• Tidak ada hasil yang ditemukan

Edisi Khusus Juni 2010 | JURNAL PENELITIAN SAINS c miksusanti genap

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Edisi Khusus Juni 2010 | JURNAL PENELITIAN SAINS c miksusanti genap"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

Jurnal Penelitian Sains Edisi Khusus Juni 2010 (C) 10:06-07

Proliferasi Sel Limfosit Secara

In Vitro

oleh Minyak Atsiri Temu

Kunci dan Film Edibel Anti Bakteri

Miksusanti

Jurusan Kimia FMIPA, Universitas Sriwijaya, Sumatera Selatan, Indonesia

Intisari: Minyak atsiri temu kunci dan film edibel antibakteri mempunyai kemampuan dalam memproliferasi sel limfosit manusia secara in vitro. Konsentrasi minyak atsiri maksimum yang dapat meningkatkan proliferasi limfosit

adalah 40% dengan persentase proliferasi limfosit sebesar 234.37.

E-mail: ati [email protected]

Juni 2010

1 PENDAHULUAN

S

eiring dengan semboyan kembali ke alam, akhir-akhir ini minat masyarakat untuk menggunakan bahan-bahan alami semakin meningkat. Hal ini ter-bukti dengan semakin banyaknya industri-industri baik industri kecil maupun besar yang menggunakan tumbuh-tumbuhan yang banyak terdapat di Indonesia sebagai bahan dasar. Kenyataan ini mendorong di-lakukannya penelitian-penelitian tentang tumbuhan-tumbuhan yang secara tradisional sering digunakan untuk mencegah atau mengobati berbagai penyakit.

Rimpang temu kunci merupakan salah satu tana-man yang berkhasiat obat dan dipakai sebagai bumbu/rempah dalam makanan. Di Indonesia rim-pang temu kunci sering digunakan sebagai pengharum masakan sayuran. Sebagai obat tradisional, rimpang temu kunci berkhasiat menyembuhkan sariawan, ma-suk angin dan memperbanyak air susu ibu[1].

Salah satu komponen potensial dari rimpang temu kunci adalah minyak atsiri. Minyak atsiri temu kunci memiliki aktivitas antibakteri yang paling baik dari aktivitas antibakteri minyak atsiri jenis rimpang lain-nya. Minyak atsiri temu kunci mempunyai nilai MIC dan MBC yang cukup rendah (<2%) terhadap bak-teriB. cereus, L. monocytogenes, E. coli K1.1 danP. aeruginosa. Mekanisme penghambatan pertumbuhan bakteri tersebut adalah melalui kebocoran membran sel bakteri sehingga komponen penting sel seperti pro-tein, asam nukleat dan ion terdeteksi keluar sel[2,3].

Sebelum dapat dikonsumsi secara aman dalam jumlah besar secara terus menerus, terlebih dahulu minyak atsiri harus mendapat pengujian tingkat kea-manannya pada sel manusia. Pengujian toksisitas awal suatu senyawa secara tidak langsung dapat di-lakukan secara in vitro yaitu dengan menggunakan sel limfosit manusia. Penggunaan sel limfosit

manu-sia adalah karena limfosit merupakan sel yang sangat rentan terhadap bahan kimia. Keuntungan pengu-jian secarain vitro adalah uji yang digunakan sangat sensitif dan dampak yang ditimbulkan dapat dilihat langsung[4]. Efek dari ketoksikan suatu bahan

da-pat diamati dari seberapa banyak jumlah sel limfosit yang mati bila dibandingkan dengan keadaan awal dan dengan mengamati tingkat proliferasi sel limfosit. Je-nis uji toksisitas yang dilakukan pada penelitian ini adalah uji toksisitas akut.

