PENOLOGI
ANALISIS DENGAN KAJIAN MATERI PENOLOGI PUTUSAN NOMOR 70/Pid.Sus-TPK/2024/PN.Jkt.Pst.
Disusun Untuk Memenuhi UTS Mata Kuliah Penologi Diampu oleh:
Dr. Setiawan Noerdajasakti, S.H., M.H.
Eny Harjati, S.H., M.Hum.
Dony Setiawan Putra, S.H., M.H.
Disusun oleh:
Amri Dzikri Al Hakim 225010100111132 (02)
PROGRAM STUDI ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2025
1. PENDAHULUAN
Sebagai mahasiswa fakultas hukum, memperdalam wawasan dengan mempelajari mata kuliah Penologi akan membantu dalam pisau analisis saat mengerjakan skripsi, sebagai syarat memperoleh gelar sarjana hukum. Penologi sendiri adalah ilmu yang mempelajari tentang masalah penghukuman pemidanaan serta sistem atau cara bagaimana memperlakukan orang-orang yang sedang menjalani hukuman, maka dengan mempelajari Penologi akan membantu kita yang sedang menagngkat suatu isu hukum yang bersinggungan dengan pelaku kejahatan.
Sebagai suatu ilmu, maka objek yang dipelajari dalam penologi antara lain adalah:
a. Jenis pidana (peraturan atau kebijakan), b. Tujuan pemidanaan bagi pelaku,
c. Efektivitas pemidanaan bagi masyarakat, d. Dampak pemidanaan bagi pelaku.1
Ruang lingkup penologi modern (penologi baru) tidak hanya pemidanaan dalam lembaga khusus (penjara), tetapi juga terkait dengan pembenaran dalam pemidanaan, teori-teori tentang pemenjaraan dan pemidanaan, sumber-sumber pengetahuan tentang pidana, perbandingan penologi, sejarah dan tujuan pidana penjara, kebijakan Hukum Pidana, administrasi kepenjaraan dan penghuni penjara, sosiologi kepenjaraan, pertanggungjawaban dalam pemenjaraan, pembebasan bersyarat, pidana berbasis masyarakat, masa depan dan visi pemidanaan.2 Tujuan mempelajari penologi tidak hanya untuk menjawab tujuan pemidanaan atau pengaruh pemidanaan bagi pelaku tindak kejahatan dan bagi masyarakat, tetapi juga untuk memahami tugas Polisi, Jaksa Penuntut Umum, Hakim dan Advokat (Penasihat Hukum) dalam rangka mewujudkan terciptanya peradilan pidana yang objektif dan terpadu.3
Ilmu penologi sangat berkaitan erat dengan pidana, Posisi penologi dalam hukum pidana sangat strategis karena penologi sangat menentukan dalam berhasilnya pemberian sanksi kepada pelaku. Sanksi apa yang tepat untuk pelaku, Serta bagaimana pelaksanaannya dalam hukum pidana menjadi sasaran penologi.
Pemidanaan merupakan penjatuhan pidana sebagai upaya yang sah yang dilandasi
1 Dr. Sahat Maruli T. Situmeang, S.H., M.H., DIKTAT MATA KULIAH PENOLOGI, (Bandung: Fakultas Hukum Universitas Komputer Indonesia, 2019), hlm. 1.
