• Tidak ada hasil yang ditemukan

Edisi Khusus Desember 2009 | JURNAL PENELITIAN SAINS c almunadi ganjil

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Edisi Khusus Desember 2009 | JURNAL PENELITIAN SAINS c almunadi ganjil"

Copied!
3
0
0

Teks penuh

(1)

Jurnal Penelitian Sains Edisi Khusus Desember 2009 (C) 09:12-06

Uji Daya Hambat Asap Cair Hasil Pirolisis Kayu Pelawan(

Tristania

Abavata

) Terhadap Bakteri

Echerichia Coli

Almunady T. Panagan dan Nirwan Syarif

Jurusan Kimia FMIPA, Universitas Sriwijaya, Sumatera Selatan, Indonesia

Intisari: Telah dilakukan penelitian uji daya hambat asap cair hasil pirolisis kayu pelawan (Tristania Abavata) dan pengaruh konsentrasinya terhadap pertumbuhan bakteriEscherichia Coli menggunakan metoda Kirby-Bauer. Konsen-trasi asap cair divariasikan mulai dari 0,109 g/ml hingga 1,092 g/ml. Hasil penelitian menunjukkan bahwa asap cair hasil pirolisis kayi pelawan (Tristania Obovata) mempunyai kemampuan menghambat pertjmbuhan bakteriE.Coli dan aktivitas tertinggi terdapat pada konsentrasi 1,092 g/ml yaitu sebesar 2,66 cm dan aktivitas terendah pada konsentrasi 0,109 g/ml yaitu sebesar 0,833 cm. Pengaruh konsentrasi terhadap zona hambat asap cair, dibandingkan dengan an-tibiotic kloramfenikol melalui persamaan regresi linier dan diketahui bahwa 1 g/ml kloramfenikol memiliki daya hambat yang sasa dengan 112,384 g/ml asap cair kayu pelawan.

Keywords: uji daya hambat, pirolisis, kayu pelawan

Abstract: It has been researched on the examination of hindrance effect of liquid smoke resulted from pelawan wood (Tristania obovata) pyrolizing and its concentration effect on bacteriaEscherichia coligrowth using Kirby-Bauer method. Liquid smoke concentration is varied into 0,109 g/ml up to 1,092 g/ml The finding shows that liquid smoke resulted from pelawan wood pyrolizing has the ability to hinder the growth e,coli bacteria and the highest action is found on 1,092 g/ml concentration, namely 2.266 cm and the lowest action on 9l109 g/ml concentration, namely 0.833 cm. The effect of concentration on the amount of liquid smoke hindrance zone compared with antibiotic cloramphenicol through linear regression and it is known that 1g/ml of cloramphenicol has the same hindrance quality with 112.384 g/ml liquid smoke of pelawan wood.

Keywords: examination of hindrance effect, pyrolizing, pelawan wood July 2010

Desember 2009

1 PENDAHULUAN

A

sap cair kayu merupakan hasil kondensasi dari pirilisis kayu yang mengandung sejumlah be-sar senyawa yang terbentuk akibat pirolisis konstituen kayu seperti selulosa, hemi selulosa dan lignin. Asap cair dapat digunakan sebagai bahan pengawet karena antmikrobia dan antioksidannya.

Semua jenis destilat kayu mengandung senyawa-senyawa yang dapat diekstraksi seperti turunan fenol yang dapat menghambat pertumbuhan mikroba. Asap cair dari kayu dimanfaatkan sebagai pengawet karena adanya kesamaan komponen kimia destilat kayu yang terdapat pada jenis bahan pengawet ter-tentu, dimana yang bersifat sebagai pengawet adalah fenol dan turunannya.

Untuk melihat pengaruh asap cair terhasap bakteri dapat digunakan metode Kirby-Bauer atau metode di-fusi cakram. Metode Kirby-Bauer sudah sangat umum digunakan dalam uji aktivitas antimikroba, dengan metode ini akan dapat diketahui luas zona hambat

asap cair terhadap bakteri uji

Adapun bakteri uji yang digunakan adalah bakteri

Escherichia coli. Biasanya bakteri ini sering

dite-mukan pada makanan, limbah pembuangan kotoran, saluran pencernaan manusia, alat rumah tangga. Se-lain ituE. coli guga dipilih karena pertumbuhannya

sangat cepat dan mudah dalam penanganannya. Pada penelitian uji daya hambat asap cair hasil pirolisis kayu pelawan menggunakan bakteri ujiE. Coli ATCC

25922 dari Laborayorium Mikrobiologi Fakultas MIPA Universitas Sriwijaya.

