PENINGKATAN GIZI
2) Variabel Keterampilan
dengan urusan pribadi Hal ini belum sesuai dengan standar ke 3 dari pelayanan kebidanan tentang identifikasi ibu hamil yang menekankan pentingnya pengumpulan data subyektif dari keluhan ibu hamil untuk menentukan rencana intervensi dalam pelayanan. Dalam anamnesa atau pengumpulan data, jika bidan kurang fokus dan tidak teliti, maka data yang terkumpul kurang lengkap sehingga akan berpengaruh pada penentuan diagnosa dan pengambil keputusan untuk perawatan dan pengobatan selanjutnya (Kusmiyati dkk, 2009).
Melihat berbagai persepsi responden mengenai sikap bidan dalam pelayanan antenatal di atas maka bidan masih perlu memperhatikan beberapa aspek mengenai sikap dalam pelayanan antenatal seperti tidak membiarkan ibu menunggu lama untuk mendapatkan pelayanan dan aspek konseling yang mengedepankan sikap empati.
2) Variabel Keterampilan
Tabel 2. Persepsi Ibu Hamil Mengenai Keterampilan Bidan dalam Pelayanan Antenatal di Puskesmas Tanarawa.
Jenis Pelayanan Kesesuaian dengan prosedur
A H % Ket.
Timbang 363 384 94,5 Baik
Tensi 263 320 82,3 Baik
Status Gizi 296 320 92,5 Baik
Tinggi Fundus Uteri 179 192 93,2 Baik
DJJ 295 320 92,3 Baik
TT 390 448 87,1 Baik
Pemberian Tablet Besi 192 192 100 Baik
Pemeriksaan Lab 397 448 88,6 Baik
Konseling 350 512 68,4 Cukup
Tatalaksana Kasus 256 256 100 Baik
Total 2981 3392 87,9 Baik
Keterampilan atau kompetensi kebidanan berdasarkan KepMenkes No. 900 tahun 2002 tentang Registrasi dan Praktik Bidan mencakup kompetensi dasar yang merupakan kompetensi yang mutlak dimiliki oleh bidan dan kompetensi tambahan yang merupakan pengembangan untuk mendukung tugas bidan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Dengan keterampilan yang sesuai standar bidan diharapkan dapat memberikan pelayanan yang berkualitas. Menurut panduan KDT 2014, terdapat 10 komponen dasar dalam pelayanan antenatal.
85
Hasil penelitian di lapangan menemukan bahwa keterampilan bidan dalam pelayanan antenatal adalah baik. Dari 10 komponen pelayanan yang diberikan, 9 komponen sudah dilakukan dengan baik. Sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) bidan juga selalu memberitahu tentang tindakan yang akan dilakukan dan meminta ibu untuk kooperatif selama pelayanan. Bidan juga bekerjasama dengan tenaga kesehatan lain, untuk memberikan pelayanan yang lebih komprehensif.
Secara umum keterampilan bidan dalam pelayanan antenatal adalah baik, namun masih ada tahapan dalam prosedur pelayanan yang sering terlewatkan yakni mencuci tangan.
Penelitian menemukan bahwa bidan cenderung tidak mencuci tangan sebelum dan sesudah bekerja serta tidak mengenakan sarung tangan, Standar Pencegahan Infeksi (PI) atau lebih dikenal dengan kewaspadaan universal dalam pelayanan kesehatan bertujuan untuk memutuskan mata rantai penularan penyakit baik dari pasien kepada petugas maupun sebaliknya (Saifudin dkk, 2010).
Dengan demikian bidan perlu memperhatikan aspek pencegahan infeksi dalam memberikan tindakan pelayanan antenatal dengan mentaati Standar Operasional Prosedur (SOP) yang tersedia.
Konseling dalam bidang kesehatan adalah proses pemberian informasi yang obyektif dan lengkap, dilakukan secara sistimatis dengan panduan keterampilan komunikasi interpersonal, teknik bimbingan dan penguasaan pengetahuan klinik yang bertujuan membantu seseorang mengenali kondisinya saat ini, masalah yang sedang dihadapi dan menentukan upaya untuk mengatasinya (Varney, 2007). Komponen konseling perlu mendapat perhatian karena berdasarkan hasil penelitian bidan hanya memberitahu hasil pemeriksaan, namun tidak menjelaskan tentang kaitan antara hasil pemeriksaan kehamilan dengan kondisi seharusnya dan pengaruhnya terhadap kondisi kesehatan ibu dan janin. Hal ini menyebabkan responden tidak termotivasi untuk melakukan pemeriksaan atau tindakan tertentu, seperti menggunakan kelambu, minum tablet tambah darah dan mendapatkan imunisasi. Responden juga menyatakan bahwa dalam memberikan konseling, belum semua topik yang terdapat dalam buku KIA dijelaskan oleh bidan.
