BAB III PELAKSANAAN KERJA PRAKTEK
D. Vitalitas Pohon
Indikator vitalitas merupakan salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui kondisi kesehatan hutan. Vitalitas ditentukan dengan mengamati kerusakan pada pohon, termasuk bagian tajuk. Pengamatan meliputi lokasi kerusakan, jenis kerusakan, dan tingkat keparahan kerusakan (Safeβi et al., 2014). Kerusakan-
77%
4%5%9% 5%
Biodiversitas Pohon Klaster-Plot 2
Acacia sp. (33 populasi)
Enterolobium
cyclocarpum (2 populasi) Hibiscus tiliaceus (2 populasi)
Pterocarpus indicus (4 populasi)
Senna siamea (2 populasi)
85%
4%4%7%
Biodiversitas Pohon Klaster-Plot 3
Acacia sp. (23 populasi)
Pterocarpus indicus ( 1 populasi)
Senna siamea (1 populasi) Vitex pinnata (2 populasi)
30
kerusakan yang muncul dipengaruhi oleh berbagai macam faktor, diantaranya aktivitas manusia, faktor biotik dan abiotik seperti serangan hama, gulma, api, cuaca, dan satwa (Noviady & Rivai, 2015). Ketika kerusakan ini mencapai batas atau ambang tertentu lambat atau cepat akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan pohon dalam hutan yang akan mempengaruhi kesehatan hutan (Indriani et al., 2020).
Kesehatan tajuk dinilai berdasarkan penilaian parameter kondisi tajuk yang terdiri atas rasio tajuk hidup (Live Crown Ratio/LCR), kerapatan tajuk (Crown Density/Cden), transparansi tajuk (Foliage Transparancy/FT), diameter tajuk (Crown Diameter Width), dan dieback (CDb). Penilaian kesehatan tajuk dilakukan pada setiap individu pohon yang ada di dalam klaster plot. Pengukuran LCR dilakukan dengan perhitungan perbandingan antara bagian tajuk dengan tinggi total pohon.
π³πͺπΉ = π»πππππ π»ππππ π·ππππ π»πππππ π»ππππ π·ππππ
Cden dan FT dilakukan dengan pengukuran persentase cahaya matahari yang sampai ke lantai hutan dengan cahaya matahari yang tertahan oleh bagian tajuk pohon.
CD dilakukan dengan pengukuran diameter tajuk terlebar dan diameter tajuk 90o menggunakan roll meter. CDb dilakukan dengan pengamatan bagian pucuk tajuk dan kemudian diamati apakah ada bagian pucuk pohon yang mati atau tidak. Setelah seluruh parameter diukur, dilakukan skoring tiap individu pohon dengan kriteria kondisi tajuk yang telah ditentukan. Selanjutnya, dari kriteria tiap individu pohon tersebut, dilakukan penentuan nilai VCR (Visual Crown Ratio) dan skoring VCR pada tiap klaster-plot.
Tabel 8. Kriteria Kondisi Tajuk
Parameter Nilai = 3 Nilai = 2 Nilai = 1
Rasio Tajuk Hidup β₯ 40% 20%-35% 5%-15%
Kerapatan Tajuk β₯ 55% 25%-50% 5%-20%
Transparansi Tajuk 0%-45% 50%-70% β₯ 755
Dieback 0%-5% 10%-25% β₯ 30%
Diameter Tajuk β₯ 10,1 m 2,5 m - 10 m 2,4 m
31
Tabel 9. Penentuan Nilai VCR
Nilai VCR Kriteria
4 Seluruh parameter bernilai 3, atau hanya 1 parameter memiliki nilai 2, tidak ada parameter bernilai 1
3 Lebih banyak kombinasi antara nilai 3 dan 2 pada parameter tajuk, atau semua bernilai 2, tetapi tidak ada parameter bernilai 1
2 Setidaknya 1 parameter bernilai 1, tetapi tidak semua parameter 1 Semua parameter kondisi tajuk bernilai 1
Tabel 10. Nilai Skor Kondisi Tajuk pada Klaster Plot berdasarkan Nilai VCR
VCR Skor
4 10
3,60-3,99 9 3,30-3,59 8 3,00-3,29 7 2,60-2,99 6 2,30-2,59 5 2,00-2,29 4 1,60-1,99 3 1,30-1,59 2 1,01-1,29 1
1 0
Hasil dari penilaian kesehatan tajuk untuk setiap individu pohon yang diamati dapat dilihat pada Gambar 19.