2 Ibid., hlm. 4.
3 Ibid., hlm. 6.
oleh hukum untuk mengenakan nestapa penderitaan pada seseorang yang melalui proses peradilan pidana terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan suatu tindak pidana. Pemidanaan adalah suatu tindakan terhadap seorang pelaku kejahatan, dimana pemidanaan ditujukan bukan karena seseorang telah berbuat jahat tetapi agar pelaku kejahatan tidak lagi berbuat jahat dan orang lain takut melakukan kejahatan serupa.4 Hal ini sejalan dengan teori tujuan pemidanaan yang berlaku saat ini. Seiring perkembangan zaman, teori pemidaan juga mengalami perubahan, yaitu:
a. Teori Pembalasan atau Teori absolut
Teori yang pertama kali hadir dalam pemikiran pemidaan adalah teori pembalasan. Teori ini diperkenalkan oleh Kent dan Hegel. Menurut teori ini pidana dijatuhkan semata-mata karena orang telah melakukan kejahatan atau tindak pidana. Teori Absolut didasarkan pada pemikiran bahwa pidana tidak bertujuan untuk praktis, seperti memperbaiki penjahat tetapi pidana merupakan tuntutan mutlak, bukan hanya sesuatu yang perlu dijatuhkan tetapi menjadi keharusan, dengan kata lain hakikat pidana adalah pembalasan (
revegen
). Sebagaimana yang dinyatakan Muladi bahwa:5“Teori absolut memandang bahwa pemidanaan merupakan pembalasan atas kesalahan yang telah dilakukan sehingga berorientasi pada perbuatan dan terletak pada terjadinya kejahatan itu sendiri. Teori ini mengedepankan bahwa sanksi dalam hukum pidana dijatuhkan semata-mata karena orang telah melakukan sesuatu kejahatan yang merupakan akibat mutlak yang harus ada sebagai suatu pembalasan kepada orang yang melakukan kejahatan sehingga sanksi bertujuan untuk memuaskan tuntutan keadilan.”
b. Teori tujuan atau Teori relative
Dasar teori relatif atau teori tujuan ini adalah bahwa pidana adalah alat untuk menegakkan tata tertib (hukum) dalam masyarakat. Pendapat Muladi tentang teori ini adalah:6
“Pemidanaan bukan sebagai pembalasan atas kesalahan pelaku tetapi sarana mencapai tujuan yang bermanfaat untuk melindungi masyarakat menuju kesejahteraan masyarakat. Sanksi ditekankan pada tujuannya, yakni untuk
4 Dr. Fajar Ari Sudewo, S.H.,M.H., Penologi dan Teori Pemidanaan, (Tegal: Djava Sinar Perkasa) hlm. 27
5 Zainal Abidin Farid, Hukum Pidana 1, (Jakarta: Sinar Grafika, 2007), hlm. 11
6 Ibid, hal. 14
mencegah agar orang tidak melakukan kejahatan, maka bukan bertujuan untuk pemuasan absolut atas keadilan.”
Dari pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pemidaan bukan karena orang membuat kejahatan, namun supaya orang jangan berbaut kejahatan. Hal tersebut menunjukkan bahwa tujuan pemidaan bergeser, yaitu untuk menentramkan masyarakat yang gelisah karena akibat dari telah terjadinya kejahatan.
c. Teori gabungan / Modern (
Vereningings Theorien
)Teori yang ini menjelaskan di satu sisi mengakui adanya unsur pembalasan dalam hukum pidana. Akan tetapi di sisi lain, mengakui pula unsur pencegahan dan unsur memperbaiki penjahat yang melekat pada tiap pidana. menurut teori ini pemidanaan mensyaratkan agar bukan hanya memberikan penderitaan jasmani tapi juga psikologi dan yang terpenting adalah memberikan pemidanaan dan pendidikan.
Ilmu Penologi dapat menjadi suatu koridor analisis dari suatu putusan pengadilan.
Penulis akan menganalisis putusan nomor 70/Pid.Sus-TPK/2024/PN.Jkt.Pst. yang dikeluarkan oleh Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat merupakan hasil pemeriksaan perkara pidana tingkat pertama dengan terdakwa Harvey Moeis. Terdakwa didakwa atas tindak pidana korupsi dan pencucian uang sebagaimana diatur dalam Pasal 2 ayat (1) jo. Pasal 18 Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang telah diubah dengan Undang-Undang No. 20 Tahun 2001, Serta Pasal 3 Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. Majelis Hakim menjatuhkan pidana dalam amar putusan, hukuman berupa pidana penjara selama 6 tahun dan 6 bulan, dan denda sebesar Rp1.000.000.000,00,-(Satu miliar Rupiah) dan kewajiban membayar uang pengganti kerugian negara sebesar Rp210.000.000.000,00-(dua ratus sepuluh miliar rupiah) kepada negara.
