(Studi Analisi Terjemah Kitab Ihya Ulumuddin) IIS RODIAH
M. DJASWIDI AL HAMDANI
Abstrak
Komponen-komponen dalam pendidikan mempunyai pengaruh untuk peningkatan mutu pendidikan. Salah satu komponen yang mempunyai peran signifikan adalah guru. Guru dalam konteks kependidikan mempunyai peranan yang besar dan strategis. Hal ini di sebabkan gurulah yang berada di barisan depan dalam pelaksanaan pendidikan . Gurulah yang langsung berhadapan dengan peserta didik untuk mentransfer ilmu pengetahuan dan teknologi sekaligus mendidik dengan nilai nilai positif melalui bimbingan dan keteladanan. Imam Al-Ghazali memiliki pendapat yang tajam, kedalaman dan kebijaksanaan berfikir serta pandangan yang jauh masalah- masalah pengajaran serta problem-problem lain yang berkaitan tentang pendidikan. Dari sini tampak oleh kita pentingnya konsep-konsep yang diberikan Al-Ghazali dalam membahas pendidikan Akhlak dalam konteks ini berkaitan dengan konsep Guru. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode content analysis (analisis isi) sedangkan teknik pengumpulan data yang di gunakan adalah study kepustakaan atau dokumentasi. Data-data yang terkumpul lalu dianalisis dengan teknik dedukasi, induksi, komparasi dan penarikan kesimpulan. Setelah melakukan analisis data, di peroleh kesimpulan sebagai berikut: Pertama, dalam pandangan al-Ghazali, pendidik merupakan orang yang berusaha membimbing, meningkatkan, menyempurnakan dan mensucikan hati sehingga menjadi dekat dengan Khaliqnya. Ia juga memberikan perhatian yang sangat besar pada tugas dan kedudukan seorang pendidik. Hal ini tercermin dalam tulisannya:“Sebaik-baik ikhwalnya adalah apa yang dia katakan berupa ilmu pengetahuan”. Kedua, pendidikan akhlak menurut Imam Al Ghazali merupakan proses menghilangkan sifat-sifat tercela yang ada pada diri dan menanamkan sifat sifat terpuji, yang mana bertujuan untuk menghasilkan insan kamil dan mendekatkan diri kepada Allah sehingga manusia dapat memperoleh kebahagiaan didunia dan akhirat. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pendidik yang dapat diserahi tugas mengajar adalah seorang pendidik yang selain memiliki kompetensi dalam bidang yang diajarkan yang tercermin dalam kesempurnaan akalnya, juga haruslah yang berakhlak baik dan memiliki fisik yang kuat.
Kata kunci: Guru, Pendidikan akhlak, al-Ghazali
PENDAHULUAN
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana yang bertujuan untuk meningkatkatkan kualitas manusia. Dalam proses pendidikan, sangat di perlukan adanya komponen-komponen pendidikan. Komponen itu sendiri berarti bagian dari suatu sistem yang memiliki peran dalam keseluruhan berlangsungnya suatu proses untuk mencapai sebuah tujuan. Komponen pendidikan berarti bagian-bagian dari sistem proses pendidikan, yang menentukan berhasil dan tidaknya atau ada dan tidaknya proses pendidikan (Dzamarah, 2000:22).
Komponen-komponen dalam pendidikan mempunyai pengaruh untuk peningkatan mutu pendidikan. Salah satunya komponen yang mempunyai peran signifikan adalah Guru. Guru dalam konteks kependidikan mempunyai peranan yang besar dan strategis. Hal ini di sebabkan gurulah yang berada di barisan depan dalam pelaksanaan pendidikan . Gurulah yang langsung berhadapan dengan peserta didik untuk mentransfer ilmu pengetahuan dan teknologi sekaligus mendidik dengan nilai nilai positif melalui bimbingan dan keteladanan. Guru merupakan bagian terpenting dalam proses belajar mengajar baik di jalur pendidikan formal maupun informal (Daryatno, 2013:1).
Guru merupakan orang yang paling berpegaruh dalam kehidupan manusia. Atas segala daya dan upaya yang telah mereka korbankan, bisa menjadikan semua penerus bangsa yang lebih baik. Guru adalah sosok yang harus ditaati. Oleh karena itu, wajib mencontoh seorang guru yang benar- benar dapat mendidik dan membimbing murid-muridnya sesuai dengan peran yang harus dijalankan dalam dunia pendidikan. Penulis memberikan contoh guru yang dapat kita teladani yaitu Imam Al-Ghazali.
Imam Al-Ghazali termasuk kedalam kelompok sufistik dalam memberikan perhatian terhadap pendidikan, karena pendidikanlah yang banyak menentukan corak kehidupan suatu bangsa dan pemikirannya.
Selain itu, menurut Ihsan dan Ihsan, Imam Al-Ghazali memiliki pemikiran dan pandangan yang luas mengenai aspek-aspek pendidikan, dalam arti bukan hanya memperlihatkan aspek akhlak semata-mata tetapi juga keimanan, sosial, jasmaniah, dan sebagainya (Ihsan dan Ihsan, 2001:235).
Imam Al-Ghazali memiliki pendapat yang bagus terhadap masalah pendidikan, kedalaman dan kebijaksanaan berfikir serta pandangan yang luas terhadap problematika pengajaran, serta problem-problem lain yang berkaitan dengannya. Dari sini tampak pentingnya konsep-konsep yang diberikan Al-Ghazali dalam membahas tentang pendidikan akhlak dan dalam konteks ini berkaitan dengan konsep guru. Sebelum diselami secara mendalam pemikiran Imam Al-Ghazali tentang konsep guru dan pendidikan akhlak maka penting untuk mengetahui terlebih dahulu beberapa
pemikirannya. Hal ini untuk memudahkan menganalisis pemikiran tentang konsep guru dan pendidikan akhlak.
KONSEP GURU 1. Hakikat Guru
Guru adalah tenaga pendidik yang memberikan sejumlah ilmu pengetahuan kepada anak didik di sekolah. Guru adalah orang yang berpengalaman dalam bidang profesinya. Dengan ke ilmuan yang dimilikinya, dia dapat menjadikan anak didik menjadi orang yang cerdas.
