PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tujuan
Waktu dan Tempat Kerja Praktik
Waktu Pelaksanaan Kerja Praktik
Tempat Pelaksanaan Kerja Praktik
KONDISI UMUM INSTANSI
- Profil Instansi
- Sejarah PT Bukit Asam Tbk
- Wilayah Kerja Perusahaan
- Visi, Misi, dan Nilai Perusahaan
- Struktur Organisasi Perusahaan
- Aksesibilitas
- Kondisi Biofisik Lokasi
- Iklim dan Cuaca
- Kondisi Geologi
- Topografi
- Jenis Tanah
- Kondisi Sosial Ekonomi dan Budaya
- Kondisi Sosial Ekonomi
- Budaya
Pada tahun 1950, Pemerintah Republik Indonesia secara resmi menyetujui pendirian Perusahaan Negara Pertambangan Arang Bukit Asam (PN TABA). Secara administratif, PT Bukit Asam Tbk terletak di Tanjung Enim, Kecamatan Lawang Kidul, Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan. Bagan struktur organisasi pada PT Bukit Asam Tbk dapat dilihat pada Gambar 2.1 di bawah ini.
Lebih detail kondisi jalan dari Kota Palembang menuju kantor pusat PT Bukit Asam Tbk dapat dilihat pada Tabel 2.1 di bawah ini. PT Bukit Asam Tbk memiliki topografi yang beragam meliputi berbagai jenis kontur mulai dari perbukitan hingga dataran rendah. Area PT Bukit Asam Tbk memiliki jenis tanah yang berbeda-beda antara lain grumosol, podsolik merah kuning, mediterania, regosol, dan organosol.
PT Bukit Asam Tbk berlokasi di Kecamatan Lawang Kidul, sehingga data yang digunakan adalah data dari Kecamatan Lawang Kidul. Sebagian besar penduduk kawasan ini adalah karyawan PT Bukit Asam Tbk karena hampir 65% karyawan PT Bukit Asam Tbk adalah penduduk asli.
PELAKSANAAN KERJA PRAKTEK
Hasil Kerja Praktek
Satgas PH-RDAS merupakan gugus tugas di lingkungan Unit Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Pendukung Pertambangan (PLPT) yang diketuai oleh Assistant Vice President (AVP) yaitu Bpk. Tuska Yanuar. Kantor unit kerja PH-RDAS berada di area Taman Kanak-Kanak yang termasuk dalam wilayah IUP TAL. Dalam kegiatan orientasi ini, beberapa karyawan perusahaan yang bekerja di unit kerja PH-RDAS menampilkan diri, serta diperkenalkan pula fasilitas yang ada di area Taman Kanak-Kanak serta kegiatan apa saja yang dilakukan di unit kerja tersebut.
Selain program reklamasi lahan pasca penambangan, PT Bukit Asam Tbk sebagai pemegang izin pinjam pakai kawasan hutan juga wajib melakukan kegiatan rehabilitasi daerah aliran sungai di luar wilayah izinnya dengan tujuan menjamin daya dukung dan daya dukung daerah aliran sungai. kapasitas lingkungan daerah aliran sungai tidak mengalami penurunan. Salah satu tempat dilakukannya rehabilitasi DAS adalah di Hutan Kota yang paling dekat dengan area pertambangan PT Bukit Asam Tbk di Tanjung Enim. Untuk menguji kemampuan FABA sebagai media tanam, kegiatan penanaman dilakukan pada tanah pascatambang yang terlebih dahulu diisi limbah FABA.
Selain menyediakan bibit untuk kegiatan reklamasi di PT Bukit Asam Tbk, area pembibitan juga menjadi sarana edukasi bagi pelajar di kawasan Muara Enim untuk mempelajari jenis tanaman reklamasi lahan pasca tambang dan hutan. Peran pemandu wisata pada setiap kunjungan ke persemaian adalah memaparkan sarana dan prasarana yang ada di persemaian serta memaparkan berbagai jenis tanaman yang terdapat di persemaian. Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup, PT Bukit Asam Tbk menyelenggarakan serangkaian perayaan dengan tema Kalahkan Polusi Plastik.
Berbagai kegiatan dilakukan seperti pembagian kaos lingkungan kepada seluruh karyawan perusahaan, running adventure dan pemilihan duta lingkungan hidup yang menjadi puncak acara. Pemilihan duta lingkungan hidup dilakukan dengan berbagai seleksi siswa SMA se-Muara Enim. Pengumpulan data Penelitian Tematik Khusus berlangsung di lahan eks area reklamasi Outpit Dump Mahayung ID 4, Tambang Air Laya, pada bulan Juni 2023 hingga Juli 2023.