Namun putusan hakim dinilai penuh kontrovesi, pasalnya pandangan dan respon masyarakat terhadap putusan hakim pada kasus ini dinilai terlalu ringan, hal ini dikarenakan:
a. Pidana penjara yang dijatuhkan selama 6,5 tahun, sementara ancaman hukuman maksimal untuk tindak pidana korupsi bisa mencapai 20 tahun penjara.
b. Denda yang dikenakan sebesar Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah), yang mungkin dianggap tidak sebanding dengan kerugian negara yang ditimbulkan.
c. Kewajiban membayar uang pengganti sebesar Rp210.000.000.000,00 (dua ratus sepuluh miliar rupiah), yang meskipun jumlahnya besar, namun bisa dianggap masih di bawah total kerugian negara yang sebenarnya.
Dari putusan oleh hakim tersebut yang dinilai terlalu ringan untuk tindak pidana yang telah dilakukannya, dapat kita analisis dari segi ilmu penologi. Apakah pelaku sudah diputus dengan putusan hakim yang sudah sesuai dengan pengaturan yang berlaku, dan mengapa respon masyarakat menunjukkan ketidak puasan, karena dirasa sangat kurang seorang hakim dalam menjatuhkan putusannya.
2. ANALISIS PUTUSAN
a. (Dasar pertimbangan hukum oleh hakim)
Penerapan hukum positif oleh hakim harus mengindahkan nilai-nilai dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat dengan sebaik-baiknya, sehingga putusan yang dihasilkan oleh hakim bisa diterima dengan iklas oleh para pihak, untuk itu tentunya hakim dalam menjatuhkan pidana harus dalam rangka menjamin tegaknya kebenaran, keadilan dan kepastian hukum bagi seseorang.7 Hakim dalam memberi suatu putusan di pengadilan, dapat mempertimbangkan sesuai dasar alasan mengapa suatu nestapa atau pidana tersebut diberikan. Dalam penologi terdapat beberapa teori pemidanaan. Diantaranya adalah:
• Teori Pembalasan
Teori ini menekankan bahwa hukuman harus sepadan dengan kesalahan yang dilakukan. Hakim mempertimbangkan tingkat kesalahan terdakwa, dampak perbuatannya terhadap korban (dalam hal ini, negara dan masyarakat), serta kerugian yang ditimbulkan.
• Teori perlindungan masyarakat
Hakim juga mempertimbangkan apakah hukuman tersebut dapat melindungi masyarakat dari potensi kejahatan yang mungkin dilakukan oleh terdakwa di masa depan. Dengan memenjarakan terdakwa, diharapkan masyarakat terhindar dari tindakan korupsi serupa.
• Teori Pembinaan
7 Bambang Waluyo, Pidana dan Pemidanaan, (Jakarta: Sinar grafika, 2004), hlm. 33
menjalani hukuman, terdakwa dapat direhabilitasi dan kembali menjadi anggota masyarakat yang baik. Proses pembinaan di lembaga pemasyarakatan diharapkan dapat mengubah perilaku terdakwa.
• Teori Pencegahan
Hukuman yang dijatuhkan diharapkan dapat memberikan efek jera, baik bagi terdakwa maupun bagi masyarakat luas, sehingga mencegah orang lain melakukan tindak pidana korupsi.
Dasar dari putusan yang dijatuhkan merupakan hasil dari teori-teori tersebut, dengan tujuan mencapai keadilan yang seadil-adilnya bagi semua pihak. Selain itu pempertimbangankan suatu putusan, terdapat 2 jenis pertimbangan, yaitu pertimbangan yuridis dan pertimbangan non yuridis.
• Pertimbangan Yuridis
Pertimbangan yang bersifat yuridis adalah pertimbangan hakim yang didasarkan pada fakta fakta yuridis yang terungkap didalam persidangan dan oleh undang-undang telah ditetapkan sebagai hal yang harus dimuat didalam putusan. Adapun yang termasuk dalam pertimbangan yuridis adalah:
1) Dakwaan Jaksa Penuntut Umum
Dakwaan ini merupakan dasar hukum acara pidana karena berdasarkan itulah pemeriksaan persidangan dilakukan. dakwaan penuntut umum digunakan oleh hakim sebagai bahan pertimbangan pengadilan dalam menjatuhkan putusan. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa pengadilan dalam menjatuhkan putusan senantiasa menjadikan surat dakwaan sebagai suatu bahan pertimbangan.