Dalam dunia pendidikan, guru merupakan faktor penting dan utama, karena guru adalah orang yang bertanggungjawab terhadap perkembangan jasmani dan rohani peserta didik, terutama di sekolah, untuk mencapai kedewasaan peserta didik sehingga ia menjadi manusia yang paripurna dan mengetahui tugas-tugasnya sebagai manusia (Kunandar, 2001:54).
Secara umum guru adalah orang yang memiliki tanggung jawab untuk mendidik. Sementara secara khusus, pendidik dalam perspektif pendidikan islam adalah orang-orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan seluruh potensi peserta didik, baik potensi afektif, kognitif, maupun psikomotorik, sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam (Ramayulis dan Nizar, 2005:19).
Dari kedua perspektif yang di kemukakan oleh kunandar dan ramayulis diatas, bahwa guru adalah kunci pendidikan, artinya jika guru sukses maka kemungkinan murid-muridnya akan sukses. Dan guru merupakan figure inspirator dan motivator murid dalam mengukir masa depannya. Jika guru mampu menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi anak didiknya, maka hal itu akan menjadi kekuatan dalam mengejar cita-cita besarnya di masa depan. Guru dalam pengertian sederhana adalah orang yang mempasilitasi alih ilmu pengetahuan dari sumber belajar kepada peserta didik. Sementara, masyarakat memandang guru sebagai orang yang melaksanakan pendidikan di sekolah, masjid, mushola atau tempat-tempat lain. Perkembangan pesat teknologi informasi saat ini, kiranya menumbuhkan tantangan tersendiri bagu guru. Mengingat guru bukan lagi satu-satunya sumber informasi hingga muncul pendapat bahwa pendidikan bias berlangsung pada guru (Asmani, 2010:17-20).
2. Jabatan dan Persyaratan Seorang Guru
Mengajar bukan hanya sekedar menyampaikan materi pelajaran, akan tetapi suatu proses mengubah perilaku siswa sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Oleh sebab itu, dalam proses mengajar terdapat kegiatan membimbing siswa agar siswa berkembang sesuai dengan tugas-tugas perkembangannya, melatih keterampilan baik keterampilan intelektual maupun keterampilan motorik sehingga siswa dapat dan berani hidup di masyarakat yang cepat berubah dan penuh persaingan, motivasi siswa agar mereka dapat memecahkan berbagai persoalan hidup dalam masyarakat yang
penuh tantangan dan rintangan, membentuk siswa yang memiliki kemampuan inovatif dan kreatif, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, seorang guru perlu memiliki kemampuan merancang dan mengimplementasikan berbagai strategi pembelajaran yang dianggap cocok dengan minat dan bakat serta sesuai dengan taraf perkembangan siswa termasuk di dalamnya memanfaatkan berbagai sumber dan media pembelajaran untuk menjamin efektivitas pembelajaran(James, 1990:2).
Beberapa syarat yang harus di teliti oleh seorang guru adalah : 1) Syarat professional
Pekerjaan guru merupakan profesi dalam masyarakat, karena itu seorang guru sebelum menunaikan tugas mendidik dan mengajar dituntut untuk memiliki beberapa macam keterampilan yang merupakan pelengkap profesinya. Profesional tersebut biasanya diasosiasikan dengan ijazah yang memberikan kewenangan dan tanggung jawab guru dalam melaksanakan tugasnya.
Mengenai syarat ijazah guru serta kewenangan melaksankan tugasnya tersebut telah dikemukakan pada pasal 4 SK menteri P dan K, tanggal 8 Juni 1979 No. 0124/U/1997 menetapkan; Jenjang mengajar sebagai berikut: A-V untuk mengajar di lembaga pendidikan tinggi; A-IV untuk guru SLTA; A-III untuk guru SLTA/SLTP; A-II untuk guru SLTP dan A-I untuk guru SD/SLTP (Wijaya, 1991:183).
2)Syarat biologis
Profesi guru sebagai pendidik formal di sekolah tidak dapat dipandang ringan, karena menyangkut berbagai aspek kehidupan serta menuntut pertanggung jawaban moral yang berat. Salah satu aspek yang perlu diperhitungkan untuk menjadi seorang guru adalah persyaratan fisik atau persyaratan jasmani. Hal ini dimaksudkan bahwa seorang calon guru harus berbadan sehat dan tidak memiliki cacat tubuh yang dapat mengganggu tugas mengajarnya. Dalam dunia pendidikan selalu berhadapan dengan muruidnya dan juga guru sebagai penentu keberhasilan pendidikan dituntut untuk memiliki fisik yang memenuhi syarat, maksudnya guru dalam proses belajar-mengajar harus selalu dalam keadaan sehat, tidak cacat tubuh serta memiliki stamina yang kuat untuk melaksanakan tugasnya. Mengenai persyaratan fisik yang harus dipenuhi oleh seorang guru, ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Siti Meichati MA: “Keadaan jasmani calon pendidik seperti kesehatan dan tidak adanya cacat jasmani yang menyolok adalah syarat penting” (Meichati, 2005:58).
Berdasarkan persyaratan tersebut, jelaslah bahwa persyaratan fisiknya sehat dan tidak adanya cacat merupakan salah satu persyaratan yang harus dipenuhi guru. Dengan kondisi yang baik, maka guru akan dapat tampil di depan kelas dengan baik pula, sehingga interaksi edukatif yang diharapkan dapat mencapai hasil maksimal.
3) Syarat psikologis
Persyaratan psikologis ini pada hakikatnya ada dua unsur yang sangat kompeten terhadap perkembangan manusia yaitu unsur jasmani dan unsur rohani. Perpaduan dua unsur dalam setiap manusia itulah yang menentukan figure guru yang baik. Persyaratan psikis yang harus dimiliki oleh guru dikemukakan oleh team didaktik motodik IKIP Surabaya yang mengatakan; Persyaratan psikis yaitu sehat rohaninya. Maksudnya, tidak mengalami gangguan kelainaan jiwa atau penyakit syaraf, yang tidak memungkinkan dapat menuinaikan tuasnya dengan baik, selain itu juga diharapkan memiliki bakat dan minat keguruan(Meichati, 2005:9).