Sel limfosit merupakan sel dengan inti yang besar dan bulat serta memiliki sedikit plasma. Telah dihi-tung bahwa pada manusia sekitar 3.5×1010limfosit

se-tiap hari masuk dalam sirkulasi darah. Menurut Guy-ton[5], persentase limfosit di dalam darah putih adalah

sekitar 30%. Limfosit mampu bertahan hidup selama bertahun-tahun. Menurut Sheeler dan Bianchi[6], sel

limfosit berperan dalam sistem perlindungan tubuh dengan mensintesis dan mensekresi antibodi atau im-munoglobulin ke dalam jaringan darah sebagai respon terhadap keberadaan benda asing.

Sel limfosit merupakan respon imun spesifik yang terdiri dari respon humoral dan seluler. Respon hu-moral dilakukan oleh sel limfosit B, dimana sel ini menghasilkan antibodi sebagai respon imunnya, se-dangkan respon imun seluler dilakukan oleh sel lim-fosit T, dimana sel ini menghasilkan limfokinase yang dapat menolak keberadaan benda asing[7,8].

2 METODOLOGI

Isolasi Sel Limfosit[9]

Darah donor diambil secara aseptis dan disimpan dalam tabung vacuntee steril yang sudah terdapat EDTA 0.1% di dalamnya. EDTA 0.1% berfungsi sebagai antikoagulan darah. Darah tersebut kemu-c

(2)

Miksusanti/Proliferasi Sel Limfosit . . . JPS Edisi Khusus (C) 10:06-07 dian dipindahkan ke dalam tabung sentrifus steril dan

pengerjaannya dilakukan di dalamlaminar hood. Pemisahan limfosit awal dilakukan dengan mensen-trifus sampel darah selama 5 menit pada kecepatan 1500 rpm. Bagian darah yang lebih berat (sel darah merah) akan berada di bawah dan plasma akan be-rada pada bagian atas. Di antara lapisan sel darah merah dan plasma terdapat lapisan buffycoat, di-mana lapisan tersebut sebagian besar berisi sel-sel lim-fosit. Lapisan buffycoat ini diambil dengan menggu-nakan mikropipet kemudian pemisahan sel limfosit di-lakukan dengan menggunakan Histopaque (buffy coat Histopaque=1:1). Lapisanbuffycoatdilewatkan secara hati-hati di atas Histopaque melalui dinding tabung sehingga terbentuk dua lapisan yang tidak bercam-pur, kemudian dilakukan sentrifus dingin dengan ke-cepatan 2500 rpm selama 30 menit. Sel-sel limfosit, dan monosit tidak mempunyai densitas yang cukup tinggi untuk menembus Histopaque sehingga berada di bagian atas tabung sentrifus, sedangkan granulosit berada di dasar tabung.

Gambar1: Pemisahan sel limfosit

Pencucian dilakukan dengan mensentrifus suspensi sel di sekitar daerah cincin putih. Suspensi sel ini kemudian dicampur kembali dengan media RPMI standar sebanyak 5 mL, dan disentrifus selama 5 menit 1500 rpm. Pencucian dilakukan 2 kali, se-hinggga limfosit terpisah dari monosit, plasma, dan Histopaque. Sebelum dikultur, dihitung jumlah lim-fosit yang diperoleh menggunakan haemacytometer dengan pewarnaan biru tripan dengan rumus sebagai berikut:

N =A×F P ×104sel/mL

Keterangan :N = jumlah sel limfosit/mL,A= Jumlah sel hidup rata-rata per bidang pandangnF P = Faktor pengenceran

2.1 Pengujian Kemampuan Sampel Minyak Atsiri Temu Kunci dan terhadap

Proliferasi Sel Limfosit Manusia[15]

Suspensi sel yang diperoleh ditepatkan jumlahnya menjadi 2×106 sel/mL. Pada masing-masing sumur

ditambahkan sebanyak 20µL sampel dengan berbagai konsentrasi dan suspensi sel sebanyak 80µL (suspensi sel terlebih dahulu ditambahkan 10% serum). Sebagai kontrol standar, ke dalam setiap sumur dimasukkan suspensi sel sebanyak 80µL dan 20µL RPMI. Untuk kontrol positif, tiap sumur dimasukkan 80µL suspensi sel dan 20µL mitogen (Con A atau LPS). Kultur ke-mudian diinkubasi pada suhu 37oC (5% CO2, 95% O2) dan RH 96% selama 72 jam.

