• Tidak ada hasil yang ditemukan

Wisata Alam Dan Pendidikan Lingkungan Di Kebun Raya Bali

Dalam dokumen PDF Prosiding Seminar Nasional (Halaman 164-176)

Wisata Alam Dan Pendidikan Lingkungan Di Kebun

PENDAHULUAN

Dinamika perkembangan kawasan wisata menuntut adanya respon dari pemerintah untuk mengelola kawasan agar lebih tertata dan memiliki manfaat yang lebih luas. Pengembangan sektor wisata selain untuk menata kawasan juga diharapkan dapat membawa dampak yang luas terhadap perekonomian di suatu daerah. Hal ini dinyatakan oleh Goeldner dalam Gufron (209:5), bahwa pariwisata adalah suatu usaha ekonomi potensial dan sebagai pembangkit perekonomian suatu kota, propinsi, kabupaten, atau daerah tujuan wisatawan, terlihat dari pengeluaran mereka. Wisata alam adalah pilihan utama bagi para wisatawan. pengembangan ekowisata sangat menjadikan sebuah peluang bisnis yang cukup menjanjikan.

Berdasarkan pengertian Ekowisata menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri No 33 Tahun 2009 Tentang Pedoman Pengembangan Ekowisata, ekowisata adalah kegiatan wisata alam dengan bertanggung jawab dalam memperhatikan unsur pendidikan, pemahaman, dan dukungan kegiatan konservasi sumberdaya alam, serta peningkatan pendapatan masyarakat lokal. Ekowisata berkontribusi dalam membangun kesadaran konservasi lewat pendidikan. Pendidikan lingkungan merupakan proses penyadaran tentang pentingnya lingkungan hidup untuk mendorong terwujudnya kepedulian semua lapisan dan golongan masyarakat sadar akan lingkungan. Jika dilihat dari pengertian ekowisata, sebenarnya ekowisata dapat menggabungkan beberapa komponen didalamnya, seperti perihal konservasi alam, pemberdayaan masyarakat di sekitar tempat wisata tersebut dan dapat meningkatkan kesadaran dalam lingkungan hidup. Sesuai dengan tupoksi Kebun Raya Bali, yang memiliki tujuan sebagai konservasi, penelitian, pendidikan dan pariwisata,seperti pada tabel,

Tabel 1

Pengguna Jasa pendidikan Lingkungan dan wisata alam

No Tahun Jenis Kegiatan Jumlah Orang Keterangan

1. 2018 Bimbingan Wisata

Flora

7260 orang

2. 2017 Bimbingan Wisata

Flora

5730 orang

3. 2016 Bimbingan Wisata

Flora

6115 orang

Sumber : unit dokinfo Kebun Raya Bali.

Berdasarkan tabel 1 dapat dilihat pengguna jasa pendidikan lingkungan dan wisata alam di Kebun Raya Bali banyak dimanfaatkan oleh pengunjung, dengan bayaknya pemanfaatan jasa pendidikan lingkungan dan wisata alam diharapkan menjadi sebuah paket wisata unggulan di Kebun Raya Bali. Dikarenakan semakin banyaknya tempat wisata diwilayah Bedugul, Kebun Raya Bali harus memikirkan strategi apa yang harus dilakukan agar dapat tetap bertahan menjadi tujuan wisata masyarakat sekitar.

TINJAUAN PUSTAKA

Menurut Yoeti (1985) terdapat 3 karakteristik utama objek wisata yang harus diperhatikan dalam upaya pengembangan suatu objek wisata tertentu. Karakteristik tersebut antara lain :

a. “Something to see” artinya objek wisata harus memilki suatu atraksi wisata yang bisa dilhat atau dijadikan tontonan bagi para wisatawan.

b. “Something to do” artinya objek wisata harus memilki sesuatu misalnya berupa fasilitas rekreasi baik itu arena bermain atau tempat makan sehingga ada sesuatu yang bisa dilakukan oleh wisatawan.

c. “something to buy” artinya objek wisata harus menyediakan fasilitas bagi para wisatawan untuk berbelanja terutama barang – barang souvenir dan kerajinan tangan rakyat. Alam merupakan sumber ilmu yang tanpa batas.

