PENYIDIKAN TINDAK PIDANA KORUSPI
A. Wewenang Penyidikan Tindak Pidana Korupsi
Dalam Undang-undang Nomor 3 Tahun 1971 lembaga penegak hukum yang diberikan wewenang untuk penyidikan dalam tindak pidana korupsi adalah Kejaksaan, di sampin itu juga diberikan kewenangan untuk melakukan penuntutnan, sebagaimana ketentuan dalam Pasal3 Undang-Undang Nomor 3 tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, dinyatakan bahwa penuntutan tindak pidana korupsi dijalankan menurut ketentuan yang berlaku, sekedar tidak ditentukan lain dalam undang-undang ini. Pasalini dapat diartikan bahwa apabila undang-undang Nomor 3 tahun 1971 tidak mengatur secara tersendiri, maka Pasal 137 KUHAP juga dapat diterapkan terhadap penuntutan tindak pidana korupsi, artinya dalam penuntutan terhadap tindak pidana korupsi adalah merupakan wewenang Jaksa Penuntut umum. Jaksa Penuntut Umum dalam mengajukan dakwaan dan tuntutan.
Pekermbangan selanjutnya sejak lahirnya Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tenyang Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), sebagaimana diatur dalam dalam Bab XXI ketentuan peralihan Pasal 284 berbunyi sebagai berikut:25
25 Lihat ketentuan Peralihan Dalam Pasal 284 ayat (1) dan (2) Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana
(1) terhadap perkara yang ada sebelum undang-undang ini
diundangkan, sejauh mungkin diberlakukan ketentuan undang-undang ini;
(2) dalam waktu dua tahun setelah undang-undang ini diundangkan, maka terhadap semua perkara diberlakukan ketentuan undang-undang ini, dengan pengecualian untuk sementara mengenai ketentuan khusus acara pidana sebagaimana tersebut pada undang-undang tertentu, sampai ada perubahan dan atau dinyatakan tidak berlaku lagi.
Dalam penjelasan Pasal 284 ayat (2) Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana, dinyatakan secara tegas sebagai berikut:26
a. Yang dimaksud dengan semua perkara adalah perkara yang telah dilimphakan ke pengadilan;
b. Yang dimaksud dengan ”ketentuan khusus acara pidana sebagaimana tersebut pada undang-undang tertentu” ialah ketentuan khusus acara pidana sebagaimana tersebut apada, antara lain:
1. Undang-undang tentang pengusutan, penuntutan dan peradilan tindak pidana ekonomi (Undang-undang Nomor 7 Drt Tahun 1955);
2. Undang-undang tentang pemberantasan tindak pidana korupsi (Undang-undang Nomor 3 Tahun 1971), dengan catatan bahwa semua ketentuan khusus acara pidana sebagaimana tersebut pada undang-undang tertentu akan
ditinjau kembali, diubah atau dicabut dalam yang sesingkat- singkatnya.
Bahwa makna kalimat ”berdasarkan hukum acara yang berlaku”27, mendasari Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 (KUHAP), selain ketentuan yang diatur dalam KUHAP tidak terdapat hukum acara pidana lain yang diberlakukan di Indonesia. Oleh karenanya terhadap tindak pidana koruspsi, penyidikannya berdasarkan Pasal 106 -136 KUHAP, yaitu penyidikan dilakukan oleh penyidik Polri.
Penyidikan Tindak Pidana Korupsi merupakan awal dari proses peradilan pidana dalam menangani perkara-perkara korupsi. Proses peradilan pidana dalam menangani perkara korupsi menggunakan hukum acara pidana khusus, seperti yang ditetapkan oleh Pasal 284 ayat (2) KUHAP, yakni:
“Dalam waktu dua tahun setelah Undang-undang ini diundangkan, maka terhadap semua perkara diberlakukan Undang-undang ini, dengan pengecualian untuk sementara mengenai ketentuan khusus acara pidana sebagaimana tersebut pada Undang-undang tertentu, sampai ada perubahan dan atau dinyatakan tidak berlaku lagi”
Sesuai dengan asas Lex Specialis Derogat Legi Generalis sehingga dalam proses penyidikan tindak pidana korupsi terdapat 2 (dua) lembaga penegak hukum yang sama-sama menyatakan berwenang melakukan penyidikan Tindak Pidana Korupsi, yaitu Kepolisian dan Kejaksaan.
