BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
B. Visi dan Misi
Menjadi bank mass market* terbaik dan mengubah hidup berjuta rakyat Indonesia.
2. Misi
Bersama, kita ciptakan kesempatan tumbuh dan hidup yang lebih berarti”.
C. Struktur Organisasi
Struktur Organisasi adalah gambar yang berisikan bagan-bagan ataupun dalam bentuk lain yang dapat memberikan penjelasan dan gambrn secara sistematis, yaitu menerangkan fungsi masing-masing atau tugas-tugas yang di lakukan karyawan itu. Sedangkan organisasi adalah sekelompok orang antara dua orang atau lebih yang melakukang kerja sama dalam bidang tertentu untuk melakukan sesuatu dalam mencapai tujuan untuk kepentingan bersama.
Jadi stuktur organisasi suatu susunan atau hubungan antara tiap bagian serta posisi yang ada pada suatu organisasi atau perusahaan dalam menjalankan kegiatan operasional untuk mencapaai tujuan. Strukur organisasi menggambarkan dengan jelas pemisah kagiatan pekerjaan antara yang satu dengan yang lain dan bagaimana hubungan aktivitas dan fungsi di batasi. Struktur organisasi di bentuk sebagi alat bantu bagi pemimpin suatu perusahaan untuk mengkordinir aktivitas semua karyawan agar karyawan perusahaan tersebut bisa mengerjakan tugasnya secara efektif dan efisien.
Gambar 4.3
Struktur Organisasi Bank BTPN KCP. Arief Rate Makassar Branch Service Manager
Sumber : PT.Bank BTPN KCP. Arief Rate,2015
D. Job Description
Setiap elemen yang berada di lingkup Bank BTPN KCP. Arief Rate Makassar mempunyai tugas dan tanggung jawab, sebagai berikut:
1. Branch service manager (BSM)
a. Melakukan fungsi supervisi CA (untuk branch yang tidak memiliki CAS) atas kegiatan pembukaan rekening (tabungan, deposito,giro), verifikasi dokumen pendukung calon nasabah dan kelengkapan formulir pembukaan rekening yang berpedoman pada standard procedure maupun ketentuan yang berlaku di bank serta memperhatikan risiko (operation,credit dan reputasi).
b. Melakukan fungsi supervisi terhadap teller (untuk branch yang tidak
memiliki service supervisor) atas kegiatan operasional cabang meliputi kegiatan transaksi,verifikasi transaksi tunai dan non tunai, uang tunai yang dikelolanya,laporan transaksi,verifikasi dan administrasi dokumen pendukung transaksi dengan berpedoman pada standard procedure maupun ketentuan yang berlaku di bank serta memperhatikan risiko (operasional,credit,reputasi).
Teller Sales Marketing Officer
Credit Acceptance Supervisor Credit Acceptance
c. Melakukan fungsi supervisi terhadap teller (untuk branch yang tidak memiliki service supervisor) dalam kegiatan pembayaran manfaat pensiun dengan berpedoman pada standard procedure maupun ketentuan yang berlaku di bank maupun ketentuan bersama yang telah disepakati dengan mitra bank
d. Melakukan fungsi supervisi CA (untuk branch yang tidak memiliki CAS) ataupun supervisi terhadap CAS atas kegiatan verifikasi dokumen, melalui kecocokan data antara hasil wawancaradan dokumen calon debitur/ debitur serta kelengkapan administrasi guna pengajuan kredit yang berpedoman pada standar procedure maupun ketentuan yang berlaku di bank serta memperhatikan risiko (operasional,credit,reputasi), serta memberikan persetujuan dan memutuskan kredit dalam batas kewenangannya sesuai dengan system –prosedur yang berlaku dan target service yang diberikan e. Melakukan fungsi supervisi terhadap CA dan teller (untuk branch yang
tidak memiliki CAS dan service supervisor)dan supervisi terhadap CAS dan service supervisor atas kegiatan pelayanan kredit calon debitur/debitur sesuai dan pembayaran manfaat pensiun kepada nasabah sesuai dengan standard service yang telah ditetapkan oleh bank serta merespon dengan cepat keluhan nasabah dengan baik dan tepaat waktu
f. Melakukan fungsi supervisi terhadap CA (untuk branch yang tidak memiliki CAS) atas kegiatan penutupan rekening ( Tabungan, deposito, Giro) dan kelengkapan dokumen pendukung yang berpedoman pada
standard procedure maupun ketentuan yang berlaku serta memperhatikan risiko (operasional,credit, reputasi).