Keanekaragaman lingkungan (alam, sosial, budaya) dapat menampung pengembangan minat (sense of interst) para wisatawan, segala sesuatu yang ada di alam dapat langsung diamati (sense of reality),diselidiki (sense of inquiry), dan ditemukan (sense of discovery). Oleh karena itu, pendidikan sifatnya inheren (melekat) dalam ekowisata. Ekowisata harus mencakup komponen pendidikan dan interpretasi aspek alam dan budaya suatu tempat. Pengunjung harus belajar sesuatu, membangun penghargaan terhadap budaya dari tempat yang ia kunjungi, dan juga membangun sebuah pemahaman tentang sifat dan proses – proses alami tempat tersebut, sebagaimana dikemukakan Lipscombe dan Thwaites (2001).

Tipologi pariwisata

Katagori Definisi

Wisata petualangan (adventure tourism)

Suatu bentuk pariwisata yang

menggabungkan unsur resiko, tingkat penggunaan tenaga fisik yang lebih tinggi, dan kebutuhan keahlian/skil yang khusus.

Ekowisata (ecotourism) Suatu bentuk perjalanan wisata ke areal alami yang dilakukan dengan tujuan mengkonservasi lingkungan dan melestarikan kehidupan dan kesejahteraan penduduk setempat.

Geo-turisme (geotourism). Pariwisata yang menopang atau meningkatkan karakter geografis dari

suatu tempat yang meliputi lingkungannya, heritage, estetika,

budaya, dan kesejahteraan penduduknya.

Pariwisata massal (mass-tourism) Pariwisata berskala besar, yang biasanya berhubungan dengan tempat 3S (sea, sand, and sun – laut, pasir, dan matahari) dan beberapa karakteristik seperti

kepemilikan transnasional, keuntungan ekonomi langsung minimal kepada komunitas tujuan, kemudahan, dan paket wisata.

Pariwisata alam (nature-based tourism) Bentuk lain dari pariwisata yang sangat mengandalkan lingkungan alami untuk daya tarik dan latar/setting-nya

Pro-poor tourism Pariwisata yang menghasilkan peningkatan keuntungan bersih bagi masyarakat miskin.

Pariwisata bertanggung jawab (responsible tourism)

Pariwisata yang memaksimalkan manfaat bagi komunitas lokal, meminimalkan dampak sosial dan lingkungan yang negatif, serta untuk menolong masyarakat lokal untuk mengkonservasi budaya, habitat, dan spesies yang rentan.

Pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism)

Pariwisata yang dapat memenuhi kebutuhan para wisatawan dan daerah setempat di waktu kini, sambil

melindungi dan meningkatkan peluang di waktu yang akan datang.

Sumber : The International Ecotourism Society.

METODE PENELITIAN

Jenis dari penelitan yang digunakan adalah penelitan deskriptif dengan mengunakan pendekatan kualitatif. Penulis ingin memaparkan secara deskriptif tentang wisata alam dan pendidikan lingkungan di Kebun Raya Bali. Adapun pertimbangan pemilihan lokasi, antara lain : Kebun Raya Bali merupakan sebuah kawasan untuk penelitian yang telah mengalami dinamika perkembangan yang menarik, yaitu adanya kegiatan pengembangan wisata alam dan pendidikan lingkungan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Wisata alam dan pendidikan lingkungan di Kebun Raya Bali dipengaruhi oleh beberapa faktor baik eksternal maupun internal yang dapat bersifat sebagai pendorong maupun sebagai penghambat. Faktor yang mempengaruhi wisata alam dan pendidikan lingkungan adalah :

a. Keterlibatan Komunitas Setempat (Community Involvement)

Proses pembangunan partisipatif merupakan salah satu bentuk pemberdayaan masyarakat sebagai upaya melibatkan masyarakat dalam prosesnya. Dalam pelaksanaan program ekowisata, keterlibatan atau partisipasi masyarakat secara langsung untuk mendapatkan manfaat dapat dilakukan dengan kadar keterlibatan dan besarnya manfaat yang diperoleh bervariasi. Pengelolaan kawasan ekowisata, peran serta masyarakat setempat tidak bisa diabaikan.

