Self-regulated learning merupakan suatu proses dimana seseorang dapat mengaktifkan dan mendorong pikiran (kognisi), perasaan (affect), dan tindakan yang direncanakan secara sistematis dan berulang-ulang yang berorientasi pada pencapaian tujuan pribadi (Zimmerman, 1990). Jenis pola asuh tersebut masing-masing mempunyai ciri dan ciri yang berbeda-beda.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pola Asuh Orang Tua
Metode atau pola pengasuhan yang dilakukan orang tua terhadap anaknya merupakan faktor terpenting yang menentukan potensi dan karakter seorang anak. Keyakinan yang dianut orang tua mengenai pola asuh akan mempengaruhi nilai pola asuh dan akan mempengaruhi perilakunya dalam kaitannya dengan pengasuhan anaknya. Orang tua muda cenderung lebih demokratis dan permisif dibandingkan dengan orang tua yang lebih tua.
Ini lebih banyak digunakan oleh orang tua dengan pendidikan tinggi dan kursus parenting. Orang tua yang menganut konsep tradisional lebih otoriter dibandingkan orang tua yang menganut konsep modern. Orang tua akan membedakan antara perlakuan terhadap anak berbakat dan anak yang mengalami kesulitan tumbuh kembang.
Orang tua yang puas berperan sebagai ayah, ibu dan bahagia serta mampu menyesuaikan diri dalam pernikahan menggambarkan sikap positifnya terhadap anaknya.
Jenis-jenis Pola Asuh Orang Tua
Jika anak menunjukkan sikap peduli dan ketergantungan terhadap orang tuanya, maka reaksi orang tua terhadapnya akan sangat berbeda-beda. Berdasarkan pembahasan di atas dapat diketahui bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pola asuh adalah pendidikan orang tua, lingkungan, internal dan eksternal, dan budaya. Pola ini berpindah dari sikap orang tua yang terlalu protektif dan memiliki anak, hingga sikap mengabaikan anak sama sekali.
Menurut Baumrind (dalam Santrock, 2007) ada 3 jenis gaya pengasuhan, yaitu: otoriter, otoritatif, dan permisif. Ciri-ciri pola asuh otoriter dan permisif tidak berbeda jauh dengan ciri-ciri sikap demokratis, namun peran orang tua lebih menonjol. Anak diperbolehkan mengambil langkah-langkah tertentu, namun bukan tanpa wewenang dan bimbingan orang tua.
Menurut Hurlock (2004), ada tiga jenis pola asuh, antara lain pola asuh otoriter, pola asuh demokratis, dan pola asuh permisif.
Pola Asuh Otoriter
Jadi pola asuh otoriter adalah cara membesarkan anak yang dilakukan orang tua dengan menetapkan aturan dan batasan yang harus dipatuhi anak secara mutlak tanpa kompromi dan memperhatikan kondisi anak. Pola asuh otoriter ini mencerminkan ketidakdewasaan orang tua dalam mengasuh anak tanpa mempertimbangkan hak bawaan anak. Baumrind (dalam Santrock, 2007) menjelaskan bahwa pola asuh otoriter ditandai dengan hubungan orangtua-anak yang tidak hangat dan seringkali bersifat menghukum.
Sikap dan kebijakan orang tua pada umumnya tidak meyakinkan dan sering menggunakan kekuasaan mereka untuk memberikan tekanan yang tidak tepat pada anak. Hal ini tercermin dari sikap orang tua yang tidak menunjukkan kasih sayang dan simpati terhadap anak. Anak yang tumbuh dalam keluarga bernuansa otoriter akan mengalami perkembangan yang tidak diharapkan oleh orang tuanya.
Anak akan menjadi kurang kreatif jika orang tua selalu melarang anaknya melakukan sesuatu yang menyimpang walaupun sedikit dari yang seharusnya dilakukannya.
Pola Asuh Permisif
Larangan dan hukuman orang tua akan menekan kemampuan kreatif anak yang sedang berkembang, anak tidak akan berani mencoba, dan ia tidak akan mengembangkan kemampuannya dalam melakukan sesuatu karena tidak mempunyai kesempatan untuk mencoba. Sebab, orang tua dengan pola asuh permisif beranggapan bahwa anaknya mampu berpikir sendiri dan anak sendirilah yang merasakan akibatnya. Pola asuh seperti ini berdampak negatif terhadap tumbuh kembang anak karena anak terlalu diberi kepercayaan sehingga anak merasa mempunyai kebebasan dari orang tuanya dan ketidakpedulian orang tua menimbulkan emosi yang tidak stabil pada anak.