Persyaratan tersebut, sepintas lebih menekankan pada kesehatan jiwa guru. Kesehatan yang dimaksud juga berkaitan dengan kesetabilan emosi guru dalam melaksanakan tugasnya. Karena perasaan dan emosi guru yang mempunyai kepribadian yang terpadu tampak stabil optimis dan menyenangkan. Dia dapat memikat hati anak didiknya, karena setiap anak merasa diterima dan disayangi oleh guru . Demikian juga emosi yang tidak stabil akan membawa keadaan emosi yang tidak stabil kepada anak didiknya, khususnya dalam masalah yang berkaitan dengan kewajiban anak didik tersebut. Dengan adanya hal di atas, maka seorang guru harus memiliki mental yang sehat dalam rangka menunjang keberhasilan program pengajaran.
4)Syarat pedagogis-didaktis
Seorang guru akan melaksanakan tugasnya dengan baik ditentukan oleh pengetahuan-pengatahuan yang dimilikinya, baik pengetahuan yang bersifat umum maupun pengetahun pendidikan. Dengan dasar-dasar pengetahun yang dimiliki diharapkan guru dapat membuka wawasan yang luas dan dapat mengembangkan diri sesuai dengan perkembangan zaman.
Disamping itu, persyaratan pengetahuan bagi guru ini juga sangat penting sebagai penunjang dan pembentukan profesi guru. Pembentukan profesi guru, maka diperlukan pengetahuan-pengetahuan yang merupakan persiapan atau belajar dalam melaksanakan pekerjaan mendidik.
Pentinganya persyaratan pedagogis-didaktis, maka setiap orang yang menjadi guru harus memenuhinya dalam melaksanakan tugasnya. Berbagai persyaratan yang harus dipenuhi guru tersebut, harapan menjadi guru yang baik atau guru yang professional dapat tercapai (Indrakusuma, 1973:176-179).
3. Keberhasilan Guru dalam Mengajar
Untuk menyatakan bahwa suatu proses belajar mengajar dapat dikatakan berhasil, setiap guru memiliki pandangan masing-masing sejalan dengan filsafatnya. Namun, untuk menyamakan persepsi sebaiknya kita berpedoman pada kurikulum yang berlaku saat ini yang telah disempurnakan, antara lain bahwa ''Suatu proses belajar mengajar tentang suatu bahan pengajaran dinyatakan berhasil apabila tujuan instruksional khusus (TIK)-nya dapat tercapai".
PENDIDIKAN AKHLAK
1. Pengertian Pendidikan Akhlak
Pendidikan akhlak adalah pendidikan mengenai dasar-dasar akhlak dan keutamaan perangai, tabiat yang harus dimiliki dan dijadikan kebiasaan oleh anak sejak masa analisa sampai ia menjadi seorang mukallaf, seseorang yang telah siap mengarungi lautan kehidupan. Ia tumbuh dan berkembang dengan berpijak pada landasan iman kepada Allah dan terdidik untuk selalu kuat, ingat bersandar, meminta pertolongan dan berserah diri kepada-Nya, maka ia akan memiliki potensi dan respon yang instingtif di dalam menerima setiap keutamaan dan kemuliaan (Arifin, 2000:1). Di samping terbiasa melakukan akhlak mulia atau suatu kegiatan yang dilakukan secara sadar dan disengaja untuk memberikan bimbingan, baik jasmani maupun rohani, melalui penanaman nilai-nilai Islam, latihan moral, fisik serta menghasilkan perubahan ke arah positif, yang nantinya dapat diaktualisasikan dalam kehidupan, dengan kebiasaan bertingkah laku, berpikir dan berbudi pekerti yang luhur menuju terbentuknya manusia yang berakhlak mulia, di mana dapat menghasilkan perbuatan atau pengalaman dengan mudah tanpa harus direnungkan dan disengaja atau tanpa adanya pertimbangan dan pemikiran, yakni bukan karena adanya tekanan, paksaan dari orang lain atau bahkan pengaruh-pengaruh yang indah dan pebuatan itu harus konstan (stabil) dilakukan berulang kali dalam bentuk yang sering sehingga dapat menjadi kebiasaan.
2. Dasar Pendidikan Akhlak
Seperti kita ketahui, Islam merupakan agama yang sempurna, sehingga setiap ajaran yang ada dalam Islam memiliki dasar pemikiran, begitu pula dengan pendidikan akhlak. Tidak diragukan lagi bahwa “pendidikan akhlak dalam agama Islam bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Al-Qur’an sendiri sebagai dasar utama dalam Agama Islam telah memberikan petunjuk pada jalan kebenaran, mengarahkan kepada pencapaian kebahagiaan di dunia dan akhirat”( Al-Syaibany, 1992 : 346). Sebagaimana ayat yang menyebutkan pentingnya akhlak adalah dalam surat Ali-Imran ayat 104:
ä3tFø9uρ öΝä3ΨÏiΒ
×π¨Βé&
tβθããô‰tƒ
’n<Î)
Îösƒø:$#
tβρããΒù'tƒuρ
Å∃ρã÷èpRùQ$$Î/
tβöθyγ÷Ζtƒuρ
Çtã
Ìs3Ψßϑø9$#
4
y7Íׯ≈s9'ρé&uρ ãΝèδ
šχθßsÎ=ø ßϑø9$#
﴿
ا ا
: ١٠٤
﴾
“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung”(Q.S. Ali-Imran, 3:104).
Dalam ayat tersebut Allah Swt menganjurkan hamba-Nya untuk dapat menasehati, mengajar, membimbing dan mendidik sesamanya dalam hal melakukan kebajikan dan meninggalkan keburukan. Dengan demikian Allah
telah memberikan dasar yang jelas mengenai pendidikan akhlak yang mana merupakan suatu usaha untuk membimbing dan mengarahkan manusia agar berbudi pekerti luhur dan berakhlakul karimah (Al-Syaibany, 1992:346).
Selain menyebutkan pentingnya pendidikan akhlak, Al-Qur’an pun menunjukkan siapa figur yang harus dicontoh dan dijadikan sebagai uswatun hasanah. Sebagaimana firman-Nya dalam QS. al-Ahzab: 21:
ôô
‰s)©9
tβ%x.
öΝä3s9
’Îû
ÉΑθß™u‘
îοuθó™é& «!$#
×πuΖ|¡ym
yϑÏj9
tβ%x.
(#θã_ötƒ
©!$#
tΠöθu‹ø9$#uρ
tÅzFψ$#
tx.sŒuρ
©!$#
#ZÏVx.