g. Bertanggung jawab atas pencapaian target financial dengan secara proaktif merekomendasikan nasabah (referral) kepada Sales dan Marketing.
h. Melakukan monitoring kolektibilitas 2 agar jumlah kolektibilitas 2 selalu di bawah batas yang ditetapkan.
i. Memastikan bahwa engagement di teamnya berjalan dengan baik.
j. Pembinaan hubungan baik dengan nasabah dan mitra kerja/usaha untuk mencapai target financial.
2. Credit Acceptance Supervisor (CAS)
a. Melakukan fungsi supervisi terhadap CA atas kegiatan pembukaan rekening (Tabungan,deposito ,giro), verifikasi dokumen pendukung calon nasabah dan kelengkapan formulir pembukaan rekening yang berpedoman pada standar procedure maupun ketentuan yang berlaku.
b. Melakukan fungsi supervisi terhadap CA atas kegiatan verifikasi dokumen, melalui kecocokan data antara hasil wawancara dan dokumen calon debitur/ denitur serta kelengkapan administrasiguna pengajuan keredit yang berpedoman pada standard procedure maupun ketentuan yang berlaku serta memperhatikan risiko (operasional,credit, reputasi), serta memberikan persetujuan dan memutuskan kredit dalam batas kewenangannya sesuai dengan system-prosedur yang berlaku dan target service yang diberikan .
c. Melakukan fungsi supervisi terhadap CA atas kegiatan pelayanan kredit kepada calon debitur/ debitur sesuai dengan standard procedure yang telah ditetapkan oleh bank serta merespon dengan cepat keluhan nasabah dengan baik dan tepat waktu.
d. Melakukan fungsi supervisi terhadap CA atas kegiatan penutupan rekening (tabungan,deposito, giro) dan kelengkapan dokumen pendukung yang berpedoman pada standard procedure maupun ketentuan yang berlaku di bank serta memperhatikan risiko (operasional,credit,reputasi).
e. Bertanggung jawab atas pencapaian target financial dengan secara proaktif merekomendasikan nasabah (referral)kepada sales dan marketing.
3. Credit Acceptance (CA)
a. Bertanggung jawab atas kegiatan pembukaan rekening (Tabungan,deposito, giro), verifikasi dokumen pendukung calon nasabah dan kelengkapan formulir pembukaan rekening yang berpedoman pada standar procedure maupun ketentuan yang berlaku dib bank serta memperhatikan risiko (opersional,credit dan reputasi)
b. Bertanggung jawab atas kegiatan verifikasi dokumen, melalui kecocokan data antara hasil wawancara dan dokumen calon debitur/ denitur serta kelengkapan administrasiguna pengajuan keredit yang berpedoman pada standard procedure maupun ketentuan yang berlaku serta memperhatikan risiko (operasional,credit, reputasi),
c. Bertanggung jawab atas pelayanan kredit kepada calon debitur/debitur sesuai dengan standard procedure yang telah ditetapkan oleh bank serta merespon dengan cepat keluhan nasabah dengan baik dan tepat waktu.
d. Bertanggung jawab atas kegiatan penutupan rekening (tabungan,deposito, giro) dan kelengkapan dokumen pendukung yang berpedoman pada standard procedure maupun ketentuan yang berlaku di bank serta memperhatikan risiko (operasional,credit,reputasi).
e. Bertanggung jawab atas target pencapaian target financial dengan secara proaktif merekomendasikan nasabah (referral) kepada sales dan marketing.
