• Tidak ada hasil yang ditemukan

52339 75676655049 1 PB

N/A
N/A
Zikru Akbar Isnain

Academic year: 2024

Membagikan "52339 75676655049 1 PB"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

PERENCANAAN PEMBUATAN JALAN TAMBANG PADA MINE DEVELOPMENT AND SGA PLANT PROJECT PT. ANTAM TBK, KOMODITAS BAUKSIT, KABUPATEN MEMPAWAH, PROVINSI

KALIMANTAN BARAT

Aditya Ramadhani Setiawan

(1)

, Syahrudin

(2)

, M. Khalid Syafrianto

(3)

(1)Mahasiswa Fakultas Teknik Jurusan Teknik Pertambangan Universitas Tanjungpura Pontianak

(2,3)Dosen Fakultas Teknik Jurusan Teknik Pertambangan Universitas Tanjungpura Pontianak

Email : [email protected]

ABSTRAK

Mine Development and SGA Plant Project PT. ANTAM Tbk saat ini sedang dalam tahap konstruksi. Oleh karena itu diperlukan perencanaan jalan tambang yang sesuai dengan standar. Tujuan dari penelitian ini adalah membuat perencanaan jalan tambang dan menghitung desain geometri jalan sehingga dapat dilalui oleh dump truck Hino FM 260 JD. Metode yang digunakan adalah metode pengamatan dan pengukuran langsung dilapangan. Pengolahan dan analisis data berupa pemetaan topografi existing jalan dan perhitungan rencana geometri jalan tambang. Hasil survey awal diperoleh kondisi exsisting jalan tambang dengan panjang jalur ± 4.845 m dan lebar 2-10 meter data ini didapatkan dari pemetaan topografi jalan menggunakan alat total station. Rancangan geometri jalan tambang berdasarkan metode AASTHO yaitu lebar jalan lurus 9 m sedangkan pada tikungan 15 m, jari-jari tikungan minimum 36 m dengan radius putar 8,5 m maka superelevasi maksimal yang diperoleh adalah 0,05 dengan beda tinggi 75 cm, kemiringan melintang dengan beda tinggi 20 cm serta rimpul pada gear 1 16,5% dan gear 2 10,08%. Jalan tambang masih membutuhkan penyesuaian pada pelebaran yaitu maksimum 15 m dan grade jalan maksimum sebesar 12,77 %. Maka perhitungan volume penggalian sebesar 1.106 m3 dan volume penimbunan 2.991 m3 sehingga perusahaan memerlukan 1.885 m3 untuk penimbunan jalan.

Kata kunci : Perencanaan, Geometri, Jalan Angkut Tambang.

ABSTRACT

Mine Development and SGA Plant Project PT. ANTAM Tbk is currently in the construction stage. Therefore, it is necessary to have an adjusment hauling road plan with the standards. The purpose of this study is to plan the hauling roads and calculate the required road geometry design so that the Hino FM 260 JD dump truck can be passed. The method used is the method of direct observation and measurement in the field.

Processing and analyzing data in the form of topographic mapping of existing roads and calculation of mine road geometry plans. The results of the survey obtained the existing condition of the mine road with a track length of ± 4,845 m and a width of 2-10 meters. This data was obtained from road topography mapping with a total station tool. The design of the mine road geometry according to AASTHO method, namely the straight road width is 9 m while at the bend 15 m, the minimum bend radius is 36 m with a turning radius of 8.5 m, the maximum superelevation obtained is 0.05 with a height difference of 75 cm, cross slope with a height difference of 20 cm and rimpull on gear 1 16.5% and gear 2 10.08%. Mining roads still require adjustment for a maximum width of 15 m and a maximum road grade of 12.77%.. Then the calculation of the volume cut is 1,106 m3 and the volume of fill is 2,991 m3 so that the company requires 1,885 m3 for road filling.

Keywords: Planning, Geometry, Mine Haul Road.

I.

PENDAHULUAN

PT. Aneka Tambang Tbk merupakan salah satu perusahaan pertambangan yang merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Mine Development And SGA Plant Project PT. ANTAM merupakan salah satu cabang yang bergerak di bidang pertambangan Komoditas Bauksit dan beroperasional di Kabupaten Mempawah.

Penelitian ini dilakukan ketika PT. ANTAM Tbk sedang dalam tahap konstruksi sehingga

penelitian ini dapat dijadikan acuan bagi perusahaan. Jalan tambang merupakan salah satu faktor yang sangat mempengaruhi kegiatan penambangan yaitu pada proses pengangkutan bauksit. Sebelumnya, PT. ANTAM Tbk telah melakukan pembuatan jalan namun jalan tersebut hanya sebatas jalan perintis. Rencana desain jalan tambang sebagian besar mengikuti jalan yang sudah ada dan perencanaan jalan tambang disesuaikan dengan rencana alat angkut terbesar yang akan digunakan oleh perusahaan sehingga jalan angkut

(2)

aman untuk dilalui dan jalan akan dibuat seefektif mungkin guna tercapainya target produksi yang direncanakan.