﴿ : از ا ا ٢
﴾
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah”(Q.S. Al-Ahzab, 33:21).
Ayat tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah merupakan figur utama sebagai manusia dan utusan Allah yang patut dijadikan panutan dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Allah pun dalam ayat lain memuji kepribadian Rasulullah Saw sebagaimana firman-Nya:
y7¯ΡÎ)uρ
4’n?yès9
@,è=äz 5ΟŠÏàtã
﴿ا
꞉ ٤
﴾
“Dan sesungguhnya engkau benar-benar, berbudi pekerti yang luhur.” (Q.S.
Al-Qalam, 68 : 4).
3. Tujuan Pendidikan Akhlak
Pendidikan akhlak merupakan upaya manusia mempertahanakan hidupnya, akhlaklah yang membedakan manusia dari binatang. Kemajuan ilmu pengetahuan tanpa diimbangi dengan akhlak tidak akan mampu mempertahankan manusia dari kepunahan. Semakin tinggi ilmu pengetahuan, semakin tinggi pula peralatan dan teknik membinasakan sesama manusia.
Menurut Zainudin dan Jamhari (1999 : 76-77) tujuan pendidikan akhlak dalam Islam adalah sebagai berikut :
1) Mendapatkan Ridha Allah
Jika mengharapkan ridha kepada Allah sudah tertanam dalam diri seorang muslim dan sudah menjadi hiasan dalam kehidupannya, semua perbuatan baiknya akan di lakukan dengan ikhlas. Seperti halnya seorang siswa akan menuntut ilmu bukan hanya bukan hanya berharap kepandaian.
Dan juga halnya seorang pedagang tidak semata- mata hanya untuk dapat keuntungan. Semua itu akan dilakukan oleh setiap muslim juga dalam rangka ibadah kepada Allah untuk mencari ridha-Nya.
2) Terbentuknya pribadi muslim yang luhur dan mulia. Seorang muslim yang mulia senantiasa bertingkah laku dengan terpuji, baik ketika berhubungan dengan Allah, sesama manusia, maupun dengan alam sekitarnya.
3) Terwujudnya perbuatan yang terpuji dan mulia. Orang muslim berakhlak mulia akan berusaha agar seluruh tingkah lakunya tidak menyusahkan orang lain. Sebaliknya ia akan berusaha agar tindakannya dapat menyenagkan orang lain dan mendatangkan manfaat bagi orang lain dan mendatangkan manfaat bagi orang lain dan diri sendiri.
4) Terhindarnya perbuatan yang hina dan tercela. Dengan berakhlak mulia, seorang dapat menyelamatkan orang lain dari dirinya.
Pengaruh ini selanjutnya menyebar dan menyelamatkan kehidupan manusia secara umum baik di dunia maupun akhirat.
METODE
Sugiyono mengemukakan bahwa metode penelitian adalah “Cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tersebut”(Sugiyono, 2010:3). Selanjutnya Sumadi Suryabrata (2004:72) mengemukakan bahwa keputusan mengenai metode apa yang akan digunakan akan tergantung pada tujuan penelitian, sifat atau masalah yang akan diteliti, dan berbagai alternatif yang mungkin digunakan. Atas dasar pemikiran tersebut penulis menggunakan metode analisis isi (content analysis). Content analysis ini adalah metode yang dapat digunakan untuk penelitian yang bersifat normatif, misalnya penelitian mengenai Alquran (LPP IAID, 2011:16).
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1. Biografi Imam Al-Ghazali
Nama lengkap Imam Al-Ghazali adalah Muhammad Bin Muhammad Bin Muhammad Abu Hamid Al-Ghazali Al-Mujtahid Al-Faqih Al-Ushuli Al- Mutakallim Ath-Thusi Asy-Syafi'I beliau dilahirkan pada tahun 450 H. Al- Ghazali mempunyai seorang ayah yang shaleh, menjaga hati dan tangannya untuk melakukan hal yang haram. Sebelum ayahnya meninggal beliau berwasiat kepada temannya yang saleh juga sufi untuk menjaga putranya yang bernama Abu Hamid Al-Ghazali dan saudaranya yang bernama Ahmad Al-Ghazali (Al-Ghazali, 2011:3).
Setelah beranjak beberapa tahun berlalu, uang dan bekal yang dititipkan sang ayah untuk Imam Al-Ghazali dan saudaranya Imam Ahmad Al-Ghazali akhirnya habis juga sehingga mereka berdua terpaksa disekolahkan di Madrasah Nidzamiyah di Baghdad, Iraq. Setelah Al-Ghazali mengusai segala bidang ilmu, baik dalam Ilmu Fiqih, Ilmu Jidal (debat ilmiah), Ilmu Ushul dan Filsafat. Akhirnya Al-Ghazali memilih jalan Sufi dan beliau menuju ke negeri Syam untuk 'Uzlah (menjauh dari hiruk pikuk) serta khalwah (menyendiri) di menara masjid Adiknya, Ahmad lebih awal memilih jalan Sufi. Nah, di sini ada sebuah kisah antara Al-Ghazali sama Ahmad Al-
Ghazali. Pernah suatu hari Al-Ghazali menjadi imam dalam shalat berjama'ah sedangkan Ahmad menjadi ma'mumnya, sampai di pertengahan Ahmad berpisah dari jama'ah (mufaroqoh) kakaknya Al-Ghazali. Setelah selesai shalat Al-Ghazali menanyakan kepada Ahmad kenapa dalam shalat tadi engkau berpisah dari jama'ahku wahai saudaraku kata imam Al-Ghazali.
Lantas Ahmad menjawabnya mengapa saya harus berjama'ah dengan seseorang yang berlumuran darah di pundaknya. Akhirnya Al-Ghazali terbayang-bayang dengan menjawabnya: "Wahai saudaraku, engkau memang benar tadi ketika saya jadi imam, memang saya tidak khusu' saat shalat, akan tetapi saya mengingat-ngingat tentang darah haid, darah nifas dan istihadoh.
Al-Ghazali waktu itu sudah mempunyai karangan kitab Al-Basith, Al-Wasith dan Al-Wajiz yang menjelaskan tentang ilmu fiqih dalam madzhab Syafi'i.
ternyata masih kalah hebatnya dengan saudaranya sendiri yang bernama Ahmad Al-Ghazali. Akhirnya Al-Ghazali memilih jalan Sufi dan memilih untuk pergi ke negeri Syam (Al-Ghazali, 2011:4).