4. Sales Marketing Officer
a. Melaksanakan aktivitas pemasaran nasabah pensiun sesuai sales process yang ditetapkan.
b. Melaksanakan aktivitas pemasaran kredit pensiun sesuai standard Sales Process untuk mencapai target financial, yaitu:
1) Menyusun rencana pemasaran dan kunjungan customer
2) Melakukan aktivitas pemasaran dan penjualan kredit baik kredit baru, pembaruan (renewal) serta aktivitas pemeliharaan nasabah eksisting sesuai dengan target yang sudah ditetapkan.
3) Membina hubungan baik dengan existing nasabah dan mitra kerja/
usaha di wilayahnya.
5. Teller
a. Bertanggung jawab atas kegiatan operasional cabang yang meliputi pelaksanaan transaksi, verifikasi transaksi tunai dan non tunai, uang tunai
yang dikelolanya, laporan transaksi, verifikasi dan administrasi dokumen pendukung transaksi dengan berpedoman pada standard procedure maupun ketentuan yang berlaku di bank serta memperhatikan risiko (operasional,credit, reputasi).
b. Melaksanakan pembayaran manfaat pensiun dengan berpedoman pada standard procedure dan ketentuan yang berlakuddi bank maupun ketentuan bersama yang disepakati dengan mitra bank.
c. Bertanggung jawab atas layanan kepada nasabah sesuai dengan in standard service yang telah ditetapkan bank serta merespon dengan cepat keluhan nasabah dengan baik dan tepat waktu. Bertanggung jawab atas pencapaina target financial dengan secara proaktif merekomendasikan nasabah (referral) kepada sales.
BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Analisis Pengendalian biaya Operasional
Analisis dilakukan terhadap biaya operasional untuk membuktikan atau mengetahui biaya apa yang menyebabkan ketidakefisienan sebagai akibat kekurangannya laba operasi. Analisis biaya operasional dilakukan atas seluruh komponen biaya yang termasuk pada biaya operasional yang diperoleh dari laporan laba/rugi. Adapun rincian Anggaran biaya operasional pada Bank BTPN KCP Arief Rate Makassar dapat dilihat pada table berikut:
Tabel 5.1
Rincian Anggaran Biaya Operasional Periode 2013-2015
Biaya Operasional
Tahun
2013 2014 2015
Listrik dan Telepon Rp.47.365.396,- Rp.47.820.772,- Rp.49.229.773,- Pemeliharaan peralatan Rp. 8.000.000,- Rp. 6.272.640,- Rp. 6.581.760,- Gaji Karyawan Rp.41.540.921,- Rp.47.790.934,- Rp.62.598.992,- Alat tulis kantor Rp. 4.000.000,- Rp. 6.169.460,- Rp. 6.327.360,- Persediaan/Penyusutan Rp.62.330.184,- Rp.65.100.108,- Rp.47.000.000,- Tenaga kerja Rp.10.401.516,- Rp.12.162.757,- Rp.14.100.119,- Biaya lain-lain Rp. 1.500.000,- Rp. 2.124.137,- Rp. 2.210.486,- Jumlah Total Rp.175.138.017,- Rp.187.440.808,- Rp.188.048.490,-
Sumber: Data Laporan Laba/Rugi PT.Bank BTPN KCP Arief Rate Makassar(2016)
43
Berikut beberapa hal yang dapat di jelaskan dari rincian anggaran biaya operasional yang terdapat pada table 1 diatas:
1. Rekening listrik dan telepon
Adalah biaya yag dikeluarkan untuk kebutuhan penerangan (listrik) dan komunikasi (telepon) pada PT.Bank BTPN KCP Arief Rate Makassar.
