• Tidak ada hasil yang ditemukan

66554-168055-1-PB (1)

N/A
N/A
Dini Hariyati Adam

Academic year: 2025

Membagikan "66554-168055-1-PB (1)"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Efektifitas Asap Cair Tandan Kosong Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) sebagai Fungisida Alami Penghambat Pertumbuhan

Jamur Colletotrichum sp.

Effectiveness of Liquid Smoke from Empty Oil Palm Bunches (Elaeis guineensis Jacq.) as a Natural Fungicide to Inhibit the

Growth of Colletotrichum sp. Fungus.

Dini Hariyati Adam

Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Labuhanbatu, Sumatera Utara, Indonesia Email: [email protected]

ABSTRAK

Antraknosa merupakan hama utama yang menyerang tanaman cabai merah.

Aplikasi fungisida sintetik dalam jangka panjang dapat meninggalkan residu dalam tanah yang sulit terdegradasi sehingga berdampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas asap cair tandan kosong kelapa sawit yang berpotensi menjadi fungisida nabati sebagai penghambat pertumbuhan jamur Colletotrichum sp.

pasca panen. Asap cair tandan kosong kelapa sawit diketahui mengandung senyawa antioksidan yang berperan sebagai antifeedant, racun kontak dan racun lambung bagi hama tanaman yang berpotensi menjadi fungisida nabati untuk menghambat pertumbuhan jamur Colletotrichum sp. Penelitian ini menggunakan metode pirolisis dalam pembuatan asap cair dengan variasi suhu 350 oC, 400 oC dan 450 oC serta menentukan kadar fenol total.

Uji daya hambat ekstrak terhadap jamur Colletotrichum sp. Hal ini dilakukan dengan menggunakan cakram kertas yang direndam dalam asap cair selama waktu tertentu. Hasil uji kualitatif menunjukkan bahwa kadar total fenol tertinggi diperoleh pada suhu pirolisis 450oC sebesar 12,57%

dengan volume asap cair yang dihasilkan sebesar 790 mL. Uji zona hambat jamur menunjukkan hasil paling optimal pada konsentrasi asap cair TKKS sebesar 20 dan 30% dengan suhu pirolisis 450oC yang memberikan respon penghambatan sangat kuat terhadap pertumbuhan jamur Colletotrichum sp dengan nilai rata-rata masing-masing sebesar 4, 28 dan 7,73

Kata Kunci: Asap cair, fungisida, Colletotrichum sp

ABSTRACT

Anthracnose is the main pest that attacks red chili plants. Prolonged application of synthetic fungicides can leave residues in the soil that are difficult to degrade, resulting in negative impacts on the environment and human health. This research aims to test the effectiveness of liquid smoke from empty oil palm fruit bunches which has the potential to become a vegetable fungicide as an inhibitor of the growth of Colletotrichum sp. post- harvest. Liquid smoke from empty oil palm fruit bunches is known to contain antioxidant compounds which act as antifeedants, contact poisons and gastric poisons for plant pests which have the potential to become vegetable fungicides to inhibit the growth of Colletotrichum sp. This

(2)

research used the pyrolysis method in making liquid smoke with temperature variations of 350 oC, 400 oC and 450oC and determined the total phenol content. Test the inhibitory power of the extract against the fungus Colletotrichum sp. This is done using paper discs soaked in liquid smoke for a certain time. Qualitative test results show that the highest total phenol content was obtained at a pyrolysis temperature of 450oC of 12.57% with a volume of liquid smoke produced of 790 mL. The fungal inhibition zone test showed the most optimal results at TKKS liquid smoke concentrations of 20 and 30% with a pyrolysis temperature of 450oC which provided a very strong inhibitory response to the growth of the fungus Colletotrichum sp with average values of 4, 28 and 7.73 respectively.