32
Gambar 19. Grafik Nilai Kondisi Tajuk (Sumber: Diolah dari data lapangan)
Gambar 19 menyatakan nilai parameter pengukuran untuk setiap individu pohon yang teramati dalam tiga kelompok nilai yaitu 3 (bagus), 2 (sedang), dan 1 (jelek). Pada parameter rasio tajuk hidup (LCR) ditemukan 99 pohon masuk kategori bagus, 2 pohon kategori sedang, dan 1 pohon kategori jelek. Untuk kerapatan tajuk (Cden) dan transparansi tajuk (FT), ditemukan bahwa hanya ada 20 pohon yang masuk kategori bagus, sementara 47 pohon masuk kategori sedang, dan sisanya 35 pohon masuk di kategori jelek. Pada parameter dieback ditemukan sebanyak 74 pohon masuk pada kategori bagus, menyisakan 20 pohon di kategori sedang, dan 8 pohon di kategori jelek.
Sementara itu, untuk diameter tajuk (CD) sendiri diketahui bahwa hanya terdapat 13 pohon yang ada pada kategori bagus dan 89 pohon lainnya masuk kategori sedang.
Gambar 20. Grafik Nilai VCR Pohon Individu (Sumber: Diolah dari data lapangan)
33
Setelah diketahui nilai kondisi tajuk setiap pohon, dapat diketahui nilai VCR masing-masing pohon dengan menyesuaikan kriteria setiap kelas. Berdasarkan Gambar 23, diketahui jumlah pohon yang memiliki nilai VCR 4 sebanyak 17 individu, disusul 43 pohon dengan nilai VCR 3, dan 42 pohon dengan nilai VCR 2.
Tabel 11. Nilai VCR pada masing-masing klaster plot
Klaster Plot VCR Skor
1 3.06 7
2 2.58 5
3 2.67 6
(Sumber: Diolah dari data lapangan)
Berdasarkan Tabel 11, skor kondisi tajuk untuk klaster plot 1 adalah 7 akibat nilai VCR rata-rata di klaster plot ini yang sebesar 3,06. Skor berikutnya ada pada klaster plot 3 dengan nilai 6, yang merupakan hasil dari VCR klaster plot tersebut yang sebesar 2,67. Terakhir, klaster plot 2 mendapatkan skor paling rendah dengan hanya 5 poin dari nilai VCR yang sebesar 2,58.
Menurut Maulana et al (2021), klaster plot 1 yang memiliki VCR paling tinggi memiliki kerapatan tajuk yang bersifat baik. Adanya penurunan nilai kualitas kerapatan tajuk pada klaster plot lain diketahui akibat adanya kerusakan pada cabang, penyakit, dan hama yang menyerang pohon. Secara umum, kerapatan tajuk dan transparansi tajuk menunjukkan hubungan yang saling berbanding terbalik dimana semakin tinggi kerapatan tajuk maka transparansi tajuk akan rendah. Kondisi ini diperparah dengan adanya kemunculan dieback pada cukup banyak pohon yang diamati yang dapat mempengaruhi kerapatan tajuk dan LCR yang ada. Menurut Morin et al (2012), kemampuan bertahan hidup suatu pohon sangat tergambarkan oleh adanya dieback.
Selanjutnya dilakukan penilaian pada kerusakan pohon. Menurut metode Forest Health Monitoring, penilaian kerusakan pohon terdiri 3 kode yang berurutan, yaitu lokasi terjadinya kerusakan, tipe kerusakan, dan tingkat keparahan yang ditimbulkan pohon. Lokasi merupakan tempat dimana kerusakan pada pohon dijumpai.
34
Jika dalam satu lokasi terdapat lebih dari satu kerusakan yang ditimbulkan, yang dicatat merupakan kerusakan yang diprioritaskan.
Tabel 12. Lokasi Kerusakan pada Pohon
Kode Lokasi Kerusakan 0 Tidak ada kerusakan
1 Akar (terbuka dan tunggak) 2 Akar dan batang bagian bawah 3 Batang bagian bawah
4 Batang bagian bawah dan atas 5 Batang bagian atas
6
Batang tajuk (batang utama di dalam daerah tajuk hidup)
7 Cabang
8 Kuncup dan tunas
9 Tunas
Selanjutnya, dilakukan penilaian tipe kerusakan yang terjadi pada lokasi kerusakan. Tipe kerusakan merupakan kerusakan pada pohon akibat penyakit biotik ataupun abiotik. Tipe kerusakan yang terlihat ditulis berdasarkan kode yang telah ditetapkan.
