• Tidak ada hasil yang ditemukan

15 Statistik Fasilitas Pelayanan Kesehatan

N/A
N/A
hafzah susanti

Academic year: 2023

Membagikan "15 Statistik Fasilitas Pelayanan Kesehatan"

Copied!
137
0
0

Teks penuh

Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan buku ajar ini. Kami berharap buku ajar ini dapat membawa manfaat bagi penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya. Buku teks ini dapat digunakan sebagai referensi dalam bidang pengajaran dan penelitian ilmiah di bidang kesehatan.

  • Macam Fasilitas Pelayanan Kesehatan
  • Konsep Dasar Data dan Informasi di Fasyankes
  • Sumber Data di Fasyankes
  • Alur Dan Prosedur pengumpulan
  • Pengolahan Data
  • Penyajian & Interpretasi Data
  • Penyajian & Interpretasi data
  • Kegunaan Statistik di Fasyankes
    • Peran Profesional MIK Dalam Statistik di Fasyankes

Perbandingan antara jumlah ibu hamil yang mendapat layanan ANC (pemeriksaan kehamilan) sesuai standar K4 pada periode tertentu di suatu wilayah kerja dengan kelompok sasaran ibu hamil. Data primer: Jumlah ibu hamil yang mendapat pelayanan ANC sesuai standar K4 diperoleh dari data register kohort ibu dan laporan PWS-KIA. Walaupun mereka termasuk golongan (orang) yang sama, namun ciri-ciri umumnya akan berbeda, misalnya umur, pendidikan, masa kerja, jumlah anak, gaji pokok dan lain sebagainya.

  • Standar Devinisi Istilah
  • Pengertian Sensus Harian
  • Tujuan dan Kegunaan Sensus Harian
  • Macam-macam Sensus Harian

Sensus harian rawat jalan merupakan kegiatan pencatatan atau penghitungan pasien yang dilakukan setiap hari pada setiap instalasi rawat jalan. Sensus rawat inap harian adalah menghitung jumlah pasien yang dilayani di unit rawat inap dan kegiatan rutin di rumah sakit. Sensus rawat inap harian adalah jumlah pasien rawat inap pada suatu fasilitas pelayanan kesehatan pada waktu tertentu.

  • Definisi Istilah
  • Jumlah Tempat Tidur
  • Bed Occupancy Ratio (BOR)
  • Bed Turn Over (BTO)
  • Turn Over Interval (TOI)

Rata-rata jumlah TT yang digunakan (disebut juga tempat tidur terisi dan dapat disimbolkan dengan huruf (O)), dihitung dengan menjumlahkan TT tersedia setiap hari selama suatu periode kemudian dibagi dengan jumlah hari dalam periode tersebut. Setiap kali terjadi perubahan jumlah TT yang tersedia (bisa ditambah atau dikurangi) sebaiknya dicatat untuk kepentingan penghitungan parameter efisiensi penggunaan TT nantinya. Oleh karena itu, perubahan jumlah TT yang hanya bersifat sementara (misalnya karena kondisi darurat) tidak dihitung sebagai perubahan.

  • Lama di Rawat ( Length Of Stay / LOS )
  • Cara Menghitung Lama di Rawat ( Length Of Stay /
  • Total Lama di Rawat ( Length Of Stay / LOS )
  • Average LOS ( AvLOS )
  • Average LOS Bayi ( AvLOS Bayi )

Lama rawat pasien atau LOS adalah 1 hari, karena pasien masuk dan keluar pada hari yang sama. Jika tanggal masuk dan keluar pada bulan yang berbeda, maka lama tinggal dihitung sebagai berikut. Apabila tanggal masuk dan keluar pada bulan berbeda dan terdapat bulan antar bulan, maka lama tinggal dihitung sebagai berikut.

  • Statistik Data Klinis
  • Hospital Death (Mortality) Rate
  • Autopsy Rate
  • Angka Infeksi di Rumah Sakit

Data khusus unit: Sistem informasi mungkin diperlukan untuk mengelola unit tertentu di rumah sakit. Secara umum kematian di rumah sakit disebut juga angka kematian rumah sakit atau angka kematian kotor. Pasca melahirkan yaitu kondisi setelah bayi lahir, misalnya pasien datang ke rumah sakit dengan infeksi melalui operasi caesar.

Umumnya, otopsi dilakukan oleh tenaga kesehatan khusus rumah sakit (ahli patologi atau dokter forensik) atau oleh dokter terkait di staf rumah sakit, yang diberi wewenang dan tanggung jawab untuk melakukannya. Jumlah otopsi yang dilakukan terhadap bayi baru lahir dimasukkan dalam perhitungan persentase bruto otopsi, kecuali jika kepala rumah sakit yang bersangkutan menghendaki lain. Setelah jenazah diserahkan ke petugas koroner, otopsi tidak lagi dilakukan oleh rumah sakit.