Hasil penelitian Ardyansyah Arifin pada tahun 2010 di Puskesmas Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru-Malang yang menyatakan rendahnya pengetahuan ibu hamil tentang perawatan kehamilan dan persalinan dapat disebabkan kurangnya informasi yang diberikan oleh bidan saat pelayanan ANC. Komponen konseling mempunyai peranan sangat penting dalam pelayanan antenatal, karena dalam konseling petugas dapat mengetahui sejauh mana pemahaman ibu hamil terhadap pentingnya pelayanan antenatal (Depkes, 2010).
SIMPULAN
1) Gambaran persepsi ibu hamil mengenai sikap bidan dalam pelayanan antenatal di Puskesmas Tanarawa sebagian besar (73,4%) adalah cukup.
86
2) Gambaran persepsi ibu hamil mengenai keterampilan bidan dalam pelayanan antenatal di Puskesmas Tanarawa sebagian besar (90%) adalah baik.
REKOMENDASI
Untuk mencapai pelayanan yang lebih berkualitas dan tercapai target cakupan sesuai Standar Pelayanan Minimal maka hal-hal yang perlu diperhatikan adalah: Pelatihan konselor masih dibutuhkan untuk memberikan konseling yang lebih bermutu dalam upaya meningkatkan cakupan pelayanan.
DAFTAR PUSTAKA
1. Ambarwati dan Sriati Rismantari. 2009. Asuhan Kebidanan Komunitas. Jogjakarta: Penerbit Nuha Medika.
2. Arifin Ardiyansyah. 2010. Persepsi Ibu Hamil Tentang Antenatal care dan Persalinan di Puskesmas Dinoyo- Kecamatan Lowokwaru Malang.ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/hsr/article/view/2763. Diakses 5 September 2016.
3. Departemen Kesehatan RI.1998. Pedoman Pelayanan Kebidanan Dasar. Jakarta: Direktorat jendral Pembinaan Kesehatan Masyarakat, Direktorat Bina Kesehatan Keluarga.
4. ______2008. Daftar Tilik Penyeliaan Fasilitatif Program Kesehatan Ibu dan Anak. Jakarta: Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Direktorat Bina Kesehatan Masyarakat.
5. _______ 2009. Buku Kesehatan Ibu dan Anak. Jakarta: Departemen Kesehatan dan JICA (Japan International Cooperation Agency).
6. Fitriyah dan Mohamad Jauhar. 2014. Pengantar Psikologi Umum. Jakarta: Penerbit Prestasi Pusta Karya.
7. Kementerian Kesehatan RI. 2000. Asuhan Kebidanan pada Ibu Hamil dalam Konteks Keluarga. Jakarta:
Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Direktorat Bina Kesehatan Ibu
8. ______2010. Pedoman Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak (PWS-KIA).Jakarta:
Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Direktorat Bina Kesehatan Ibu.
9. Kusmiyati, Yuni. dkk. 2009. Perawatan Ibu Hamil (Asuhan Ibu Hamil). Yogyakarta: Penerbit Fitramaya.
10. Maramis, F. Willy. 2006. Ilmu Perilaku dalam Pelayanan Kesehatan. Surabaya: Airlangga University Press.
11. Nursalam. 2003. Konsep dan Penerapan Metodologi Ilmu Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
12. Nugroho J, Setiadi. 2005. Perilaku konsumen. Jakarta: Prenada Medika
13. Notoatmodjo, Soekidjo. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
14. ______2010. Promosi Kesehatan: Teori & Aplikasi. Jakarta: Rineka Cipta.
15. _____2011. Kesehatan Masyarakat: Ilmu dan Seni. Jakarta: Rineka Cipta.
16. Faradisy Rikhly dkk. 2012. Kepuasan Ibu Hamil dan Persepsi Kualitas Pelayanan Antenatal Care di
Puskesmas Tanjung Kabupaten Sampang Madura.Journal.
http://ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/hsr/article/view/1836/2763. Diakses tanggal 18 Mei 2016.