Keywords: Liquid smoke, fungicide, and Colletotrichum sp

PENDAHULUAN

Indonesia dikenal sebagai negara beriklim tropis dengan sumberdaya alamnya yang berlimpah. Kondisi iklim tersebut menjadi alasan yang tepat bagi penduduk indonesia untuk bergerak di sektor pertanian khususnya tanaman holtikultura. Tanaman holtikultura merupakan tanaman yang memiliki nilai jual tinggi karena dapat menjadi sumber penghasilan bagi para petani. Tanaman cabai merah merupakan salah satu jenis tanaman hortikultura sayuran buah yang sangat disukai masyarakat. Namun, hasil produksinya belum didapatkan secara maksimal. Salah satu jenis tanaman hortikultura sayuran buah yang sangat disukai masyarakat adalah cabai merah.

Namun, produktivitasnya belum diperoleh secara optimal (Purwantisari, 2023). Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi produksi tanaman cabai merah, diantaranya adalah ketersediaan unsur hara tanah, serangan penyakit dan hama, dan faktor cuaca (Annisa dan Shaleh, 2010).

Tanaman cabai merah sering diserang hama antraknosa atau yang dikenal sebagai patek pada tanaman.

Serangan hama ini disebabkan oleh jamur patogen seperti Colletotrichum capsici (Suyanti, 2020). Gejala yang ditunjukkan oleh serangan hama ini adalah

terdapatnya bercak coklat kehitaman pada permukaan buah cabai (Hidayat, et al 2017). Jamur patogen ini dapat menurunkan hasil produksi tanaman cabai merah karena hama dapat bertahan hidup di tanaman yang tersisa dan membawa biji atau benih tanaman cabai dan buah sakit, menyebabkan gagal panen (Melani dan Dewi 2020).

Pada umumnya para petani mengendalikan jamur pada tanaman dengan memberikan fungisida kimia.

Pemberian fungisida kimia yang berlangsung lama dapat meninggalkan residu pada tanah yang sulit untuk didegradasi, yang berdampak negatif pada lingkungan dan kesehatan manusia.

Selain itu, penggunaan fungisida sintetik yang terus menerus dapat menyebabkan resistensi terhadap bakteri patogen.

Sehingga, penggunaannya dikombinasi- kan dengan fungisida organik dengan tingkat toksisitas yang rendah sehingga relatif lebih aman bagi tanaman dan lingkungan (Zahro, 2023). Penggunaan fungisida sintetik tidak hanya memiliki efek negatif terhadap lingkungan dan kesehatan, tetapi juga memiliki harga yang relatif lebih mahal.

Penggunaan asap cair sebagai fungisida alami merupakan salah satu alternatif dalam mengendalikan hama tanaman yang lebih ramah lingkungan.

(3)

Kandungan fenol, alkohol dan senyawa asam organik yang terdapat pada asap cair menyebabkan asap cair ini memiliki efektifitas yang bagus dalam dalam menghambat pertumbuhan jamur (Agustina, 2020). Asap cair berasal dari hasil pembakaran tidak sempurna pada suhu pirolisis 400oC dari bahan-bahan organik yang kemudian berkondensasi.

bahan-bahan organik untuk pembuatan asap cair pada umumnya berasal dari kayu yang mengandung lignin, selulosa, hemiselulosa, serta senyawa karbon lainnya (Kresnawaty, et al 2017). Dalam kebanyakan kasus, bahan bioaktif yang berasal dari tumbuhan memiliki kemampuan alelopati, yang berarti memiliki kemampuan untuk menghasilkan senyawa biomolekul ke lingkungan, yang dapat berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan organisme lain disekitarnya (Pangestu, et al 2014).

Limbah kelapa sawit yang dijadikan sebagai bahan baku asap cair memiliki kemampuan menghambat jamur Colletotrichum sp., penyebab patek pada tanaman cabai, karena memiliki sifat antijamur. Kemampuan daya hambat asap cair terhadap pertumbuhan jamur dipengaruhi oleh jenis bahan baku yang digunakan saat proses pembuatan, temperatur pirolisis dan senyawa kimia yang terkandung dalam asap cair (Mahmud, et al 2021). Beberapa penelitian yang terkait menunjukkan bahwa pemberian asap cair tandan kelapa sawit kosong (TKKS) dengan konsentrasi 10% memiliki kemampuan menurunkan intensitas serangan hama Colletotrichum sp. sebesar 24,83%, dan menambah jumlah daun sebesar 8,36%, berat basah tanaman sebesar 127,39% (Sari., 2018).