Tabel 13. Tipe Kerusakan Pohon
Kode Tipe Kerusakan
01 Kanker
02 Konk, tubuh buah dan indikator lain
03 Luka terbuka
04 Resinosis/gummosis
05 Batang pecah
06 Sarang rayap
11
Batang/ akar patah <3 kaki dari batang
12 Brum pada akar/batang
13 Akar patah/mati > 3 kaki dari batang
20 Liana
21 Hilangnya pucuk dominan/mati 22 Cabang patah/mati
23 Percabangan/brum yang berlebih 24 Daun, pucuk atua tunas rusak
35
25 Daun berubah warna 26 Karat puru/tumor
31 Lain-lain
Setelah tipe kerusakan ditetapkan, dilakukan pengamatan tingkat keparahan terhadap kerusakan yang terjadi pada pohon. Kerusakan dicatat dengan keparahan sekurang-kurangnya 20%. Selanjutnya, dilakukan pembobotan untuk seluruh parameter yang telah dinilai.
Tabel 14. Kelas Tingkat Keparahan
Kelas (%) Kode
20-29 2
30-39 3
40-49 4
50-59 5
60-69 6
70-79 7
80-89 8
90-99 9
Tabel 15. Nilai Pembobotan
Kode Lokasi Kerusakan Pohon
Nilai Pembo- botan (X)
Kode Tipe Kerusakan Pohon
Nilai Pembo- botan (Y)
Kode Tingkat Kepatahan/
kerusakan pohon
Nilai
Pembobotan (Z)
0 0 01, 26 1,9 0 1,5
1 02 02 1,7 1 1,1
2 02 03, 04 1,5 2 1,2
3 1,8 05 2,0 3 1,3
4 1,8 06 1,5 4 1,4
5 1,6 11 2,0 5 1,5
6 1,2 12 1,6 6 1,6
7 01 13, 20 1,5 7 1,7
8 01 21 1,3 8 1,8
9 01 22, 23, 24, 25,
31 1,0 9 1,9
Selanjutnya, dilakukan perhitungan Tree Damage Level Index (TDLI) dengan rumus sebagai berikut:
36
π»π«π³π° = π π»πππ π²ππππππππ Γ π π³πππππ Γ π π»ππππππ π²ππππππππ Kemudian, dilakukan klasifikasi skor yang disajikan dengan tabel berikut:
Tabel 16. Klasifikasi Skor TDLI
Skor TDLI Kelas
0 - 5 Sehat
6 - 10 Rusak Ringan
11 - 15 Rusak Sedang
16 - 21 Rusak Berat
Selanjutnya, dilakukan perhitungan indeks kerusakan pada setiap plot / Plot Level Index (PLI) dengan cara merata-ratakan nilai TDLI pada pohon di setiap plot.
Setelah PLI didapat, dilakukan perhitungan indeks kerusakan pada setiap klaster-plot / Cluster Level Index (CLI) dengan rumus sebagai berikut:
πͺπ³π° = β βπ·π³π°
βπ·πππ
Kemudian, dilakukan skoring terhadap nilai CLI yang didapat pada masing- masing klaster.
Tabel 17. Klasifikasi Skor CLI
Rata-Rata CLI Skor
0 10
0,01 - 2,17 9
2,18 - 4,34 8
4,35 - 6,51 7
6,52 - 8,68 6
8,69 - 10,85 5 10,86 - 13,02 4 13,03 - 15,19 3 15,20 - 17,36 2 17,37 - 19,54 1 19,54 - 21,70 0
Berdasarkan hasil pengamatan, lokasi kerusakan pohon paling banyak ditemukan pada bagian cabang yaitu sebanyak 50 kerusakan, diikuti oleh batang bagian bawah dan atas sebanyak 15 kerusakan, batang bagian bawah sebanyak 12 kerusakan,
37
batang bagian atas sebanyak 14 kerusakan, dan daun sebanyak 2 kerusakan. Bagian cabang merupakan bagian pohon yang paling rentan terkena gangguan sehingga menjadi lokasi pohon yang paling banyak ditemukan kasus kerusakan. Adapun, terdapat beberapa pohon yang tidak mengalami kerusakan yaitu sebanyak 23 pohon.
Diagram persentase lokasi kerusakan pohon dapat dilihat pada Gambar 21.
