Di sisi lain, pencantuman indikator dan kriteria daerah belum muncul dalam rencana perluasan jalan tol Bawen-Yogyakarta. Terlihat pada laporan KPPIP (2017), perencanaan perluasan jalan tol Bawen – Yogyakarta masih fokus pada kriteria geoteknik, lingkungan hidup, dan sosial. Salah satu aspek penting dalam perencanaan pembangunan jalan tol yang memperhatikan paradigma integrasi adalah penentuan alinyemen jalan.
Implementasi Perencanaan Perluasan Jalan Tol Bawen – Yogyakarta Menggunakan Analisa Spasial Multi Kriteria dan Least Cost Path Analysis yang Dikombinasi dengan AHP. Identifikasi kriteria yang digunakan dalam perencanaan alinyemen jalan tol Bawen - Yogyakarta, beserta data yang digunakan dalam analisis alinyemen. Mengembangkan model alternatif perencanaan perluasan jalan tol Bawen - Yogyakarta menggunakan analisis spasial multi kriteria dan AHP.
Pemetaan kriteria, subkriteria dan kriteria alternatif digunakan dalam model alternatif perencanaan alinyemen jalan tol Bawen – Yogyakarta. Investigasi alinyemen alternatif jalan tol Bawen – Yogyakarta menggunakan model perencanaan alinyemen alternatif berdasarkan analisis spasial multi kriteria dan AHP. Kajian perbandingan rencana alinyemen jalan tol Bawen – Yogyakarta hasil kombinasi analisis spasial multi kriteria dan AHP dengan jalur preferensi pemerintah.
Perencanaan alinyemen jalan tol dengan memperhatikan aspek keterpaduan dapat diwujudkan melalui kombinasi analisis spasial multikriteria yang dipadukan dengan Analytical Hierarchical Process (AHP).
Metode Penelitian
Pendekatan Penelitian
Pendekatan post-positivis sangat mirip dengan pendekatan penelitian kuantitatif, karena dalam identifikasi dan observasi digunakan angka-angka sebagai alat ukurnya. Penelitian yang berlandaskan paradigma post-positivis sebagian besar merupakan uji teori, dimana data dikumpulkan untuk mendukung atau menyangkal teori tersebut, untuk kemudian dikoreksi dan diuji ulang. Berdasarkan paradigma post-positivis seperti yang telah diuraikan di atas, maka pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif, dimana ukuran realitas direpresentasikan dalam bentuk angka-angka (Creswell, 2014), atau dalam konteks perencanaan pembangunan daerah dalam bentuk spasial. struktur kuantitatif, yang disebut model spasial (Bernstein et al. 1973).
Lebih lanjut, Bernstein dkk (1973) merumuskan tiga langkah pemodelan spasial dalam perencanaan kota/wilayah dalam tiga langkah, dimana ketiga langkah tersebut akan diadopsi dalam penelitian ini. Langkah-langkah tersebut terdiri dari: (1) menentukan informasi relevan mengenai permasalahan daerah, yang digambarkan dalam bentuk model; (2) merumuskan alternatif penjelasan dari kenyataan di lapangan melalui model, menerapkan langkah-langkah kebijakan terhadap model tersebut untuk mengetahui sejauh mana perubahan dari kondisi awal terjadi; dan (3) menilai dampak yang terjadi dengan menghitung perubahan dari kondisi model awal hingga kondisi pasca implementasi.
Obyek dan Subyek Penelitian .A Obyek Penelitan
B Subyek Penelitan
Pengumpulan Data .A Identifikasi Kriteria
B Jenis dan Sumber Data
Peta gempa Indonesia 2017 (Kementerian PUPR) Data sekunder struktur bumi Data struktur bumi Resolusi global 250 meter (ISRIC . – World Earth Information). Data Sekunder Harga Tanah 2016 Peta Zona Nilai Tanah (LVP) Data Sekunder Kondisi Geologi dan. Peta Jaringan Jalan Nasional Tahun 2015 (Kementerian PUPR) dan Jaringan Jalan Provinsi/Kabupaten (Dinas Pekerjaan Umum Provinsi/Kabupaten).
