Islam-digest Mozaik
Mengenal Tarekat Tijaniyah
Tarekat Tijaniyah dikenal dengan ajaran neosufisme.
Selasa , 07 Jul 2020, 15:20 WIB
Mengenal Tarekat Tijaniyah. Foto: Tarekat Tijaniyah Mengenal Tarekat Tijaniyah. Foto: Tarekat Tijaniyah Red: Muhammad Hafil
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Syekh Ahmad al-Tijani mengembangkan tradisi sufisme yang tidak mengabaikan urusan duniawi. Al-Tijani punya pandangan positif terhadap dunia sehingga mendorong dinamika umat untuk kepentingan masyarakat luas. Tidak mengherankan, meskipun baru muncul pada abad ke-18, Tarekat Tijaniyah dapat berkembang begitu cepat dan menyebar luas ke seluruh belahan dunia Islam.
Model tasawuf yang dikembangkan al-Tijani tersebut dikategorikan oleh intelektual Muslim asal Pakistam, Fazlur Rahman, sebagai 'neosufisme', yaitu sufisme yang tidak hanya terfokus dalam urusan ukhrawi, tetapi juga peduli pada urusan duniawi. Model tasawuf ini dahulu dicetuskan oleh Abu Hamid Al-Ghazali pada abad ke-11 M. Al-Ghazali berhasil 'mengawinkan' antara sufisme dan syariat. Kaum sufi dan ulama syariat yang sebelumnya sering berselisih menjadi lebih akrab.
Menurut Azyumardi Azra dalam Historiografi Islam Kontemporer, neosufisme tersebut mengalami proses pematangan di Haramain, Makkah dan Madinah. Pada masa itu, banyak ulama, termasuk juga ahli tafsir dan hadis, aktif dalam kegiatan sufisme.
Sejarah mencatat, al-Tijani termasuk di antara ulama yang menimba ilmu di Haramain ketika neosufisme itu berkembang pesat. Berikut kilas rekam jejak Syekh al-Tijani dan perkembangan Tarekat Tijaniyah.
# Tarekat Tijaniyah berdiri pada tahun 1195 H/1781 M di Fes, Maroko, Afrika Utara. Pendirinya adalah Abu Abbas Ahmad bin Muhammad bin Mukhtar bin Salim al-Tijani. Ia lahir di 'Ain Madi, sebuah desa di Aljazair, tahun 1150 H/ 1737 M dan meninggal dunia pada 1230 H/ 1815 M.
Ia wafat dalam usia 80 tahun, pada hari Kamis, 17 Syawal 1150 H, dan dimakamkan di Kota Fez, Maroko.
Negara ini menjadi tempat tumbuh kembangnya tarekat ini. Menurut Dr KH Ikyan Badruzzaman dalam artikelnya tentang Syekh Ahmad al-Tijani, ia mendapatkan dukungan dari penguasa di negeri itu.
# Pada tahun 1772 - 1773, al-Tijani menuju Hijaz untuk menunaikan ibadah haji, dan menimba ilmu belajar di Makkah dan Madinah. Di kedua kota itu ia mempelajari Tarekat Qadiriyah, Thaibiyah,
Khallawatiyah, dan Sammaniyah. Beberapa tahun kemudian, ia berkhalwat di Bu Samghun. Pada tahun 1798, ia mengakhiri khalwatnya dan menuju Maroko untuk memulai menjalankan misi yang lebih luas lagi dari Kota Fes.
# Dalam waktu singkat, Tarekat Tijaniyah menyebar ke berbagai wilayah di dunia. Dari Maroko menyebar ke berbagai wilayah di Benua Afrika, antara lain di Tunisia, Libya, Sudan, Mesir, Nigeria, Senegal, Afrika Selatan, Ghana, Mauritania, Mali, Pantai Gading, dan Burkina Faso. Tidak berhenti di Benua Afrika, tarekat ini pun menyebar di benua Eropa, utamanya di Albania dan Turki; di Asia termasuk Indonesia;
hingga di Amerika.