17. Saifuddin, Abdul Bari, dkk. 2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.
Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
18. _____,2010. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternaldan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo.
87
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU PEMBERIAN AIR SUSU IBU (ASI) EKSKLUSIF DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PEGANDAN KOTA SEMARANG
Ria Novita Setyorini, Bagoes Widjanarko, Anung Sugihantono
Bagian Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro
ABSTRAK
Pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif dapat menekan angka kematian pada bayi. Namun berdasarkan laporan bulan Januari hingga Juni tahun 2016, cakupan ASI eksklusif di Puskesmas Pegandan hanya sebesar 7%. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor yang mempengaruhi perilaku pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Pegandan Kota Semarang.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional.
Pengambilan sampel menggunakan proportional sampling pada ibu yang memiliki bayi usia 7-12 bulan. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan kuesioner. Analisis dilakukan secara univariat, bivariat, dan multivariat.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas responden berusia 26-35 tahun, ibu rumah tangga dan berstatus multipara. Sebanyak 54,2% responden tidak memberikan ASI secara eksklusif. Hasil uji chi-square menunjukkan bahwa pengetahuan tentang ASI eksklusif (p=0,05) dan sikap terhadap ASI eksklusif (p=0,000) berhubungan secara signifikan dengan perilaku pemberian ASI eksklusif. Sedangkan variabel umur (p=0,151), pekerjaan (p=0,356), paritas (p=1,000), tempat persalinan (p=0,723), keterampilan penolong persalinan (p=0,616), paparan informasi ASI eksklusif (p=0,055), ketersediaan fasilitas penunjang untuk menyusui (p=0,638), dukungan suami (p=0,428), keluarga (p=0,269), dan significant others (p=0,444) tidak berhubungan secara signifikan dengan perilaku pemberian ASI eksklusif. Hasil uji regresi binary logistic menunjukkan bahwa dari seluruh variabel, hanya variabel sikap terhadap ASI eksklusif yang memiliki pengaruh secara siginifikan terhadap perilaku pemberian ASI eksklusif (OR=7,299). Penelitian ini merekomendasikan optimalisasi Kelompok Pendukung ASI dan penyebarluasan informasi melalui media sosial sebagai pendekatan pemberian informasi.
Kata Kunci: Faktor-Faktor, Perilaku, ASI Eksklusif
LATAR BELAKANG
Air Susu Ibu (ASI) eksklusif adalah pemberian ASI tanpa makanan tambahan lain pada bayi berumur 0-6 bulan, karena nutrisi terbaik bagi bayi hanya diperoleh melalui ASI. (1) Menurut UNICEF, 30.000 kematian bayi di Indonesia bisa dicegah melalui pemberian ASI eksklusif, sedangkan angka cakupan pemberian ASI eksklusif di Indonesia belum memperlihatkan kenaikan yang signifikan dari tahun ke tahun. (2)
Berdasarkan data Profil Kesehatan Indonesia tahun 2014 dan 2015, masih terdapat provinsi yang mengalami penurunan capaian cakupan ASI eksklusif, salah satunya yaitu Provinsi Jawa Tengah. (3,4) Meskipun pemberian ASI Eksklusif pada bayi 0-6 bulan di Kota Semarang telah mencapai target Renstra Kota Semarang (55%), terdapat beberapa wilayah puskesmas yang belum mencapai
88
target. Salah satunya yaitu Puskesmas Pegandan. (5) Berdasarkan data laporan Puskesmas Pegandan, dari bulan Januari 2016 hingga Juni 2016, bayi usia 0-6 bulan yang mendapatkan ASI eksklusif hanya sejumlah 155 bayi dari 2207 bayi. (5,6)
Menurut Green (2002) ada tiga faktor yang dapat mempengaruhi perilaku kesehatan manusia yaitu faktor predisposisi, pemungkin dan penguat. Faktor predisposisi berupa pengetahuan, sikap, dan lain-lain. Sedangkan faktor pemungkinnya adalah fasilitas/sarana kesehatan, peraturan kesehatan. Serta faktor penguat meliputi perilaku dan sikap petugas kesehatan, informasi kesehatan baik dari keluarga, teman, dan lain-lain. (7)
Wawancara dengan petugas Puskesmas Pegandan didapatkan keterangan bahwa Puskesmas Pegandan sudah melakukan upaya meningkatkan cakupan ASI eksklusif dengan mengadakan program sosialisasi mengenai pentingnya ASI eksklusif bagi ibu hamil dan menyusui, konseling ASI dari pihak puskesmas maupun kader, hingga pembentukan Kelompok Pendukung ASI.