Jamur ini dikenal sebagai penyebab munculnya penyakit antraknosa pada beberapa tanaman khususnya tanaman

holtikultura (Saputra, et al 2021).

Penelitian ini dilakukan untuk menguji efektifitas Asap Cair Tandan Kosong Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) terhadap daya hambat jamur Colletotrichum sp.

METODE PENELITIAN Bahan kimia

Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu limbah tandan kosong kelapa sawit yang diambil di desa Ujung Gading (dengan koordinat), Kabupaten Labuhanbatu Selatan, Sumatera Utara, NaCO3 1M (merck), pereaksi Folin- ciocalteu, NaOH 1N (merck), asam asetat p.a, serbuk PDA, kloramfenikol 10% dan akuades.

Peralatan

Adapun alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah spektofotometri UV- vis Shimadzu 1800, shaker-vortex (Test Tube Shaker LJ-039), peralatan pirolisis, autoklaf, drum, inkubator, hotplate stirrer (Thermo Scientific Cimarec SP88857105), mikropipet, kertas cakram (484000 MN 827 ATD) diameter 6mm, jangka sorong digital, timbangan analitik USS-DBS15-3, pipet tetes, membran filter 0,2 μm dan peralatan gelas lainnya.

Prosedur Penelitian

Pembuatan asap cair dari Tandan Kosong Kelapa Sawit

Pembuatan asap cair dilakukan sesuai dengan prosedur yang telah digunakan sebelumnya (Santoso, et al 2023). Untuk mempermudah proses pengeringan, tandan kelapa sawit yang kosong dipotong dengan ukuran 10–15 cm.

Sebelum dimasukkan ke dalam tungku pembakaran, bahan baku ditimbang terlebih dahulu untuk mengetahui berat awalnya kemudian dikering anginkan hingga kadar air mencapai 15% dan

(4)

ditimbang kembali. Tandan kosong kelapa sawit yang telah kering dimasukkan ke dalam reaktor anti korosi yang dihubungkan dengan kondensor dan gelas ukur sebagai penampung asap cair.

Pirolisis dilakukan selama dua jam dengan temperatur 300oC dan suhu diukur dengan termometer setiap lima belas menit. Temperatur pembakaran dilakukan pada beberapa variasi yaitu 350, 400, dan 450oC. Asap yang diperoleh selama proses pirolisis dialirkan ke dalam tabung yang berfungsi sebagai kondensor, kemudian destilat ditampung dalam gelas ukur 1liter, dan dibiarkan hingga dingin. Untuk memisahkan asap cair dengan tar pada distilat disaring menggunakan membran filter 0,2 μm.

Analisis Total Fenol

Sebanyak 1 mL asap cair tandan kosong kelapa sawit dimasukkan ke dalam erlenmeyer lalu diencerkan menggunakan aquades hingga mencapai tanda batas.

Larutan hasil pengenceran diambil sebanyak 1 ml lalu ditambahkan larutan NaCO3 1M sebanyak 5 ml dan didiamkan pada temperatur ruang selama 10 menit.

Larutan tersebut kemudian ditambahkan pereaksi Folin-ciocalteu sebanyak 0,5 ml, diaduk menggunakan vorteks-shaker hingga larutan homogen, kemudian didiamkan selama 30 menit. Serapannya dibaca pada panjang gelombang 750 nm menggunakan spektrofotometer Shimadzu UV-1601, dan konsentrasi fenolik larutan sampel dihitung berdasarkan standar kurva yang diperoleh dari larutan fenol murni.

Pembuatan Media Potato Dextrose Agar

Sebanyak 39gram serbuk PDA dilarutkan dalam 1liter akuades kemudian didihkan menggunakan hot plate hingga semua

campuran larut seluruhnya. Media tersebut ditambahkan kloramfenikol (10%) dan disterilisasi menggunakan autoklaf pada temperatur 121 ºC dan tekanan 2 atm. Sterilisasi dilakukan selama 15 menit (Wardoyo, et al 2020).