Sebagai control positif digunakan antibiotic klo-ramfenikol. Hal ini karena kloramfenikol merupakan senyawa obat yang sudah terbukti memeliki aktivitas antibakteri.

Tujuan penelitian ini adalah menentukan daya ham-bat asap cair hasil pirolisis kayu pelawan terhadap bakteri E. coli dan membandingkan pengaruh asap

cair kayu pelawan dengam antibiotik kloramphenikol.

c

(2)

Almunady & Nirwan/Uji Daya Hambat . . . JPS Edisi Khusus (C) 09:12-06

2 METODOLOGI PENELITIAN

Uji aktivitas antibakteri asap cair hasil pirolisis kayu pelawan terhadap bakteriE. Coli dengan cara

Kirby-Bauer dilakukan sebagai berikut: suspensi bakteri yang telah di inkubasi dimasukkan secara aseptic ke dalam cawan Petri sebanyak 1 ml, kemidian ditam-bahkan medium NA 15 ml, yang bersuhu lebih kurang 40 derajat Celsius dan selanjutnya dihomogenkan un-tuk memastikan bakteri terdistribusi merata dan di-biarkan memadat. Diatas medium yang berisi bakteri dimasukkan kertas saring bersiameter 6 mm (kertas cakram) yang telah dicelupkan masing-masing dalam larutan asap cair dan dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali. Selanjutnya diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37 derajad selsius. Pengujian aktivitas antibak-teri dinyatakan aktif apabila disekitar kertas cakram terdapat zona bening atau zona hambat yang terben-tuk melingkari kertas cakram. Diameter zona hambat yang terukur adalah hasil rata-rata dari dua kali peng-ukuran.

Sebalum pengerjaan diatas dilakukan, terlebih dahulu semua alat yang akan dipakai dan zat-zatnya disterilisasi terlebih dahulu. Kultur murni bakteri E. Coli ATCC 252922 yang diperoleh dari laboratorium

Mikrobiologi, Jurusan Biologi, Universitas Sriwijaya diremajakan pada media NA miring. Pembuatan laru-tan senyawa uji (larularu-tan asap cair), larularu-tan kloram-phenikol, medium padat nutrient agar (NA), dan me-dia cair nutrient Broth (NB) juga dilakukan terlebih dahulu.

3 HASIL DAN PEMBAHASAN

Panjang gelombang maksimum yang diperoleh adalah 590 nm, panjang gelombang maksimum menurut Brown[1] yaitu sebesar 600 nm, Perbedaan ini diaki-batkan kondisi dan tempat yang berbeda pada saat pengukuran.

Pada penentuan aktivitas antibakteri, terbentuknya zona hambat (clear zone) disekitar kertas cakram

sete-lah terlebih dahulu di calupkan kedalam larutan uji membuktikan bahwa senyawa terbut mempunyai ak-tivitas antibakteri. Diameter zona hambat meru-pakan petunjuk kepekaan bakteri penguji, dengan se-makin besarnya zona hambat maka antibakteri terse-but mempunyai aktivitas antibakteri yang semakin baik.

Hasil pengujian menunjukkan bahwa asap cair hasil pirolisis kayu pelawan memiliki kemampuan meng-hambat pertumbuhan bakteri E. Coli. Hal ini

terli-hat dari zona bening yang terbentuk disekeliling kertas cakram yang telah dicelupkan kea sap cair. Semakin tinggi konsentrasi asap kayu pelawan maka zona ham-bat yang terbentuk semakin besar.

Banyak factor yang menyebabkan zona hambat

tidak bulat merata, salah satu factor adalah media pembenihan dalam satu cawan Petri, populasi bak-teri yang tumbuh tidak rapat disatu bagian sedang-kan dibagian yang lain populasi tumbuh rapat. Hal ini disebabkan, pada saat pembuatan lapisan pembenihan bakteri, penyebaran bakteri tidak merata. Akibatnya, cakram yang mengandung zat antibakteri yang dile-takkan pada bagian yang populasi bakterinya tidak rapat akan membentuk zona hambat yang lebih be-sar daripada kertas cakram yang diletakkan di bagian yang populasi bakterinya rapat.

