VIKTIMOLOGI
ANALISIS HAK-HAK KORBAN PADA PUTUSAN NOMOR 129/Pid.Sus/2024/PN Tbk.
DENGAN UNDANG-UNDANG NOMOR 21 TAHUN 2007 TENTANG PTPPO
Disusun Untuk Memenuhi UTS Mata Kuliah Viktimologi Diampu oleh:
Dr. Nurini Aprilianda, S.H., M.Hum.
Hanugrah Titi Habsari, S.H., M.H.
Zulfiqar Bhisma Putra Rozi, S.H., M.H.
Disusun oleh:
Amri Dzikri Al Hakim 225010100111132 (03)
PROGRAM STUDI ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS BRAWIJAYA 2025
1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Tindak pidana merupakan salah satu persoalan yang cukup meresahkan bagi masyarakat sekitar dan diperlukan penanganan yang cepat dan tepat untuk menanggulanginya. Tindak pidana dapat dikatakan sebagai perbuatan melawan hukum yang akibat dari tidak menaati apa yang sudah diatur dalam Undang-Undang maupun peraturan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah maka pelaku dari tindak pidana tersebut bisa dikenakan sanksi sebagaimana yang sudah diatur di dalamnya.1
Salah satu tindak pidana yang sangat urgensi untuk diberantas oleh pemerintah adalah tindak pidana perdagangan orang, sebab dalam kurun waktu belakangan ini sangat marak terjadi kasus tindak pidana perdagangan orang yang terjadi di Indonesia.
Berdasarkan data dari Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), sebanyak 698 orang yang menjadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) pada tahun 2024.2
Tindak pidana perdagangan orang adalah bentuk modern dari perbudakan manusia. Tindak pidana perdagangan orang juga merupakan salah satu bentuk perlakuan terburuk dari pelanggaran harkat dan martabat manusia. Bertambah maraknya tindak pidana perdagangan orang di berbagai negara, termasuk Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya, telah menjadi perhatian Indonesia sebagai bangsa, masyarakat internasional dan anggota organisasi internasional, terutama Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Menurut pasal 3 huruf a, Protocol Palermo, tindak pidana perdagangan orang ialah “perekrutan, pengiriman ke suatu tempat, pemindahan, penampungan atau penerimaan melalui ancaman, atau pemaksaan dengan kekerasan atau dengan cara-cara kekerasan lain, penculikan, penipuan, penganiayaan, penjualan, atau tindak penyewaan untuk mendapatkan keuntungan atau pembayaran tertentu untuk tujuan eksploitasi”.
Untuk melancarkan tindak pidana perdagangan orang, pelaku menggunakan berbagai cara, misalnya diculik lalu kemudian dijual ketempat-tempat pelacuran diluar negaranya, ada juga dari pihak keluarga mereka sendiri yang menjual karena percaya
1 Satria Sukananda and Chrisinta Dewi Destiana, “Evaluasi Penegakan Hukum Tindak Pidana Korupsi Oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Dalam Perspektif Sosiologi Hukum,” Jurnal Peradilan Indonesia Teropong, 7 (2019). Hlm. 63
2 Tria Sutrisna, " 698 Orang Jadi Korban TPPO Sepanjang 2024, Terbanyak di Kepri dan Kaltara," KOMPAS.com, Juli,15, 2024, https://nasional.kompas.com/read/2024/07/15/15560171/698-orang-jadi-korban-tppo- sepanjang-2024-terbanyak-di-kepri-dan-kaltara
bahwa anak-anak mereka akan bekerja sebagai asisten rumah tangga atau menggunakan modus kawin kontrak dengan orang asing dan yang terakhir yaitu dengan menipu korban dan mengatakan bahwa akan dipekerjakan ditempat tertentu tetapi pada kenyataannya mereka dijual ketempat pelacuran.3 Kasus perdagangan orang semakin meningkat karena jumlah keuntungan yang diperoleh si pelaku sangatlah besar. Bahkan menurut PBB, tindak pidana perdagangan orang termasuk salah satu perusahaan kriminal terbesar ke-3 tingkat dunia yang menghasilkan sekitar 9,5 juta USD dalam pajak tahunan.4
Indonesia merupakan salah satu negara yang menyetujui dan berjanji untuk melaksanakan Protocol Palermo, dan Indonesia berhasil mengesahkan UU No. 21 tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang atau UU PTPPO.