Pengukuran Daya Hambat Asap Cair Tandan Kosong Kelapa Sawit terhadap Jamur Colletotrichum sp.

Asap cair grade 3 hasil distilasi digunakan sebagai sampel untuk melihat daya hambat pertumbuhan jamur Colletotrichum sp. Pengukuran ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi optimal dalam menghambat pertumbuhan jamur Colletotrichum sp. Cendawan Colletotrichum sp. diinokulasikan pada media PDA menggunakan cotton swab steril. Media PDA digoreskan dengan cara membuat lubang berukuran 0,5 cm menggunakan cork borer. Asap cair kemudian digoreskan pada permukaan media PDA dengan variasi konsentrasi 0% (tanpa asap cair) sebagai kontrol negatif, 20%, 30%, 40% dan 50%.

Sedangkan mankozeb 2% digunakan sebagai kontrol positif. Percobaan dilakukan dua kali pengulangan kemudian diinkubasi selama dua hari pada suhu 35oC. Zona bening yang terbentuk dilakukan pengukuran dengan jangka sorong.

HASIL DAN PEMBAHASAN Volume Asap Cair yang dihasilkan Dari gambar 1, dapat dilihat bahwa semakin lama waktu dan suhu pirolisis, maka volume asap cair yang didapatkan akan semakin meningkat hingga batas tertentu. Volume asap cair optimal diperoleh pada temperatur 450 oC dengan volume sebesar 188 mL selama 35 menit.

(5)

Gambar 1. Hubungan antara waktu pirolisis dengan volume asap cair yang diperoleh pada beberapa temperatur.

Hal ini disebabkan semakin lama waktu dan tingginya suhu pirolisis, maka volume asap cair yang didapatkan akan semakin meningkat sampai batas tertentu.

Kenaikan volume asap cair terjadi karena semakin tinggi suhu pirolisis maka semakin banyak limbah yang terdekomposisi dan semakin lama waktu tinggal pada reaktor pirolisis. Volume yang dihasilkan mengalami penurunan selama proses pirolisis hingga berhenti selama 60 menit (0ml) karena seluruh selulosa, hemiselulosa dan lignin telah terurai sempurna.

Volume yang dihasilkan dari temperatur 350, 400 dan 450 oC yaitu masing-masing 798 ml, 795 ml dan 790 ml. Durasi pirolisis 30-35 menit menghasilkan jumlah volume asap cair yang maksimal sebelum mulai berkurang, hal ini disebabkan oleh penguraian senyawa-senyawa kimia yang terdapat pada tandan kosong kelapa sawit.

Penguraian senyawa organik pada bahan baku disebabkan oleh peningkatan suhu pirolisis. Peningkatan suhu akan mendegradasi selulosa, hemiselulosa dan lignin yang kemudian terkondensasi menjadi asap cair. Hasil volume asap cair tergantung pada sistem pendingin yang

digunakan, misalnya air yang menampung perpindahan panas. Pirolisis suhu tinggi dapat menyebabkan penurunan volume asap cair yang dihasilkan karena menyebabkan suhu air meningkat sehingga menyebabkan asap gagal melakukan kondensasi secara sempurna (Desvita, et al 2021).

Analisis Total Fenol Asap Cair Tandan Kosong Kelapa Sawit

Analisis pengujian total fenol dilakukan untuk mengetahui aktivitas antibakteri yang terdapat pada asap cair.

Asap cair yang ditentukan total fenolnya adalah asap cair grade 2 dengan menggunakan pereaksi Folin-ciocalte.

Berdasarkan gambar 2 terlihat bahwa asap cair yang diberikan pereaksi Folin- ciocalte berwarna biru kehitaman.

Terdapat beberapa kelebihan pereaksi Folin-Ciocalteu diantaranya, waktu analisis singkat, pengerjaannya mudah, reagen tidak mahal dan instrumen yang digunakan tidak rumit (Resmeiliana, et al 2023).