Dalam perkara ini Penuntut Umum mendakwa terdakwa Harvey Moeis dengan dua dakwaan utama, yaitu tindak pidana korupsi dan tindak pidana pencucian uang. Dengan melanggar ketentuan pasal yang telah dijelaskan di bagian pendahuluan. Dari dakwaan tersebut penuntut umum merumuskan tuntutan berupa pidana kurungan penjara selama 12 tahun, menghukum dengan denda sebesar Rp.1.000.000.000,00-(satu miliar rupiah), dan membebankan membayar uang pengganti sebesar Rp.210.000.000.000,00-(dua ratus sepuluh miliar rupiah).
Dalam pasal yang telah didakwaan diatur bahwa pelaku mendapatkan sanksi berupa kurungan penjara seumur hidup atau paling lama 20 tahun dan paling singkat 4 tahun. Tuntutan oleh penuntut umum berupa pidana kurungan penjara selama 12 tahun sudah sesuai dengan aturan tersebut. Dan putusan hakim yang memutus pidana kurungan penjara selama 6,5 tahun juga sudah sesuai dengan aturan dalam pasal tersebut.
2) Keterangan Terdakwa
Keterangan terdakwa menurut KUHAP pasal 184 butir e, digolongkan sebagai alat bukti. Keterangan terdakwa adalah apa yang dinyatakan terdakwa di sidang tentang pebuatan yang ia lakukan atau yang ia ketahui sendiri atau dialami sendiri.
Dalam keterangannya, terdakwa membantah secara langsung terlibat dalam tindakan yang merugikan keuangan negara. Ia mengklaim tidak mengetahui adanya aliran dana yang dianggap sebagai hasil korupsi dan menyebut bahwa pengelolaan keuangan perusahaan dilakukan oleh pihak lain. Terdakwa memberikan pembelaan bahwa transaksi keuangan yang dilakukan, termasuk transfer dana ke rekening tertentu, adalah bagian dari kegiatan bisnisnya. Ia juga menyatakan bahwa beberapa transaksi yang dipermasalahkan merupakan kesalahan administratif atau kelalaian pihak ketiga. Terdakwa menegaskan bahwa ia tidak memiliki niat untuk melakukan tindak pidana korupsi atau pencucian uang, serta mengaku tidak mengetahui jika sebagian dana yang diterimanya berasal dari sumber yang melanggar hukum.
3) Keterangan saksi
Salah satu komponen yang harus diperhatikan hakim dalam menjatuhkan putusan adalah keterangan saksi. Keterangan saksi dapat dikategorikan sebagai alat bukti sepanjang keterangan itu mengenai suatu peristiwa pidana yang ia dengar sendiri,ia lihat sendiri,dan ia alami sendiri dan harus disampaikan di dalam sidang pengadilan dengan mengangkat sumpah.
Pada putusan tersebut, jumlah saksi yang memberikan keterangan dalam persidangan adalah 12 orang saksi. Para saksi tersebut memberikan keterangan terkait berbagai aspek kasus,
termasuk aliran dana, transaksi keuangan, dan hubungan terdakwa dengan pihak-pihak terkait. Keterangan saksi menjadi salah satu dasar pertimbangan hakim dalam memutus perkara ini, bersama dengan bukti-bukti lain seperti dokumen, barang bukti elektronik, dan hasil pemeriksaan ahli.
4) Barang-barang bukti
Meskipun barang bukti bukan sebagai alat bukti, namun apabila penuntut umum menyebutkan barang bukti itu didalam surat dakwaannya, kemudian mengajukannya barang bukti itu kepada hakim, hakim ketua dalam pemeriksaan harus memperlihatkannya, baik kepada terdakwa, maupun kepada saksi, bahkan kalau perlu hakim membuktikannya dengan membacakan atau memperlihatkan surat atau berita acara kepada terdakwa atau saksi dan selanjutnya minta keterangan seperlunya.8
• Pertimbangan Non Yuridis
1) Latar Belakang perbuatan terdakwa
Latar belakang perbuatan terdakwa adalah setiap keadaan yang menyebabkan timbulnya keinginan serta dorongan keras pada diri terdakwa dalam melakukan tindak pidana kriminal. Motif terdakwa melakukan perbuatan tersebut diduga didorong oleh keinginan untuk memperkaya diri sendiri atau orang lain secara tidak sah, serta untuk menghindari pajak atau kewajiban keuangan lainnya.