# Salah satu negara di Benua Afrika yang menyambut baik kehadiran Tarekat Tijaniyah adalah Sinegal. 30 persen umat Islam di negara itu merupakan jamaah tarekat ini. Pada abad ke-19, Tarekat Tijaniah dibawa ke Senegal oleh Syekh al-Hajj Umar bin Sa'id al-Futi al-Turi (1796-1864), yang lebih dikenal dengan nama Hajj Umar Tal. Ia menulis buku Kitab Rimah Hizb al-Rahim ‘ala Nuhur Hizb al-Rajim. Menurut Zakariya Wright, kitab tersebut merupakan kitab terpenting kedua setelah Kitab Jawahir al-Ma'ani karya Syekh Ahmad al-Tijani.
# Penyebaran Tarekat Tijaniyah di kawasan benua Amerika dimotori oleh para murid Syekh Hassan Cisse, yang merupakan cucu dari ulama Tarekat Tijaniyah Senegal, Abdoulaye Niass (1840-1922). Murid-murid Syekh Hassan Cisse kemudian mendirikan organisasi yang bernama The African American Islamic Institute.
# Perkembangan Tarekat Tijaniyah yang cukup fenomenal terjadi di Albania. Di tengah kuatnya kekuasaan rezim komunis setelah perang dunia ke-2, tarekat ini masih dapat bertahan. Setelah era komunis berakhir pada tahun 1990, jamaah tarekat kembali bergeliat. Pada masa itu, pemimpin Tarekat Tijaniyah adalah Syekh Faik Hoja.
Tarekat Tijaniyah masuk ke Albania hampir bersamaan dengan masuknya tarekat ini ke Indonesia, yakni sekitar tahun 1920-an. Ulama yang membawa dan mengembangkan Tarekat Tijaniyah di Albania adalah Syekh Haji Shah Muhammad Shaban Efendi Domnori (1868-1934). Syekh Shaban dikenal sebagai ulama ahli tauhid dan tasawuf di kalangan ulama dan para imam di Kota Shkodra di Albania Utara.
# Tarekat Tijaniyah dibawa masuk ke Indonesia kira-kira tahun 1920-an oleh seorang ulama kelahiran Makkah, Ali bin Abdullah at-Tayyib al-Azhari. Awal perkembangannya di Tanah Air, mendapatkan penentangan dari tarekat-tarekat lain yang lebih dahulu ada dan telah mapan, antara lain
Naqsyabandiah, Qadiriyah, Syattariah, Syazaliah, dan Khallawatiah. Meski demikian, di beberapa tempat,
tarekat ini terus berkembang, utamanya di Cirebon dan Garut (Jawa Barat), Madura, dan ujung Timur Pulau Jawa.
# Perselisihan itu reda setelah Muktamar Jam'iyyah Nahdlatul Ulama ke III tahun 1928 di Surabaya memutuskan bahwa Tarekat Tijaniyah adalah muktabarah (diakui secara absah). Keputusan tersebut diperkuat kembali di dalam Muktamar NU ke VI tahun 1931 di Cirebon, bahwa Tarekat Tijaniyah termasuk dalam kategori tarekat yang muktabarah.
# Saat ini Tarekat Tijaniyah merupakan salah satu dari 43 Tarekat Muktabarah Indonesia atau tarekat yang diakui keabsahannya. Jumlah jamaah tarekat ini di Tanah
Air sekitar 10 juta jiwa. Dan, sekitar 40 persen dari mereka adalah kalangan kiai dan pemimpin pondok pesantren, yang tersebar di 14.657 pesantren.
Amalan wirid Tarekat Tijaniyah terdiri dari tiga unsur pokok, yaitu: istighfar, salawat, dan tahlil. Tiga unsur pokok tersebut dijabarkan dalam tiga jenis wirid yaitu se
bagai berikut.