Gambar 21. Diagram Persemtase Lokasi Kerusakan Pohon (Sumber: Diolah dari data lapangan)
Gambar 22. Diagram Tipe Kerusakan Klaster-Plot 1 (Sumber: Diolah dari data lapangan)
20%
10%
13%
12%
43%
2%
Lokasi Kerusakan Pohon
Tidak Ada
Batang Bagian Bawah
Batang Bawah dan Bagian Atas Batang Atas Batang
0 2 4 6 8 10 12 14
Tidak Ada Kerusakan Konk, tubuh buah, danβ¦
Batang Pecah Batang/akar Patah Cabang Patah/Mati
Jumlah
Tipe kerusakan
Tipe Kerusakan Klaster-Plot 1
38
Berdasarkan Gambar 22, pada klaster-plot 1, cabang patah/mati merupakan tipe kerusakan yang paling banyak terjadi yaitu sebanyak 12. Lalu, dilanjutkan dengan batang pecah dan juga konk, tubuh buah, dan indikator lapuk lainnya yaitu masing- masing sebanyak 6 kasus.
Gambar 23. Diagram Tipe Kerusakan Klaster-Plot 2 (Sumber: Diolah dari data lapangan)
Berdasarkan Gambar 23, pada klaster-plot 2, cabang patah/mati merupakan tipe kerusakan yang paling banyak terjadi yaitu sebanyak 23 pohon. Lalu, sebanyak 9 pohon tidak ada kerusakan. Adapun sebanyak 4 pohon terdapat sarang rayap.
Gambar 24. Diagram Tipe Kerusakan Klaster-Plot 3 (Sumber: Diolah dari data lapangan)
0 5 10 15 20 25
Tidak Ada Kerusakan Kanker Konk, Tubuh Buah, dan Indikatorβ¦
Sarang Rayap Batang/Akar Patah Liana Cabang Patah/Mati Daun Berubah Warna
Jumlah
Tipe Kerusakan
Tipe Kerusakan Klaster-Plot 2
0 5 10 15
Tidak Ada Kerusakan Konk, Tubuh Buah, danβ¦
Batang Pecah Liana Cabang Patah/Mati
Jumlah
Tipe Kerusakan
Tipe Kerusakan Klaster-Plot 3
39
Berdasarkan Gambar 24, ada klaster-plot 3, cabang patah/mati merupakan tipe kerusakan yang paling banyak terjadi yaitu sebanyak 13 pohon. Lalu, sebanyak 9 pohon tidak ada kerusakan, diikuti batang pecah sebanyak 3 pohon, liana dan indikator lapuk masing-masing 1 pohon.
Berdasarkan hasil pengamatan, tipe kerusakan cabang patah/mati ditandai dengan hilangnya ranting dan tidak tumbuhnya daun pada bagian tersebut. Cabang yang patah dapat disebabkan oleh terpaan angin yang kencang dan hujan. Menurut Suratmo (1974) dalam Abimanyu et al. (2018), angin dengan kecepatan kurang lebih 45 km/jam dapat menyebabkan kerusakan mekanis pada pohon seperti gugurnya daun, patah ranting/cabang,dan patah batang pohon. Selain itu, menurut Stalin et al. (2013), kerusakan cabang dapat juga disebabkan oleh jamur (Schizophyllum commune). Batang pecah merupakan kerusakan yang terjadi pada batang yang ditandai dengan terbelahnya batang sehingga bagian dalamnya dapat terlihat. Liana merupakan tumbuhan yang merambat paada tumbuhan lain dan tidak dapat tegak mendukung tajuknya (Asrianny, Marian, & Oka, 2009).
Gambar 25. Batang Patah pada Pohon K1.P1.3 (Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2023)
40
Liana menjadi indikator kerusakan pohon karena dapat menyebabkan kerusakan mekanis pada pohon inangnya seperti goresan pada batang dan cabang.
Liana banyak dijumpai di klaster-plot 1 dan 2. Banyaknya individu pohon pada kedua klaster tersebut menyebabkan tingginya peluang pertumbuhan Liana. Liana merupakan tumbuhan yang cenderung memanjat, merambat, dan melilit pada bagian pohon untuk mendapatkan sinar matahari (Simamora, Indriyanto, & Bintoro, 2015).Banyaknya jumlah pohon pada klaster 1 dan 2 memberikan naungan pada hutan sehingga kelembaban lebih tinggi dibanding area yang kurang ternaung. Kelembaban tersebut dapat mendukung pertumbuhan liana. Kelembaban udara lebih dari 80% dapat menjadi tempat tumbuh yang baik bagi liana.