Setelah Al-Ghazali melanjutkan lagi perjalanannya ke negeri Syam dan berziarah ke baitul maqdis sudah 10 tahun Al-Ghazali menetap di sana dan berpindah-pindah di beberap masjid kemudian bertempat di suatu gunung untuk melatih dirinya agar tidak mengikuti hawa nafsunya dan berusaha untuk jihad di jalan Allah Swt, selalu beribadah dengan ketaatan sampai Al- Ghazali menjadi ulama' terkemuka di masanya dan mendapatkan keberkahan yang melimpah sehingga sampai di jalan keridhaan Allah Swt.
Setelah Al;Ghazali kembali ke Baghdad untuk membahas tentang ilmu hakikat, ahkirnya Al-Ghazali mengarang sebuah kitab yang berjudul 'Ihya' Ulumuddin (Alghazali, 2011:4).
2. Konsep Guru Menurut Terjemah Kitab Ihya Ulumuddin a. Hakikat Guru Menurut Terjemah Kitab Ihya Ulumuddin
Dalam pandangan Al-Ghazali, pendidik merupakan orang yang berusaha membimbing, meningkatkan, menyempurnakan dan mensucikan hati sehingga menjadi dekat dengan Khaliqnya. Ia juga memberikan perhatian yang sangat besar pada tugas dan kedudukan seorang pendidik.
Hal ini tercermin dalam tulisannya; “Sebaik-baik ikhwalnya adalah yang dikatakan berupa ilmu pengetahuan”. Hal itulah yang dianggap keagungan dalam kerajaan langit. Tidak selayaknya ia menjadi seperti jarum yang memberi pakaian kepada orang lain sementara dirinya telanjang, atau seperti sumbu lampu yang menerangi yang lain sementara dirinya terbakar. Maka, barang siapa yang memikul beban pengajaran, maka sesungguhnya ia telah memikul perkara yang besar, sehingga haruslah ia menjaga etika dan tugasnya (Al-Ghazali, 2003:35).
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pendidik yang dapat diserahi tugas mengajar adalah seorang pendidik yang selain memiliki kompetensi dalam bidang yang diajarkan yang tercermin dalam
kesempurnaan akalnya, juga haruslah yang berakhlak baik dan memiliki fisik yang kuat. Di samping syarat-syarat umum ini, Imam Al-Ghazali memberikan kriteria-kriteria khusus bagi guru, yaitu:
1. Memperlakukan murid dengan penuh kasih sayang.
2. Meneladani Rasulullah dalam mengajar dengan tidak meminta upah.
3. Memberikan peringatan tentang hal-hal baik demi mendekatkan diri pada Allah Swt.
4. Memperingati murid dari akhlak tercela dengan cara-cara yang simpatik, halus tanpa cacian, makian dan kekerasan. Tidak mengekspose kesalahan murid didepan umum.
5. Menjadi teladan bagi muridnya dengan menghargai ilmu-ilmu dan keahlian lain yang bukan keahlian dan spesialisasinya.
6. Menghargai perbedaan potensi yang dimiliki oleh muridnya dan memperlakukannya sesuai dengan tingkat perbedaan yang dimilikinya itu.
7. Memahami perbedaan bakat, tabi’at dan kejiwaan murid sesuai dengan perbedaan usianya.
8. Berpegang teguh pada prinsip yang diucapkannya dan berupaya merealisasikannya sedemikian rupa (Al-Ghazali, 2011:171-181).
b. Jabatan dan Persyaratan Seorang Guru Menurut Terjemah Kitab Ihya Ulumuddin
Al-Ghazali mempergunakan istilah pendidik dengan berbagai kata seperti, Al-Muallimin (guru), Al-Mudarris (pengajar), Al-Mu’addib (pendidik), dan Al-Walid (orang tua). Dalam terjemah kitab “Ihya’Ulumuddin” ia menyebutkan; “Apabila ilmu pengetahuan itu lebih utama dalam segala hal, maka mempelajarinya adalah mencari yang lebih mulia itu, maka mengajarkannya adalah memberikan faedah bagi keutamaan itu (Al-Ghazali, 2003:43)
Mengajar dan mendidik adalah perbuatan yang sangat mulia, karena secara naluri orang yang berilmu itu dimulyakan dan dihormati oleh orang.
Akan tetapi, posisi pengajar dalam masyarakat modern dewasa ini, lebih sering hanya dipandang sebagai petugas semata yang mendapat gaji dari negara atau instansi swasta dan tanggung jawab tertentu. Seorang pengajar tak cukup hanya mengandalkan kepandaian atau pemilik otoritas disiplin ilmu tertentu saja. Seorang guru haruslah orang yang berbudi dan beriman, yang perbuatanya sendiri dapat memberikan pengaruh jiwa anak didiknya.
Imam Al-Ghazali menjelaskan tentang tugas dan kewajiban seorang pendidik pada bagian khusus dari kitabnya: “Ihya ‘Ulumuddin” dan “Mizan Al- Amal”. Adapun tugas dan kewajiban seorang pendidik antara lain:
1) Mengikuti jejak Rasulullah Saw dalam tugas dan kewajibannya, adapun syarat bagi seorang guru, maka ia layak menjadi pengganti
Rasulullah Saw, dialah sebenar-benarnya ‘alim (berilmu, berintelektual). Tetapi tidak pulalah tiap-tiap orang yang ‘alim itu layak menempati kedudukan sebagai ganti Rasulullah Saw, itu.”
Dengan demikian seorang guru hendaknya menjadi wakil dan pengganti Rasulullah Saw, yang mewarisi ajaran-ajarannya dan perilakunya sesuai dengan akhlak Rasulullah Saw (Al-Ghazali, 2003:171).
2)Memberikan kasih sayang terhadap anak didik, Imam Al-Ghazali mengatakan: memberikan kasih sayang kepada murid-murid dan memperlakukan mereka seperti anaknya sendiri”. Dengan demikian guru seharusnya menjadi pengganti dan wakil kedua orang tua anak didiknya, yaitu mencintai anak didiknya seperti memikirkan keadaan anaknya (Al-Ghazali, 2003:172).