Wirid Lazimah
Cara melakukan wirid lazimah (pagi sore) Membaca Surat al-Fatihah 7 kali
Membaca istighfar َا ُرِفْغَتْسَأ
100 x
3. Membaca salawat dengan berbagai macam shighat
ِهِلآ ىَلَع َو ٍدّم َحُم اَنِدّيَس ىَلَع ّلَص مهللا
100 x
atau lebih utama membaca Salawat Fatih
َو ِه ِرْدَق ّقَح ِهِلَا ىَلَع َو ِمْيِقَتْسُمْلا َك ِطاَر ِص ىَلِإ ىِداَهْلا َو ّقَحْلاِب ّقَحْلا ِر ِصاَن َقَبَس اَمِل ِمِتاَخْلا َو َقِلْغُا اَمِل ِحِتاَفْلا ِنِدّمَحُم اَنِدّيَس ىَلَع ّلَص مهللا ِمْي ِظَعْلا ِه ِراَدْقِم
100
4. Membaca tahlil.
ِا ُل ْوُس َر ٌدّم َحُم ُا ّلِإ َهَلِا َل
99 x
َنْيِمَلاَعْلا ّب َر ِ ِل ُدْم َحْلا َو َنْيِلَس ْرُمْلا ىَلَع ٌم َلَس َو َن ْوُف ِصَي اّمَع ِةّزِعْلا ّب َر َكّب َر َنا َحْبُس ِا ُم َلَس ِهْىَلَع ِا ُل ْوُس َر ٌدّم َحُم اَنُدّيَس ُا ّلِإ َهَلِا َل 1
x
Wirid lazimah ini dibaca 2 kali dalam sehari yaitu setelah subuh sampai waktu dhuha dan setelah ashar sampai isyak. Jika murid Tarekat Tijaniyah dalam keadaan sibuk, maka boleh dibaca sepanjang waktu.
Barang siapa yang sudah mengambil wirid ini tidak diperbolehkan meninggalkan secara menyeluruh, tidak boleh meremehkannya. Jika hal ini dilakukan maka akan mendapat siksa (uqubah) dan kerusakan (al-Halk) (Jauharul Ma’ani juz 1 hal 91).
Wirid Wadzifah
Cara melakukan wirid Wadzifah
Membaca niat untuk melakukan wirid wazhifah Membaca Surat al-Fatihah 3 kali
Membaca Salawat Fatih 3 kali Membaca istighfar
ُم ْوّيَقْلا ّي َحْلا َوُه ّلِإ َهَلِا َل ْيِذّلا ِمْي ِظَعْلا َا ُرِفْغَتْسَأ
30 x
5. Membaca Salawat Fatih 50 kali
6. Membaca tahlil
ُا ّلِإ َهَلِا َل
99 x
َنْيِمَلاَعْلا ّب َر ِ ِل ُدْم َحْلا َو َنْيِلَس ْرُمْلا ىَلَع ٌم َلَس َو َن ْوُف ِصَي اّمَع ِةّزِعْلا ّب َر َكّب َر َنا َحْبُس ِا ُم َلَس ِهْىَلَع ِا ُل ْوُس َر ٌدّم َحُم اَنُدّيَس ُا ّلِإ َهَلِا َل 1
x
7. Membaca Salawat Jauhar al-Kamal
ِبِحاَص ّىِمَد ْلا ِةَب ْوُتْكَمْلا ِنا َوْكَ ْلا ِر ْوُن َو ىِناَعَمْلا َو ِم ْوُهُفْلا ِزَكْرَمِب ِةَطِئاَحْلا ِةَقّقَحَتُمْلا ِةَت ْوُقَيْلا َو ِةّيِناّبّرلا ِةَمْحّرلا ِنْيَع ىَلَع ْمّلَس َو ّلَص مهللا َطِئا َحْلا َكِن ْوَك ِهِب َتْ َلَم ْيِذّلا ِعِم ّللا َك ِر ْوُن َو ْيِنا َوَ ْلا ِو ِر ْوُحُبْلا َنِم ٍِضّرَعَتُم ّلُكِل ِةَئِلاَمْلا ِحاَي ْرَ ْلا ِن ْوُزُمِب ِعَطْسَ ْلا ِق ْرَبْلا ّىِناّبّرلا ّقَحْلا