b. Ekowisata

Wisata alam merupakan tujuan utama dari masyarakat namun hal tersebut tidak terlepas dari pendidikan tentang alam. Aspek pendidikan merupakan bagian utama dalam mengelola keberadan manusia, lingkungan, dan akibat yang mungkin ditimbulkan bila terjadi kesalahan atau kekeliruan dalam manajemen pemberdayaan lingkungan. Setiap pengelolan ekowisata memerlukan integritas kuat karena nilai pendidikan dari ekowisata memilki nilai yang sangat penting. Misalnya, pada Kebun Raya Bali memilki ciri – ciri yang khas atau unik, waktu sedang berkembang dipublikasikan secara gencar sebagai tanaman atau bunga langka. Lingkungan di sekitar wisata tersebut ditata sedemikian rupa. Prasarana yang dibuat hendaknya mampu memberikan nilai–nilai berwawasan lingkungan.

c. Sosialisasi

Sosialisasi dilakukan terhadap stakeholder dan pihak – pihak terkait lain secara luas untuk mensosialisasikan program dan kegiatan wisata alam dan pendidikan lingkungan di Kebun Raya Bali dengan adanya sosialisasi ini, diharapkan dapat menarik dukungan dari berbagai pihak .

d. Pengawasan (Monitoring)

Kita sangat menyadari bahwa budaya yang berkembang pada masyarakat di pulai Bali salah satunya yaitu Kebun Raya Bali tidak sama dengan budaya yang lain di luar Bali.

Dalam melakukan aktivitas, akan terjadi pergeseran yang lambat laun akan mengakibatkan hilangnya kebudayan asli. Ini harus diusahakan jangan sampai terjadi.

Oleh karena itu, diperlukan pengawasan (monitoring) yang berkesinambungan sehingga masalah integritas, loyalitas, atau kualitas dan kemampuan akan sangat menentukan untuk mengurangi dampak yang timbul.

e. Konservasi (Conservation)

Kebun Raya Bali maupun wisatawan yang datang berkunjung harus menyadari bahwa tujuan pengembangan ekowisata adalah aspek konservasi bagi suatu kawasan dengan memperhatikan kesejahteran, kelestarian, dan mempertahankan kelestarian lingkungan kawasan itu sendiri. Ekoturisme dipandang sebagai suatu cara untuk membayar konservasi alam dan meningkatkan nilai lahan- lahan yang dibiarkan dalam kondisi alami.

f. Wisata Alam dan Pendidikan Lingkungan di Kebun Raya Bali

Wisata alam merupakan suatu perjalanan wisata yang memberikan pengetahuan tentang alam dan pendidikan. Wisata Alam adalah kawasan pelestarian alam yang terutama dimanfaatkan untuk pariwisata dan rekreasi alam sedangkan kawasan konservasi sendiri adalah kawasan dengan ciri khas tertentu, baik di darat maupun di perairan yang mempunyai sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya, menurut UU No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya, kemudian pada pasal 31 dari Undang-undang No. 5 tahun 1990 menyebutkan bahwa dalam taman wisata alam dapat dilakukan kegiatan untuk kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya dan wisata alam. Kebun Raya Bali merupakan tempat wisata yang berbasis alam yang bisa dimanfaatkan untuk pendidikan, dengan luas kebun Raya Bali 157,5H. Pendidikan yang dapat dilakukan Kebun Raya Bali ada 2 Jenis, yang pertama pemanduan seperti gambar berikut.

(a) (b)

Keterangan : Gambar (a) Pemanduan dari SMP N Bondowoso, (b)Pemanduan dari Poltek Negeri Jember

Berdasarkan gambar di atas dilihat kegiatana pemanduan, pemanduan yang di berikan berdasarkan 7 jalur pemanduan di Kebun Raya Bali, diantarnya jalur kuning tentang budaya dan kisah Ramayana, jalur orang, tentang Tanaman Upacara Adat dan Museum Etnobotani, Jalur Ungu tentang taman-taman tematik yang terdapat di Kebun Raya Bali, seperti taman anggre, kaktus, obat aquatic, dll, Jalur Merah tengah rumah tradisional Bali, jalur Biru tentang Koleksi Bambu dan koleksi Paku, dan Jalur Hijau tentang Taman Begonia, dan Taman Konservatori,. Stiap pengguna jasa pemanduan akan ditawarkan 7 jalur dan di pilih satu jalur untuk melakukan pemanduan, pada sat pemanduan pemandua kan menjelaskan tentang informasi dan keguanaan dari setiap jalur yang di lalui.