Faktanya masih banyak ibu yang tidak memberikan ASI secara eksklusif.
TUJUAN
Penelitian ini bertujuan untuk menemukan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perilaku ibu dalam memberikan ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Pegandan dengan menggunakan teori Lawrence Green.
METODE
Jenis penelitian ini termasuk penelitian kuantitatif dengan rancangan cross sectional.
Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan menggunakan kuesioner. Sampel dalam penelitian ini adalah 72 ibu yang memiliki bayi usia 7-12 bulan yang tinggal di wilayah kerja Puskesmas Pegandan. Pengambilan sampel menggunakan Proportional Random Sampling. Analisis data menggunakan uji statistik univariat, bivariat dengan chi square (α = 5%), dan multivariat dengan uji regresi binary logistic (α = 5%).
HASIL
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 54,2% responden tidak memberikan ASI secara eksklusif. Berdasarkan uji statistik univariat, diketahui bahwa banyak responden pada kategori umur dewasa awal (66,7%), ibu rumah tangga (63,9%) dan multipara (66,7%), responden memiliki pengetahuan tentang ASI eksklusif yang baik (54,2%), sikapnya mendukung terhadap ASI eksklusif (62,5%), mendapatkan fasilitas rawat gabung (87,5%), ditolong oleh penolong persalinan dengan keterampilan yang baik (66,7%), terpapar informasi tentang ASI eksklusif (84,7%), memiliki
89
fasilitas penunjang untuk menyusui (69,4%), mendapatkan dukungan yang baik dari suaminya (55,6%), dari keluarga (59,7%), dan dari teman/tetangga/rekan kerja (significant others) (65,3%).
Berdasarkan hasil uji chi square, didapatkan dua variabel yang berhubungan dengan perilaku pemberian ASI Eksklusif (p≤0,05), yaitu pengetahuan (p=0,05) dan sikap (p=0,000). Dan hasil uji regresi binary logistic, menyatakan bahwa sikap terhadap ASI eksklusif memiliki pengaruh yang paling besar terhadap pemberian ASI eksklusif.
PEMBAHASAN
a. Perilaku Pemberian ASI Eksklusif
Pemberian ASI eksklusif dalam penelitian ini sesuai dengan keputusan Kementrian Kesehatan (2004), yaitu memberikan ASI saja tanpa makanan dan minuman lain kepada bayi sejak lahir sampai berumur enam bulan, kecuali obat dan vitamin.(8) Dari 72 responden, sebanyak 54,2%
tidak memberikan ASI eksklusif. Alasan terbanyak adalah dikarenakan produksi ASI yang kurang, sehingga 69,2% dari responden yang tidak memberikan ASI secara eksklusif, menambahkan susu formula sebagai pendamping ASI.
b. Karakteristik Responden
Hasil penelitian ini menunjukkan tidak terdapat hubungan antara umur dengan perilaku pemberian ASI Eksklusif, tidak sejalan dengan penelitian Ramla Hakim (2012) yang menyatakan ada hubungan bermakna. (9) Dalam penelitian ini, ibu yang memberikan ASI eksklusif lebih besar persentasenya pada ibu yang berusia 17 hingga 25 tahun. Secara teori, ibu yang berumur lebih muda dapat lebih banyak memproduksi ASI dibandingkan ibu yang lebih tua. (10)
Secara teori, ibu bekerja cenderung lebih cepat memberikan MP-ASI kepada bayinya. (11) Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan hasil peneltian Kartika (2015) yang menyatakan bahwa ibu menyusui yang bekerja >8 jam seluruhnya tidak memberikan ASI eksklusif. (12) Dalam penelitian ini, ibu yang bekerja dan mengaku tidak memiliki pojok laktasi di tempat mereka bekerja lebih besar persentasenya pada yang bekerja paruh waktu (66,7%).