Dapat dilihat pada tabel 1 anggaran biaya listrik dan telepon tahun 2013 sebesar Rp.47.365.396,-, tahun 2014 biaya ini dianggarkan sebesar Rp.47.820.772,-, dan tahun 2015 dianggarkan sebesar Rp.49.229.773,-.
Kenaikan yang terjadi pada tiap tahunnya ini didasarkan pada kebijakan TDL (Tarif Dasar Listrik) dari pemerintah. Sehingga kenaikan TDL yang baru-baru ini diberlakukan berpengaruh pada kebijakan penetapan anggaran listrik dan telepon pihak manajemen PT.Bank BTPN KCP Arief Rate Makassar.
2. Pemeliharaan peralatan
Adalah biaya yang dikeluarkan untuk perawatan peralatan. Dapat dilihat pada tabel 1 bahwa item biaya ini semakin kecil tiap tahunnya. Tahun 2013 biaya ini dianggarkan sebesar Rp.8.000.000,-, tahun 2014 dianggarkan sebesar Rp.6.272.640,-, dan tahun 2015 biaya ini dianggarkan sebesar Rp.6.581.760,-. Hal ini disebabkan oleh pihak manajemen untuk melakukan penggunaan peralatan secara professional sehingga tidak terjadi kerusakan yang sangat vital. Dan akhirnya biaya untuk pemeliharaan dapat ditekan sebagai bentuk pengendalian biaya.
3. Gaji karyawan
Biaya ini merupakan biaya yang berhubungan langsung dengan kegiatan usaha suatu perusahaan (Biaya Operasional). Dapat dilihat pada tabel 1 bahwa pada tahun 2013 biaya gaji dianggarkan sebesar Rp.41.540.921,-, tahun 2014 sebesar Rp.47.790.934,-, dan tahun 2015 sebesar Rp.62.598.992,-. Besarnya jumlah biaya ini dipengaruhi oleh kebijakan Upah Minimum Regional (UMR) Pemerintah dan penambahan jumlah karyawan.
4. Alat tulis kantor
Anggaran biaya alat tulis kantor ini dipengaruhi oleh kondisi dan situasi kerja pada PT.Bank BTPN KCP Arief Rate Makassar. Misalnya adanya perekrutan karyawan untuk posisi yang dibutuhkan dan kegiatan-kegiatan lain yang menunjang. Secara terperinci anggaran biaya ATK ini untuk tahun 2013 sebesar Rp.4.000.000,-, serta tahun 2014 dan 2015 masing- masing sebesar Rp.6.169.460,- dan Rp.6.327.360,-.
5. Biaya persediaan/penyusutan
Biaya ini dianggarkan atas persediaan dan piutang. Tahun 2013, biaya ini dianggarkan sebesar Rp.62.330.184,-. Pada tahun 2014, biaya ini dianggarkan sebesar Rp.65.100.108,-. Kenaikan ini berdasarkan asumsi pada penyusutan piutang yang disebabkan oleh kenaikan harga bahan baku. Sementara tahun 2015, biaya ini dianggarkan lebih kecil dari tahun 2013 dan 2014, yakni sebesar Rp.47.000.000,-.
6. Tenaga kerja
Semakin besarnya anggaran dalam item ini selain sebagai motivasi dan reward, juga dipengaruhi oleh jumlah karyawan. Seperti yang terlihat pada tabel 1, tahun 2013 anggaran untuk item biaya ini sebesar Rp.10.401.516,-, tahun 2014 sebesar Rp.12.162.757, dan tahun 2015 sebesar Rp.14.100.119,-.
7. Biaya lain-lain
Merupakan biaya langsung dari kegiatan usaha bank yang belum termasuk ke dalam rekening biaya. Seperti yang terlihat pada tabel 1 diatas pada tahun 2013 dianggarkan sebesar Rp.1.500.000,-, Pada tahun 2014 sebesar Rp.2.124.137,-, dan tahun 2015 dianggarkan sebesar Rp.2.210.486,-.