Gambar. 7 (Tujuh) Jalur Pemanduan

Selain pemanduan, yang program pendidikan yang ada di Kebun Raya Bali adalah program jasa pendidikan lingkungan, yang membedakan pemanduan dan pendidikan lingkungan adalah, Jasa pemanduan hanya diberikan informasi sesuai dengan jalur yang

ditawarkan sedangan pendidikan lingkungan berdasarkan modul pendidikan lingkungan di kebuan raya balai atau lebih bnyak diajarkan praktek secara langsung seperti pada gambar.

(a) (b) (c)

Keterangan: Gambar (a), Kegiatan Pendidikan Lingkungan dari TK Tamana Rama Denpasar, (b), Kegiatan Pendidikan Lingkuang dari TK Pancaran Berkat (c) Kegiatan Pendidikan Lingkungan perbanyakan tananaman dari NBBS School

Dari gambar di atas dapat dilihat siswa/i diajarkan secara langsung untuk praktek melakukan perbanyakan tanaman sesuai dengan modul. Contoh yang diambil adalah modul perbanyakan tanaman, Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengenalkan dan memberi keterampilan teknis kepada siswa untuk bisa melakukan berbagai cara untuk perbanyakan tanaman seperti, Perbanyakan Generatif (dengan biji), Perbanyakan Vegetatif (tanpa biji) contoh, Stek Batang, Stek Pucuk, Stek Daun, Okulasi, Sambung, Cangkok.

Gambar. Modul Program Pendidikan Lingkungan KESIMPULAN

Ekowisata merupakan salah satu alternatif kegiatan wisata yang mendukung spirit konservasi sumber daya alam. Ekowisata merupakan bisnis yang tidak menitikberatkan pada profit (keuntungan materi) semata, namun lebih kepada manfaat secara umum, yang meliputi ekowisatawan, masyarakat (local communites), dan lingkungan.

Ekowisata memerlukan keahlian yang multidisiplin dan melibatkan berbagai stakeholder. Ekowisata di Kebun Raya Bali dikemas dalam pemanduan dan program pendidikan lingkungan yang dilaksanakan di luar sekolah dengan tujuan untuk pengembangan literasi lingkungan. Pengembangan literasi lingkungan ditunjukkan dengan peningkatan :

1. Pengetahuan dan pemahaman peserta didik terhadap lingkungan 2. Sikap peserta didik terhadap lingkungan

3. Kinerja peserta didik dilapangan

4. Tanggapan peserta didik terhadap kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan.

Program pendidikan lingkungan yang dilaksanakan juga sangat menantang, menyenangkan, dan menarik bagi peserta didik dan program ini juga dapat memperjelas pembelajaran materi bidang studi di kelas.

PUSTAKA

Bambang Setiyono, Sarwono, Hermawan,2012. Perencanan Pengembangan Wisata Alam dan PendidikanLingkungan. Jurnal Wacana – Vo15, No. 3.

Damanik, Janianton dan Helmut F. Weber.2006. Perencanan Ekowisata.Yogyakarta:

CV.Andi Ofset

David Western. 193. Member Batasan tentang Ekoturisme. Ekoturisme Petunjuk Untuk Perencana dan Pengelola. The Ecotourism Society. North Benington, Vermonth Nugroho, Iwan. 2011. Ekowisata dan Pembangunan Berkelanjutan.Yogyakarta: Pustaku

Pelajar

Yoeti, Oka A. 2000. Ekowisata : Pariwisata Berwawasan Lingkungan Hidup. Jakarta:

P.T. Pertja

Daya Hambat Perasan Buah Mengkudu (Morinda citrifolia L.)

Dalam dokumen PDF Prosiding Seminar Nasional (Halaman 164-176)