Dari uraian di atas maka dapat diambil suatu rumusan masalah yaitu bagaimana merencanakan pembuatan jalan tambang dengan kondisi jalan sudah terbuka namun hanya sebatas jalan perintis dan bagaimana rencana geometri jalan tambang yang baik sesuai dengan alat angkut terbesar yang direncanakan oleh perusahaan.

Adapun tujuan yang akan dicapai dari penelitian ini yaitu membuat desain jalan tambang dengan kondisi jalan tambang yang sudah terbuka dan perencanaan jalan tambang menyesuaikan dengan rencana alat angkut terbesar yang akan digunakan oleh perusahaan sehingga menghasilkan jalan tambang yang baik dan sesuai standar.

II.

BAHAN DAN METODE

Bahan dan alat penelitian yang digunakan yaitu GPS, total station, tripod, meteran 5 msampel material, prisma dan pole.

Penelitian yang dilakukan di PT. ANTAM Tbk, berlangsung selama ± 1,5 bulan. metode yang digunakan oleh peneliti yaitu observasi atau pengamatan lapangan. Tahapan penelitian terdiri dari 5 tahap, yaitu :

Studi Pustaka

Studi pustakan dilakukan untuk mempelajari teori-teori yang berkaitan dengan permasalahan yang akan dibahas terutama mengenai perencanaan jalan tambang.

Pengamatan di Lapangan

Pengamatan secara langsung dilakukan untuk mengetahui kondisi existing jalan tambang yang ada dilapangan.

Pengambilan Data Primer As Jalan Angkut

Pengambilan data as jalan angkut bertujuan untuk mengetahui jalur jalan angkut yang sudah ada di lapangan kemudian akan dilakukan analisis dan dapat dijadikan acuan sebagai rencana jalan angkut.

Kondisi Existing Jalan Angkut

Pengambilan data kondisi existing jalan angkut menggunakan alat Total Station Leica Viva TS 11 untuk mendapatkan data topografi yaitu data koordinat (X,Y) dan elevasi (Z). Data ini juga dapat digunakan untuk mendapatkan lebar jalan yang sudah terbuka.

Pengambilan Data Sekunder

Data sekunder terdiri dari data curah hujan, peta topografi, peta batas IUP, peta layout perencanaan tambang dan data spesifikasi alat angkut terbesar yang akan digunakan oleh perusahaan.

Pengolahan Data

Distribusi Beban dan Luas Bidang Kontak Perhitunganluas bidang kontak dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut :

Luas bidang kontak (in)2= Beban diterima roda (lbs) Tekanan Udara ban (lb/in2) (1) Perhitungan distribusi beban dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut :

Beban diterima jalan (psi) = Beban pada tiap roda (lb) luas bidang kontak (𝑖𝑛2) (2) Geometri Jalan Angkut

Lebar Jalan Lurus

Perhitungan lebar jalan angkut pada jalan lurus dapat dihitung menggunakan rumus berikut : L = (n x Wt) + (n + 1) × (0,5 × Wt) (3) Keterangan:

L : Lebar jalan angkut minimum (m) n : Jumlah jalur yang digunakan

Wt : Lebar alat angkut (m)

Lebar Jalan Pada Tikungan

Perhitungan lebar jalan angkut pada jalan tikungan dapat dihitung menggunakan rumus berikut :

W = 2 (U+ Fa+ Fb+ Z)+ C (4)

C = Z = U+Fa+Fb+Z

2 (5) Keterangan :

W : Lebar jalan pada tikungan minimum (m) U : lebar jejak roda (m)

Fa : lebar juntai depan (m) Fb : lebar juntai belakang (m) C : jarak antara dua truk yang akan

bersimpangan (m)

Z : jarak sisi luar truk ke tepi jalan (m) Jari – Jari Tikungan

Perhitungan jari – jari tikungan dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

R = V2

127.(e+f) (6) Keterangan :

R : Jari-jari belokan (m) e : Superlevasi (mm/m) f : Friction factor Superelevasi

Perhitungan superelevasi dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

e + f = 𝑉2

127𝑅

(7) Keterangan :

R : Jari-jari belokan (m) e : Superlevasi (mm/m)

f : Koefisien gesekan melintang maksimum V : Kecepatan kendaraan (km/jam)

(3)

Adapun nilai superelevasi yang diizinkan dapat dilihat pada Tabel 1. dibawah ini.