Gambar 26. Liana pada Pohon K2.P1.9 (Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2023)
Pada klaster-plot 1, terdapat pohon yang mengalami gummosis. Gummosis merupakan keluarnya lendir akibat petamorfosis materil dinding sel menjadi substansi yang tidak terorganisasi (Nugroho, 2021). Gummosis dapat terjadi akibat adanya gangguan terhadap batang pohon oleh mikroorganisme, insekta, luka mekanis, atau gangguan fisiologis. Pada pohon K1.P2.10 di klaster-plot 1, terdapat gummosis pada bagian batang bawah dan atas pohon. Gummosis dapat terjadi akibat adanya luka mekanis oleh goresan liana yang merambat pada bagian batang atas dan batang bawah pohon tesrebut. Sarang rayap cenderung menyerang bagian batang pohon. Berdasarkan hasil pengamatan, sarang rayap yang dibuat berupa jalur-jalur pada batang dan belum
41
menutup kulit batang sehingga tanaman masih bertahan hidup. Berdasarkan tipe sarangnya, rayap tersebut termasuk ke dalam tipe arboreal, yaitu rayap yang bersarang di pohon. Noirot dan Darlington (2022) dalam Johari et al. (2022) mengungkapkan bahwa berdasarkan tipe sarangnya, rayap terbagi menjadi 4 tipe yaitu bersarang di pohon (arboreal), membuat gundukan tanah (epigeal), di atas permukaan tanah (subterranean), dan kayu mati (wood).
Gambar 27. Sarang Rayap pada Batang Pohon K2.P1.8 (Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2023)
Selanjutnya, terdapat 3 kasus terjadinya penyakit kanker pohon di klaster-plot 1 dan 1 kasus di klaster plot-2. Kanker terjadi di bagian batang pohon, dimana berdasarkan pengamatan terdapat 2 kasus terjadi di bagian batang atas dan bawah pohon, 1 kasus di batang bagian atas, dan 1 kasus terjadi di batang bagian bawah.
Kanker teridentifikasi dengan adanya bagian batang yang mengering, berbatas tegas, mengendap, serta adanya bagian yang terpecah-pecah. Permukaan kulit batang juga teridentigikasi tertekan ke bawah serta kulitnya pecah. Menurut Haris et al. (2004) dalam Dina et al. (2019), dalam beberapa kasus, kerusakan kanker lebih banyak disebabkan oleh jamur/cendawan.
42
Gambar 28. Kanker pada Pohon K1.P1.4 (Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2023) Tabel 18. Kelas TDLI Tiap Klaster-Plot
Kelas TDLI Klaster-Plot
1 2 3
Rusak Ringan 8 0 0
Rusak Sedang 1 2 0
Sehat 23 41 27
(Sumber: Diolah dari data lapangan)
Berdasarkan perhitungan TDLI, klaster-plot 1 didominasi oleh pohon yang termasuk ke dalam kelas TDLI sehat, yaitu sebanyak 23 pohon. Selanjutnya, diikuti oleh kelas TDLI rusak ringan sebanyak 8 pohon, dan rusak sedang sebanyak 1 pohon.
Berdasarkan perhitungan TDLI, klaster-plot 2 didominasi oleh pohon yang termasuk ke dalam kelas TDLI sehat, yaitu sebanyak 41 pohon. Selanjutnya, diikuti oleh kelas TDLI rusak ringan sebanyak 2 pohon. Berdasarkan perhitungan TDLI, klaster-plot 3 didominasi oleh pohon yang termasuk ke dalam kelas TDLI sehat, yaitu sebanyak 27 pohon.
Tabel 19. Skor CLI
Klaster - Plot
PLI CLI Skor
1 2 3 4
43
1 4,0 4,2 3,58 0 2,9 8
2 2,4 2,0 1,34 1,2 1,7 9
3 1,5 2,1 1,3 1,6 9
(Sumber: Diolah dari data lapangan)
Setelah dilakukan perhitungan TDLI pada individu pohon di setiap klaster-plot, dilakukan perhitungan PLI pada setiap plot serta perhitungan CLI pada setiap klaster- plot. Klaster-plot 1 memiliki CLI sebesar 2,9 sehingga masuk ke dalam kategori skor 8. Klaster-plot 2 dan 3 masing-masing memiliki CLI sebesar 1,7 dan 1,6, sehingga keduanya masuk ke dalam kategori skor 9. Semakin rendah nilai CLI, semakin tinggi skor yang didapatkan. Hal tersebut disebabkan rendahnya nilai CLI menandakan bahwa klaster pohon tersebut memiliki kerusakan pohon yang rendah.
