452
Pemerolehan Bunyi Konsonan pada Anak
Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) dengan Latar Belakang Bilingual
Aburizal Sadam Habibi
1, Abdul Syukur Ghazali
2, Roekhan
3, Nurchasanah
41,2,3,4Pendidikan Bahasa Indonesia-Universitas Negeri Malang
INFO ARTIKEL ABSTRAK
Riwayat Artikel:
Diterima:
Disetujui:
Abstract: The purpose of this study was to determine the acquisition of consonants that occur in children with ADHD with a bilingual background. This study uses a qualitative approach that aims to describe and explain the acquisition of consonants in children with special needs. This type of research is case study research. This study used a longitudinal design with research subjects only in one child. The results of this study are that Aza mastered 16 Indonesian consonant phonemes which were realized into inhibitory contoids [p,b,t,d,ḍ,k,j,g,?], nasal [m,n,ṇ,ƞ,ň], fricative [s,h], Africative [c,j], and lateral [I]. However, among these sounds there are still sounds that are still fluctuating. The fluctuating sounds include fricative contoid [s] and lateral contoid [l]. Meanwhile, Aza has not mastered 5 Indonesian consonant phonemes, namely the fricative phonemes /f/, /v/, /z/, /x/ and /r/.
Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pemerolehan bunyi konsonan yang terjadi pada anak ADHD dengan latar belakang bilingual. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bertujuan untuk menjelaskan pemerolehan bunyi konsonan pada anak berkebutuhan khusus. Jenis penelitian ini adalah studi kasus serta desain longitudinal dengan subjek penelitian hanya pada satu anak. Hasil penelitian ini yakni Anak menguasai 16 fonem konsonan bahasa Indonesia yang terealisasi menjadi kontoid hambat [p,b,t,d,ḍ,k,j,g,?], nasal [m,n,ṇ,ƞ,ň], frikatif [s,h], afrikatif [c,j], dan lateral [I]. Namun, di antara bunyi tersebut masih ada bunyi fluktuatif yang meliputi kontoid frikatif [s] dan kontoid lateral [l]. Sementara itu, Aza belum menguasai lima fonem konsonan bahasa Indonesia, yaitu fonem frikatif /f/, /v/, /z/, /x/ dan /r/.
Kata kunci:
consonant phoneme acquisition;
ADHD;
bilingual background pemerolehan bunyi konsonan;
ADHD;
latar belakang bilingual
Alamat Korespondensi:
Aburizal Sadam Habibi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Negeri Malang Jalan Semarang 5 Malang E-mail: [email protected]
Pemerolehan bahasa berkaitan dengan proses penguasaan bahasa yang dilakukan oleh manusia. Pemerolehan bahasa dapat diperoleh melalui dua cara. Cara yang pertama, yakni bahasa diperoleh secara tidak sadar. Pemerolehan bahasa secara tidak sadar ini biasanya terjadi pada masa bayi sampai kanak-kanak. Pada masa tersebut anak berada dalam asuhan keluarga sehingga secara tidak sadar anak akan mempelajari bahasa kedua orangtuanya dengan cara meniru hingga akhirnya memahami bahasa mereka.
Cara kedua yakni, bahasa yang diperoleh secara sadar. Pemerolehan bahasa secara sadar ini terjadi ketika anak berada pada usia sekolah. Pada masa itu, anak akan mempelajari bahasa dalam lingkungan sekolah formal. Ada tahapan-tahapan ketika anak mulai memperoleh bahasa. Field (2004) menyatakan bahwa anak memperoleh bahasa melalui lima tahap. Kelima tahap itu, meliputi (1) pada usia tiga bulan anak mulai mendekut atau cooing, (2) pada saat berusia enam bulan anak mulai berceloteh atau babbling, (3) pada saat berusia satu tahun anak mulai mengeluarkan bunyi tahapan satu kata atau one-word stage; (4) pada saat berusia satu tahun enam bulan anak mulai dengan tahapan dua kata atau two-word stage, dan (5) pada saat berusia dua tahun enam bulan ke atas anak mulai menggunakan rangkaian tiga kata atau lebih dan menghasilkan kalimat utuh.
Pada umumnya, anak melalui tahapan pemerolehan bahasa yang sama dan yang membedakan adalah rata-rata kecepatan dalam perkembangannya. Proses pemerolehan bahasa ini menurut Chomsky (1980) merupakan keadaan seseorang yang diawali dari tidak mengetahui bahasa (initial zero) menuju tahap memahami dan memiliki kemampuan berbahasa layaknya bahasa orang dewasa (steady state), begitu pula dalam pemerolehan bunyi bahasa atau fonologis. Selain itu, berdasarkan penelitian McLeod &
Crowe (2018) yang telah melakukan penelitian secara cross-sectional dengan pemerolehan konsonan dari gabungan 27 bahasa diperoleh simpulan bahwa rata-rata anak normal menguasai konsonan dari daerahnya pada rentang usia lima tahun dan menguasai 93% bunyi serta tata kalimat yang sudah lengkap. Berdasarkan teori tersebut diketahui bahwa bahasa anak akan terus mengalami perkembangan menuju bahasa seperti orang dewasa
DOAJ-SHERPA/RoMEO-Google Scholar-IPI Halaman: 452—465
Namun, hal ini berbeda dengan anak yang bernama Aza. Kemampuan pemerolehan bahasa yang dimliki Aza terasa begitu lambat. Pada saat Aza berusia sekitar 1—2 tahun akhir, Aza masih belum mampu mengucapkan satu kata dengan benar dan terkadang tidak memahami perkataan dari orang lain. Tidak memahami perkataan orang lain ini dapat dilihat ketika Aza diberikan suatu perintah sederhana, tetapi Aza tidak merespon atau justru merespon sesuatu yang berbeda dengan yang diperintahkan.
Sementara itu, anak yang seusia dengan Aza yang bernama Jesika sudah mampu mengucapkan kalimat sederhana yang maknanya sudah bisa dipahami, meskipun tidak dengan bunyi yang sempurna. Misal, kalimat, “Ma, aem.” Ketika Jesika merasa lapar dan meminta makan pada ibunya atau kalimat, “Pah, jan.” Ketika Jesika meminta jajan atau makanan ringan kepada ayahnya. Selain itu, Jesika juga mampu memahami ujaran dari orang lain. Hal ini dapat dibuktikan ketika Jesika diberi perintah sederhana seperti mengambilkan piring, menutup atau membuka pintu, dan menyalakan atau mematikan lampu dapat dilakukan dengan tepat. Pada saat Aza berusia sekitar tiga tahun, Aza masih belum mampu mengeluarkan bunyi bahasa secara sempurna sehingga pada masa- masa itu Aza cenderung lebih banyak diam dan tidak menanggapi perkataan orang lain serta lebih memilih sibuk dengan kegiatannya sendiri. Sementara itu, Jesika sudah mulai mampu mengucapkan kata dengan bunyi yang sama dengan bunyi bahasa orang dewasa.
Mengetahui permasalahan yang diderita oleh Aza, kemudian orangtua Aza membawa Aza ke sebuah sekolah terapi guna membantu mengetahui permasalahan yang diderita oleh Aza. Pada saat dilakukan diagnosis, diketahui bahwa Aza menderita gangguan fokus dan juga hiperaktif atau biasa disebut Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD). ADHD merupakan suatu kelainan perkembangan yang terjadi pada masa anak dan dapat berlangsung sampai masa remaja (Sugiarmin, 2007). Anak-anak ADHD memiliki kecenderungan sulit mempertahankan perhatiannya pada suatu tugas tertentu. Kesulitan ini bukan disebabkan karena adanya rangsangan dari luar, melainkan dari dalam diri anak penyandang ADHD tersebut yang memang mudah terpancing dengan suatu rangsangan. Rangsangan yang dimaksud dalam hal ini adalah segala sesuatau yang dapat diinderakan, baik itu apa yang terlihat, terdengar, maupun tercium. Menurut Paternotte & Buitelaar (2010), seorang siswa penderita ADHD yang berada di sekolah biasanya tidak hanya mendengarkan guru yang sedang menerangkan, tetapi juga mendengarkan suara mobil di luar, bunyi gemertak kursi, bahkan bunyi pesawat terbang. Selain itu, ia tidak hanya melihat guru yang sedang mengajar, tetapi juga melihat gambar di papan, garis-garis di baju teman, dan sebagainya. Semua hal itu membutuhkan banyak energi agar dapat berkonsentrasi.
Secara umum, sudah banyak peneliti yang meneliti tentang faktor penyebab ADHD. Meskipun demikian, Wahidah (2018) menyatakan bahwa belum bisa dikatakan secara pasti faktor dominan atau penyebab utama anak menderita ADHD. Berbeda dengan hal itu, Adiputra et al., (2015) dalam penelitiannya menemukan bahwa faktor yang meningkatkan resiko anak menderita ADHD yaitu, bayi berat lahir rendah (BBLR) dan riwayat ADHD pada orangtua. Sementara itu, paparan asap rokok pada ibu hamil, kelahiran prematur, kelahiran dengan forcep, riwayat kejang, dan konsumsi makanan manis tidak meningkatkan resiko ADHD. Anak yang menderita ADHD permasalahan dalam perkembangan bahasa pragmatik (Darmawati & Nuryani, 2020). Anak yang memiliki gejala ADHD biasanya tidak dapat bertahan pada suatu percakapan karena fokusnya mudah pecah. Selain itu anak ADHD juga kesulitan dalam merumuskan ujaran dan cenderung impulsif serta terburu-buru. Meskipun kelainan otak pada anak ADHD bukan pada daerah bahasa, tetapi hal tersebut tetap memengaruhi perkembangan bahasa pragmatik anak.
Hubungan ADHD dan kemampuan berbicara sebelumnya sudah pernah diteliti. Menurut Pujiati & Yulianti (2018), gangguan bahasa seperti SLI (Speech of Language Impairment) sering dialami oleh anak yang memiliki gejala seperti ADHD.
SLI merupakan gangguan bahasa yang mencakup pemahaman dan/atau produksi bahasa lisan maupun berupa simbol tulisan.