Tindak pidana perdagangan orang itu sendiri berarti setiap tindakan yang terdapat unsur tindak pidana yang telah diatur dalam UU PTPPO. Undang-undang ini menjadi payung hukum pengaturan tindak pidana di Indoesia. Dalam Pasal 1 huruf a, UU PTPPO, dijelaskan “Perdagangan Orang adalah tindakan perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan, atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan utang atau memberi bayaran atau manfaat, sehingga memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali atas orang lain tersebut, baik yang dilakukan di dalam negara maupun antar negara, untuk tujuan eksploitasi atau mengakibatkan orang tereksploitasi.”
Dalam UU PTPPO, salah satu aspek yang menjadi sangat penting untuk dibahas adalah hak-hak korban dan saksi, selain itu aspek Perlindungan terhadap korban menjadi perhatian yang serius. Pendekatan rehabilitasi dan reintegrasi diterapkan untuk membantu korban agar dapat kembali ke kehidupan normal setelah mengalami traumatisasi akibat perdagangan orang. Dalam tugas ini, penulis akan menganalisis hak-hak korban pada putusan nomor 129/Pid.Sus/2024/PN Tbk. Dalam putusan tersebut terdapat 5 korban dalam modus operandi, namun penulis akan membahas satu korban yang Bernama Anan.
Kronologi bermula saat Anan, seorang warga Lombok, Nusa Tenggara Barat, berencana bekerja di Malaysia melalui jalur ilegal setelah sebelumnya dideportasi dan
3 Novianti. 2014. “Tinjauan Yuridis Kejahatan Perdagangan Manusia (Human Traffikking) Sebagai Kejahatan Lintas Batas Negara”. Jurnal Ilmu Hukum. hal. 51
4 M. Makhfudz. “Kajian Praktek Perdagangan Orang di Indonesia”. Jurnal Hukum Volume 4, No. 1. hal. 226
tidak bisa lagi masuk secara resmi. Pada 26 Maret 2024, Anan menghubungi temannya, Nursin, yang sudah bekerja di Malaysia, untuk meminta bantuan mencari "tekong"
(calo) yang bisa memberangkatkannya. Nursin kemudian memberikan kontak Sobri (081275887766), yang menawarkan jasa pengiriman ke Malaysia dengan biaya Rp6.500.000. Anan setuju dan membeli tiket pesawat Lombok-Batam untuk berangkat pada 24 April 2024.
Sebelum berangkat, pada 23 April 2024, Sobri mengingatkan Anan lewat WhatsApp agar menerima telepon dari orang yang akan menjemputnya di Batam.
Keesokan harinya, Anan berangkat dari Lombok transit di Yogyakarta, lalu tiba di Batam pukul 09.15 WIB. Sesampainya di Bandara Hang Nadim, Anan dijemput oleh seseorang bernama Yandri (yang mengaku utusan Sobri) dan dibawa ke pelabuhan Sekupang. Di sana, Anan menyerahkan uang Rp6.500.000 kepada Yandri dan diberi tiket kapal ferry ke Tanjung Balai Karimun.
