PENDAHULUAN
Latar Belakang
Bank BTPN KCP Arief Rate Makassar berupaya menerapkan inovasi yang efektif, misalnya dengan melakukan penilaian kembali biaya tenaga kerja dan biaya variabel lainnya. Mengacu pada latar belakang di atas, maka penelitian ini dilakukan dengan judul “Analisis Sistem Pengendalian Biaya Operasional pada PT Bank BTPN KCP Arief Rate Makasar”.
Rumusan Masalah
Merupakan biaya yang dikeluarkan untuk penerangan (listrik) dan komunikasi (telepon) pada PT Bank BTPN KCP Arief Rate Makassar. Setelah menilai pengendalian biaya tersebut di atas, kita dapat melihat perkembangan PT Bank BTPN KCP Arief Rate Makassar dalam kaitannya dengan arus kas, sebagai berikut.
Tujuan dan Manfaat Penelitian
TINJAUAN PUSTAKA
Pengertian dan Jenis-Jenis Bank
Menurut undang-undang dasar perbankan no. 10 Tahun 1998/Bank Umum adalah bank yang memberikan jasa dalam transaksi pembayaran. Bank umum swasta adalah bank yang hanya dapat didirikan dengan izin Menteri Keuangan Republik Indonesia, setelah mendapat pendapat dari Bank Indonesia.
Fungsi dan Sumber-Sumber Dana Bank
Menurut Thomas Suyatn, aset bank yang dijadikan modal operasional adalah sebagai berikut: . 1) Dana yang berasal dari bank itu sendiri (dana nasabah I). Deposito tetap adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu sesuai dengan kesepakatan antara penyimpan dengan bank yang bersangkutan.
Pengertian dan Jenis-Jenis Sistem
Sistem penerimaan penjualan yang mencakup pesanan penjualan, pesanan pengiriman dan pembuatan faktur, distribusi penjualan, penerimaan dan pemantauan. Sistem pengadaan dan pengeluaran, yang meliputi pesanan pembelian dan laporan penerimaan barang, distribusi pengadaan dan biaya, kewajiban kepada pemasok dan tata cara pengeluaran.
Pengertian dan Unsur-Unsur Biaya
Proses produksi mencakup unsur-unsur biaya yang dihitung menurut kelompok biaya tertentu untuk menyiapkan harga sendiri suatu barang. Biaya-biaya yang dimaksud mempunyai klasifikasi yang berbeda-beda, dimana penggunaannya disesuaikan dengan kebutuhan.
Penggolongan Biaya
Belanja modal adalah biaya yang dikeluarkan selama lebih dari satu periode akuntansi. Biaya variabel adalah biaya yang secara keseluruhan selalu berubah, dimana perubahannya searah dan sebanding dengan perubahan tingkat aktivitas. Biaya semi variabel adalah biaya yang tidak tetap, tetapi juga variabel.
Biaya variabel adalah biaya yang berubah secara proporsional atau sesuai dengan perubahan volume kegiatan. Sedangkan biaya semi variabel adalah biaya yang berubah tetapi tidak sebanding atau tidak proporsional dengan perubahan volume kegiatan. Biaya variabel, yaitu biaya yang jumlah totalnya berubah seiring dengan perubahan volume kegiatan.
Biaya semi variabel, yaitu biaya yang tidak berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan.
METODE PENELITIAN
- Waktu dan Lokasi Penelitian
- Metode Pengumpulan Data
- Jenis dan Sumber Data
- Defenisi Operasional
- Metode Analisis Data
Dengan demikian, kenaikan TDL yang baru-baru ini diterapkan berdampak pada kebijakan anggaran listrik dan telepon manajemen PT Bank BTPN KCP Arief Rate Makassar. Anggaran biaya alat tulis kantor dipengaruhi oleh kondisi dan situasi kerja di PT Bank BTPN KCP Arief Rate Makassar. Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa dari laporan arus kas PT Bank BTPN KCP Ariefkoers pada triwulan terakhir yaitu triwulan IV mengalami defisit sebesar Rp.
Bank BTPN KCP Arief Rate Makassar memerlukan pemisahan fungsi yang baik, serta pencatatan setiap penerimaan dan pengeluaran kas. Baik penerimaan maupun penarikan tunai pada dasarnya merupakan bentuk pelayanan Bank BTPN kepada masyarakat. Secara keseluruhan terlihat dari sistem pengendalian penerimaan kas di Bank BTPN KCP Arief Rate Makassar yaitu.