Menurut Neil, WR, jumlah persalinan yang pernah dialami memberikan pengalaman pada ibu dalam memberikan ASI kepada bayi. (11) Hasil penelitian ini menunjukkan tidak terdapat hubungan antara paritas dengan perilaku pemberian ASI Eksklusif, tidak sejalan dengan penelitian Ida (2012) yang menyatakan ada hubungan bermakna. Ibu multipara berpeluang 2,333 kali lebih besar berperilaku memberikan ASI eksklusif. (11)
90 c. Pengetahuan
Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan pengetahuan responden dengan perilaku pemberian ASI Eksklusif, didukung oleh penelitian Ahmad Atabik (2013), yang menyatakan bahwa jumlah ibu yang menyusui secara eksklusif dan memiliki pengetahuan tentang ASI baik lebih banyak (20,7%). (13)
d. Sikap
Hasil peneitian ini menunjukkan ada hubungan sikap dengan perilaku pemberian ASI eksklusif, sejalan dengan penelitian Dewi Wulandari (2012) yang menyatakan bahwa ada hubungan bermakna antara sikap dengan perilaku pemberian ASI eksklusif. Ibu yang mempunyai sikap positif berpeluang 4 kali untuk memberikan ASI eksklusif. (14)
e. Tempat persalinan
Hasil penelitian ini menunjukkan tidak ada hubungan tempat persalinan dengan perilaku pemberian ASI eksklusif, tidak sejalan dengan penelitian Ida (2012) yang menyatakan bahwa terdapat hubungan yang bermakna. Ibu yang dirawatgabung berpeluang 3,180 kali lebih besar berperilaku memberikan ASI eksklusif. (11) Dalam penelitian ini, lebih besar responden rawat gabung yang tidak memberikan ASI eksklusif, hal ini dikarenakan lebih banyak responden rawat gabung yang memiliki masalah produksi ASI kurang.
f. Keterampilan Penolong Persalinan
Hasil penelitian ini menunjukkan tidak ada hubungan keterampilan penolong persalinan dengan perilaku pemberian ASI eksklusif, didukung oleh penelitian Dewi Wulandari (2012) yang menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara penolong persalinan dengan perilaku pemberian ASI eksklusif. (14)
g. Paparan Informasi ASI Eksklusif
Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan paparan informasi ASI eksklusif dengan perilaku pemberian ASI eksklusif. Meskipun begitu, kecenderungan proporsi hasil penelitian ini tidak berbeda dari penelitian Dewi Wulandari (2012) yang menyatakan bahwa proporsi ibu yang memberikan ASI eksklusif lebih besar pada ibu yang mendapatkan informasi ASI dari tenaga kesehatan (41,8%). (14)
91 h. Ketersediaan Fasilitas Penunjang untuk Menyusui
Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan fasilitas penunjang untuk menyusui dengan pemberian ASI eksklusif, didukung hasil penelitian Budiyanto (2015) yang menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara ketersediaan fasilitas penunjang dengan perilaku pemberian ASI eksklusif. (15)
i. Dukungan Suami
Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan dukungan suami dengan perilaku pemberian ASI eksklusif. Meskipun begitu, kecenderungan proporsi hasil penelitian ini tidak berbeda dari penelitian Ida (2012) yang menyatakan bahwa proporsi yang memberikan ASI eksklusif lebih banyak pada ibu dengan dukungan suami yang baik (36,7%). (11)
j Dukungan Keluarga
Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan dukungan keluarga dengan perilaku pemberian ASI eksklusif. Meskipun begitu, kecenderungan proporsi hasil penelitian ini tidak berbeda dengan penelitian Ida (2012) yang menyatakan bahwa proporsi yang memberikan ASI secara eksklusif, lebih besar persentasenya pada responden yang mendapatkan dukungan baik dari keluarga (33,9%). (11)
k. Dukungan Significant Others (Tetangga/Teman/Rekan Kerja)
Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan dukungan significant others dengan perilaku pemberian ASI eksklusif, tidak sejalan dengan hasil penelitian Ida (2012) yang menyatakan bahwa terdapat hubungan yang bermakna. (11) Dalam penelitian ini, meskipun mayoritas mendapatkan dukungan yang baik, intensitas dukungan masih lemah sehingga belum mampu mengajak ibu untuk memberikan ASI secara eksklusif.
l. Variabel yang Paling Berpengaruh terhadap Perilaku Pemberian ASI Eksklusif
Sikap terhadap ASI eksklusif merupakan variabel yang memiliki pengaruh signifikan terhadap rencana pemberian ASI Eksklusif sebab p<0,05 dan memiliki OR terbesar yaitu 7,299.