44
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1. Kesimpulan
1. Produktifitas klaster-plot 1 masuk ke dalam kategori baik, klaster-plot 2 masuk ke dalam kategori buruk, dan klaster-plot 3 masuk ke dalam kategori buruk.
2. Biodiversitas pohon pada klaster-plot 1, klaster-plot 2, dan klaster-plot 3 masuk ke dalam kategori rendah.
3. Skor VCR (Visual Crown Ratio) pada klaster-plot satu sebesar 7, klaster-plot 2 sebesar 5, dan klaster-plot 3 sebesar 6.
4. Skor CLI (Cluster Level Index) pada klaster-plot satu sebesar 8, klaster-plot 2 sebesar 9, dan klaster-plot 3 sebesar 9.
4.2. Saran
Saran yang dapat dilakukan yaitu dengan mengintensifkan pembersihan gulma pada lahan guna mengurangi persaingan nutrisi terhadap tanaman pokok mengingat hutan reklamasi tersebut ditujukan sebagai hutan produksi kedepannya. Hal tersebut disebabkan saat melakukan pengambilan data, kawasan hutan didominasi oleh gulma yang sangat padat sehingga dapat mempengaruhi petumbuhan dan produktifitas tanaman pokok kedepannya.
45
DAFTAR PUSTAKA
Abimanyu, B., Safe'i, R., & Hidayat, W. (2018). Analisis Kerusakan Pohon di Hutan Kota Stadion Kota Metro Provinsi Lampung.
Abimanyu, B., Safeβi, R., & Hidayat, W. (2019). Aplikasi Metode Forest Health Monitoring dalam Penilaian Kerusakan Pohon di Hutan Kota Metro. Jurnal Sylva Lestari, 7(3), 289-298.
Ansori, D.P., Safeβi, R. dan Kaskoyo, H. 2020. Penilaian Indikator Kesehatan Hutan Rakyat Pada Beberapa Pola Tanam (Studi Kasus di Desa Buana Sakti, Kecamatan Batang Hari, Kabupaten Lampung Timur), Perennial; 16(1): 1-6.
Asrianny, Marian, & Oka, N. P. (2009). Keanekaragaman dan kelimpahan jenis liana (tumbuhan memanjat) pada hutan alam di hutan pendidikan universitas hasanuddin.
Jurnal perennial.
Indriani, Y., Safe'i, R., Kaskoyo, H., & Darmawan, A. (2020). Vitalitas sebagai salah satu indikator kesehatan hutan konservasi. Jurnal Perennial, 16(02), 40-46.
Feriansyah, A., Safe'i, R., Darmawan, A., & Kaskoyo, H. (2020, April). Status kesehatan hutan berdasarkan indikator kondisi tajuk (studi kasus pada tiga fungsi hutan di Provinsi Lampung). In Prosiding Seminar Nasional Konservasi 2020 (pp. 243-249).
LPPM Universitas Lampung.
Johar, A., Adawia, A. R., & Wulandari, T. (2022). Tipe sarang dan sebaran jenis rayap (isoptera) di hutan kota dan perkebunan sawit wilayah jambi. Jurnal biologi.
Mangold, R. 1997. Forest Health Monitoring Field Methods Guide. New York: USDA Forest USDA Forest Service General Technical Report.
Marfiana, C.F. (2017) Pengaruh Jenis Zat Pengatur Tumbuh Dan Komposisi Media Tanam Terhadap Perkecambahan Dan Pertumbuhan Semai Sengon Buto (Enterolobium cyclocarpum (Jacq.) Griseb). Other thesis, University of Muhammadiyah Malang.
Morin, R. S., Steinman, J., & Randolph, K. C. (2012, December). Utility of tree crown condition indicators to predict tree survival using remeasured forest inventory and analysis data. In Moving from Status to Trends: Forest Inventory and Analysis Symposium 2012.
46
Nugroho, L. H. (2021). Struktur dan produk jaringan sekretori tumbuhan. Yogyakarta:
Gadjah mada university press.
Oktorina, S. (2018). Kebijakan reklamasi dan revegetasi lahan bekas tambang: studi kasus tambang batubara Indonesia. Al-Ard: Jurnal Teknik Lingkungan, 4(1), 16-20.