Anak tidak menghormati orang tuanya, tidak menghargai apa yang telah dilakukan orang tuanya untuknya. Sikap tersebut bisa jadi akibat orang tua yang sangat menyayangi anaknya atau terlalu protektif sehingga segala hal yang dilakukan anak diserahkan kepada orang tuanya. Dengan demikian perhatian dan hubungan antara orang tua dan anak akan terganggu, karena tidak adanya arahan dan informasi dari orang tua, sehingga anak tidak dapat memahami apa yang harus dilakukan dan apa yang harus ditinggalkan.
Anak tidak tahu apakah perilakunya benar atau salah karena orang tua tidak pernah memaafkan atau menyalahkan anak.
Pola Asuh Demokratis
Pola asuh demokratis ditandai dengan kepedulian, persyaratan kedewasaan, kontrol dan komunikasi yang baik antara orang tua dan anak. Faktor-faktor tersebut berhubungan langsung dengan hubungan baik antara orang tua dan anak dalam membangun hubungan keluarga. Orang tua yang menerapkan pola asuh demokratis cenderung menempatkan anak sebagai individu yang penting dalam segala hal.
Cerminan orang tua yang demokratis tidak memaksakan kehendaknya terhadap perkembangan bakat dan kemandirian anak. Orang tua yang demokratis biasanya selalu memberikan contoh yang baik kepada anaknya. Sikap orang tua yang memberikan teladan dalam cara, gaya hidup, dan bekerja yang kreatif, disadari atau tidak, akan ditiru oleh anak.
Cerminan orang tua yang demokratis cenderung mendorong anak untuk disiplin dalam setiap aktivitas atau melakukan sesuatu.
Lingkungan Belajar
- Pengertian Lingkungan Belajar
- Jenis-jenis Lingkungan Belajar
- Arti Penting Lingkungan Belajar dalam Pendidikan
- Lingkungan yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Sartain (dalam Purwanto, 2005) berpendapat bahwa “lingkungan mencakup semua kondisi di dunia ini yang mempengaruhi perilaku, pertumbuhan, perkembangan atau proses kehidupan kita dengan cara tertentu, kecuali gen”. Agak berbeda dengan pendapat para ahli lainnya yang sebagian besar menyatakan bahwa lingkungan belajar atau lingkungan pendidikan mencakup segala sesuatu diluar diri individu yang dapat mempengaruhi proses belajar. Soemanto (1990) menyatakan bahwa “lingkungan meliputi segala materi dan rangsangan yang ada di dalam dan di luar individu, baik fisiologis, psikologis, dan sosial budaya”.
Hasbullah (2001) mengartikan lingkungan belajar sebagai lingkungan sekitar yang sengaja digunakan sebagai alat dalam proses pendidikan (pakaian, keadaan rumah, alat bermain, buku, alat pengajaran, dan lain-lain). Ahmadi dan Uhbiyati (1991) mengartikan “lingkungan secara umum berarti keadaan di sekitar kita. Lingkungan belajar adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari siswa, karena lingkungan belajar adalah segala sesuatu yang ada di sekitar siswa yang dapat menunjang kegiatan belajarnya. Menurut Slameto ( 2003), lingkungan belajar siswa yang mempengaruhi prestasi belajar terdiri dari lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat.
Menurut Saroni (2006), lingkungan belajar terbagi menjadi tiga, yaitu lingkungan fisik, lingkungan sosial, dan lingkungan budaya.
Lingkungan Alami
Suhu udara yang terlalu tinggi dapat membuat siswa merasa panas dan pengap serta tidak nyaman di dalam ruangan. Hal ini membuat siswa tidak dapat berkonsentrasi menerima pelajaran karena ingin segera meninggalkan kelas untuk mencari udara segar. Kemampuan konsentrasi siswa menurun akibat suhu udara yang tinggi dan keinginan yang besar untuk meninggalkan kelas.