Penerapan Sistem Pengendalian Biaya Operasional terhadap kas
Sistem pengendalian biaya terhadap kas pada Bank BTPN ini, Teller yang memegang peranan yang amat penting karena bagian inilah yang menjadi terminal dan pintu gerbang dalam penerimaan dan pengeluaran kas, dan pengendalian kas dibagian teller yaitu : (a) semua transaksi uang tunai dengan nasabah hanya dilakukan oleh teller, ditangani dalam ruang teller. (b) setiap teller dilengkapi dengan peralatan-peralatan untuk menyimpan uang tunai atau barang-barang berharga lainnya. (c) teller hanya menyimpan uang secukupnya, sesuai dengan kebutuhan pembayaran sehari-hari. (d) untuk mencegah terjadinya kecurangan terhadap setoran cek, maka teller membubuhkan tanda tangan silang pada sudut kiri atas cek tersebut.
Pengendalian biaya terhadap kas di Bank BTPN ini telah menciptakan/menyusun suatu sistem pengendalian biaya terhadap kas dimana dalam operasinya pengelolahan dan pengendalian kas dijumpai hal-hal seperti penggunaan cash compartment (lemari besi) yang kuat dan dilengkapi dengan kombinasi angka yang bersifat rahasia untuk dapat membukanya. Analisis pengendalian biaya terhadap kas yang diterapkan pada bank BTPN yaitu; (1) Unsur-unsur pengendalian yang memadai adanya pemisahan tanggung jawab dan wewenang secara fungsional pada Bank BTPN yang terlihat dari struktur organisasinya. (2) Sistem pemberiaan wewenang dan prosedur pencatatan ialah Bank BTPN melaksanakan kegiatan operasional bank telah didasarkan pada buku pedoman, memorandum, dan instruksi intern manajemen. Alat yang digunakan untuk pengendalian operasi diciptakan melalui perancangan formulir yang tepat sehingga dapat memperlancar jalannya pelaksanaan pengendalian ini, dan pengendalian lainnya yang dilakukan yaitu mencatat transaksi yang terjadi pada saat terjadinya dan membuat laporan harian setiap hari kerja; (3) Praktek sehat Bank BTPN mempuyai kebijaksanaan mengeluarkan buku pedoman kerja, buku.
Pedoman prosedur akuntansi, dan memorandum pelaksanaan prosedur operasi serta instruksi lainnya oleh pihak manajemen.
Kelemahan dari sistem pengendalian ini sesuai dengan teori kelemahan pengendalian biaya yaitu; terkadang bagian clearing cek lupa atau lalai dalam memberikan cap clearing pada bilyet cek dan kemudian dapat ditunaikan oleh pihak yang tidak berwenang, dan terkadang teller lalai dengan meninggalkan tempat ruang teller tanpa mengamankan aktiva berharga pada ruang teller.
Prosedur Sistem Pengendalian Biaya Operasional 1. Konsep Dasar Sistem Pengendalian
Pengendalian dilakukan untuk menganalisis dan mengevaluasi penyimpangan yang terjadi antara apa yang telah ditetapkan dalam anggaran dengan realisasinya dan pertimbngan bagi perencanaan yang lebih baik dimasa yang akan datang. Pengendalian dilaksanakan berdasarkan standar dan budget yang disusun atau pertimbangan manajemen, peramalan dengan perhitungan matematis dan pengalaman lalu. Pengendalian sebagaimana halnya perencanaan dan pengorganisasian merupakan salah satu fungsi yang vital dalam proses manajemen.. Biaya dapat dikatakan terkendali jika para divisi mempunyai kebijakan dalam keputusan terjadinya biaya atau secara signifikan dapat mempengaruhi jumlah biaya dalam suatu periode tertentu yang biasanya jangka pendek.