Gangguan-gangguan tersebut dapat berupa fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan pragmatik. Meskipun gangguan atau keterlambatan berbicara bukanlah kriteria utama dalam diagnosis ADHD, tetapi beberapa penelitian mengungkapkan bahwa sebagian besar anak-anak yang memiliki gangguan dalam hal komunikasi adalah anak-anak penyandang ADHD (Al-Dakroury, 2018). Baker & Cantwell (1992) pernah melakukan penelitian pada anak yang secara diagnosis klinis dinyatakan penyandang ADHD dengan sampel sebanyak 65 anak dengan rentang usia 3—16 tahun. Hasil menunjukkan bahwa 17% memiliki gangguan bicara, 22% memiliki gangguan bahasa, dan sisanya 61% memiliki gangguan bahasa dan gangguan bicara (Baker & Cantwell, 1992). Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa anak yang menderita ADHD memiliki kaitan erat dengan SLI.
Selain penelitian tentang hubungan antara kemampuan berbicara dan ADHD, juga terdapat penelitian yang berkaitan dengan pemerolehan bunyi bahasa. Penelitian yang berkaitan dengan pemerolehan bahasa pada anak ADHD dilakukan oleh Kurniawati (2018). Namun, penelitian tersebut justru berfokus pada teknik pelatihan berbicara pada anak dengan menggunakan metode drill. Sementara itu, ada satu penelitian yang berfokus pada pemerolehan bunyi pada anak ADHD, yaitu penelitian yang dilakukan oleh Nova et al., (2019). Penelitian tersebut berfokus pada bunyi-bunyi yang telah dikuasai dan kesalahan bunyi yang diucapkan. Di sisi lain ada juga penelitian terdahulu yang berkaitan dengan pemerolehan bunyi bahasa. Akan tetapi, penelitian sebelumnya hanya berfokus pada anak yang tidak berkebutuhan khusus. Penelitian tesebut meliputi penelitian yang dilakukan oleh (Yanti, 2016) tentang pemerolehan bahasa anak usia 2—2,5 tahun dengan hasil anak telah menguasai konsonan [p], [b], [t], [d], [s], [h], [c], [j], [m], [n], [ŋ], [l], [w], dan [y] dikuasainya dengan baik. Konsonan [t], [s], [c], [j], dan [ŋ] sudah muncul, tetapi masih berfluktuasi dengan bunyi lain. Bunyi hambat velar [g], [k] belum diucapkan secara tepat. Bunyi [k] baru dikuasai jika terletak pada tengah dan akhir kata. Bunyi frikatif [f] dan [v] dan bunyi getar [r] belum muncul dan dikuasainya. Pola substitusi dilakukan untuk mengucapkan fonem-fonem yang belum dikuasainya, seperti fonem [f], [v], [z], dan[x]. Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Slamet et al., (2017) tentang pemerolehan fonem bahasa Indonesia dan distribusinya dengan hasil bahwa anak menguasai vokoid [a, i, I, ǝ, e, ɛ, o, O, u, U] dan kontoid hambat [p,b,t,d,k,g,ʔ], nasal [m,n,η,ň] , frikatif [s, h], afrikatif [c,j], lateral [l], tril [r], dan semivokoid [w,y] (2) anak belum menguasai kontoid frikatif [f], [v], [z], [š], dan [x], dan (3) anak telah
menguasai distribusi fonem bahasa Indonesia seperti pada tuturan standar bahasa Indonesia. Selanjutnya hasil penelitian oleh Apriani et al., (2019) tentang pemerolehan fonologi dan leksikon yang dilakukan pada anak berusia tiga tahun enam bulan dengan hasil penelitian berupa pemerolehan bunyi bahasa Indonesia ada 137 kata dan dalam bahasa Jawa ada 100 kata. Bunyi vokal dan bunyi konsonan sudah bisa diucapkan anak secara keseluruhan, tetapi terkadang ada bunyi tertentu yang diucapkan kurang benar dan bahkan salah. Sementara itu, pada hasil pemerolehan leksikon anak usia 3.6 tahun sudah sangat bervariasi. Kelas kata yang telah diucapkan ada tujuh kelas kata dalam bahasa Indonesia dan bahasa Jawa, yaitu kata benda, kata sifat, kata keterangan, kata bilangan, kata kerja, kata ganti, dan kata pelengkap.
Berdasarkan hasil penelitian-penelitian terdahulu, penelitian tentang pemerolehan bunyi konsonan pada anak ADHD dengan latar belakang bahasa Jawa perlu dilakukan. Hal ini terjadi karena belum ada pendeskripsian tentang pemerolehan bunyi konsonan pada anak ADHD dengan latar belakang bilingual, bahasa Jawa-bahasa Indonesia yang mencakup tentang pemerolehan bunyi konsonan pada anak ADHD sehingga penelitian ini dapat dikatakan sebagai penelitian yang baru.
METODE
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan pemerolehan bunyi konsonan pada anak berkebutuhan khusus. Pendekatan kualitatif ini digunakan karena peneliti bertindak sebagai instrumen kunci yang mengumpulkan data dengan teknik rekam, simak, dan catat. Selain itu, data yang dihasilkan berupa kata-kata yang diucapkan secara lisan dan terjadi secara alamiah pada subjek penelitian.
Jenis penelitian ini adalah penelitian studi kasus. Studi kasus pada penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki secara langsung dengan latar belakang alamiah dan memusatkan perhatian pada pemerolehan serta perkembangan bahasa anak berkebutuhan khusus. Jenis penelitian ini menggunakan metode berupa pancingan dan alami. Penelitian ini mengamati pemerolehan bahasa dalam bentuk bunyi, makna kata, dan bentukan kata secara sintaksis yang dipahami dan diproduksi oleh sumber data. Pemancingan data dilakukan untuk menggali data yang tidak muncul pada subjek penelitian. Metode pemancingan dilakukan dengan cara menunjuk objek dan disertai pertanyaan mengenai objek tersebut.
Penelitian ini menggunakan desain longitudinal dengan subjek penelitian hanya pada satu anak. Desain longitudinal digunakan karena penelitian ini dilakukan dalam jangka waktu yang lama. Desain longitudinal memerlukan jangka waktu yang panjang agar perkembangan bahasanya dapat diikuti hingga pada suatu titik tertentu. Durasi penelitian ini dilakukan selama sekitar lima tahun untuk mengetahui perkembangan pemerolehan bahasanya. Subjek pada penelitian ini diamati dan diikuti perkembangan bahasanya sejak berusia 4—9 tahun.
DATA DAN SUMBER DATA
Data penelitian ini berupa bunyi konsonan yang diucapkan oleh anak ADHD dalam bahasa Indonesia dan/atau bahasa Jawa pada usia 4—9 tahun. Sumber data penelitian ini adalah ujaran bahasa Indonesia dan/atau bahasa Jawa seorang anak yang diketahui menderita down syndrome disertai ADHD yang bernama Putri Ayu Nisa’u Syifa Fauziah (Aza) yang diteliti sejak berusia 4—9 tahun. Pengambilan data dilakukan secara alamiah yaitu ketika subjek bangun tidur, makan, bermain, dan berkomunikasi dengan orang lain. Selain melakukan pengambilan data secara alamiah, pada usia 7—9 tahun data berupa ujaran subjek juga diperoleh ketika dilakukan dengan teknik pemancingan oleh peneliti. Teknik pemancingan yang dilakukan yaitu teknik pemancingan terstruktur dan teknik pemancingan tidak terstruktur. Ujaran bahasa Indonesia yang diucapkan oleh Aza dapat berupa kata, frasa, ataupun kalimat lengkap yang direkam dan hasil rekamannya ditranskrip dalam bentuk tulisan.
PEMEROLEHANBUNYIKONSONANHAMBAT
Pada periode pertama, anak telah menguasai beberapa bunyi hambat. Anak mampu memproduksi bunyi hambat bersuara dan tak bersuara. Fonem hambat yang telah dikuasai anak, yaitu /p/, /b/, /t/, /d/, /k/, dan /g/. Pemerolehan bunyi kontoid hambat pada anak disajikan sebagai berikut.
Pemerolehan Bunyi Konsonan /p/
Aza menguasai fonem /p/ yang apabila dilihat dari mekanisme udara termasuk bunyi tak bersuara karena pita suara tidak melakukan gerakan membuka dan menutup sehingga getarannya tidak signifikan, apabila dilihat dari arah udaranya termasuk bunyi oral, apabila dilihat dari mekanisme artikulasi termasuk keterlibatan bibir bawah dengan bibir atas (bilabial), dan apabila dilihat dari cara gangguan arus udara termasuk bunyi hambat. Berdasarkan hal tersebut, fonem /p/ berfitur -suara, +oral, +bilabial, dan +hambat. Fonem /p/ terealisasi sebagai kontoid [p]. Kontoid [p] diucapkan lebih panjang dibandingkan kontoid +suara. Anak mampu memproduksi kontoid [p] yang diikuti oleh vokoid [i], [I], [e], [ε], [ǝ], [a], [u], [U], [o], dan [ͻ]. Aza belum mampu memproduksi konsonan kontoid [p] sebagai kluster dengan sempurna. Kontoid [p] sebagai kluster terjadi penghilangan. Hal ini terjadi karena Aza kesulitan dalam mengucapkan kontoid [p] sebagai kluster [pr], [pl].
(1) Kontoid [p] sebagai kluster [pr], [pl] yang belum sempurna [pre:man] diucapkan [pe:man]
[prε:si:dεn] diucapkan [pε:ci:dεn]
[plεs:tǝr] dicapkan [pεs:tǝl]
Sementara itu, Aza mampu memproduksi kontoid [p] sebagai deret konsonan. Kontoid [p] dapat diikuti kontoid [t] dan dapat didahului konsonan [m]. Pengucapan kontoid [p] ketika berdistribusi dengan bunyi yang lain tetap berfitur -suara, +bilabial, +oral, dan +hambat.