Belajar di kondisi sejuk dan sejuk secara inheren lebih baik dibandingkan belajar di kondisi panas dan pengap. Udara yang dingin dan lembab menyebabkan ketidaknyamanan dalam belajar, sehingga daya serap materi pembelajaran dan konsentrasi siswa menurun. Siswa tidak dapat menikmati sejuk dan segarnya udara di dalam kelas, sehingga sulit untuk bernapas di dalam kelas, dan akhirnya suasana di dalam kelas menjadi tidak nyaman.
Sirkulasi udara yang baik di dalam kelas memungkinkan terciptanya suasana sejuk dan nyaman sehingga siswa betah berada di dalamnya.
Lingkungan Sosial Budaya
Untuk mengoptimalkan kemampuan dan kepribadian anak, orang tua harus sedini mungkin membina suasana pendidikan di lingkungan keluarganya. Orang tua harus mampu menciptakan pola hidup dan struktur sosial yang baik dalam keluarga sejak anak berada dalam kandungan. Pengaruh pengasuhan anak dalam keluarga begitu penting sehingga orang tua harus sadar akan tanggung jawabnya terhadap anaknya.
Oleh karena itu Indrakusuma (dalam Erlina, 2010) menyatakan “Orang tua tidak hanya bertanggung jawab terhadap pengasuhan anaknya, tetapi orang tua harus bertanggung jawab terhadap pendidikan anaknya.” Ahmadi (2007) menyatakan bahwa faktor orang tua merupakan faktor yang sangat mempengaruhi kemajuan belajar anak. Orang tua yang mampu mendidik anaknya dengan memberikan pendidikan yang baik pasti akan sukses dalam studinya.
Sebab tidak semua tugas pendidikan dapat dilaksanakan oleh orang tua di lingkungan keluarga, terutama dalam hal pengetahuan dan berbagai macam keterampilan.
Kerangka Konseptual
Hal ini senada dengan yang diungkapkan oleh Djaali “Jika masyarakat sekitar tempat tinggal anda terdiri dari orang-orang yang terpelajar, apalagi anaknya berpendidikan SMA dan mempunyai akhlak yang baik maka akan mendorong anak untuk lebih giat belajar.” Dengan demikian, lingkungan belajar yang mempengaruhi belajar siswa adalah lingkungan alam yang terdiri dari suhu, kelembaban udara, kemacetan udara dan tata ruang gedung sekolah, serta lingkungan sosial budaya yang terdiri dari lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat. . Kemampuan tersebut dapat tercermin dari kemampuan remaja dalam merencanakan strategi pembelajaran dan target yang ingin dicapai dalam pembelajaran.
Kemampuan remaja dalam merencanakan strategi belajar dan tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran merupakan salah satu ciri yang dimiliki oleh siswa yang memiliki self-regulated learning (SRL), sebagaimana dikemukakan oleh Corno, Snow & Jackson (dalam Woolfolk, 2009), siswa yang mempunyai pengaturan diri Pembelajaran yang diatur dengan baik mengetahui cara melindungi diri dari gangguan-gangguan yang dapat mengganggu proses belajar. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Raisa Citra Ellena & Tino Leonardi, S.Psi, M.Psi menyimpulkan bahwa kemampuan self-regulated learning kelompok siswa yang cenderung mempersepsikan pola asuh demokratis lebih tinggi dibandingkan kemampuan self-regulated learning. dari kelompok siswa yang cenderung mempersepsikan gaya pengasuhan otoriter. Self-regulated learning (SRL) harus dimiliki oleh semua siswa, sehingga bertugas mengatur dan mendisiplinkan diri serta mengembangkan kemampuan belajar dari dirinya sendiri, dimana ciri utama suatu proses pembelajaran adalah pengaturan diri, siswa diberikan kesempatan untuk berpartisipasi dalam penentuan tujuan dan sumber daya serta evaluasi pembelajaran.
Belajar mengatur diri sendiri tidak lepas dari pola asuh orang tua, dan yang terpenting adalah jika orang tua menjaga anaknya secara demokratis dan lingkungan belajar siswa, dimana lingkungan belajar dalam hal ini berarti lingkungan rumah dan lingkungan sekolah dan juga lingkungan sekolah. lingkungan sosial sehari-hari, hari siswa.
Hipotesis