Tabel 1. Nilai Superelevasi yang Diizinkan (ft/ft)

Radius Tikungan

Kecepatan Kendaraan (mph)

10 15 20 25 30 ≥35

50 0,04 0,04 100 0,04 0,04 0,04 150 0,04 0,04 0,04 0,05 250 0,04 0,04 0,04 0,04 0,06 300 0,04 0,04 0,04 0,04 0,05 0,06 600 0,04 0,04 0,04 0,04 0,04 0,05 1000 0,04 0,04 0,04 0,04 0,04 0,04 (Sumber : Kaufman & Ault, 1977)

Kemiringan Jalan Angkut (Grade)

Perhitungan kemiringan jalan angkut dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

Grade (i) = 𝛥𝐻

𝛥𝑥x 100% (8) Keterangan :

ΔH : Beda tinggi antara 2 titik yang diukur (m) Δx : Jarak datar antara dua titik yang diukur (m) Kemiringan Melintang (Cross Slope)

Perhitungan kemiringan melintang dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

P = ½ x L (9) Keterangan :

P : Kemiringan Melintang (m) L : Lebar Jalan (mm/m) Rimpull

Rimpull yang tersedia

Rimpull yang tersedia pada kendaraan dapat dihitung sebagai berikut:

Rimpull tersedia = Hp X 375 X Efisiensi Mekanis Kecepatan (mph) (10) Rimpull yang diperlukan

Rimpull untuk mengatasi tahana guling dapat dihitung sebagai berikut:

Rp1 = w x RR (11) Keterangan :

Rp1 : Rimpull mengatasi tahanan guling (lb) w : berat kendaraan bermuatan (ton) RR : tahanan guling (lb/ton)

Rimpull untuk mengatasi tahana tanjakan dapat dihitung sebagai berikut:

Rp2 = w x Rpt x G (12)

Keterangan :

Rp2 : Rimpull untuk mengatasi tanjakan (lb) w : berat kendaraan bermuatan (ton) Rpt : 20 (lb/ton/%)

G : Kemiringan (%) Tanggul

Persamaan untuk menghitung besarnya nilai Static Rolling Radius dapat digunakan persamaan sebagai berikut :

SRR = 𝑇𝐻2,1 (13) Keterangan :

SRR : Static Rolling Radius (inch) w : Tinggi Roda Kendaraan (inch) Saluran Terbuka

Intensitas Curah Hujan

Perhitungan intensitas curah hujan dapat dihitung dengan menggunakan rumus Mononobe yaitu :

I = R2424(24t)2/3 (14) Keterangan :

I : Intensitas curah hujan (mm/jam) t : lama waktu hujan (jam)

R24 : Curah hujan rencana harian (mm) Debit Air Limpasan

Perhitungan debit air limpasan dapat dihitung menggunakan persamaan rasional yaitu :

Q = 0,278 × C × I × A (15) Keterangan:

Q : Debit air limpasan maksimum (m3/s) A : Luas daerah tangkapan hujan (km2) C :Koefisien limpasan

I : Intensitas curah hujan (mm/jam) Dimensi Saluran Terbuka

Perhitungan dimensi dari saluran terbuka yang berbentuk trapesium dapat dihitung menggunakan rumus Manning :

Q = A ×1

n× R2/3× S1/2 (16) Keterangan :

Q : Debit pengaliran (m3/s) A : Luas penampang basah (m2) S : Kemiringan dasar saluran (%) R : Jari-jari hidrolis (m)

n : Koefisien kekasaran dinding saluran menurut Manning

Kesimpulan

Setelah dilakukan pengamatan dan analisis serta pengolahan data, dapat ditarik kesimpulan yang akan menjawab permasalahan dari penelitian.

III.

HASIL DAN PEMBAHASAN Tinjauan Teknis Keadaan di Lapangan

Tinjauan teknis dilakukan untuk mengetahui kondisi existing pada lokasi penelitian. Lokasi penelitian berlokasi di IUP sebelah Barat PT.

(4)

ANTAM Tbk yaitu rencana jalan angkut dari jalan provinsi Kecamatan Toho menuju area rencana washing plan.