(2) [sεptεmbǝr] diucapkan [cεptεmbǝn]
[saptu:] diucapkan [captu:]
[ru:mpUt] diucapkan [lu:mpUt]
Pemerolehan Bunyi Konsonan /b/
Aza menguasai fonem /b/ yang apabila dilihat dari mekanisme udara termasuk bunyi bersuara karena pita suara melakukan gerakan membuka dan menutup sehingga getarannya terlihat signifikan, apabila dilihat dari arah udaranya termasuk bunyi oral, apabila dilihat dari mekanisme artikulasi termasuk keterlibatan bibir bawah dengan bibir atas (bilabial), dan apabila dilihat dari cara gangguan arus udara termasuk bunyi hambat. Berdasarkan hal tersebut, fonem /b/ berfitur +suara, +oral, +bilabial, dan +hambat. Fonem /b/ terealisasi menjadi kontoid [b]. Kontoid [b] yang diucapkan oleh Aza lebih pendek dibandingkan kontoid – suara dan pelepasan bunyi lebih tebal. Pelepasan bunyi [b] lebih tebal diakibatkan pengaruh dari bahasa Jawa yang memilki daya letup yang lebih besar ketika mengucapkan bunyi [b]. Aza mampu memproduksi kontoid [b] yang diikuti oleh vokoid [i], [I], [e], [ε], [ǝ], [a], [u], [U], [o], dan [ͻ]. Aza belum mampu memproduksi konsonan kontoid [b] sebagai kluster dengan sempurna.
Kontoid [b] sebagai kluster terjadi penghilangan. Hal ini terjadi karena Aza kesulitan dalam mengucapkan kontoid [b] sebagai kluster [br], [bl].
(3) [bro] diucapkan [bo:]
[blε:ndǝr] diucapkan [bε:ndǝn]
[am:brU?] diucapkan [am:bU?]
[ta:bra?] diucapkan [ta:ba:?]
Sementara itu, Aza mampu memproduksi kontoid [b] dalam deret konsonan. kontoid [b] dapat didahului [m] dan [l].
Pengucapan kontoid [b] ketika berdistribusi dengan bunyi yang lain tetap berfitur +suara, +bilabial, +oral, dan +hambat.
(4) [ta:mbah] “tambah”
[a:lbum] “album foto”
Pemerolehan Bunyi Konsonan /t/
Aza menguasai fonem /t/ yang apabila dilihat dari mekanisme udara termasuk bunyi tidak bersuara karena pita suara tidak melakukan gerakan membuka dan menutup sehingga getarannya tidak terlihat signifikan, apabila dilihat dari arah udaranya termasuk bunyi oral, apabila dilihat dari mekanisme artikulasi termasuk keterlibatan ujung lidah dengan pangkal gigi depan atas, dan apabila dilihat dari cara gangguan arus udara termasuk bunyi hambat. Berdasarkan hal tersebut, fonem /t/ memiliki fitur distingtif -suara, +oral, +apikodental, dan +hambat. Fonem /t/ diucapkan lebih panjang dibandingkan kontoid +suara. Fonem /t/
terealisasi menjadi kontoid [t]. Aza mampu memproduksi kontoid [t] yang dikuti oleh vokoid [i], [I], [e], [ε], [ǝ], [a], [u], [U], [o], dan [ͻ]. Aza belum mampu memproduksi konsonan kontoid [t] sebagai kluster dengan sempurna. Kontoid [t] sebagai kluster terjadi penghilangan. Hal ini terjadi karena Aza kesulitan dalam mengucapkan kontoid [t] sebagai kluster [tr]. Berbeda dengan kluster [tr], kluster [tl] justru diucapkan dengan adanya penambahan bunyi/adisi vokoid [ǝ] di antara kluster [tl].
(5) [tra:ḍi:si:] diucapkan [ta:ḍi:si:]
[trε:mͻs] diucapkan [tε:mͻs]
[a:tlas] diucapkan [a:tǝlas]
Sementara itu, Aza mampu memproduksi kontoid [t] dalam deret konsonan. Kontoid [t] dapat didahului [p] dan [n].
Pengucapan kontoid [t] ketika berdistribusi dengan bunyi yang lain tetap berfitur -suara, +apikodental, +oral, dan +hambat.
(6) [mipta:] (ketika memanggil teman bernama Miftah)
[bǝ:ntar] “sebentar”
Pemerolehan Bunyi Konsonan /d/
Aza menguasai fonem /d/ yang terealisasi menjadi dua bunyi, yaitu kontoid [d] dan kontoid [ḍ]. Kontoid [d] yang apabila dilihat dari mekanisme udara termasuk bunyi bersuara karena pita suara melakukan gerakan membuka dan menutup sehingga getarannya terlihat signifikan, apabila dilihat dari arah udaranya termasuk bunyi oral, apabila dilihat dari mekanisme artikulasi termasuk keterlibatan ujung lidah dengan pangkal gigi atas (apiko-dental), dan apabila dilihat dari cara gangguan arus udara termasuk bunyi hambat. Berdasarkan hal tersebut, kontoid [d] berfitur +suara, +oral, +apikodental, dan +hambat. Sementara itu, kontoid [ḍ] yang apabila dilihat dari mekanisme udara termasuk bunyi bersuara karena pita suara melakukan gerakan membuka dan menutup sehingga getarannya terlihat signifikan, apabila dilihat dari arah udaranya termasuk bunyi oral, apabila dilihat dari mekanisme artikulasi termasuk keterlibatan ujung lidah dengan rongga atas mulut (apiko-palatal), dan apabila dilihat dari cara gangguan arus udara termasuk bunyi hambat. Berdasarkan hal tersebut, kontoid [ḍ] berfitur +suara, +oral, +apikopalatal, dan +hambat. Fonem /d/ diucapkan lebih pendek dibandingkan kontoid -suara. Aza mampu memproduksi kontoid [d] dan [ḍ] yang dikuti oleh vokoid [i], [I], [e], [ε], [ǝ], [a], [u], [U], [o], dan [ͻ]. Selain itu kontoid [d] dapat diproduksi sebagai kluster dan deret konsonan. Kontoid [d] dapat diproduksi dalam kluster [dr], tetapi diucapkan secara tidak sempurna menjadi kluster [dl]. Selain itu, kontoid [d] juga dapat diproduksi dalam kluster [dw]. Kontoid [d] pada kluster [dl] diucapkan sebagai apikodental karena bunyi yang mengikuti adalah kontoid [l] yang berupa apikoalveolar, untuk mempermudah pengucapan kluster [dl]. Posisi ujung lidah pada kontoid [d] menyentuh pangkal gigi atas, dari apikopalatal menjadi apikodental agar mudah berpindah dari apikodental ke apikoalveolar. Kontoid [d] juga diucapkan sebagai apikopalatal ketika memproduksi kluster [dw], hal tersebut disebabkan semivokoid yang mengikuti berfitur bilabial sehingga untuk mempermudah perpindahan dari [d] ke [w], kontoid [d] dikedepankan.
Kluster [dw] diucapkan dengan adanya penambahan vokoid [u] di antara kontoid [d] dan [w].
(7) [dra:ma:] diucapkan [dla:ma:]
[dwi:] diucapkan [duwi:]
Kontoid [ḍ] dapat diproduksi dalam deret konsonan. Deret konsonan yang mendahului kontoid [ḍ] meliputi, [lḍ] dan [nḍ].
Kontoid [ḍ] diproduksi dengan fitur apikopalatal.
(8) [a:lḍ i:] (ketika Aza memanggil temannya yang bernama Aldi) [a:ṇḍU?] “handuk”
[bu:ṇḍa:] (panggilan untuk ibu guru)
Pemerolehan Bunyi Konsonan /k/
Aza menguasai fonem /k/ dalam dua variasi bunyi, yaitu kontoid [k] dan kontoid [?]. Kontoid [k] yang apabila dilihat dari mekanisme udara termasuk bunyi tidak bersuara karena pita suara tidak melakukan gerakan membuka dan menutup sehingga getarannya tidak terlihat signifikan, apabila dilihat dari arah udaranya termasuk bunyi oral, apabila dilihat dari mekanisme artikulasi termasuk keterlibatan pangkal lidah dengan velum/bagian belakang rongga atas mulut (velar), dan apabila dilihat dari cara gangguan arus udara termasuk bunyi hambat. Berdasarkan hal tersebut, kontoid [k] berfitur -suara, +oral, +dorsovelar, dan +hambat. Sementara itu, kontoid [?] yang apabila dilihat dari mekanisme udara termasuk bunyi tidak bersuara karena pita suara tidak melakukan gerakan membuka dan menutup sehingga getarannya tidak terlihat signifikan, apabila dilihat dari arah udaranya termasuk bunyi oral, apabila dilihat dari mekanisme artikulasi termasuk bunyi glotal, dan apabila dilihat dari cara gangguan arus udara termasuk bunyi hambat. Berdasarkan hal tersebut, kontoid [?] berfitur -suara, +oral, +glotal, dan +hambat. Aza mampu memproduksi kontoid [k] yang diikui oleh vokoid [i], [I], [e], [ε], [ǝ], [a], [u], [U], [o], dan [ͻ] pada posisi terbuka. Fonem /k/
terealisasi sebagai [k] saat berperan sebagai onset pada posisi terbuka. Saat menjadi koda pada posisi tertutup kontoid [k] juga muncul di beberapa kata tertentu.
(9) [ni:kma:h] (ketika Aza memanggil gurunya Bunda Nikmah)
[ki:ta:] “kita”
[na:kal] “nakal’
Di sisi lain, fonem /k/ terealisasi sebagai [?] sering muncul ketika berposisi sebagai koda pada posisi tertutup. Berikut variasi bunyi /k/ yang terealisasi sebagai kontoid [?].
(10) [a:dI?] “adik”
[bu?e:] (ketika Aza memanggil ibunya]
Kontoid [k] dapat diproduksi sebagai kluster dan deret konsonan. Fonem /k/ terealisasi sebagai [k] dalam kluster, yaitu kluster [kl] dan [ks], tetapi diproduksi secara tidak sempurna. Kluster [kl] berperan sebagai onset sedangkan ktuster [ks] berperan sebagai koda.