Maka dari uraian dia atas setelah lahirnya Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana
27O.C. Kaligis, Pengawasan Terhadap Jaksa Selaku Penyidik Tindak Pidana Khusus Dalam Pemberantasan Korupsi, Alumni, Bandung, hal. 119.
(KUHAP), yang berwenang melakukan penyidikan tindak pidana korupsi yaitu, Prnyidik Kepolisian Negara Republik dan Penyidik pada Kejaksan.
Wewenang penyidik Polri dalam melakukan penegakan hukum termuat dalam Undang-undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, Pasal14 huruf g menegaskan bahwa:
”Kepolisian Negara Republik Indonesia bertugas melakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap semua tindak pidana sesuai dengan hukum acara pidana dan peraturan perundang-undangan lainnya”.
Atas dasar Pasaltersebut di atas, menurut M. Sholehuddin28, mengatakan bahwa instansi Polri berwenang melakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap kasus-kasus tindak pidana korupsi, meskipun tindak pidana korupsi itu pengaturannya terdapat dalam hukum pidana khusus. Dengan kata yang lebih jelas, kewenangan Polri dalam menangani kasus korupsi tetap tunduk pada hukum acara pidana umum (KUHAP) dan hukum acara pidana khusus yang terdapat dalam Undang- undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001.
Pemberantasan tindak pidana korupsi telah terjadi perubahan aturan, setelah Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001, mengalami perubahan lahir Undang-undang Nomor 30 Tahun 2002, kemudian mengalami perubahan menjadi Undang-undang Nomor 19 Tahun 2019 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korusp, Lembaran Negara Tahun
2019 Nomor 197, Tambahan Lembaran Negara Tahun 2019 Nomor 6409.
Secara umum kewenangan Polri dalam melakukan penyelidikan dan penyidikan kasus tindak pidana korupsi sebagai berikut:
a. Melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan dan penyitaan (Pasal 7 ayat (1) huruf d KUHAP;
b. Melakukan penyadapan atau wiretapung (Penjelasan Pasal26 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999);
c. Meminta keterangan kepada Bank tentang keadaan keuangan tersangka (Pasal 29 ayat (1) Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 );
d. Meminta kepada Bank untuk memblokir rekening simpanan milik tersangka yang diduga hasil dari korupsi (Pasal 29 ayat (4) Undang-undang Nomor 31 Thun 1999).
Secara etimologi istilah “Penyidikan” merupakan padanan kata Bahasa Belanda “Opsporing”, dari Bahasa Inggris “Investigation”, atau Bahasa Latin “Investigatio”. Menurut de Pinto 29 Opsporing mempunyai arti pemeriksaan permulaan oleh pejabat-pejabat untuk itu ditunjuk oleh undang-undang segera setelah mereka dengan alasan apapun mendengar kabar yang sekedar beralasan bahwa ada terjadinya sesuatu pelanggaran hukum.
Apabila ditinjau dari aspek pentahapannya, maka sebelum melakukan penyidikan diperlukan adanya tahap kegiatan tertentu, yaitu
29 De Pinto Dalam Andi Hamzah, Pengantar Hukum Acara Pidana Indonesia, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1984, h.121.
tahap penyelidikan. Jadi konkretnya, berbicara mengenai visi penyidikan tidak akan menjadi lengkap dan mendapatkan deskripsi yang memadai apabila tanpa membahas apa yang dimaksud dengan penyelidikan.