Jenis tanaman reklamasi yang ditanam di lokasi penelitian adalah akasia, sengon buto, Angsana, waru dan johar. Dalam melakukan kegiatan pengumpulan data diperlukan alat dan bahan yang terbagi menjadi dua, yaitu alat dan bahan yang digunakan dalam proses pengumpulan data, dan alat dan bahan yang digunakan dalam proses pengolahan data. Alat dan bahan yang digunakan dalam proses pengambilan data yaitu phi tape digunakan untuk mengukur diameter pohon, pryshpsometer digunakan untuk mengukur tinggi pohon, Forestry Pro 2 digunakan untuk mengukur tinggi pohon, roll gauge digunakan untuk pengukuran plot, lembaran garis rapi digunakan untuk membuat plot dan lembar penghitungan yang digunakan untuk mencatat data.
Hasil dan Pembahasan Kajian Topik Khusus
Pembuatan Klaster Plot
Kelompok plot dibuat dengan terlebih dahulu membuat titik pusat dan titik sambungan, dimana titik tengah tersebut berada di tengah-tengah plot satu. Kemudian ditentukan arah masing-masing plot berdasarkan azimuth plot satu pada jarak antar pusat plot 36,5 m. Peta ID Grup Plot Dump Plot Mahayung 4 PT Bukit Asam Tbk (Sumber: Satuan Kerja Perencanaan Lingkungan Hidup, Divisi Peta, 2023).
Penilaian Produktivitas Pohon
NKH merupakan nilai akhir kondisi kesehatan hutan yang diperoleh dengan mengalikan nilai tertimbang dengan nilai skor. Nilai skor merupakan nilai yang diperoleh dari transformasi nilai parameter tiap cluster plot kemudian ditetapkan kelas 1-10, sedangkan nilai tertimbang merupakan nilai yang diperoleh melalui Analytical Network Process (ANP). Setelah dilakukan perhitungan maka diperoleh hasil perhitungan LBD untuk masing-masing cluster plot seperti terlihat pada Tabel 13.
Kemudian untuk menentukan nilai akhir status kesehatan hutan berdasarkan indikator produktivitas, terlebih dahulu dilakukan scoring terhadap nilai LBD yang terdiri dari 10 interval. Range setiap kelas interval ditentukan dengan cara mengurangkan nilai LBD terbesar dengan nilai LBD terkecil kemudian membaginya dengan 10 (Safe'i, 2017). Nilai ambang batas status kesehatan hutan didasarkan pada nilai skor parameter LBD seperti pada Tabel 15.
Berdasarkan nilai ambang batas pada Tabel 15 di atas, maka dapat ditentukan nilai akhir status kesehatan hutan untuk setiap cluster plot (Tabel 16). Dari ketiga kategori status kesehatan hutan, terdapat dua klaster plot yang berstatus buruk, dan hanya terdapat 1 klaster plot yang berstatus baik yaitu klaster plot 1. Nilai LBD ditentukan oleh laju pertumbuhan pohon yaitu diameter pohon, sehingga semakin besar semakin besar diameter pohon maka semakin tinggi nilai LBD, semakin tinggi dan sebaliknya (Ansori et al., 2020).
Jenis pohon yang ditemukan pada tiga cluster tersebut terdiri dari akasia (Acacia sp.), sengon buto (Enterolobium cyclocarpum), angsana (Pterocarpus indicus), johar (Senna siamea), kembang sepatu (Hibiscus tiliaceus) dan laban (Vitex pinnata). Akasia dan sengon buto merupakan jenis pohon yang paling banyak ditemukan di Hutan Reklamasi Outpit Dump Mahayung ID 4. Petak 1 cluster mempunyai nilai LBD tertinggi karena jenis pohon yang paling banyak terdapat pada petak ini adalah sengon buto dengan perkiraan umur pohon 13 tahun diketahui dari tahun tanam yaitu tahun 2010.
Diameter sengon buto yang besar inilah yang membuat nilai LBD pada grafik ini ditetapkan paling tinggi. Pada kelompok plot 2 dan 3 jenis pohon yang paling banyak ditemukan adalah akasia dengan perkiraan umur pohon sama dengan sengon buto yaitu 13 tahun. Diameter yang lebih kecil ini menyebabkan nilai LBD pada plot cluster 2 dan 3 menjadi lebih kecil.