(b) (c)

Gambar 2. Analisis Kandungan Total Fenol dengan variasi suhu pirolisis (a) 350oC, (b) 400 oC dan (c) 450 oC

Ion fenolat menyebabkan terbentuknya warna biru pada sampel yang disebabkan proses penguraian ion H+ pada senyawa fenolik. Penambahan

(a) (b) (c)

(6)

natrium karbonat (Na2CO3) memberikan suasana basa pada larutan sehingga terbentuk senyawa oksotungstat dan oksomolibdat. Semakin tinggi konsentrasi senyawa fenolik dalam suatu ekstrak, semakin banyak ion fenolat yang terbentuk, yang menyebabkan sampel menjadi lebih pekat (Yulianti, 2020).

Semakin tinggi konsentrasi senyawa fenolik dalam suatu ekstrak, semakin banyak ion fenolat yang terbentuk, yang menyebabkan sampel menjadi lebih pekat (Yulianti, 2020).

Gambar 3 menjelaskan pengaruh suhu pirolisis yang digunakan terhadap kandungan fenol, dimana semakin meningkat temperatur pirolisis yang digunakan maka kandungan total fenol akan semakin hal ini disebabkan karena banyaknya komponen lignin pada kayu yang terurai sehingga dan ditandai dengan semakin besarnya serapan yang diukur (Alam, 2022).

Gambar 3. Pengaruh Suhu Pirolisis terhadap kandungan Total Fenol

Daya Hambat Asap Cair TKKS Sawit Terhadap Jamur Colletotrichum sp.

Untuk melihat efektifitas asap cair TKKS dilakukan pungujian dengan berbagai variasi dengan konsentrasi 10

%, 20 % dan 30 % pada masing-masing suhu pirolisis 350, 400 dan 450 oC.

Berdasarkan tabel 1 terlihat adanya kemampuan aktivitas antifungi dari asap

cair dalam menghambat jamur Colletotrichum sp. Hasil pengukuran diperoleh dengan menggunakan kaliper digital yang dianalisis menggunakan rumus yang telah ditentukan. Dari tabel dibawah dapat disimpulkan dengan pemberian asap cair TKKS sebagai fungisida nabati memberikan respon terhadap daya hambar jamur Colletotrichum sp. serta dapat dilihat berdasarkan zona hambat yang terbentuk disebabkan adanya aktivitas antijamur.

Namun berdasarkan data hasil penelitian yang telah dilakukan hanya asap cair pada suhu pirolisis 400 dan 450oC saja yang memeberikan adanya zona hambat sedangkan pada suhu pirolisis 350oC memberikan respon hambatan pertumbuhan yang lemah.

Konsentrasi asap cair TKKS 20 dan 30%

dengan suhu pirolisis 450oC memberikan respon hambatan yang sangat kuat terhadap pertumbuhan jamur Colletotrichum sp dengan nilai rata-rata 4, 28 dan 7,73 secara berturut-turut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya hubungan antara temperatur pirolisis dengan konsentrasi asap cair TKKS dimana temperatur yang semakin tinggi memiliki kemampuan daya hambat jamur yang lebih tinggi juga, disebabkan banyaknya kandungan bahan aktif yang terdapat pada asap cair.

Faktor faktor yang mempengaruhi kandungan metabolit sekunder pada asap cair diantaranya temperatur pirolisis, kandungan selulosa, hemiselulosa dan lignin yang terdapat dalam bahan baku.

(7)

Tabel 1. Daya hambat jamur Colletotrichum sp. dari asap cair TKKS dengan berbagai konsentrasi.

Perlakuan Daya Hambat Jamur Colletotrichum sp.