Pengendalian biaya operasional pada Bank BTPN diadakan melalui anggaran. Evaluasi terhadap anggaraan ditimbulkan untuk mengetahui kelemehan-kelemahan dalam pelaksanaannya. Apabila ada kelemahan maka diambil tindakan korektif untuk periode anggaran berikutnya. Instansi menganut prinsip fleksibilitas anggaran artinya dalam rangka mengoptimalkan pencapaian rencana kerja selalu diadakan penyesuaian-penyesuaian terhadap alokasi pada biaya anggaran.
2. Pengendalian Anggaran Biaya Administrasi & Umum
Pengendalian yang dilakukan Bank BTPN terhadap biaya administrasi dan umum adalah sebagai berikut:
a) Membuat anggaran biaya administrasi dan umum pada awal periode b) Mengalokasikan secara terpat
c) Memeriksa bukti-bukti yang terjadi
Pengawasan Biaya Operasional
Pengawasan merupakan fungsi manajemen yang menempati urutan yang paling bawah, tetapi bukan berarti bahwa fungsi ini kalah penting artinya dari fungsi-fungsi yang lain. Karena pangawasan justru sudah ada sejak penetapan struktur organisasi itu sendiri. Pengawasan adalah apa yang telah dilaksanakan, maksudnya mengevaluasi prestasi kerja dan apabila perlu menerapkan tindakan- tindakan korektif sehingga hasil pekerjaan sesuai dengan rencana.
Pengertian ini menunjukkan adanya hubungan yang sangat erat antara perencanaan dan pengawasan. Seperti terlihat dalam kenyataan, langkah awal proses pengawasan sebenarnya bermula dari langkah perencanaan, penetapan tujuan, dan penetapan standar atau sasaran kegiatan. Pengawasan membantu penilaian apakah perencanaan telah dilaksanakan secara efektif. Pengawasan biaya yang efek if mempunyai 2 (dua) aspek, yakni :
a) Pengawasan operasional
Pengawasan operasional adalah pengawasan biaya yang dilakukan perusahaan melalui kegiatan (operasi). Namun dengan sasaran yang hendak dicapai, pengawasan operasional tidak dapat dipertahankan lebih lama karena hal demikian merupakan pemborosan dan tidak efisien.Oleh karenanya pengawasan operasional perlu ditambah dengan pengawasan akuntansi.
b) Pengawasan akuntansi
Pengawasan akuntansi adalah pengawasan biaya yang dilakukan melalui prosedur-prosedur akuntansi dan pencatatan-pencatatan biaya. Karena sasaran pokok tertuju pada pengelompokan biaya, maka perhatian yang lebih besar tertuju pada pengawasan akuntasi. Pengawasan akuntansi bertujuan untuk menciptakan suatu sistem pencatatan yang dapat mengembangkan pertanggungjawaban biaya-biaya dan arus pekerjaan, serta memberikan laporan singkat tentang hal-hal yang berkaitan dengan pengawasan dan laporan statistik untuk mengetahui perkembangan orang-orangyang bertanggung jawab atas biaya, apakah melaksanakan tugasnya sesuai dengan kebijaksanaan yang telah ditetapkan atau tidak. Disamping itu pengawasan akuntansi juga dibutuhkan untuk meyakinkan bahwa manajemen serta perusahaan dapat memanfaatkan kemajuan teknologi dengan tepat, rnisalnya penggunaan perangkat komputer untuk mengerjakan pencatatan-pencatatan dari semua kegiatan instasnsi, mengelompokkan biaya dan penyusunan laporan dengan cepat dan tepat.
Pengendalian biaya operasional pada Bank BTPN dilakukan melalui anggaran yang telah kita ketahui. Pengendalian atau pengawasan ini tidak hanya pada evaluasi akhir periode, namun juga pengendalian atau pengawasan dilakukan pada saat periode berjalan. Instansi juga harus menganut prinsip fleksibilitas anggaran artinya dalam rangka mengoptimalkan pencapaian rencana kerja selalu diadakan penyesuaian terhadap alokasi biaya yang dianggarkan. Untuk melaksanakan pengawasan terhadap anggaran biaya operasional, instasnsi
membandingkan rencana anggaran dan realisasi yang terjadi setiap perkiraan- perkiraan yang terdapat di dalam anggaran biaya operasional.