Biodiversitas Pohon
Pada umur tersebut jenis pohon akasia juga sudah memasuki umur pertumbuhan maksimal dengan kisaran diameter yang lebih kecil dibandingkan pohon sengon buto yaitu hanya 20 – 30 cm. Berdasarkan pengolahan data, cluster plot 1 memiliki indeks keanekaragaman (H') sebesar 0,62, cluster plot 2 sebesar 0,85, dan cluster plot 3 sebesar 0,87. Kategori keanekaragaman yang rendah mungkin disebabkan oleh tujuan reklamasi lahan bekas tambang di TPA Mahayung, yaitu sebagai hutan produksi.
Pemilihan tanaman pada hutan produksi dilakukan dengan memilih pohon-pohon yang mempunyai nilai komersial tinggi.
Vitalitas Pohon
Kemudian, nilai VCR (rasio kanopi visual) dan skor VCR untuk setiap plot cluster ditentukan dari kriteria masing-masing pohon. Berdasarkan Tabel 11, skor kondisi kanopi cluster plot 1 adalah 7 karena nilai VCR mean cluster plot adalah 3,06. Hasil selanjutnya pada graf cluster 3 dengan nilai 6, yaitu skor VCR klaster graf sebesar 2,67.
Terakhir, plot cluster 2 mendapat skor terendah hanya 5 poin dari nilai VCR 2,58. Menurut Maulana dkk (2021), plot cluster 1 dengan VCR tertinggi mempunyai kerapatan kanopi yang baik. Diketahui pada cluster plot lain terjadi penurunan nilai kualitas kerapatan tajuk akibat kerusakan cabang, penyakit dan hama yang menyerang pohon.
Berdasarkan gambar 22, pada cluster plot 1, cabang patah/mati merupakan jenis kerusakan yang paling sering terjadi yaitu 12. Dari gambar 23, pada cluster plot 2, cabang patah/mati merupakan jenis kerusakan yang paling sering terjadi, yaitu 23 pohon. . Dari Gambar 24 terdapat petak cluster 3, cabang patah/mati merupakan jenis kerusakan yang paling sering terjadi yaitu 13 pohon.
Selain itu, terdapat 3 kasus kanker pohon pada plot cluster 1 dan 1 kasus pada plot cluster 2. Berdasarkan perhitungan TDLI, plot cluster 1 didominasi oleh pohon yang termasuk dalam kelas TDLI sehat yaitu sebanyak 23 pohon. Berdasarkan perhitungan TDLI, plot cluster 2 didominasi oleh pohon yang termasuk dalam kelas TDLI sehat yaitu sebanyak 41 pohon.
Berdasarkan perhitungan TDLI, plot cluster 3 didominasi oleh pohon yang termasuk dalam kelas TDLI sehat yaitu sebanyak 27 pohon. Plot cluster 2 dan 3 masing-masing memiliki CLI sebesar 1,7 dan 1,6 sehingga keduanya masuk dalam kategori skor 9. Keanekaragaman hayati pohon pada cluster plot 1, cluster plot 2, dan cluster plot 3 masuk dalam kategori rendah.
Skor VCR (Visual Crown Ratio) pada cluster plot 1 sebesar 7, cluster plot 2 sebesar 5, dan cluster plot 3 sebesar 6. Skor CLI (Cluster Level Index) pada cluster plot 1 sebesar 8, cluster plot 2 sebesar 9, dan plot cluster 3 adalah 9.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Produktivitas petak kelompok 1 termasuk kategori baik, petak kelompok 2 masuk kategori buruk, dan petak kelompok 3 masuk kategori buruk.
Saran
Pengkajian Indikator Kesehatan Hutan Rakyat pada Beberapa Pola Penanaman (Studi Kasus di Desa Buana Sakti Kecamatan Batang Hari Kabupaten Lampung Timur), Tahun Jamak. Status kesehatan hutan berdasarkan indikator kondisi kanopi (studi kasus tiga fungsi hutan di Provinsi Lampung). Analisis produktivitas sebagai indikator kesehatan hutan (studi kasus hutan rakyat jati di Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung).
Membuat plot dan mengumpulkan data mengenai diameter pohon, tinggi total pohon, tinggi tanpa cabang, lebar kanopi dan jenis tanaman, serta menilai kesehatan kanopi dan pohon pada pukul 15.00. Membuat plot dan mengumpulkan data diameter pohon, tinggi total pohon, tinggi tanpa cabang, lebar tajuk dan jenis tanaman, serta menilai kesehatan tajuk dan pohon pada pukul 11.00. Membuat plot dan mengumpulkan data diameter pohon, tinggi total pohon, tinggi tanpa cabang, lebar tajuk dan jenis tanaman, serta menilai kesehatan tajuk dan pohon.
Membuat plot dan mengumpulkan data mengenai diameter pohon, tinggi total pohon, tinggi bebas cabang, lebar kanopi dan jenis tanaman, serta menilai kesehatan kanopi dan pohon.