Pada dasarnya otopsi rumah sakit adalah 'pemeriksaan yang dilakukan di rumah sakit terhadap jenazah pasien rumah sakit yang meninggal selama dirawat di rumah sakit'. Hal ini dapat mencakup perawatan pasien darurat, rawat jalan, perawatan di rumah atau bentuk perawatan lain yang disediakan oleh rumah sakit untuk pasiennya. Secara umum, angka kesakitan di rumah sakit berhubungan dengan infeksi yang didapat di rumah sakit atau disebut juga infeksi nosokomial.

Persentase ini diukur di seluruh rumah sakit atau di bagian khusus di rumah sakit.

  • Sensus Data Pasien
  • Sensus Harian Rawat Inap
  • BOR (Bed Occupancy Rate)
  • BTO (Bed Turn Over)
  • LOS ( Length of Stay)
  • TOI ( Turn Over Interval)
  • AvLOS ( Average Lengt of Stay )
  • GDR ( Gross Death Rate )
    • NDR (Net Death Rate)
  • Implementasi Alur dan Prosedur Pengumpulan,
  • Implementasi Sensus Data Pasien
  • Implementasi BOR, TOI, BTO
  • Implementasi LOS, AvLOS
  • Implementasi GDR dan NDR

Jumlah pasien masuk harian adalah jumlah pasien yang dirawat di suatu sistem layanan kesehatan pada waktu tertentu. Jumlah maksimum pasien TT dewasa dan anak-anak yang dapat dirawat pada periode keterisian tempat tidur yang sama. Merupakan frekuensi penggunaan tempat tidur dalam suatu periode, berapa kali tempat tidur digunakan dalam satuan waktu tertentu.

Rata-rata lama rawat inap adalah jumlah hari rawat inap pasien pada suatu periode tertentu dibagi dengan jumlah pasien keluar pada periode yang sama. Ini adalah jumlah hari rata-rata tempat tidur terisi sejak diisi hingga pengisian berikutnya. Hal ini digunakan untuk menentukan waktu rata-rata suatu tempat tidur kosong atau jumlah rata-rata tempat tidur yang tersedia selama periode tertentu yang tidak terisi antara pasien yang berangkat atau meninggal dan pasien yang datang.

Ini adalah jumlah hari rata-rata seorang pasien dirawat di rumah sakit, tidak termasuk bayi baru lahir. Jadi total lama rawat pada tanggal 4 September adalah 25 hari dan pasien yang pulang (dalam keadaan hidup maupun meninggal) berjumlah 5 orang. Merupakan angka kematian kasar yang menunjukkan proporsi seluruh pasien rawat inap yang meninggal dalam jangka waktu tertentu, termasuk bayi lahir mati (BBL) yang meninggal kemudian.

Artinya, angka kematian bersih keseluruhan yang menunjukkan persentase seluruh pasien rawat inap yang meninggal setelah mendapat perawatan lebih dari atau sama dengan 48 jam dalam jangka waktu tertentu, termasuk bayi baru lahir (BBL) yang meninggal kemudian.

  • Konsep Dasar Pelayanan Rumah Sakit
  • Indikator-Indikator Pelayanan di Rumah Sakit
  • Indikator Rawat Jalan
  • Angka Kematian
  • Kalkulasi Angka Kematian
  • Angka Autopsi
  • Angka Autopsi Rumah Sakit (Biasa)
  • Angka Morbiditas (Infeksi)
    • Indikator Mutu Pelayanan

Angka kematian merupakan informasi yang sangat penting di rumah sakit dalam mengevaluasi mutu pelayanan medis dan dapat digunakan untuk merencanakan pelayanan kesehatan di masa depan. Angka kematian rumah sakit (angka kematian kotor) adalah proporsi sistem rumah sakit yang berkaitan dengan kematian, biasanya dinyatakan dalam persentase. Banyak dari angka-angka ini tidak dihitung secara rutin oleh rumah sakit swasta, sehingga kematian terus terjadi.

Otopsi dilakukan di rumah sakit oleh ahli patologi atau dokter spesialis untuk memeriksa jenazah orang yang diotopsi, namun disini hanya untuk pasien yang sudah meninggal dan tidak diketahui asal usulnya. Melakukan otopsi di rumah sakit Ahli patologi atau dokter spesialis berwenang melakukan otopsi baik untuk keperluan pendidikan maupun penelitian. Selain pasien rumah sakit yang meninggal, tidak dapat dipastikan jumlah pasien yang meninggal dalam satu periode.