(11) [kli:nik] diucapkan [ki:nik]
[ekstra:] diucapkan [ekta:]
Sementara itu, fonem /k/ dapat terealisasi sebagai [k] dan [?] dalam deret konsonan. Fonem /k/ terealisasi sebagai [k] jika dikuti kontoid [m] dan didahului vokoid [i]. Fonem /k/ terealisasi sebagai [?] jika diikuti kontoid [m] dan [w].
(12) [ma:?mUm] “makmum”
[ba:?wan] “bakwan”
Pemerolehan Bunyi Konsonan /g/
Aza menguasai fonem /g/ yang apabila dilihat dari mekanisme udara termasuk bunyi bersuara karena pita suara melakukan gerakan membuka dan menutup sehingga getarannya terlihat signifikan, apabila dilihat dari arah udaranya termasuk bunyi oral, apabila dilihat dari mekanisme artikulasi termasuk keterlibatan pangkal lidah dengan velum/bagian belakang rongga atas mulut (velar), dan apabila dilihat dari cara gangguan arus udara termasuk bunyi hambat. Berdasarkan hal tersebut, kontoid [g] berfitur +suara, +oral, +dorsovelar, dan +hambat. Kontoid [g] diucapkan lebih pendek dibandingkan kontoid -suara. Aza mampu memproduksi kontoid [g] yang diikuti oleh vokoid [i], [I], [e], [ε], [ǝ], [a], [u], [U], [o], dan [ͻ]. Selain itu, kontoid [g] dapat diproduksi sebagai kluster dan deret konsonan. Kontoid [g] diikuti oleh kontoid [I] dan [r] untuk membentuk kluster [gl] dan [gr].
Akan tetapi, terkadang Aza mampu mengucapkan kluster [gl] dan terkadang tidak terucap secara sempurna. Untuk kluster [gr]
belum mampu diucapkan secara sempurna, tetapi sudah ada upaya bunyi tril yang berasal dari getaran lidah bagian belakang sehingga bunyi tril menjadi satu dengan bunyi [g] menjadi [gr].
(13) [glo:bal] diucapkan [go:bal] / [gǝlo:bal]
[gratis] diucapkan [gra:tis]
Saat diproduksi dalam kluster, kontoid [g] memiliki fitur dorsovelar hambat bersuara. Begitu pula saat kontoid [g]
diproduksi dalam deret konsonan [ƞg] dan [lg], kontoid [g] berfitur dorsovelar bersuara.
(14) [ǝ:ƞga?] “tidak”
[ha:lga:] (ketika mengucapkan harga)
PEMEROLEHAN BUNYI KONSONAN NASAL
Aza telah menguasai sepenuhnya bunyi konsonan nasal. Konsonan nasal merupakan suatu bunyi yang keluar atau disertai degan munculnya udara melalui rongga hidung. Menurut Marsono (2019), bunyi nasal terjadi dengan cara menurunkan langit- langit lunak beserta ujung anak tekaknya sehingga udara dapat melalui rongga hidung. Bunyi konsonan nasal yang dikuasai meliputi /m/, /n/, /ñ/, dan /ƞ/. Pemerolehan fonem nasal pada anak disajikan sebagai berikut.
Pemerolehan Bunyi Konsonan /m/
Aza menguasai fonem /m/ yang apabila dilihat dari mekanisme udara termasuk bunyi bersuara karena pita suara melakukan gerakan membuka dan menutup sehingga getarannya terlihat signifikan, apabila dilihat dari arah udaranya termasuk bunyi nasal, apabila dilihat dari mekanisme artikulasi termasuk keterlibatan bibir bawah dengan bibir atas, dan apabila dilihat dari cara gangguan arus udara termasuk bunyi sengau/sonoran. Berdasarkan hal tersebut, kontoid [m] berfitur +suara, +nasal, +bilabial, dan +sengau. Fonem /m/ terealisasi menjadi kontoid [m]. Anak mampu memproduksi kontoid [m] yang diikuti oleh vokoid [i], [I], [e], [ε], [ǝ], [a], [u], [U], [o], dan [ͻ]. Kontoid [m] juga dapat diproduksi dalam deret konsonan dengan diikuti kontoid [p] dan [b] serta didahului kontoid [l] dan [?].
(15) [ta:mbah] “tambah”
[a:mpal] “kumbang”
[i:lmu:] (ilmu)
[ba:?mi:] (bakmi)
Fonem /m/ tetap diproduksi dengan fitur bilabial, nasal, +suara dalam berbagai distribusi. Akan tetapi, bunyi [m] yang berposisi sebagai onset diucapkan dengan arus udara egresif, contohnya [ma:s] sedangkan ketika menjadi koda diucapkan dengan arus udara ingresif, contohnya [bǝ:lu:m].
Pemerolehan Bunyi Konsonan /n/
Aza menguasai bunyi konsonan /n/ dalam dua variasi bentuk, yaitu kontoid [n] dan kontoid [ṇ]. Kontoid [n] yang apabila dilihat dari mekanisme udara termasuk bunyi bersuara karena pita suara melakukan gerakan membuka dan menutup sehingga getarannya terlihat signifikan, apabila dilihat dari arah udaranya termasuk bunyi nasal, apabila dilihat dari mekanisme artikulasi termasuk keterlibatan ujung lidah dengan pangkal gigi atas, dan apabila dilihat dari cara gangguan arus udara termasuk bunyi sengau/sonoran. Berdasarkan hal tersebut, kontoid [n] berfitur +suara, +nasal, +apikodental, dan +sengau. Sementara itu, kontoid [ṇ] yang apabila dilihat dari mekanisme udara termasuk bunyi bersuara karena pita suara melakukan gerakan membuka dan menutup sehingga getarannya terlihat signifikan, apabila dilihat dari arah udaranya termasuk bunyi nasal, apabila dilihat dari mekanisme artikulasi termasuk keterlibatan ujung lidah dengan rongga mulut atas, dan apabila dilihat dari cara gangguan arus udara termasuk bunyi sengau/sonoran. Berdasarkan hal tersebut, kontoid [ṇ] berfitur +suara, +nasal, +apikopalatal, dan +sengau.
Aza mampu memproduksi bunyi /n/ yang diikuti oleh vokoid [i], [I], [e], [ε], [ǝ], [a], [u], [U], [o], dan [ͻ]. Bunyi nasal /n/
saat diikuti oleh vokoid dapat terealisasi dengan fitur apikopalatal, misalnya [ṇa:nka:] atau berfitur apikodental, misalnya [nε:nε:?].
Fonem /n/ yang terealisasi sebagai kontoid [n] dan [ṇ] masih bersifat tidak menentu, terkadang terealisasi sebagai [n] atau [ṇ] saja dan terkadang terealisasi sebagai keduanya. Akan tetapi, bunyi /n/ yang direalisasikan dengan fitur apikodental [n] selalu dikuti oleh kontoid [d, t] di sisi lain, bunyi /n/ yang direalisasikan dengan fitur apikopalatal [ṇ] diikuti oleh kontoid befitur [ḍ, c, j].
(16) [ha:ntu:] “hantu”
[pi:nda:h]/[pi:ṇḍa:h] “pindah”
[a:ṇjIƞ] “anjing”
[ha:ṇcUr] “hancur”
[pe:lṇa:h] “pernah”
[ṇa:si:] “nasi”
[a:maṇ] “aman”
Bunyi /n/ tidak dapat diproduksi dalam kluster, tetapi dapat diproduksi sebagai deret konsonan. Kontoid [n] dalam deret konsonan dapat diikuti kontoid [t] dan [d]. Pada deret konsonan yang diikuti bunyi /d/ terkadang terealisasi sebagai [n] dan [ṇ]
bergantung variasi bunyi /d/ yang muncul. Sementara itu, bunyi /n/ yang diikuti kontoid [ḍ], [c], dan [j] serta diawali kontoid [l]
akan terealisasi dengan fitur apikopalatal [ṇ]. Jadi, fonem /n/ memiliki dua variasi bunyi, yaitu [n] dan [ṇ].
Pemerolehan Bunyi Konsonan /ñ/
Aza menguasai bunyi konsonan /ñ/ dengan sempurna. Bunyi konsonan /ñ/ yang terealisasi sebagai kontoid [ñ] apabila dilihat dari mekanisme udara termasuk bunyi bersuara karena pita suara melakukan gerakan membuka dan menutup sehingga getarannya terlihat signifikan, apabila dilihat dari arah udaranya termasuk bunyi nasal, apabila dilihat dari mekanisme artikulasi termasuk keterlibatan daun lidah dengan langit-langit keras, dan apabila dilihat dari cara gangguan arus udara termasuk bunyi sengau/sonoran. Berdasarkan hal tersebut, kontoid [ñ] berfitur +suara, +nasal, +laminopalatal, dan +sengau.
Aza mampu memproduksi bunyi /ñ/ yang diikuti oleh vokoid [i], [ǝ], [a], [u], [o], dan [ͻ]. Bunyi /ñ/ yang diikuti vokoid [I], [e], dan [ε] tidak terlihat dalam setiap ujarannya. Selain itu, tidak ada bunyi kontoid yang mengikuti atau mendahului bunyi /ñ/. Berikut bunyi /ñ/ yang mampu dihasilkan oleh Aza.
(17) [ña:ñi:] “bernyanyi”
[ña:mu?] “nyamuk”
[ñǝ:ya:h] (ketika Aza ingin berkata menyerah) [ñu:yu:h] (ketika Aza ingin berkata menyuruh)
[ño:ba:] “mencoba”
[ñͻ:yͻ:ƞ] “mencuri” dalam bahasa Jawa Pemerolehan Bunyi Konsonan /ƞ/
Aza menguasai bunyi konsonan /ƞ/ dengan sempurna. Bunyi konsonan /ƞ/ yang terealsisasi sebagai kontoid [ƞ] apabila dilihat dari mekanisme udara termasuk bunyi bersuara karena pita suara melakukan gerakan membuka dan menutup sehingga getarannya terlihat signifikan, apabila dilihat dari arah udaranya termasuk bunyi nasal, apabila dilihat dari mekanisme artikulasi termasuk keterlibatan punggung lidah belakang dengan velum atau langit-langit lunak belakang, dan apabila dilihat dari cara gangguan arus udara termasuk bunyi sengau/sonoran. Berdasarkan hal tersebut, kontoid [ƞ] berfitur +suara, +nasal, +velar, dan +sengau.