Lebih kurang 4 jam sebelum masa inkubasi be-rakhir, kultur sel ditambahkan 10 µL larutan MTT 0.5%. Setelah masa inkubasi berakhir, pada masing-masing sumur kultur sel ditambahkan 100 µL HCL-Isopropanol 0.04 N untuk melarutkan kristal formazan yang terbentuk. Setelah itu dilakukan pengukuran ab-sorbansi pada panjang gelombang 570 nm (λ570 nm) menggunakanSpectrophotometer Micropalate Reader. Nilai absorbansi yang terbaca bersifat proporsional terhadap jumlah sel yang hidup. Indeks Stimulasi (I.S) dihitung menggunakan persamaan berikut :

%IS = (Absorbansi sampel/Absorbansi kontrol) ×100%

3 HASIL DAN PEMBAHASAN

Sel limfosit darah merupakan jenis sel yang tersuspensi dalam darah, mudah diisolasi dan merupakan jenis sel yang sangat sensitif[10]. Oleh karena itu, pengujian

aktivitas komponen bioaktif secara in vitro dapat di-lakukan untuk menguji sifat sitotoksik suatu kompo-nen bioaktif terhadap sel limfosit. Hipotesis tentang pengaruh sitotoksik komponen uji terhadap sel lim-fosit dapat diberlakukan juga untuk sel normal, se-hingga apabila komponen bioaktif yang diberikan ter-nyata tidak membunuh sel limfosit, dapat disimpulkan bahwa komponen tersebut juga tidak bersifat toksik bagi sel normal.

(3)

Miksusanti/Proliferasi Sel Limfosit . . . JPS Edisi Khusus (C) 10:06-07 sebagai aktivator poliklonal, karena dapat

mengakti-vasi banyak klon sel T atau sel B tanpa tergantung pada spesifitas antigennya.

Gambar 2: Kurva persen proliferasi sel limfosit darah manusia oleh minyak atsiri temu kunci

Menurut Hercowitz[11] mitogen atau antigen tidak

spesifik seperti ConA dan LPS mempunyai daya meng-aktifkan sejumlah besar limfosit-limfosit tanpa me-mandang reaktivitas antigenik sel-sel yang bersangku-tan. Hal ini terjadi karena adanya gangguan pada membran yang dirangsang oleh ikatan silang makro-molekul permukaan tertentu yang merangsang limfosit untuk membelah. Mitogen Con A dan LPS dapat merangsang terjadinya transformasi blast subpopulasi sel limfosit T[12,13]. Tranformasi blast (sel muda)

adalah sederetan peristiwa dimana sel-sel bertam-bah besar, nukleus membesar, retikulum endoplasmik menjadi kasar dan tubulus mikro menjadi jelas, ke-cepatan sintesis DNA bertambah dan terjadi mitosis

[14].

Kemampuan larutan film edibel pati murni dan larutan film edibel pati radiasi dalam memprolife-rasi limfosit tidak berbeda secara signifikan (p>0.05). Mekanisme umum terjadinya proses proliferasi dapat diduga berdasarkan terikatnya larutan film pati sagu dan molekul-molekul minyak atsiri yang ada di dalam-nya pada permukaan sel T dan sel B. Pengikatan antigen pada reseptor permukaan sel T bersama interlukin 1 (IL-1) dari APC (Antigen Presenting Cell) dapat mengaktivasi G-protein yang kemudian memproduksi fosfolipase C. Enzim ini menghidroli-sis fosfatidil inositol bifosfat (PIP2) menjadi pro-duk reaktif diasil gliserol (DAG) dan inositol trifos-fat (IP3). Reaksi tersebut berlangsung dalam mem-bran plasma. IP3 kemudian menstimulasi pelepasan Ca2+ ke dalam sitoplasma sehingga konsentrasi Ca2+

meningkat. Peningkatan Ca2+ ini berperan penting

dalam menstimulasi kerja enzim protein kinase C dan 5-lipoxygenase. Protein kinase C menstimulasi pro-duksi interlukin−2(IL-2), IL-2 ini kemudian mengak-tivasi sel B maupun sel T untuk berproliferasi[15,16].