Berdasarkan pengamatan dilapangan, kondisi jalan hanya sebatas jalan perintis yang ditimbun dengan overburden atau tanah merah. Jalan angkut memiliki lebar yang bervariasi dari 2 – 10 m dengan panjang jalan± 4.845 m dengan kondisi jalan yang sudah tertutup semak, berlumpur dan tidak rata dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Kondisi Jalan di PT. ANTAM Tbk Pengukuran dan pemetaan di lapangan dilakukan dengan menggunakan Total Station Leica Viva TS 11 untuk mendapatkan kontur existing jalan yang ada di lapangan sehingga memudahkan untuk mendesain rencana jalan tambang. Adapun hasil pemetaan topografi didapatkan sebanyak 986 titik koordinat dalam bentuk X, Y dan Z. Peta Hasil Pemetaan Topografi Jalan dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Peta Hasil Pemetaan Topografi di Lapangan

Distribusi Beban dan Daerah Kontak

Distribusi beban dan daerah kontak dihitung berdasarkan spesifikasi alat angkut yang digunakan oleh PT. ANTAM Tbk yaitu Dump Truck Hino FM 260 JD. Berdasarkan Spesifikasi dump truk Hino FM 260 JD didapatkan data sebagai berikut : - Berat total kendaraan = 26.000 Kg (57.320 lb) - Berat poros depan = 8.580 Kg (18.915 lb) - Berat poros belakang = 17.420 Kg (38.404 lb)

- Tekanan udara ban = 100 psi - Jumlah roda depan = 2 Buah

- Jumlah roda belakang = 8 buah (4 set roda ganda)

Roda depan

Berdasarkan diatas dapat dihitung beban yang diterima pada tiap roda sebagai berikut :

Beban tiap roda = 18.915 lb / 2 = 9.457 lb Luas bidang kontak = 0,9 x 9.457

100 = 85, 113 in2 Beban permukaan jalan = 9.457

85,113

= 111,111 lb/in2 = 16.000 lb/ft2 Roda Belakang

Roda belakang terdiri dari 4 set roda ganda dimana dalam perhitungan akan dikalikan dengan equivalensi beban roda tunggal sehingga dapat dihitung beban yang diterima pada tiap roda sebagai berikut :

Beban tiap roda = 1,2 x 38.404 2

= 5.760,6 lb Luas bidang kontak = 0,9 x 5.760,6

100 = 51,845 in2 Beban permukaan jalan = 5.760,5 51,845 = 111,111 lb/in2 = 16.000 lb/ft2 Rencana Geometri Jalan

Lebar Jalan Lurus

Pada rencana pembuatan jalan angkut ini akan menggunakan 2 lajur pada jalan lurus maupun tikungan. Untuk jalan angkut pada jalan lurus dibutuhkan minimum lebar jalan sebagai berikut :

L = (2 x 2,49) + (2+1) x (0,5 x 2,49) L = 4,98 + (3 x 1,245)

L = 8,715 m ≈ 9 m Lebar Jalan pada Tikungan

Berdasarkan spesifikasi truk HINO FM 260 JD didapat data sebagai berikut :

- Jarak roda (U) = 1,495 m

- Panjang keseluruhan truck = 8,645 m

- Jarak as roda depan dengan bagian depan truck (Fa) = 1,28 m

- Jarak as roda belakang dengan bagian belakang truck (Fb) = 1,985 m

- Jarak sumbu roda depan dengan as roda belakang (Wb) = 5,38 m

- Radius putar minimal (Turning Radius) = 8,5 m

- Sudut penyimpangan roda (α) =

(5)

Sin α = Wb Turning radius α = 𝑆𝑖𝑛−1 5,38

8,5

α = 39,3 °

Dari data tersebut dapat dihitung lebar jalan pada tikungan, yaitu :

- Lebar juntai depan

Fa = 1,28 m × sin 39,3°= 0,810 m - Lebar Juntai belakang

Fb= 1,985 m × sin 39,3°= 1,257 m

- Jarak sisi luar truk ke tepi jalan (Z) dan Jarak antara dua truk yang akan bersimpangan C = Z = 0,5 x (U + Fa + Fb) m

= 0,5 x (2,05 + 0,81 + 1,257) = 2,06 m

Sehingga lebar jalan angkut minimum (2 jalur) pada jalan tikungan adalah :

W = n x (U + Fa + Fb + Z) + C

W = 2 x (2,05 + 0,81 + 1,257 + 2,06 ) + 2,06

= 14,414 m

= 15 m Jari-jari tikungan

Jari-jari tikungan (belokan) jalan angkut berhubungan dengan konstruksi kendaraan atau alat yang digunakan. Untuk mendapatkan nilai superelevasi, kecepatan yang digunakan adalah kecepatan maksimum dari alat angkut saat melewati tikungan yaitu sebesar 35 km/jam dengan superelevasi maksimum sebesar 0,1. Sedangkan koefisien gesekan dapat menggunakan perhitungan berikut:

- Untuk Vr < 80 km/jam, rumus yang digunakan adalah:

f = -0,00065 × V + 0,192

- Untuk Vr antara 80 – 112 km/jam , rumus yang di gunakan adalah :

f = -0,00125 × V + 0,024

Karena kecepatan yang digunakan kurang dari 80 km/jam, maka digunakan rumus yang pertama.