Aza mampu memproduksi bunyi /ƞ/ yang diikuti dan didahului oleh vokoid serta hanya dapat diikuti oleh kontoid. Vokoid yang dapat mengikuti ataupun mendahului bunyi /ƞ/ meliputi [i], [I], [e], [ε], [ǝ], [a], [u], [U], [o], dan [ͻ]. Di sisi lain, bunyi nasal /ƞ/ hanya bisa diikuti oleh kontoid [k], [g], dan [s]. Sementara itu, bunyi kontoid lain yang mampu mengikuti kontoid [ƞ]
belum tampak. Berikut bunyi /ƞ/ yang mampu dihasilkan oleh Aza.
(18) [ṇa:ƞi:s] “menangis”
[ma:ƞsa:] “mangsa”
[ba:ƞga:] “bangga”
[bǝ:a:ƞkat] (ketika Aza ingin mengucapkan berangkat)
[bi:ƞU:ƞ] “bingung”
PEMEROLEHAN BUNYI KONSONAN FRIKATIF
Terdapat enam bunyi konsonan frikatif bahasa Indonesia, yaitu /f, v, s, z, x, h/. Di antara bunyi-bunyi tersebut, Aza hanya mampu menguasai bunyi konsonan frikatif /s/ dan /h/. Berikut sajian pemerolehan bunyi konsonan frikatif yang diperoleh Aza.
Pemerolehan Bunyi Konsonan /f/
Aza belum mampu menguasai bunyi konsonan /f/ yang apabila dilihat dari mekanisme udara termasuk bunyi tidak bersuara karena pita suara tidak melakukan gerakan membuka dan menutup sehingga getarannya tidak terlihat signifikan, apabila dilihat dari arah udaranya termasuk bunyi oral, apabila dilihat dari mekanisme artikulasi termasuk keterlibatan bibir bawah dengan gigi atas, dan apabila dilihat dari cara gangguan arus udara termasuk bunyi desah. Berdasarkan hal tersebut, kontoid [f] berfitur -suara, oral, labiodental, dan frikatif. Bunyi /f/ yang seharusnya terealisasi sebagai kontoid [f] justru terealisasi sebagai kontoid [p]. Bunyi konsonan /f/ yang terealisasi sebagai kontoid [p] muncul pada kata [ma:?af:] yang terealisasi menjadi [ma:?ap].
Penggantian kontoid [f] menjadi kontoid [p] terjadi karena kontoid [f] yang berfitur labiodental frikatif lebih sulit diproduksi daripada bunyi [p] yang berfitur bilabial hambat. Bunyi frikatif tak besuara lebih sulit diproduksi daripada bunyi hambat tak bersuara sehingga apabila anak belum mampu menguasai bunyi frikatif maka bunyi tersebut akan digantikan dengan bunyi hambat yang daerah artikulasinya berdekatan. Dalam hal ini, bunyi frikatif labiodental digantikan dengan bunyi hambat bilabial. Hal ini sesuai dengan urutan pemerolehan bunyi yang dikemukakan oleh Jakobson (1968:51) yang menyatakan bahwa urutan kontoid yang diperoleh anak yaitu, dimulai dari kontoid hambat, nasal, frikatif, afrikatif, lateral dan terakhir tril.
Pemerolehan Bunyi Konsonan /v/
Aza belum mampu menguasai bunyi konsonan /v/ yang apabila dilihat dari mekanisme udara termasuk bunyi bersuara karena pita suara melakukan gerakan membuka dan menutup sehingga getarannya terlihat signifikan, apabila dilihat dari arah udaranya termasuk bunyi oral, apabila dilihat dari mekanisme artikulasi termasuk keterlibatan bibir bawah dengan gigi atas, dan apabila dilihat dari cara gangguan arus udara termasuk bunyi desah. Berdasarkan hal tersebut, kontoid [v] berfitur +suara, oral, labiodental, dan frikatif. Bunyi /v/ tidak muncul selama periode pertama sampai ketiga. Hal ini terjadi karena tidak ada kata asli bahasa Indonesia ataupun bahasa Jawa yang menggunakan bunyi /v/.
Pemerolehan Bunyi Konsonan /s/
Aza mampu menguasai bunyi konsonan /s/. Bunyi konsonan /s/ terealisasi sebagai kontoid [s] yang apabila dilihat dari mekanisme udara termasuk bunyi tidak bersuara karena pita suara tidak melakukan gerakan membuka dan menutup sehingga getarannya tidak terlihat signifikan, apabila dilihat dari arah udaranya termasuk bunyi oral, apabila dilihat dari mekanisme artikulasi termasuk keterlibatan daun lidah dengan bagian belakang gigi atas, dan apabila dilihat dari cara gangguan arus udara termasuk bunyi desah. Berdasarkan hal tersebut, kontoid [s] berfitur -suara, oral, laminoalveolar, dan frikatif. Bunyi /s/ yang terealisasi sebagai kontoid [s] hanya mampu diproduksi oleh Aza sebagai koda. Sementara itu pada posisi onset, bunyi konsonan /s/ yang seharusnya juga terealisasi sebagai kontoid [s] justru terealisasi sebagai kontoid [c]. Penggantian kontoid [s] sebagai [c]
tidak sesuai dengan urutan pemerolehan bunyi yang dicetuskan oleh Jakobson. Penggantian kontoid [s] menjadi kontoid [c] terjadi karena kontoid [s] yang berfitur frikatif laminoalveolar -suara lebih sulit diproduksi daripada bunyi [c] yang berfitur afrikatif laminopalatal -suara. Bunyi frikatif tak bersuara lebih sulit diproduksi daripada bunyi afrikatif tak bersuara sehingga apabila anak belum mampu menguasai bunyi frikatif maka bunyi tersebut akan digantikan dengan bunyi afrikatif yang daerah artikulasinya berdekatan. Dalam hal ini, bunyi frikatif laminoalveolar digantikan dengan bunyi afrikatif laminopalatal. Hal ini tidak sesuai dengan urutan pemerolehan bunyi yang dikemukakan oleh Jakobson (1968) yang menyatakan bahwa urutan kontoid yang diperoleh anak yaitu, dimulai dari kontoid hambat, nasal, frikatif, afrikatif, lateral dan terakhir tril. Selain itu, bunyi /s/ dapat diucapkan menjadi kontoid [s] yang berposisi sebagai onset apabila kata sebelumnya diakhiri dengan bunyi [s], misal kata [ma:s:]
diikuti dengan kata [sa:da:m] diucapkan dalam satu kesatuan [mas:sa:da:m].
Aza mampu memproduksi bunyi /s/ yang terealisasi sebagai kontoid [s] yang didahului oleh vokoid. Vokoid yang dapat mendahului bunyi /s/ meliputi [i], [I], [e], [ε], [ǝ], [a], [u], [U], [o], dan [ͻ]. Berikut bunyi /s/ yang mampu dihasilkan oleh Aza.
(19) [a:mi:s]/[a:mI:s] “amis”
[ju:s] “jus”
[be:ba:s] “bebas”
Bunyi /s/ yang berposisi sebagai onset terealisasi sebagai kontoid [c] dan dapat diikuti oleh vokoid. Vokoid yang dapat mengikuti bunyi /s/ yang terealisasi sebagai kontoid [c] meliputi [i], [I], [e], [ε], [ǝ], [a], [u], [U], [o], dan [ͻ]. Berikut bunyi /s/
yang terealisasi sebagai kontoid [c] yang mampu dihasilkan oleh Aza.
(20) [su:su] diucapkan [cu:cu:]
[sa:pi:] diucapkan [ca:pi:]
[si:kat] diucapkan [ci:kat]
Pemerolehan Bunyi Konsonan /z/
Aza belum mampu menguasai bunyi konsonan /z/ yang apabila dilihat dari mekanisme udara termasuk bunyi bersuara karena pita suara melakukan gerakan membuka dan menutup sehingga getarannya terlihat signifikan, apabila dilihat dari arah udaranya termasuk bunyi oral, apabila dilihat dari mekanisme artikulasi termasuk keterlibatan daun lidah dengan bagian belakang gigi atas, dan apabila dilihat dari cara gangguan arus udara termasuk bunyi desah. Berdasarkan hal tersebut, bunyi konsonan /z/
berfitur +suara, oral, laminoalveolar, dan frikatif. Aza menghasilkan bunyi /z/ yang terealisasi sebagai kontoid [j]. Penggantian kontoid [z] sebagai [j] tidak sesuai dengan urutan pemerolehan bunyi yang dicetuskan oleh Jakobson. Penggantian kontoid [z]
menjadi kontoid [j] terjadi karena kontoid [z] yang berfitur frikatif laminoalveolar +suara lebih sulit diproduksi daripada bunyi [j]
yang berfitur afrikatif laminopalatal +suara. Bunyi lamino frikatif bersuara lebih sulit diproduksi daripada bunyi lamino afrikatif bersuara sehingga apabila anak belum mampu menguasai bunyi lamino frikatif maka bunyi tersebut akan digantikan dengan bunyi lamino afrikatif yang daerah artikulasinya berdekatan. Dalam hal ini, bunyi frikatif laminoalveolar digantikan dengan bunyi afrikatif laminopalatal. Hal ini tidak sesuai dengan urutan pemerolehan bunyi yang dikemukakan oleh Jakobson (1968:51) yang menyatakan bahwa urutan kontoid yang diperoleh anak yaitu, dimulai dari kontoid hambat, nasal, frikatif, afrikatif, lateral dan terakhir tril. Bunyi /z/ yang terealisasi sebagai kontoid [j] tampak pada kata [ze:bra:] yang diucapkan sebagai [je:bra:].
Pemerolehan Bunyi Konsonan /x/
Aza belum menguasai fonem /x/ yang apabila dilihat dari mekanisme udara termasuk bunyi tak bersuara karena pita suara tidak melakukan gerakan membuka dan menutup sehingga getarannya tidak terlihat signifikan, apabila dilihat dari arah udaranya termasuk bunyi oral, apabila dilihat dari mekanisme artikulasi termasuk keterlibatan pangkal lidah dengan rongga atas mulut/velum, serta apabila dilihat dari cara gangguan arus udara termasuk bunyi desah. Bedasarkan hal itu, bunyi konsonan /x/
berfitur –suara, oral, dorsovelar, frikatif. Bunyi /x/ tidak muncul selama periode pertama sampai ketiga. Hal ini terjadi karena tidak ada kata asli bahasa Indonesia ataupun bahasa Jawa yang menggunakan bunyi /x/.
Pemerolehan Bunyi Konsonan /h/
Aza mampu menguasai fonem /h/ yang apabila dilihat dari mekanisme udara termasuk bunyi bersuara karena pita suara melakukan gerakan membuka dan menutup sehingga getarannya terlihat signifikan, apabila dilihat dari arah udaranya termasuk bunyi oral, apabila dilihat dari mekanisme artikulasi termasuk keterlibatan laringal, dan apabila dilihat dari cara gangguan arus udara termasuk bunyi desah. Berdasarkan hal tersebut, bunyi konsonan /h/ berfitur +suara, oral, laring, dan frikatif. Fonem /h/
terealisasi sebagai kontoid [h]. Bunyi [h] diucapkan lebih pendek dibandingkan bunyi -suara. Aza mampu memproduksi kontoid [h] yang diikuti mapun didahului oleh vokoid [i], [I], [e], [ε], [ǝ], [a], [u], [U], [o], dan [ͻ]. Pada berbagai distribusi bunyi, fonem /h/ tetap diucapkan dengan fitur (laringal, frikatif, +suara). Berikut bunyi konsonan /h/ yang dapat diproduksi oleh Aza.
(21) [ha:di:ya:h] “hadiah”
[hi:dup] “hidup”
[he:bat] “hebat”
[ma:si:h] “masih”
PEMEROLEHAN BUNYI KONSONAN AFRIKATIF
Aza sudah menguasai bunyi afrikatif sejak periode kedua dan ketiga. Bunyi afrikatif yang dihasilkan yaitu, bunyi afrikatif –suara /c/ dan bunyi afrikatif +suara /j/. Pemerolehan bunyi konsonan afrikatif disajikan sebagai berikut.
Pemerolehan Bunyi Konsonan /c/
Aza menguasai bunyi /c/ yang terealisasi sebagai kontoid [c]. Bunyi /c/ yang apabila dilihat dari mekanisme udara termasuk bunyi tak bersuara karena pita suara tidak melakukan gerakan membuka dan menutup sehingga getarannya tidak terlihat signifikan, apabila dilihat dari arah udaranya termasuk bunyi oral, apabila dilihat dari mekanisme artikulasi termasuk keterlibatan daun lidah dengan langit-langit atas mulut, dan apabila dilihat dari cara gangguan arus udara termasuk bunyi paduan karena bunyi yang dihasilkan menghambat arus udara di salah satu tempat artikulasi diletupkan kemudian dilepaskan dengan cara mendesah.
Berdasarkan hal tersebut, bunyi konsonan /c/ berfitur -suara, oral, laminopalatal, dan afrikatif. Bunyi /c/ terealisasi menjadi
kontoid [c] dan diucapkan lebih panjang dibandingkan kontoid +suara. Kontoid [c] dapat diproduksi dengan diikuti maupun didahului oleh vokoid [i], [I], [e], [ε], [ǝ], [a], [u], [U], [o], dan [ͻ]. Berikut bunyi konsonan /c/ yang mampu dihasilkan oleh Aza.
(22) [ca:ntik] “cantik”
[ci:nta:] “cinta”
[cu:ci] “mencuci”
[pε:ci:] “peci/kopyah”
Pemerolehan Bunyi Konsonan /j/
Aza menguasai bunyi /j/ yang terealisasi sebagai kontoid [j]. Bunyi /j/ yang apabila dilihat dari mekanisme udara termasuk bunyi bersuara karena pita suara melakukan gerakan membuka dan menutup sehingga getarannya terlihat signifikan, apabila dilihat dari arah udaranya termasuk bunyi oral, apabila dilihat dari mekanisme artikulasi termasuk keterlibatan daun lidah dengan langit-langit atas mulut, dan apabila dilihat dari cara gangguan arus udara termasuk bunyi paduan karena bunyi yang dihasilkan menghambat arus udara di salah satu tempat artikulasi diletupkan kemudian dilepaskan dengan cara mendesah. Berdasarkan hal tersebut, bunyi konsonan /j/ berfitur +suara, oral, laminopalatal, dan afrikatif. Bunyi /j/ terealisasi menjadi kontoid [j] dan diucapkan lebih panjang dibandingkan kontoid +suara. Kontoid [c] dapat diproduksi dengan diikuti maupun didahului oleh vokoid [i], [I], [e], [ε], [ǝ], [a], [u], [U], [o], dan [ͻ]. Berikut bunyi konsonan /j/ yang mampu dihasilkan oleh Aza.
(23) [ͻ:jͻ:] “jangan (Jawa)”
[ja:jan] “makanan ringan (Jawa)”
[ba:ju:] “baju”
[ja:uh:] “jauh”
PEMEROLEHAN BUNYI KONSONAN LATERAL
Aza menguasai fonem lateral /l/ yang terealisasi sebagai kontoid [l]. Bunyi /l/ yang apabila dilihat dari mekanisme udara termasuk bunyi bersuara karena pita suara melakukan gerakan membuka dan menutup sehingga getarannya terlihat signifikan, apabila dilihat dari arah udaranya termasuk bunyi oral, apabila dilihat dari mekanisme artikulasi termasuk keterlibatan ujung lidah dengan lengkung kaki gigi (apiko-alveolar), dan apabila dilihat dari cara gangguan arus udara termasuk bunyi yang arus udaranya keluar melewati bagian samping (lateral). Berdasarkan hal tersebut, bunyi konsonan /l/ berfitur +suara, oral, apikoalveolar, dan lateral. Kontoid [l] dapat diproduksi dengan diikuti vokoid [i], [I], [e], [ε], [ǝ], [a], [u], [U], [o], dan [ͻ]. Berikut bunyi kontoid [l]
yang mampu diproduksi oleh Aza.
(24) [la:pa:l] “lapar”
[la:gi:] “lagi”
[ba:lͻn:] “balon”
Aza belum mampu memproduksi konsonan kontoid [l] sebagai kluster dengan sempurna. Kontoid [l] sebagai kluster terjadi penghilangan. Hal ini terjadi karena Aza kesulitan dalam mengucapkan kontoid [l] sebagai kluster [kl]. Berbeda dengan kluster [kl], kluster [ml] justru diucapkan dengan adanya penambahan bunyi/adisi vokoid [ǝ] di antara kluster [ml]. Berikut kontoid [l]
yang diproduksi oleh Aza sebagai kluster.
(25) [kli: nik] diucapkan [ki:nik]
[mla:ku:] diucapkan [mǝla:ku:]
[mlu:mah] diucapkan [mǝlu:mah]
PEMEROLEHAN BUNYI KONSONAN TRIL
Aza belum menguasai bunyi konsonan /r/. Bunyi konsonan /r/ yang apabila dilihat dari mekanisme udara termasuk bunyi bersuara karena pita suara melakukan gerakan membuka dan menutup sehingga getarannya terlihat signifikan, apabila dilihat dari arah udaranya termasuk bunyi oral, apabila dilihat dari mekanisme artikulasi termasuk keterlibatan ujung lidah dengan lengkung kaki gigi (apiko-alveolar), serta apabila dilihat dari cara gangguan arus udara termasuk bunyi yang dihasilkan dengan menggetarkan ujung lidah pada alveolar. Berdasarkan hal itu, bunyi konsonan /r/ berfitur +suara, oral, apikoalveolar, tril (getar).
Bunyi /r/ tidak muncul selama periode pertama sampai ketiga. Hal ini terjadi karena otot lidah Aza tidak begitu lentur untuk menggetarkannya. Bunyi-bunyi yang seharusnya diujarkan sebagai kontoid [r] justru terealisasi sebagai [l] yang berfitur +suara, oral, apikoalveolar, dan lateral. Selain itu, secara fluktuasi bunyi kontoid [r] juga terealisasi sebagai kontoid [n] yang berfitur +suara, +nasal, +apikodental, dan +sengau. Secara umum, Anak yang belum mampu mengucapkan kontoid [r] akan terealisasi sebagai kontoid [l] (Nadya & Kirana, 2020). Hal ini terjadi karena bunyi apikoalveolar yang diucapkan secara getar lebih sulit apabila dibandingkan dengan bunyi apikoalveolar yang diucapkan dengan cara menggeser. Selain itu, bunyi kontoid
[r] akan terealisasi sebagai kontoid nasal [n] yang terletak sebagai koda. Hal ini terjadi karena Aza akan mengucapkan bunyi yang lebih mudah diucapkan dan yang artikulasinya berdekatan. Dalam hal ini, bunyi nasal lebih mudah diucapkan dari pada bunyi getar (Jakobson, 1968). Berikut adalah bunyi kontoid [r] yang terealisasi sebagai kontoid [l] dan [r] yang mampu diproduksi oleh Aza.
(26) [ra:bu:] diucapkan [la:bu:]
[bǝ:ru:bah:] diucapkan [bǝ:lu:bah:]
[kͻ:tͻr] diucapkan [kͻ:tͻn]
[bu:bUr] diucapkan [bu:bUl]
[kantͻr] diucapkan [kantͻn]
Selain bunyi kontoid [r] yang terealisasi sebagai kontoid [l] dan [n], Aza terkadang juga merealisasikan bunyi kontoid [r]
ke bentuk yang lebih sederhana yaitu bunyi semivokal [y]. Berikut adalah bunyi kontoid [r] yang terealisasi sebagai bunyi semivokal [y].
(27) [bu:rUƞ] diucapkan [bu:yUƞ]
[bi:ru:] diucapkan [bi:yu:]
[me:rah] diucapkan [me:yah]
PEMEROLEHAN BUNYI SEMIVOKAL
Aza mampu menguasai bunyi semivokal. Bunyi semivokal yang dikuasai meliputi bunyi /w/ dan /y/. Pemerolehan semivokal pada anak disajikan sebagai berikut.
Pemerolehan Bunyi Semivokal /w/
Aza menguasai bunyi semivokal /w/ sejak periode pertama. Bunyi semivokal /w/ terealisasi sebagai semivokoid [w] yang apabila dilihat dari mekanisme udara termasuk bunyi bersuara karena pita suara melakukan gerakan membuka dan menutup sehingga getarannya terlihat signifikan, apabila dilihat dari arah udaranya termasuk bunyi oral, apabila dilihat dari mekanisme artikulasi termasuk keterlibatan bibir atas dengan bibir bawah, serta apabila dilihat dari cara gangguan arus udara termasuk bunyi semi tertutup. Berdasarkan hal itu, bunyi konsonan /w/ berfitur +suara, oral, bilabial, semivokal. Semivokoid [w] dapat diproduksi dengan dikuti vokoid [i], [I], [e], [ε], [ǝ], [a], [u], [U], [o], dan [ͻ]. Aza belum mampu memproduksi konsonan deret pada semivokoid [w]. Berikut bunyi semivokoid yang mampu diproduksi oleh Aza.
(28) [wa:wan] ( ketika memanggil temannya yang bernama Wawan)
[ba?wan] “bakwan”
[sa:wi:] “sawi”
[ja:wa:] “jawa”
Selain itu, bunyi semivokoid [w] juga dapat muncul sebagai koartikulasi ketika vokoid [u] diikuti oleh vokoid [a]. Berikut bunyi semivokoid [w] yang muncul sebagai koartikulasi.
(29) [du:wa] /dua/
[tu:wa] /tua/
[bu:wah] /buah/
Pemerolehan Bunyi Semivokal /y/
Aza menguasai bunyi semivokal /y/ sejak periode pertama. Bunyi semivokal /y/ terealisasi sebagai semivokoid [y] yang apabila dilihat dari mekanisme udara termasuk bunyi bersuara karena pita suara melakukan gerakan membuka dan menutup sehingga getarannya terlihat signifikan, apabila dilihat dari arah udaranya termasuk bunyi oral, apabila dilihat dari mekanisme artikulasi termasuk keterlibatan daun lidah dengan langit-langit keras, serta apabila dilihat dari cara gangguan arus udara termasuk bunyi semi tertutup. Berdasarkan hal itu, bunyi konsonan /y/ berfitur +suara, oral, laminnopalatal, dan semivokal. Semivokoid [y]
dapat diproduksi dengan dikuti vokoid [i], [I], [e], [ε], [ǝ], [a], [u], [U], [o], dan [ͻ]. Aza belum mampu memproduksi konsonan deret pada semivokoid [y] dengan sempurna seperti pada kata [karya:] yang justru diucapkan sebagai [ka:ya:]. Ucapan tesebut dapat dipahami apabila mengetahui konteks yag dibicarakan. Berikut bunyi semivokoid yang mampu diproduksi oleh Aza.
(30) [ya:ƞ] “yang”
[a:yam] “ayam”
[a:yo:] “ajakan”
[ba:yam]/[ba:yǝm] “sayur bayam”
Selain itu, bunyi semivokoid [y] juga dapat muncul sebagai koartikulasi ketika vokoid [i] diikuti oleh vokoid [a]. Berikut bunyi semivokoid [y] yang muncul sebagai koartikulasi.
(31) [di:ya:] /dia/
[li:ya:] /lia/
[si:yaƞ] /siaƞ/
Karakteristik Pemerolehan Bunyi Konsonan Pada Anak ADHD Berlatar Belakang Bilingual
Aza menguasai 16 fonem konsonan bahasa Indonesia yang terealisasi menjadi kontoid hambat [p,b,t,d,ḍ,k,j,g,?], nasal [m,n,ṇ,ƞ,ň], frikatif [s,h], afrikatif [c,j], dan lateral [I]. Akan tetapi, di antara bunyi tersebut masih ada bunyi yang masih fluktuatif.
Bunyi yang masih fluktuatif tersebut meliputi kontoid frikatif [s] dan kontoid lateral [l]. Sementara itu, Aza belum menguasai lima fonem konsonan bahasa Indonesia, yaitu fonem frikatif /f/, /v/, /z/, /x/ dan /r/. Karateristik fonem konsonan yang diproduksi oleh Aza dipengaruhi oleh distribusi bunyi sehingga beberapa bunyi memiliki variasi bunyi dalam posisi tertentu.
Adanya bunyi kontoid yang belum dikuasai secara konsisten menunjukkan bahwa anak memperoleh bunyi yang mudah sebelum bunyi yang lebih sukar sesuai unutan pemerolehan bunyi yang dikemukakan oleh Jakobson. Jakobson (1968:51) menyatakan bahwa berdasarkan law of irresible solidariy, urutan kontoid yang diperoleh anak yaitu, kontoid hambat, nasal, frikatif, afrikatif, lateral, dan tril. Selain itu, Jakobson (1968) meramalkan tingkat kesukaran bunyi, yaitu bunyi yang dihasillkan di bagian depan mulut lebih mudah dibandingkan bunyi yang dihasilkan di belakang. Dengan demikian, bunyi depan (bilabial dan dental) akan diperoleh lebih dahulu dibandingkan bunyi belakang (velar, palatal, alveopalatal). Keseluruhan bunyi yang belum dikuasai Aza adalah bunyi frikatif. Bunyi [f], [v] adalah bunyi belakang, sedangkan bunyi [z], dan [x] adalah bunyi +belakang. Bunyi kontoid [f] dan [v] diganti [p] merupakan bukti bahwa bunyi hambat diperoleh lebih dahulu karena bunyi afrikatif digantikan bunyi hambat. Selanjutnya, bunyi kontoid [r] yang digantikan bunyi kontoid [l] juga merupakan bukti bahwa bunyi lateral lebih mudah diproduksi dari pada bunyi tril.
Terdapat beberapa bunyi yang cara ucapnya sedikit berbeda dengan bunyi bahasa Indonesia pada umumnya serta terjadi urutan pemerolehan yang berbeda. Hal ini terjadi karena adanya pengaruh latar belakang Aza sebagai seorang bilingual serta penyandang ADHD. Bunyi yang memiliki pengaruh terhadap latar belakang bahasa Jawa meliputi bunyi hambat /b/, /d/, dan /g/.
Bunyi-bunyi hambat tersebut diucapkan dengan letupan yang lebih tebal.
Di sisi lain, urutan pemerolehan bunyi yang dipengaruhi oleh ADHD yaitu adanya penyimpangan pemerolehan urutan bunyi yang diproduksi oleh Aza dan tidak sesuai dengan urutan pemerolehan bunyi Jakobson. Penggantian bunyi kontoid [s]
dengan [c] dan kontoid [z] dengan [j] tidak sesuai dengan urutan pemerolehan bunyi Jakobson. Menurut Jakobson (1968:51), bunyi frikatif diperoleh terlebih dahulu dari pada bunyi afrikatif. Namun, pada hal ini Aza justru memperoleh bunyi kontoid afrikatif terlebih dahulu. Hal ini terjadi karena cara artikulasi bunyi frikatif lebih sukar dibandingkan bunyi afrikatif. Pada saat mengucapkan [z] udara harus dihambat sedemikian rupa agar udara tetap bisa keluar (berdesis) sedangkan ketika mengucapkan [j] udara dihambat kemudian dilepaskan. Sementara itu, penggantian kontoid [s] menjadi kontoid [c] terjadi karena kontoid [s]
yang berfitur frikatif laminoalveolar -suara lebih sulit diproduksi daripada bunyi [c] yang berfitur afrikatif laminopalatal -suara.
Akan tetapi, bunyi [s] yang direalisasikan sebagai bunyi [c] hanya terjadi ketika bunyi kontoid [s] berposisi sebagai onset.
Berdasarkan hal tersebut, bunyi frikatif lebih sulit diproduksi daripada bunyi afrikatif sehingga apabila anak belum mampu menguasai bunyi frikatif maka bunyi tersebut akan digantikan dengan bunyi afrikatif yang daerah artikulasinya berdekatan.
Penyimpangan tersebut terjadi karena ADHD memengaruhi kemampuan Aza dalam mengontrol alat artikulasinya. Dalam hal ini, alat artikulasi yang paling sulit dikontrol oleh Aza adalah lidahnya yang kaku. Kekakuan tersebut menyebabkan Aza sulit untuk menaruh lidahnya dalam kondisi ‘antara’ dan lebih mudah apabila terjadi adanya hentakan terlebih dahulu.
Berdasarkan tingkat kesukaran bunyi kontoid, urutan pemerolehan bunyi kontoid yang mampu diproduksi oleh Aza disajikan sebagai berikut. Pertama, urutan pemerolehan konsonan bilabial. Urutan pemerolehan bunyi konsonan bilabial dimulai dari konsonan hambat tak bersuara yaitu bunyi kontoid [p]. Bunyi kontoid [p] diperoleh terlebih dahulu karena untuk memproduksi bunyi [p] cukup dengan mengatupkan kedua bibir kemudian ditekan dan dilepaskan. Selanjutnya, Aza memperoleh bunyi bilabial hambat bersuara [b] yang diproduksi dengan mengatupkan kedua bibir yang ditekan kemudian dilepaskan. Bunyi selanjutnya yang mampu diperoleh yakni bunyi bilabial nasal bersuara [m] yang diproduksi dengan kedua bibir dikatupkan dan udara dikeluarkan lewat hidung. Bunyi bilabial yang terakhir yaitu bunyi bilabial semivokal bersuara [w] yang diproduksi dengan cara mengatupkan bibir, tetapi ditengah bibir masih agak terbuka kemudian udara dikeluarkan.