Persentase proliferasi limfosit maksimal oleh minyak atsiri temu kunci didapat pada konsentrasi minyak

Tabel 1: Persentase proliferasi sel limfosit oleh minyak atsiri TK dan film edibel berbasis pati sagu yang mengan-dung minyak atsiri TK. Sampel A = Minyak atsiri temu kunci dalam kisaran konsentrasi 0.05%-1.3%; sampel B = Minyak atsiri temu kunci dalam kisaran konsentrasi tinggi 1%-85%

Sampel % proliferasi maksimum

A 129.39

B 234.37

atsiri 40%. Tingginya persentase proliferasi limfosit oleh larutan film edibel yang mengandung minyak at-siri temu kunci, tidak hanya disebabkan oleh kompo-nen penyusun minyak atsiri temu kunci, bahan-bahan penyusun film edibel yang terlarut seperti CMC dan gliserol diduga berperan penting dalam meningkatkan persentase proliferasi limfosit dibanding minyak bebas pada kisaran konsentrasi yang sama.

Berdasarkan hasil data-data yang diperoleh, minyak atsiri dan film edibel berbasis pati sagu yang mengan-dung minyak atsiri mempunyai kemampuan menstim-ulasi proliferasi limfosit yang cukup baik pada konsen-trasi tertentu.

Gambar 3: Kurva persen proliferasi sel limfosit darah manusia

Gambar 3 menunjukkan bahwa terjadi perbedaan proliferasi limfosit yang signifkan pada kenaikan kon-sentrasi minyak atsiri tiap 10 persen (p < 0.05). Konsentrasi minyak atsiri yang paling maksimum da-pat memproliferasi limfosit adalah 40% yaitu sebesar 234.37. Dengan bertambahnya konsentrasi minyak at-siri, proliferasi limfosit cendrung menurun, pada kon-sentrasi 70% serta 80% proliferasi tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan (p < 0.05) dan akhirnya menurun pada konsentrasi 85% (p <0.05).

4 KESIMPULAN

1. Minyak atsiri temu kunci dapat memproliferasi sel limfosit manusia secarain vitro.

(4)

Miksusanti/Proliferasi Sel Limfosit . . . JPS Edisi Khusus (C) 10:06-07 2. Konsentrasi minyak atsiri temu kunci yang

menyebabkan proliferasi limfosit maksimum adalah 40% (v/v).

DAFTAR PUSTAKA

[1]Munir, A., 2001,Fakta Jenis Tanaman Rempah: Temu Kunci, Di dalam: Sutarno H dan S. Atmowidjoyo (eds), Tantangan Pengemebangan dan Fakta Jenis Tanaman Rempah, Yayasan Prosea, Bogor

[2]Miksusanti, B.S.L. Jennie, R. Syarief, B. Ponjto, dan G.

Trimulyadi, 2008, Mode of action temu kunci (Kaempferia pandurata) essential oil onE. coliK1.1 cell determined by leakage of material cell and salt tolerance assays,HAYATI Journal of Biosciences, 15(2):56-60

[3]Miksusanti, B.S.L. Jennie, R. Syarief, B. Ponjto, dan G.