(cm)

Respon Hambatan Pertumbuhan (Growth Inhibition) Suhu Pirolisis

(oC)

Konsentrasi Asap Cair (%)

350 10 0,87 Lemah

20 1,00 Lemah

30 1,00 Lemah

400 10 1,47 Sedang

20 1,65 Kuat

30 2,00 Kuat

450 10 1,85 Kuat

20 4, 28 Sangat kuat

30 7,73 Sangat kuat

Selain itu kandungan fenol dan asam organik dalam asap cair juga sangat mempengaruhi respon daya hambat jamur dengan cara merusak membran patogen yang mengakibatkan proses metabolisme berjalan tidak sempurna. Kandungan fenol yang terdapat dalam asap cair memiliki kemampuan mendenaturasi protein yang terkandung pada membran bakteri yang diuji karena fenol dikenal bersifat antijamur.

KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

Asap cair yang dihasilkan dari berbagai variasi temperatur yang digunakan saat proses pirolisis positif mengandung fenol dengan hasil kandungan total fenol tertinggi pada kondisi suhu pirolisis 450oC yaitu sebesar 12,57% dan volume asap cair yang dihasilkan sebanyak 790mL. Uji zona hambat jamur menunjukkan hasil paling optimal pada konsentrasi asap cair TKKS 20 dan 30% dengan suhu pirolisis 450oC yang memberikan respon hambatan sangat kuat terhadap pertumbuhan jamur Colletotrichum sp

dengan nilai rata-rata 4, 28 dan 7,73 secara berturut-turut.

B. Saran

Pada penelitian selanjutnya peneliti diharapkan dapat melakukan aplikasi asap cair tandan kosong kelapa sawit pada jamur spesies yang lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Agustina, N. (2020). Efektivitas Daya Hambat Asap Cair Tempurung Kelapa (Cocus Nucifera) Terhadap Pertumbuhan Jamur Ganoderma Boninense. J.

Agroprimatech. 3( 2), 79-82.

Alam, M. (2022). Pengaruh Suhu Pirolisis Terhadap Kadar Fixed Carbon Dari Karbon Aktif Kulit Batang Sagu. Journal of Chemical Science. 4(2), 19-22.

Annisa, W. d. (2010). Budidaya Tanaman Holtikultura. Bandung : Kementerian Pertanian.

Desvita, H. M. (2021). Characteristic Of Liquid Smoke Produced From Slow Pyrolysis Of Cacao Pod Shells (Theobroma Cacao L).

International Journal of GEOMATE, 20(8), 17–22.

(8)

E.Sampepana, F. d. (2021). Kajian Karakteristik Kimia Asap Cair Cangkang Sawit Tandan Kosong Sawit Sebagai Bahan Antibakteri Dan Aplikasinya. . Jurnal Riset Teknologi Industri.

15(2) , 338-347 .

Hidayat, W. d. (2017). Identification of Colletotrichum Species Associated with Chili Anthracnose in Indonesia by Morphological Characteristics and Species-Specific Primers.

Asian J Plant Pathol. 12(1), 7–

15.

I. R. Santoso, H. O. (2023). Efikasi Asap Cair dari Kayu Akasia (Acacia crassicarpa) dan Kayu Jelutung (Dyera costulata) terhadap Jamur Schizophyllum commune Fries. Jurnal Agrikultura, 5(1), 19–27.

Kresnawaty, I. S. (2017). Konversi Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) menjadi Arang Hayati dan Asap Cair. J.Penelitian Pascapanen Pertanian . 14(3), 171-179.

Mahmud, Y. D. (2021). Efektivitas Asap Cair Tandan Kosong Kelapa Sawit Untuk Mengendalikan Ganoderma Boninese Dan Curvularia Sp. In Vitro. Jurnal Pertanian Presisi. 5(1), 24-39 . Melani, D. (2020). Efektivitas Asap Cair

Terhadap Colletotrichum capsici Pada Tanaman Cabai Merah (Capsicum annum L.). J.

Agrosainta. 4(2), 85-96.

Pangestu, E. I. (2014). Uji Penggunaan Asap Cair Tempurung Kelapa

Dalam Pengendalian

Phytophthora Sp. Penyebab Penyakit Busuk Buah Kakao Secara In Vitro. J. Perkebunan &

Lahan Tropika. 4(2), 39-44.

