi merupakan nilai sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Kepada masyarakat Kecamatan Bontobahari agar lebih melestarikan nilai tradisi upacara dan pembuatan perahu pinisi agar masyarakat dapat terus melestarikan budaya perahu pinisi.

SIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Kini kepercayaan mistik pada mitologi kuno masih sangat kuat dalam setiap proses pembuatan perahu pinisi. Sesuai dengan hasil wawancara (24 April 2021) yang saya lakukan dengan Bapak LS selaku pemilik perahu pinisi yang menjelaskan pola hubungan yang ada dalam pembuatan perahu pinisi sebagai berikut. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan dalam tradisi upacara dan perahu pinisi masyarakat Bontobahari menunjukkan bagaimana dapat terjalin pola hubungan yang baik antara pihak-pihak yang terlibat dalam pembuatan perahu pinisi, menunjukkan sikap saling pengertian, menghargai dan menghormati.

Melihat seluruh hasil wawancara yang dilakukan dengan narasumber punggawa (kepala guru), sawi (guru) dan guru sara' (tokoh masyarakat) maka dapat disimpulkan bahwa pola hubungan yang ada dalam tradisi upacara dan pembuatan perahu pinisi antara seluruh pihak yang berperan di dalamnya menunjukkan sikap yang positif, sesuai dengan nilai-nilai Pancasila pada sila kedua. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan dalam tradisi upacara dan pembuatan perahu pinisi menunjukkan betapa orang-orang yang berperan didalamnya tidak lepas dari yang namanya kerjasama, kerjasama yang terjalin dalam melaksanakan upacara dan pembuatan perahu pinisi merupakan hal yang utama. kebutuhan. Membangun kerjasama yang baik juga akan membawa hasil yang baik, oleh karena itu orang-orang yang berperan dalam tradisi upacara dan pembuatan perahu pinisi sangat mengutamakan kerjasama didalamnya yang juga dilakukan untuk tujuan bersama. .

Hal ini membuktikan bahwa tradisi upacara dan pembuatan perahu pinisi masih dilestarikan dan menjadi warisan budaya yang diakui tidak hanya secara nasional tetapi juga internasional. Melestarikan tradisi upacara dan pembuatan perahu pinisi merupakan perilaku yang sesuai dengan nilai Pancasila sila ketiga “Persatuan Indonesia” yang melestarikan kebudayaan Indonesia seperti pakaian adat, tarian, bahasa, alat musik dan lain sebagainya. Dalam tradisi upacara dan pembuatan perahu pinisi diadakan musyawarah terlebih dahulu, karena sebelum membuat perahu pinisi ada hal-hal yang harus disepakati terlebih dahulu.

Ada tiga tahapan dalam pembuatan perahu pinisi yaitu pengolahan (pengumpulan kayu), pembuatan perahu di bantilang dan peluncuran perahu.

Tabel 4.1 Tabel Penduduk, Laju Pertumbuhan Penduduk per Tahun,  Distribusi Presentasi Penduduk
Tabel 4.1 Tabel Penduduk, Laju Pertumbuhan Penduduk per Tahun, Distribusi Presentasi Penduduk

Saran

Nilai sila kelima “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” mengandung nilai keadilan, dalam tradisi ritual pinisi dan pembuatan perahu, dikembangkan perbuatan-perbuatan luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan gotong royong, serta mengembangkan rasa kebersamaan. sikap adil terhadap orang lain. Metode penelitian kualitatif kuantitatif serta penelitian dan pengembangan. Syukri Albani Nasution, Muhammad, dkk. http://repository.ummat.ac.id/1156/1/COVER pdf). Makna Upacara Adat Ala Baleo (Makan Nasi Baru) di Desa Bampalola Kabupaten Alor (Studi Sejarah Tradisi Masyarakat). http://scholar.unand.ac.id/4586/2/BAB%201.pdf).

Nagari Pauh Duo Nan Batigo, Kecamatan Pauh Duo, Kabupaten Solok Selatan). https://journal.ugm.ac.id/Pancasila/article/download Nilai-Nilai Pancasila Tradisi Sedekah Bumi Pada Masyarakat Penambang Minyak Rakyat di Desa Wonocolo, Kedewan, Bojonegoro, Jawa Timur. http://repo.iain-tulangang.ac.id/10100/. %20BAB%20III.pdf) Pengenalan Nilai-Nilai Pancasila Dalam Pembentukan Karakter Anak Sebagai Upaya Mencegah “Lost Generation” di Situs Pendidikan Pondok Pesantren Nu Hidayatul Muttaqin-Pagutan Tahun 2018/2019. Lahir di Desa Bira, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba pada tanggal 18 Agustus 1997 dari ayah Andi Asfuddin Dessi, ibu Sitti Johariah dan dibesarkan oleh Dra.

Penulis masuk sekolah dasar pada tahun 2003 di SDN 168 Dangke Desa Bira Kecamatan Bontobahari Kabupaten Bulukumba dan tamat pada tahun 2009. Pada tahun 2016, penulis melanjutkan pendidikan pada program studi sarjana (S1) Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Fakultas Guru. Diklat Universitas Muhammadiyah Makassar dan selesai pada tahun 2021.

Gambar

Gambar            Halaman
Tabel 4.1 Tabel Penduduk, Laju Pertumbuhan Penduduk per Tahun,  Distribusi Presentasi Penduduk
Tabel 4.2 Tabel Luas Wilayah, Status dan Klasifikasi menurut  Desa/Kelurahan di kecamatan Bontobahari 2019
Tabel 4.3 Tabel Letak Geografis dan Ketinggian Menurut Desa/Kelurahan di  Kecamatan Bontobahari
+4

Referensi

Dokumen terkait

Endry Martius, MSc IV/a 4 Prof.Dr.Ir... Hasmiandy Hamid, SP, MSi III/d 8