2) Akibat perbuatan terdakwa
Perbuatan pidana yang dilakukan terdakwa sudah pasti membawa korban ataupun kerugian pada pihak lain. Kasus ini mengakibatkan kerugian negara mencapai Rp300 triliun, yang mencerminkan dampak ekonomi yang sangat besar. Kerugian ini tidak hanya berdampak pada keuangan negara, tetapi juga pada pembangunan infrastruktur dan pelayanan publik yang seharusnya didanai oleh anggaran negara. Ketidakmampuan pemerintah untuk menyediakan layanan dasar akibat kehilangan dana publik dapat memperburuk kondisi sosial masyarakat. Dampak kerugian inilah yang
8 Rusli Muhammad, Hukum Acara Pidana Kontemporer, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2007), hlm 133
menyebabkan publik merasa bahwa putusan yang dijatuhkan oleh hakim belum dirasa sebanding.
3) Kondisi Terdakwa
Kondisi diri terdakwa adalah keadaan fisik ataupun psikis terdakwa sebelum melakukan kejahatan,termasuk pula status sosial yang melekat pada dirinya. Kesehatan Terdakwa, Jika terdakwa mengalami masalah kesehatan serius, hakim mungkin mempertimbangkan kondisi tersebut dalam menjatuhkan hukuman.
Misalnya, jika terdakwa memiliki penyakit yang mengancam jiwa atau membutuhkan perawatan medis khusus, hakim bisa saja memberikan hukuman yang lebih ringan atau alternatif hukuman yang tidak melibatkan penjara, untuk menjaga kesejahteraan terdakwa. Dampak Psikologis, Kondisi fisik yang buruk dapat mempengaruhi keadaan mental dan emosional terdakwa. Jika terdakwa menunjukkan dampak psikologis dari proses hukum, seperti depresi atau kecemasan yang parah, hakim mungkin mempertimbangkan faktor ini sebagai hal meringankan. Namun dalam kasus ini terkdwa dalam persidangan telihat sehat dan dapat mengikuti jalannya perdisangan dengan baik.
Dalam hal yang mempengaruhi penjatuhan putusan, Hakim juga mempertimbangkan faktor-faktor yang meringankan dan memberatkan terdakwa.
Faktor yang meringankan bisa berupa perilaku sopan selama persidangan, belum pernah dihukum sebelumnya, atau memiliki tanggungan keluarga, hal ini mengacu pada pasal 5 ayat (1) UU Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman, yaitu hakim dan hakim konstitusi wajib menggali, mengikuti dan memahami nilai- nilai hukumdan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat. Dan dalam Pasal 8 ayat (2) juga disebutkan dalam mempertimbangkan ringannya pidana, hakim wajib memperhatikan pula sifat yang baik dan jahat dari terdakwa. Dalam kasus ini faktor yang meringankan terdakwa adalah:
• Terdakwa belum pernah dihukum,
• Terdakwa mempunyai tanggungan keluarga,
• Terdakwa bersikap sopan di persidangan.
Sedangkan faktor yang memberatkan terdakwa, bisa berupa jabatan terdakwa, jumlah kerugian negara yang besar, atau dampak negatif perbuatan terhadap masyarakat. Dari fakta persidangan yang muncul barulah hakim dapat
memutuskan pidananya. Meskipun demikian, perlu diingat bahwa penafsiran dan penerapan hukum dapat bervariasi, sehingga tidak menutup kemungkinan adanya perbedaan pendapat mengenai berat ringannya suatu hukuman.