Trimulyadi, 2009, Antibacterial activity of temu kunci tuber (Kaempferia pandurata) essential oil against Bacillus cereus,Medical Journal of Indonesia, 18(1):10-17

[4]Vries, J.D., 1997,Food Safety and Toxicity, CRC Press,

London

[5]Guyton, A.C., 1987,Human Physiology and Mechanisms of Disease, 4th

ed., W.B. Saunders Co., Philadelphia

[6]Sheeler, P. dan D.E. Bianchi, 1982, Cell Biology Structure,

Biochemistry, and Function, 2nd

ed., John Wiley & Sons Inc., New York

[7]Ganong, W.F., 1979, Fisiologi Kedokteran, Penerbit Buku

Kedokteran EGC., Jakarta

[8]Holan, V., S. Nakamura, dan J. Minowada, 1991,

Inhibitory versus stimulatory effects of natural human interferon-alpha on proliferation of lymphocyte subpopulations,Immunology, 75:176-181

[9]Wahyuni, S., 2006, Aktivitas kitooligomer hasil reaksi

enzimatik terhadap proliferasi sel limfosit dan sel kanker,

Disertasi, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor

[10]Kresno, S.B., 1991, Imunologi Diagnosis dan Prosedur

Laboratorium, Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta

[11]Hercowitz, H.B., 1993, Immunofisiologi: Fungsi Sel dan

Interaksi Selular dalam Pembentukan Antibodi, Di dalam Bellanti (ed): Imunologi III, Gajah Mada University Press, Yogyakarta

[12]Atal, C.K., 1986, Role of some important Ayurvedic drugs

in modulating the immune sytem in the human body,

Indian drugs Manufacturer’s Association Bulletin, 16:17-30

[13]Bellanti, J.A., 1993,Imunologi III, Gajah Mada University

Press, Yogyakarta

[14]Pereyra, M.L.G. et al., 2005, Immunomodulating

properties of Minthostachys verticillata on human lymphocytes and basophiles,Revista Alergia Mexico, 5(3):105-112

[15]Tejasari, F.R. Zakaria, D. Sayuthi, 2002, Aktivitas

stimulasi komponen rimpang jahe(Zingiber officinale Roscoe)pada sel limfosit B manusia secara in vitro,J Teknologi dan Industri Pangan, 13(1):47-53

[16]Hidenory, O., I. Takeshi, O. Teruno, K. Kazumori, 2006,

Activation of lymphocyte proliferation by

boronate-containing polymer immobilized on substrate: The effect of boron content on lymphocyte proliferation,

European Cells and Materials 12: 36-43

Gambar

Gambar 1: Pemisahan sel limfosit
Gambar 3:Kurva persen proliferasi sel limfosit darahmanusia

Referensi

Dokumen terkait

Levamisol dipilih sebagai kontrol positif karena mekanisme kerjanya bersesuaian dengan mekanisme kerja flavonoid dan senyawa polifenol lain dalam mempengaruhi sistem imun,

Hasil dari penelitian ini adalah terdapat pengaruh self-efficacy terhadap prestasi belajar matematika pada siswa kelas VIII SMPN 8 Mataram tahun pelajaran 2017/2018 dengan

Kekurangannya (1) hanya relevan untuk aset yang diharapkan dijual dengan harga pasar tertentu, (2) tidak relevan untuk aset yang perusahaan untuk menggunakannya (3) penilaian aset

Vulnerable children including child victims, offenders and witnesses benefit from enhanced justice for children.. 19 UNICEF Ministry of

Lukisan naik turunnya data berupa garis yang di hubungkan dari titik- titik data secara berurutan. Grafik ini di

Misalnya, pada penggunaan color_number 8, kapasitas penyisipan meningkat secara stabil seiring dengan meningkatnya nilai adj_tresh dan codebook_size , karena cukup

Judul : deteksi dini kejadian gizi kurang pada balita melalui pemberdayaan masyarakat dan mahasiswa (upaya penguatan desa siaga di bidang gizi di kelurahan limbangan kecamatan

H.B Sa’anin Padang adalah menyangkut dengan genre atau tipe komunikasi memiliki perbedaan sesuai dengan konteks terjadinya komunikasi, topik peristiwa komunikasi