Hasil Studi Kelayakan Proyek Pembangunan Jalan Tol Bawen - Yogyakarta (Ditjen Bina Marga Kementerian PUPR).
C Pemangku Kepentingan (Stakeholder) yang Dilibatkan
D Teknik Pengumpulan Data
D.1 Teknik Pengumpulan Data Primer
Observasi lapangan dilakukan terutama untuk memperoleh informasi tambahan mengenai perbandingan versi rute hasil survei dengan kajian pemerintah. Selain itu, observasi lapangan juga dilakukan untuk memperbaharui data dan informasi dari data sekunder yang perlu diperiksa dan dimutakhirkan, seperti lokasi industri baru, tempat wisata baru, dan perubahan penggunaan lahan.
D.2 Teknik Pengumpulan Data Sekunder
Analisis Data
A Pengurutan Hirarkis Faktor dan Kriteria
Dalam penelitian ini urutan hierarki kriteria dan subkriteria yang digunakan merupakan hierarki yang tidak lengkap. Hal ini disebabkan karena setiap alternatif pada setiap kriteria atau subkriteria tertentu tidak berkaitan dengan kriteria dan subkriteria lainnya.
B Pembobotan Kriteria dan Sub Kriteria Menggunakan AHP
7 Unsur yang satu jelas lebih penting dibandingkan unsur lainnya. 9 Unsur yang satu mutlak lebih penting dibandingkan unsur lainnya. Hitung nilai elemen kolom variabel dengan rumus setiap elemen kolom dibagi jumlah matriks kolom. Hitung nilai prioritas kriteria dengan rumus penjumlahan matriks baris dari langkah 4 dan hasilnya 5 dibagi banyaknya kriteria.
Susun subkriteria yang telah ditentukan dalam bentuk matriks berpasangan untuk setiap subkriteria. Setiap matriks berpasangan antar subkriteria sebanyak n matriks, setiap matriks ditambah per kolom. Perhitungan nilai prioritas subkriteria untuk setiap matriks berpasangan antar subkriteria dengan rumus seperti pada langkah 4 dan 5.
Menguji konsistensi setiap matriks berpasangan antara kriteria dan subkriteria dengan rumus setiap elemen matriks berpasangan pada langkah ke 2 dikalikan dengan nilai prioritas kriteria/subkriteria. Jika CR < 0,1 maka nilai perbandingan berpasangan pada matriks variabel yang diberikan hasilnya berarti konsisten. Jika CR > 0,1, maka nilai perbandingan berpasangan pada matriks kriteria/subkriteria yang diberikan tidak konsisten.
Hasil akhir berupa bobot prioritas global kriteria dan subkriteria yang digunakan sebagai nilai urgensi setiap kriteria dan subkriteria dalam analisis spasial multikriteria. Untuk mengintegrasikan bobot kriteria dan subkriteria dari berbagai sumber yang terlibat, maka hasil bobot seluruh sumber dirata-ratakan menggunakan teknik penyelarasan geometri. Rekayasa penyelarasan geometrik lebih disukai daripada penyelarasan aritmatika karena yang diintegrasikan adalah nilai bobot tiap sumber daya, bukan urutan prioritas tiap sumber daya.
Oleh karena itu, hukum inversi berlaku sesuai dengan aksioma pertama AHP (hasil dari 2*5 adalah kebalikan dari apa yang hanya dapat dipenuhi oleh mean geometrik (Forman dan Peniwati, 1998). Sehingga menghasilkan nilai bobot total sebesar 1. atau 100%, nilai bobot yang diperoleh dari hasil perhitungan mean geometrik dinormalisasi menggunakan rumus di bawah ini.
C Standarisasi Skor Alternatif Kriteria
Penelitian ini tidak menggunakan pendekatan statistik untuk menentukan keanggotaan kriteria alternatif pada suatu kelas kebugaran, melainkan menggunakan pendekatan statistik. Oleh karena itu survei wawancara dan kuisioner pada penelitian ini tidak hanya dimaksudkan untuk memperoleh informasi sebagai masukan pada proses AHP saja, namun juga untuk memperoleh informasi rekomendasi klasifikasi terhadap kriteria alternatif. Evaluasi Spasial Multi-kriteria memerlukan nilai bobot setiap kriteria dan subkriteria untuk menentukan variabel mana yang paling penting untuk menentukan yang paling sesuai.