b. (Pidana dan Pemidanaan)
Kasus korupsi yang melibatkan Harvey Moeis memberikan gambaran yang jelas mengenai interaksi antara hukum pidana dan pemidanaan dalam konteks ilmu penologi. Dalam kasus ini, terdakwa diduga terlibat dalam praktik korupsi yang merugikan negara hingga Rp300 triliun melalui pengelolaan dan tata niaga komoditas timah ilegal. Dari sudut pandang pidana, perbuatan ini memenuhi unsur-unsur tindak pidana korupsi sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
Putusan hakim yang berisi tentang pidana kurungan penjara terhadap terdakwa selama 6,5 tahun tentunya memiliki tujuan bagi pelaksanaannya. Dalam kasus korupsi seperti ini tujuan pemidaan yang paling dominan adalah Pembalasan (
retribution
) yang tujuannya berfokus pada memberikan hukuman yang setimpal dengan kejahatan yang dilakukan. Konsep ini menekankan bahwa pelaku harus menerima konsekuensi dari tindakan mereka sebagai bentuk keadilan. Oleh karena itu ketika hakim memutus dipidana hanya 6,5 tahun masa kurungan penjara, publik banyak yang merasa bahwa masa kurungan penjaranya tidak setimpal dengan kerugian yang telah dilakukan terhadap negara.Dengan pemidanaan diharapkan dapat memberikan efek jera bagi pelaku dan mencegah terulangnya tindak pidana serupa. Namun, di Indonesia, rendahnya penjatuhan masa pidana sering kali mengurangi efektivitas hukuman sebagai deterrent. Banyak narapidana kasus korupsi hanya menjalani sebagian kecil dari masa hukuman mereka, seringkali dengan fasilitas yang lebih baik dibandingkan narapidana lainnya, yang mengurangi efek jera yang diharapkan. Penologi modern menekankan pentingnya rehabilitasi pelaku kejahatan agar mereka dapat reintegrasi ke masyarakat setelah menjalani hukuman. Namun, dalam kasus korupsi, proses ini sering kali terhambat oleh stigma sosial dan hilangnya kehormatan pelaku, yang dapat mengakibatkan kesulitan dalam menemukan pekerjaan atau berkontribusi positif kepada masyarakat setelah menjalani hukuman.
Masyarakat memandang bahwa pelaku kejahatan korupsi ialah orang-orang yang serakah, mereka diamanahi untuk memiliki jabatan dan kewenangan
menjalankan sistem, namun mereka malah menyalahgunakan kewenangannya.
Pelaku korupsi juga mereka yang berada di status sosial atas, artinya mereka mencuri uang negara bukan karena tidak memiliki uang, namun justru hal tersebut bisa terjadi karena sifat keserakahannya yang masih menginginkan harta yang lebih banyak.
Dalam tindak pidana korupsi pemidanaan sering kali bersifat kumulatif, yaitu menggabungkan hukuman penjara dengan denda atau pengembalian kerugian negara. Hal ini bertujuan untuk memberikan efek jera sekaligus memulihkan kerugian finansial yang diakibatkan oleh korupsi. Pada kasus ini hakim memutus pemberian sanksi selain kurungan penjara adalah denda sebesar Rp.1.000.000.000,00-(satu miliar rupiah) dan sanksi pengembalian kerugian negara sebesar Rp.210.000.000.000,00-(dua ratus sepuluh rupiah). Namun putusan ini juga mendapat pandangan yang masih dirasa belum cukup adil oleh publik. Karena kerugian dari kasus korupsi ini diperkirakan hingga menyentuh angka 300 triliun.
Secara keseluruhan, pemidanaan dalam kasus korupsi harus dirancang untuk tidak hanya menghukum tetapi juga mencegah kejahatan serupa di masa depan, memperbaiki perilaku pelaku, dan memulihkan kerugian negara serta kepercayaan publik terhadap sistem hukum.
3. KESIMPULAN
Publik menilai hasil dari putusan oleh hakim pada tingkat pertama pada putusan nomor
70/Pid.Sus-TPK/2024/PN.Jkt.Pst. pada kasus korupsi timah Harvey Moeis, dirasa masih sangat jauh dari rasa keadilan. Hal yang sangat disoroti bahwa tidak sebanding dengan kerugian negara yang telah dikeruk. Oleh karena itu, Kejaksaan Agung, yang kemudian memutuskan untuk melakukan banding. Dalam putusan awal, hakim menilai tuntutan jaksa terlalu berat dibandingkan kesalahan yang dilakukan Harvey Moeis.