Sehingga disimpulkan bahwa sikap responden yang mendukung perilaku pemberian ASI eksklusif 7,299 kali berpengaruh terhadap pemberian ASI secara eksklusif, sejalan dengan pendapat Sunaryo (2002) yang mengatakan bahwa sikap menuntun perilaku kita sehingga kita akan bertindak sesuai dengan sikap yang diekspresikan. (16)
92 SIMPULAN
1. Sebanyak 54,2% responden tidak memberikan ASI secara eksklusif.
2. Mayoritas karakteristik responden berada rata-rata berada pada usia dewasa awal yaitu 26-35 tahun, ibu rumah tangga, dan multipara.
3. Variabel yang berhubungan adalah pengetahuan tentang ASI eksklusif (p=0,05) dan sikap terhadap ASI eksklusif (p=0,000).
4. Variabel yang tidak berhubungan adalah umur (p=0,151), pekerjaan (p=0,356), paritas (p=1,000), tempat persalinan (p=0,723), keterampilan penolong persalinan (p=0,616), paparan informasi (p=0,055), fasilitas penunjang menyusui (p=0,638), dukungan suami (p=0,428), keluarga (p=0,269), dan significant others (teman/tetangga/rekan kerja) (p=0,444).
5. Faktor yang paling berpengaruh terhadap perilaku pemberian ASI Eksklusif adalah sikap terhadap ASI eksklusif dengan nilai OR terbesar yaitu 7,299.
REKOMENDASI
Penelitian ini merekomendasikan optimalisasi Kelompok Pendukung ASI dan penyebarluasan informasi melalui media sosial sebagai pendekatan pemberian informasi.
DAFTAR PUSTAKA
1. Yuliarti, Nurheti. Keajaiban ASI: Makanan Terbaik untuk Kesehatan, Kecerdasan, dan Kelincahan Si Kecil.
Yogyakarta: CV Andi Offset, 2010.
2. Surya, Made Oka Kumala. “Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Pemberian ASI Eksklusif Di Wilayah Kerja Puskesmas I Denpasar Timur Tahun 2016”. Skripsi. Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana, 2016.
3. Kemenkes RI. Profil Kesehatan Indonesia 2014. Jakarta: Kementrian Kesehatan RI, 2014.
4. Kemenkes RI. Profil Kesehatan Indonesia 2015. Jakarta: Kementrian Kesehatan RI, 2015.
5. Dinas Kesehatan Kota Semarang. Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2015. Semarang: DKK Semarang, 2015.
6. Dinas Kesehatan Kota Semarang. Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2014. Semarang: DKK Semarang, 2014.
7. Green LW. Health Education Planning, ‘A Diagnostic Approach’. Mayfield Publishing Company: California, 2002.
8. Depkes RI. Rencana Strategis Departemen Kesehatan. Jakarta: Depkes RI, 2005.
9. Hakim, Ramla. “Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Pemberian ASI Esklusif pada Bayi 6-12 Bulan Di Wilayah Keja Puskesmas Nabire Kota Kabupaten Nabire Tahun 2012”. Skripsi. Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, 2012.
10. Roesli, Utami. Buku Pintar ASI Eksklusif. Yogyakarta: Diva Press, 2000.
11. Ida. “Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Pemberian ASI Eksklusif 6 Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Kemiri Muka Kota Depok Tahun 2011”. Tesis. Fakultas Kesehatan Masyarakat, Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, 2012.
12. Kartika, Resty Prima. “Hubungan Lamanya Jam Kerja Ibu Menyusui dengan Pemberian ASI pada Bayi Usia 0-6 Bulan di Desa Bangsri Kecamatan Bangsri Kabupaten Jepara”. Dalam Jurnal Kesehatan Budaya, Vol. 8, No. 2, November, 2015.
13. Atabik, Ahmad. “Faktor Ibu yang Berhubungan dengan Praktik Pemberian ASI Eksklusif Di Wilayah Kerja Puskesmas Pamotan”. Skripsi. Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang, 2013.
93
14. Wulandari, Dewi. “Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Pemberian ASI Eksklusif Di Wilayah Kerja Puskesmas Tengaran Kabupaten Semarang Provinsi Jawa Tengah Tahun 2012”. Skripsi. Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, 2012.
15. Budiyanto., Asti, Arnika Dwi., Yuwono, Podo. “Hubungan Ketersediaan Fasilitas Penunjang terhadap Keberhasilan Pemberian ASI Eksklusif pada Ibu yang Bekerja sebagai Tenaga Kesehatan”. Dalam Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan Vol. 11 No. 1 Februari, 2015.
16. Sunaryo. Psikologi untuk Keperawatan. Jakarta: Buku Kedokteran EGC, 2002.
94