Selama perjalanan ke Karimun, Anan dihubungi oleh Azenil (Terdakwa) yang akan menjemputnya. Setiba di Pelabuhan Tanjung Balai Karimun pukul 13.00 WIB, Anan dijemput Azenil dengan sepeda motor dan dibawa ke rumah kontrakan Azenil di Perumahan Melia Indah. Di rumah itu, Anan bertemu empat korban lain (Mirayang, Suparman, Jumadil, dan Rizal) yang juga menunggu jadwal keberangkatan ke Malaysia. Pada 25 April 2024 pukul 22.20 WIB, petugas Ditpolairud Polda Kepri menangkap Anan dan korban lain di rumah Azenil. Mereka diamankan di Hotel Holiday sebelum dibawa ke Batam keesokan harinya untuk pemeriksaan lebih lanjut. Anan mengaku bersalah dan menyatakan tindakannya dilatarbelakangi kesulitan ekonomi serta harapan mendapatkan pekerjaan di Malaysia.
1.2 Rumusan Masalah
Dari urauian latar belakang diatas dan juga kronologi bagaimana korban bisa menjadi salah satu korban modus operandi tindak pidana perdagangan orang, terdapat rumusan masalah untuk mempertajam analisis, yaitu:
a. Apa saja hak-hak korban yang seharusnya diperoleh sesuai dengan pengaturan di UU PTPPO?
b. Bagaimana bentuk perlindungan hukum bagi korban PTPPO?
1.3 Tujuan
Dari rumusan masalah yang telah disusun diharapkan dapat mendapatkan tujuan dari analisis ini, yaitu:
a. Untuk mengetahui apa saja hak-hak korban yang seharusnya diperoleh sesuai dengan pengaturan di UU PTPPO.
b. Untuk mengetahui bagaimana bentuk perlindungan hukum bagi korban PTPPO.
2. PEMBAHASAN
2.1 (Apa saja hak-hak korban yang seharusnya diperoleh sesuai dengan pengaturan di UU PTPPO?)
Perlindungan Hukum terhadap korban tindak pidana perdagangan orang semakin mendapatkan posisinya sehubungan dengan disahkannya UU No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (UU PTPPO). Ketetapan tentang perlindungan korban tindak pidana perdagangan orang diatur secara khusus dalam Pasal 43 sampai Pasal 53, Pasal 43 UU No. 21 Tahun 2007 yang mengatur tentang “Ketentuan mengenai perlindungan saksi dan korban dalam tindak pidana perdagangan orang ilaksanakan berdasarkan Undang – Undang Nomor 13 tahun 2006 tentang perlindungan saksi dan korban kecuali ditentukan lain dalam Undang – undang ini”. Hal tersebut di karenakan korban tindak pidana juga memiliki hak, yaitu:5
a. Hak korban dalam mendapatkan kompensasi atas pelakuan yang dialaminya, b. Hak untuk menolak kompensasi tersebut karena tidak dibutuhkan,
c. Hak kompensasi untuk ahli waris apabila korban tindak pidana tersebut meninggal dunia,
d. Hak untuk mendapatkan pembinaan dan rehabilitasi,
e. Hak untuk mendapatkan kembali atas sesuatu yang menjadi hak miliknya, f. Hak menolak untuk dijadikan saksi apabila hal tersebut dapat membahayakan
dirinya,
g. Hak untuk mendapatkan perlindungan dari ancaman yang disampaikan pelaku apabila korban menjadi saksi,
h. Hak untuk memakai penasehat hukum, dan i. Hak dalam menggunakan upaya hukum.
5 Anita Handayani Nursamsi. 2007. Korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (Kajian Viktimologi terhadap Korban Tindak Pidana Perdagangan Orang di Wilayah Hukum Polwil Banyumas, Tesis Pada Program Magister Hukum Unsoed, Purwokerto. Hlm. 74.
Sedangkan perlindungan korban menurut UU PTPPO, selain dengan memidanakan pelakunya, juga diwujudkan dari bentuk-bentuk pemenuhan hak, diantaranya ialah:
a. Hak atas kerahasiaan identitas korban
Hal ini diatur dalam pasal 44 ayat (1) UU PTPPO. Dan hak untuk merahasiakan identitas ini juga diberikan kepada keluarga korban hingga derajat kedua, jika korban mendapat ancaman secara fisik maupuk psikis dari luar yang berkaitan dengan keterangan korban (Pasal 44 ayat (2) Undang- Undang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang).
b. Hak atas memperoleh restitusi
Hal ini diatur dalam pasal 48 ayat (1) Undang-Undangan Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang. Restitusi menurut pasal 1 poin 13 UU PTPPO ialah “pembayaran ganti rugi yang dibebankan kepada pelaku berdasarkan pada putusan pengadilan atau hakim yang memiliki kekuatan hukum tetap atas kerugian materiil serta imateriil yang diderita oleh korban ataupun ahli warisnya”. Berdasarkan pada PP No. 3 Tahun 2002, restitusi ialah ganti kerugian yang diberikan kepada korban atau keluarganya dari pelaku atau pihak ketiga, bisa berupa pengembalian harta milik, pembayaran ganti atas kerugian untuk kehilangan atau penderitaan, ataupun penggantian biaya atas tindakan tertentu.
c. Hak atas rehabilitasi kesehatan, sosial, pemulangan, dan reintegrasi
Rehabilitasi merupakan salah satu langkah konkrit yang dilakukan untuk memperbaiki sesuatu yang telah menyimpang atau rusak. Tindakan rehabilitasi pada korban tindak pidana perdagangan orang dilakukan agar pulihnya kondisi korban baik secara fisik maupun psikis, sehingga korban bisa kembali menjalankan hidupnya dalam lingkungan masyarakat seperti semula. Berdasarkan pada UU PTPPO pasal 51 ayat (1), korban tindak pidana perdagangan orang berhak mendapatkan rehabilitasi kesehatan, sosial, pemulangan, dan reintegrasi sosial dari pemerintah jika korban mengalami penderitaan secara fisik maupun psikis akibat dari tindakan perdagangan orang tersebut.
Dalam pasal 48 ayat (2) UUPTPPO, disebutkan bahwa restitusi yang diterima oleh korban dan ahli warisnya, apabila mengalami kerugian sebagai berikut:
Pertama, kehilangan harta kekayaan atau penghasilan; Kedua, restitusi atas penderitaan; Ketiga, biaya yang dikeluarkan untuk memulihkan kondisi medis maupun psikis korban; Keempat, kerugian lain yang dialami korban sebagai akibat dari perlakuan tindak pidana perdagangan orang tersebut.
Prosedur untuk memperoleh hak restitusi dengan cara, Pengajuan oleh Korban atau Penuntut Umum (JPU). Korban atau keluarga dapat mengajukan permohonan restitusi sebelum atau selama persidangan. JPU wajib memasukkan tuntutan restitusi dalam surat tuntutan. Namun jika korban tidak mengajukan, pengadilan dapat tetap memerintahkan restitusi ex officio. Selanjutnya Pembuktian Kerugian, Korban harus memberikan bukti kerugian (kwitansi, laporan medis, saksi, dll.), lalu Pengadilan akan menilai besaran ganti rugi berdasarkan fakta persidangan. Restitusi diberikan dan dicantumkan dalam putusan pengadilan. Pelaksanaan restitusi dilakukan dalam waktu 14 hari setelah putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, Jika diperlukan, restitusi dapat dititipkan terlebih dahulu di pengadilan tempat perkara diputus sebelum diserahkan kepada korban.
Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) juga sangat berperan dalam membantu korban mengajukan hak restitusi dan memberikan perlindungan serta rehabilitasi bagi korban selama proses hukum berlangsung. LPSK juga dapat memberikan informasi mengenai hak-hak korban dan prosedur pengajuan restitusi.
Namun, Pelaksanaan hak restitusi bagi korban tindak pidana perdagangan orang belum berjalan dengan baik dan perlu perhatian lebih dari pemerintah, sehingga korban dari kasus yang semakin tahun semakin meningkat ini tidak mendapatkan apa yang seharunya didapat para korban. Meskipun ada mekanisme yang jelas, pelaksanaan hak restitusi bagi korban sering kali menemui kendala, seperti Ketiadaan mekanisme yang jelas dalam penetapan besaran restitusi, Kurangnya sosialisasi dan pemahaman tentang hak restitusi di kalangan aparat penegak hukum, dan Proses hukum yang panjang dan birokrasi yang rumit.
Dalam kasus ini posisi korban Anan masih dalam proses pemberangkatan, dia dan korban lainnya berada di kediaman terdakwa untuk menunggu pemberangkatan.
Artinya korban belum sempat diberangkatkan ke Malaysia, namun sudah digagalkan oleh pihak berwajib. Dalam hal ini hak yang paling urgensi untuk diberikan adalah hak untuk mendapatkan restitusi, karena dalam kasus ini korban mengalami kerugian materil, karena harus mengeluarkan uang sebesar Rp.6.500.000,00- (enam juta lima ratus rupiah), dan juga kerugian immaterial lainnya.
Selain mendapatkan hak katas Ganti kerugian, korban tentunya harus mendapatkan hak kerahasiaan identitas, karena dengan hal ini tidak menutup kemungkinan oknum-oknum sindikat perdagangan orang lainnya mengincar korban dikemudian hari, dengan alasan keamanan seharusnya identitas korban dirahasiakan.
Untuk pemenuhan hak seperti rehabilitasi dan reintegrasi, merupakan hak yang cukup penting juga diberikan, tapi disini mengingat bahwa posisi korban masih belum diberangkatkan dan dipekerjakan ilegal di Malaysia belum terjadi.
2.2 (Bagaimana bentuk perlindungan hukum bagi korban TPPO?)
Bentuk perlindungan hukum yang diberikan bagi korban tindak pidana pada dasarnya sudah diatur dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 jo Undang- Undang Nomor 31 Tahun 2014 tentang Perlindungan saksi dan korban. Tidak hanya dalam peraturan perundang-undangan, teori-teori perlindungan hukum juga telah dikemukakan oleh beberapa ahli hukum. perlindungan hukum dapat dibedakan menjadi dua yaitu:
a. Pelindungan hukum preventif
Perlindungan yang diberikan oleh pemerintah dengan tujuan untuk mencegah sebelum terjadinya pelanggaran. Hal ini terdapat dalam peraturan perundang-undangan dengan maksud untuk mencegah suatu pelanggaran serta memberikan rambu-rambu atau batasan-batasan dalam melakukan suatu kewajiban. Dalam pasal Pasal 59 UU PTPPO “Pemerintah wajib melakukan pencegahan melalui penyuluhan dan kerja sama dengan masyarakat”.
Contoh dari bentuk nyata tindakan preventif oleh pemerintah adalah:
• Sosialisasi dan Edukasi Masyarakat dengan Program "Stop Human Trafficking" oleh KemenPPPA dan LPSK yang menyasar daerah rawan TPPO, misal: Lombok, Batam, perbatasan Malaysia). Selain itu adanya kampanye "Migran Aman" oleh Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) untuk calon pekerja migran tentang prosedur legal bekerja di luar negeri. Pelatihan kewaspadaan TPPO di sekolah, pesantren, dan komunitas rentan (perempuan, anak, penyandang disabilitas).
• Penguatan Sistem Perizinan dan Pengawasan dengan cara verifikasi ketat PJTKI (Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia) oleh BP2MI untuk memastikan tidak ada penipuan atau pemalsuan dokumen, program Database terpadu pekerja migran untuk memantau keberangkatan dan kepulangan Pekerja migran indonesia, dan Pemantauan pelabuhan/bandara oleh Direktorat Imigrasi dan Bea Cukai untuk mendeteksi korban potensial.
• Kerja Sama Internasional oleh pemerintah, diantaranya adalah MoU Indonesia-Malaysia tentang penempatan dan perlindungan Pekerja migran Indonesia, Partisipasi dalam “Bali Process” (forum regional anti-TPPO), dan Pelatihan bersama ASEAN untuk penegak hukum dalam identifikasi korban.
• Meningkatkan Teknologi dan Inovasi alat Contohnya seperti, diluncurkannya aplikasi "Safe Travel" oleh Kementrian Luar Negeri untuk melacak keberadaan WNI di luar negeri, Sistem pelaporan online LPSK (lpsk.go.id) untuk pengaduan korban, dan AI monitoring media sosial untuk mendeteksi iklan pekerjaan palsu.
b. Perlindungan hukum represif
Perlindungan hukum represif merupakan perlindungan akhir bagi korban berupa sanksi seperti denda, penjara dan hukuman tambahan yang diberikan apabila sudah terjadi sengketa atau telah dilakukan suatu pelanggaran oleh pelaku. Korban mendapatkan ketenangan dari hukuman yang diberikan kepada pelaku.
Bentuk perlindungan yang telah dibedakan tersebut merupakan perlindungan hukum yang berada pada porsi masing-masing dengan saling memberi kelengkapan.
Dalam perlindungan hukum preventif ini merupakan bentuk perlindungan yang menjadi dasar bagi para penegak hukum untuk melakukan perlindungan bagi korban tindak pidana, sebagaimana membuat pengaturan hukum dengan pemidanaan sebagai bentuk pencegahan agar tidak memunculkan calon-calon korban tindak pidana perdagangan orang. Sedangkan bentuk perlindungan hukum represif diberikan bagi para korban dengan menjatuhkan hukuman yang sebagaimana sudah tercantum dalam Undang-Undang yang ada, seperti member pidana penjara, dendan dan restitusi yang diberikan oleh pelaku kepada korban.
Perlindungan korban dapat mencakup bentuk perlindungan yang bersifat abstrak (tidak langsung) maupun yang konkret (langsung). Perlindungan yang bersifat abstrak, merupakan bentuk perlindungan yang hanya dapat dirasakan secara emosional, seperti rasa puas yang muncul setelah apa yang di inginkan oleh korban didapatkannya, sedangkan perlindungan yang bersifat konkret pada dasarnya merupakan bentuk perlindungan yang dapat dinikmati secara nyata, seperti pemberian dalam bentuk materil maupun non-materil. Pemberian yang bersifat materil dapat berupa pemberian kompensasi atau restitusi, pembebasan biaya hidup atau pendidikan. Pemberian perlindungan yang bersifat non-materil dapat berupa pembebasan dari ancaman, dari pemberitaan yang merendahkan martabat kemanusiaan.
2.3 Analisis
Dalam kasus ini, korban Anan dan 4 korban lainnya posisinya sedang berada di kediaman pelaku, Artinya mereka sudah menjadi korban dari tindak pidana perdagangan orang. Mereka sudah memenuhi sebagai korban karena sesuai dengan unsur yang telah diatur di UU PTTPO. Untungnya mereka belum sempat diberangkatkan ke Malaysia oleh pelaku sebagai pekerja migran ilegal, polisi sudah terlebih dahulu meringkus pelaku.
Dalam hal ini korban Anan tetap harus mendapatkan hak-haknya sebagai korban. Yang pertama tetunya hak Ganti kerugian yang telah dideritanya, kerugian fisik maupun kerugian non-fisik. Hal ini dapat berupa restitusi dari pelaku dan kompensasi dari negara. Selain itu hak yang didapatkannya adalah kerahasiaan identitasnya dari publik. Karena korban tppo tidak menutup lemungkinan akan menjadi sasaran korban dari oknum sindikat perdagangan orang lainnya. Hak lainnya berupa rehabilitasi bila diperlukan untuk mengembalikan kondisi mental dari korban. Dan yang terakhir tentunya hak untuk mendapat akses kepulangan ke tempat asal dari korban sangat diperlukan.
3. KESIMPULAN
Dengan mengesahkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang, Indonesia telah menunjukkan komitmen seriusnya dalam menghadapi permasalahan perdagangan manusia. Upaya pencegahan yang melibatkan berbagai sektor, penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku kejahatan, dan perlindungan serta rehabilitasi bagi korban menjadi pilar utama dalam implementasi
undang-undang ini. Langkah-langkah preventif seperti peningkatan kesadaran masyarakat terhadap anda-tanda perdagangan manusia, pengawasan di perbatasan, dan program edukasi, menjadi kunci dalam mengurangi potensi korban. Selain itu, penanganan hukum yang efektif, didukung oleh penyidikan yang intensif dan penegakan hukuman yang tegas, memberikan sinyal bahwa Indonesia tidak akan mentolerir pelaku perdagangan manusia.
Perlindungan terhadap korban juga terjamin dengan pendekatan rehabilitasi dan reintegrasi, yang melibatkan dukungan psikososial, pendidikan, dan pelatihan keterampilan untuk membantu mereka pulih dari trauma dan kembali ke kehidupan normal. Meskipun tantangan masih ada, keterlibatan lembaga nonpemerintah dan kerjasama internasional menjadi tambahan nilai dalam upaya ini. Keseluruhan, Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 mencerminkan tekad Indonesia untuk melindungi hak asasi manusia, memberantas perdagangan manusia, dan menciptakan lingkungan yang aman dari eksploitasi.
DAFTAR PUSTAKA Putusan:
Putusan Nomor 129/Pid.Sus/2024/PN Tbk.
Undang-undang:
Indonesia. Undang-undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang. Lembaran Negara RI Tahun 2007 Nomor 58, Tambahan Lembaran RI Nomor 4720. Sekretariat Negara. Jakarta.
Indonesia. Undang-undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban.
Lembaran Negara RI Tahun 2006 Nomor 64, Tambahan Lembaran RI Nomor 4635.
Sekretariat Negara. Jakarta.
Indonesia. Undang-undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban.
Lembaran Negara RI Tahun 2006 Nomor 64, Tambahan Lembaran RI Nomor 4635.
Sekretariat Negara. Jakarta.
Jurnal:
Adudu, Rajwa Raidha. "Perlindungan hukum terhadap korban tindak pidana perdagangan orang di Indonesia." Lex Crimen 11, no. 3 (2022).
Alfian, Alfan. "Upaya Perlindungan Hukum Terhadap Korban Tindak Pidana Perdagangan Orang." Fiat Justisia: Jurnal Ilmu Hukum 9, no. 3 (2015).
Bagaskara, Wira Adi. "Politik Hukum Pidana Dalam Penanggulangan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO)." PhD diss., Universitas Atma Jaya Yogyakarta, 2023.
Makhfudz, M. "Kajian praktek perdagangan orang di Indonesia." ADIL: Jurnal Hukum 4, no.
1 (2013): 225-225.
Monita, Yulia. "Perlindungan Hukum Bagi Korban Tindak Pidana Perdagangan Orang Dalam Perspektif Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007." INOVATIF| Jurnal Ilmu Hukum 6, no. 2 (2013).
Novianti, Novianti. "Tinjauan Yuridis Kejahatan Perdagangan Manusia (Human Traffikking) Sebagai Kejahatan Lintas Batas Negara." Jurnal Ilmu Hukum Jambi 5, no. 2 (2014):
43296.
Riza, Khairul. "Hak Restitusi Bagi Korban Perdagangan Orang: Sebuah Langkah Penting Menuju Keadilan Di Indonesia." Kajian Ilmiah Hukum Dan Kenegaraan 2, no. 1 (2023): 37-44.