• Tidak ada hasil yang ditemukan

Wanita-Wanita yang Haram Dinikahi

ﱠﻟﻠﻪا-

E. Wanita-Wanita yang Haram Dinikahi

Sebab-sebab wanita haram dinikahi ada dua. Pertama; sebab yang menjadikannya haram dinikahi selamanya, yaitu karena adanya pertalian

darah, semenda, dan saudara sesusuan. Kedua; sebab yang menjadikannya haram dinikahi sementara waktu.

Wanita-wanita yang haram dinikahi selamanya adalah: 97 1. Ada pertalian darah:

a. Pertalian nasab ke atas yakni ibu, nenek, baik nenek dari ibu maupun nenek dari bapak dan seterusnya ke atas (Q.S. al-Nisa’ [4]:23):

ْﻢُﻜْﻴَﻠَﻋ ْﺖَﻣِّﺮُﺣ ْﻢُﻜُﺗﺎَﻬﱠﻣُأ

“Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu…”

Menurut Shāfi’ī, kata ummahāt ( ُتﺎَﮭﱠﻣُﻷا) meliputi ibu yang melahirkan serta ibunya-ibu (nenek) seterusnya sampai ke atas, seberapapun jauhnya karena mereka semua disebut ummahāt ( ﱠﻦُﻬﱠـﻧَﻷ

ِتﺎَﻬﱠﻣُﻷا ُﻢْﺳا ﱠﻦُﻬُﻣَﺰْﻠَـﻳ).98 Demikian juga ibunya bapak seterusnya sampai ke

atas.99

b. Pertalian nasab ke bawah, yakni anak, cucu, -- baik dari anak perempuan maupun anak laki-laki--, terus ke bawah (Q.S. al-Nisa’

[4]:23):

َﻣِّﺮ ُﺣ ْﻢُﻜُﺗﺎَﻬﱠﻣُأ ْﻢُﻜْﻴَﻠَﻋ ْﺖ ْﻢُﻜُﺗﺎَﻨَـﺑَو

“Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan…”

97 Al-Zuḥaily, al-Fiqh al-Islāmy, vol. 9, 6625.

98 Muḥammad b. Idrīs al-Shāfi’ī, al-Umm, vol.3, (Beirut : Dār al-Fikr, 2009), 26.

99 Sayid Sābiq, Fiqh al-Sunnah, vol. 2, 488.

Istilah al-banāt meliputi anak perempuan, cucu perempuan seterusnya sampai ke bawah, karena mereka semua disebut al-banāt ( ِتﺎَﻨَـﺒْﻟا ُﻢْﺳا ﱠﻦُﻬُﻣ َﺰْﻠَـﻳ ﱠﻦُﻬ ﱡﻠُﻜَﻓ).99F100

c. Pertalian nasab ke samping (ﺎﻤھﺪﺣأ وأ ﻦﯾﻮﺑﻷا عوﺮﻓ), yakni saudara perempuan (sekandung, seibu, atau sebapak), beserta anak-anak perempuan mereka (keponakan) terus ke bawah, anak dari saudara laki-laki (keponakan) terus ke bawah (Q.S. al-Nisa’ [4]:23):

ْﻢُﻜُﺗﺎَﻨَـﺑَو ْﻢُﻜُﺗﺎَﻬﱠﻣُأ ْﻢُﻜْﻴَﻠَﻋ ْﺖَﻣِّﺮُﺣ ْﻢُﻜُﺗاَﻮَﺧَأَو

ْﻢُﻜُﺗ َﻻﺎَﺧَو ْﻢُﻜُﺗﺎﱠﻤَﻋَو ِخَْﻷا ُتﺎَﻨَـﺑَو

ِﺖْﺧُْﻷا ُتﺎَﻨَـﺑَو ...

“Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan ...”

d. Pertalian nasab ke samping dari anak-anaknya kakek dan nenek secara langsung, yakni bibi (saudaranya ibu atau bapak), baik bibi dari ibu maupun bibi dari bapak, terus ke atas (bibinya ibu/bapak dan seterusnya) (Q.S. al-Nisa’ [4]:23):

ْﻢُﻜُﺗاَﻮَﺧَأَو ْﻢُﻜُﺗﺎَﻨَـﺑَو ْﻢُﻜُﺗﺎَﻬﱠﻣُأ ْﻢُﻜْﻴَﻠَﻋ ْﺖَﻣِّﺮُﺣ ْﻢُﻜُﺗ َﻻﺎَﺧَو ْﻢُﻜُﺗﺎﱠﻤَﻋَو

...

“Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan...”

Adapun pertalian nasab ke samping dari anak-anaknya kakek dan nenek yang tidak langsung, yakni anak perempuan bibi ataupun paman (sepupu) tidak termasuk kelompok yang diharamkan sekalipun mereka memiliki hubungan nasab berdasarkan Q.S. al-nisa’

{[4]:24 dan al-aḥzāb [{33]:50:

ْﻢُﻜْﻴَﻠَﻋ ِﱠﻟﻠﻪا َبﺎَﺘِﻛ ْﻢُﻜُﻧﺎَْﳝَأ ْﺖَﻜَﻠَﻣ ﺎَﻣ ﱠﻻِإ ِءﺎَﺴِّﻨﻟا َﻦِﻣ ُتﺎَﻨَﺼْﺤُﻤْﻟاَو ْﻢُﻜِﻟَذ َءاَرَو ﺎَﻣ ْﻢُﻜَﻟ ﱠﻞِﺣُأَو

...

100 al-Shāfi’ī, al-Umm, vol.3, (Beirut : Dār al-Fikr, 2009), 26.

“Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian...”

َﻚُﻨﻴَِﳝ ْﺖَﻜَﻠَﻣ ﺎَﻣَو ﱠﻦُﻫَرﻮُﺟُأ َﺖْﻴَـﺗآ ِﰐ ﱠﻼﻟا َﻚَﺟاَوْزَأ َﻚَﻟ ﺎَﻨْﻠَﻠْﺣَأ ﱠ�ِإ ﱡِﱯﱠﻨﻟا ﺎَﻬﱡـﻳَأ َ�

ْﻴَﻠَﻋ ُﱠﻟﻠﻪا َءﺎَﻓَأ ﺎﱠِﳑ َﻋ ِتﺎَﻨَـﺑَو َﻚ

ِتﺎَﻨَـﺑَو َﻚِﻟﺎَﺧ ِتﺎَﻨَـﺑَو َﻚِﺗﺎﱠﻤَﻋ ِتﺎَﻨَـﺑَو َﻚِّﻤ

َﻚِﺗ َﻻﺎَﺧ َﻚَﻌَﻣ َنْﺮَﺟﺎَﻫ ِﰐ ﱠﻼﻟا

...

“ Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu isteri- isterimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak- anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu yang turut hijrah bersama kamu...”

Nabi juga menikahi puteri pamannya (saudara sepupunya), yakni Zainab binti Jaḥshy, demikian juga Fatimah puteri beliau menikah denga Ali b. Abi Ṭālib, sepupu beliau.101 Dengan demikian, seluruh kerabat haram, kecuali empat, yakni anak perempuan paman dari bapak atau ibu, serta anak perempuan bibi dari bapak atau ibu ( ﻊﻴﲨ ﻪﺘﻟﺎﺧ تﺎﻨﺑو ،ﻪﺘﻤﻋ تﺎﻨﺑو ،ﻪﻟﺎﺧ تﺎﻨﺑو ،ﻪﻤﻋ تﺎﻨﺑ :ﺔﻌﺑرأ ﻻإ ﻪﻴﻠﻋ ماﺮﺣ ﺐﺴﻨﻟا ﻦﻣ ﻞﺟﺮﻟا برﺎﻗأ).102 2. Adanya pertalian semenda / pertalian keluarga karena perkawinan