3) Menjadi teladan bagi anak didik, Imam Al-Ghazali mengatakan:
“Seorang guru itu harus mengamalkan ilmunya, lalu perkataannya jangan membohongi perbuatannya. Karena sesungguhnya ilmu itu dapat dilihat dengan mata hati. Sedangkan perbuatan dapat dilihat dengan mata kepala. Padahal yang mempunyai mata kepala adalah lebih banyak”. Seorang guru hendaklah mengerjakan apa yang diperintahkan, menjauhi apa yang dilarangnya dan mengamalkan segala ilmu pengetahuan yang diajarkannya (Al-Ghazali, 2003:174).
4)Mengajar dengan perkataan yang halus, yaitu mencegah murid dari akhlak yang buruk dengan jalan sindiran, sedapat mungkin tidak dengan terang-terangan, dengan jalan kasih sayang, tidak dengan membuka rahasia. Karena terang terangan itu merusak tirai kewibawaan dan menyebabkan berani menyerang karena perbedaan pendapat(Al-Ghazali, 2003:175).
5)Menghormati kode etik guru, Imam Al-Ghazali mengatakan:
“Seorang guru yang memegang salah satu mata pelajaran sebaiknya jangan menjelek-jelekan mata pelajaran lainnya di hadapan muridnya. Seperti guru ilmu bahasa menjelekan ilmu fiqh, guru ilmu fiqh menjelekan ilmu hadis dan tafsir, dimana hal itu semata mata menukil dan mendengar. Itu adalah orang-orang yang lemah dan tidak mempunyai akal dan pikiran. Ini adalah akhlak yang tercela bagi para guru, seyogyanya akhlak tersebut dijauhi bahkan orang yang bertanggung jawab dengan suatu ilmu seyogyanya untuk melapangkan murid terhadap jalan belajar pada ilmu lain. Dan jika ia bertanggung jawab pada beberapa ilmu maka ia seyogyanya untuk memelihara pentahapan dalam meningkatkan murid dari satu tingkat ke tingkat berikutnya (Al-Ghazali, 2003:176).
6)Memberikan pemahaman kepada murid sesuai kemampuannya, seorang guru ia mencukupkan bagi murid itu menurut kadar
pemahamannya. Maka ia tidak menyampaikan kepada murid sesuatu yang tidak terjangkau oleh akalnya. Oleh karena itu Imam Al-Ghazali mengatakan: “takarlah setiap orang dengan standar akalnya, dan timbanglah ia dengan timbangan pemahamannya sehingga kamu selamat daripadanya fitnah dan bermanfaat bagimu.
Dan jika tidak dilakukan seperti itu di khawatirka terjadi pengingkaran karena perbedaan standar (Al-Ghazali, 2003:178).
7) Menyampaikan ilmu dengan jelas, seorang pengajar seyogyanya menyampaikan ilmu kepada murid yang pendek akalnya dengan sesuatu yang jelas dan detail. Dan ia tidak menyebutkan kepadanya bahwa dibalik ini ada sesuatu yang detail dan menyembunyikan ilmu kepadanya. Karena hal itu menghilangkan kesenangannya dalam ilmu yang jelas itu, mengacaukan hatinya terhadap ilmu itu, dan ia menduga bahwasanya ia kikir kepadanya akan ilmu itu karena setiap orang itu menduga bahwa dirinya itu ahli untuk setiap ilmu yang detail (Al-Ghazali, 2003:179).
8) Wajib mengamalkan ilmunya, seorang pengajar atau guru itu harus mengamalkan ilmunya, janganlah ia mendustakan perkataannya karena ilmu itu di peroleh dengan pandangan hati sedangkan pengamalan itu di peroleh pandangan mata. Padahal pemilik pandangan mata itu lebih banyak. Apabila pengalaman itu menyalahi ilmu maka terhalanglah petunjuk. Setiap orang yang memperoleh sesuatu dan ia berkata kepada manusia “janganlah kamu memperolehnya karena sesunguhnya ia adalah bisa yang membinasakan”, maka manusia akan menertawakannya dan menuduhnya. Sedangkan mereka bertambah banyak untuk melanggar apa yang dilarangnya, sambil berkata: “seandainya itu bukan sesuatu yang paling baik dan paling lezat maka ia tidak mengutamakannya” (Al-Ghazali, 2003:180).
c. Keberhasilan Guru Dalam Mengajar Menurut Terjemah Kitab Ihya Ulumuddin
Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Al-Ghazali mengajukan konsep pengintegrasian antara materi, metode dan media atau alat pengajarannya.
Seluruh komponen tersebut harus diupayakan semaksimal mungkin, sehingga dapat menumbuh kembangkan segala potensi fitrah anak, agar nantinya menjadi manusia yang penuh dengan keutamaan. Materi pengajaran yang diberikan harus sesuai dengan tingkat perkembangan anak, baik dalam hal usia, integrasi, maupun minat dan bakatnya. Jangan sampai anak diberi materi pengajaran yang justru merusak akidah dan akhlaknya.
Anak yang dalam kondisi taraf akalnya belum matang, hendaknya diberi materi pengajaran yang dapat mengarahkan kepada akhlak mulia. Adapun ilmu yang paling baik diberikan pada taraf pertama ialah agama dan syari’at,
terutama al-Qur’an. Begitu pula metode/media yang diterapkan juga harus mendukung; baik secara psikologis, sosiologis, maupun pragmatis, bagi keberhasilan proses pengajaran (Al-Ghazali, 2003: 177).
Pemikiran Alghazali tentang pendidikan dalam kaitannya terhadap keberhasilan guru dalam mengajar dalam kitab (Ihya’ Ulumuddin) dijelaskan secara rinci : “sesungguhnya hasil ilmu itu ialah mendekatkan diri kepada Allah Swt, Tuhan semesta alam dan ini, sesungguhnya dengan ilmu yang berkembang melalui pengajajaran dan bukan ilmu yang tidak berkembang”
(Al-Ghazali, 2003: 42).
Jika kita perhatikan, pada kutipan yang pertama, kata “hasil”, menunjukkan proses, kata “mendekatkan diri kepada Allah Swt”
menunjukkan tujuan, dan kata “ilmu” menunjukkan alat. Sedangkan pada kutipan kedua merupakan penjelasan mengenai alat, yakni disampaikannya dalam bentuk pengajaran. Adapun yang dimaksudkan Al-Ghazali dalam kutipan ucapannya diatas adalah sebuah konsep, dimana dalam sebuah pelaksanaan pendidikan harus memiliki tujuan yang berlandaskan pada pembentukan diri untuk mendekatkan peserta didik kepada Allah.