Bank BTPN KCP Arief Rate mengalami defisit sebesar Rp.
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
Sejarah Singkat
Pada tahun 2008, TPG Nusantara S.a.r.l., anak perusahaan perusahaan investasi global asal Amerika Serikat, TPG Capital, mengakuisisi 71,6% saham BTPN melalui pembelian saham di Bursa Efek Indonesia. Pada tahun 2009, BTPN meluncurkan bisnis UMK dengan nama Mitra Usaha Rakyat dengan membuka 539 kantor cabang dengan pertumbuhan kredit mencapai Rp 2,3 triliun. Pada tahun 2010, nilai aset BTPN tumbuh menjadi Rp34,5 triliun dibandingkan Rp13,7 triliun pada dua tahun sebelumnya.
Pada tahun 2011 BTPN meluncurkan Daya sebagai program sosial yang merupakan bagian integral dari kegiatan usahanya, dan telah menyelesaikan uji coba Bisnis Perbankan Syariah Komunitas (BTPN Syariah-Tunas Usaha Rakyat) yang akan diluncurkan pada tahun 2012. Pada tahun 2012 Perbankan Syariah Komunitas Bisnis BTPN Syariah-Tunas Usaha Rakyat tumbuh pesat, hingga akhir tahun telah melayani 28.927 pusat komunitas di Banten, Jawa Barat, dan Jawa Timur serta memberdayakan 444.000 nasabah di pusat komunitas. Pada tahun 2013, pembiayaan BTPN Syariah – Tunas Usaha Rakyat meningkat dua kali lipat menjadi sekitar Rp 1,4 triliun dan memberikan kontribusi 3% terhadap total kredit perbankan.
BTPN mengakuisisi Sahabat Bank yang akan diubah menjadi bank syariah sebelum BTPN memisahkan unit syariahnya menjadi entitas baru pada tahun 2014.
Visi dan Misi
Pengendalian biaya tunai di Bank BTPN telah membuat/menata sistem pengendalian biaya tunai dimana dalam operasional pengelolaan dan pengendalian kas terdapat hal-hal seperti penggunaan tempat kas yang kuat (brankas) yang dilengkapi dengan kombinasi angka rahasia untuk dapat membukanya. (1) Unsur pengendalian yang memadai adalah adanya pemisahan fungsional antara tanggung jawab dan wewenang pada Bank BTPN yang terlihat dari struktur organisasinya. Bank BTPN pada dasarnya adalah layanan pembayaran kepada nasabah, baik berupa penarikan dan penyimpanan, pembayaran kliring dana nasabah, maupun pembayaran gaji kepada pensiunan dan peminjaman.
Bank BTPN merupakan suatu perusahaan sebagai suatu badan perkumpulan yang sesuai dengan visinya menerima simpanan dan memberikan pinjaman kepada para anggotanya, dalam setiap operasional bisnis Bank BTPN, menawarkan berbagai produk dan layanan sesuai dengan kegiatan Bank BTPN kepada nasabah. Namun kegiatan utama Bank BTPN adalah tetap mengkhususkan pelayanan kepada para pensiunan dan pegawai aktif, karena kelompok sasaran Bank BTPN adalah para pensiunan. Sehingga penerapan sistem pengendalian biaya operasional kas dapat tetap terjaga sehingga peruntukan kekayaan khususnya kas Bank BTPN dapat terlindungi dengan pengendalian yang ada.
Bank BTPN harus mengendalikan sistem akuntansi atau sistem administrasi untuk mendukung efektivitas pengendalian arus kas.
Stuktur Organisasi
Job Deskribtion
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Analisis Pengendalian biaya Operasional
Analisis dilakukan terhadap biaya operasional untuk membuktikan atau mengetahui biaya mana yang menyebabkan inefisiensi akibat kurangnya keuntungan operasional. Analisis biaya operasional dilakukan terhadap seluruh komponen biaya yang termasuk dalam biaya operasional yang diperoleh dari laporan laba/rugi. Dalam sistem pengendalian biaya tunai di Bank BTPN, Teller memegang peranan yang sangat penting, karena departemen ini merupakan terminal dan pintu gerbang penerimaan dan pengeluaran uang tunai, serta pengendalian kas pada departemen teller yaitu: (a) seluruh transaksi tunai dengan nasabah hanya melalui counter yang dilakukan, ditangani di ruang counter. b) setiap loket dilengkapi dengan peralatan untuk menyimpan uang tunai atau barang berharga lainnya.