Purwantisari, S. D. (2023). Potensi Asap Cair Tempurung Kelapa Sebagai Anti Jamur Fusarium Foetens, Fusarium Moniliforme, Collectricum Capsici. Jurnal Penelitian Hasil Hutan 41(2), 69-78.

Resmeiliana, I. I. (2023). Fitokimia, Kadar Fenolik Total, dan Flavonoid Total serta Aktivitas Antioksidan Ekstrak n-Heksana Rimpang Temu Hitam (Curcuma aeruginosa Roxb). Jurnal Riset Kimia. 14(2), 107–117.

Saputra, N. S. (2021). Komponen Kimia Organik Lima Jenis Asap Cair.

Jurnal Penelitian Hasil Hutan, 39(1), 39–54 .

Sari., S. B. (2018). Penggunaan Asap Cair Tandan Kosong Kelapa Sawit Sebagai Pestisida Nabati untuk Mengendalikan Hama Perusak Daun Tanaman Sawi (Brassica juncea L.).

EnviroScienteae 14(3), 272–284 .

Suyanti, A. P. (2020). Pengaruh Pemberian Beberapa Ekstrak Gulma Lahan Pasang Surut

Dalam Menghambat

Colletotrichum sp Penyebab Penyakit Antraknosa Pada Buah Cabai Rawit. J. Proteksi Tanaman Tropika. 3(2):, 215- 225 .

Wardoyo, E. W. (2020). Aktivitas Antifungi Asap Cair dari Tandan Kosong Elaeis guineensis Jacq.

terhadap Colletotrichum sp. J Bioteknol Biosains Indonesia.

7(2), 271-279.

Yulianti, W. G. (2020). Pengaruh Metode Ekstraksi Dan Polaritas Pelarut Terhadap Kadar Fenolik Total Daun Kersen (Muntingia

(9)

calabura L). Jurnal Sains Terapan. 10(2), 41–49.

Zahro, S. L. (2023). Potensi Daun Sirsak (Annona Muricata L.) sebagai Kandidat Fungisida Nabati Penghambat Pertumbuhan

Cendawan Patogen

Colletotrichum Gloeosporioides.

Jurnal Riset Kimia 14(1), 94- 106.

Purwantisari, S. D. (2023). Potensi Asap Cair Tempurung Kelapa Sebagai Anti Jamur Fusarium Foetens, Fusarium Moniliforme, Collectricum Capsici. Jurnal Penelitian Hasil Hutan 41(2), 69-78.

Referensi

Dokumen terkait

keterangan tentang kandungan kimia asap cair sabut kelapa yang dihasilkan dari penggunaan berbagai model alat destilator- pirolisis, dilakukan analisis kandungan

Hasil pengujian asam asap cair pada Tabel 1 menunjukkan trend yang sama dengan pengujian fenol, yaitu semakin tinggi suhu pirolisis maka semakin tinggi pula kandungan asam asap

Asap cair tempurung kelapa pada setiap konsentrasi uji dengan menggunakan metode peracunan makanan dapat menyebabkan penghambatan pertumbuhan terhadap jamur

Intisari: Telah dilakukan penelitian uji daya hambat asap cair hasil pirolisis kayu pelawan ( Tristania Abavata ) dan pengaruh konsentrasinya terhadap pertumbuhan bakteri

Asap cair tempurung kelapa pada setiap konsentrasi uji dengan menggunakan metode peracunan makanan dapat menyebabkan penghambatan pertumbuhan terhadap jamur

Asap cair tempurung kelapa pada setiap konsentrasi uji dengan menggunakan metode peracunan makanan dapat menyebabkan penghambatan pertumbuhan terhadap jamur

Peneliti ingin mendapatkan mutu asap cair yang baik melalui uji kinerja alat reaktor pirolisis untuk memperoleh hasil yang optimal, rendemen dan uji kualitas

Diameter Zona Hambat Respon Hambatan Pertumbuhan ≥20 Kuat Susceptible 15-19 Sedang Intermediate ≤14 Lemah Resisten Bakteri Staphylococcus aureus memiliki zona hambat dengan