Disamping itu, dalam proses pendidikan, Al-Ghazali menjelaskan sebuah tujuan pendidikan yang bermuara pada nilai moralitas akhlak. Sehingga tujuan sebuah pendidikan tidak hanya bersifat keduniawian, pendidikan bukan sekedar untuk mencari materi di masa mendatangnya. Melainkan pendidikan harus memiliki rasa emansipatoris. Subuah konsep yang masih saja di dengung-dengungkan oleh pakar ilmu kritis saat ini (Al-Ghazali, 2003:43).
Dari penjelasan diatas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa keberhasilan seorang guru dapat di lihat dari output pembelajaran itu sendiri terhadap murid yang di ajarkan kepadanya. Ketika seorang murid sudah mencapai kesempurnaan akhlak dan insani yang dapat mendekatkan dirinya kepada Allah Swt maka proses belajar mengajar dapat di katakan berhasil.
3. Konsep Pendidikan Akhlak Menurut Terjemah Kitab Ihya Ulumuddin
a. Pengertian Pendidikan Akhlak Menurut Terjemah Kitab Ihya Ulumuddin
Imam Al-Ghazali mendefinisikan ahklak adalah suatu perangai (watak, tabiat) yang menetap kuat dalam jiwa seseorang dan merupakan sumber timbulnya perbuatan-perbuatan tertentu dari dirinya, secara mudah dan ringan, tanpa perlu dipikirkan atau atau direncanakan sebelumnya (Al- Ghazali, 2000:31). Apabila tabiat tersebut menimbulkan perbuatan yang bagus menurut akal dan syara` maka perbuatan tersebut dinamakan ahklak baik. Dan apabila perbuatan tersebut menimbulkan perbuatan yang jelek maka disebut ahklak yang jelek.
Dari definisi tersebut dapat diketahui bahwa hakikat akhlak menurut al-Ghazali mencakup dua syarat yaitu; (1) perbuatan itu harus konstan, yaitu dilakukan berulang kali dalam bentuk yang sama, sehingga dapat menjadi kebiasaan. (2) perbuatan itu harus tumbuh dengan mudah tanpa pertimbangan dan pemikiran, yakni bukan karena adanya tekanan, paksaan dari orang lain atau bahkan pengaruh-pengaruh dan bujukan yang indah dan sebagainya (Al-Ghazali, t.th:58).
Al-Ghazali memberikan kriteria terhadap akhlak, yaitu akhlak harus menetap dalam jiwa dan perbuatan itu muncul dengan mudah tanpa memerlukan penelitian teriebih dahulu. Dengan kedua kriteria tersebut, maka suatu amal itu memiliki korespondensi dengan faktor-faktor yang saling berhubungan yaitu: perbuatan baik dan keji, mampu menghadapi keduanya, mengetahui tentang kedua hal itu, keadaan jiwa yang ia cenderung kepada salah satu dari kebaikan dan bisa cendrung kepada kekejian (Al-Ghazali, 2000:599).
Akhlak bukan merupakan "perbuatan", bukan "kekuatan", bukan
"ma'rifah" (mengetahui dengan mendalam). Yang lebih sepadan dengan akhlak itu adalah "hal" keadaan atau kondisi: di mana jiwa mempunyai potensi yang bisa memunculkan dari padanya manahan atau memberi. Jadi akhlak itu adalah ibarat dari " keadaan jiwa dan bentuknya yang bathiniah"
(Al-Ghazali, 2000:599).
b. Dasar Pendidikan Akhlak Menurut Terjemam Kitab Ihya Ulumuddin Dasar pendidikan akhlak adalah Al-Qur’an dan Al-Hadis, karena akhlak merupakan sistem moral yang bertitik pada ajaran Islam. Al-Qur’an dan Al-Hadis sebagai pedoman hidup umat Islam menjelaskan kriteria baik dan buruknya suatu perbuatan. Al-Qur’an sebagai dasar akhlak menjelaskan tentang kebaikan Rasulullah Saw sebagai teladan bagi seluruh umat manusia. maka selaku umat Islam sebagai penganut Rasulullah Saw sebagai teladan bagi seluruh umat manusia, sebagaimana firman Allah Swt dalam Q.S. 33/Al-Ahzab : 21 :
َْ َﻟ َن َ ْ ُ َﻟ ِ"#
ِلْ%ُ&َر ِﷲ ٌةَ%ْ&ُا ٌ+َ,َ-َ
ْ َ ﱢﻟ َن َ ا ْ%ُ/ْ َ0 َمْ%َ2ْﻟاَو َﷲ
َ ِ4 ْا َ َ َذَو َﷲ
ا ً ْ2ِ7َ
). ا9: ا : ٢١ (
“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah Sawitu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah Swt dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut asma Allah Swt”.
(Q.S. Al-Ahzab/33:21).
Sebagai suri tauladan yang baik, Rasulullah Sawtelah dibekali akhlak yang mulia dan luhur. Rasulullah Sawmemiliki kepribadian yang agung dan patut ditiru dalam segala bidangnya. Dalam firman Allah Swt yang lain yaitu surat Al Qalam ayat 4:
َ<ﱠ>ِاَو :
" َ?َﻟ ٍAُ ُ4 ٍْ2ِBَ
. ) ﻟا : ٤ (
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang luhur”. (Q.S.
Al-Qalam/68: 4)
Isi kandungan ayat tersebut merupakan kesaksian yang besar dan penghormatan agung terhadap Rasulullah Saw, petunjuk kalimat yang agung ini ditunjukkan dengan dari berbagai sudut diantaranya tampak dari keberadaan kalimat itu sendiri yang datang dari Allah Swt yang maha agung lagi maha tinggi tampak dari sisi kemampuan Rasulullah Saw menerima kalimat ini, keagungan akhlak beliau ini banyak diriwayatkan dalam perjalanan hidup beliau dan melalui lisan sahabat-sahabat beliau.
c. Tujuan Pendidikan Akhlak Menurut Terjemah Kitab Ihya Ulumuddin Pendidikan akhlak adalah jiwa dari pendidikan Islam untuk mencapai akhlak yang sempurna karena itu merupakan tujuan sebenarnya dari pendidikan. Pendidikan dan pengajaran bukanlah memenuhi otak anak didik dengan segala macam ilmu yang belum mereka ketahui, tetapi maksudnya ialah mendidik akhlak dan jiwa mereka, menanamkan rasa fadhilah, membiasakan mereka dengan kesopanan yang tinggi, mempersiapkan mereka untuk suatu kehidupan yang suci seluruhnya ikhlas dan jujur. Oleh Karena itu pendidikan akhlak merupakan bagian dari pendidikan Islam yang bertujuan membentuk pribadi muslim seutuhnya, mengembangkan seluruh potensi manusia dan menumbuhsuburkan hubungan harmonis setiap individu dengan Allah Swt, sesama manusia dan alam semesta (Zainudin, 1991:44).