Kelemahan sistem pengendalian ini sesuai dengan teori kelemahan pengendalian biaya yaitu; Terkadang bagian kliring cek lupa atau lalai memberikan stempel kliring pada slip cek dan kemudian dapat dilakukan oleh pihak yang tidak berkepentingan dan terkadang kasir lalai meninggalkan kasir tanpa mengamankan harta berharga di kasir. Pengendalian akuntansi adalah pengendalian biaya yang dilakukan melalui prosedur akuntansi dan pencatatan biaya. Untuk melakukan pengawasan terhadap anggaran biaya operasional, instansi. membandingkan rencana anggaran dan realisasi setiap perkiraan yang terdapat dalam anggaran biaya operasional.
Untuk memenuhi kedua persyaratan ini, pengelolaan biaya operasional memerlukan langkah-langkah berikut:
Analisis Cash Flow
Berdasarkan hasil variansi tabel diatas, laporan arus kas bersih triwulan I PT. Hal ini tercipta dari arus kas operasi yang menunjukkan surplus cukup besar yaitu Rp. Surplus yang terjadi pada triwulan II tidak diikuti triwulan III dan IV.
dimana aktivitas investasi dan pendanaan/pembiayaan adalah nol pada Q3 dan Q4, sehingga tidak dapat menutupi arus kas dari aktivitas investasi dan pendanaan/pembiayaan saja.
Pengaruh Sistem Pengendalian Biaya Operasional Terhadap kas 56
- Penerimaan Kas
Berdasarkan dokumen-dokumen yang diterima oleh kepala counter, dokumen-dokumen tersebut digunakan sebagai dasar pendaftaran dana harian. Setelah dicantumkan di mesin kasir harian, kepala akuntan menyerahkan lampirannya kepada Bagian Akuntansi. Slip penarikan ini digunakan sebagai dasar pencatatan pada buku kas harian kepala teller.
Keadaan ini disusul pada triwulan II dimana jumlah bersih kas dan setara kas juga meningkat yaitu Rp. Namun sebaliknya, jumlah bersih kas dan setara kas pada triwulan III dan triwulan IV justru mengalami penurunan sebesar Rp. Jumlah kas dan setara kas pada awal periode menunjukkan peningkatan baik pada triwulan I, triwulan II, triwulan III, dan triwulan IV.
Sedangkan total kas dan setara kas pada akhir periode menunjukkan volatilitas nilai, dimana pada triwulan I sebesar Rp, pada triwulan II meningkat sebesar Rp.
Perbedaan Bank Konvensional yang Lain dengan Bank BTPN
Berdasarkan data perkembangan arus kas tersebut di atas, rata-rata besarnya kenaikan (penurunan) bersih kas dan setara kas adalah sebesar Rp. BPR adalah lembaga keuangan bank yang menerima simpanan hanya dalam bentuk deposito berjangka, tabungan dan/atau bentuk lain yang sejenis dan menyalurkan dana sebagai perusahaan BPR. Bank Tabungan Pensiun Nasional (BTPN), yang semula bernama Bank Pegawai Pensiunan Militer (BAPEMIL), berstatus badan hukum sebagai badan perkumpulan yang menerima simpanan dan memberikan pinjaman kepada para anggotanya.
Sektor perkreditan yang merupakan mayoritas Bank BTPN merupakan salah satu instrumen penting dalam sistem operasional bank, karena kredit merupakan sumber pendapatan utama Bank. Untuk memperluas kegiatan usahanya, Bank BTPN telah menjalin kerja sama dengan PT Taspen, sehingga Bank BTPN tidak hanya dapat memberikan pinjaman dan mengurangi pembayaran pinjaman saja, namun juga melaksanakan “Program Tri Taspen” yaitu Pembayaran Jaminan Hari Tua, Tunjangan Jaminan Sosial dan Pembayaran Uang Pensiun. Mengintensifkan kerjasama dengan cabang-cabang untuk memproses laporan arus kas likuid sistem perbankan dalam menjalankan aktivitasnya.
Perbedaan Bank Syariah dan Konvensional, Jakarta http://id.wikipedia.org/wiki/Bank_Tabungan_Pensiunan_Nasional.