Otopsi di rumah sakit dilakukan oleh ahli patologi atau petugas operator, dokter, pegawai patologi. Pasien meninggal tersebut mendapat pelayanan dan fasilitas dari pihak rumah sakit selama 2 bulan dan jenazahnya dibawa ke rumah sakit untuk diautopsi. Rumah sakit akan melakukan otopsi terhadap pasien yang meninggal di rumah, dan jenazahnya akan dibawa ke rumah sakit untuk diautopsi.

Perawatan di rumah bagi pasien yang meninggal di rumah sakit, jenazahnya dibawa ke rumah sakit untuk diautopsi f.

  • Pengertian Grafik Barber Johnson
  • Kegunaan Grafik Barber Johnson
  • Pengertian SIRS
  • Unsur Sistem Informasi Rumah Sakit
  • Jenis Sistem Informasi Rumah Sakit
  • Manfaat SIRS
  • Jenis – Jenis Formulir Sistem Informasi Rumah Sakit

Jenis pelayanan rawat inap di suatu rumah sakit diselesaikan sesuai dengan jenis pelayanan yang diberikan kepada pasien. Bagi rumah sakit yang mempunyai ruangan sesuai spesialisasinya, isikan jenis pelayanan sesuai ruangan tersebut. Untuk rumah sakit khusus yang hanya mempunyai satu jenis pelayanan khusus (rumah sakit jiwa, rumah sakit mata, rumah sakit kusta, rumah sakit tuberkulosis paru, dan lain-lain).

Kelas pelayanan rawat inap yang tersedia di rumah sakit harus tercermin pada pengisian halaman RL1 dan halaman RL3 1. Jenis pelayanan rawat inap yang tersedia di rumah sakit harus tercermin pada pengisian RL1 halaman 2 dan RL3 halaman 2. Formulir RL2a adalah formulir untuk data kondisi kesakitan pasien rawat inap, yang merupakan bentuk ringkasan jumlah pasien yang keluar dari rumah sakit (hidup dan mati) dalam kurun waktu satu tahun.

Pelayanan rumah sakit umum harus tersedia di setiap rumah sakit umum karena ruangan rumah sakit umum merupakan ruang perawatan bagi pasien yang berbeda jenis penyakitnya. G. Misalnya, pelayanan rawat inap umum tersedia di semua kelas atau tingkatan rumah sakit umum. Setiap rumah sakit umum mempunyai paling sedikit satu unit rawat inap umum, obstetri dan parinatologi dengan jumlah tempat tidur tersendiri.

Oleh karena itu, setiap rumah sakit umum mempunyai jumlah minimal tempat tidur untuk pelayanan rumah sakit umum, obstetri, dan perinatologi.

Grafik Barber Johnson memiliki format sebagai berikut :
Grafik Barber Johnson memiliki format sebagai berikut :
  • Pengertian Manajemen Puskesmas
  • Fungsi Manajemen Puskesmas
  • Latar Belakang Penggunaan Simpus
  • Maksud Dan Tujuan Simpus
  • Kegunaan Komparatif Simpus
  • Faktor Penggunaan Simpus
  • Kendala
  • Upaya Pencegahan Kesalahan
    • Contoh Tampilan Program Simpus

Peningkatan pendataan di puskesmas untuk pelaporan ke dinas kesehatan kabupaten, memasuki era otonomi daerah adalah sebuah keharusan. Informasi yang akurat, tepat dan terkini mengenai data orang sakit, ketersediaan obat, jumlah ibu hamil, masalah imunisasi, dan lain-lain. Ada tiga fungsi manajemen Puskesmas yang terkenal, yaitu perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian, serta pengawasan dan akuntabilitas. Dari uraian berbagai definisi manajemen di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pengelolaan puskesmas disusun sebagai; 1.

Fungsi manajemen yang digunakan puskesmas diadaptasi dari usulan fungsi manajemen dengan menambahkan fungsi evaluasi sehingga fungsi manajemen puskesmas adalah sebagai berikut. Organisasi merupakan serangkaian kegiatan manajerial untuk menghimpun seluruh sumber daya yang dimiliki puskesmas dan menggunakannya secara efisien untuk mencapai tujuan puskesmas. Memasuki Era Otonomi Daerah, mutlak diperlukan adanya informasi yang akurat, tepat dan terkini mengenai data pasien, ketersediaan obat, jumlah ibu hamil, masalah imunisasi, dan lain-lain.

Mengumpulkan data dari masing-masing Puskesmas, antara lain data penduduk sakit, bayi lahir, ibu hamil, ketersediaan obat, penyuluhan kesehatan masyarakat, dan lain-lain. Dengan data terkini, dapat dilakukan analisis yang mendukung kebijakan pemerintah daerah. Tidak ada data valid orang sakit, penyakit, ibu hamil, dan lain-lain. di area Puskesmas.