Perhitungannya sebagai berikut:

f = -0,00065 × V + 0,192

= -0,00065 × 35 km/jam + 0,192 = 0,169

Besarnya jari-jari belokan minimum pada jalan dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

R = 35

2

127 (0,1+0,169)

= 35,86 meter = 36 meter.

Jari – jari tikungan minimal yang mampu dilalui oleh truk adalah sebesar 36 meter.

Superelevasi

Dalam perhitungan superelevasi maka diperlukan data kecepatan rencana yang akan digunakan yaitu sebesaar 35 km/jam (21,748 mph) dan jari jari tikungan sebesar 36 m (117,65 ft). Dari data tersebut maka dapat diolah dengan tabel 1 sehingga didapatkan angka superelevasi yang diizinkan yaitu sebesar 0,05 dan beda tinggi yang harus dibuat sebagai berikut :

Tg  = e Tg  = 0,05

 = 2,86°

Beda tinggi = r x sin 

= 15 m x sin 2,86°

= 0,75 m

= 75 cm

Berdasarkan perhitungan tersebut maka beda tinggi antara sisi dalam dan sisi luar jalan pada tikungan yang harus dibuat adalah 75 cm atau 0,75 m.

Cross Slope

Angka Cross slope pada jalan angkut dinyatakan dalam perbandingan jarak vertikal dan horisontal kebagian tengah atau pusat jalan dengan satuan mm/m. Jalan angkut yang baik memiliki cross slope 40 mm/m. Hal ini berarti setiap 1 m jarak mendatar terdapat beda tinggi sebesar 40 mm.

Sehingga untuk jalan angkut dengan lebar 9 m mempunyai beda ketinggian pada poros jalan sebesar :

P = ½ x lebar jalan

= ½ x 9 m

= 4,5 m

sehingga beda tinggi yang dibuat : q = 4,5 m x 40 mm/m

= 180 mm

= 18 cm Rimpull

Berdasarkan data spesifikasi alat angkut dump truk Hino FM 260 JD diketahui :

- berat total bermuatan = 26.000 kg = 26 ton - berat kosong = 7.500 kg = 7.5 ton - tenaga kuda = 256,44 HP

Untuk mengetahui kemampuan tanjak dump truk dapat dihitung sebagai berikut :

Rimpull yang diperlukan

- Rimpull untuk mengatasi tanjakan (misal grade = a%)

26 ton x 20 lb/ton/a%grade = (520 x a% grade) lb

(6)

- Rimpull untuk mengatasi tahanan gulir 26 ton x 100 lb/ton = 2600 lb

- Rimpull untuk mengatasi percepatan : 26 ton x 20 lb/ton = 520 lb

- Total rimpull yang diperlukan = (520 x a%) lb + 3120 lb Rimpull yang diperlukan

Diketahui bahwa kecepatan maksimum yang tersedia pada gear 1 dengan efisiensi mekanis 75 % adalah 6,13 mph, maka :

Rimpull pada gear 1 = 256 x 375 x 75%

6,13

= 11.745,51 lb

Dengan cara yang sama seperti di atas, jumlah rimpull yang tersedia pada masing-masing gear adalah :

Tabel 2. Jumlah Rimpull Pada Setiap Gear

Gear Kecepatan (mph)

Eff.

Mekanis HP Rimpull

1 6,13 75% 256 11.745,51

2 8,61 75% 256 8.362,37

3 11,65 75% 256 6.180,26

4 15,55 75% 256 4.630,23

5 21,31 75% 256 3.378,70

6 29,95 75% 256 2.404,01

7 40,52 75% 256 1.776,90

8 54,09 75% 256 1.331,11

Agar truk jungkit mampu bergerak, jumlah rimpull yang diperlukan harus sama dengan rimpull yang tersedia. Keadaan tersebut akan terjadi bila tanjakan (a%) jalan angkut sebesar :

Pada Gear 1 :

(520 x a%) lb + 3120 lb = 11.745,51 lb

520 x a% = 11.745,51 lb – 3120 lb 520 x a% = 8.625.51 lb

a% = 16,5 %

Jadi tanjakan yang mampu diatasi oleh Dumptruck Hino FM 206 JD pada saat menggunakan gear 1 adalah 16,5 % dan pada gear 2 adalah 10,08 %.

Tanggul Pengaman (Safety Berm)

Untuk menghindari tergulingnya alat angkut pada tepi jalan dan juga untuk menghindari segala bahaya yang dapat mengancam keselamatan pekerja dan peralatan, maka pada setiap tepi jalan perlu dibuat safety berm. Dengan slope safety berm sebesar 1½ (alas) : 1 (tinggi) dan berdasarkan nilai

dari static rolling radius tersebut, maka dimensi dari safety berm adalah sebagai berikut :

Tinggi roda HINO FM 260 JD = 102 cm = 40,157 inch SRR = 𝑇𝐻

2,1 inch SRR = 40,157

2,1 inch

= 19.12 inch

= 0.48 m

Jadi nilai dari Static Rolling Radius (SRR) Dump Truck HINO FM 260 JD = 0.48 m. Maka, didapatkan dimensi Safety Berm sebagai berikut :

Tinggi Safety Berm (B) = 0.48 m ̶> 0.50 m Lebar bagian bawah Safety Bund (A)

= 3 x 0.48 = 1.44 m ̶> 1.50 m

Gambar 3. Dimensi Tanggul Pengaman

Saluran Terbuka

Curah Hujan Rencana dan Intensitas Curah Hujan

Data curah hujan yang digunakan pada penelitian adalah data curah hujan harian maksimum sebanyak 10 tahun terakhir yaitu dari tahun 2009 – 2018 dan setelah dilakukan perhitungan diperoleh curah hujan rencana harian sebesar 394,70 mm dengan Periode Ulang Hujan (PUH) 10 tahun, resiko hidrologi sebesar 89,26%, dan intensitas curah hujan sebesar 87,38 mm/jam.

Daerah Tangkapab Hujan (DTH)

Daerah tangkapan hujan dapat ditentukan dan diketahui luasnya dari sekitar rencana jalan tambang. Berdasarkan pengamatan di lapangan, penentuan daerah tangkapan hujan dan luasannya ditentukan dengan bantuan software AutoCad 2007 yaitu sebesar 0,048 km2.

Debit Air Limpasan

Air yang mengalir menuju ke jalan tambang salah satunya berasal dari air limpasan hujan. Debit air limpasan dihitung menggunakan metode rasional, parameter untuk menghitung debit air limpasan yaitu intensitas curah hujan, koefisien air limpasan, dan luas daerah tangkapan hujan.

Q=0,278 ×C × I ×A

Q=0,278 ×0.7 × 87.38 mm/jam× 0.048 km2 Q=0.82 m3/detik

(7)

Dimensi Saluran Terbuka

Perhitungan untuk menentukan dimensi saluran terbuka menggunakan rumus Manning.

Berdasarkan pengamatan di lapangan didapat harga koefisien kekasaran saluran (n) saluran terbuka yaitu 0,020 dengan tipe dinding saluran adalah tanah. Sehingga didapatkan hasil dimensi saluran terbuka yang dapat dilihat pada gambar 4 dibawah.

Gambar 4. Dimensi Saluran Terbuka

Cut And Fill

Pada rancangan jalan angkut sering dijumpai tinggi tanah permukaan yang belum sesuai dengan kemiringan jalan yang diinginkan. Oleh karena itu perlu adanya penyesuaian, yaitu dengan melakukan penggalian atau penimbunan tanah permukaan sehingga dihasilkan kemiringan jalan yang diinginkan.

Berdasarkan pengamatan di lapangan dan hasil pemetaan topografi, didapatkan bahwa pada setiap station yang ada pada tabel 3 terdapat penyesuaian grade jalan yaitu baik itu penggalian, penimbunan maupun perataan.

Tabel 3. Perhitungan Cut and Fill

No Segmen jalan Volume (m³) Cut Fill 1 STA 0+005 - 0+030 181.17 0 2 STA 0+040 - 0+070 49.23 0 3 STA 0+158 - 0+211 361.53 0 4 STA 0+315 - 0+337 0 117.90 5 STA 0+594 - 0+619 0 134.98 6 STA 0+619 - 0+629 37.84 0 7 STA 0+706 - 0+741 284.31 0 8 STA 0+741 - 0+756 0 107.37 9 STA 0+798 - 0+818 0 90.54 10 STA 1+017 - 1+033 50.22 0.00 11 STA 1+033 - 1+042 0 40.77 12 STA 1+042 - 1+116 0 607.35 13 STA 1+735 - 1+760 0 91.98 14 STA 2+767 - 2+797 0 129.60 15 STA 3+240 - 3+274 0 129.33 16 STA 3+353 - 3+367 99.18 0.00

17 STA 3+367 - 3+372 0 12.06 18 STA 3+521 - 3+533 42.75 0.00 19 STA 3+603 - 3+631 0 128.10 20 STA 3+885 - 3+899 0 54.45 21 STA 4+499 - 4+539 0 413.70 22 STA 4+545 - 4+576 0 222.93 23 STA 4+576 - 4+611 0 373.68 24 STA 4+662 - 4+694 0 336.07

Total 1106.23 2990.80

Berdasarkan perhitungan diatas didapatkan hasil volume penggalian adalah 1.106,23 m3 dan volume penimbunan tanah adalah sebesar 2.990,80 m3. Untuk melancarkan dalam proses pembuatan jalan maka dibutuhkan 1.884,57 m3 tanah untuk menutupi kekurangan dalam penimbunan jalan.

Rencana Grade Jalan Angkut

Grade jalan angkut dihitung berdasarkan hasil pemetaan topografi menggunakan alat total stastion sehingga didapatkan potongan memanjang yaitu STA 0 + 000 sampai STA 4 + 811 yang dibuat dengan menentukan jalur as jalan angkut kemudian didapatkan grade existing jalan tambang. Dari perhitungan tersebut, maka didapatkan bagian yang perlu dilakukan penggalian dan penimbunan seperti yang dijelaskan pada point 7 yaitu cut and fill dan dapat dilihat pada tabel 3.

Desain rencana grade jalan angkut dapat dilihat pada tabel 4 dibawah. Pada perhitungan rimpull sebelumnya didapatkan bahwa alat angkut Hino FM 260 JD dapat melewati tanjakan yaitu pada gear 1 grade maksimum yang dapat dilalui sebesar 16,5 % dan pada gear 2 grade maksimum yang dapat dilalui yaitu sebesar 10,08 %. Dari tabel 4 dibawah dapat dilihat bahwa rencana grade jalan yang akan dibuat dengan kemiringan yang terjal berkisar 8% - 12 %. Sehingga dengan desain yang telah dirancang, alat angkut Hino FM 260 JD masih aman untuk melalui rencana jalan yang telah direncanakan.

Tabel 4. Rencana Grade Jalan Angkut (8-12%) No Segmen jalan

Grade Rencana

(%)

Lebar Rencaja

Jalan 1 STA 0+005 - 0+030 12.00 9 2 STA 0+035 - 0+070 8.49 9 3 STA 0+158 - 0+211 9.34 9 4 STA 0+510 - 0+540 12.77 15 5 STA 0+540 - 0+629 8.02 11 6 STA 0+763 - 0+774 8.82 9 7 STA 0+798 - 0+818 8.95 9 8 STA 0+852 - 0+862 10.00 9

(8)

9 STA 1+042 - 1+116 12.16 13 10 STA 1+443 - 1+465 8.36 9 11 STA 1+990 - 2+146 8.33 9 12 STA 3+240 - 3+314 11.77 9 13 STA 3+324 - 3+372 8.33 9 14 STA 3+816 - 3+899 10.36 15 15 STA 3+926 - 3+995 8.67 10 16 STA 4+036 - 4+121 10.40 9 17 STA 4+121 - 4+187 9.33 13 18 STA 4+418 - 4+439 9.52 12 19 STA 4+499 - 4+545 10.87 9 20 STA 4+545 - 4+576 9.68 9 21 STA 4+576 - 4+611 11.43 9 22 STA 4+619 - 4+662 9.30 15 23 STA 4+800 - 4+811 9.03 9

IV.

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dalam membuat rencana desain jalan tambang di PT. ANTAM Tbk. Maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

a. Lokasi penelitian dilakukan di Mine Development and SGA Plant Project PT.

ANTAM Tbk dengan panjang jalan tambang yang akan diteliti ± 4.811 m dan lebar yang bervariasi dari 2 – 10 m. Kondisi jalan angkut hanya berupa jalan perintis yang ditimbun menggunakan tanah merah atau overburden dimana jalan sudah mulai tertutup dengan semak-semak dan sebagian besar jalan berlumpur dan tidak rata.

b. Berdasarkan data dari pihak perusahaan, rencana alat angkut yang digunakan adalah Dump truck Hino FM 260 JD dengan kapasitas 26 ton dan distribusi beban yang diberikan pada setiap rodanya adalah 16.000 lbs/ft2

c. Geometri jalan angkut meliputi lebar jalan lurus 9 m, lebar jalan menikung 15 m, jari – jari tikungan minimum 36 m, superelevasi maksimum 10% dengan beda tinggi antara sisi luar dan sisi dalam adalah 0.75 m, dari , cross slope 40 mm/m dimana beda tinggi yang harus dibuat antara as jalan dan sisi kiri serta kanan jalan adalam sebesar 0.18 m atau 18 cm, Rencana grade jalan yang direncanakan maksimum adalah sebesar 12 %.

d. Disetiap sisi kiri dan kanan jalan akan dibuat tanggul (safety berm) dengan lebar 1,5 m dan kedalaman 0,5 m dan juga akan dibuat sistem penyaliran dengan lebar 1,5 meter dan

kedalaman 0,55 m dimana pada setiap titik terendah akan di pasang gorong-gorong untuk menghubungkan paritan yang nantinya akan dialirakan ke anak sungai terdekat.