Proses penentuan rute terbaik untuk rencana jalan tol pada penelitian ini menggunakan teknik analisis rute paling murah. Pada penelitian ini CCS diperoleh dari hasil superimposisi data baseline yang berbeda (lihat Tabel 1.2) yang dirangking, diberi skor, dan nilai bobot dihitung berdasarkan hasil AHP. Dari titik tersebut, nilai biaya kumulatif untuk setiap piksel tetangga kemudian dihitung berdasarkan nilai biaya awal titik piksel tersebut dan nilai biaya piksel yang berdekatan.
Perhitungan ACS baik secara isotropik maupun anisotropik memerlukan data CCS yang diperoleh dari hasil operasi WLC. Bedanya pada pendekatan anisotropik, pengoperasian anisotropik memerlukan dua input lain selain memerlukan informasi CCS, yaitu data faktor horizontal dan data faktor vertikal. Faktor horizontal akan menentukan hambatan (gesekan) yang akan meningkatkan biaya pergerakan horizontal (0 hingga 360 derajat), sedangkan faktor vertikal akan menentukan hambatan saat bergerak vertikal ke atas (0 hingga 90 derajat) atau ke bawah (0 hingga -90). derajat).
Penelitian ini menggunakan pendekatan anisotropik, oleh karena itu faktor topografi melalui penggunaan DEM pada penelitian ini tidak dimasukkan dalam analisis spasial multi kriteria dan operasi WLC untuk menentukan CCS, namun dimasukkan dalam penentuan ACS, seperti horizontal faktor (arah menghadap lereng). , faktor vertikal (kemiringan), serta jarak diatas permukaan bumi (surface distance). Penerapan Faktor Horisontal dan Faktor Vertikal pada definisi anisotropik ACS di perangkat lunak ArcGIS dapat dilakukan dengan terlebih dahulu menyusun tabel faktor horizontal dan tabel faktor vertikal. Format tabel faktor horizontal dan vertikal terdiri dari dua kolom, kolom pertama menunjukkan sudut faktor yang bersangkutan, dan kolom kedua menunjukkan nilai beban (biaya) yang ditempatkan pada sudut tersebut.
Pada Gambar 1.6 terdapat dua kriteria penentuan alinyemen jalan, yaitu kemiringan lereng dan penggunaan lahan. Dari CCS yang terbentuk pada Gambar 1.6, perhitungan ACS dapat dilakukan dengan menghitung akumulasi sesuai rumus akumulasi biaya, dimulai dari titik awal piksel. Misalnya, nilai piksel ACS pada piksel kedua di sebelah kanan piksel titik awal adalah 9.
Nilai tersebut diperoleh dengan menjumlahkan nilai biaya piksel pertama di sebelah kanan piksel awal yang bernilai 6,75 ditambah piksel kedua yang bernilai 4,5, kemudian dibagi 2 dan ditambah dengan nilai ACS piksel pertama. . di sebelah kanan titik awal yaitu bernilai 3,375, dan seterusnya. Sedangkan untuk identifikasi jalur terbaik, analisis jalur biaya terkecil dilakukan dengan cara mengidentifikasi piksel dengan nilai ACS terendah dimulai dari titik akhir hingga titik awal (backlink).
F Penentuan Titik Awal dan Titik Akhir Trase Jalan Tol
Titik awal dan akhir seperti yang dijelaskan di atas digunakan sebagai lokasi awal dan akhir alinyemen jalan pada analisis ACS dan LCP.
G Diagram Proses Analisis
H Komparasi dan Evaluasi Dengan Trase Pemerintah
Topografi - Panjang lereng yang dilalui jalur kawasan lindung - Panjang kawasan lindung yang dilalui jalur Nilai tanah - Perkiraan biaya pembebasan lahan sepanjang.
Kerangka Analisis
Keterbatasan Penelitian