ّلَص مهللا . ِمَقْسَلا ّماّتلا َك ِطاَر ِص ِما َوْقَ ْلا ِف ِراَعَمْلا ِنْيَع ِقِئاَقَحْلا ُس ْوُرُع اَهْنِم ىّلَجَتَت ْىِتّللا ّقَحْلا ِنْيَع ىَلَع ْمّلَس َو ّلَص مهللا .ِناَكَمْلا ِةَناَكْمَأِب ُهاّيِإ اَهِب اَنِْفّرَعُت ًة َلَص ِهِلآ ىَلَع َو ِهْيَلَع ُا ىّلَص ِمَسْلَطُملا ِر ْوّنلا ِةَطاَحِا َكْيَلِا َكْنِم َكِتَضاَِفِإ ِماَظْعَ ْلا ِزْنَكْلا ّقَحْلاِب ّقَحْلا ِةَعْلَط ىَلَع ْمّلَس َو 12
x (401 ص ,2 ج ،يناجتلا ساّبعلا يبأ يديس ِضيِف يِف يناملا غولب و يناعملا رهاوج)
Beranda Sabilus Salikin
Sabilus Salikin (168): Amalan Wirid Tarekat Tijaniyah Redaksi
REDAKSI Penulis Kolom
786 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN
Redaksi Alif.ID - Berkeislaman dalam Kebudayaan
Sabilus Salikin (168): Amalan Wirid Tarekat Tijaniyah SENIN, 01 JUNI 2020
Tijaniyahpeta
Amalan wirid Tarekat Tijaniyah terdiri dari tiga unsur pokok, yaitu: istighfar, salawat, dan tahlil. Tiga unsur pokok tersebut dijabarkan dalam tiga jenis wirid yaitu sebagai berikut.
Wirid Lazimah
Cara melakukan wirid lazimah (pagi sore)
IKLAN - LANJUTKAN MEMBACA DI BAWAH INI
Membaca Surat al-Fatihah 7 kali
Membaca istighfar َا ُرِفْغَتْسَأ
100 x
3. Membaca salawat dengan berbagai macam shighat
ِهِلآ ىَلَع َو ٍدّم َحُم اَنِدّيَس ىَلَع ّلَص مهللا
100 x
atau lebih utama membaca Salawat Fatih
َو ِه ِرْدَق ّقَح ِهِلَا ىَلَع َو ِمْيِقَتْسُمْلا َك ِطاَر ِص ىَلِإ ىِداَهْلا َو ّقَحْلاِب ّقَحْلا ِر ِصاَن َقَبَس اَمِل ِمِتاَخْلا َو َقِلْغُا اَمِل ِحِتاَفْلا ِنِدّمَحُم اَنِدّيَس ىَلَع ّلَص مهللا ِمْي ِظَعْلا ِه ِراَدْقِم
100 x
IKLAN - LANJUTKAN MEMBACA DI BAWAH INI
4. Membaca tahlil.
ِا ُل ْوُس َر ٌدّم َحُم ُا ّلِإ َهَلِا َل
99 x
َنْيِمَلاَعْلا ّب َر ِ ِل ُدْم َحْلا َو َنْيِلَس ْرُمْلا ىَلَع ٌم َلَس َو َن ْوُف ِصَي اّمَع ِةّزِعْلا ّب َر َكّب َر َنا َحْبُس ِا ُم َلَس ِهْىَلَع ِا ُل ْوُس َر ٌدّم َحُم اَنُدّيَس ُا ّلِإ َهَلِا َل 1
x
Wirid lazimah ini dibaca 2 kali dalam sehari yaitu setelah subuh sampai waktu dhuha dan setelah ashar sampai isyak. Jika murid Tarekat Tijaniyah dalam keadaan sibuk, maka boleh dibaca sepanjang waktu.
Barang siapa yang sudah mengambil wirid ini tidak diperbolehkan meninggalkan secara menyeluruh, tidak boleh meremehkannya. Jika hal ini dilakukan maka akan mendapat siksa (uqubah) dan kerusakan (al-Halk) (Jauharul Ma’ani juz 1 hal 91).