e. Untuk total volume penggalian adalah 1.106,23 m3 dan total volume penimbunan adalah 2.990.80 m3. Maka dari itu perusahaan harus menyiapkan kekurangan tanah untuk penimbunan adalah sebesar 1.884,57 m3. Saran

a. Diharapkan ketelitian pada saat pembuatan jalan terutama pada pengukuran-pengukuran geometri jalan dilapangan.

b. Disarankan untuk melakukan uji kekuatan material dalam membangun sistem perkerasan jalan.

c. Perlu di lakukan perawatan dan pemeliharaan secara terus menerus dan teratur terhadap jalan, sehingga mobilitas alat angkut berjalan lancar.

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis mengucapkan terima kasih kepada PT.

ANTAM tbk khususnya Mine Development and SGA plant Project Kabupaten Mempawah telah memberikan kesempatan bagi penulis untuk melakukan penelitian dan pastinya dapat dijadikan pengalaman yang baik bagi penulis. Tidak lupa penulis ucapkan terima kasih juga untuk Bapak Ir.

Syahrudin, M. T. dan Bapak M. Khalid Syafrianto, S.T., M. T. selaku dosen pembimbing yang telah memberikan banyak kontribusi terutama waktu dan ilmunya sehingga penelitian ini dapat dilaksanakan dan diselesaikan dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA

Afassi, A. 2002. “Rencana Teknis Jalan Angkut Pada Perluasan Penambangan Batu Gamping di Nusakambangan, PT. Semen Cibinong Tbk Pabrik Cilacap”. Yogyakarta : Universitas Pembangunan Nasional

“Veteran”.

Barnas, E., Karopeboka, B. 2015. “Penelitian Kekuatan Tanah Metode CBR (California Bearing Ratio)”. Dosen Fakultas Teknik Universitas Borobudur, Jakarta, Hal. 94.

Indonesianto,Y., 2014, Pemindahan Tanah Mekanis, Program Studi Teknik Pertambangan UPN “Veteran”, Yogyakarta.

Kaufman, W.K and Ault, J.C., 1977, Design of Surface Mine Haulage Roads – A Manual, United States Department of The Interior, Bureau of Mines, USA.

Keputusan Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral Republik Indonesia No. 1827 K/30/MEM/2018 Tentang “Pedoman

(9)

Pelaksanaan Kaidah Teknik Pertambangan Yang Baik”.

Silvia S, (1999), Dasar-dasar Perencanaan Geometri Jalan, Nova, Bandung

Suhala S. A. F. Yoesoef dan Muta’alim. 1995.

Teknologi Pertambangan Indonesia Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral Direktorat Jendral Pertambangan Umum Departemen Pertambangan dan Energi. Jakarta.

Sukandarrumidi. 2009. Bahan Galian Industri.

Yogyakarta: Fakultas Teknik Universitas Gajah Mada.

Sukirman, S. (1999). Dasar-dasar Perencanaan Geometri Jalan. Bandung : Supernova.

Suwandhi, A. 2004. “Perencanaan Jalan Tambang”.

Diktat Perencanaan Tambang Terbuka.

Unisba.

Referensi

Dokumen terkait

Leasing merupakan bisnis loosely regulated tidak seperti lembaga keuangan bank, maka perlindungan hukum terhadap para pihak sangat minim hanya sebatas itikad

Penelitian ini memberikan hasil bahwa perusahaan ITMG berada dalam kondisi undervalued yaitu kondisi dimana keputusan investasi yang dapat diambil yaitu dengan

Penelitian yang dilakukan Gatot Ervan Santoso, 2013 tentang Kajian Kondisi Soial Ekonomi Pedagang Kaki Lima di Jalan Perintis Kemerdekaan Kecamatan Purwokerto

Kondisi bangunan permukiman yang masih buruk, terkait dengan kurangnya lahan terbuka di kavling perumahan (nilai KDB 80%), posisi bangunan yang terlalu dekat dengan as jalan, dan

Berdasarkan uraian di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu bagaimana proses dan hasil pengembangan soal open-ended yang baik pada materi segiempat dan

Berdasarkan uraian yang telah disampaikan pada latar belakang, maka dapat diambil rumusan masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui tanggapan

Berdasarkan uraian di atas, maka rumusan masalah penelitian ini adalah: (1) bagaimanakah langkah – langkah penerapan teknik Two Stay Two Stray dengan media konkret

Untuk mengatasi kondisi yang terjadi saat ini dan mendapatkan kualitas jalan yang baik, maka peneliti akan merencanakan tebal perkerasan kaku pada Jalan Tanjung Medang menuju Kadur,