Kemungkinan lain yang dapat menyebabkan keti-dakteraturan besar diameter zona hambat pertum-buhan bakteri uji adalah pada waktu pengeringan ker-tas cakram yang tidak sama. Kerker-tas cakram yang waktu pemgeringannya cukup lama, saat diletakkan di atas media pembenihan bakteri maka luas daerah zona hambatnya kecil, zona ini terbentuk dari ekstrak yang terdifusi dari kertas cakram ke media agar. Pada ker-tas cakram yang waktu pengeringannya hanya seben-tar, saat diletakkan di atas media pembenihan bakteri, asap cair yang masih menempel langsung menyebar di sekeliling cakram tasi dan cepat berdifusi ke media agar sehingga membentuk zona hambat yang lebih be-sar.

Besarnya diameter zona hambat antibiotic kloram-phenikol yang terbesar yaitu 2,65 cm, sedangkan asap cair hasil pirolisis kayu pelawan yaitu 2,266 cm. Hal ini membuktikan bahwa asap[ cair memiliki aktivitas anti bakteri yang sangat kuat yaitu lebih besar dari 2 cm.

Bakteri E. Coli yang digunakan dalam penelitian

ini termasuk kedalam golongan bakteri gram negatif, yang ternyata dapat dinambat pertumbuhannya oleh asap cairkayu pelawan. Bakteri gram negative mem-punyai ketahanan yang lebih baik terhadap senyawa antimikroba dibandingka dengan bakteri gram positif, sesuai dengan pendapat Zuhud[2]. Senyawa fenol yang dikandung asap cair kayu Palawan, dijelaskan bahwa senyawa fenol sebagai antibakteri bersifat aktif ter-hadap sel vegetatif bakteri dan dapat menembus dan merusak dinding sel dan dapat mengendapkan protein sel mikroba. Senyawa ini menunjukkan keaktifan mak-simum pada pH asam tertentu menurut Irianto[3].

4 SIMPULAN DAN SARAN

4.1 Simpulan

Asap cair hasil pirolisis kayu pelawan dapat meng-hambat pertumbuhan E. Coli, dan bersifat

antibak-terisidal kuat (diameter zona hambat lebih besar dari 2 cm)

(3)

Almunady & Nirwan/Uji Daya Hambat . . . JPS Edisi Khusus (C) 09:12-06

4.2 Saran

Setelah melihat hasil penelitian ini, disarankan untuk diteliti lebih lanjut aplikasi asap cair sebagai anti bak-teri misalnya sebagai pengawet. Disarankan juga un-tuk mendestilasi kembali produk asap cair sebelum digunakan untuk menghilangkan kemungkinan efek karsinogenik asap cair.

DAFTAR PUSTAKA

[1]Brown, T.A., 1995,Kloning Gena, Yayasan Essentia

Med-ica, Yogyakarta

[2]Zuhud, E.A.M., W.P. Rahayu, C.H. Wijaya, dan P.P.

Sari, 2001, Aktivitas Antimikroba Ekstrak Kedaung (Parkia Raxburghii G. Don) Terhadap Bakteri Patogen, Jurnal Teknologi dan Industri Pangan, Vol XII, No.1, IPB, Bogor

[3]Irianto, K., 2006,Mikrobiologi Menguak Dunia

Mikroorgan-isme, Jilid 1, C.V. Yrama Widya, Bandung

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian tentang uji daya hambat ekstrak daun lidah mertua dapat menghambat pertumbuhan bakteri Klebsiella pneumoniae mulai dari konsentrasi 60% dengan

Hal ini berdasarkan sifat ekologi rawa lebak yang merupakan bagian dari ekosistem air tawar, an- tara lain berfungsi menyediakan nutrisi untuk organ- isme akuatik, terutaka

Hasil perhitungan menyimpulkan bahwa: (1) waktu transien sebanding dengan beda suhu antara kondisi awal dan kondisi setimbang sistem, (2) Sebagai konsekuensi dari dominasi

Pengaruh tidak langsung adalah pengaruh su- atu variabel eksogen dengan variabel endogen yang terjadi melalui variabel endogen lain yang terdapat dalam satu model kausal yang

Hasil analisa menunjukkan bahwa fraksi bensin dan kerosin yang dihasilkan pada temperatur hidrocracking 350 ◦ C, laju alir gas hidrogen 1,5 ml/det, dan berat katalis 1,25 g

Tingginya persentase proliferasi limfosit oleh larutan film edibel yang mengandung minyak at- siri temu kunci, tidak hanya disebabkan oleh kompo- nen penyusun minyak atsiri temu

Dalam penelitian ini dipelajari pengaruh penam- bahan bubuk bawang merah terhadap bilangan per- oksida dan kadar asam lemak bebas minyak goreng curah dengan waktu penyimpanan 0, 3,