Syarat penting didalam pengendalian anggaran biaya operasional adalah sebagai berikut:
1. Pengelompokan secara tepat terhadap semua elemen biaya operasional serta pembukuannya.
2. Penentuan pertanggungjawaban atas biaya operasional pada tingkatan bagian tertentu secara individual. Untuk dapat memenuhi kedua syarat terssebut, maka didalam pengendalian biaya operasional diperlukan beberapa langkah-langkah sebagai berikut:
(a) Menggolongkan elemen-elemen biaya operasional atas jenis biaya (b) Mengalokasikan setiap jenis biaya operasional pada setiap divisi yang berhubungan dengan fungsinya masing-masing.
(c) Menentukan teknik-teknik pengawasan biaya operasional di setiap fungsi.
Berdasarkan data ini dapat dibuat pengawasan biaya operasional pada Bank BTPN, langkah-langkah yang mereka lakukan adalah sebagai berikut:
1. Membuat anggaran biaya operasional pada awal periode 2. Mengalokasikan setiap jenis biaya operasional secara tepat
3. Memeriksa bukti-bukti serta hal-hal yang menyamngkut pengeluaran tentang biaya operasional.
B. Analisis Cash Flow
Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN) sebagai lembaga keuangan, pada dasarnya mempunyai aktivitas yang sangat luas yaitu meliputi :
1. Pengumpulan dana 2. Pemberian kredit
3. Memberikan jasa-jasa perbankan lainnya
Akan tetapi pada dasarnya usaha yang paling menonjol atau yang paling pokok dari suatu lembaga keuangan adalah mengumpulkan dana dari pihak ketiga dalam bentuk simpanan baik deposito, tabungan, dan giro. Dan kemudian menyalurkan dana tersebut kepada masyarakat berupa pemberian kredit. PT. Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN) merupakan Bank swasta nasioanal yang menjadi salah satu Agent Payment pemerintah di dalam membayarkan gaji kepada pensiunan disamping sebagai Bank Umum, yang juga melakukan aktivitas perbankan sebagaimana layaknya Bank Umum.
Seperti diketahui kas adalah merupakan aktiva yang mempunyai tingkat likuidasi sangat tinggi, sehingga sangat mudah untuk digelapkan, oleh karena itu peran pengendalian biaya operasional terhadap kas sangat penting, guna memperkecil kemungkinan terjadinya penyelewengan terhadap kas. Salah satu pengendalian biaya yang dapat digunakan untuk mencegah terjadinya penggelapan kas yaitu dengan diberlakukannya pemisahan fungsi secara tepat, serta melakukan pencatatan pada setiap transaksi yang dapat mempengaruhi kas.
Penganalisaan terhadap keadaan pembelanjaan suatu perbankan bertujuan untuk dapat mengetahui kemajuan, kemunduran serta kegagalan perbankan baik
pada masa lampau maupun pada masa yang akan datang. Dengan mengetahui aliran cash flow di dalam suatu perbankan sangat penting artinya bagi penjagaan likuiditasnya. Dengan demikian penyusunan cash flow akan dapat diketahui kapan perbankan dalam keadaan deficit atau surplus kas karena operasi perbankan. Maka dalam penyusunan cash flow tersebut, akan dibutuhkan neraca dan perhitungan laba rugi selama dua periode.
Apabila suatu bank menambah dananya dengan cara meminjam dari pihak ke II baik itu berbentuk lembaga keuangan, maupun bukan lembaga keuangan, maka bank menghadapi konsekuensi adanya biaya atas bunga pinjaman dan kalau bank menempuh kebijaksanaan dengan menambah dana melalui laba di tahan maka timbul konsekuensi, bahwa para pemegang saham tidak semuanya setuju untuk ditahan dividennya. Karena adanya kedua keadaan ini yang saling menuntut untuk diprioritaskan maka bank harus berusaha secara seksama untuk mengefektifkan penggunaan dana pada perbankan.