(muṣāharah) yang haram dinikahi selamanya ada empat :103

a. Isterinya bapak (wanita yang sudah dinikahi bapaknya/ibu tiri) terus ke atas (isterinya kakek baik dari ibu maupun dari bapak) dan

101 Tim Muktamar Islam Jeddah, Majma’ al-Fiqh al-Islamy, vol. 11, 1110

102 Abū Mālik Kamāl b. al-Sayyid Sālim, aḥīḥ Fiqh al-Sunnah wa Adillatuh wa Tauḍīḥ Madhāhib al-Aimmah, vol.3, (Kairo : al-Maktabah al-Taufiqiyah, 2003), 78. 103 Al-Zuḥaily, al-Fiqh al-Islāmy, vol. 9, 6627

seterusnya, sekalipun belum pernah melakukan hubungan suami istri.

Tradisi menikahi mantan istri bapaknya, merupakan tradisi jahiliyah yang disebut perkawinan al-maqt (ﺖﻘﻤﻟا جاوز). Tradisi ini ditolak dan dilarang secara tegas oleh Islam,103F104 berdasarkan Q.S. al-Nisa’[4]:22:

ًﺔَﺸِﺣﺎَﻓ َنﺎَﻛ ُﻪﱠﻧِإ َﻒَﻠَﺳ ْﺪَﻗ ﺎَﻣ ﱠﻻِإ ِءﺎَﺴِّﻨﻟا َﻦِﻣ ْﻢُﻛُؤَﺑﺎآ َﺢَﻜَﻧ ﺎَﻣ اﻮُﺤِﻜْﻨَـﺗ َﻻَو ًﻼﻴِﺒَﺳ َءﺎَﺳَو ﺎًﺘْﻘَﻣَو

“Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh)”.

Namun demikian keharaman tersebut hanya berlaku bagi isterinya bapak saja. Adapun anak-anak perempuan dari isteri bapak (anak tiri bapak) dan ibunya isteri bapak (mertuanya bapak), tidak haram dinikahi. Dengan demikian, boleh saja seseorang menikahi seorang perempuan, sementara anak laki-lakinya menikahi puteri atau ibu perempuan itu.105

Menurut Ḥanafiyah, keharaman karena muṣāharah dapat terjadi karena terjadinya zina atau nikah fāsid.106 Keharaman bahkan juga berlaku jika laki-laki itu melihat atau memegang farji seorang perempuan dengan syahwat. Artinya, seorang laki-laki yang telah berzina dengan seorang perempuan, atau melihat atau memegang farji perempuan tersebut dengan syahwat, maka perempuan tersebut haram dinikahi oleh bapak laki-laki tersebut terus ke atas, serta anak keturunannya terus ke bawah. Sebaliknya, perempuan tersebut tidak boleh menikah dengan anak laki-laki tersebut terus ke bawah serta bapaknya terus ke atas. Keharaman tersebut berlaku, baik dari garis nasab atau hubungan raḍā’ (persusuan). Alasan Ḥanafiyah adalah kata ‘nikah’ dalam ayat di atas (Q.S. al-Nisa’[4]:22) bermakna

‘bersetubuh’.107

104 Sayyid Sābiq, Fiqh al-Sunnah, vol. 2, 487-490.

105 al-Zuḥaily, al-Fiqh al-Islamy, vol. 9, 6627.

106 Ibid., 6628.

107 Fakhr al-Dīn al-Rāzy, Mafāti al-Ghaib, vol. 10, (Beirut: Dār Iḥya’ al-Turāth al-‘Araby, t.th.), 16. Lihat juga Abdullah b. Maḥmūd b. Maudūd al-Mūṣilī al-

Alasan lain yang dikemukakan Ḥanafiyah adalah beberapa hadis Nabi—sebagaimana dikutip al-Mūṣilī al-Ḥanafī, dalam kitab al-Ikhtiyār li Ta’līl al-Mukhtār: