• Tidak ada hasil yang ditemukan

05 JURNAL TUMIRAN

N/A
N/A
jusuf nursjamsu

Academic year: 2023

Membagikan "05 JURNAL TUMIRAN"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL MENGGUNAKAN MEDIA MIND MAP TERHADAP

HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK TUMIRAN ADITIA

NPM. 1516680884

Program Studi PGMI/SD STAI Putra Galuh Ciamis

ABSTRAK

Latar belakang permasalahan dari penelitian ini adalah realita masih kurang optimalnya hasil belajar peserta didik khususnya dalam pembelajaran PPKn meskipun telah mengimplementasikan pembelajaran kontekstual yang disinyalir akibat masih terpakunya guru kelas terhadap pedoman langkah demi langkah dari Buku Tematik Terpadu Kurikulum 2013 yang dikeluarkan Kemendikbud.

Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui hasil belajar PPKn pada Materi Pokok Toleransi Terhadap Keragaman di Kelas IV SD Negeri 5 Wonoharjo Kecamatan Pangandaran Kabupaten Pangandaran Tahun Pelajaran 2018/2019 dengan menggunakan pembelajaran kontekstual berbantuan mind map, hasil belajar dengan dengan menggunakan pembelajaran kontekstual tanpa bantuan mind map, serta perbandingan hasil belajar diantara keduanya. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif komparatif, desain penelitian eksperimen Pre-Test Post-Test Control Group Design. Populasi penelitian adalah seluruh peserta didik Kelas IV SD Negeri 5 Wonoharjo Kecamatan/Kabupaten Pangandaran yang berjumlah 25 orang, teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik sampel jenuh dan teknik cluster random sampling untuk menentukan kelompok perlakuan. Pengumpulan data menggunakan teknik tes, analisis data menggunakan analisis statistik deskriptif dan analisis statistik inferensial non-parametrik dengan uji Mann- Whitney U. hasil belajar PPKn peserta didik Kelas IV SD Negeri 5 Wonoharjo Kecamatan/Kabupaten Pangandaran yang menggunakan pembelajaran kontekstual menggunakan media mind map mencapai nilai rata-rata 90,7 dan dapat dikategorikan baik, sedangkan yang menggunakan pembelajaran kontekstual dengan buku siswa mencapai nilai rata-rata 83,3 dan dapat dikategorikan cukup.

Hasil belajar PPKn di Kelas IV SD Negeri 5 Wonoharjo yang menggunakan pembelajaran kontekstual menggunakan media mind map lebih besar secara signifikan dibanding hasil belajar yang menggunakan pembelajaran kontekstual dengan media buku siswa.

Kata kunci : media mind map, hasil belajar PPKn

Pendahuluan

Tujuan dari adanya pendidikan di Indonesia bukan hanya untuk mencerdaskan anak bangsa tetapi juga untuk menanamkan jiwa

keberagamaan dalam diri masyarakat, sehingga mampu menjadi manusia yang beriman dan memiliki ketaqwaan kepada Allah SWT serta membentuk warga negara

(2)

yang demokratis dan bertanggung jawab. Dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional tersebut khususnya dalam membentuk warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab, Undang-undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 Bab X Pasal 37 ayat (1)

mengamanatkan mengenai

kewajiban diberikannya pelajaran pendidikan kewarganegaraan pada jenjang sekolah dasar dan menengah dalam kurikulum pendidikan yang digunakan.

Secara umum mata pelajaran PPKn memiliki tujuan untuk mendidik peserta didik agar menjadi warganegara yang baik (to be good citizenship) yang dapat dilukiskan dengan warganegara yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, saling menghormati, menjunjung tinggi nilai-nilai

toleransi, memupuk rasa

kekeluargaan, memupuk rasa bangga dan cinta terhadap bangsa dan tanah air, demokratis, cakap dan bertanggung jawab, mentaati hukum dan norma-norma yang berlaku, berwawasan luas, berbudi pekerti luhur, memiliki kecerdasan dan keterampilan spiritual, intelektual, sikap/ emosional, serta keterampilan

sosial, sehingga dapat

mengembangkan potensi, berperan dan mampu memposisikan diri dalam kehidupan keluarga, masyarakat, bangsa, negara bahkan dalam pergaulan antar bangsa (Somantri, 2001:279).

Tujuan mata pelajaran PPKn yang tidak hanya mencakup aspek kognitif bahkan lebih cenderung menonjolkan aspek afektif peserta didik, menjadikan mata pelajaran PPKn lebih menantang dan menuntut

guru sebagai pendidik untuk lebih kreatif dan inovatif dalam mengemas materi pembelajaran dan proses pembelajaran agar pembelajaran yang disampaikan dapat memberikan pengalaman-pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta didik sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.

Dalam mengimplementasikan pembelajaran PPKn, guru diharapkan dapat memilah dan memililih pendekatan yang sesuai sehingga peserta didik dapat mengoptimalkan hasil belajarnya.

Salah satu pendekatan pembelajaran yang memungkinkan peserta didik untuk belajar secara optimal khususnya dalam pembelajaran PPKn adalah pendekatan kontekstual, sebagaimana pendapat Komalasari (2010:7) yang menyatakan bahwa

pendekatan pembelajaran

kontekstual adalah pendekatan pembelajaran yang mengaitkan antara materi yang dipelajari dengan kehidupan nyata peserta didik sehari- hari, baik dalam lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat maupun warga negara, dengan tujuan untuk menemukan makna materi tersebut bagi kehidupannya.

Pembelajaran kon-tekstual (contextual teaching learning)

merupakan suatu proses

pembelajaran holistik yang bertujuan membelajarkan peserta didik dalam memahami bahan ajar secara bermakna (meaning full) yang dikaitkan dengan konteks kehidupan nyata, baik berkaitan dengan lingkungan pribadi, agama, sosial, ekonomi, maupun kultural (Hanafiah, 2009: 67).

(3)

Sebagai pedoman pengimplementasian pembelajaran sesuai Kurikulum 2013 pada jenjang sekolah dasar, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebenarnya telah menerbitkan Buku Tematik Terpadu Kurikulum 2013 yang terdiri dari Buku Guru dan Buku Siswa. Buku tematik terpadu ini menjabarkan proses pembelajaran yang akan membantu peserta didik mencapai setiap kompetensi yang diharapkan melalui pembelajaran aktif, kreatif, menantang, dan bermakna serta mendorong mereka untuk berpikir kritis berlandaskan kepada nilai-nilai luhur, dan jika dikaitkan dengan pengertian pembelajaran kontekstual sebagaimana telah disinggung, Buku Tematik Terpadu Kurikulum 2013 sebenarnya telah menerapkan pembelajaran kontekstual. Namun seperti disampaikan Tim Penulisnya, Buku Tematik Terpadu Kurikulum 2013 masih memerlukan peran serta guru untuk mengembangkan dan memperkaya pengalaman belajar peserta didik dengan daya kreasi dalam bentuk kegiatan-kegiatan lain yang relevan dan disesuaikan dengan potensi peserta didik di sekolah masing-masing.

Realita pelaksanaan pembela- jaran PPKn di lapangan sebagaimana hasil observasi awal peneliti di SD Negeri 5 Wonoharjo Kecamatan Pangandaran Kabupaten Pangan- daran, dalam melaksanakan pembelajaran tematik terpadu (termasuk yang mempunyai konten mata pelajaran PPKn) guru masih belum banyak mengembangkan kegiatan-kegiatan atau menggunakan media-media lain yang relevan, pada umumnya guru masih melaksanakan

pembelajaran tahap demi tahap sesuai dengan yang ada pada Buku Tematik Terpadu Kurikulum 2013, sebagai akibatnya tidak jarang peserta didik merasa bosan karena harus mengulang-ulang kegiatan yang sama yang pada akhirnya menyebabkan kurang optimalnya hasil belajar mereka. Realita ini sendiri diindikasikan dengan kurang fokusnya peserta didik dalam mengikuti pembelajaran, kerap kali mereka tidak mengikuti instruksi yang diberikan guru (misalnya untuk membuat ringkasan materi pembelajaran) dan melakukan aktivitas yang tidak berhubungan dengan pembelajaran selama pembelajaran berlangsung seperti mengobrol, bermain, bahkan mengganggu teman-temannya yang sedang belajar.

Salah satu variasi kegiatan yang dapat digunakan dalam pembelajaran tematik terpadu khususnya yang mengandung konten mata pelajaran PPKn adalah penggunaan peta pemikiran (mind map) sebagai alternatif cara mencatat informasi yang terkandung dalam teks bacaan/ sumber belajar. Mind map (atau konsep yang serupa) telah digunakan selama berabad-abad oleh para pendidik, pemikir, engineer, psikolog, dan banyak lainnya untuk brainstorming, berpikir secara visual, dan dalam memecahkan masalah.

Salah satu mind map yang tertua dikembangkan oleh Porphyry of Tyros, seorang pemikir di abad ketiga yang telah memvisualisasikan konsep berfikir Aristoteles, seorang filsuf bernama Ramon Llull yang hidup pada tahun 1235-1315 M. juga telah tercatat menjadi salah seorang pengembang konsep mind map.

(4)

(http://en.wkipedia.com/mind_map.h tm)

Perkembanagan mind map di era moderen diprakarsai oleh seorang psikolog bernama Tony Buzan.

Buzan mengatakan bahwa seorang pembaca menelusuri bacaannya secara keseluruhan halaman dengan metode non-linier. Mind map dikembangkan oleh Tony Buzan sebagai cara untuk mendorong peserta didik untuk mampu mencatat hanya dengan menggunakan kata- kata kunci dan gambar (Buzan:

2002). Sugiarto (2004: 75) mengemukakan bahwa “Pemetaan pikiran (mind mapping) adalah teknik meringkas bahan yang perlu dipelajari, dan memproyeksikan masalah yang dihadapi ke dalam bentuk peta atau teknik grafik

sehingga lebih mudah

memahaminya”.

Pemetaan pikiran merupakan teknik visualisasi verbal ke dalam gambar. Peta pikiran sangat bermanfaat untuk memahami materi, terutama materi yang diberikan secara verbal. Peta pikiran bertujuan membuat materi pelajaran terpola secara visual dan grafis yang akhirnya dapat membantu merekam, memperkuat, dan mengingat kembali informasi yang telah dipelajari (Jensen, 2002: 95).

Teori yang dijadikan acuan sebagai landasan penggunaan media mind map adalah Dale’s Cone of Experience (Arsyad, 2011: 10). Teori Kerucut Edgar Dale memberikan gambaran bahwa pengalaman belajar yang diperoleh peserta didik dapat melalui proses perbuatan atau mengalami sendiri apa yang dipelajari, proses mengamati dan mendengarkan melaui media

tertentu, dan proses mendengarkan melalui bahasa. Semakin konkret peserta didik mempelajari bahan pengajaran semakin banyaklah pengalaman yang diperoleh peserta didik. Dalam pembuatan mind map, selain berhadapan dan dihadapkan pada materi pembelajaran berupa teks yang harus dirangkum atau dibuatkan resumenya dalam bentuk teks pula, peserta didik diajak untuk menggunakan berbagai gambar dan simbol untuk merangkum atau meresume materi pembelajaran yang didapatnya. Meskipun posisinya tidak terlalu jauh namun penggunaan media gambar dalam kerucut pengalaman dale memberikan makna pembelajraan yang lebih baik bagi belajar peserta didik. Selain itu tata letak mind map yang tidak berurutan

memungkinnya untuk

menambahkan, menyisipkan maupun membuat relasi dari catatan atau resume dengan lebih mudah tidak seperti dalam metode pencatatan biasa yang berdifat sekuensial (berurutan) penambahan, penyisipan serta pembuatan relasi antara bagian catatan dengan tetap mudah dipelajari relatif lebih sulit dilakukan.

Satu hal lagi yang sangat bermakna dari penggunaan mind map sebagai pengganti catatan dalam pembelajaran adalah daya tariknya karena menggunakan gambar dan simbol, ketertarikan atau minat peserta didik untuk membuka dan melihat kembali catatan merupakan modal awal yang baik bagi mereka dalam upaya untuk mempelajari dan memahami apa yang ada di dalamnya dan ketertarikan mereka untuk membuka, melihat dan membaca kembali catatan mereka

(5)

diharapkan akan dapat meningkatkan hasil belajar mereka yang menjadi tujuan utama dari tujuan pembelajaran.

Secara praktis penelitian ini cukup penting dilakukan untuk mengoptimalkan hasil belajar peserta didik khususnya pada Mata Pelajaran PPKn Materi Pokok Toleransi Terhadap Keragaman di Kelas IV SD Negeri 5 Wonoharjo Kecamatan

Pangandaran Kabupaten

Pangandaran Tahun Pelajaran 2018/2019 karena jika tidak dilakukan, bukan tidak mungkin akan menyebabkan semakin kurang memuaskannya hasil belajar peserta didik khusunya dalam materi pembelajaran tersebut sebagaimana telah teramati dari hasil penelitian pendahuluan yang telah dilakukan penulis

Metode Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif yaitu suatu penelitian yang dilandasi suatu asumsi bahwa suatu gejala dapat diklasifikasikan dan hubungan gejala bersifat kausal (Sugiyono, 2016:8), dalam penelitian kuantitatif data-data yang diperoleh sebagai hasil penelitian disajikan dalam bentuk angka. Metode penelitian yang

digunakan adalah metode

eksperimen yaitu penelitian dengan memberikan perlakuan tertentu terhadap sampel penelitian untuk mengetahui pengaruhnya dibanding terhadap yang lain dalam suatu kondisi tertentu. Sedangkan desain yang digunakan adalah true experimental design dengan bentuk pretest postest control grup design.

Dalam penelitian ini sampel dibagi atas dua kelompok yaitu satu kelas ekperimen dan satu kelas kontrol. Kelas eksperimen adalah kelas yang peserta didiknya mengikuti pembelajaran (mendapat perlakuan) menggunakan pembelaj- aran kontekstual berbantuan mind map, sedangkan kelas kontrol adalah kelas yang peserta didiknya mengikuti pembelajaran (mendapat perlakuan) menggunakan pembela- jaran kontekstual dengan menggu- nakan buku siswa.

Sumber : Sugiyono (2016:76) Gambar 1 Diagram Desain Penelitian Pretest Posttest Control Group Design

Keterangan :

O1 : Hasil pre-test kelas

O3 : Hasil pre-test kelas kontrol O2 : Hasil Pos-tes kelas eksperimen O4 : Hasil Pos-tes kelas kontrol R : Random (pemilihan sampel dilakukan secara acak) X : Treatment (tindakan yang diteliti)

populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peserta didik kelas IV SD Negeri 5 Wonoharjo yang terdiri dari dua rombongan belajar dengan jumlah total peserta didik sebanyak 29 orang. Dalam penelitian yang dilakukan teknik sampling yang digunakan adalah teknik sampling jenuh sesuai pendapat Riduan dan Akdon (2010:248) yang menyatakan bahwa teknik sampling jenuh dapat dilakukan jika populasinya kurang dari 30. Populasi dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol

R O1 X O2 R O3 O4

(6)

dengan menggunakan teknik cluster random sampling.

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pembelajaran kontekstual yang digunakan dalam pembelajaran PPKn Materi Pokok Toleransi Terhadap Keragaman di Kelas IV SD Negeri 5 Wonoharjo Kecamatan Pangandaran Kabupaten Pangandaran selama penelitian dengan sub variabel pembelajaran kontekstual dengan menggunakan mind map (X1) dan pembelajaran kontekstual dengan menggunakan media buku siswa (X2), sedangkan variabel terikatnya adalah hasil belajar pembelajaran PPKn Materi Pokok Toleransi Terhadap Keragaman di Kelas IV SD Negeri 5 Wonoharjo Kecamatan Pangandaran Kabupaten Pangandaran (Y).

Pengumpulan data dilakukan dengan teknik tes, berupa tes awal dan tes akhir dengan menggunakan instrumen berupa butir soal berbentuk soal isian dan soal uraian dengan maksud untuk mengurangi bias hasil penelitian karena adanya unsur tebak-tebakan dari sampel.

Pengujian instrumen berupa uji validitas dan uji reliablitas dilakukan dengan menggunakan responden sebanyak 30 orang peserta didik kelas V SD Negeri 5 Wonoharjo Kecamatan Pangandaran Kabupaten Pangandaran dengan dasar pertimbangan responden mempunyai karakteristik yang hampir sama dengan populasi yang diteliti.Uji validitas dilakukan melalui analis korelasi Product Moment dengan hasil menunjukkan seluruh butir item soal mempunyai nilai korelasi antara 0,388 – 0,790.

Dengan menggunakan pendapat Masrun yang mensaratkan nilai

korelasi minimal 0,3 untuk dapat dinyatakan valid (Sugiyono, 2016:133), maka seluruh instrumen yang digunakan dapat dinyatakan valid untuk digunakan. Uji validitas dilakukan menggunakan rumus Alfa Cronbach dengan hasil untuk soal isian mendapat nilai 0,616 dan soal uraian 0,797 yang jika diuji dengan menggunakan kriteria uji validitas menurut Arikunto (2010:167), dapat disimpulkan bahwa semua instrumen yang digunakan mempunyai reliabilitas yang tinggi.

Penganalisaan data menggu- nakan gabungan analisis deskriptif dan analisis komparatif sebagai berikut:

1. Tabulasi data terhadap data hasil penelitian

2. Pengukuran gejala pusat berdasarkan hasil pretes dan postes masing-masing kelas.

(analisis deskriptif)

3. Menentukan metode analisis statistik inferensial yang digunakan, karena jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian relatif kecil (hanya 25 orang peserta didik), maka sesuai dengan pendapat Santoso (2010:4) yang menyatakan bahwa jika jumlah data terlalu sedikit (kurang dari 30) meskipun data yang digunakan berskala interval atau rasio

dimungkinkan untuk

menggunakan metode non parametrik dengan uji Mann- Witney U sebagai pengganti Uji-t untuk data independent.

4. Melakukan uji beda hasil pretes, kriterianya jika hasil uji beda tidak terdapat perbedaan signi- fikan antara hasil test kelas eksperimen dan kelas kontrol

(7)

maka uji hipotesis dapat langsung dilakukan melalui uji beda hasil post tes, namun jika menunjukkan hasil yang berbeda secara signifikan, maka uji hipotesis dilakukan melalui uji beda gain test (selisih pretes dan post tes) kelas eksperimen dan kelas kontrol.

5. Melakukan pengujian hipotesis dengan menggunakan dengan Uji Mann-Whitney-U sesuai hasil uji beda pre-tes yang telah dilakukan.

Hasil Penelitian dan Pembahasan a. Hasil Pre-test

Tabulasi hasil tes pre-tes yang dilaksanakan sebelum pemberi- an perlakuan berupa pembelajaran PPKn pada materi pokok toleransi terhadap keragaman di kelas eksperimen dan kontrol dapat dilihat melalui tabel berikut:

Tabel 1

Rekapitulasi Hasil Pre Test

No .

Kelas

Eksperimen Kontrol

1 60.0 53.3

2 50.0 56.7

3 60.0 53.3

4 56.7 66.7

5 70.0 60.0

6 63.3 56.7

7 56.7 50.0

8 50.0 53.3

9 63.3 56.7

10 60.0 60.0

11 63.3 56.7

12 60.0 50.0

13 53.3 53.3

14 43.3 56.7

15 56.7

Selanjutnya hasil analisis gejala pusat (Central Tendency) hasil

pre test dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 2

Nilai-nilai Gejala Pusat Hasil Pretes Nilai_Pretes_

Eks Nilai_Pretes _Kon

N Valid 14 15

Mean 57.8 56.0

Median 60.0 56.7

Mode 60.0 56.7

Std. Deviation 6.9 4.2

Variance 47.2 17.9

Range 26.7 16.7

Nilai_Pretes_

Eks

Nilai_Pretes _Kon

Minimum 43.3 50.0

Maximum 70.0 66.7

Hasil analisis diatas menunjukkan bahwa hasil pre-tes kelas eksperimen berada pada rentang nilai 43,3 sampai dengan 70 dengan nilai rata-rata hanya mencapai 57,8 dan simpangan baku sebesar 6,9. Hasil belajar peserta didik dikategorikan kurang. Hasil pre-tes kelas kontrol berada pada rentang nilai 50 sampai dengan 66,7 dengan nilai rata-rata hanya mencapai 56,0 dan simpangan baku sebesar 4,2. Hasil belajar peserta didik dikategorikan kurang

b. Hasil Post-test

Tabulasi hasil tes pos-tes yang dilaksanakan setelah pemberian perlakuan berupa pembelajaran PPKn pada materi pokok toleransi terhadap keragaman di kelas eksperimen dan kontrol dapat dilihat melalui tabel berikut:

Tabel 3

Rekapitulasi Hasil Post Test

No .

Kelas / Kelompok Perlakuan Eksperimen Kontrol

1 93.3 70.0

2 93.3 80.0

3 100.0 76.7

(8)

No .

Kelas / Kelompok Perlakuan Eksperimen Kontrol

4 93.3 93.3

5 100.0 83.3

6 90.0 100.0

7 76.7 83.3

8 83.3 83.3

9 90.0 86.7

10 90.0 90.0

11 93.3 83.3

12 100.0 70.0

13 80.0 80.0

14 86.7 76.7

15 93.3

Selanjutnya hasil analisis gejala pusat (Central Tendency) hasil pos test dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4

Nilai-nilai Gejala Pusat Hasil Postes Nilai_Posttest_

Eks Nilai_Posttest_

Kon

N Valid 14 15

Mean 90.7 83.3

Median 91.6 83.3

Mode 93.3 83.3

Std.

Deviation 7.2 8.4

Variance 51.5 71.3

Range 23.3 30.0

Minimum 76.7 70.0

Maximum 100.0 100.0

Sum 90.7 83.3

Hasil analisis diatas menunjukkan bahwa hasil pos-tes kelas eksperimen berada pada rentang nilai 76,7 sampai dengan 100 dengan nilai rata-rata telah mencapai 90,7 dan simpangan baku (standar deviation) sebesar 7,2. Hasil belajar peserta didik dikategorikan kurang.

Hasil pos-tes kelas kontrol berada pada rentang nilai 70 sampai dengan 100 dengan nilai rata-rata hanya mencapai 83,3 dan simpangan baku (standar deviation) sebesar 8,4. Hasil

belajar peserta didik dikategorikan kurang.

c. Uji Beda Hasil Pretes

Uji beda hasil pretes dilakukan dengan menggunakan metode statistik non parametrik dengan menggunakan rumus Mann Whitney U-Test.

Data hasil analisis uji beda yang dilakukan menggunakan SPSS ver 22 dapat dilihat dari tabel berikut ini

Tabel 5

Hasil Uji Beda Hasil Pretes

Mann-Whitney U 77.000

Wilcoxon W 197.000

Z -1.246

Asymp. Sig. (2-tailed) .213 Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .234

Exact Sig. (2-tailed) .215

Exact Sig. (1-tailed) .108

Hipotesis nol dari uji beda yang dilakukan adalah tidak ada perbedaan signifikan antara hasil pre-test kelas eksperimen dan hasil pre-test kelas kontrol, kriteria pengujian adalah dapat diterima jika nilai signifikasi perhitungan lebih besar dari 0,05 ((Asymp. Sig. (2- tailed)) > 0,05). Dengan memperhatikan nilai-nilai hasil analisis pada tabel 4.14 dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan antara hasil pre-test kelas eksperimen dan hasil pre-test kelas kontrol. Dengan demikian uji hipotesis penelitian dapat ditentukan langsung dengan melakukan uji beda terhadap hasil

(9)

Pos-tes kelas eksperimen dan hasil Pos-tes kelas kontrol

d. Uji Hipotesis

Uji hipoteisis dilakukan berdasarkan hasil uji beda hasil pre tes yang menunjukkan tidak adanya perbedaan signifikan antara hasil pretes kelas eksperimen dan kelas kontrol sehinga uji hipoteisis dapat dilakukan melalui uji beda hasil post tes kelas eksperimen dan kelas kontrol.

Sama seperti uji beda hasil pretes, uji hipotesis dilakukan dengan menggunakan metode statistik non parametrik dengan menggunakan rumus Mann Whitney U-Test.

Data hasil analisis uji beda yang dilakukan menggunakan SPSS ver 22 dapat dilihat dari tabel berikut ini

Tabel 6

Hasil Uji Hipotesis dengan Mann-Whitney U Test

Mann-Whitney U 53.500

Wilcoxon W 173.500

Z -2.272

Asymp. Sig. (2-tailed) .023 Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .023b

Exact Sig. (2-tailed) .022

Exact Sig. (1-tailed) .011

Hipotesis nol dari uji hipotesis yang dilakukan adalah tidak ada perbedaan signifikan antara hasil pos-test kelas eksperimen dan hasil pos-test kelas kontrol, kriteria pengujian adalah dapat diterima jika nilai signifikasi perhitungan lebih besar dari 0,05 ((Asymp. Sig. (1- tailed)) > 0,05). Dengan memperhatikan nilai-nilai hasil

analisis pada tabel 4.15 dapat disimpulkan bahwa hipotesis nol pengujian tidak dapat diterima dengan kata lain hipotesis alternatif pengujian yaitu terdapat perbedaan signifikan antara hasil pre-test kelas eksperimen dan hasil pre-test kelas kontrol yang diterima. Dengan demikian hipotesis penelitian yaitu

“Terdapat pengaruh positif dari

penggunaan pembelajaran

kontekstual menggunakan media mind map terhadap hasil belajar PPKn Materi Pokok Toleransi Terhadap Keragaman di Kelas IV SD Negeri 5 Wonoharjo Kecamatan

Pangandaran Kabupaten

Pangandaran Tahun Pelajaran 2018/2019.” dapat diterima

e. Pembahasan Hasil Penelitian Berdasar data-data hasil test yang dilakukan selama pelaksanaan penelitian, pengaruh penggunaan media mind map secara nyata dapat dilihat dari adanya perbedaan hasil pos tes yang dicapai kelas

eksperimen (kelas yang

melaksanakan pembelajaran kontekstual menggu-nakan media mind map) dan hasil pos tes yang dicapai kelas kontrol (kelas yang melaksanakan pembelajaran kontekstual menggunakan media buku siswa ). Hasil pos tes kelas eksperimen mencapai nilai rata-rata sebesar 90,7 yang jika dihubungkan dengan kategorisasi peserta didik berdasar Kriteria Ketuntatasan Minimum) KKM di SD Negeri 5 Wonoharjo yang ditetapkan sebesar 75 dapat dikategorikan berada pada hasil belajar Baik, sedangkan hasil pos tes kelas kontrol hanya mencapai nilai rata-rata sebesar 83,3 yang berarti dapat dikategorikan kedalam

(10)

hasil belajar Cukup, dan secara kuantitatif perbedaan hasil pos tes kedua kelas tersebut berbeda secara signifikan yang ditentukan melalui uji beda menggunakan rumus Mann Whitney U test

Tabel 4.16

Kriteria Hasil Belajar Peserta Didik Berdasar KKM

Interval Nilai Predikat Hasil Belajar 91,8 – 100 Sangat Baik

(A) 83,4 – 91,7 Baik (B)

75 – 83,3 Cukup (C)

> 75 Kurang (D)

Sumber : Data diolah

Hasil dari penelitian ini ternyata sangat sesuai dengan berbagai teori penggunaan media maupun hasil-hasil penelitian terdahulu yang relevan. Hasil penelitian ini sangat sesuai dengan hasil penelitian yang telah dilakukan Aghniyani Zakiah dalam penyusunan tesisnya yang berjudul “Pengaruh Penerapan Pendekatan Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) Bermedia VCD dan LKS Terhadap Pencapaian Kompetensi Mata Pelajaran Sejarah Ditinjau dari Gaya Kognitif Peserta didik”, jika sebagai kesimpulan penelitiannya Zakiah (2008:153) mengemukakan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar dari peserta didik yang menggunakan bantuan media yang berbeda (dalam hal ini peserta didik yang menggunakan media VCD dan peserta didik yang menggunakan media LKS) meskipun mereka menggunakan pendekatan pembelajaran yang sama yaitu pembelajaran kontekstual. Maka sebagai kesimpulan penelitian ini dapat dikemukakan bahwa

penggunaan media mind map memberikan hasil belajar lebih baik dibandingkan dengan yang tidak menggunakan media mind map atau hanya menggunakan catatan biasa sebagaimana pedoman Buku Tematik Terpadu Kurikulum 2013, meskipun sama-sama menggunakan pembela-jaran kontekstual.

Penggunaan media mind map terbukti memberikan andil yang lebih baik dibandingkan penggunaan catatan biasa sebagaimana digunakan dalam Buku Tematik Terpadu Kurikulum 2013. Melalui media Mind map, pesan-pesan verbal yang terdapat pada teks-teks bacaan sumber belajar diterjemahkan kedalam bentuk grafik dan jaring- jaring yang sesuai dengan cara kerja otak manusia, disisi lain tidak dapat disangkal bahwa secara intrinsik manusia adalah makhluk visual, 70%

rangsangan yang diterima tubuh manusia adalah rangsangan yang melibatkan saraf optis dan pusat pengolahan visual di otak, sehingga tidak mengherankan komponen visual (komponen terpenting dari mind map) merupakan alat bantu untuk mengingat dan alat bantu untuk meningkatkan pemahaman yang sangat kuat (Hyerle and Alper, 2012:xiii). Mind map memanfaatkan kecenderungan alamiah otak untuk berfikir secara visual.

Secara teoritis dengan memperhatikan cara kerja otak manusia serta berbagai teori-teori penyampaian informasi, keunggulan mind map dibanding catatan biasa dalam meningkatkan hasil belajar peserta didik (baik untuk mengingat maupun untuk meningkatkan

pemahaman) hampir tidak

terbantahkan lagi, namun secara

(11)

praktis penulis melihat bahwa peningkatan motivasi belajar serta peningkatan ketertarikan peserta didik terhadap mind map sebagai catatan belajar mereka merupakan modal dasar yang sangat baik dalam upaya meningkatkan hasil belajar peserta didik, penulis melihat sendiri dan mendapat laporan dari guru kelas yang digunakan sebagai kelas eksperimen dalam penelitian, banyak peserta didik yang membuka kembali dan melengkapi mind map yang mereka buat bahkan hingga beberapa hari setelah penelitian dilaksanakan, suatu hal yang tidak terjadi pada peserta didik yang hanya menggunakan catatan biasa untuk merekam informasi dari teks-teks bacaan yang menjadi sumber belajar.

Meskipun sama-sama berfungsi sebagai media untuk mengingatkan peserta didik terhadap materi

pembelajaran yang telah

disampaikan, mind map dengan komponen visualnya terbukti memberikan hasil belajar lebih baik bagi peserta didik dibandingkan dengan penggunaan catatan biasa, sehingga tidak ada salahnya jika para guru mempertimbangkannya untuk menggunakan mind map dalam menyampaikan materi pembelajaran kepada peserta didiknya serta memperkenalkan dan menganjurkan penggunaan mind map pada peserta didiknya sebagai pengganti catatan mereka.

Simpulan dan Saran

Berdasarkan analisis dan pembahasan terhadap data-data penelitian yang telah diperoleh serta sesuai rumusan masalah yang telah ditetapkan, sebagai kesimpulan dari penelitian ini adalah :

1. Hasil belajar PPKn pada Materi Pokok Toleransi Terhadap Keragaman di Kelas IV SD Negeri 5 Wonoharjo Kecamatan Pangandaran Kabupaten Pangandaran Tahun Pelajaran 2018/2019 dengan menggunakan pembelajaran kontekstual menggunakan media mind map mencapai nilai rata-rata 90,7 atau dapat dikategorikan sebagai hasil belajar yang baik.

2. Hasil belajar PPKn pada Materi Pokok Toleransi Terhadap Keragaman di Kelas IV SD Negeri 5 Wonoharjo Kecamatan Pangandaran Kabupaten Pangandaran Tahun Pelajaran 2018/2019 dengan menggunakan pembelajaran kontekstual menggunakan media buku siswa mencapai nilai rata-rata 83,3 7 atau dapat dikategorikan sebagai hasil belajar yang cukup.

3. Penggunaan pembelajaran kontekstual menggunakan media mind map dalam pembelajaran PPKn pada Materi Pokok Toleransi Terhadap Keragaman di Kelas IV SD Negeri 5

Wonoharjo Kecamatan

Pangandaran Kabupaten Pangandaran Tahun Pelajaran 2018/2019 memberikan hasil lebih baik dibandingkan dengan pembelajaran kontekstual menggunakan media buku siswa .

Sebagai tindak lanjut hasil penelitian yang telah diperoleh, peneliti memberikan saran/

rekomendasi sebagai berikut : Pertama, berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan para guru

mempertimbangkan untuk

menggunakan mind map dalam

(12)

menyampaikan materi pembelajaran kepada peserta didiknya dan memperkenalkan serta menganjurkan penggunaan mind map pada para peserta didiknya sebagai pengganti catatan mereka untuk meningkatkan daya ingat serta pemahaman mereka terhadap materi pembelajaran yang telah disampaikan; Kedua, hasil penelitian ini dapat dijadikan referensi serta masukan bagi penelitian sejenis terutama untuk mengembangkan penggunaan serta pemanfaatan Buku Tematik Terpadu Kurikulum 2013 yang talah diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia; Ketiga, hasil penelitian ini diharapkan dapat disosialisasikan kepada berbagai stake holder pendidikan khususnya kepada guru sebagai ujung tombak pelaksana pendidikan dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan..

Daftar Pustaka

Akdon, & Ridwan. (2010). Rumus dan Data dalam Analisis

Statistika Cetakan

kedua. Bandung: C.V.Alfabeta Arikunto, Suharsimi, (2010),

Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta, Rineka Cipta

Buzan, Tony. (2002). Buku Pintar Mind Map. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Hyerle & Alper. (2012). Peta Pemikiran : Penelitian Berbasis Sekolah, Hasil dan Model untuk Prestasi dengan Menggunakan Peralatan Visual. Jakarta:

PT.Indeks

Jensen, Eric. (2008). Brain Based Learning. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Johnson, Elaine B.

(2006). Contextual Teaching and Learning. Mizan Learning Center (MLC). Bandung

Komalasari, Kokom.

(2010). Pembelajaran

Kontekstual: Konsep dan Aplikasi. Refika Aditama.

Bandung.

Santoso, Singgih, (2010). Statistik Non Parametrik. Jakarta : PT.Elex Media Komputindo

Somantri, M.Numan.

(2001). Menggagas

Pembaharuan Pendidikan IPS.

Bandung : Remaja Rosda Karya

Sugiarto, Iwan,

(2004). Mengoptimalkan Daya Kerja Otak Dengan berfikir Holistik dan Kreatif, Jakarta: PT Gramedia, 2004

Sugiyono, (2016), Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif R&D, Bandung, CV. Alfabeta

(13)

Referensi

Dokumen terkait

PPKn adalah mata pelajaran yang digunakan sebagai wahana untuk mengembangkan dan melestarikan nilai luhur dan moral yang berakar pada budaya bangsa Indonesia yang

Akibatnya mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dianggap sebagai mata pelajaran hafalan, yang penting peserta didik dapat dalil politik, lembaga-lembaga

Kepada guru mata pelajaran PPKn diharapkan dapat meningkatkan kreativitas dalam mengajar, memperhatikan kebutuhan-kebutuhan peserta didik, dan dapat menggunakan strategi

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan didapati bahwa proses penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dalam pembelajaran daring pada mata pelajaran PPKn oleh guru kelas VII,

Pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah pengembangan Lembar Kerja Peserta Didik berbasis problem solving materi wilayah NKRIpada mata pelajaran PPKn untuk

Menggunakan media pembelajaran yang relevan dengan karakteristik peserta didik untuk mata pelajaran PPKn dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran secara utuh.

Menggunakan media pembelajaran yang relevan dengan karakteristik peserta didik untuk mata pelajaran PPKn dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran secara

Melalui permainan ular tangga dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran PPKn utamanya pada pokok bahasan Hak Asasi Manusia. Disamping itu melalui