Wirid Wadzifah
Cara melakukan wirid Wadzifah
Membaca niat untuk melakukan wirid wazhifah Membaca Surat al-Fatihah 3 kali
Membaca Salawat Fatih 3 kali Membaca istighfar
ُم ْوّيَقْلا ّي َحْلا َوُه ّلِإ َهَلِا َل ْيِذّلا ِمْي ِظَعْلا َا ُرِفْغَتْسَأ
30 x
5. Membaca Salawat Fatih 50 kali
6. Membaca tahlil
ُا ّلِإ َهَلِا َل
99 x
َنْيِمَلاَعْلا ّب َر ِ ِل ُدْم َحْلا َو َنْيِلَس ْرُمْلا ىَلَع ٌم َلَس َو َن ْوُف ِصَي اّمَع ِةّزِعْلا ّب َر َكّب َر َنا َحْبُس ِا ُم َلَس ِهْىَلَع ِا ُل ْوُس َر ٌدّم َحُم اَنُدّيَس ُا ّلِإ َهَلِا َل 1
x
Baca juga: Kisah Ibrahim bin Adham Makan Tanah 7. Membaca Salawat Jauhar al-Kamal
ِبِحاَص ّىِمَد ْلا ِةَب ْوُتْكَمْلا ِنا َوْكَ ْلا ِر ْوُن َو ىِناَعَمْلا َو ِم ْوُهُفْلا ِزَكْرَمِب ِةَطِئاَحْلا ِةَقّقَحَتُمْلا ِةَت ْوُقَيْلا َو ِةّيِناّبّرلا ِةَمْحّرلا ِنْيَع ىَلَع ْمّلَس َو ّلَص مهللا َطِئا َحْلا َكِن ْوَك ِهِب َتْ َلَم ْيِذّلا ِعِم ّللا َك ِر ْوُن َو ْيِنا َوَ ْلا ِو ِر ْوُحُبْلا َنِم ٍِضّرَعَتُم ّلُكِل ِةَئِلاَمْلا ِحاَي ْرَ ْلا ِن ْوُزُمِب ِعَطْسَ ْلا ِق ْرَبْلا ّىِناّبّرلا ّقَحْلا
ّلَص مهللا . ِمَقْسَلا ّماّتلا َك ِطاَر ِص ِما َوْقَ ْلا ِف ِراَعَمْلا ِنْيَع ِقِئاَقَحْلا ُس ْوُرُع اَهْنِم ىّلَجَتَت ْىِتّللا ّقَحْلا ِنْيَع ىَلَع ْمّلَس َو ّلَص مهللا .ِناَكَمْلا ِةَناَكْمَأِب ُهاّيِإ اَهِب اَنِْفّرَعُت ًة َلَص ِهِلآ ىَلَع َو ِهْيَلَع ُا ىّلَص ِمَسْلَطُملا ِر ْوّنلا ِةَطاَحِا َكْيَلِا َكْنِم َكِتَضاَِفِإ ِماَظْعَ ْلا ِزْنَكْلا ّقَحْلاِب ّقَحْلا ِةَعْلَط ىَلَع ْمّلَس َو 12
x (401 ص ,2 ج ،يناجتلا ساّبعلا يبأ يديس ِضيِف يِف يناملا غولب و يناعملا رهاوج)
Wirid Wazhîfah dibaca 2 kali (lebih utama), atau 1 kali. Jika seseorang melewatkan atau meninggalkan zikir Wazhîfah tidak harus diqodho’i.
Wirid Tahlil
Wirid Tahlîl dilaksanakan setiap hari Jum’at setelah shalat ashar di masjid dengan berjama’ah (jika mempunyai teman). Ini merupakan syarat pelaksanaan tarekat ini, (Jawahir al-Ma’ani, juz 1, halaman:
92).