Panji, R. (2021). Perbaikan Sifat Kimia Dan Kemampuan Bunga Matahari Dalam Proses Fitoremediasi Lahan Bekas Tambang Emas. Diploma Thesis, Universitas Andalas Pertiwi, D., Safe'i, R., Kaskoyo, H., & Indriyanto. (2019). Identifikasi kondisi kerusakan
pohon menggunakan metode forest health monitoring di tahura war provinsi lampung. Jurnal perennial.
Philip MS. 1994. Measuring Trees and Forest. Wallingford: CAB Int.
Pradana, A. A., Martono, D. N., & Soelarno, S. W. (2021). Prediksi Laju Erosi dan Valuasi Ekonomi pada Area Reklamasi Pertambangan Batu Bara. IJEEM-: Indonesian Journal of Environmental Education and Management, 6(1), 78-91.
Rochmah, S. F., Safeβi, R., Bintoro, A., & Kaskoyo, H. (2020). Analisis produktivitas sebagai salah satu indikator kesehatan hutan (studi kasus pada hutan rakyat jati di kecamatan natar kabupaten lampung selatan provinsi lampung). Jurnal Hutan Pulau-Pulau Kecil, 4(2), 204-215.
Safeβi, R. Harjanto. Supriyanto. & L. Sundawati. (2014). Value of vitality status in monoculture and agroforestry planting systems of the community forest. International Journal of Sciences: Basic and Applied Research (IJSBAR). 18,2, 340-353.
Safeβi, R., dan Tsani, K. M. 2017. Penyuluhan Program Kesehatan Hutan Rakyat Di Desa Tanjung Kerta Kecamatan Kedondong Kabupaten Pesawaran, Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat; 1(1): 1-3.
Safeβi, R., Erly, H., Wulandari, C. & Kaskoyo, H. (2018). Analisis keanekaragaman jenis pohon sebagai salah satu indikator kesehatan hutan konservasi. Jurnal Perennial, 14(2), 32-36
Safe'i, R., Indriani, Y., Darmawan, A., & Kaskoyo, H. (2019). Status Pemantauan Kesehatan Hutan Yang Dikelola Oleh Kelompok Shk Lestari (Studi Kasus Kelompok Tani Hutan Karya Makmur I Desa Cilimus, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung).Safeβi, R., Wulandari, C. dan Kaskoyo, H. 2019.
47
Analisis Kesehatan Hutan Dalam Pengelolaan Hutan Rakyat Pola Tanam Agroforestri di Wilayah Kabupaten Lampung Timur, ANR Conserence Series 02, Talenta Publisher, Universitas Sumatera Utara. pp.97-103.
Safe'i, R., Kaskoyo, H., & Darmawan, A. (2020). ANALISIS KESEHATAN POHON DENGAN MENGGUNAKAN METODE FOREST HEALTH MONITORING (Studi Kasus pada Tiga Fungsi Hutan di Provinsi Lampung). 5.
Simamora, T. T., Indriyanto, & Bintoro, A. (2015). Identifikasi jenis liana dan tumbuhan Supriyanto, Stolte KW., Soekotjo dan Gintings, AN. 2001. Present Status of Crown Indicators. Di dalam: Forest Health Monitoring to Monitor The Sustainability of Indonesian Tropical Rain Forest. Volume 1. Japan: ITTO dan Bogor, SEAMEO- BIOTROP, p.124.
Widyasari, T. (2016). Karakterisasi sosial ekonomi dan respon masyarakat terhadap pengembangan karet di hutan produksi jawa barat. Jurnal penelitian karet, 91.