Hasil dari putusan Banding, Pada 13 Februari 2025, Pengadilan Tinggi Jakarta memperberat hukuman Harvey menjadi 20 tahun penjara. Selain itu, pelaku diwajibkan membayar denda Rp.1.000.000.000,00 (1 miliar rupiah) dan uang pengganti kerugian negara sebesar Rp.420.000.000.000,00-(empat ratus dua puluh miliar rupiah). Jika tidak membayar, asetnya akan disita dan dilelang untuk menutupi kerugian negara. Kasus Harvey Moeis menunjukkan bagaimana proses hukum dapat beradaptasi berdasarkan pertimbangan keadilan dan dampak sosial dari tindak pidana
korupsi. Putusan pada tahap awal yang dianggap ringan diubah menjadi hukuman yang lebih berat dalam proses banding, mencerminkan upaya untuk menegakkan hukum dengan lebih tegas terhadap tindakan korupsi yang merugikan keuangan negara secara signifikan. Hal ini juga menegaskan pentingnya pemidanaan yang efektif dalam mencegah terulangnya kejahatan serupa di masa depan.
DAFTAR PUSTAKA Putusan Pengadilan :
putusan nomor 70/Pid.Sus-TPK/2024/PN.Jkt.Pst.
Undang-Undang :
Indonesia. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Lembaran Negara RI Tahun 2001 Nomor 134, Tambahan Lembaran RI Nomor 4150. Sekretariat Negara. Jakarta.
Indonesia. Undang-undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. Lembaran Negara RI Tahun 2010 Nomor 210, Tambahan Lembaran RI Nomor 5164. Sekretariat Negara. Jakarta.
Indonesia. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. Lembaran Negara RI Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran RI Nomor 3209. Sekretariat Negara. Jakarta.
Indonesia. Undang-undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman. Lembaran Negara RI Tahun 2009 Nomor 157, Tambahan Lembaran RI Nomor 5076. Sekretariat Negara. Jakarta.
Buku :
Ari Sudewo, Fajar. "PENOLOGI DAN TEORI PEMIDANAAN." (2022).
Edrisy, Ibrahim Fikma. "Penologi." (2023).
Farid, H. A. "Hukum Pidana 1." (2007).
Samosir, Djisman.
Penologi dan pemasyarakatan
. Nuansa Aulia, (2016).Sulhin, Iqrak. "Sekilas Perkembangan Teori Penologi."
Makalah-Simposium dan Pelatihan Hukum Pidana dan Kriminologi ke-IV, Masyarakat Hukum Pidana dan Kriminologi Indonesia dan Lembaga Penelitian Universitas Nusa Cendana. Kupang, Indonesia
(2017).Situmeang, Sahat Maruli T. "Buku Diktat Mata Kuliah Penologi." (2019).
Jurnal :
Indria, Laila Nurul, and Ali Muhammad. "Efektivitas Hukuman Pidana Penjara Sebagai Efek Jera Terhadap Pelaku Korupsi Di Indonesia."
Jurnal Justitia Jurnal Ilmu Hukum dan Humaniora
9.3 (2022): 1445-1450.Laia, Yuniar Hati. "Pertimbangan Hakim Dalam Pemidanaan Pelaku Tindak Pidana Pembunuhan (Studi Kasus Putusan Nomor. 104/Pid. B/2016/Pn. Gst)."
Jurnal Panah Hukum
1.2 (2022): 178-190.Nurhafifah, Nurhafifah, and Rahmiati Rahmiati. "Pertimbangan Hakim Dalam Penjatuhan Pidana Terkait Hal Yang Memberatkan Dan Meringankan Putusan."
Kanun Jurnal Ilmu Hukum
17.2 (2015): 341-362.Soro, Elroswit E. Teresa Gae, et al. "ANALISIS TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG YANG DI LAKUKAN OLEH HARVEY MOEIS."
Jurnal Hukum & Pembangunan Masyarakat
15.7 (2024).Yanto, Oksidelfa. "Efektifitas Putusan Pemidanaan Maksimal Bagi Pelaku Tindak Pidana Korupsi Dalam Rangka Pengentasan Kemiskinan."
Syiah Kuala Law Journal
1.2 (2017):18-36.