Doa Setelah Melakukan Wirid
َو َكِجا َو ْزَا َو َكِباَحْصَا َو َكِلآ ىَلَع َو َكْىَلَع ُا ىّلَص ِا َل ْوُسَر اَي اَنَدّيَس اَي َكِمَرَك َو َكِلْضَفِب اَهْلَبْقاَِف َكْىَلِا اّنِم ٌةّيِدَه ِهِذَه ِا َل ْوُسَر اَي اَنَدّيَس اَي ُهُلْهَا َتْنَا اَم َلَضِْفَا اّنَع ُا َكاَز َج) َمّلَس َو َكِتَيّرُذ اًّب َر ِلاِب اَنْي ِضَر) ِم َلْسِ ْلا َنْيِد اَن ْوُغّلَب َنْيِذّلا َكِتّمُا َءآمَلُع َو َكَباَحْصَا اّنَع ُا ىَزَج َو (×3
ًل ْوُس َر َو اًّيِبَن ٍدّمَحُم اَنِدّيَسِب َو اًنْيِد ِم َلْسِ ْلاِب َو اَنَداَدْمِت ْسا َو اَنَتَدْمُع َو اَنَتّدُع َو اَنَدَنَس َو اَنَدّيَس َكَدَل َو اّنَع ُا ى َز َج َو َمّلَس َو ِهْىَلَع ُا ىّلَص (×3
َنِم ُهَباَب ْحَا َو ُهَبا َح ْصَا َو ِهْيِمّدَقُم َو ُهَئاَفَلُخ َو ُهَتّيّرُذ َو ُه َجا َو ْزَا َو ىِنا َجّتلا ْدّم َحُم َنْبِا ْدَم ْحَا ِخْيّشلا اَنَدّيَس َم ْوُتْكَمْلا َبْطُقْلا َماَمِ ْلا ىَر ْخُا َو اَيْنُد َو اَنَتَع ْوَد ْنِمآ مهللا .ِناَنِتْمِ ْلا َو ِلْضَفْلا ِةَرِئاَد ْيِِف ْمُهاّيِا َو اَنْق ِرْغا َو ِنا َوْضّرلا َو ىَضّرلا ِةَرِئاَد ْيِِف ْمُهاّيِا َو اَنْسّمَغ مهللا . ّناَجْلا َو ِسْنِ ْلا َكِتَم ْح َر ِنِئاَزَخ ْنِم ِتاَعِبّتلا َو ِق ْوُقُحْلا َنِم اَنْىَلَع ْمُهَلاَمّدَا َو ًةّصاَخ اًفْطُل َو اًّماَع اًفْطُل ْمِهِب َو اَنِب ْفُطْلا ِو ْمُهَتَرْثَع َو اَنَتَرْثَع ْلِقَا َو ْمُهَتَع ْوَد ُدْم َحْلا َو َنْيِلَس ْرُمْلا ىَلَع ٌم َلَس َو َن ْوُف ِصَي اّمَع ِةّزِعْلا ّب َر َكّب َر َنا َحْبُس َنْيِمآ ِمْي ِظَعْلا ّنَمْلا اَذ اَي َو ِمْيِسَجْلا ِلْضَفْلا اَذ اَي َكِتّنِم َو َكِلْضَِف ِِض ْحَمِب
َنْيِمَلاَعْلا ّب َر ِ ِل.
Tata Cara Tarekat Tijaniyah
Tarekat Tijaniyah di dalam mendidik, mengarahkan dan membina para muridnya yang dalam istilah mereka disebut ikhwan Tarekat Tijaniyah atau Ikhwan Tijani mempunyai syarat-syarat dan aturan sebagai berikut:
Syarat Masuk
Untuk memasuki atau mengambil wirid zikir dari Tarekat Tijaniyah, seseorang harus memenuhi syarat- syarat sebagai berikut:
Calon murid Tarekat Tijaniyah tidak mempunyai wirid tarekat.
Mendapat talqin wirid tarekat Tijaniyah dari orang yang mendapat izin yang sah untuk memberi wirid Tarekat
Kewajiban Murid Tarekat Tijaniyah
Setelah seseorang tercatat sebagai murid Tarekat Tijani, maka dia mempunyai kewajiban-kewajiban sebagai berikut:
Harus menjaga syariat.
Harus menjaga shalat lima waktu berjamaah bila mungkin.
Harus mencintai Syaikh Ahmad al-Tijani selama-lamanya.
Harus menghormati siapa saja yang ada hubungannya dengan Syaikh Ahmad al- Harus menghormati semua wali Allah dan semua tarekat.
Harus mantap pada tarekatnya dan tidak boleh ragu-r Selamat dari mencela tarekat
Harus berbuat baik kepada kedua orang tua.
Harus menjauhi orang yang mencela tarekat
Harus mengamalkan Tarekat Tijaniyah sampai akhir hayatnya.