48
LAMPIRAN
1. Deskripsi Aktivitas Pekerjaan
Tanggal Hari
Ke- Jam Kegiatan Deskripsi
05/06/23 1 08.00 - 12.00
Induksi Keselamatan, Kesehatan, dan Keamanan
Kerja (K3)
Merupakan kegiatan wajib bagi setiap mahasiswa kerja praktek di PT Bukit Asam Tbk. Meliputi penjelasan terkait bahaya dan resiko pekerjaan di pertambangan, penjelasan tindakan pencegahan dan
pengendalian bahaya, serta konsekuensi pelanggaran aturan keselamatan
06/06/23 2
07.00 - 08.00
Diskusi Topik KP dengan AVP PHRDAS
(Pak Tuska Yanuar)
Pertemuan pertama dengan Pak Tuska Yanuar selaku AVP Pengelolaan Hutan dan Rehabilitasi DAS sekaligus penjelasan topik penelitian kerja praktek dan pemberian arahan terkait pembimbing
lapangan 08.00 -
08.15 Menuju Kantor Pembibitan 08.15 -
08.30
Orientasi lokasi pembibitan oleh Bu Adi (AM Revegetasi)
Pengenalan terkait satuan kerja Pengelolaan Hutan dan Rehabilitasi DAS, pegawai yang bekerja di
satuan kerja PH-RDAS, serta pengenalan area pembibitan
08.30 -
09.30 Menuju Hutan Kota 09.30 -
11.00
Orientasi lokasi rehabilitasi DAS
Didampingi dengan pihak dari bagian Rehabilitasi DAS, dilakukan pengenalan terkait kegiatan rehabilitasi DAS di Hutan Kota, mulai dari jenis tanaman, luas area, dan blok-blok yang ada di hutan
kota 11.00 -
12.00 Menuju Kantor Pembibitan 12.00 -
13.00 Istirahat 13.00 -
16.00 Diskusi Topik KP
Setelah menjelaskan rencana topik penelitian ke pembimbing, dilanjutkan dengan diskusi bersama kelompok terkait topik utama penelitian yang akan
diambil dan lokasi pengambilan data
07/06/23 3
07.00 -
08.00 Diskusi Topik KP Melanjutkan diskusi terkait pembagian topik penelitian dan lokasi pengambilan data 08.00 -
09.00
Menuju Lokasi Reklamasi IUP MTB
Ditemani Bang Riko dari bagian Revegetasi, melakukan survey lokasi pengambilan data di IUP
MTB 09.00 -
09.30
Survei lokasi kegiatan revegetasi di IUP TAL
Melakukan survey lokasi di lahan revegetasi IUP TAL sekaligus mengamati kegiatan revegetasi
49
09.30 - 11.45
Melakukan kegiatan revegetasi (Penyebaran cover crop,
pemupukan, dan penanaman)
Ikut melakukan kegiatan revegetasi bersama pekerja lapangan, mulai dari kegiatan pembuatan lubang tanam, penyebaran biji Legume Cover Crop,
penanaman pohon, dan pemupukan 11.45 -
12.00 Menuju Lokasi Pembibitan 12.00 -
13.00 Istirahat
13.00 -
14.30 Diskusi Topik KP Melanjutkan diskusi pembagian topik penelitian dan lokasi pengambilan data
14.30 -
14.45 Menuju Kantor PLPT 14.45 -
16.00
Rapat bersama AM Rehabilitasi DAS (Pak Dezar Ritno)
Mengikuti rapat rutin bagian Rehabilitasi DAS bersama dengan pegawai Rehabilitasi DAS dan
dipimpin langsung oleh Asisten Manajer Rehabilitasi DAS, yaitu Pak Dezar Ritno
08/06/23 4
07.00 -
08.00 Diskusi Topik KP Melanjutkan diskusi terkait metodologi penelitian dan lokasi pengambilan data
08.00 - 09.00
Menuju Lokasi IUP Banko Barat
09.00 - 11.00
Melaksanakan kegiatan revegetasi (pengajiran)
Mengikuti kegiatan revegetasi (pengajiran) di lahan percobaan FABA (Fly Ash Bottom Ash) sekaligus
survey lokasi pengambilan data 11.00 -
12.00 Menuju Lokasi Pembibitan 12.00 -
13.00 Istirahat
13.00 -
16.00 Diskusi Topik KP
Diskusi terkait fiksasi lokasi pengambilan data dan pendalaman terkait metodologi penelitian melalui
studi literatur
09/06/23 5
07.00 -
08.00 Diskusi Topik KP Melanjutkan diskusi terkait metodologi penelitian 08.00 -
10.00
Melaksanakan kegiatan pengisian
polybag
Ikut membantu pegawai PH-RDAS mengisi media tanam ke dalam polybag
10.00 - 11.30
Melaksanakan kegiatan penyiangan di area penanaman stek
Ikut membantu pegawai PH-RDAS membersihkan gulma dan rumput liat di polybag bibit stek 11.30-
13.00 Istirahat dan Shalat Jumat 13.00 -
16.00
Sesi sosialisasi (perkenalan dengan
pegawai, teman KP)
Bersama dengan rekan kerja praktek dari Universitas Sriwijaya dan pegawai PH-RDAS melakukan sharing ilmu dan pengalaman serta
melakukan olahraga bersama 10/06/23 6 07.00 -
08.00 Diskusi Topik KP
Melanjutkan diskusi terkait penentuan titik pengambilan sampel data di IUP MTB melalui peta
yang diberikan pembimbing