Tujuan utama pendidikan Akhlak dalam Islam adalah agar manusia berada dalam kebenaran dan senantiasa berada dijalan yang lurus, jalan yang telah digariskan oleh Allah Swt. Akhlak mulia merupakan tujuan pokok dalam pendidikan Akhlak Islam. Dengan demikian akhlak merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia yang mampu membedakan manusia dengan makhluk lainnya di muka bumi, serta masalah akhlak merupakan masalah yang tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan manusia baik secara pribadi maupun kelompok masyarakat sehingga wajar apabila persoalan akhlak telah dan selalu mendapatkan perhatian yang serius dikalangan ahli pikir pendidikan. Salah satunya yaitu Abu Hamid Ibn Muhammad Ibn Ahmad Al-Ghazali. Al Ghazali dalam bukunya terjemah Ihya’ Ulumuddin mengatakan : Akhlak berarti suatu kematapan jiwa yang menghasilkan perbuatan atau pengalaman dengan mudah tanpa harus direnungkan dan disengaja. Jika perbuatan itu menghasilkan amal-amal yang baik yaitu amal yang terpuji menurut akal dan syariah maka perbuatan ini disebut akhlak yang baik dan sebaliknya jika perbuatan itu menghasilkan amal-amal yang buruk, maka disebut akhlak yang buruk (Al-Ghazali, tth:96).
SIMPULAN
Berangkat dari penelitian ini, ada beberapa kesimpulan yang dapat diuraikan tentang konsep guru dan pendidikan akhlak menurut Imam Al- Ghazali dalam terjemah kitab Ihya Ulumuddin. Adapun pemaparanya sebagai berikut:
1) Konsep guru dan pendidikan akhlak menurut Imam Al-Ghazali dalam terjemah Kitab Ihya Ulumuddin bahwa guru atau pendidik merupakan orang yang berusaha membimbing, meningkatkan, menyempurnakan dan mensucikan hati sehingga menjadi dekat dengan Khaliqnya. Ia juga memberikan perhatian yang sangat besar pada tugas dan kedudukan seorang pendidik. Hal ini tercermin dalam tulisannya:“Sebaik-baik ikhwalnya adalah apa yang dia katakan berupa ilmu pengetahuan”.
Konsep pendidikan akhlak menurut Imam Al-Ghazali merupakan proses menghilangkan sifat-sifat tercela yang ada pada diri dan menanamkan sifat- sifat terpuji, yang mana bertujuan untuk menghasilkan insan kamil dan mendekatkan diri kepada Allah sehingga manusia dapat memperoleh
kebahagiaan di dunia dan akhirat. Pendidikan akhlak yang dikemukakan Al- Ghazali lebih menekankan pada unsur jiwa yang mana mempunyai
kedudukan sentral pada diri manusia sehingga dalam metode pendidikan akhlak beliau memilih menggunakan metode tazkiyah al nafs, mujahadah, dan riyadhoh.
DAFTAR PUSTAKA Al-Ghazali. (2011). Ihya Ulumuddin. Republika, Jakarta.
Al-Ghazali. ( 2003). Bidayah al-Hidayah (terj). Pustaka Sufi, Yogyakarta.
Al-Ghozali. (2000). Mengobati penyakit Hati tarjamah Ihya``Ulum Ad-Din, dalam Tahdzib al-Akhlaq wa Mu`alajat Amradh Al-Qulub. Karisma, Bandung.
Al-Ghazali, (tth). Ihya Ulumuddin. Dasar Al-Kitab Al-Islam, Kairo.
Djamarah, Syaiful Bahri. (2000). Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif.
Rineka Cipta, Jakarta.
Daryatno. (2013). Standar kompetensi dan penilaian kinerja guru profesional. Gava media, Yogyakarta. .
Ihsan, Hamdani dan Ihsan, Fuad. (2001). Filsafat Pendidikan Islam. CV. Pustaka Setia, Bandung.
Kunandar. (2001). Guru Profesional. PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Ramayulis dan Nizar, Samsul. (2005). Ensiklopedia Tokoh Pendidikan Islam.
Quantum Teaching. Ciputat.
Asmani, Jamal ma’mur. (2010). Tips Menjadi Guru Inspiratif, kreatif dan Inovatif.
DVA, pres Jogjakarta.
Arifin, Muhammad. (2000). Filsapat Pendidikan Islam. Bumi Aksara, Jakarta.
Al-Syaibany,Oemar.(1992).Falsafah Pendidikan Islam (terj) Hasan Langgulung.
Bulan Bintang, Jakarta.
Indrakusuma, Amir Daiem. (1973). Ilmu Pendidikan Sebuah Tinjauan Teoritis , Filosofis. Usaha Nasional, Surabaya.
James, M. Cooper, (1990). Classroom Teaching Skills. Lexington, Massachusetts Toronto. D.C. Heath and Company.
LPP IAID, (2011). “Panduan Penyusunan Skripsi di Lingkungan Institut Agama Islam Darussalam”. Ciamis.
Meichati, Siti. (2005). Pengantar Ilmu Pendidikan. Rineka Cipta, Jakarta.
Wijaya, Cece. (1991). Kemampuan Dasar Guru Dalam Proses Belajar Mengajar, Editor Enggas Suparman, Remaja Rosdakarya, Bandung.
Zainudin dan Jamhari, Muhammad. (1999). Muammalah dan Akhlak. Pustaka Setia, Bandung.
Zainudin. (1991). Seluk Beluk Pendidikan dari al-Ghazali, Bumi Aksara, Jakarta.