Larangan bagi Murid Tarekat Tijaniyah
Adapun hal-hal yang tidak boleh dilakukan oleh seorang murid Tarekat Tijaniyah adalah sebagai berikut:
Tidak boleh mencaci, membenci, dan memusuhi Syaikh Ahmad al-
Tidak boleh ziarah kepada wali yang bukan Tijani, khusus mengenai rabithah saja.
Tidak boleh memberi wirid Tarekat Tijaniyah tanpa ada izin yang sah.
Tidak boleh meremehkan wirid tarekat
Tidak boleh memutuskan hubungan dengan makhluk tanpa izin syara’, terutama dengan murid Tarekat Tidak boleh merasa aman dari ma`rillah.
Aturan Melaksanakan Zikir
Baca juga: Sabilus Salikin (143): Tata Krama Murid dan Cara Berteman Salik
Seorang murid Tarekat Tijani yang akan melaksanakan wirid atau zikir Tarekat Tijaniyah, hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
Dalam bacaan normal, suara bacaan zikir harus terdengar oleh dirinya sendiri.
Harus suci dari najis, baik badan, pakaian, tempat dan apa saja yang dibawanya.
Harus suci dari hadats, baik besar maupun kecil.
Harus menutup aurat seperti shalat, baik pria maupun wanita.
Tidak boleh berbicara.
Harus menghadap kiblat.
Harus dengan duduk.
Harus ijtima’ dalam melaksanakan zikir wazhifah dan zikir hailalah sesudah Ashar pada hari Jumat apabila di daerahnya ada murid Tarekat Tijani lain.
Istihdhar al-qudwah, yaitu saat melakukan wirid dari awal hingga akhir membayangkan seakan-akan berada di hadapan Syaikh Ahmad al-Tijani dan lebih utama membayangkan Sayyid al-Wujud Muhammad saw. dengan keyakinan bahwa beliaulah yang mengantarkan wushûl kepada Allah Swt.
Mengingat dan memikirkan makna wirid dari awal sampai akhir. Kalau tidak bisa, hendaknya memperhatikan dan mendengarkan bacaan wiridnya.
Keterangan:
Kalau ada uzhur boleh berbicara asal tidak lebih dari dua kata. Kalau lebih dari itu, maka wiridnya batal, kecuali disebabkan oleh orang tuanya atau suaminya sekalipun bukan murid Tarekat Tijani.
Kalau ada udzur boleh tidak menghadap kiblat, seperti dalam perjalanan atau sedang berada dalam ijtima’ (perkumpulan).
Kalau ada udzur boleh tidak duduk, seperti sakit atau dalam perjalanan
Wirid Lazim
Wirid lazim diamalkan dua kali sehari semalam, yaitu:
Pertama: pagi hari (setelah subuh sampai waktu dhuha). Apabila ada uzur, maka waktunya bisa diundur sampai waktu maghrib. Lebih baik serta memperoleh keutamaan yang besar, jika diamalkan sebelum waktu suubuh dengan syarat harus selesai ketika waktu subuh telah tiba.
Kedua: sore hari (setelah asar sampai waktu isyak. Apabila ada uzur, maka waktunya bisa diundur sampai waktu subuh.
Bacaan Wirid Lazim
Hadiah al-Fatihah kepada Nabi Muhammad saw. dan Syaikh Abil Abbas Ahmad bin Muhammad al-Tijani.
Membaca istighfar 100 kali.
Membaca salawat Nabi 100 kali yang berupa Salawat Fatih yaitu sebagai berikut:
ّق َح ِهِب ْحَص َو ِهِلَا ىَلَع َو ِمْيِقَتْسُمْلا َك ِطاَر ِص ىَلِإ ىِداَهْلا َو ّقَحْلاِب ّقَحْلا ِر ِصاَن َقَبَس اَمِل ِمِتاَخْلا َو َقِلْغُا اَمِل ِحِتاَفْلا ٍدّمَحُم اَنِدّيَس ىَلَع ّلَص مهللا
ِمْي ِظَعْلا ِه ِراَدْقِم َو ِه ِر ْدَق