Analisis ini diawali dengan melihat yang berkaitan dengan laba, yaitu menyangkut penggunaan dana secara efektif agar dapat memaksimalkan keuntungan pada perbankan. Tetapi sebelumnya terlebih dahulu menganalisis sumber dan penggunaan dana dalam artian kas.
Adapun laporan arus kas PT. Bank BTPN Kantor Cabang Pembantu Arief Rate Makassar pada periode 2015 yaitu sebagai berikut :
Tabel 5.2
PT. Bank BTPN KCP Arief Rate Makassar Laporan arus Kas
Periode 2015
U R A I A N TRIWULAN I TRIWULAN II
1. Arus Kas Dari Aktivitas Operasional 1.1 Penerimaan Pendapatan :
a. Pendapatan bunga dan komisi b. Pendapatan lainnya
c. Pendapatan non operasional 1.2 Pembayaran Beban :
a. Pembayaran bunga
b. Pembayaran kas kepada pemasok c. Pembayaran non operasional
138.441.237.00 99.618.460.00 935.00 (59.809.839.00) (76.273.202.00) (52.000.00)
351.326.686 112.205.040 313 (147.433.856) (127.707.526) (545.000) 1.3 Laba Oprs. Sebelum Perubahan Dlm Aktivitas Operasi 101.925.591.00 187.845.657 1.4 Kenaikan (Penurunan) dalam Aktivitas Operasi
a. (Kenaikan) Penurunan piutang operasi : - Tagihan Lainnya
- Penempatan pada bank lain - Kredit yang diberikan - Aktiva lain-lain
b. Kenaikan (Penurunan) Hutang Operasi : - Giro
- Kewajiban yang segera dapat dibayar - Tabungan
- Simpanan berjangka
- BI (KLBI) penerusan pinjaman - Antar bank pasiva
- Pinjaman yang diterima
- Kewajiban dan lain-lain
0.00 0.00 (3.292.906.323.00) (90.907.130.22) 0.00 6.704.398.00 174.752.972.00 926.429.000.00 0.00 2.306.324.317.22 0.00 0.00
0.00 0.00 (3.541.261.236) (46.707.238) 0.00 3.460.608 (20.829.416) 764.226.327 0.00 2.847.767.448 0.00 0.00 1.5 Jumlah Arus Kas dari Aktivitas Operasi Sebelum Pajak
1.6 Hutang Pajak
30.397.234.00 0.00
6.593.493 0.00 1.7 Arus Kas Bersih dari Aktivitas Operasi 132.322.825.00 194.439.150 2. Arus Kas Dari Aktivitas Investasi :
2.1 Penyertaan
2.2 Nilai Perolehan Aktiva Tetap dan Inventaris 2.3 Keuntungan Penjualan Inventaris
2.4 Kerugian Penjualan inventaris
0.00 0.00 0.00 0.00
0.00 6.114.000 0.00 0.00 Jumlah Arus Kas dari Aktivitas Investasi 0.00 6.114.000 3. Arus Kas dari Aktivitas Pendanaan/ Keuangan
3.1 Modal disetor 3.2 Modal Pinjaman 3.3 Laba ditahan
3.4 Laba Tahun Lalu
0.00 0.00 0.00 0.00
0.00 0.00 0.00 0.00 Jumlah Arus Kas dari Aktivitas Pendanaan/ Keuangan 0.00 0.00
Kenaikan (Penurunan)Bersih Kas Setara Kas 132.322.825.00 188.325.150.00 Kas Dan Setara Kas Pada Awal Periode 142.301.775.00 195.308.175.00 Kas Dan Setara Kas Pada Akhir Periode 274.624.600.00 383.633.325.00
Sumber: PT.Bank BTPN KCP Arief Rate Makassar, 2016