Memasuki era otonomi daerah mutlak diperlukan informasi yang tepat, akurat dan terkini mengenai data penduduk sakit, ketersediaan obat, jumlah ibu hamil, permasalahan imunisasi4.

  • Pengertian Indikator Pelayanan Rumah Sakit
  • Grafik Barber Jhonson
  • Pengertian SIRS
  • Sistem Informasi Manajemen Puskesmas (Simpus)

BTO adalah frekuensi penggunaan tempat tidur dalam satu periode, yaitu berapa kali suatu tempat tidur digunakan dalam satuan waktu tertentu. Sistem informasi rumah sakit merupakan suatu susunan berurutan dari pengumpulan data, pengelolaan data, penyajian informasi, analisis dan penarikan informasi, serta penyediaan informasi yang diperlukan untuk operasional rumah sakit. Sistem Informasi Manajemen Puskesmas (Simpus) merupakan suatu struktur atau peralatan yang menyediakan informasi untuk membantu proses manajemen Puskesmas dalam mencapai tujuan kegiatannya.

Kami berharap Simpus dapat meningkatkan pengelolaan puskesmas secara lebih efektif dan efisien dengan memanfaatkan secara optimal sistem pencatatan pelaporan terpadu puskesmas (SP2TP). Simpus merupakan proses pengolahan data berbasis teknologi informasi yang terintegrasi dengan proses manual dan proses lainnya sehingga menghasilkan informasi yang tepat waktu dan efektif untuk mendukung proses pengambilan keputusan manajemen. Simpus merupakan program sistem informasi kesehatan daerah yang menyajikan informasi seluruh kondisi kesehatan masyarakat di tingkat Puskesmas, mulai dari data pribadi pasien, ketersediaan obat, hingga data edukasi kesehatan masyarakat.

Latar belakang penggunaan SIMPUS adalah belum adanya data yang valid (orang sakit, penyakit, ibu hamil, dan lain-lain di wilayah puskesmas), perbaikan pendataan di puskesmas, hingga pelaporan ke kabupaten. Pelayanan kesehatan yang memasuki masa otonomi daerah sangat membutuhkan informasi yang akurat, akurat dan terkini mengenai data pasien, ketersediaan obat, jumlah ibu hamil, masalah imunisasi, dan lain-lain. Meningkatkan pengelolaan puskesmas secara lebih efektif dan efisien melalui pemanfaatan data secara optimal dari sistem pencatatan dan pelaporan terpadu (SP2TP). Seringnya terjadi keterlambatan dalam pengelolaan data menyebabkan kurangnya informasi yang diperoleh. dapat digunakan dengan baik sebagai dasar pengambilan keputusan. e.

2003. Sistem Informasi Rumah Sakit di Indonesia (Hospital Reporting System Audit V), Jakarta: Direktorat Jenderal Pelayanan Medis.

Gambar

Grafik Barber Johnson memiliki format sebagai berikut :

Referensi

Dokumen terkait

Selanjutnya untuk prosedur pelayanan kesehatan jiwa rawat inap yaitu pasien ODGJ yang telah dilakukan pemeriksaan oleh dokter spesialis jiwa jika dari hasil pemeriksaan ternyata

- Pendamping akreditasi puskesmas adalah tim yang dibentuk oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan anggota yang berasal dari jajaran fungsional atau struktural

Semoga kurikulum dan modul ini dapat dipergunakan sebagaimana mestinya oleh berbagai pihak terkait dalam program pelatihan dan pelayanan kontrasepsi yang ditujukan kepada

Lokmin Triwulan meginformasikan ke Lintas Sektor, dan stakeholder terkait untuk melakukan intervensi lanjut pada anggota keluarga yang mempunyai gejala TB/.

Target Realisasi Target Realisasi Terwujudnya sistem manajemen mutu Jumlah kegiatan peningkatan mutu yang terlaksana - - 5 5.. LAKIP 2020 LPFK SURAKARTA 36 Di tahun

Adapun simpulan dari yang diperoleh dari penelitian ini yaitu perancangan aplikasi fasilitas pelayanan kesehatan berbasis web diharapkan mampu memberikan informasi lokasi

1, 2019 Sistem Informasi Pencatatan dan Laporan Pada bidan Praktek Swasta BPS “Fitri Alatif” Berbasis Desktop Metode pengembangan sistem prototype Penelitian ini hasilnya

Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang selanjutnya disebut SMK3 di Fasyankes adalah bagian dari sistem manajemen Fasilitas Pelayanan