Kedua, urutan pemerolehan bunyi konsonan dental. Urutan pemerolehan bunyi konsonan dental dimulai dari konsonan dental hambat tak bersuara [t]. Bunyi kontoid [t] diperoleh terlebih dahulu karena untuk memproduksi bunyi [t] cukup dengan cara menempelkan ujung lidah di gigi kemudian ditekan dan dilepaskan. Selanjutnya, Aza memperoleh bunyi dental hambat bersuara [d] yang diproduksi dengan cara menempelkan ujung lidah pada gigi kemudian lidah ditarik ke belakang. Bunyi selanjutnya yang mampu diperoleh yakni bunyi dental nasal bersuara [n] yang diproduksi dengan menempelkan lidah pada gigi dan udara dikeluarkan lewat hidung. Bunyi dental terakhir yang mampu diperoleh Aza yaitu, bunyi dental lateral bersuara [l] yang diproduksi dengan cara ujung lidah ditempelkan di pangkal gigi/gusi sedemikian rupa sehingga udara lewat samping.
Ketiga, urutan pemerolehan konsonan palatal. Urutan pemerolehan bunyi konsonan palatal dimulai dari konsonan palatal hambat bersuara [ḍ]. Bunyi kontoid [ḍ] diperoleh terlebih dahulu karena untuk memproduksi bunyi [ḍ] cukup dengan cara menempelkan ujung lidah di langit-langit keras kemudian ditekan dan dilepaskan. Selanjutnya, Aza memperoleh bunyi palatal nasal bersuara [ṇ] yang diproduksi dengan cara menempelkan ujung lidah di langit-langit keras kemudian ditekan dan udara dikeuarkan melalui hidung. Bunyi selanjutnya yang mampu diperoleh yakni bunyi palatal nasal bersuara [ñ] yang diproduksi dengan cara menempelkan daun lidah atau lidah bagian tengah di langit-langit keras kemudian ditekan dan udara dikeluarkan lewat hidung. Bunyi dental yang diperoleh selanjutnya yaitu, bunyi palatal afrikatif tak bersuara [c] yang diproduksi dengan cara menempelkan daun lidah atau lidah bagian tengah di langit-langit keras kemudian ditekan dan dilepaskan. Berikutnya, bunyi palatal afrikatif bersuara [j] yang diproduksi dengan cara menempelkan daun lidah atau lidah bagian tengah di langit-langit keras kemudian ditekan dan dilepaskan. Bunyi palatal yang diperoleh selanjutnya yaitu, bunyi palatal frikatif tak bersuara [s] yang diproduksi dengan cara daun lidah hampir ditempelkan pada langit-langit keras kemudian ditahan sambil membiarkan udara keluar. Bunyi palatal terakhir yang mampu diperoleh Aza yaitu, bunyi palatal semivokal [y] dengan cara lidah bagian tengah ditempelkan ke langit-langit keras kemudian udara dikeluarkan.
Keempat, urutan pemerolehan konsonan velar. Urutan pemerolehan bunyi konsonan velar dimulai dari konsonan velar hambat tak bersuara [k]. Bunyi kontoid [k] diperoleh terlebih dahulu karena untuk memproduksi bunyi [k] cukup dengan cara lidah bagian belakang dinaikkan dan ditempelkan pada langit-langit lunak kemudian dilepaskan. Selanjutnya, Aza memperoleh bunyi velar hambat bersuara [g] yang diproduksi dengan cara lidah bagian belakang dinaikkan dan ditempelkan pada langit-langit lunak kemudian dilepaskan. Bunyi selanjutnya yang mampu diperoleh yakni bunyi velar nasal bersuara [η] yang diproduksi dengan cara lidah bagian belakang dinaikkan dan ditempelkan pada langit-langit lunak kemudian ditekan dan udara dikeluarkan melalui hidung.
Kelima, urutan pemerolehan konsonan glotal. Urutan pemerolehan bunyi konsonan glotal dimulai dari konsonan glotal hambat tak bersuara [?]. Bunyi kontoid [?] diperoleh terlebih dahulu karena untuk memproduksi bunyi [?] cukup dengan cara mengatupkan anak tekak atau glotal. Selanjutnya, Aza memperoleh bunyi glotal frikatif bersuara [h] yang diproduksi dengan cara udara yang keluar dari paru-paru digesekkan di tenggorokan.
Aza menguasai fonem hambat, nasal, afrikatif, frikatif /s,h/, lateral, dan semivokal. Akan tetapi Aza belum menguasai fonem frikatif /f,v,š,x,z/ dan tril /r/. Berdasarkan uraian tersebut, anak mengikuti hukum usaha minimal (the law of least efforts), yaitu fonem depan (bilabial, dental, dan alveolar) dikuasai lebih dahulu dibandingkan bunyi belakang (palatal, velar, dan glotal) dan fonem -suara diperoleh lebih dahulu dibandingkan fonem +suara.
SIMPULAN
Aza menguasai 16 fonem konsonan bahasa Indonesia yang terealisasi menjadi kontoid hambat [p,b,t,d,ḍ,k,j,g,?], nasal [m,n,ṇ,ƞ,ň], frikatif [s,h], afrikatif [c,j], dan lateral [I]. Akan tetapi, di antara bunyi tersebut masih ada bunyi yang masih fluktuatif. Bunyi yang masih fluktuatif tersebut meliputi kontoid frikatif [s] dan kontoid lateral [l]. Sementara itu, Aza belum menguasai 5 fonem konsonan bahasa Indonesia, yaitu fonem frikatif /f/, /v/, /z/, /x/ dan /r/.
Terdapat beberapa bunyi yang cara ucapnya sedikit berbeda dengan bunyi bahasa Indonesia pada umumnya serta terjadi urutan pemerolehan yang berbeda. Hal ini terjadi karena adanya pengaruh latar belakang Aza sebagai seorang bilingual serta penyandang ADHD. Bunyi yang memiliki pengaruh terhadap latar belakang bahasa Jawa meliputi bunyi hambat /b/, /d/, dan /g/. Bunyi-bunyi hambat tersebut diucapkan dengan letupan yang lebih tebal. Di sisi lain, urutan pemerolehan bunyi yang dipengaruhi oleh ADHD meliputi, bunyi frikatif /s/ didahului oleh afrikatif /c/ dan frikatif /z/ didahului afrikatif /c/. Urutan bunyi tersebut tidak sesuai seperti pada umumnya karena ADHD memiliki pengaruh terhadap kemampuan Aza mengendalikan alat artikulatornya sehingga yang terjadi, alat artikulator Aza sangat kaku, terutama bagian lidahnya.
Berdasarkan tingkat kesukaran bunyi kontoid, urutan pemerolehan bunyi kontoid yang mampu diproduksi oleh Aza meliputi, pertama bunyi bilabial [p], [b], [m], dan [w]. Kedua, urutan pemerolehan bunyi konsonan dental yang meliputi [t], [d], [n], dan [l]. Ketiga, urutan pemerolehan konsonan palatal yang meliputi [ḍ], [ṇ], [ñ], [c], [j], [s], dan [y]. Keempat, urutan pemerolehan konsonan velar yang meliputi [k], [g], dan [η]. Kelima, urutan pemerolehan konsonan glottal yang meliputi [?]
dan [h].
DAFTAR RUJUKAN
Adiputra, I. M. S., Sutarga, I. M., & Pinatih, G. N. I. (2015). Faktor risiko attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) pada anak di Denpasar. Public Health and Preventive Medicine Archive, 3(1), 35.
Al-Dakroury, W. A. (2018). Speech and Language Disorders in ADHD. Abnorm Behav Psychol, 4(134), 496–2472.
Apriani, T., Santoso, A. B., & Puspitasari, D. (2019). Pemerolehan Fonologi dan Leksikon pada Anak Usia 3.6 Tahun: Kajian Psikolinguistik. Widyabastra: Jurnal Ilmiah Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, 7(1), 9–17.
Baker, L., & Cantwell, D. P. (1992). Attention deficit disorder and speech/language disorders. Comprehensive Mental Health Care.
Chomsky, N. (1980). On Cognitive Structure and Their Development (M. P. Palmarini (ed.)). Roudledge and Kegan Paul.
Darmawati, S., & Nuryani, N. (2020). Perkembangan Bahasa Pragmatik pada Anak Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD): Kajian Neurolinguistik. Journal of Early Childhood Education (JECE), 2(1), 21–36.
Kurniawati, W. (2018). Pemerolehan bahasa pada anak hiperaktif yang sulit memusatkan perhatian. Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa, 15(2), 223–233.
McLeod, S., & Crowe, K. (2018). Children’s consonant acquisition in 27 languages: A cross-linguistic review. American Journal of Speech-Language Pathology, 27(4), 1546–1571.
Nova, N., Ratnawati, I. I., & Maryatin, M. (2019). Pemerolehan Bahasa Pertama pada Anak ADHD di Sekolah Alam Jabalussalam Balikpapan. Jurnal Basataka (JBT), 2(1), 87–91.
Paternotte, A. & Buitelaar, J. (2010). ADHD Attention Deficit Hyperactivity Disorder (Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas): Tanda-tanda, Diagnosis, Terapi, serta Penanganannya di Rumah dan di Sekolah. Jakarta: Kencana Prenamedia Group.
Pujiati, T., & Yulianti, D. M. (2018). Gangguan Berbahasa pada Anak dengan Ciri Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD). Dialektika, 5(1).
Slamet, L. D., Ghazali, A. S., & Roekhan, R. (2017). Pemerolehan Fonem Bahasa Indonesia Anak Usia 4 Tahun 6 Bulan—6 Tahun. Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, dan Pengembangan, 2(2), 212–222.
Sugiarmin, M. (2007). Memahami dan Membantu Anak ADHD. Jakarta: PT Refika Aditama.
Wahidah, E. Y. (2018). Identifikasi dan Psikoterapi terhadap ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) Perspektif Psikologi Pendidikan Islam Kontemporer. Millah: Jurnal Studi Agama, 297–318.
Yanti, P. G. (2016). Pemerolehan bahasa anak: kajian aspek fonologi pada anak usia 2-2, 5 tahun. Jurnal Ilmiah Visi, 11(2), 131–141.